Pervert Husband Part 2

wpid-1383484733816.jpg

Title : Pervert Husband Chapter 2

Genre : Romance, marriage live, drama

Lenght : Sortstory

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung, Others

Author : bluerose8692

**

“Ani. Tidak. Jangan mendekat. Lepaskan! DONGHAE OPPA!!” Yoo Kyung seketika berteriak sekencang mungkin. Ia sungguh ketakutan, dan yang terpikir olehnya hanya nama itu. Donghae. Meskipun ia tahu itu sangat mustahil jika tiba-tiba Donghae ada disana dan menolongnya.Read More

“Diam, gadis bodoh!” Satu tamparan telak mengenai pipi Yoo Kyung. Gadis itu bisa merasakan panas dan perih disaat yang bersamaan. Ia yakin, besok pipinya akan lebam. Bahkan cairan berwarna merah itu mengalir dari sudut bibirnya.

“Ayo kita bersenang-senang anak manis. Kau cukup diam saja dan nikmati, ok? Tenang saja, aku akan melakukannya dengan hati-hati.” Suara pria itu terdengar begitu mengerikan bagi Yoo Kyung. Ia sudah kehabisan tenanga, tubuhnya lemas ditambah perih di pipinya. Satu gadis melawan tiga pria dewasa tentu tidak akan sebanding, terlebih ia tidak mempunyai keahlian khusus. Ia yakin setelah ini hidupnya akan hancur, terlebih hatinya.

‘Donghae Oppa..’

Yoo Kyung memejamkan matanya rapat ketika orang itu semakin dekat dengannya, mengelus wajahnya perlahan. Ingin sekali ia berontak dan berteriak lagi sekeras yang ia bisa, namun sayang yang keluar dari bibirnya hanya sebuah gumaman lirih.

“Andwae..”

“Jangan takut anak manis, kami hanya ingin bersenang-senang denganmu sebentar saja.” Ujar pria disamping kiri Yoo Kyung dengan menyeringai. Salah satu dari mereka mulai menyentuh cardigan yang dikenakan Yoo Kyung, berniat melepaskannya. Namun itu terurungkan karena pria itu tersungkur di tanah.

“Apa yang kalian lakukan padanya huh?!”

Tanpa banyak bicara pria itu langsung memukul pria di samping Yoo Kyung, yang masih terkejut karena temannya itu tersungkur di tanah. Pria itu tidak sempat menghindar dan ikut terjatuh. Sedangkan teman satunya lagi segera mengambil sesuatu dari saku jasnya–pisau lipat.

Pria itu melepaskan Yoo Kyung, menghunuskan pisau itu kearah pria yang saat ini sedang baku hantam dengan kedua temannya.

Yoo Kyung yang melihatnya melebarkan matanya. “Aniya!” Gumam gadis itu panik. “Oppa, di belakangmu!” Serunya tanpa pikir panjang. Donghae yang mendengar itu segera berbalik setelah berhasil membuat kedua orang itu kembali terjatuh di tanah, dan dengan cepat menampik hunusan pisau yang terarah padanya dengan kaki kanan. Pisau itu terlempar cukup jauh dan pria itu mengibas-ibaskan tangannya yang terkena kaki Donghae dengan meringis, sakit.

“Pergi dari sini sekarang juga atau aku akan membuat kalian tidak bisa berjalan lagi.” Pinta Donghae tegas dan tatapan tajam. Ketiga pria itu saling bertatapan kemudian mereka segera berlari pergi. Donghae yang sedari tadi memasang kuda-kuda kini bisa bernafas lega ketika ketiga pria itu benar-benar pergi.
Ia berbalik dan membuka mulutnya untuk bicara namun ia langsung di tubruk oleh istrinya yang langsung memeluknya erat dengan menangis. Ia cukup terkejut atas tindakan Yoo Kyung ini, tapi kemudian ia merasa lega.

“Oppa. Aku takut.” Isak Yoo Kyung begitu perih. Tubuh gadis itu bergetar hebat dan Donghae bisa merasakan betapa takutnya gadis ini.

“Mereka sudah pergi, Yoo. Tenanglah.” Donghae menepuk punggung Yoo Kyung dengan kaku. Ia ingin memeluk istrinya ini, tapi ia urungkan niatnya itu. Ia tidak mau jika nanti Yoo Kung justru menyalahkan arti pelukannya. Maka ia putuskan hanya menepuk punggung gadis itu pelan, berusaha menenangkan.

“Kajja kita pulang, ini sudah larut.”

