Pervert Husband part 3

wpid-PicsArt_1384132393813.jpg

Title : Pervert Husband Chapter 3

Genre : Marriage live, Drama, Romance

Lenght : Shortstory

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung

Author : bluerose8692

=======

Perjalanan yang dilakukan Donghae dan Yoo Kyung menuju Myeongdeong terasa sunyi. Kedua orang itu tidak ada yang mau membuka mulut lebih dulu. Yoo Kyung berkali-kali mencuri pandang ke arah suaminya yang tampak sibuk dengan jalanan, tidak menoleh sekalipun sejak mereka menjalankan mobil, berbaur dengan para pengemudi lainnya.

“Oppa, tadi it–” Yoo Kyung seketika menghentikan kalimatnya begitu Donghae menatapnya tajam. Hanya sebuah lirikan dari pria itu sudah membuatnya bungkam seketika.

“Apa?” Dingin dan datar. Itulah nada suara dari Donghae. Yoo Kyung menggigit bibir bawahnya, bahkan tanpa sadar ia meremas ujung dress yang di kenakannya.

“Maaf,”

“Untuk apa?”

Seketika Yoo Kyung mendongak, “Kenapa kau meminta maaf? Apa kau melakukan kesalahan hm?” Kini Donghae menepikan mobilnya ke sisi jalan, berhenti, namun tidak mematikan mesin mobil.
Pria itu menatap lekat Yoo Kyung yang terlihat…, takut.

Oh ayolah, apakah ia akan memakan gadis itu sehingga ia berwajah seperti itu?

“Maaf untuk kejadian tadi. Sungguh–itu di luar perkiraanku.” Ucap Yoo Kyung dengan terputus. Ia kembali menunduk dan semakin erat meremas dress selutut yang di pakainya. Donghae dapat melihat itu.

“Tapi ku lihat kau tidak menolaknya, kau justru terlihat menikmati.” Donghae memandang sangsi Yoo Kyung.

Ia memang melihat Yoo Kyung dan pria itu berciuman, tapi itu dari arah belakang Yoo Kyung. Istrinya itu memunggunginya sehingga ia tidak melihat keterkejutan gadis itu ketika Wang Zi tiba-tiba menciumnya.

“Aku tidak menikmatinya, Oppa!” Sahut Yoo Kyung tegas.

“Oh ya? Tapi kau diam saja, tidak menolaknya.” Donghae menyeringai dan Yoo Kyung mengepalkan tangannya gamam.

“Aku tidak menikmatinya! Dan aku pun tidak suka dia menciumku!” Ujar Yoo Kyung dengan sengit. Ia merasa kesal dengan suaminya ini. Ia sudah meminta maaf lebih dulu agar Donghae tidak salah paham dengannya, tapi kenapa pria ini justru menuduhnya begitu?

“Benarkah? Bukankah dia itu tampan huh?”

“Tapi aku tidak menyukainya.”

Donghae tertawa, entah apa yang lucu dari jawaban gadis itu. Hanya saja ia ingin tertawa. Dan ia pun tidak tahu kenapa ia tadi begitu emosi ketika melihat istrinya itu di sentuh oleh pria lain. Cemburu kah?

“Lalu kau menyukai siapa?” Kini perhatian Donghae kembali teralih kearah Yoo Kyung yang menatapnya. Gadis itu tampak terkejut dengan kalimat yang ia tanyakan. Mata bulat dengan iris madu itu membulat sempurna. Dan itu sangat lucu.

“Kau tidak mau menjawabnya heh?” Donghae hanya ingin menggoda istrinya yang polos ini. Melihat kegugupan dan raut takut yang di tunjukan Yoo Kyung seperti ini membuatnya sedikit terhibur.

“Aku–” Donghae menunggu. “Tentu saja aku menyukaimu.” Ucap Yoo Kyung cepat dengan menundukkan kepalanya dalam. Tidak berani menatap Donghae.

“Meskipun kau menyebalkan, sering membuatku marah dengan kelakuanmu, membuatku menangis, tapi aku tetap menyukaimu. Aku tidak bisa membencimu.” Yoo Kyung menatap Donghae yang diam menatapnya. “Meskipun kau tidak mencintaiku, tapi aku tetap mencintaimu. Kau suamiku, meskipun kau tidak pernah menganggap aku ada. Aku akan tetap mencintaimu.”

Gadis itu berkaca-kaca, rasa sesak itu kembali datang ketika bayangan Donghae membawa pulang gadis-gadis itu ke rumah mereka. Itu menyakitkan. Dan entah kenapa, meskipun Donghae berkali-kali menyakitinya ia tidak bisa membenci pria yang kini menjadi suaminya. Tidak bisa.

“Aku tahu kau pun masih mencintai gadis itu–Taeri. Alasan kau jadi begini karena Taeri, benar kan?” Tangis gadis itu pecah. Ia tidak bisa menahannya lagi. Ia sudah tahu alasan mengapa Donghae menjadi seperti sekarang. Ia tahu semua itu dari Kyuhyun, sebelum mereka menikah dulu. Kyuhyun lah yang menceritakan semuanya, karena Kyuhyun dan Sungmin yang paling dekat dengan Donghae tentu mereka yang paling tahu.

Donghae tidak berkata apapun, pria itu hanya diam. Ia tidak tahu harus bicara apa. Tadinya ia hanya ingin menggoda istrinya itu tapi kenapa sekarang justru ia jadi tidak bisa berkata apa-apa karena Yoo Kyung menyebut nama itu. Jung Taeri.

Deringan ponsel yang berasal dari tas Yoo Kyung menyadarkan mereka.

“Yeobseyo..”

“Sayang, apa kau sudah di jemput Donghae?” Ujar sang ibu dari seberang sana. Yoo Kyung melirik Donghae yang masih diam.

“Nde, sudah.” Sahutnya terputus. Akibat menangis ia jadi susah untuk bicara dengan lancar. Semoga saja ibunya itu tidak tahu jika saat ini ia sedang menangis.

“Kalau begitu, bisa kalian cepat kemari? Kami menunggu.”

“Ye, Eomma. Kami akan segera kesana.” Yoo Kyung menutup sambungan satelah sambungan terputus. Ia menoleh kearah Donghae. “Oppa, bisakah kau jalankan mobilnya? Kita sudah di tunggu Eomma.”

Donghae tidak menyahut, ia langsung menjalankan mobil tanpa bicara sepatah katapun hingga mereka sampai di tempat tujuan.

