Mommy for Daddy Chapter 7A

wpid-picsart_1393596194463.jpg

Author : Blue Rose

Title : Mommy for Daddy Chapter 7A

Genre : Family, Romance

Length : Chapter

Rate : PG17

Cast :

Lee Donghae, Kim Raeann/Lee Yookyung, Lee Haera, Lee Hyukjae, Kenichi

 

 

 

※※※※

Semilir angin yang berhembus pelan menemani langkah Yookyung menyusuri jalan setapak di pemakaman. Hari ini, gadis itu mengenakan dress baby blue yang dipadu dengan blazer biru tua. Tangan kanannya membawa sebuket karangan bunga.

Langkah gadis itu terhenti sebelum sampai di tempat yang ia tuju. Makam Mina. Hanya tinggal beberapa langkah lagi.

Yookyung mematung ditempatnya. Gadis itu menatap lurus–tepat ke makam Mina. Di sana, seorang pria sedang berlutut. Ia tidak tahu pria itu siapa. Dia–bukan Donghae.

“Hyukjae–Oppa?” nama itu lolos begitu saja dari bibirnya ketika pria yang membelakanginya kini berbalik.

“Nde?” Hyukjae menyerngit bingung. Ia tidak mengenal gadis ini. Namun jika diingat, wajahnya cukup familiar. Tapi siapa? Ia tidak ingat–namanya.

Yookyung memberanikan dirinya mendekat, menghampiri Hyukjae yang bingung.

“Kau–Hyukjae Oppa, aku benar kan?” Yookyung menunjuk wajah Hyukjae dengan jari telunjuknya.

“Nde, tapi kau siapa Nona? Aku tidak mengenalmu.” Hyukjae menurunkan telunjuk Yookyung dengan tangannya. Ia tidak suka ada orang yang baru pertama bertemu tapi sudah seperti itu, tidak sopan.

“Kya! Kau jahat sekali huh, ini aku, Yoo–salah, Raeann, hobaemu di sekolah dulu. Ingat?” Yookyung menatap Hyukjae berbinar. Pria itu memiringkan kepala–berpikir–mencoba mengingat masa lalunya.

“Ah, aku ingat! Ya, kau Raeann yang selalu bersama sepupuku itu kan?”

Yookyung mengangguk dengan semangat. “Yup,”

“Apa yang kau lakukan di sini, Raeann-ssi? Aku dengar kau pindah ke Indonesia setelah lulus…”

Yookyung tersenyum tipis, “Memang, aku di sini hanya mengunjungi Appa juga Jaejoong Oppa. Dan aku ke sini ingin mengunjungi Eonnie,” Hyukjae mengangguk singkat.

“Lalu kau, apa yang kau lakukan di sini–di makam Mina Eonnie?”

Senyum di wajah Hyukjae menghilang digantikan dengan raut datar. “Sama denganmu, aku baru pulang dari studyku minggu lalu.”

Yookyung tahu jika Hyukjae–sepupu Donghae–menyukai Mina sejak sekolah menengah akhir. Tapi ia tidak begitu dekat dengan pria satu ini, karena baik Donghae maupun Sungmin melarangnya berdekatan dengan pria ini. Bahkan Mina pun sering memperingatinya jika secara tidak sengaja melihat Yookyung sedang bicara dengan Hyukjae.

“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu, Raeann-ssi.” Keduanya berjalan berdampingan setelah meninggalkan area pemakaman. Yookyung menoleh, “Tanyakan saja,”

“Kau tahu– apa penyebab kematian Mina?”

Yookyung menghela nafas, wajahnya berubah murung. “Aku tidak tahu pasti tentang itu, karena aku tidak ada di sini. Tapi, Sungmin Oppa bilang jika Eonnie mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan Haera. Dokter sudah berusaha sebisanya, tapi…, apa boleh buat.” Yookyung memaksakan seulas senyum tipis setelah mengakhiri ceritanya. Biar bagaimana pun ia sangat menyanyangi Mina. Orang yang selalu mendengarkan keluh kesahnya selain Donghae.

“Eonnie gadis yang baik juga sabar, aku yakin ia dapat tempat paling indah disisi Tuhan.” Yookyung mengarahkan tatapannya ke langit biru.

“Yah, aku pun berharap demikian.” lirih Hyukjae dengan tatapan sayu.

Kini dalam hati pria itu semakin menumpuk rasa bersalahnya pada Mina dan juga Donghae. Karena kesalahan yang ia perbuat di masa lalu, sepupunya itu harus mempertanggungjawabkan kesalahan yang bukan kesalahannya.

Hyukjae menghamili Mina.

Kejadian itu masih terekam dengan jelas di ingatan Hyukjae.

Siang itu, Hyukjae baru pulang dari latihan dance dan tidak sengaja melihat Mina yang sedang menangis di pinggir jalan. Ia coba dekati gadis itu untuk memastikan bahwa gadis itu memang Mina.

Dan ia tidak menyangka bahwa tindakannya waktu itu berakibat fatal.

