wpid-1383484733816.jpg

Pervert Husband Chapter 1

wpid-1383484733816.jpg

Title : Pervert Husband Chapter 1

Ganre : Romance, Drama, Marriage live.

Lenght : Shortstory

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung, Others.

Author : bluerose8692

“I need you, I want you, I miss you, I love you. I thinking about you, always. Can you hear my heart?”Read More

**

“Bisakah kau hentikan kebiasaan burukmu yang satu ini, Oppa?” Ucap seorang gadis dengan malas, memandang pria yang saat ini sedang menuangkan air ke dalam gelas. Lebih tepatnya jengah melihat kelakuan pria yang saat ini berstatus sebagai suaminya.

“Wae? Kau bukankah sudah tahu dari awal seperti apa aku yang sebenarnya? Kenapa masih mengeluh?” Pria itu berjalan mendekat kearah istrinya yang duduk di kursi makan dengan wajah di tekuk.

“Apa kau tidak lelah dengan hidupmu yang seperti ini?” Tanya gadis itu lagi tanpa menjawab pertanyaan sang suami. Donghae menyerngit bingung, “Tidak. Justru aku senang.” sahutnya innocent. Yoo Kyung mendesah, ia sudah menduga bahwa pria itu akan menjawab seperti itu. Hidup seatap selama 5 bulan dengan pria itu membuatnya cukup tahu kebiasaan apa saja yang di gemari olehnya.

“Benarkah? Apa kau tidak merasa bersalah karena telah mempermainkan begitu banyak perasaan seorang gadis? Apa kau tidak takut bahwa karma itu berlaku?”

Donghae mendengus, “Bisakah kau berhenti menceramahiku, Yoo? Aku pusing mendengarnya.”

“Aku hanya memperingatimu, Oppa. Bahwa apa yang kau lakukankan saat ini sudah keterlaluan, dan apa kau sadar bahwa kelakuanmu itu telah menyakiti banyak orang?” Termasuk aku, tambah gadis itu dalam hati. Ia membalas tatapan tajam Donghae. Ia sudah cukup bersabar menghadapi sikap suaminya ini yang seperti ini, bergonta-ganti gadis di setiap malamnya.

“Itu bukan urusanmu.” Donghae melangkah pergi dari hadapan Yoo Kyung. Ia tidak ingin bertengkar dengan gadis itu. Jika di teruskan ini pasti tidak akan selesai dalam satu malam.

“Tapi aku istrimu, Oppa!”

Seketika Donghae menghentikan langkahnya, ia berbalik memandang Yoo Kyung yang sudah berdiri.

“Benar, kau memang istriku. Tapi kau bukan wanita yang aku cintai. Pernikahan ini hanya sebuah status. Aku menerimamu karena aku memikirkan keadaan Appa yang sakit jantung. Bukankah aku sudah tegaskan dari awal bahwa aku tidak ingin pernikahan ini terjadi dan aku tidak akan pernah bisa mencintaimu, sampai kapanpun!” Donghae segera berlalu pergi meninggalkan Yoo Kyung yang terpaku di tempatnya. Suara pintu berdentum dengan keras menandakan Donghae yang segaja melakukannya. Pria itu marah. Ia tahu itu.

Airmata yang sedari tadi di tahannya kini meluncur dengan sendirinya. Sakit. Kenapa mencintai seseorang harus seperti ini? Merasakan sakit yang tidak bisa di sembuhkan hanya dengan obat pereda nyeri.

“Tidak bisakah kau melihatku, Oppa?” Tangis gadis itu semakin menjadi, bahkan kini tubuhnya luruh ke lantai. Tubuhnya seakan tidak lagi mempunyai tenaga untuk menopang berat badannya. Ia lelah. Ia ingin menepi dan menghapus rasa sakit dan sesak ini. Semuanya sudah cukup.

‘Apapun yang terjadi kelak, kau harus tetap bertahan Yoo. Eomma akan selalu mendoakanmu.’

Yoo Kyung kembali teringat pesan sang ibu yang memintanya untuk tetap bertahan. Ia merindukan sosok ibunya saat ini, ia ingin berbagi kisah dengannya.

“Eomma, aku harus bagaimana? Aku sudah lelah, Eomma.” Isaknya dengan menutup wajah menggunakan kedua tangan.

Malam semakin larut namun tangis gadis itu masih terdengar. Dan itu membuat seorang pria yang berada di balik pintu mengutuk kebodohannya. Lagi dan lagi. Ia membuat gadis itu menangis.

“Mianhae, Yoo.” Lirihnya penuh sesal. Ia berjalan lunglai meninggalkan rumah minimalis yang ditempatinya bersama Yoo Kyung, istrinya. Gadis yang ia nikahi 5 bulan lalu. Ia ingin pergi ke tempat yang membuatnya melupakan masalah ini. Hanya satu tempat yang ia tahu. Pub.

*

Gerakan halus jari-jari tirus itu membuat seseorang segera menderap kearah ranjang. Dengan gerakan pelan ia mencoba membuka matanya, mengenali dimana ia berada sekarang.

“Kau sudah siuman, Yoo?”

Samar-samar Yoo Kyung dapat melihat wajah itu. “Aku bantu.” Yoo Kyung bersandar dengan dibantu Jaekyung, istri dari Hyukjae–sepupu Donghae.

“Eonni, kenapa Eonni ada disini?” Tanyanya bingung.