**

Yoo Kyung langsung keluar dari mobil begitu mereka sampai di halaman rumah. Gadis itu menutup pintu mobil dengan kasar sehingga berdentum keras. Nyonya dan Tuan Kim saling pandang, bingung, kemudian memandang Donghae yang menghela nafas.

Sejak mereka tiba di Myeongdong tadi siang, dimana orangtua Yoo Kyung menunggu, gadis itu hanya diam. Tidak banyak bicara jika tidak di tanya, sangat berbeda dengan biasanya yang cerewet.

“Apa kalian sedang bertengkar, Hae-ya?” Ujar Tuan Kim menyuarakan isi hatinya.

“Anmida, Abeoji. Mungkin Yoo Kyung sedang kedatangan tamu bulanan,” kilahnya mencari alasan.

“Tidak biasa dia seperti itu. Benar tidak ada masalah?” Lanjut Nyonya Kim yang tahu benar sifat putrinya satu-satunya itu. Donghae mengangguk, “Tidak Eommonim, kalian jangan khawatir. Kami baik-baik saja. Sebaiknya kalian cepat istirahat, ini sudah larut.”

“Baiklah, kau juga sebaiknya cepat istirahat.”

Donghae tersenyum dan mengucapkan selamat malam. Setelah kedua orangtua Yoo Kyung masuk kamar mereka, ia segera menyusul Yoo Kyung yang sudah lebih dulu pergi.
Ia membuka pintu kamarnya, tapi gadis itu tidak ada disana. Maka ia putuskan untuk ke kamar Yoo Kyung.

“Di kunci,” geramnya begitu ia mengungkit handle pintu tapi tidak terbuka.
Ia kembali ke kamarnya dan tidak lama ia sudah keluar lagi dengan membawa kunci cadangan.

Ia dapat melihat gadis itu duduk di pojok lemari dengan menekuk lutut. Samar-samar ia bisa mendengar isak tangis gadisnya. Donghae memejamkan mata sejenak, berusaha mengontrol emosinya agar tidak lepas kendali. Ia tidak ingin mertuanya tahu ia dan Yoo Kyung memang ada masalah.

Tapi kali ini, ia tidak mengerti kesalahan apalagi yang telah ia lakukan sehingga istrinya ini begini.

“Yoo,”

“Jangan sentuh aku!” Yoo Kyung menepis tangan Donghae di bahunya kasar. Ia tatap pria itu nanar dengan linangan airmata. Donghae cukup terkejut Yoo Kyung menepis tangannya seperti itu. Sosok Yoo Kyung yang seperti ini baru dilihatnya saat ini.

“Kau itu kenapa huh? Kenapa kau tiba-tiba marah? Apa kau tidak berfikir akibat kau membanting pintu mobil dengan keras Eommonim dan Abeoji mulai curiga huh?” Sentak Donghae dengan tertahan. Ia harap orangtua Yoo Kyung tidak mendengar pertengkaran mereka ini.

“Aku tidak perduli lagi. Cukup. Semuanya cukup!” Yoo Kyung menutup kedua telinganya dan menggelengkan kepala. Ia tidak mau mendengar apapun lagi dari Donghae.

“Yoo!”

“Pergi! Pergi dari sini. Aku tidak mau melihatmu lagi, pergi!” Usir Yoo Kyung dengan menunjuk pintu kamar, menyuruh Donghae keluar.

“Aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakannya. Apalagi yang aku lakukan padamu hari ini?” Donghae mencoba bersabar.

“Kau jahat, Oppa. Kau jahat!” Yoo Kyung memukul dada Donghae dengan kedua tangannya. Melampiaskan rasa marah dan kecewanya.

“Kenapa kau harus tertawa selepas dan sebahagia itu ketika bertemu dengannya, kenapa? Sedangkan kau tidak pernah menunjukkan senyum itu padaku. Kau jahat!”

Donghae menahan kedua tangan Yoo Kyung. “Apa maksudmu?”

“Kau! Kau masih tetap dan akan terus mencintainya! Mencintai Taeri!” Seru Yoo Kyung sengit.

Orangtuanya menyuruh mereka datang ke Myeongdong tadi karena mereka di undang untuk makan bersama oleh teman lama Tuan Kim. Dan teman lama itu adalah Tuan Jung, Appa dari Jung Taeri. Gadis yang Donghae cintai.

Bagi Yoo Kyung tidak masalah jika mereka di undang untuk makan bersama, tapi masalahnya kenapa Taeri harus ada disana dan bercerita bahwa ia akan bercerai dengan suaminya. Belum lagi Donghae yang tampak senang dengan kehadiran Taeri. Itu cukup menohok dada Yoo Kyung. Cukup melihat dari raut dan tatapan Donghae yang ia pancarkan untuk wanita itu ketika menatapnya, itu tatapan kerinduan dan cinta. Ia bukan gadis abg lagi. Ia cukup paham arti dari tatapan itu. Belum lagi bahasa tubuh mereka, sangat mengisyaratkan semuanya.

Dan sepanjang acara itu, yang di lakukan Yoo Kyung hanya diam. Berbicara jika ditanya, selebihnya ia memilih bungkam.

Donghae menatap nanar Yoo Kyung yang menangis tersedu-sedu. Wajah gadis itu begitu pucat dan kacau. Bibir merahnya bergetar hebat. Lelehan bening itu terus mengaliri pipi putihnya. Ia merasa sedikit nyeri ketika melihat gadis ini menangis lagi karenanya.

Betapa jahatnya ia..

“Aku lelah, Oppa. Aku lelah menunggumu. Kau tidak pernah berbalik untuk melihatku. Melihat seberapa tulusnya aku menunggu dan mencintaimu. Kau tidak pernah melihatnya. Selama ini aku sudah cukup bersabar dan sekarang aku merasa begitu lelah. Aku ingin berhenti dari semuanya.” Yoo Kyung menatap Donghae dalam. “Aku menyerah. Aku berhenti. Lebih baik kita bercerai.”

Deg!

Seketika detak jantung Donghae terasa berhenti berdetak. Ia tidak bisa lagi bernafas dengan benar. Bahkan ia merasa tidak menapak lagi. Semuanya kosong ketika bibir itu mengucapkan satu kata ‘cerai’.

Kalimat Sungmin dan Hee Chul kembali terngiang-ngiang di telinganya.

‘Setiap orang ada batas rasa sabar dan lelah. Jika kedua rasa itu telah menumpuk dan ia tidak sanggup lagi bertahan, ia pasti akan memilih menyerah.’