Ia hanya ingin menghibur Mina, tapi gadis itu terus menangis dan meracau. Ia mengajak Mina ke apartemen miliknya agar Mina lebih leluasa meluapkan kesedihannya.

‘Donghae mencintai Raeann, Hyuk-ah. Dia menyesal karena tidak pernah berani mengungkapkannya pada Raeann.’

‘Apa kau tahu? Sejak Raeann memperkenalkan aku dengan Donghae saat pertama aku pindahan, aku langsung menyukainya. Kupikir, dia pun menyukaiku karena ia begitu baik padaku. Tapi nyatanya– aku salah besar. Aku bodoh! Bodoh!’

Hyukjae yang memang sudah menyukai Mina sejak lama pun ikut kecewa mengetahui bahwa gadis itu menaruh perasaan yang begitu dalam pada Donghae. Ia merasakan betapa sakitnya hati gadis itu. Maka untuk menghentikan tangis gadis itu, ia menciumnya. Tidak ada penolakan yang cukup berarti yang dilakukan Mina. Gadis itu justru membalasnya dengan lebih menggebu hingga semua itu terjadi dengan sendiri. Mereka sadar. Tidak ada pengaruh alkohol ataupun obat.

Sebulan setelah kejadian itu, Mina datang padanya dan mengatakan bahwa ia tengah mengandung 2 minggu.

Terkejut. Dan bingung.

‘Satu kali pun cukup untuk membuat seorang wanita hamil! Dan kau membuktikannya, Hyuk-ah. Aku harus bagaimana? Studyku akan terbengkalai. Aku–juga tidak mau menggugurkan anak tidak berdosa ini.’

Hyukjae saat itu tidak dapat berpikir jernih. Buntu.

Ia terlalu takut untuk mengatakannya pada kedua orang tuanya. Terlalu pengecut untuk mengakui kesalahan yang ia lakukan.

Ia berpikir, ia masih muda. Masa depannya masih panjang. Kalau ia menikah tentu ia harus mengurusi keluarga–anak dan istri. Ia merasa belum cukup mampu untuk mengambil tanggungjawab seberat itu. Maka ia meminta pada orang tuanya untuk memindahkan studynya ke luar negeri.

Bertahun-tahun ia tidak kembali ke Korea, tidak pernah mencoba menghubungi Mina untuk sekedar menanyakan bagaimana keadaannya juga janin yang di kandungnya. Ia tidak pernah melakukannya.

Hingga ketika ia baru sebulan di Amerika, ibunya–kakak dari ibu Donghae mengatakan jika Donghae akan menikahi Mina. Saat itu usia Donghae menginjak 21 tahun, sama sepertinya. Tapi Donghae mampu menanggung beban seberat itu. Ia tidak bisa membayangkan jika ia menjadi Donghae, dapat bertahankah ia?

“Raeann-ssi..”

Yookyung yang sedang membuka pintu mobil menoleh, “Ya?”

“Hm– bisa kau antar aku menemui Haera? Aku ingin mengenalnya, biar bagaimana pun aku ini kan salah satu samchonnya.”

“Boleh saja, tapi tidak hari ini. Bagaimana jika hari senin depan? Kau datang saja ke alamat ini–” Yookyung memberikan kartu nama. “Itu tempat aku mengajar, kau bisa bertemu Haera di sana.”

“Terima kasih,” Hyukjae membungkuk singkat. Yookyung pun melakukan hal yang sama. “Sama-sama. Sampai ketemu,” Yookyung masuk ke dalam mobil, membuka jendela kemudian melambaikan tangannya. “Annyeong…”

Hyukjae memperhatikan kartu nama itu dengan perasaan tidak menentu.

Ia ingin bertemu anaknya, Haera. Ya, anaknya dengan Mina.

“Tuhan, tolong mudahkan jalanku,” bisik pria itu dengan seulas senyum.

※※※※

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup Donghae akan di musuhi anak sendiri. Baru kali ini ia merasakannya.

Haera tidak mau bicara dengannya.

Astaga, ini buruk.

“Hae-ya, kau itu kenapa? Kuperhatikan kau tidak konsentrasi. Ada masalah?” Sungmin yang sedang membereskan berkas-berkas setelah rapat menatap Donghae heran. Tidak biasanya pria tampan itu terlihat begitu uring-uringan.

“Haera, Hyung..”

“Haera? Kenapa dengannya?”

“Dia marah padaku,” lirih Donghae frustasi.

“Apa masalahnya?” Sungmin mendekat, duduk di samping Donghae yang tampak berantakan.

“Apa karena tempo hari itu?” tebak Sungmin karena Donghae tak kunjung menjawab. Pria itu mengangguk, “Ya, karena itu..”

“Pasti dia marah ada sebabnya, Hae-ya. Aku tahu benar sifatnya. Apa yang kau katakan padanya?”

“Aku tidak mengatakan apapun, Hyung.”

Sungmin mendecakkan lidah, “Gotjimal. Haera tidak akan marah jika kau tidak melarangnya ini itu..” Sungmin tahu benar sifat Haera. Anak itu cukup dekat dengannya ketimbang dengan Kyuhyun yang selalu menjahilinya.