“Apa yang membuatmu meminum obat tidur dalam jumlah banyak huh? Kau ingin mengakhiri hidupmu huh? Paboya!” Sungut Jaekyung langsung dengan menggebu-gebu. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran adik iparnya ini. Meminum obat tidur dalam jumlah banyak sama saja mengakhiri hidup jika tidak tertolong. Untung saja ia masih sempat menolong Yoo Kyung.

“Mian,” lirih Yoo Kyung menyesal.

“Sekarang apa lagi yang dilakukan Donghae padamu?”

Yoo Kyung mengangkat wajahnya, menatap Jaekyung ragu. Apakah ia harus bercerita? Tapi jika Donghae tahu, ia pasti akan semakin membencinya. Ia tidak mau itu.

“Tidak ada,” bohongnya.

Jaekyung tahu gadis ini berbohong. “Apa Donghae masih begitu? Membawa gadis-gadis itu ke rumah?” Tebak Jaekyung hati-hati. Ia sudah sangat tahu akan kebiasaan Donghae yang satu itu. Jauh sebelum Donghae dan Yoo Kyung menikah.

Yoo Kyung tidak menjawabnya, gadis itu tertunduk diam. “Maafkan dia, Yoo. Aku tahu kau pasti kecewa, tolong maafkan dia ne?” Jaekyung menatap dalam Yoo Kyung. Ia ingin Yoo Kyung tetap bertahan, tidak menyerah begitu saja. Karena ia yakin bahwa hanya Yoo Kyung yang dapat merubah sifat buruk Donghae.

“Eonni, jangan meminta maaf. Aku tidak apa-apa. Sungguh.” Yoo Kyung meremas jemari Jaekyung untuk meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.

“Ah ya, aku kesini ingin menyerahkan undangan ini padamu.” Jaekyung menyerahkan kertas berwarna biru muda ke tangan Yoo Kyung. “Undangan apa ini?”

“Itu undangan pembukaan cabang perusahaan Hyukjae Oppa, yang akan di laksanakan lusa. Ku harap kau dan Donghae bisa datang.” Jaekyung tersenyum tulus. Yoo Kyung kembali murung, “Aku tidak tahu apakah Donghae Oppa bisa datang atau tidak, aku tidak bisa menjaminnya, Eonni.” Sesalnya. Benar, ia tidak bisa menjamin untuk Donghae bisa datang bersamanya ke acara itu.

“Tenang saja, kau tidak perlu khawatir tentang Donghae. Hyukjae Oppa sudah bertindak lebih dulu. Kau bersiap saja, aku yang akan menjemputmu lusa. Ok?”

“Baiklah,”

“Apa kau sudah makan?” Tanya Jaekyung tiba-tiba. Ia teringat dengan makanan yang ada di meja makan tadi ketika ia datang dan melihat Yoo Kyung pingsan di lantai.

“Aku–”

“Kau bodoh!” Jaekyung dengan entengnya mendeplak kepala Yoo Kyung gemas. Gadis itu meringis sakit. “Tidak perlu kau jawab pun aku tahu, kau tidak pernah makan dengan teratur kan? Karena Donghae, pasti. Tidak usah menyangkalnya,” lanjutnya lagi begitu melihat Yoo Kyung membuka mulutnya. “Aku tahu kau memikirkan Donghae bodoh itu, tapi kau juga harus makan Yoo. Kau lihat, tubuhmu ini tinggal kulit dan tulang saja. Kurus kering seperti anak kurang gizi,” gerutu Jaekyung dengan menyeret Yoo Kyung keluar kamar menuju dapur.

“Duduk saja, biar aku yang panaskan lagi sayurannya.” Perintah Jaekyung dengan memaksa Yoo Kyung duduk.disalah satu kursi. Sedangkan ia mulai sibuk menghangatkan sayuran yang ada di meja, masakan Yoo Kyung.

Yoo Kyung merasa sedikit lebih baik dengan kehadiran Jaekyung di rumahnya malam ini. Sehingga ia dapat melupakan rasa sakitnya untuk sejanak.

*

Donghae memandang malas kearah teman-temannya yang sibuk meliukan tubuh mereka di lantai dansa. Berbaur dengan lautan manusia di lantai itu. Musik berdentum dengan keras, mengiringi gerakan mereka yang mengikuti alunan musik.

“Kau kenapa Hae-ya? Tidak ikut bersama mereka?” Pria berparas tampan itu menepuk bahu Donghae sehingga pria itu sedikit tersentak kaget.

“Aku sedang tidak mood,” sahutnya acuh.

“Wae? Ada masalah?” Donghae diam, tidak menjawab pertanyaan pria yang lebih tua 3 tahun darinya itu. “Kau bertengkar lagi dengan Yoo Kyung heh?” Tebak pria itu langsung. Ia sudah mengerti hanya dengan memlihat raut suram yang di tunjukan Donghae sejak beberapa jam lalu. Tidak biasanya pria itu menjadi pendiam seperti ini. Biasanya, jika ada seorang gadis yang datang dan mengajaknya berdansa Donghae pasti akan langsung menyambutnya, tapi kali ini tidak. Dan jika sudah begini, ia tahu penyebabnya. Suasana hati yang buruk. Dan satu-satunya penyebab hanya gadis itu–Kim Yoo Kyung–istrinya.

“Bisakah kau tidak menyebut namanya, Hyung? Aku muak mendengarnya.” Donghae menuangkan cairan berwarna kuning bening itu kedalam gelas. Itu sudah yang keberapa, tidak terhitung.

“Jangan seperti itu Hae-ya. Biar begitu juga dia istrimu.” Nasehat pria yang di panggil ‘Hyung’ oleh Donghae. Kim Hee Chul.