Kalimat itu terus terngiang di telinga Donghae secara berulang-ulang, seperti ada seseorang yang terus menerus membisikkan kalimat itu berulangkali.

“Melihatmu sebahagia itu cukup meyakinkan diriku, bahwa aku harus melepasmu. Dan lagi, Taeri sedang dalam proses perceraian. Kalian pasti akan kembali bersama, karena kau masih mencintainya, kau tidak bisa menyangkalnya. Aku tahu!” Yoo Kyung kembali bersuara.

“Daripada aku ditinggal olehmu, lebih baik aku yang meninggalkanmu. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kau yang meninggalkanku. Dan bercerai, kurasa hanya itu jalan keluarnya.” Yoo Kyung menatap Donghae yang sejajar dengannya dengan tatapan memohon. Berharap suaminya ini mengerti bahwa ia telah mengaku kalah. Ia menyerah.

“Oppa,” bibir gadis itu kembali menyebutnya dengan bergetar. “Aku tidak ingin sakit lagi. Cukup. Semua sakit yang kau beri sudah cukup, ku mohon lepaskan aku. Dan aku tidak akan mengganggumu lagi, jika kau ingin bersama Taeri lagi aku tidak melarangnya. Tidak. Aku–”

Yoo Kyung seketika memukul bahu Donghae dengan brutal. Tiba-tiba saja Donghae menciumnya dan kasar. Bahkan sudut bibirnya terasa perih.

“Aku tidak akan mengijinkanmu pergi dariku. Tidak akan.” Tatapan tajam dan nada tegas membuat emosi Yoo Kyung menguap.

Kenapa pria ini begitu egois?

Apa sebenarnya yang di inginkan olehnya?

“Wae? Kenapa Oppa tidak ingin kita bercerai. Toh Oppa tidak mencintaiku jadi untuk apa kita mem–mmmmm.” Yoo Kyung memberontak dari ciuman Donghae yang tiba-tiba. Pria ini begitu genjar mengecupi bibirnya tanpa henti. Tidak memberinya kesempatan untuk menarik nafas barang sedetik pun.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku, sampai kapanpun! Maka akan aku lakukan sekarang, yang seharusnya kita lakukan dari dulu, jika kau terus meminta pergi dariku. Dan jangan salahkan aku jika aku begini.”

Selanjutnya Donghae sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Yoo Kyung untuk protes.

“Egh–mmmm.” Yoo Kyung memukul bahu Donghae secara brutal ketika pria itu benar-benar melakukannya. Ia kembali merasakan sakit, yang amat. Ini lebih sakit dari sebelumnya.

Kenapa Donghae harus seperti ini jika memang ia tidak ingin dirinya pergi?
Kenapa ini harus dipertahanan jika Donghae tidak menginginkannya?
Dan kenapa sekarang justru pria ini ingin menjadikannya miliknya?

Kenapa dan kenapa?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala gadis yang saat ini sibuk mengerang tanpa henti.

“Maafkan aku selama ini selalu mengacuhkanmu dan bersikap kasar padamu. Maaf.” Bisikan lembut serta hangatnya bibir Donghae yang mengecup pelipisnya membuat Yoo Kyung menolehkan kepalanya kesamping, menatap suaminya yang kini menatapnya dengan tatapan lembut untuk pertama kali.

Donghae mengecup bibir itu sekali lagi. “Aku tidak ingin kehilanganmu, Yoo. Ku mohon, jangan meminta cerai dariku. Aku tidak akan mengabulkannya, tidak akan pernah!”

Tangan Donghae bergerak halus menghapus airmata yang mengaliri pipi Yoo Kyung. Ia usap dengan begitu lembut.

“Kenapa?” Yoo Kyung bertanya dengan suara bergetar.

“Apa aku harus mengatakannya hm?”

“Aku–tidak mengerti maksudmu, Oppa. Kenapa kau lakukan ini padaku jika kau tidak menginginkanku? Aku–aaa.” Yoo Kyung menjerit keras, menghentikan aliran kata-katanya. Ia mendesis, menahan sakit itu.

Apa yang di pikirkan oleh pria di atas tubuhnya ini ketika melakukan hal itu tiba-tiba?
Apa ia tidak berfikir bahwa ia telah menyakiti istrinya?

“Sakit, bodoh!” Maki Yoo Kyung dengan sengit.

Donghae menatapnya dengan polos. Dan detik itu juga, ingin sekali Yoo Kyung menjedutkan kepala suaminya itu ke dinding.

Pria kurang ajar ini, geram Yoo Kyung dengan sengit.

“Bangun dari atas tubuhku sekarang!” Yoo Kyung mendorong dada Donghae dengan kedua tangannya. Ia kesal, marah dan benci dengan pria ini. Namun, rasa cintanya justru lebih mendominasi.

“Ani,”

Yoo Kyung memandang Donghae nanar.

Plak!

Satu tamparan telak mengenai pipi kiri Donghae.

“Kau breng**k!”

“Benar, aku memang breng**k. Tapi aku mencintaimu!”

Yoo Kyung membelalakan matanya. Apa yang baru saja dikatakan pria ini?

“Kau–bohong!”

“Tidak!” Sahut Donghae tegas. “Aku berkata jujur. Aku tahu kau begitu membenciku karena kelakuanku selama ini. Tapi aku tidak ingin kehilanganmu, Yoo. Sungguh.”

“Oppa..” Yoo Kyung tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Apakah ia harus bahagia atau sedih. Ia tidak tahu. Ia bingung.

“Ku mohon, jangan tinggalkan aku, Yoo. Jangan pergi,” Donghae menarik Yoo Kyung ke pelukannya. Ia dekap erat tubuh polos istrinya.

“Oppa,” gumam Yoo Kyung lirih. Ia bisa merasakan bahu suaminya bergetar. Menangis.

“Jangan pergi, Yoo. Ku mohon. Aku janji, aku akan berubah. Aku akan merubah semuanya, tapi ku mohon kau jangan tinggalkan aku.” Donghae menatap Yoo Kyung dalam dengan mata sembab. Kini ia terlihat begitu rapuh untuk pertama kalinya dihadapan Yoo Kyung.

Ia tidak perduli. Ia hanya ingin istrinya ini tidak pergi darinya sekarang. Ia tidak ingin menyesal.

Yoo Kyung mengusap lembut wajah suaminya.

“Apa Oppa bisa berjanji Oppa tidak akan kembali lagi dengannya?”

Donghae mengangguk cepat. “Aku janji, Yoo.”