“Aku hanya mengatakan, supaya jangan terlalu dekat lagi dengan Yookyung. Apa itu salah?”

Tanpa basa-basi lagi Sungmin langsung menoyor kening Donghae keras.

“Ya!”

“Neo pabonika saram! Jeongmal paboya!” sengit Sungmin penuh emosi. “Jelas saja Haera merajuk padamu kalau kau melarangnya dekat dengan Yookyung. Sudah tahu putrimu itu menyukai Yookyung, tapi malah dilarang. Dimana otakmu huh? Pabo!”

“Hyung! Kenapa kau suka sekali mengataiku ‘bodoh’ akhir-akhir ini huh?!” Sungut Donghae tersulut emosi.

“Karena kenyataannya kau memang bodoh! Aku gemas pada kalian berdua, sama-sama naif dan bodoh!”

“Kalian? Nugu? Aku dan siapa? Apa maksudmu Hyung, aku sama sekali tidak mengerti.” desak Donghae kebingungan. Sungmin menghela nafas, “Sepertinya sudah waktunya kau tahu tentang ini, Hae-ya. Lagi pula, aku juga tidak ingin melihatnya terus-menerus seperti itu.., aku kasihan melihatnya terus kebingungan.”

Donghae semakin tidak mengerti arah pembicaraan Sungmin.

“Jelaskan padaku secara jelas Hyung, jangan mengambang begitu! Aku mana tahu siapa yang kau maksud!” bentak Donghae tanpa sadar.

“Gadis itu–Yookyung adalah Raeann…”

“Nde?!”

Donghae terkejut bukan main. Apa yang dibicarakan Sungmin? Yookyung adalah Raeann? Yang benar saja!

“Kau bohong kan, Hyung?!”

“Tidak. Aku bicara jujur. Seharusnya aku tidak boleh membicarakan ini, tapi kurasa sudah waktunya kau tahu. Agar kau sadar dengan perasaanmu sendiri, sehingga bisa mengubah semuanya sebelum terlambat.” Sungmin memandang Donghae serius.

“Raeann sudah kembali bulan lalu dan ia mengganti namanya menjadi Yookyung…”

Donghae yang terkejut tidak dapat berkata apa-apa. Pria itu hanya diam dengan terus mendengarkan cerita Sungmin. Ia tidak pernah tahu jika Raeann mengalami masa sulit akibat dirinya yang terlalu pengecut.

Mereka mempunyai perasaan yang sama. Saling mencintai!

Tapi karena Raeann salah mengartikan kedekatannya dengan Mina sehingga gadis itu berpikir jika ia mencintai Mina.

Fakta yang mengejutkan.

“Dan kau harus tahu hal penting ini, Hae-ya.” Sungmin menatap Donghae lebih serius. “Yang mendonorkan ginjalnya untuk Mina adalah Raeann.”

Bagai tersiram air es dari kutub utara. Tubuh Donghae langsung mengejang dan terasa begitu dingin.

“Hyung– kau bicara jujur?” masih menatap Sungmin dengan tidak percaya.

Sungmin mengangguk singkat, “Tentu saja. Untuk apa aku berbohong padamu.”

Jika dipikir ulang, sepertinya ia memahaminya. Karena saat Mina operasi pencangkokan ginjal, Raeann tidak ada. Ia tidak bisa menemukan gadis itu dimanapun.

Ya Tuhan..

Raeann berkorban begitu banyak untuk dirinya terlebih Mina.

Bagaimana mungkin ia tidak mengetahuinya?! Bodoh sekali.

“Tidak ada yang tahu tentang hal itu selain aku dan Raeann…”

“Cukup, Hyung.. Aku tidak sanggup untuk mendengar yang lainnya,” Donghae menundukkan kepalanya. Pria itu terlihat semakin kacau.

Sungmin menatapnya penuh empati. Donghae pasti merasa menyesal, sangat tergambar dengan jelas dari raut wajah pria tampan ini.

“Hae-ya, kau harus bisa mengubahnya jika kau ingin bahagia. Egois dalam cinta, kurasa itu wajar. Seharusnya kau mengatakan pada Raeann kalau kau menyukainya sejak dulu,” Sungmin tahu jika Donghae pun mencintai Raeann setelah pria itu menceritakan tentang ibu dan anaknya yang melamar Yookyung.

Jika gadis yang ditunggu Donghae adalah Raeann.

Maka Donghae tidak pernah mencoba mencari pengganti Mina untuk menjadi ibu Haera.

“Aku tahu Hyung. Aku pengecut.”

Tidak ada lagi yang bisa Sungmin katakan selain kata-kata dorongan agar Donghae tidak terlalu frustasi.

“Ah,aku lupa yang ini, Raeann sudah mempunyai tunangan. Kudengar, bulan depan ia akan pulang ke Indonesia untuk menikah dengan pria itu.”

Donghae langsung menatap Sungmin. Tercengang.