“Tidak perlu kau ingatkan hal bodoh itu, Hyung. Aku tidak suka akan fakta itu, aku jadi merasa terbebani.” Keluh Donghae dengan menatap kosong gelas yang berada di tangannya, dengan sesekali menggoyangkannnya.

Hee Chul mendesah pasrah, “OK, aku tidak akan membicarakan hal itu lagi. Tapi ingat nasehatku yang satu ini, Hae-ya. Yoo Kyung, dia gadis yang polos dan sabar juga perhatian. Meskipun kau berlaku semena-mena padanya ia tetap bertahan di posisinya. Aku bahkan salut! Jika itu aku, aku sudah mati berdiri menghadapi sifatmu ini.” Hee Chul berhenti sejenak, memperhatikan Donghae. Kemudian melanjutkan kalimatnya, “Dan saranku, seberapa dalam kau membencinya itu adalah seberapa dalam rasa sayangmu terhadapnya.”

Donghae melebarkan matanya, “Ck, mustahil.” Sangkalnya.

Hee Chul menyeringai, “Kau tidak percaya huh?”

“Tidak.”

“Pepatah mengatakan, ‘Benci dan Cinta itu bedanya setipis kertas.’ Dan kau belum bisa membedakan rasa benci dan cintamu terhadap Yoo Kyung. Ku nasehati sekali lagi, perbaiki sikapmu. Rubah kelakuanmu, sebelum kau menyesal dan semuanya terlambat. Yoo Kyung tidak akan menunggumu selamanya, Hae-ya. Setiap orang ada batas kesabaran dan rasa lelah. Jika kedua rasa itu telah begitu menumpuk, aku yakin Yoo Kyung pun akan menyerah.” Hee Chul berdiri dan berniat pergi dari sana, tapi ia kemudian berbalik lagi. “Ah ya, Yoo Kyung gadis yang tepat untukmu. Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan tadi.”

Donghae menatap nanar punggung Hee Chul yang mulai menjauh, kembali berbaur dengan teman-temannya yang lain. Ia termenung, memikirkan kalimat yang Hee Chul ucapkan tadi.

“Ani. Tidak mungkin. Mana mungkin aku menyukai gadis itu, tidak. Aku membencinya, benar. Dan akan aku pastikan bahwa ucapan Hee Chul Hyung salah besar. Sampai kapanpun, rasa benciku tidak akan pernah berubah jadi cinta. Tidak!” Donghae menghabiskan minuman yang ada di gelas itu dalam sekali tenggak. Ia menggeram halus.

“Disini malah semakin membuatku pusing!” Gerutunya. “Dan Hee Chul Hyung lah yang membuatku begini,” lanjutnya lagi dengan beranjak bangun dari tempat duduknya. Ia mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan menaruhnya di atas meja kemudian ia pergi dari tempat itu.

*

“Yoo,”

“Eh?” Yoo Kyung mengerjap kaget karena seseorang menepuk bahunya. Membuat ia tersadar dari lamunannya.

“Kau bilang, kau ingin terlihat tegar di depan suamimu?” Ucap Solbi, teman sekelas Yoo Kyung di kelas sastra Inggris.

“Nde?”

“Aku ada ide, dan aku jamin ide ini akan berhasil.” Solbi tersenyum penuh arti dan sangat yakin.

“Apa?” Yoo Kyung memandang penasaran sahabatnya itu. Ia memang ingin merubah sifatnya yang cegeng, setidaknya di depan Donghae.

Solbi mendekat ke arah Yoo Kyung duduk, ia membisikkan rencananya dan sesekali Yoo Kyung mengangguk.

“Tapi, apa itu akan berhasil? Aku sangsi,” lirih Yoo Kyung lemas. Ia tidak yakin rencana itu akan berhasil.

“Kau belum mencobanya, Yoo. Sekarang kau harus mencobanya! Pulang dari sini kita pergi ke tempat langgananku, aku jamin kau tidak akan kecewa.” Solbi mencoba membujuk Yoo Kyung agar mengikuti rencananya. Ia sudah cukup prihatin dengan keadaan Yoo Kyung yang selalu seperti itu, tidak ada semangat. Dan ia yakin hanya dengan cara itulah Donghae bisa berubah, setidaknya secara bertahan.

Sesuai dengan rencana yang dikatakan Solbi tadi ketika jam istirahat siang. Saat ini, kedua gadis itu sedang berada dalam sebuah tempat perawatan tubuh. Yang di maksud Solbi dengan merubah adalah penampilan Yoo Kyung lebih dulu, baru perilaku.

“Apa kau yakin ini akan membantu, Solbi-ya?” Yoo Kyung memandang ragu Solbi yang saat ini sedang duduk dengan membaca majalah. Gadis itu mendongak, “Aku jamin. Hal pertama yang harus di rubah dari dirimu adalah penampilanmu. Apa kau tidak sadar bahwa kau itu sebenarnya cantik, Yoo? Tapi sayangnya kecantikanmu itu tertutupi oleh kepribadianmu yang pendiam. Coba kalau kau lebih modis sedikit dan membuka dirimu, aku yakin seyakin-yakinnya, setiap pria di universitas akan langsung melirikmu.”

“Tapi kalau seperti itu sama saja itu hanya topeng. Itu bukan aku yang sebenarnya. Aku tidak mau terlihat seperti orang lain. Jika orang itu memang menyukaiku, ya harus menerimaku apa adanya, bukan karena fisiknya saja.” Yoo Kyung tetap bersikeras dengan argumennya.