Yoo Kyung mengangguk setuju. Gadis itu bahkan masih menangis. Donghae menuntun Yoo Kyung, mereka berjalan berdampingan dengan Donghae memegang bahu Yoo Kyung sehingga tubuh mereka bersinggungan satu sama lain, tidak ada jarak.

Sesampainya mereka di rumah Donghae menyuruh Yoo Kyung duduk di sofa ruang tamu.
“Duduk,” Donghae menuntun Yoo Kyung agar duduk di sofa. Ia meninggalkan gadis itu disana. Yoo Kyung yang berfikir Donghae pergi begitu saja menunduk sedih. Bahkan tanpa disadarinya airmatanya kembali menetes.

“Ck, bisakah kau tidak menangis setiap harinya eoh? Apa kau tidak takut airmatamu itu akan kering heh?”

Yoo Kyung seketika mendongakkan kepalanya, memandang Donghae yang berdiri tepat dihadapannya. Pria itu duduk disamping Yoo Kyung, meletakan kotak P3K di meja.

“Kemari,” pinta Donghae seperti perintah. Yoo Kyung mendekat tanpa bicara.
Pria itu segera mengoleskan obat ke sudut bibir Yoo Kyung, membuat gadis itu mengeluh perih.

Sebenarnya tadi ia pergi untuk mengambil kotak P3K yang ada di kamarnya. Ia ingin mengobati luka di sudut bibir Yoo Kyung yang lebam.

“Bisakah kau tidak merepotkanku sekali saja? Kenapa kau begitu bodoh huh? Apa yang kau lakukan disana tengah malam begini?!” Ujar Donghae ketus dengan tangan yang sibuk mengolesi obat ke sudut bibir Yoo Kyung.

“Maaf.” Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Yoo Kyung. Ia tidak tahu apakah harus bercerita pada suaminya ini.

“Untung saja aku dengar teriakanmu dan cepat kesana. Bagaimana kalau tidak huh? Apa yang bisa kau lakukan setelah itu? Kau itu bodoh sekali.” Bukannya kata penghibur yang keluar dari bibir Donghae melainkan kata-kata pedas. Itu semakin membuat Yoo Kyung merasa terpukul.

Donghae segera membereskan obat-obat yang tadi digunakannya. “Aku tidak akan memasang plester, itu akan sulit untuk kau bicara atau makan.”

Yoo Kyung mengangguk, “Gomawo.” Ucap gadis itu berterimakasih dan dijawab gumaman oleh Donghae.

“Oppa,” panggil Yoo Kyung begitu Donghae berdiri dan berniat pergi. Pria itu berhenti tanpa menoleh.

“Jeongmal gomawo Oppa sudah menolongku tadi. Dan aku sangat minta maaf padamu karena selalu merepotkanmu dengan kecerobohanku, tidak hanya hari ini. Aku juga minta maaf untuk yang dulu-dulu. Jeoseohamnida,” Yoo Kyung membungkuk badannya dalam meski Donghae tidak melihatnya.

“Aku tahu aku ceroboh, bodoh dan selalu merepotkanmu. Aku minta maaf untuk semua itu. Dan aku juga minta maaf karena telah membuatmu merasa terbebani dengan pernikahan ini.” Lanjutnya lagi. “Aku janji, setelah ini aku tidak akan merepotkanmu lagi ataupun mencampuri urusanmu. Seperti yang kau bilang beberapa waktu lalu. Kita jalani kehidupan kita sendiri-sendiri. Dan bersikap biasa selayaknya pasangan pada umumnya jika kita sedang bersama keluarga, selebihnya kita hanya partner.”

Kali ini Donghae membalikkan badannya, menatap Yoo Kyung dengan terkejut.

Apa yang baru saja di ucapkan istrinya ini?

“Aku akan bekerja sama denganmu sebaik mungkin.”

“Kau bicara apa?” Donghae memandang Yoo Kyung tidak mengerti. Gadis itu mendekat kearah Donghae. Tersenyum kemudian mengulurkan tangan kanannya. “Aku akan berusaha jadi partner yang baik. Ayo, kita bekerja sama.”

Ingin sekali Yoo Kyung menjerit dengan keras, ini tidak sesuai dengan apa yang ada di hatinya. Ia tidak ingin melakukan ini. Ini terlalu kejam. Ia membohongi orang lain, orangtua terlebih hatinya. Tapi ini adalah keputusannya.

Donghae menatap bergantian wajah dan tangan terulur Yoo Kyung. Dengan ragu ia sambut uluran itu.