Sungmin yang mengerti tatapan Donghae menggelengkan kepalanya, “Kali ini pun aku serius. Ia akan menikah dengan Kenichi karena mereka sudah mendapat restu dari Tuan Kim.”

Donghae langsung lunglai. Ia tidak yakin ia bisa berdiri tegap jika ia mendengar ini dalam posisi berdiri. Untung saja ia duduk.

“Apa kali ini pun aku terlambat, Hyung?” lirihnya sedih.

Penyesalan memang selalu di akhir.

“Kurasa belum, Hae-ya. Jika kau ingin mengubahnya, kau masih bisa. Temui Raeann dan katakan jika kau mencintainya.”

“Tapi ia sudah bertunangan, Hyung!”

Sungmin mengerti, “Tapi Raeann pun masih mencintaimu. Aku yakin itu.”

“Kau yakin?”

“100%, katakan sekarang jika kau ingin mengubah takdir hidupmu. Jika kau ingin membahagiakan semuanya, temui gadis itu sekarang juga.” tegas Sungmin. Donghae meragu, ia sangsi.

Benarkah Raeann mencintainya, tapi pada kenyataannya gadis itu sudah bertunangan dengan orang lain?

Sungmin yang melihat keterdiaman Donghae menepuk pelan bahu pria itu, “Hae-ya, percaya padaku. Raeann sama sekali tidak mencintai pria itu. Ia hanya menyayanginya.” Sungmin kembali menyakinkan Donghae agar pria ini percaya.

“Akan aku pikirkan, Hyung.” Sungmin mengangguk mengerti.

“Jangan sampai kau terlambat dan menyesalinya lagi.”

“Aku tahu.”

※※※※

Gumpalan awan tipis sama sekali tidak terlihat di atas sana. Matahari bersinar dengan gagah. Cerah.

Hembusan angin yang bertiup pelan sedikit memberikan rasa sejuk di siang itu.

Hyukjae yang duduk di dalam mobil menatap sebuah bangunan tidak jauh darinya. Pria itu menarik nafas pelan. Memantapkan hati untuk keluar.

“Kau hanya menemui bocah berusia 6 tahun, Hyuk-ah.. Tapi kenapa kau harus takut begini huh?” gerutuan kecil keluar dari bibir pria itu.

Kedua tangannya yang ia letakan di stir kemudi mengetuk-ngetuk tidak sabar.

Ia sudah berada di sana sejak setengah jam lalu. Tapi yang dilakukannya hanya duduk di dalam mobil dengan bibir yang terus menggerutui diri sendiri.

Deringan ponsel dalam saku celananya membuat pria itu terkesiap.

Baby Vale-ie

Hyukjae menghela nafas lega sebelum mengangkat panggilan. “Ya?”

“Kau dimana? Aku mencarimu di kamar tapi tidak ada, kau pergi kemana?” suara Valerine terdengar cemas. Senyum tipis terukir di bibir Hyukjae.

“Oh, aku lupa memberi tahumu, Val.. Aku sedang pergi ke rumah teman, mungkin pulangnya agak malam. Kalau kau ingin jalan-jalan atau butuh sesuatu, minta lah pada Auntie.”

Hyukjae sama sekali tidak pernah menceritakan masalah ini pada siapapun. Ia menyimpan rapat rahasia ini. Hyukjae belum siap jika ia menceritakan masalah ini, Valerine meninggalkannya. Dan lebih lagi, ia akan mengecewakan keluarga besar Lee. Ia tidak mau itu.

“Kenapa aku tidak kau ajak..” Hyukjae tahu Valerine merajuk sekarang.

“Ada waktunya, Val.. Suatu hari aku pasti mengenalkanmu dengan teman-temanku.”

“Begitukah..”

“Ya,”

“Oh ya, Eommonim bilang, nanti malam kita akan mengunjungi rumah sepupumu, eum.., siapa namanya…, Lee Dongdonghai.. “

“Bukan Lee Dongdonghai, tapi Lee Donghae.” Ralat Hyukjae cepat.

Dongdonghai? Nama apa itu? Aneh sekali.

“Ya, itu..”

“Ya baiklah, aku akan pulang sebelum jam 5 sore.” sahut Hyukjae setelah melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

Pria itu segera mengakhiri sambungan begitu Valerine menutupnya lebih dulu, kemudian memasukkan ponsel dalam saku celana.

Hyukjae menarik nafas dalam sebelum memutuskan keluar dari mobil.

Ini sudah waktunya.

Yookyung akan membawa Haera menemuinya tepat di jam 1 siang, depan gerbang sekolah.

Gadis itu bilang, jika Haera biasa dijemput oleh Sungmin atau Donghae, jika sepupunya itu tidak sibuk.

Langkah Hyukjae semakin mendekat ke arah gerbang yang sudah terbuka. Ia dapat melihat beberapa anak yang sudah keluar, dijemput oleh orang tua mereka.

Hyukjae memakai kemeja putih yang lengannya di gulung hingga siku serta celana jeans balel.

“Oppa!”