Solbi mendecak, “Sudah diam. Kau menurut saja.” Tegas Solbi mengakhiri percakapan mereka. “Nona, tolong kau dandani temanku itu secantik mungkin. Potong saja rambut ekor kudanya itu, buat model yang menurutmu cocok dengan wajahnya.” Ucap Solbi pada seorang gadis yang sedari tadi berdiri disamping Yoo Kyung yang duduk.

“Algeuseubnida,”

Yoo Kyung mendesah pasrah ketika gadis yang di perintahkan Solbi untuk memotong rambutnya. Ia hanya bisa berdoa semoga saja setelah rambutnya di potong nanti tidak akan terlihat aneh.

Setelah acara potong rambut selesai, Solbi kembali mengajak Yoo Kyung berbelanja beberapa pakaian di pusat perbelanjaan. “Yoo, coba kita kesana.” Solbi menarik lengan Yoo Kyung agar mengikuti langkahnya yang menuju sebuah outlet khusus pakaian wanita.

“Aigo, untuk apa kau membawaku kemari Solbi-ya? Aku masih cukup banyak pakaian dalam di rumah.” Desis Yoo Kyung lirih ketika Solbi tetap menyeretnya masuk ke dalam toko.

“Hei, kau harus membeli beberapa baju tidur untuk suamimu, bodoh. Jangan piyama usang yang selalu kau pakai itu!”

Yoo Kyung mengerucutkan bibirnya kesal.

Oh, ayolah. Apakah ada yang salah jika gadis berusia 23 tahun masih mengenakan pakaian tidur dengan gambar hello kitty ataupun mickey mouse? Sepertinya wajar kan?

“Ambil ini, ini, dan itu.” Solbi mengambil beberapa lingerie kemudian memberikannya ke tangan Yoo Kyung yang hanya bisa pasrah saja. Setelah membayar semua belanjaan Solbi kembali mengajaknya berkeliling supermarket untuk membeli kebutuhan lainnya. Ia banyak memberi masukan untuk Yoo Kyung.

“Tunggu, tunggu. Bagaimana kau bisa tahu sebanyak ini Solbi-ya? Kau sepertinya sudah cukup berpengalaman dalam hal yang satu ini?” Sela Yoo Kyung cepat, Solbi menggaruk tengkuknya dan tersenyum kaku. “Kau sudah pernah melakukannya dengan Kibum Oppa huh?” Tebak Yoo Kyung yang melihat raut wajah malu-malu Solbi. Gadis itu tidak menjawabnya, hanya tersenyum apa adanya dan Yoo Kyung sudah bisa menebaknya.

“Ya Tuhan, Solbi. Apa kau tidak takut nanti kau hamil di luar nikah huh? Bagaimana jika Kibum Oppa tidak mau bertanggungjawab? Pabo!” Maki Yoo Kyung dengan gemas. Ia tidak menyangka di balik sifat dan sikap Solbi yang easy going ternyata tersimpan sebuah kebusukan. Dan parahnya, ia baru tahu sekarang setelah berteman sejak SHS.

“Kami kan pakai pengaman, Yoo.”

“Tetap saja kemungkinan untuk hamil itu ada! Dan apa kau tidak menyesal telah memberikan hal yang paling berharga dalam dirimu untuknya? Dia bukan suamimu, Solbi-ya.” Yoo Kyung menatap sendu sahabatnya. Ia hanya tidak ingin Solbi terjerumus terlalu jauh ke jalan yang salah. Kibum adalah teman Donghae. Dan ia sangat tahu seperti apa kelakuan teman-teman suaminya itu. Ia tidak ingin Solbi menyesal nantinya. Itu saja.

Solbi menggenggam tangan Yoo Kyung. “Tidak akan terjadi apa-apa denganku, Yoo. Percaya padaku. Dan jika kemungkinan itu ada, tenang saja, Kibum Oppa berjanji akan mempertanggung jawabkannya. Ia janji. Jangan khawatir.” Solbi mencoba menenangkan Yoo Kyung. Ia mengerti dan paham benar bahwa Yoo Kyung itu baik menasehatinya. Dan ia tahu apa yang ia lakukan jika hal itu terjadi.

“Terserah kau sajalah. Aku hanya ingatkan agar kau lebih berhati-hati.”

“Arrayo. Gomawo.”

“Hm”

“Yoo, aku ke toilet dulu ne.” Pamit Solbi dengan berdiri dan meninggalkan Yoo Kyung yang duduk sendiri. Gadis itu menghela nafas dan menatap belanjaan yang tadi di belinya. “Pemborosan,” gumamnya melihat beberapa paper bag yang ada di kursi sampingnya. Semua itu adalah baju dan keperluan lain yang tadi Solbi pilihkan untuknya. Untuk membuat Donghae memperhatikannya, kata Solbi.

Merasa bosan karena Solbi belum juga kembali, ia memilih melihat sekelilingnya. Banyak sekali pasangan yang berseliweran di depannya, sungguh membuat iri. Yoo Kyung mempendarkan tatapannya lagi dan kali ini ia tidak bisa berkedip melihatnya. Bahkan detak jantung dan pernafasannya seakan berhenti saat itu juga.

Donghae, suaminya. Saat ini sedang berjalan bergandengan tangan bahkan pria itu memeluk pinggang gadis itu begitu posesif. Sungguh pemandangan yang membuatnya sesak nafas.

Kabut tipis memenuhi pelupuk mata. ‘Aku tidak boleh menangis, tidak! Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku harus berubah.’