“Apa aku bisa pegang janjimu? Apa kau tidak akan mengulangi lagi? Kau tidak akan membawa ga–”

Donghae menyela kalimat Yoo Kyung dengan mengecup bibirnya. “Aku berjanji, Yoo. Aku janji akan merubah kelakuanku asal kau tidak pergi dariku. Akan aku lakukan semua yang kau minta, apapun. Asal kau tidak meminta untuk pergi dariku,”

“Kau janji?”

“Nde, aku berjanji. Kita mulai semuanya dari awal. Bagaimana?” Donghae menatap Yoo Kyung penuh harap.

“Tapi jika dia ingin kembali padamu bagaimana? Kau–masih mencintainya.” Yoo Kyung memelankan suara dibagian akhir kalimat. Tatapannya menunduk. Ia ingin mempercayai Donghae, tapi ia takut hal itu terjadi.

Donghae menyentuh dagu Yoo Kyung dan memaksanya agar menatapnya. “Itu tidak akan terjadi. Percaya padaku. Cukup sekali aku melakukan kebodohan, dulu. Dan sekarang aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku sudah memilikimu, kau lebih baik dan lebih segalanya darinya, Yoo.”

Seulas senyum tipis membentuk di bibir merah Yoo Kyung. Ia merasa sedikit lega sekarang. Dan ia harap Donghae benar-benar melakukan sesuai apa yang di katakannya.

“Saranghae, Oppa.”

Donghae tersenyum manis, “Nado saranghae, Nyonya Lee.”

Yoo Kyung tersipu mendengar kalimat balasan atas pernyataan cintanya. Rasa bahagia memenuhi hatinya. Ini pertama kalinya Donghae mengatakannya dan itu sangat membuatnya bahagia.

Biarlah orang menganggapnya gadis polos dan bodoh. Ia tidak perduli. Yang kini ia rasakan sungguh membuatnya berbunga-bunga. Biarkan ia merasakan kebahagian ini walau hanya sekejap. Ia ingin sekali merasakan hidup rumah tangga yang sesungguhnya.

“Kenapa tersenyum seperti itu?” Yoo Kyung menyerngit heran melihat Donghae yang tersenyum dengan memandanginya.

“Aku baru sadar kalau kau memang cantik dan manis.” Rona merah jambu kembali menghiasi kedua pipi Yoo Kyung. “Apalagi ini,” Donghae menunjuk bibir Yoo Kyung dengan jari telunjuknya.

Yoo Kyung tidak bisa mengatakan apapun. Tatapan mata hitam Donghae seakan menguncinya. Ia bahkan diam saja ketika Donghae mengangkat tubuhnya. Yang dilakukannya hanya terus menatap Donghae yang membawanya kearah ranjang.

“Ahhh,” bibirnya melenguh ketika ia merasakan sakit itu lagi ditambah Donghae yang menindih tubuhnya. Ia memejamkan mata dan menggigit bibirnya agar tidak mendesah ketika Donghae memulai memancingnya.

“Kau akan menyesal jika tidak menatapku, Yoo.” Seketika Yoo Kyung membuka matanya dan mata keduanya bertemu.

“Aku berjanji setelah ini tidak akan menyakitimu lagi. Tidak akan membuatmu menangis lagi. Aku janji.”

Yoo Kyung dapat melihat kesungguhan dari kata-kata yang Donghae ucapkan. Ia percaya.

“Aku percaya, Oppa.”

Donghae mengecup tangan Yoo Kyung yang berada di genggamannya. “Kita mulai semuanya dari awal. Mulai malam ini,”

Yoo Kyung mengangguk pasti. Ia akan mempercayai Donghae mulai sekarang. Ia harap Donghae bisa merubah semuanya.

“Hm, kita mulai dari awal mulai sekarang.”

“Mari kita buat keluarga kecil kita, Yoo. Keluarga yang didalamnya hanya ada aku, kau dan anak-anak kita nanti.”

Yoo Kyung tersenyum haru mendengar Donghae mengucapkan kata ‘anak-anak kita’. Ia mulai membayangkan betapa lucunya mereka.

“Hm, kita mulai dari sekarang.”

Donghae mengangguk dan menyatukan tangan mereka. Ia tatap dengan lembut istrinya. Mereka akan memulai semuanya dari awal mulai sekarang. Apapun yang terjadi nanti, ia harap bisa menyelesaikannya dengan baik tanpa harus kehilangan satu sama lain. Secara tidak langsung ia telah menyerahkan hatinya untuk gadis ini. Gadis yang mencintainya dan ia pun mencintai gadis ini.

“Saranghanika, Yoo.”

**

Mentari pagi sudah membumbung tinggi di cakrawala. Burung-burung bernyanyi dengan riang menyambut pagi. Embun pagi telah hilang seiring sinar mentari yang mulai meninggi.

Seseorang yang masih bergelung dengan selimut tebal berwarna biru muda itu mengerang ketika merasakan hangatnya mentari yang masuk lewat jendela kamar yang sudah terbuka. Membiarkan angin pagi menyapanya .

Yoo Kyung merengangkan tubuhnya yang terasa remuk. Ia menoleh kesampingnya, dimana pria yang semalam membuatnya mengerang tanpa henti dan seluruh badannya remuk redam. Ah, mungkin istilah remuk redam berlebihan. Tapi kalau untuk sakit di tubuhnya, itu benar. Apalagi bagian pusat tubuhnya. Ia meringis kecil.

Pria itu sudah tidak ada, tempat sampingnya kosong. Ia mendengus tanpa sadar. Kecewa tidak bisa melihat wajah suaminya di pagi hari.

Ia menguap sekali lagi, tatapannya menelisik. Ia terbelalak kaget begitu sadar keadaan kamarnya begitu kacau balau.

Ya Tuhan.
Apa yang sudah terjadi semalam?

Ia menggelengkan kepalanya miris melihat dress selutut yang di kenakannya kemarin teronggok begitu saja di dekat lemari, dimana semalam ia menangis ketika Donghae datang dan memaksanya. Yah, meskipun pada akhirnya ia melakukannya suka rela.

Dengan malas ia bangun dari ranjang, memungut kemeja putih lusuh Donghae dekat kaki ranjang kemudian di kenakannya. Ia harus segera membereskan ke kacauan ini.

“Ck, kau bahkan tidak menunggu aku bangun lebih dulu. Dasar pria jahat!” Gerutunya dengan memungut baju-baju itu.

“Aigo, kau bahkan merusak baju kesayanganku.” Yoo Kyung menatap miris dressnya. Retsleting dress itu rusak. Sepertinya Donghae menarik paksa dressnya.