Hyukjae melambaikan tangan begitu melihat Yookyung memanggilnya. Gadis itu menggandeng seorang anak perempuan. Haera.

Rasanya Hyukjae ingin sekali menangis sekarang. Ia seperti melihat Mina ketika melihat Haera, mereka benar-benar mirip.

Benar apa yang dikatakan Yookyung beberapa hari lalu ketika ia menelponnya. Gadis itu mengatakan jika Haera adalah duplikat dari Mina. Dan kini ia dapat memastikannya sendiri.

“Annyeong…” Hyukjae mensejajarkan badannya dengan Haera. Anak itu memandangnya bingung.

“Oppa, nuguya?” tatapan polos Haera sungguh membuat Hyukjae tidak kuat untuk menahan tangannya agar tidak mengelus puncak kepala anak itu.

“Eonnie, Oppa ini siapa?” Haera memandang Yookyung yang tersenyum.

“Teman Eonnie,”

Hyukjae tersenyum, “Aku Hyukjae Samchon, sepupu ayahmu.” Ingin sekali Hyukjae mengatakan jika ia adalah ayah yang sebenarnya. Tapi itu tidak mungkin kan? Anak itu pasti akan kebingungan.

“Samchon?” ulang Haera memastikan. Biar bagaimanapun mereka baru kali ini bertemu.

Hyukjae mengangguk, “Siapa namamu?” di usapnya pipi chubby Haera pelan.

“Lee Haera, Samchon.”

“Nama yang cantik,” pujinya dengan menatap sendu anak itu.

Rasa penyesalan itu kini semakin menekan dadanya. Ia telah menyia-nyiakan darah dagingnya selama ini. Lihatlah sekarang, Haera tumbuh menjadi anak yang lucu. Tanpa bisa di cegah lagi Hyukjae langsung memeluk tubuh kecil Haera. Mendekapnya erat.

Yookyung memandang bingung. Tapi ia berpikir, mungkin Hyukjae memang ingin bertemu dari dulu karena pria itu baru kembali dari studynya di luar negeri selama bertahun-tahun.

“Samchon?” panggil Haera yang heran dengan orang yang mengaku sebagai pamannya ini.

“Ah, mianehaeso. Apa aku menyakitimu?” Hyukjae melepaskan pelukannya. Haera menggeleng kecil.

“Ann..”

Yookyung mengalihkan tatapannya dari Hyukjae yang sedang berbicara dengan Haera.

“Hai, Kak.. Ada apa?” Yookyung tersenyum lembut menyambut kedatangan Ken.

Pria itu memeluknya singkat, “Tentu saja untuk menjemputmu. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”

“Andwae!”

Yookyung yang berniat menjawab langsung tersentak kaget mendengar pekikan keras dari suara yang amat di kenalnya. Haera.

Anak itu memeluk pinggangnya erat dengan kedua tangan kecilnya. Haera memandang Ken tidak suka.

“Dont touch my mom, sir.”

Yookyung serta kedua pria yang ada di sana membelalakan mata tak percaya dengan kalimat yang keluar dari anak umur 6 tahun itu.

Terlebih Hyukjae yang langsung menatap Yookyung penuh tanya.

Yookyung tersenyum kaku. Ia pun tidak mengerti kenapa Haera bisa berubah sikap sejak kedatangan Ken ke sekolah minggu lalu–saat ia mengajaknya.

Haera jadi lebih manja padanya, meskipun itu dalam lingkungan sekolah anak itu tidak mau ditinggalkan olehnya. Dan anehnya lagi, jika waktu tidur siang–jika jam pelajaran sampai sore–Haera akan memintanya agar Yookyung ikut tidur di sampingnya.

Ken yang sudah mengerti kenapa Haera bersikap seperti itu hanya tersenyum tipis. Ia sudah tahu dari Jaejoong jika beberapa hari lalu anak itu serta neneknya meminta Yookyung agar menjadi ibunya. Awalnya cukup terkejut dan khawatir, tapi setelah mendengar penjelasan dari Yookyung sendiri bahwa ia menolak, ia bisa merasa lega.

“Haera, tapi Eonnie ini calon istriku.” Ken hanya ingin menggoda anak itu.

Haera semakin menyipitkan tatapan matanya. Anak itu semakin menempel dengan Yookyung.

“Andwae! Pokoknya, Haera tidak akan biarkan Oppa dengan Eonnie. Yookyung Eonnie hanya untuk Haera!”

Yookyung yang menjadi bahan rebutan menghela nafas jengah. Ini bukan hanya sekali dua kali. Tapi kejadian ini sudah beberapa kali terjadi, setiap Ken menjemputnya pulang pasti Haera dan Ken akan beradu mulut.

Hyukjae yang melihat mereka hanya menatap bingung. Ia butuh seseorang untuk menjelaskan semua ini.

Kenapa Raeann dipanggil Yookyung? Lalu, kenapa putrinya ini mengklaim bahwa Yookyung adalah ibunya?