“Jadi, kau setuju?” Donghae menaikkan sebelah alisnya, sangsi jika gadis itu bisa melakukannya.

“Tidak ada yang tahu kan jika tidak di coba? Dan aku akan berusaha.” Yoo Kyung tersenyum tipis.

Donghae mengangguk, “Ok. Mari bekerja sama.”

Yoo Kyung menatap lekat punggung Donghae yang berjalan menjauhinya, masuk kedalam kamar.

“Dasar bodoh! Kau justru semakin menyakitimu, Yoo. Jeongmal pabonika!” Rutuknya sengit dengan memukul kepalanya sendiri. Entah apa yang ada di pikirannya saat lalu sehingga ia bicara seperti itu. Jika sudah seperti ini, ia bisa apa?
Ia justru menjerumuskan dirinya sendiri ke lubang buaya.

*

Malam masih cukup panjang ketika wanita itu memutuskan untuk beranjak bangun dari ranjang. Ia berjalan pelan menuju jendela kamar kemudian membukanya, membiarkan angin malam menyapanya.

“Ini sudah kesekian kali aku memimpikan wajah itu. Wajah yang menemani hari-hariku dulu.” Lirihnya dengan mendongak, memandang langit kelam tanpa bintang ataupun bulan. Angin yang bertiup lembut menerbangkan helaian rambut panjang yang ia biarkan tergerai.

Ia menarik nafas panjang. “Apa kau baik-baik saja setelah aku pergi eum? Bagaimana kabarmu saat ini?” Lirihnya lagi. “Maaf, aku telah mengecewakanmu saat itu. Dan aku pun tahu, aku begitu bodoh karena melakukannya padamu.” Kali ini suara itu bergetar. Bulir itu turun membasahi kedua pipinya.

“Apa kau akan memaafkan aku jika aku kembali nanti?” pandangannya menerawang jauh. Kembali ke saat terakhir kali ia melihat wajah pria itu. Dapat ia lihat dengan jelas dan kecewanya pria itu ketika tahu bahwa ia hanya dipermainkan. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir pria itu ketika tahu kenyataan itu. Pria itu hanya diam dan pergi begitu saja. Tanpa kata. Tapi meskipun begitu, ia tahu pria itu sangat kecewa padanya.

Deruman mobil yang terparkir di bawah sana menyadarkan wanita itu dari lamunannya. Ia menatap miris kearah bawah.

Ia melihat dengan jelas apa yang di lakukan kedua orang itu. Pria itu–suaminya–saat ini sedang berciuman dengan seorang gadis.

Perih dan sesak dada ini. Melihat pria yang sudah berstatus menjadi suamimu bersama dengan gadis lain. Itu bukan hanya satu kali dua kali, melainkan sudah berulangkali.

“Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Oppa? Apa aku sudah tidak ada di hatimu hm?” Gumamnya dengan tangis.

Apa semua ini terjadi karena ia telah menyia-nyiakan pria itu? Sekarang ia pun mengalaminya.
Benar kata orang. Karma tetap berlaku sampai kapanpun. Dan kini ia menyesali tindakannya, mengecewakan pria yang dengan tulus mencintai semua yang ada pada dirinya.

Andai, waktu dapat di putar kembali. Ingin rasanya, ia memperbaiki kesalahan yang lalu sehingga ia tidak akan pernah semenyesal ini.

“Sudah ku putuskan. Aku akan kembali ke Seoul dan menetap disana. Membuka lembaran baruku disana.” Tekad wanita itu yakin. Ia sudah mengambil keputusan. Ia akan melepas pria yang telah menemaninya selama 3 tahun ini dan melupakannya. Dan jika suaminya nanti menolak dengan keputusannya, ia akan tetap pada pendiriannya. Kembali ke Seoul.

*

Pagi itu Yoo Kyung sudah bersiap untuk berangkat ke universitas dan Donghae pun sudah rapi dengan stelan jas kerjanya. Keduanya berpapasan ketika akan sama-sama keluar kamar, mereka menoleh, saling tatap.

“Joheun achim.. (selamat pagi)” Yoo Kyung memutuskan untuk menyapa lebih dulu.

“Achim-e. (pagi)” Balas Donghae seadanya.

“Kau akan..”

“Mau berangkat..”

Keduanya mengucapkan kalimat itu bersamaan. Yoo Kyung menunduk dan Donghae berdehem. Merasa sedikit canggung setelah pembicaraan mereka semalam. Pria itu akan kembali bertanya tapi suara nyaring bel rumah menginterupsinya. Keduanya saling pandang. Bingung. Siapa yang bertamu di pagi hari seperti ini?