“Aku bisa membelinya yang lebih banyak jika kau mau,”

Seketika Yoo Kyung menoleh ketika mendengar suara vibra suaminya. Donghae sudah rapi dengan stelan kemeja kerja dan celana denim warna krim. Pria itu membawa nampan dan meletakannya di atas meja belajar. Ia dekati istrinya yang berdiri dekat lemari pakaian dan menatapnya.., kesal.

“Maaf, tidak menunggumu bangun lebih dulu.” Donghae mengecup bibir Yoo Kyung dan menggigit kecil. Yoo Kyung memukul bahu Donghae, meminta berhenti. Ini sudah cukup siang jika ia meladeni permintaan tersirat suaminya ini.

“Apa semalam tidak cukup?” Yoo Kyung menaikkan sebelah alisnya ketika jemari Donghae menggerayangi punggungnya. Pria itu tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, nakal.

“Tidak. Jika denganmu tidak akan pernah cukup,”

Yoo Kyung mencibir mendengar kalimat suaminya. “Ini masih pagi jadi jangan membual.”

“Aku jujur, sayang.” Donghae menarik Yoo Kyung ke dekatnya. Ia meletakan kedua tangannya di pinggang Yoo Kyung.

“Kau tidak percaya hm?” Donghae menempelkan kening mereka dan sengaja menggesekan hidung keduanya.
Yoo Kyung terkekeh geli atas perlakuan Donghae ini.
Belum lagi kedua tangan Donghae yang mengusap posesif pinggangnya.

“Oppa,” maksud Yoo Kyung memanggilnya adalah ingin Donghae berhenti menggodanya.

“Wae?”

“Hentik–egh..”

Bodoh. Maki Yoo Kyung pada bibirnya. Kenapa ia justru melenguh.

Donghae menyeringai, melihat raut tersiksa istrinya ini sungguh kepuasan tersendiri.

“Opp–” Donghae tidak membiarkan Yoo Kyung bersuara lagi karena detik berikutnya ia sudah membungkam bibir wanita itu.

Yoo Kyung merasakan punggungnya menabrak dinding yang dingin. Ia sudah tidak perduli lagi sekarang jika Donghae akan melanjutkannya seperti semalam.

Namun kegiatan mereka harus terhenti ketika deringan telpon duduk yang ada di meja belajar berbunyi nyaring.

Donghae menggeram kesal, terpaksa harus menyudahi kesenangannya.

Yoo Kyung justru mendesah lega karena Donghae melepaskannya. Ia mendecak melihat kancing kemeja yang di pakainya sudah terbuka semua.

Pandai sekali suaminya itu dalam urusan satu ini. Melucuti lawan mainnya dalam waktu singkat.

“Arrayo, Appa. Nde, nanti siang kami kesana.”

Yoo Kyung menyerngit melihat raut kesal Donghae. Ia putuskan untuk menghampirinya.

“Ada apa?”

Donghae meletakan telpon dengan kasar. “Appa menyuruh kita mengunjunginya,”

“Tidak ada masalah kan? Aku setuju. Kita sudah lama tidak kesana.”

“Tapi aku tidak ingin, Yoo.”

“Waeyo?”

“Karena disana ada dia,”

“Dia? Nugu?” Yoo Kyung menyerngit tidak mengerti.

“Orang itu. Yang selalu mengikutimu.” Donghae terlihat enggan untuk menyebut namanya.

“Aaaa.. I know. Chang Min. Shim Chang Min, iya kan?” Seru Yoo Kyung dengan semangat. Donghae mendengus. Ia tidak suka jika Yoo Kyung menyebut nama itu.

Pria yang lebih muda 1 tahun darinya. Tetangga rumahnya di Mokpo. Dan pria itu menyukai istrinya meskipun ia tahu bahwa Yoo Kyung telah menikah dengannya.

Oh God.
Sepertinya masalah baru akan segera datang untuk menguji kesabarannya.

**

Hamparan berwarna hijau nan luas itu membuat seorang wanita menatap dengan tatapan berbinar. Ia melangkah menuju sebuah pavilion yang terletak di sebelah timur halaman rumah keluarga Lee yang begitu luas. Berbagai bunga dan tanaman hias lainnya yang tertanam dan terawat rapi disana.

Yoo Kyung mendekat kearah bunga mawar putih yang ada di deretan bunga-bunga mawar dengan pot gantung.

“Kau suka bunga, Kyungie?” Suara wanita paruh baya membuat wanita itu menoleh. Ia sedikit membungkukkan badannya sebagai salam. “Ye, Eommonim. Aku suka bunga, terlebih bunga mawar ini,” tunjuknya pada bunga mawar disampingnya.

Nyonya Lee tersenyum hangat. Ia dekati menantunya itu, “Kau sama sepertinya,” lirihnya dengan sendu serta mengelus rambut panjang Yoo Kyung yang tergerai.

“Eommonim, jangan bersedih.” Hibur Yoo Kyung ketika melihat perubahan raut Nyonya Lee. Ia pasti teringat dengan mendiang anak gadisnya yang meninggal karena kecelakaan. Lee Ji Sun, adik perempuan Donghae. Usia Ji Sun lebih muda darinya 2 tahun. Ji Sun meninggal saat umur 20 tahun. Kejadian pahit itu sudah berlalu selama 4 tahun.

“Aniya, sekarang Eomma tidak bersedih karena kau ada disini. Kau sangat mirip dengannya, sehingga Eomma tidak terlalu merasa kehilangannya.” Yoo Kyung lantas memeluk Nyonya Lee hangat. Ia usap lembut punggung Nyonya Lee. Ia menyayangi Ibu mertuanya ini seperti Ibu kandungnya.

“Yoo, kau membuat Eomma menangis huh?”

Yoo Kyung seketika tersentak kaget ketika Donghae tiba-tiba ada disana. Menatapnya penuh curiga.

“Aniya.”

“Lalu kenapa Eomma menangis?”

“Oppa, aku tidak membuat Eommonim menangis.” Yoo Kyung menghentakkan kakinya kesal. Donghae begitu sensitif jika melihat Ibunya itu meneteskan airmata.

“Kyungie benar Hae-ya, dia tidak membuat Eomma menangis. Eomma saja yang teringat dengan Ji Sun, tanpa sadar jadi menangis.” Sela Nyonya Lee menengahi. Ia tidak ingin mereka bertengkar karena masalah sepele.