Yoo Kyung mencoba menahan tangisnya. Dan yang ia lakukan justru hanya duduk diam di meja café yang hanya dibatasi jendela kaca tembus pandang. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana kelakuan suaminya dengan gadis itu.

“Aku akan membuatmu melihat keberadaanku, Oppa. Aku pasti bisa membuatmu melihatku!” Tekad Yoo Kyung dan tanpa sadar ia mencengkeram gelas kertas yang di genggamnya hingga isinya tumpah.

“Yoo, apa yang kau lihat?”

Seketika Yoo Kyung menoleh dan mendapati Solbi telah berdiri di sampingnya dengan raut bingung. “Tidak apa-apa,”

“Tapi bubble tea mu..” Solbi menunjuk bubble tea yang tumpah tanpa sadar oleh Yoo Kyung. Gadis itu mengerjap, “Ah tadi tidak sengaja..” Yoo Kyung segera meraih tissue dan mengelapnya.

“Kita pulang saja ne? Aku lelah.” Ujar Yoo Kyung tiba-tiba.

“Baiklah, kajja.” Mereka pergi meninggalkan café itu. Dan sebelum benar-benar pergi, Yoo Kyung sekali lagi menolehkan kepalanya. Donghae masih ada disana.

‘Kita lihat Oppa, setelah ini apa kau masih bisa menolakku. Akan aku buktikan bahwa aku tidak akan kalah dari gadis itu atau gadis manapun. Karena aku istrimu. Dan aku punya hak untuk mendapat perhatian darimu.’

“Yoo, kau lihat apa lagi? Kajja..”

“Ah, ne…”

Yoo Kyung segera menyusul Solbi yang berjalan lebih dulu. Ia sudah bertekad. Ia sudah menentukan tujuannya. Tinggal ia menunggu hasil dari kerja kerasnya nanti.

*

Seperti yang telah menjadi tekad Yoo Kyung tadi, gadis itu begitu sampai rumah segera memulai rencananya. Ia segera masuk ke dalam kamar dan menaruh barang-barang belanjaannya.

“Masih jam 5,” lirihnya begitu melihat jam dinding. Itu berarti masih ada sekitar 2 jam lagi untuk Donghae pulang ke rumah.

Yoo Kyung memilih mandi lebih dulu–berendam–sepertinya usul yang bagus. Maka ia putuskan untuk berendam baru memulai rencana pertamanya.

‘Langkah pertama coba kau acuhkan suamimu itu. Jangan seperti biasanya, menyapa lebih dulu. Kau harus pandai berakting.’

Yoo Kyung termenung setelah selesai berendam. Ia teringat akan saran Solbi tadi sore–saat mereka berbelanja–gadis itu memintanya agar mencoba acuh terhadap Donghae.

“Sepertinya tidak ada salahnya ia mencobanya,” gumamnya dengan kembali melanjutkan acara mengeringkan rambut.

Yoo Kyung tersenyum ketika ia ingat lingerie yang tadi di belinya. “Tidak, aku coba cara yang ini dulu. Jika ini gagal maka aku akan pakai cara Solbi.” Gumamnya tersenyum penuh arti. Ia tidak perduli jika nanti Donghae akan menganggapnya apa. Ia akan mencobanya, meskipun akan gagal setidaknya ia sudah mencoba.

Yoo Kyung memilih lingerie berbahan brokat transparan. Ia perhatikan baik-baik baju itu. “Aigo, ini pertama kalinya aku pakai baju seperti ini.”

Itu karena Donghae tidak pernah menyentuhnya sama sekali sejak mereka menikah. Dan kamar mereka pun terpisah. Bersebelahan.
Yoo Kyung tidak bisa menolak itu karena itu permintaan Donghae sebagai syarat ia setuju menikah dengan Yoo Kyung.

“Ok, semoga ini berhasil. Merayu suami sendiri? Aigo.. Tidak pernah terbayang olehku,” desahnya frustasi. “Cukup Yoo, jangan mengeluh lagi. Kau harus yakin dan mencobanya!”

*
Malam datang menjemput, menggantikan peran terang. Derap langkah kaki semakin dekat menuju sebuah rumah.

Donghae melangkahkan kakinya dengan ringan memasuki rumah, ia terkejut karena ketika akan membuka pintu namun pintu itu tidak terkunci.

“Gadis ceroboh. Bagaimana jika ada pencuri yang masuk huh?” Donghae segera masuk dan mengunci pintu. Ia mencari keberadaan istrinya. “Tidak ada, dimana dia?” Gumamnya setelah mencari ke halaman belakang, dapur dan ruang baca. Tapi ke tiga tempat itu kosong. Ah, ada satu lagi. Ia yakin istrinya itu ada disana. Tanpa membuang waktu ia segera menuju kamar Yoo Kyung.

“Yoo, kau itu cero–” aliran kata-kata Donghae mengambang begitu saja setelah ia membuka pintu kamar Yoo Kyung. Ada hal yang membuatnya tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Mata hitamnya tidak berkedip melihat sosok yang saat ini sedang membelakanginya. Istrinya–Yoo Kyung–saat ini sedang berusaha menggapai kardus yang ada di atas lemari. Tapi karena gadis itu tidak cukup tinggi maka ia tidak dapat menggapainya meskipun sudah berjinjit.

Namun bukan hal itu yang membuat perhatian Donghae teralihkan, melainkan dengan sosok itu. Saat ini, istrinya itu hanya mengenakan lingerie berwarna ungu tua berbahan brokat. Ia dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh gadis itu. Kulit putih mulus yang tidak pernah ia lihat kini dapat ia lihat dengan matanya sendiri.