“Biar aku yang buka pintunya,” Yoo Kyung lebih dulu sigap dengan segera menuju pintu rumah, membukakan pintu untuk tamunya di pagi hari.

Gadis itu seketika membeku di tempatnya begitu pintu terbuka dan menampakan sosok itu.

Donghae yang tidak mendengar suara sama sekali setelah pintu terbuka segera melihatnya. Langkahnya terhenti seketika begitu tahu siapa tamu itu.

“Selamat pagi,” sapa pasangan paruh baya itu dengan senyum lembut.

Yoo Kyung masih belum bergerak dari tempatnya. Ia terkejut dengan kedatangan orang itu.

“Selamat pagi Eommonim, Abeoji.” Donghae segera membalas sapaan mertuanya itu setelah tersadar dari keterkejutannya. Yoo Kyung baru tersadar dan menoleh kearah Donghae begitu pria itu menarik pinggangnya mendekat.

“Annyeong, Appa, Eomma.” Ucapnya buru-buru dengan membungkukkan badan.

Tuan dan Nyonya Kim kembali tersenyum dan mendekat kehadapan putrinya. Nyonya Kim lebih dulu menarik Yoo Kyung ke dalam pelukan hangatnya. Pelukan penuh kasih sayang yang Yoo Kyung rindukan.

Tanpa sadar gadis itu menangis. “Aigo, putri Eomma kenapa masih cengeng hm? Uljima.” Nyonya Kim menghapus jejak airmata yang lolos dari sudut mata putrinya.

“Eomma, bogoshippoyo.” Lirih Yoo Kyung penuh rindu. Ia memang sangat merindukan wanita satu ini. Selalu.

“Eomma juga merindukanmu, sayang.” Nyonya Kim kembali memeluk Yoo Kyung erat.
Donghae dan Tuan Kim hanya mampu membiarkan anak dan ibu itu saling melepas rindu.

“Bagaimana kabar Abeoji selama ini?” Donghae bertanya lebih dulu setelah mereka duduk di sofa tuang tamu. Pria paruh baya itu tersenyum hangat, “Kami baik-baik saja nak. Dan kalian, bagaimana?”

“Seperti yang Abeoji lihat, kami baik-baik saja.” Sahut Donghae disertai senyum manis. Yoo Kyung yang melihat senyum itu merutuk dalam hati. ‘Dasar pembual. Di depan.Eomma dan Appa kau tersenyum manis seperti itu dan bicara dengan lembut. Sedangkan ketika bersamaku, kau tunjukan taring dan suara es-mu.’

“Yoo?” Gadis itu tersentak kaget ketika suara bass Ayahnya menyergap indera pendengarnya. Ia menatap sang Ayah. “Nde?”

“Suamimu bertanya kau tidak dengar?”

Yoo Kyung menatap bingung ketiga orang itu kemudian menggeleng. Sepertinya ia terlalu sibuk dengan merutuki Donghae sehingga tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

“Kapan kalian akan memberi kami cucu?” Kalimat biasa namun menusuk telak itu mampu membuat Yoo Kyung terdiam kaku. Ia tak dapat menjawab pertanyaan itu.

“Donghae bilang, itu terserah padamu karena ia berpikir kau sedang sibuk sekolah jadi kalian sepakat untuk menundanya.” Ucap Nyonya Kim yang melihat keterdiaman putrinya.

“Tapi kau harus ingat Yoo, usia kami tidak lagi muda lagi. Tidak akan ada yang tahu sampai kapan kami bertahan. Kami ingin melihat kau membesarkan anakmu, melihat pertumbuhan cucu yang lucu-lucu.” Sambung Tuan Kim dengan raut gembira. Ia sudah membayangkan menggendong bayi yang mungil nan manis. Pasti menyenangkan.

Yoo Kyung menatap sendu kedua orangtuanya. “Appa, Eomma. Maafkan aku, saat ini aku belum bisa mengabulkan permintaan itu. Aku–benar-benar sibuk. Aku ingin segera menyelesaikan pendidikanku, tinggal 2 semester lagi. Ku mohon, kalian bisa bersabar. Dan jangan bicarakan hal-hal berbau perpisahan seperti itu. Aku belum siap jika di tinggal kalian.” Ujar Yoo.Kyung sedih. Ia tidak sanggup jika harus di tinggal oleh kedua orangtuanya dalam waktu dekat ini.

“Lebih baik aku yang meninggalkan kalian daripada aku yang di tinggalkan.” Lanjut gadis itu dengan menundukkan kepalanya sedih. “Aku tidak mau sendiri. Aku takut.”