Donghae dekati Ibunya yang masih terlihat sedih. Ia rangkul bahunya, “Eomma, sudah ku bilang kan jangan selalu Eomma ingat. Ji Sun sudah tenang disana, jika ia lihat Eomma sedih pasti Ji.Sun akan ikut sedih.” Bujuk Donghae agar ibunya ini mengerti. Ia tahu betapa sedihnya mereka ketika kehilangan Ji Sun, terlebih sang Ibu.

Nyonya Lee mengangguk, “Nde, Eomma tahu.”

“Yoo-yaaaaa…”

Lengkingan suara yang cukup keras itu membuat ketiga orang itu tersentak. Donghae mendecak kesal begitu tahu siapa pemilik suara di atas rata-rata dengan postur tubuh tinggi kurus. Shim Chang Min.

“Annyeong..” Sapa pria itu dengan senyum ramah.

“Bisa kau rubah kebiasaan burukmu itu Chang Min-ah? Ini rumah orang, jaga sikapmu.” Donghae mendelik kearah Chang Min yang menatap tanpa dosa.

“Waeyo? Lagi pula Eommonim tidak keberatan.” Sahutnya acuh. Donghae menggeram kesal.

“Kau ini seperti tidak tahu saja. Asal kau tahu, Hae-ya.., setelah kau dan Hyungmu menikah hanya Chang Min yang menemani Eomma dan Appa.”

Donghae tahu bahwa orangtuanya ini kesepian setelah ia menikah. Seharusnya ia pun berterimakasih karena Chang Min mau menemani orangtuanya. Hanya saja, ia kurang suka dengan sifat Chang Min yang serampangan dan berisik.

“Aigo.. Yoo, kenapa kau semakin manis eoh?”

Donghae mengepalkan tangannya ketika ia mendengar Chang Min memuji atau mungkin menggoda istrinya. Ia kesal karena Chang Min begitu leluasa berada dekat dengan istrinya. Apalagi wanita itu tersenyum malu-malu seperti sekarang. Sungguh, ingin sekali Donghae menarik Yoo Kyung ke kamar dan menguncinya disana, agar tidak bertemu Chang Min.

Donghae berniat akan menarik Yoo Kyung ke dekatnya ketika sang Ibu menahannya, “Ada yang ingin di bicarakan Appa denganmu. Kajja.”

“Tapi..”

“Yoo Kyung?” Sela Nyonya Lee yang mengerti arti tatapan Donghae. “Kau tenang saja, dia tidak akan kemana-mana. Lagi pula ada Chang Min disini,”

‘Justru karena dia bersama Chang Min, Eomma. Itu bahaya.’ Batin Donghae kesal.

Ia menghela nafas, “Baiklah,” putusnya mengalah. Ia menoleh ke arah istrinya yang tampak asyik bicara dengan Chang Min dengan duduk di ayunan, dengan Chang Min yang mendorong ayunan itu.

‘Aku pastikan setelah ini selesai, aku tidak akan membiarkanmu dekat-dekat dengannya lagi, Chang Min-ah. Tunggu saja.’

Donghae segera menyusul Ibunya yang sudah lebih dulu pergi. Ia pun ingin tahu alasan kenapa tiba-tiba saja ayahnya menyuruh mereka datang. Pasti ada sesuatu yang penting sehingga perlu mereka bicarakan.

**

“Jadi, ia sudah baik padamu eoh?” Tanya Chang Min setelah mereka hanya tinggal berdua.

Yoo Kyung mengangguk, “Hm.”

“Benarkah? Secepat itukah Hyung berubah?” Chang Min masih belum percaya jika Donghae benar-benar berubah.

“Ya, sekarang memang belum sepenuhnya. Tapi ia berjanji akan berubah, dan aku harap itu benar.”

“Aku masih sulit percaya, Yoo. Kau tahu bukan jika Taeri telah kembali? Bagaimana jika Hyung kembali lagi dengannya?” Chang Min menatap was-was Yoo Kyung yang duduk di ayunan. Wanita itu tersenyum hangat, “Aku harap itu tidak terjadi.”

“Jika terjadi, apa yang bisa kau lakukan? Aku tidak bisa diam saja ketika melihatmu harus kembali tersakiti.” Chang Min menatap sendu wanita itu. Rasa itu masih ada di hatinya meskipun ia sudah berulangkali mencoba membuangnya.

“Aku–akan mencoba bertahan. Sebisaku.”

“Bodoh! Jika kau merasa tidak sanggup lebih baik kau menyerah. Kau harus tahu Yoo, jika di luar sana masih ada orang yang menunggumu,” yaitu aku. Sambung Chang Min dalam hati. Yoo Kyung menatap lurus pria ini. Ia tahu benar seperti apa perasaan pria ini padanya. Tapi, bukankah cinta tidak bisa di paksakan? Dan ada kalanya kau harus mengalah demi kebahagian orang yang kau cintai jika kau benar-benar mencintai dan menginginkannya bahagia.

“Nan arrayo, Oppa.” Yoo Kyung menggenggam tangan kiri Chang Min, berusaha meyakinkan pria ini bahwa keputusannya untuk tetap berada disisi Donghae adalah tepat. Dan ia yakin Donghae bisa berubah, meski itu perlu waktu.

Chang Min menghela nafas. Ia tidak akan memaksa wanita ini, hanya sedikit memberi peringatan untuk berhati-hati.

“Tapi, kau harus selalu ingat. Jika Hyung berbuat kasar atau menyakitimu, kau bisa datang padaku. Aku siap jadi sandaranmu, arra?”

Yoo Kyung mengangguk dengan senyum. Ia menyukai Chang Min karena sifatnya yang seperti ini, penuh perhatian. “Arrayo,”

“Tapi itu tidak akan terjadi,”

Chang Min serta Yoo Kyung serentak menoleh, Donghae ada di belakang Chang Min dan menatap tajam pria itu. “Aku tidak akan membiarkan Yoo Kyung pergi dariku, apalagi membiarkannya denganmu.” Tegas Donghae dengan menarik Yoo Kyung berdiri dari duduk di ayunan.

Ia kembali ke pavilion karena sang Ayah memintanya agar membawa Yoo Kyung serta kesana, maka ia kembali untuk mengajak istrinya menemui sang Ayah.

Chang Min menatap remeh, “Kita lihat saja. Jika Hyung membuat Yoo Kyung menangis lagi seperti dulu, aku tidak akan pernah memaafkanmu dan aku akan merebutnya darimu.” Balas Chang Min yakin.

“Jangan bermimpi. Aku pastikan itu tidak pernah terjadi.”