Ditengah-tengah keributan kecil itu, Hyukjae mencoba menjauhkan Haera dari Yookyung atas permintaan gadis itu. Haera memberontak, meminta diturunkan dari gendongan Hyukjae.

“Lepaskan putriku!”

Teriakan keras itu membuat semua yang ada di sana terdiam, termasuk dua orang security yang sedari tadi menonton keributan kecil mereka.

“Appa!”

Haera memanggil Donghae keras. Dan Hyukjae tanpa sadar semakin mengeratkan pelukannya agar Haera tidak turun dari gendongannya.

Yookyung merasakan firasat buruk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, hanya saja ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi.

Sedangkan Hyukjae yang menggendong Haera sudah pucat, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Tubuhnya terasa kaku dan dingin.

“Samchon?” Haera yang melihat Hyukjae berkeringat menatap heran.

Donghae sudah berada di depan mereka semua.

Pria ini…, bukankah dia yang meminjamiku ponsel waktu di bandara? Pikir Donghae ketika memperhatikan pria yang berada di samping kiri Yookyung dan menggandeng tangannya.

Ia mencelos ketika melihat jari manis gadis itu telah di lingkari cincin pertunangan.

Lalu tatapannya beralih ke arah Yookyung yang menatapnya, cemas?

Donghae ingin sekali menarik gadis itu kemudian memeluknya, tapi ia tahan.

Kemudian ia tolehkan kepalanya ke arah Hyukjae dan Haera. Kedua tangannya langsung terkepal erat di sisi tubuhnya.

“Turunkan anakku, Hyuk-ah.” Donghae mencoba meredam emosi yang sudah memenuhi dadanya.

“Tidak.” Hyukjae menjawab dengan tegas.

Yookyung yang memperhatikan keduanya menyerngit bingung. Ada yang janggal dengan mereka. Baik Hyukjae maupun Donghae, keduanya sama-sama terlihat sedang menahan emosi.

Sebenarnya ada apa ini? Tanya hati gadis itu.

“Turunkan sekarang. Kau tidak berhak menyentuhnya. Dia bukan anakmu.”

Hyukjae merasa seperti disiram oleh air es yang begitu dingin sehingga ia merasa beku. Perkataan Donghae sungguh menusuk dirinya.

“Appa..,” lirih Haera yang terlihat sedikit takut dengan sikap Donghae yang seperti ini. Haera tidak pernah melihat Donghae tampak begitu tegang seperti sekarang.

“Berikan Haera padaku,” pinta Donghae.

“Tidak,” lagi, Hyukj menjawab dengan satu kata itu.

“Aku katakan sekali lagi Hyukjae. Turunkan anakku sekar juga. Aku tidak ingin kau menyentuhnya.” kali ini Donghae berkata lebih tajam.

Hyukjae menggeram, “Kenapa?!”

Ken dan Yookyung terkejut karena Hyukjae menaikkan intonasi suaranya.

“Kenapa aku tidak boleh menyentuhnya? Aku pun berhak menyentuhnya karena–”

“Karena apa?!” sela Donghae cepat.

Pria tampan itu sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Melihat Hyukjae memeluk Haera posesif seperti itu membuatnya merasa tidak rela. Maka ia menarik Haera dengan paksa dari gendongan Hyukjae, hingga anak itu kini berada di gendongannya.

“Karena aku juga ayahnya.” akhirnya kata itu keluar dari bibir Hyukjae.

Kenyataan yang akan membuat semua orang terkejut.

Yookyung langsung menutup mulutnya dengan punggung tangan.

Hyukjae juga ayah Haera?!

“Kau bukan ayah dari anakku.” ucap Donghae penuh penekanan.

Haera yang melihat pertengkaran ayah serta samchonnya hanya dapat memandangi kedua pria itu bergantian. Biar bagaimanapun ia hanya seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa.

“Sejak kapan kau menjadi ayah putriku huh? Apa bisa yang mengaku seorang ayah tapi tidak pernah mau tahu keadaan serta keberadaannya? Bahkan tidak pernah sekalipun kau menanyakan keadaan ibunya.”

Hyukjae menunduk, bersalah. Perkataan Donghae kembali menelak ulu hatinya.

“Aku bahkan sangsi jika kau adalah pria.” Hyukjae kembali menatap Donghae dengan mata memerah.

“Kau meninggalkan Mina disaat ia tengah mengandung akibat perbuatan bejatmu. Apa itu yang disebut sebagai pria huh?! Lari dari tanggung jawab. Kau brengsek, Lee Hyukjae.”

Hyukjae tidak dapat menyangkal satupun. Semua yang dikatakan Donghae memang benar.

“Aku–”

“Aku apa huh?!” Donghae yang sudah tidak dapat mengontrol emosi melayangkan satu pukulan, mengenai rahang bawah Hyukjae yang membuat pria itu mundur beberapa langkah.

“Donghae Oppa!”

Yookyung reflek memekik keras dan menyebut nama Donghae. Gadis itu segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia kelepasan.

Donghae menatap Yookyung dengan mata menyipit. “Jangan pernah memanggilku dengan panggilan itu lagi, Raeann-ssi.” tukas Donghae tajam.