Tanpa sadar ia melangkah mendekati istrinya yang belum menyadari kehadirannya.

“Kau sedang apa?”

Seketika Yoo Kyung menoleh karena kaget mendengar suara itu tiba-tiba. Ia yang sudah berhasil memegang ujung kardus itu tersentak kaget sehingga tanpa sadar menarik kardus itu sekaligus.

Bruk!

“Aaa!!”

“Ssssshhh”

Rintih keduanya bersamaan. Kedua sama-sama melenguh sakit. “Kau ceroboh dan bodoh!” Maki Donghae langsung. Yoo Kyung yang berada di atas tubuh Donghae segera beranjak bangun dan membantu Donghae. “Mian,” gumamnya lirih.

Yoo Kyung segera memunguti barang-barang yang berserakan di lantai–barang yang ada di kardus–yang isinya berhamburan karena terjatuh tadi.

Donghae tidak bisa mengalihkan tatapannya dari istrinya. Dalam hati ia memaki. Kenapa istrinya itu justru memakai pakaian seperti itu, di saat seperti ini. Ini sangat menyiksanya, ia akui itu.

Lihat, apa ia tidak sadar bahwa baju itu tidak dapat menutupi dengan baik beberapa area tubuhnya huh?

“Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?”

Yoo Kyung yang sedang berjongkok, memungut barang-barangnya berhenti. Ia tatap Donghae tidak mengerti. “Memang kenapa dengan bajuku?” Tanyanya dengan memandang dirinya sendiri. “Tidak ada yang salah kan?” Ucapnya setelah ia kembali menatap Donghae.

Pria itu berdecak, “Sejak kapan kau jadi aneh begini? Dan aku baru tahu kau mempunyai baju seperti itu.”

“Aku tidak aneh, Oppa. Kau itu kenapa sih? Aku hanya memakai lingerie, apa itu salah?”

“Salah.”

“Wae?” Yoo Kyung menatap Donghae meminta penjelasan.

“Kau—”

“Aku apa? Memang kenapa jika aku memakai lingerie? Toh, aku memakainya di rumah tidak di luar. Lagi pula, mana mungkin kau tertarik dengan tubuhku yang katamu seperti papan gosokan ini? Jadi apa masalahmu sekarang?” Cecar Yoo Kyung tidak sadar.

Hilang sudah rencana yang sudah ia susun tadi. Bibirnya bertindak tidak sesuai dengan apa yang ingin ia katakan. Ini murni dari hatinya, tanpa pikir panjang.

Donghae menarik nafas dalam. “Tapi menurutku salah. Kau tidak cocok memakai baju itu. Dan lagi, kau lupa tidak mengunci pintu. Kau selalu ceroboh. Bagaimana jika ada pencuri masuk ke dalam dan melihatmu memakai pakaian seperti itu, apa kau tidak takut ia akan bertindak kurang ajar padamu huh?”

Yoo Kyung mendecak, ia tersenyum sinis. Ia menyilangkan tangannya depan dada, sehingga menekan bagian depan tubuhnya dan itu dapat Donghae lihat dengan jelas.

“Kenapa? Apa kau cemas jika pencuri itu akan memperkosaku huh? Apa pedulimu jika itu terjadi padaku?”

“Tentu saja aku perduli. Kau istriku, dan kau menjadi tanggungjawabku sejak pengucapan janji itu!” Sahut Donghae dengan menggebu-gebu. Tentu saja ia khawatir.

“Istri?” Yoo Kyung tersenyum sinis. “Sejak kapan kau melihat jika aku ini istrimu? Sejak kapan kau menjadi memperhatikan apa saja yang aku lakukan?” Yoo Kyung berjalan meninggalkan Donghae, menuju meja belajarnya dan menaruh kardus yang tadi diambilnya dari lantai setelah memasukkan semua isinya.

Ia kembali berbalik dan menatap Donghae lekat. “Jika kau menganggap aku istrimu, kau tidak akan menyakitiku seperti ini. Jika kau merasa aku ini istrimu, seharusnya kau bersikap baik dan perhatian padaku. Seorang suami seharusnya memperhatikan istrinya, bukannya gadis lain dengan bermesraan di depan umum.” Kali ini kalimat Yoo Kyung begitu menohok Donghae, seperti belati tajam. “Apa kau tidak tahu jika aku selalu menahan sakit ketika melihatmu membawa gadis-gadis itu pulang kerumah huh?” Yoo Kyung kembali mendekat kearah Donghae yang masih diam.

“Disini,” Yoo Kyung meletakan tangan kanannya di dada kiri, tepat jantungnya. “Hatiku menjerit setiap kau melakukan itu padaku, Oppa. Kau bahkan tidak pernah bersikap selayaknya suami pada umumnya. Kau tidak pernah menganggap aku ada. Jadi, apa itu yang kau sebut suami huh? Apa kau pernah memikirkan perasaanku? Sedang apa aku? Apa pernah?!”

Donghae tidak dapat menjawab satupun pertanyaan Yoo Kyung. Bahkan pikirannya mendadak saja kosong. Aliran kata-kata pedas yang biasa ia ucapkan kini tidak keluar dari bibirnya. Kelu.

Yoo Kyung semakin mendekat kearah Donghae hingga jarak keduanya tinggal beberapa centi. Gadis itu sedikit berjinjit.