Yoo Kyug menghela nafas jengah. Jika Donghae dan Chang Min sudah beradu argumen ia akan diabaikan, seperti saat ini.

“Lebih baik aku pergi saja,” gumamnya mulai berjalan meninggalkan kedua pria itu yang kini saling dorong-mendorong.

“Yoo, tunggu!” Seru Chang Min yang lebih dulu sadar kalau wanita itu telah pergi.

“YA! Jangan sentuh sembarangan. She’s mine!” Donghae segera menarik Yoo Kyung ke sampingnya, menatap tajam Chang Min yang menggerutu.

“Yoo Kyung saja tidak keberatan aku sentuh, kenapa Hyung marah?”

“Tentu saja aku marah, dia ini istriku.”

“Oh ya? Sejak kapan kau menganggapnya istri?”

“Kau–”

“Berhenti! Aigo, kenapa kalian seperti anak kecil huh?” Geram Yoo Kyung. Ia tidak habis pikir dengan kedua pria ini. Kenapa mereka begitu kekanakan sekali? Apalagi suaminya ini.

“Jangan ikuti aku jika kalian masih berdebat seperti ini.” Ujar Yoo Kyung kesal. “Dan kau Oppa–” Ia tunjuk Donghae, “Jangan tidur denganku malam ini. Kekanakan.” Yoo Kyung segera pergi meninggalkan mereka dengan perasaan kesal. Moodnya berubah dalam sekejap karena kedua pria itu.

“Yoo,”

“Ya! Ini gara-gara kau, Chang Min-ah. Baru juga kami baikan. Ini salahmu!”

“Mwoya?! Kenapa aku Hyung?” Protes Chang Min tidak terima.
Donghae tidak ambil pusing, ia segera menyusul istrinya yang sudah jauh di depannya. Meninggalkan Chang Min yang menghentakkan kaki kesal.

**

Yoo Kyung menatap Donghae tidak mengerti. Donghae pun mengangkat bahunya, sama-sama tidak mengerti maksud Ayahnya yang ingin berbicara dengan mereka berdua.
Yoo Kyung di minta Tuan Lee agar datang bersama ke ruang baca dimana Tuan Lee menunggu mereka, sepertinya ada hal penting yang ingin di bicarakan oleh beliau dengan anak dan menantunya.

“Appa..” Donghae mencoba memanggil sang Ayah yang sibuk dengan buku bacaan.

“Oh, kalian sudah datang.”

“Sudah 10 menit lalu,” sahut Donghae malas. Yoo Kyung menyikut perut suaminya agar pria itu bisa bicara lebih lembut dan sopan pada Ayahnya. Namun yang namanya Donghae, tetap saja acuh tak acuh. Malah memalingkan wajahnya kearah lain.

Tuan Lee tersenyum samar melihat kelakuan putra keduanya. Ini bukan hal yang aneh baginya. Donghae memang berbeda dari Donghwa ataupun Ji Sun, ia lebih keras kepala dan bertingkah seenaknya. Itulah ciri khas Donghae. Tapi meskipun begitu, Donghae cukup bisa diandalkan jika mengenai bisnis, tidak seperti putra sulungnya yang lebih menyukai Fotografi.

“Kenapa berdiri, duduk saja.” ucap Tuan Lee yang mengetahui mereka masih berdiri. Donghae segera memilih duduk di sofa panjang dan mengisyaratkan agar Yoo Kyung duduk disampingnya. Wanita itu menurut, duduk disamping suaminya.

“Bagaimana kabar kalian?” Tanya Tuan Lee setelah menutup buku bacaan dan melepas kacamata bacanya. Meletakan kedua benda itu diatas meja.

“Baik, bagaimana dengan Abeonim?” Sahut Yoo Kyung tersenyum ramah. Tuan Lee tertawa ringan. “Seperti yang kau lihat, Appa baik-baik saja.” Sahutnya ceria. Pria berusia 68 tahun itu kini tersenyum senang dan tampak baik-baik saja, tidak seperti 6 bulan lalu ketika Yoo Kyung baru pulang dari Paris. Sebelum menikah dengan Donghae.

“Sakit jantung Abeonim tidak sering kambuh kan?” Yoo Kyung menatap khawatir Ayah mertuanya. Ia sangat mencemaskan kesehatan pria ini.

“Aigo, perhatian sekali kau Yoo. Beruntungnya aku mempunyai menantu sepertimu,” Bangganya dengan menghampiri Yoo Kyung. Wanita itu tersipu, Donghae mendecak. “Appa, jangan memujinya nanti dia bisa besar kepala.”

Yoo Kyung menatap Donghae sengit. “Mwoya?” Donghae bertanya heran karena Yoo Kyung menatapnya seperti itu. “Jangan tidur denganku!” Ancamnya geram dan beralih duduk bersama Tuan Lee yang terkekeh melihat kelakuan kekanakan keduanya.

“Ya! Kenapa mengancam huh?” Sungut Donghae tidak terima. Yoo Kyung tidak menyahut, ia memilih mempertanyakan ada apa gerangan yang membuat Tuan Lee memanggilnya.

“Jangan hiraukan dia, Abeoji. Dia lebih menyebalkan sekarang,” adunya pada Tuan Lee dengan melirik Donghae dari ekor matanya.

“Jinchayo? Bukankah dia sudah jinak sejak menikah denganmu hm?” Candanya dengan tertawa yang melihat Donghae menggeram tertahan.

“Aku bukan Singa, Appa.”

“Memang bukan, siapa yang bilang begitu?”

“Abeonim, sebenarnya.. Ada apa Abeonim memanggil kami kemari? Dan kenapa aku juga diharuskan ikut?” Yoo Kyung sudah tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya, maka ia putuskan untuk bertanya langsung. Meskipun sedikit kurang sopan, tapi ia beranikan diri untuk bertanya.

“Benar, sebenarnya ada apa Appa?” Donghae kini ikut berubah serius. Tuan Lee menghela nafas, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.

“Apa kau tahu DB Group?” Ujarnya dengan menatap serius putra dan menantunya.

“Nde.” Sahut keduanya bersamaan.

“Mereka ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan kita, tapi Appa tidak sepenuhnya yakin dengan ini. Maka itu Appa ingin meminta pendapat kalian, terutama persetujuanmu Hae-ya,” Tuan Lee menatap Donghae. Yoo Kyung dan Donghae saling pandang tidak mengerti.

DB Group adalah perusahaan dari China yang bergerak di bidang kontruksi dan perancangan gedung. Perusahaan besar yang cukup maju saat ini. Perusahaan yang banyak di incar oleh penanam modal baik dalam negeri maupun luar negri.