Nyonya Kim dan Tuan Kim segera membujuk putrinya itu. Sedangkan Donghae justru termenung mendengar penuturan gadis itu.

‘Lebih baik aku yang pergi meninggalkan kalian daripada aku yang di tinggalkan.’

‘Aku tidak mau sendiri. Aku takut.’

Kedua kalimat itu terus berulang-ulang di kepala Donghae. Ia terus memperhatikan gadis itu yang kini kembali menangis.

Ia jadi berfikir.
Sudah berapa banyak gadis itu menangis untuknya? Mengeluarkan airmata itu untuk dirinya yang selalu mengacuhkan dan tidak pernah menganggap ada dirinya.

Apa ia pantas di cintai oleh gadis seperti Yoo Kyung? Pantaskah ia?

Donghae tersentak kaget begitu mendengar lengkingan istrinya memenuhi rumahnya. Ia bahkan langsung mengusap kedua telinganya yang berdengung.

“Aigo, bisakah kau tidak berteriak sekeras itu Yoo? Kau bisa membuat kami tuli seketika.” Tegur Nyonya Kim dengan tatapan prihatin. Yoo Kyung tersenyum bocah.

“Itu kan karena Appa, Eomma.” Kilahnya dengan menunjuk Tuan Kim yang sudah beringsut dari samping Yoo Kyung ke seberang sofa.

“Kenapa Appa? Lagi pula, Appa hanya bilang ingin menginap disini beberapa hari saja daripada di Hotel. Apa itu tidak boleh huh?” Ucap Tuan Kim kesal. Kemudian memandang menantunya, “Bagaimana Hae-ya, kami boleh bukan menginap disini? Hanya beberapa hari saja. Kami juga akan kembali ke Paris minggu depan, setelah menghadiri undangan walikota Nouwon.” Jelas Tuan Kim.

Donghae memandang Yoo Kyung yang sama-sama memandangnya, “Tentu saja boleh, Abeoji. Dengan senang hati. Lagi pula, kamar di rumah ini juga cukup. Mau beberapa hari atau minggu juga boleh.” Ucap Donghae yang membuat senyum Tuan dan Nyonya Kim merekah seketika.

“Kau memang menantu yang baik, Hae-ya. Tidak salah kami memilihmu.” Puji Tuan dan Nyonya Kim.senang.

Yoo Kyung mendengus pasrah. Ini akan sulit ia lalui. Hidup dalam kebohongan, dan perannya akan di mulai dari sekarang.

***

Mentari pagi mengintip dari balik tirai jendela dengan malu-malu. Menyusup masuk ke dalam kamar nan luas itu.

Gerakan halus mengusik tidur salah satu dari penghuni kamar itu. Yoo Kyung menggeram halus ketika merasakan sesak. Dengan malas ia membuka matanya, seketika ia terkejut begitu melihat seseorang tidur disampingnya dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan ia dapat merasakan sapuan nafas hangat suaminya.

Ia tadi berniat menjerit tapi kemudian ia sadar, bahwa semalam ia tidur di kamar Donghae untuk meyakinkan orangtuanya. Tapi kenapa ia dan Donghae bisa seperti ini? Seingatnya, semalam mereka tidur dengan bantal guling sebagai pembatas antara mereka.

“Oppa,” panggilnya lirih dengan menggerakan halus tangan Donghae yang melingkari pinggangnya. Namun pria itu justru mengeratkan pelukannya dan kini menariknya lebih dekat sehingga ia membentur dada bidang suaminya.

“Oppa, se–sak.” Ucapnya terputus dengan menepuk bahu Donghae pelan.

Pria itu tidak membuka matanya, justru semakin membuat Yoo Kyung menekan dadanya. “Bisakah kau tidak berisik huh? Aku masih mengantuk.”

Yoo Kyung menggeram kesal. Jadi pria ini sengaja melakukannya huh? Maki gadis itu tanpa suara.

“Tapi, aku sesak Oppa.” Lirih Yoo Kyung dengan berusaha menggeser tubuhnya.

Donghae membuka matanya, ia dapat melihat Yoo Kyung yang masih berusaha mendorong tubuhnya menjauh. Ia tidak tahu kenapa ia bisa senyaman ini tidur dengan memeluk Yoo Kyung. Wangi gadis ini membuatnya tenang. Bunga Sakura. Ia sangat suka wangi ini. Harum dan lembut.

