Pervert Husband Part 4 (END)

wpid-PicsArt_1384132393813.jpg

Title : Pervert Husband Chapter 4 (END)

Genre : Romance, Marriage live, Drama

Lenght : Shortstory

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung

Author : bluerose8692

++++++

Dalam kehidupan rumah tangga yang namanya godaan atau cobaan pasti selalu datang menghampiri, menguji seberapa besar dan sabarnya mereka dalam menghadapi cobaan itu. Dan itulah yang kini tengah terjadi terhadap pria bernama Donghae yang duduk di salah satu kursi dengan sesekali menggeram tertahan.Read More

Mata dengan iris hitam itu menatap tajam kedua orang yang tampak sibuk berbicara.

“Yoo, bagaimana menurutmu kalau atap gedung ini kita buat sebuah taman kecil?”

Wanita yang di panggil Yoo itu menoleh sejenak dari beberapa sketsa yang sejak tadi ia perhatikan. “Maksudmu bagian paling atas ini?” Tunjuknya dengan menunjuk gambar yang ada di tangan Wang Zi.

“Hm, bagaimana menurutmu?” Wang Zi memandang Yoo Kyung yang tampak serius berfikir. Tanpa sadar bibirnya membentuk seulas senyum samar. Jujur saja, ia sangat suka memperhatikan wajah serius wanita ini. Wanita yang dikenalnya beberapa bulan lalu. Yoo Kyung adalah orang yang menyenangkan, menurutnya. Ia memiliki beberapa kesamaan dengannya. Mudah bergaul dengan siapa saja. Itulah yang membuatnya merasa nyaman ketika berada dekat dengan wanita ini.

“Oppa, kau tidak mendengarkanku?” Yoo Kyung menatap Wang Zi dengan menopang dagu. Pria itu mengerjap beberapa kali. “Apa?” Lirihnya. Yoo Kyung menggelengkan kepala kemudian mendecak, “Kalau kau hanya berniat memandangiku, sebaiknya tidak perlu dengan alasan ingin membicarakan perancangan gedung seperti ini.” Sindir Yoo Kyung malas.

“Kau percaya diri sekali, Yoo.” Desis Wang Zi tidak percaya jika Yoo Kyung bisa senarsis ini.

“Buktinya kau tidak mendengarkanku tadi,” sanggah Yoo Kyung tak mau kalah. Wang Zi tersenyum bocah yang membuatnya tampak lebih muda dari umurnya, 24 tahun.

“Ck, tidak usah menunjukan wajah bodohmu itu.” Seketika Wang Zi merubah raut wajahnya menjadi kesal karena mendengar kalimat wanita ini.

Dan itu pun tidak jauh berbeda dengan raut wajah pria yang duduk dengan merengut kesal ketika melihat istrinya sedang dirayu oleh pria yang lebih muda darinya.

“Kau berani menyentuh istriku huh? Bagus! Sudah ku peringatkan, tapi masih saja bandel kau yah!” Geramnya dengan suara tertahan. Donghae terus memperhatikan kedua orang itu dengan perasaan geram.

Getaran ponsel ada di saku kemejanya membuatnya sedikit terganggu, terpaksa ia harus mengangkatnya.

“Yeobseyo?”

“Hae-ya.. Kau itu ada dimana huh? Apa kau tidak tahu bahwa rapat sebentar lagi akan dimulai?”

Donghae dapat mendengar nada geram dari Ayahnya. Ia tahu kenapa sang Ayah sekarang menelponnya. Seharusnya ia saat ini berada di ruang rapat bersama sang Ayah untuk membahas kontrak kerjasama dengan perusahaan sahabatnya, Choi Siwon. Tapi ia malah ada disini, di café yang tidak jauh dari kantor, menguntit istrinya yang bertemu Wang Zi.

Apa ia berlebihan jika ia mengkhawatirkan Yoo Kyung bersama Wang Zi?

Sebenarnya, Donghae hanya ingin tahu apa yang mereka lakukan saat ini. Karena Yoo Kyung tiba-tiba meminta ijin darinya untuk pergi ke café dan bertemu teman.
Namun karena Donghae yang merasa tidak percaya dengan ucapan istrinya, maka ia putuskan untuk mengikuti sang istri. Dan disinilah ia sekarang. Duduk di bangku yang tidak jauh dari kedua orang itu dengan memakai topi serta kacamata hitam sebagai penyamaran.

“Cepat datang ke kantor sekarang.” Suara Tuan Lee membuat Donghae mendengus keras. Tanpa basa-basi ia langsung menutup sambungan telpon secara sepihak. Ia tidak perduli jika Ayahnya nanti memarahinya ataupun menganggapnya kurang ajar. Yang ada di pikirannya saat ini adalah menjauhkan Yoo Kyung dari Wang Zi, yang menurutnya sebuah ancaman.

“Kau ada dimana?” Donghae menempelkan ponselnya begitu sambungan tersambung. Ia terus berbicara dengan tatapan menatap lurus kearah istrinya yang sedang mengangkat telpon. Ia sengaja melakukan ini, hanya ingin mengetes apakah Yoo Kyung akan jujur atau tidak.

“Ah.., aku masih di café. Waeyo?”

“Dengan siapa?”