Yookyung merasa dunianya berhenti detik itu juga. Tubuhnya kaku dan pikirannya kosong. Tanpa disadari airmata menggenang di pelupuk mata dan tanpa bisa dicegah lagi mengalir di kedua pipinya.

Donghae tahu ia adalah Raeann, bagaimana bisa?

“Ann!” Ken memekik kaget karena Yookyung luruh ke lantai. Gadis itu menangis tanpa suara. Hyukjae yang berdiri tidak jauh dari gadis itu segera menghampiri Yookyung.

Donghae meninggalkan mereka dengan langkah cepat, tidak perduli dengan Haera yang meronta meminta di turunkan dan memanggil nama Yookyung. Bahkan anak itu sudah menangis karena Donghae tidak menghiraukan suaranya.

Donghae menghela nafas panjang serta memejamkan mata ketika membuka pintu mobil. Setitik airmata lolos dari sudut matanya.

Sejujurnya, ia tidak ingin bersikap seperti itu. Membentak Yookyung. Tapi melihat Yookyung bersama Hyukjae yang membuat emosinya semakin menumpuk. Mengingatkannya akan kejadian saat mereka sekolah dulu. Saat Hyukjae mencoba mendekati Yookyung yang tak lain adalah Raeann.

Andai Donghae tahu jika Hyukjae mendekati Raeann hanya untuk mendapatkan informasi mengenai Mina, mungkin pria itu tidak akan berbuat seperti ini.

Donghae mengalihkan tatapannya ke arah Haera yang masih terisak kecil dalam gendongannya.

“Mianhaeso, sayang..” lirih Donghae dengan mengelus kepala putrinya.

Tanpa membuang waktu lagi Donghae segera membuka pintu mobil, mendudukkan Haera di kursi samping kemudi dan memasang seatbelts.

Diusapnya kedua pipi Haera yang memerah namun anak itu menepis tangannya.

“Ra-ya…” gumam Donghae menatap Haera sedih. Anak itu benar-benar marah. Padahal mereka saja belum berbaikan, tapi kini ia kembali membuat putri kecilnya semakin marah dengannya.

“Haera benci, Appa.”

Donghae tidak berkata apapun. Pria itu mengerti kemudian menutup pintu mobil. Disandarkan badannya di pintu mobil, kepalanya menengadah, memandang langit yang terlihat begitu cerah, sangat berbanding terbalik dengan keadaan hati dan pikirannya yang suram.

“Mina-ya, maafkan aku…” pertahanan Donghae gagal kali ini. Ia tidak bisa mencegah airmata yang terus mendesak keluar dari kedua sudut mata.

“Maafkan aku, Na-ya..”

※※※※

“Ann… Bisa kau jelaskan sesuatu padaku.., apa hubunganmu dengan kedua pria kemarin siang? Kurasa, kalian ada masalah.” suara Ken terdengar begitu halus di pendengaran Yookyung yang sedang duduk di pavilion halaman belakang rumah. Gadis yang mengenakan t-shirt putih tanpa lengan serta celana pendek itu menoleh ke arah Ken yang duduk di sampingnya.

Mata bulat yang biasanya terlihat berbinar dan jernih kini menatap dengan sorot sayu. Terlihat sekali jika gadis itu sedang menanggung beban yang berat.

“Ceritakanlah padaku, aku pasti mendengarkanmu.” Ken mencoba membujuk Yookyung agar gadis itu mau membagi kesedihannya. Ia tidak bisa melihat Yookyung yang ia kenal ceria berubah seperti ini setelah kejadian hari itu.

Ken sudah mencoba bertanya pada kakak Yookyung–Jaejoong, tapi pria yang lebih tua satu tahun darinya mengatakan jika ia tidak berhak menceritakan apapun tentang masalah adiknya. Jaejoong tidak ingin mencampuri urusan Yookyung.

“Kak… Maafkan aku..” cairan bening yang sudah mengering kini kembali mengalir di wajah Yookyung yang tampak pucat.

“Apa yang harus aku maafkan darimu sedangkan kau tidak melakukan apapun padaku.”

Yookyung sudah puluhan bahkan mungkin ratusan menggumamkan kata maaf pada Ken. Dan pria itu justru semakin bingung dan bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Yookyung?

Memikirkan dan menerka hal itu semakin membuat kepalanya pusing.

Ia tidak mengerti!

Tapi satu yang ia yakini, jika ada masalah dengan mereka; Donghae, Yookyung, Hyukjae serta Haera.

Ken merasa sangat yakin dengan itu. Dan ia perlu mencari tahu penyebabnya. Ia yakin jika hal itu ada hubungannya dengan masa lalu Yookyung.

Tapi ia akan bertanya pada siapa? Tidak ada orang yang bisa ia tanyai. Jaejoong sudah angkat tangan.

Di saat pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan, deringan ponsel Yookyung yang berada di meja kecil samping gadis itu berdering.