“YA! Oppa! Apa yang kau lakukan huh?” Seru Yoo Kyung kaget karena Donghae tiba-tiba menindihnya. Pria itu kini berada di atas tubuhnya, ia tidak bisa kemana-mana sekarang.

“Kau itu berisik sekali huh?” Donghae mendekatkan wajahnya, Yoo Kyung menahan dada Donghae agar pria itu tidak terlalu dekat dengannya.

Tidak.

Ini berbahaya. Batin Yoo Kyung.

Donghae tersenyum puas ketika melihat gadis itu memejamkan matanya rapat. Ia hanya ingin menggoda istrinya ini. Benar kata Hee Chul, bahwa Yoo Kyung memang polos.

Ia perhatikan dengan seksama garis wajah istrinya ini dari dekat. Dan ia menyadari kebodohannya yang satu ini. Yoo Kyung itu cantik, tapi kenapa ia baru sadar sekarang?

“Waeyo, Op–pa?” Yoo Kyung kembali membuka matanya ketika Donghae tidak melakukan apapun. Pria itu hanya menatapnya tanpa bicara.

“Opp–” Aliran kata dan pikirannya mendadak terhenti dan kosong. Yang di lakukan Yoo Kyung hanya mengerjapkan matanya berulangkali.

Donghae saat ini menciumnya. Catat, MENCIUM.

Ada apa dengan pria ini?

Donghae sebenarnya ingin melakukan ini sejak semalam. Ia ingin sekali mengecap rasa dan hangatnya bibir Yoo Kyung. Setelah kejadian tempo lalu–Yoo Kyung menciumnya, ia jadi tidak bisa berfikir jernih lagi. Selalu terbayang ketika bibir Yoo Kyung menempel dengan bibirnya.

Donghae melakukannya dengan hati-hati, tidak seperti biasanya yang selalu menggebu dan terburu-buru ketika ia melakukan dengan teman kencannya. Kali ini begitu pelan.

Yoo Kyung memekik kaget ketika Donghae menggigit kecil bibir bawahnya, spontan ia mengerang dan kesempatan itu diambil Donghae untuk memperdalam ciumannya.

Gila.

Bagaimana bisa ia tidak dapat mengendalikan dirinya sekarang? Ia terus dan terus mengecapi bibir manis Yoo Kyung tanpa henti meskipun gadis itu tengah meminta berhenti.

Ini tidak terkendali. Dan ini tidak seperti dirinya yang biasa.

Donghae beralih mengecupi wajah dan leher Yoo Kyung. Merayap seperti keong. Yoo Kyung hanya bisa memejamkan matanya dan menikmati sentuhan serta kecupan yang di berikan suaminya.

Donghae sangat menikmati kegiatannya ini. Mendengar suara serak Yoo Kyung dan respon tubuh gadis ini membuatnya tidak bisa berhenti. Respon yang diberikan Yoo Kyung sangat berbeda dengan gadis yang biasa ia kencani. Yoo Kyung memang polos. Ia merespon tanpa sadar.

“Yoo, Hae-ya.. Apa kalian sudah bangun?”

Suara Nyonya Kim membuat kedua orang itu terdiam seketika. Yoo Kyung menatap Donghae yang diam. Pria itu membiarkan bibirnya berada di tulang belikatnya.

“Oppa, Eomma…”

“Nde, kami sudah bangun Eommonim.” Seru Donghae tanpa memindahkan posisinya, hanya sedikit mengangkat tubuhnya dari menindih Yoo Kyung. Ia bertumpu pada kedua tangannya disamping tubuh Yoo Kyung. “Dan kau, cepat bangun.” Donghae segera beranjak bangun setelah mengucapkan itu. Ia tidak menoleh sekilas pun kearah Yoo Kyung yang tercengang atas tindakannya. Ia meninggalkan gadis itu begitu saja dan masuk kamar mandi.

Tanpa sadar Yoo Kyung menangis. Ia merasa di permainkan oleh suaminya. Setelah apa yang di lakukan Donghae padanya beberapa menit lalu, kini pria itu justru pergi begitu saja tanpa kata maaf.

Dan seharusnya Yoo Kyung tahu bahwa Donghae tidak akan melakukan itu. Ia sangat tahu itu. Kenyataan yang membuatnya sakit tapi tidak bisa membenci suaminya.

*

“Hae-ya.. Kau sudah beberapa hari ini tidak datang ke club, apa sedang ada masalah eum?” Ujar Sungmin ketika ia mengajak Donghae makan siang bersama.

“Ani. Tidak ada masalah, hanya dirumah sedang ada Orangtua Yoo Kyung dan gadis itu memintaku untuk tidak pergi malam hari, setidaknya sampai mereka kembali ke Paris.”