“Tunggu, kenapa aku harus ikut andil?” Ujar Yoo Kyung heran. Ia tidak begitu paham dengan bisnis tapi ia cukup tertarik.

“Benar, Appa. Apa hubungannya dengan Yoo Kyung? Dan apa maksud Appa meminta persetujuan dariku?” Donghae memicingkan matanya, menatap penuh selidik Tuan Lee.

“Karena syarat dari kerjasama ini adalah Yoo Kyung yang menjadi perancangnya.”

Donghae dan Yoo Kyung terkejut. “Naega?” Yoo Kyung menunjuk dirinya sendiri, ia tidak percaya dengan pendengarannya.

“Kenapa harus Yoo Kyung, Appa?” Tanya Donghae ingin tahu.

“Appa juga tidak begitu tahu, tapi itu yang di ajukan oleh Tuan Shin sebagai syarat dari kerjasama ini. Karena Appa tidak bisa memutuskannya, maka Appa memanggil kalian berdua.”

“Tapi, Abeonim.., aku bahkan belum lulus dari studyku. Kenapa mereka ingin aku ikut serta? Dan lagi, bagaimana mereka bisa mengenalku, sedangkan aku saja belum pernah bertemu mereka?”

“Benar juga, kenapa Appa?”

Tuan Lee memandang Yoo Kyung dalam. “Kau tahu Wang Zi?”

Yoo Kyung sempat terkejut mendengar Tuan Lee menyebut nama itu, ia mengangguk kecil. Donghae pun tidak jauh berbeda. Kini ia merasa semakin was-was.

“Wang Zi adalah anak dari Tuan Shin. Dan ia bilang, ia akan menyerahkan kerjasama ini pada kita jika Yoo Kyung bersedia, karena Wang Zi yang akan menggantikan kedudukannya.”

“Tunggu. Setahuku, Wang Zi orang China bukan Korea dan marganya bukan Shin melainkan Cha.” Yoo Kyung menyerngit tidak mengerti.

“Ah itu.. Ibunya yang orang China sedangkan Tuan Shin asli Korea. Wang Zi bukan anak kandungnya, beliau menikahi Ibu Wang Zi saat ia berusia 2 tahun. Namun ia sangat menyayanginya dan menganggap Wang Zi sebagai putranya.” Jelas Tuan Lee yang melihat kebingungan dari kedua anaknya.

“Jadi ini usul Wang Zi?” tebak Donghae cepat.

“Appa kurang tahu tentang itu. Tuan Shin hanya meminta agar proyek ini diserahkan ke Yoo Kyung. Karena ia mengharapkan Yoo Kyung yang merancang pembangunan gedung baru itu.”

Yoo Kyung menatap Donghae yang terlihat tegang. Ia tahu jika suaminya itu saat ini tengah meredam emosinya.

“Abeonim, bisakah kami membicarakannya lebih dulu?” Yoo Kyung bersuara lebih dulu.

“Tentu saja. Appa tidak akan memaksa jika kalian keberatan. Pikirkan baik-baik,” Ujarnya bijak dan memahami benar keadaan mereka.
Meskipun ia tidak mengerti apa yang terjadi, tapi ia bisa menebak bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara anak-anaknya dengan putra keluarga Shin.

Yoo Kyung tersenyum penuh berterimakasih karena Ayah mertuanya itu memahaminya. Ia segera menghampiri Donghae dan mengajaknya keluar. Mereka harus bicara.

“Oppa?”

Yoo Kyung menatap Donghae yang diam dengan pandangan lurus ke depan. Kini mereka duduk di halaman rumah kediaman keluarga Lee.

“Hm?”

“Bagaimana? Apa kau setuju? Ini demi kemajuan perusahaan,”

“Kenapa harus kau, Yoo? Apa tidak ada gadis lain huh?”

Yoo Kyung menghela nafas, “Ayolah, aku tidak akan berbuat macam-macam. Lagipula, aku hanya membuat desain gedung saja kan? Selebihnya itu urusanmu dan Abeonim.”

Benar, ia tadi memang sempat menelpon Wang Zi untuk menanyakan perihal kerjasama ini. Dan pria itu hanya meminta Yoo Kyung untuk mendesain sebuah gedung, karena Wang Zi cukup tahu jika Yoo Kyung cukup berbakat dalam hal itu.

Donghae menoleh, “Kau percaya jika itu saja? Tidak ada maksud lain dari ia yang memintamu untuk ikut serta dalam kerjasama ini huh?”

Donghae cemburu. Kentara sekali.dari setiap suku kata yang terucap dari bibir pria ini.

“Aigo, Oppa. Kau jangan berburuk sangka dulu. Jangan cemburu berlebihan seperti ini,”

Donghae mendengus, “Kau saja yang polos sehingga tidak tahu maksud dari balik ia berbuat seperti ini. Dia ingin mendekatimu, Yoo!”

“Oke, mungkin itu benar. Tapi coba Oppa pikir sisi positifnya.., jika proyek ini berhasil. Kita bisa maju dan lebih baik. Aku pun bisa mengembangkan bakatku, yang nantinya aku bisa membantumu di kantor.” Rayu Yoo Kyung sebisa mungkin. Ia hanya ingin membantu keluarga suaminya ini.

Lagipula, mendesain sebuah gedung apartemen tidak begitu sulit bagi Yoo Kyung. Ia sudah beberapa kali mengajukan rancangannya ketika diminta oleh Ayahnya sendiri, dan semua itu cukup memuaskan sang Ayah. Jadi apa salahnya jika ia membantu suaminya sekarang?

Donghae menarik nafas jengah. Ini sudah sejam berlalu sejak mereka berdebat alot mengenai ijinnya, membiarkan istrinya itu ikut andil dalam kerjasama ini.
Tapi jika di pikir ulang, yang di katakan Yoo Kyung memang benar.

“Aku tetap tidak setuju.” Putusnya setelah cukup lama terdiam. Donghae pergi meninggalkan Yoo Kyung yang menatapnya nanar.
Wanita itu menarik nafas panjang dan berat.

“Keras kepala dan pencemburu. Aku baru tahu watak aslimu ini..” lirih Yoo Kyung dengan menyusul Donghae yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.

Continue…

12 comments

  1. Mereka baikan?! Kyaaa! Seneng bacanya setelah sekian lama nangis gara2 nge’galau’
    yeyeye!
    Wah,donghae cemburu? Gantian!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s