Chu~

Ia tempelkan bibirnya tepat di permukaan bibir Donghae yang hangat. Bibirnya bergetar, menahan tangis. Ia biarkan bibirnya disana. Merasakan hangatnya bibir Donghae yang pasif. Ia tahu, Donghae pasti terkejut dengan tindakannya. Bahkan pria itu sama sekali tidak bergerak. Kaku.

“Maaf, jika aku tidak bisa menjadi istri yang seperti kau inginkan.” Yoo Kyung segera berlalu, masuk kamar mandi dan mengunci pintu itu rapat. Menyembunyikan tangisnya dari suaminya.

Donghae seperti orang yang baru saja terkena hipnotis. Ia menyentuh bibirnya yang masih menyisakan kehangatan bibir Yoo Kyung. Ia berbalik, menatap nanar pintu kamar mandi. Yoo Kyung menangis di dalam.sana, ia tahu itu.

“Argh! Shit!” Makinya keras. Ia layangkan tinjunya ke lemari pakaian sampingnya sehingga terdengar bunyi yang cukup keras.

Ia segera pergi dari kamar istrinya. Ia harus menenangkan dirinya sekarang. Pikirannya kalut dan dipenuhi dengan kalimat Yoo Kyung tadi, di tambah tindakan berani Yoo Kyung yang menciumnya. Itu tidak bisa terlupakan begitu saja.

*

Suara bising yang ada disekitarnya tidak mempengaruhi seorang gadis yang duduk dengan diam dan tatapan mata yang kosong. Solbi sudah mencoba menarik perhatian gadis itu namun nihil. Yoo Kyung masih tetap berada di dunianya.

Suasana kelas begitu gaduh karena banyaknya siswa/siswi yang bercanda tawa. Jika tidak ada dosen maka kelas akan seperti ini, berisik dan gaduh.

“Yoo, kau mengerikan.” Gumam Solbi memandang sahabatnya prihatin. Ia menyesal telah meminta Yoo Kyung untuk menuruti sarannya, karena sepertinya itu tidak berhasil. Dilihat dari raut wajah Yoo Kyung pun sudah langsung tertebak. Bahkan kali ini lebih suram dari biasanya. Ia menyesal.

“Mianhae, Yoo.” Lirihnya sedih.

“Jangan meminta maaf Solbi-ya. Kau tidak bersalah.” Sahut Yoo Kyung tanpa menoleh. Masih memandang kosong kearah papan tulis di depan sana.

“Tapi karena remcanaku kau jadi–”

“Aniya. Aku bahkan belum menggunakan rencana seperti yang kau sarankan.”

“He? Lalu kenapa kau begini? Kau membuatku cemas.” Yoo Kyung begitu terlihat pucat hari ini. Lebih buruk dari biasanya.

“Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Ah ya, tolong kau ijinkan aku pada Mr Elbert, aku tidak bisa masuk. Ada urusan mendadak. Tolong ne?” Yoo Kyung segera membereskan barang-barangnya, memasukannya ke dalam tas. Solbi menatap bingung sahabatnya, “Kau akan kemana?”

“Aku ada urusan penting. Tolong kau ijinkan aku ne? Bilang saja aku sakit sehingga pulang lebih awal. Thanks, bye.” Yoo Kyung mengecup sebelah pipi Solbi sebelum pergi, meninggalkan gadis itu yang memandangnya penuh tanda tanya.

“Kau mau kemana bodoh? Kau membuatku khawatir.” Solbi duduk dengan gusar. Ia tidak tahu kemana gadis itu akan pergi. Dan jika melihat kondisinya, gadis itu tidak dalam keadaan yang baik. Terlihat begitu tertekan.

*

Pintu berdentum dengan keras sehingga menggema memenuhi rumah bercat coklat pastel itu. Pria itu berjalan dengan tergesa-gesa, seperti mencari sesuatu.

“Kau dimana, Yoo?” Gumamnya antara kesal dan panik. Seharusnya malam ini gadis itu menghadiri pesta undangan Hyukjae yang sudah di mulai sejak 1 jam lalu, tapi gadis itu tidak ada disana. Karena Donghae tidak berangkat bersama dengan gadis itu maka ia pikir istrinya itu sudah ada disana. Ia terkejut ketika Jaekyung justru menanyakan keberadaan istrinya. Ia sama sekali tidak tahu.

Donghae sudah mencoba menghubungi ponsel gadis itu, tapi mailbox. Dan ia sudah datangi teman-temannya dan menelponnya, namun tidak ada satupun yang tahu. Yang membuatnya semakin khawatir ia teringat ucapan Solbi bahwa Yoo Kyung tidak dalam keadaan baik. Gadis itu pucat.

“Kau itu kemana huh? Aish, Jincha!” Donghae mengacak rambutnya frustasi. Pikirannya semrawut. Meskipun dibilang ia tidak ingin mengkhawatirkan gadis itu tapi kini justru ia uring-uringan mencarinya.

Sejujurnya ia peduli dan memperhatikan istrinya itu, tapi dengan cara berbeda. Cara yang tidak biasa.

Ia tidak membenci seutuhnya gadis itu, tidak. Hanya ada beberapa hal dalam diri gadis itu yang mengingatkannya akan sosok itu, Jung Taeri. Gadis yang ia cintai. Namun sayang Tuhan berkehendak lain dengan jalan hidupnya. Hidupnya berubah 180° setelah kepergian gadis itu. Jung Taeri, membohonginya mentah-mentah. Ia hanya di jadikan bahan taruhan oleh gadis itu. Ia pikir, Taeri memang mencintainya setelah berpacaran selama 2 tahun, tapi apa.. Gadis itu justru mencampakkannya begitu saja. Itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang seperti saat ini; urakan, susah di atur, bermain dengan banyak gadis. Itu semua sebenarnya hanya sebagai pelampiasannya, tidak lebih.