“Oh begitu, tapi bagus juga kau tidur dirumah.” Sungmin tersenyum senang. Donghae menyerngit, “Apa maksudnya?”

“Ya, kau jadi tidak lagi bersama gadis-gadis itu. Itu bagus. Ku harap orangtua Yoo Kyung tetap ada di Korea untuk mengawasi kalian, hahaha.”

“Hei, itu tidak boleh terjadi. 3 hari ini sungguh membuatku pusing, berada di rumah tidak asyik, Hyung. Bersama mereka cukup menghiburku,” Donghae terkekeh jail yang di balas cibiran dari Sungmin.

“Kau bejat, Hae-ya. Kenapa kau jadi begini heh?”

“Kau juga sama kan, Hyung?” Sahut Donghae tak mau kalah.

“Tapi aku tidak mengencani semua gadis. Hanya satu yang aku kencani hingga kini, Jaeri. Hanya dia. Meskipun banyak gadis di dekatku, aku tidak melirik mereka. Bagiku cukup satu.”

“Sok setia,”

“Hah, bicara denganmu sungguh sulit, dan aku yakin Yoo Kyung pun akan hipertensi karenamu!” Kesal Sungmin kemudian kembali sibuk dengan makan siangnya.

Donghae terdiam. Ia teringat dengan istrinya itu. Sudah beberapa hari ini, tepatnya setelah kejadian di pagi hari saat pertama mereka tidur bersama, istrinya itu tidak banyak bicara padanya. Hanya menjawab atau bertanya seperlunya.

Apakah saat itu secara tidak sadar ia kembali menyakiti Yoo Kyung? Tapi apa? Ia tidak ingat apa yang telah ia lakukan terhadap gadis itu.

“Ah ya, apa kau sudah tahu tentang hal satu ini?” Ujar Sungmin tiba-tiba.

“Mwoya?”

“Jung Taeri sudah kembali, ke Korea.”

Donghae seketika menjatuhkan sumpit yang di pegangnya, menatap Sungmin dengan terkejut. Ia sama sekali tidak tahu hal satu ini.

“Ia kembali karena bercerai dengan suaminya. Aku tahu itu dari Hee Chul Hyung. Dia yang di minta Taeri untuk menangani kasus perceraiannya.” Jelas Sungmin yang melihat raut keterkejutan di wajah Donghae. Ia sangat tahu jika Donghae begini karena Taeri. Dan ia harap Donghae tidak mengingat masalalunya itu.

“Aku harap kau sudah tidak membencinya, Hae-ya. Lupakan masalalu, sekarang kau sudah mempunyai Yoo Kyung. Jaga ia, jangan sampai kau menyesal nanti karena telah menyia-nyiakan gadis sebaik Yoo Kyung.” Nasehat Sungmin. Ia hanya ingin Donghae bisa membuka hatinya untuk Yoo Kyung, melupakan Taeri.

Donghae tidak menyahut, pikirannya berkelana entah kemana. Bahkan deringan ponsel yang cukup keras itu tidak ia dengar hingga Sungmin yang mengangkatnya.

“Nde, ada. Tunggu,” Sungmin menyerahkan ponsel itu kehadapan Donghae yang mengerjap kaget. “Ibu mertuamu,”

Donghae segera menerima panggilan itu. “Yeobseyo..”

“Hae-ya.., apa kau sedang sibuk nak?”

“Amnida Eommonim, ada apa?” Ucapnya sopan.

“Apa kau bisa jemput Yoo Kyung dan kalian menyusul kemari? Kami ada di Myeongdeong.”

“Ye, aku akan jemput Yoo Kyung sekarang dan menyusul kesana. Ne, annyeong.” Donghae memasukan ponselnya ke saku jas kerjanya. Ia menyudahi makan siangnya dan menjemput Yoo Kyung sekarang.

“Mau kemana?” Tanya Sungmin yang melihat Donghae buru-buru memanggil waitress.

“Aku harus menjemput Yoo Kyung dan menyusul Abeoji juga Eommonim. Mereka menungguku,”

“Oh begitu.”

“Hyung, aku pergi dulu. Annyeong.”

“Nde, dolo ejjui. (Hati-hati di jalan)”

**

Keramaian di sebuah universitas Seoul sudah menjadi rutinitas mahasiswa disana. Jam yang memang sudah menunjukkan lebih dari jam makan siang itu masih di gunakan orang-orang disana untuk tetap berada di luar, menikmati musim panas yang akan segera berakhir. Begitu pula dengan seorang gadis dan pria yang duduk berdampingan dengan sesekali tertawa.