Yookyung mengusap wajahnya dengan punggung tangan, meraih ponsel kemudian menempelkan ke telinga.

“Ya, Oppa?”

Ken hanya memperhatikan Yookyung yang terlihat serius berbicara dengan seseorang. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi jika dilihat dari perubahan raut wajah Yookyung, ia bisa menyimpulkan jika ada sesuatu yang terjadi.

“Ada apa?” Ken langsung bertanya begitu Yookyung mengakhiri panggilan dan gadis itu langsung beranjak dari duduknya.

“Aku harus pergi ke rumah sakit, Kak.” Yookyung menjawab dengan suara bergetar.

“Siapa yang masuk rumah sakit?”

“Haera, dia.., jatuh dari tangga dan pneumonianya kambuh… Aku–harus ke rumah sakit..”

“Aku temani,” sahut Ken cepat. Ia ingin berada di samping Yookyung. Dilihat dari sisi manapun, gadis itu kini begitu rapuh. Dan ia tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Yookyung menyetir mobil dengan keadaan seperti ini. Kacau.

Continue…

30 thoughts on “Mommy for Daddy Chapter 7A

  1. jadi haera itu anaknya mina sama hyukjae eon??
    aduh makin seru nih eon coz.a udah ketauan semuanya
    ditunggu part selanjutnya

  2. Ternyata donghae udh tau kalo mina hamil gegara hyukjae. Bener kata donghae 1 kata bwt hyukjae kau bukan pria.. Makin complited hasil akhir’y akan seperti apa ea?

  3. ohhhhhhhhhh dan trnyta rhasiax trungkap >< gk sbr sapa yg nnt yookyung plih tp ksihn jg sih sm ken
    =_= huftt
    haera jtuh dr tngga?? kkurangn drah gk?? nnt tba" hyuk donorin drah -.- sbel jg sih sm sikap hyuk
    oke fix ini bneran cma smpek part 7??
    ya udh aku rapopo ._.

  4. si haera anak.a hyuk,biarin haera jdi anak.a donghae aja deh gak usah dikasih tau appa sbenernya.
    satuin hae ma ann dong:). ditunggu chapt 7b.a eon :D

  5. Aigo, complicated. Gregetaaan. Jengkel sich ma Hyuk Jae, tapi aku nangis masa pas dia pertahanin Haera dipelukannya waktu diminta Dong Hae. Dia memang salah, tapi tetap saja dia ayahnya Haera :’( . Ken ikut ke RS, Dong Hae makin galau deCh. Btw, MwM part 3 ditunggu *SalahFokus xD

  6. Yahhh eon ann udh gk surprise nihh.. soalnya tdi sempet bca komenan reader lain di tautan fb klo haera anak hyukjae. Jadi gk seru dh. Huhhuh
    part b nya sangat sangat ditunggu yaa eon ;)

  7. Udah saya duga Haera itu anaknya Hyukjae sama Mina.
    Akhirnya Hae tau Yoo itu Ann.
    Hae kayak gitu sih.?
    Penasaran nih.
    Lanjut..

  8. maaf ya eon tlat cment.
    Nie part trbngkarnya smua rhsia.
    Smuanya udah bgus eon. .
    D tnggu aja next part nya!

  9. ya ampun haera kmanapa bisa jatuh, ah aku makin suka sama neh ff, ga pernah bosen udah baca beberapa kali

  10. hallo..
    new reader, nova 91 line..
    sdah beberapa kali berkunjung kesini, tpi bru kali ini sprtinya ninggalin jejak. mianhe..

    suka sm ff yg ini..
    awalnya kupikir haera bener anknya donghae.. tpi waktu baca part ini, akhirnya tau ceritanya.. huwaaaahh, lee hyukjae, knpa spti itu..?? donghae syerem kl lagi marah.. haera smpe nangis kejer gitu.. kasian..
    naah, naah, naahh.. knpa tba2 pneumonianya haera kambuh..?? hhhhh, complicated yaa..
    tpi ini yg bikin seru..
    ditunggu part selanjutnya..

  11. Sumpah greget nhe bacanya,,
    jdi haera bukan anak donghae sma mina mlainkan anknya hyukjae sma mina,,
    tpi knpa donghae mau ngelakuin itu dia berkorban buat prsaannya sndri,,
    moga ajja dia jelasin alsannya ke reann eon,trus mreka ber1..
    Berharap bnget mreka bisa sma

  12. Waaah nggak nyangka kalau cerita nya bakal jadi serumit ini :-D
    Konflik nya keren eonnie tdk terbayangkan :-)
    Semoga aja yoo nanti bsa brsama donghae + haera ^^
    Nexy jngan lma” yaa eon sma jngan lupa tagin aku …

  13. bbrp hr yg lalu aq dtag ff ini tp part epilog aq lupa kpn dtag part end nya jd aq cek kronologi udh smpe part brp bca trnyta bru smpe part 6 jd aq cri part 7 nya hehe maaf baru smpet bca+ komen eon
    sperti biasa ff nya bkin pnasaran jd aq mau lngsung k part end + epilog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s