Dan ketika orangtuanya mengenalkan sosok Yoo Kyung padanya, ia terkejut. Sifatnya itu yang begitu mirip dengan Taeri; perhatian dan sabar. Ia memutuskan untuk mengambil jarak dengan gadis itu, untuk mengantisipasi ia tidak terjatuh ke lubang yang sama. Cinta.

Tapi sebisa mungkin dan sekeras apapun ia berusaha untuk mengacuhkan gadis itu, ia tetap saja tidak bisa tidak ikut cemas ketika tahu gadis itu menghilang.

Mungkin selama ini ia bersikap dingin, acuh dan tidak perduli. Tapi itu semua kebalikan dari apa yang ada di hati kecil Donghae. Ia bahkan kerap kali memaki dan menyalahkan dirinya jika membuat gadis itu menangis.

“Kau pergi kemana gadis bodoh? Awas saja jika ketemu nanti, tidak akan aku ampuni.”

Donghae sangat mencemaskan Yoo Kyung. Ini sudah cukup larut tapi gadis itu belum ketemu atau memberinya kabar sama sekali. Tentu saja ia cemas.

Saat ini ia ada di taman yang tidak jauh dari rumahnya, hanya beberapa blok saja. Ia menolehkan kepalanya ke kiri-kanan, mencari-cari. Berharap ia dapat menemukan gadis istrinya.

“Aaa!! Tolong!! Aniya, aku tidak mau ikut kalian. Lepaskan, lepaskan!”

Samar-samar Donghae dapat mendengar suara teriakan seseorang. Ia menajamkan pendengarannya.

“Ani. Tidak mau! Lepaskan!”

“Ayolah, gadis manis. Temani kami sebentar.”

Terdengar suara tawa beberapa pria. Dan itu semakin membuat gadis itu ketakutan.

“Ani. Ku mohon biarkan aku pergi Ahjussi. Aku akan berikan uangku, tapi ku mohon biarkan aku pergi.” Mohon gadis itu dengan isak tangis. Tubuhnya bergetar hebat.

Dua pria itu kembali mendekati gadis itu. “Anak manis, kami tidak akan menyakitimu. Malam ini kita bersenang-senang. Hahaha..”

Gadis itu semakin berjalan mundur dengan menyilangkan kedua tangannya depan dada. Ia sudah begitu ketakutan. Ia sudah berteriak sejak tadi tapi tidak ada satupun yang menolongnya. Ini sudah terlalu larut!

“Kyaa!! Lepaskan!” Gadis itu kembali meronta ketika kedua pria tadi berhasil menahannya. Tangisnya semakin deras.

“Kemari sayang,” Ucap salah satu dari mereka dengan mencubit gemas dagu gadis itu.

“Jangan sentuh aku!”

“Wow, coba lihat.. Betapa manisnya dirimu Nona.” Kata pria bertubuh tinggi tegap dengan tatapan tajam.

“Mari kita lihat, setelah ini apa kau masih bisa menolak heh?” Pria itu berjalan semakin dekat kearahya. Dan ia tidak bisa berontak lagi karena kedua tangannya telah di tahan oleh kedua orang disampingnya. Tubuhnya sudah bergetar ketakutan dan airmata terus membasahi pipinya.

“Ani. Tidak, jangan kemari. Lepaskan. DONGHAE OPPA!!!!!”

Continue…

19 comments

  1. akk readers baru ni.
    nemu blogx
    trz bca ni ff kereennn bru ni bca ff yg isix haeppa jd bad boy gt.
    serruu

  2. Aduhhh bingung sebenarnya donghae suka atau tidak sama istrinya tapi kok jahat banget yah suka main perempuan ihhh pengen tabok donghae dehditrajam fishy

  3. annyeonghaseo…
    reader bru disni, temen ak rekomendasiin blog ini, n ff pertama yg ak bca adlh ini, asli deh klo ngebayangin haeppa dingin kyk gitu makin bikn melting
    keren ceritanya

  4. Ahh keren…
    Jadi itu alasan donghae jadi playboy?!
    Takut jatuh ke lobang yg sama?!
    Yookyung kenapa?
    Donghae?mana donghae? Cpetan tolongin! *gelisah

  5. Anyeong eonni.. aku reader baruu. Hihi. Aku udh baca ff ini ampe abis. Suka bgt sama isinya. Apalagi ada hae oppa nya. >,<

  6. Annyeong, saya reader baru disini. Salam kenal chingu🙂

    Aku baru baca part satu ini dan ff ini bagus. Aku suka, apalagi sama cast-nya,😀
    Donghae playboy krn itu toh !!
    Tp psti lama2 dia psti suka sama Yookyung, hehehehehe🙂

  7. Donghae jahat banget ama yookyung . Yookyung juga terlalu sabar . Pasangan yang tidak menemukan jalan. Yookyung semoga dia dapat baik kepadamu.

  8. yaishhhh jincha si donghae jelek itu bner” sebgklek bkin gue keselllllll gilaaaaaa 😠😠😤😤
    aihh hello kak aku readers baru 😄😊
    #very nice

  9. Annyong.. natsu imida… ner reader … salam kenal..
    Hmm…. msh bngun sma critanya.. tpi dri judul’a udh blin penasaran… and pas d bca tmbah bkin greget aja…. walau ada beberapa bag yg rasanya agak kecepetan.. tpi overall cukup bgus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s