“Kau ini ada-ada saja Oppa. Itu tidak lucu,” ujar Yoo Kyung dengan berusaha menahan tawanya. Pria yang duduk disampingnya itu merengut kesal. “Aku tidak bercanda, Yoo. Aku serius. Aku menyukaimu. Aku tidak tahu rasa itu datang kapan, hanya saja aku memang merasa nyaman jika berada di dekatmu, berbicara denganmu. Kau itu berbeda dengan gadis kebanyakan, kau istimewa Yoo.”

Yoo Kyung terpaku memandang pria yang tengah mengucapkan kalimatnya sungguh-sungguh. Ia terharu dan senang mendengarnya.

Andai, suaminya itu pun mengatakan kalimat yang sama. Pasti akan lebih menyenangkan.
Tapi itu tidak mungkin kan?

Donghae, membencinya. Itu baru benar.

“Maaf, Oppa. Tapi aku tidak bisa.” Ucap Yoo Kyung penuh sesal. Ia telah mengecewakan pria sebaik Wang Zi–pria darah campuran. China-Korea.

“Kenapa?” Wang Zi menatap sendu gadis itu.

“Aku sudah menikah, Oppa.” Reaksi yang di tunjukkan Wang Zi sudah di duga sebelumnya oleh Yoo Kyung. Terkejut. Dan ia menyesal telah membuat pria sebaik ini bersedih. Ia pria yang baik juga ceria. Ia pun merasa nyaman dengan pria ini. Tapi ia tidak bisa menerima Wang Zi karena ia telah terikat, meskipun pria itu tidak mencintainya.

“Kau bohong,” lirih Wang Zi sedih. Yoo Kyung menggeleng, “Aniya. Kau lihat ini,” Yoo Kyung menunjuk jari manis tangan kirinya yang tersemat benda pipih melingkari jari itu. “Ini cincin pernikahanku, Oppa.”

“Carilah gadis lain yang lebih baik dariku, Oppa. Aku yakin kau dapat menemukannya.” Yoo Kyung mencoba memberi pengertian dan semangat agar pria itu tidak bersedih atas penolakannya.

“Apa kau mencintainya?”

Yoo Kyung tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu, “Tentu saja.” Sahutnya yakin.

“Apa kau yakin bahagia menikah dengannya?”

“Apa maksudmu, Oppa?” Yoo Kyung menatap tidak mengerti. Apa terlihat jelas bahwa ia tidak bahagia dengan pernikahannya? Sehingga orang pun bisa langsung tahu.

Wang Zi mendekat ke sisi Yoo Kyung. Memaksa gadis itu agar menatapnya.

“Jujur padaku Yoo, apa kau bahagia?”

“Tentu saja Oppa. Aku mencintainya, tentu aku bahagia.” Terselip keraguan saat Yoo Kyung mengucapkannya. Itu bohong. Ia sama sekali tidak bahagia, ia tersiksa.

“Aku tidak percaya. Dan aku pun tidak percaya jika kau sudah menikah.”

Wang Zi dengan cepat membungkam bibir itu dengan bibirnya. Yoo Kyung tersentak kaget dengan tindakan Wang Zi padanya.

Ia sudah bersiap akan mendorong pria itu namun pria itu telah terjatuh di rumput. Ia mendongak dan ia langsung lemas begitu tahu siapa yang membuat Wang Zi tersungkur di tanah.

Pria itu menatap tajam Wang Zi yang berusaha bangkit berdiri.

“Jangan pernah lagimendekatinya.” Ucapnya tegas dan tajam. Ia alihkan tatapannya kearah Yoo Kyung yang sudah pucat. “Dan kau, ayo pulang!”

Yoo Kyung hanya dapat mengikuti langkah lebar pria yang menarik tangannya meninggalkan area taman universitas, meninggalkan Wang Zi yang sedang meringis kesakitan atas pukulan telak mengenai rahang bawahnya.

“Oppa..” Lirih Yoo Kyung takut.

“Masuk,”

Yoo Kyung masuk ke dalam mobil tanpa protes. Ia sungguh takut dengan tatapan tajam suaminya kini.

Ia hanya bisa berharap, setelah ini ia akan baik-baik saja.

Continue…

14 comments

  1. Hahahahahaha..
    Si ikan cemburu,,

    Jung Taeri mantan Donghae dulu kembali ke Korea ?
    Wahh, Si Yookyung harus waspada..

    Ff ini ceritanya tambah menarik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s