Yoo Kyung menyerngit mendengar nada menyelidik dari suaminya. “Dengan teman, bukankah sudah aku katakan tadi? Sebelum aku pergi.”

“Temanmu yang mana?”

“Oppa, kenapa kau curiga seperti itu?” Yoo Kyung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia melirik jengah ke arah Wang Zi yang bertanya ia bicara dengan siapa.

“Aku kan hanya bertanya, kau hanya perlu menjawabnya saja, apa susahnya?” Sahut Donghae keras kepala. “Jangan bilang kau bersama pria itu.” Lanjut Donghae yang membuat Yoo Kyung langsung menegakan duduknya. Ia terkejut dengan ucapan Donghae.

“Jangan bilang kalau Oppa mengikutiku.” Yoo Kyung menolehkan kepalanya kesana kemari, mencoba mencari seseorang yang ia yakini bahwa ada suaminya diantara para pengunjung café yang lumayan padat. Namun ia tidak dapat menemukannya.

“Aku tidak mengikutimu, hanya insting saja.”

“Ck, kau terlalu curiga Oppa.”

“Tapi itu fakta bukan? Jika saat ini kau sedang bersama putra keluarga Shin?” Kentara sekali Donghae tengah cemburu. Yoo Kyung hanya mampu menghela nafas panjang dan berat. Ia begitu menyesali sikap suaminya yang satu ini. Pencemburu.

“Ayolah Oppa, bukankah kita sudah sepakat dengan perjanjian ini hm? Kenapa masih di permasalahankan lagi?” Yoo Kyung mencoba bersabar menghadapi Donghae yang menurutnya kekanakan.

Wang Zi terus saja memperhatikan wanita di depannya yang masih sibuk berbicara di telpon dengan suaminya. Ia tahu jika Donghae sedang mengawasi mereka dan ia tidak bicara pada Yoo Kyung. Sengaja ia melakukan itu. Ia ingin tahu seberapa besar cinta Donghae terhadap istrinya ini. Ternyata Donghae orang yang khawatir dan mudah cemburu. Tentu itu sangat menguntungkan baginya. Ia bisa dengan mudah memanasi Donghae dengan mendekati istrinya ini. Semua ini sudah ia rencanakan sejak insiden Donghae memukulnya ketika pria itu menjemput Yoo Kyung.

Cara yang ia tempu memang salah, tapi tidak ada cara lain selain memanfaatkan kecemburuan Donghae untuk membuat mereka bertengkar sehingga hubungan keduanya menjadi renggang. Itulah tujuan aslinya.

Jahat kah?

Ia tidak perduli itu.
Baginya, ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan. Dengan cara apapun itu, ia harus mendapatkannya. Itulah motto dalam dirinya.

‘Ia ingin, maka ia harus mendapatkannya.’

**

Pintu kayu berpelitur mengkilat itu berdentum dengan keras dan menggema, memenuhi rumah minimalis bercat coklat pastel. Donghae membuang asal jas kantor yang di pakainya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Memejamkan mata yang terasa berat. Hatinya bergemuruh ketika ia teringat kalimat istrinya ketika di telpon tadi.

“Aku tidak akan melakukan apapun dengannya, Oppa. Kami hanya berteman, tidak lebih. Kenapa Oppa begitu pencemburu huh? Kami hanya bertemu untuk membahas masalah rancangan gedung itu, bukan kencan. Kenapa Oppa harus marah? Aku saja tidak marah ketika Oppa berkencan dengan gadis-gadis itu.”

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Ia tahu ia salah karena begitu curiga terhadap istrinya. Tapi, apa ia salah jika ia bersikap seperti itu?

Itu karena istrinya sedang bersama Wang Zi, pria yang menyukai istrinya.
Wajarkan jika ia cemburu?

Donghae bangun dari tidurannya di sofa begitu mendengar suara pintu terbuka. Ia mendengus dan memilih pergi dari sana begitu melihat Yoo Kyung memasuki rumah.

“Eh, Oppa kau sudah pulang?” Yoo Kyung cukup terkejut mendapati suaminya sudah ada di rumah saat jam seperti ini, jam 4 sore. Tentu ini masih cukup pagi dari jadwal kepulangan suaminya dari kantor.

Donghae tidak menyahut, pria itu melengos pergi menuju lantai 2. Ia ingin menenangkan pikirannya. Mungkin berendam ada baiknya.

Yoo Kyung menatap nanar punggung Donghae yang menjauh. Ia berjalan dengan lemas menuju sofa, dimana tas dan jas kerja suaminya tergeletak begitu saja.

Ia harus menjelaskan pada suaminya tentang ini. Agar masalah ini tidak berlarut-larut. Mereka baru saja berbaikan dan tentu ia tidak mau Donghae kembali menjauhinya hanya karena ini.

“Oppa..” Yoo Kyung mengetuk pintu kamar Donghae–kini kamar mereka–dengan pelan. Karena tidak ada jawaban ia putuskan untuk membukanya. Ia cukup terkejut melihat Donghae yang sedang berdiri di depan lemari pakaian hanya mengenakan handuk putih sebatas pinggang. Pria itu tidak menoleh meskipun tahu Yoo Kyung sudah ada di belakangnya. Ia masih bersikap acuh dan mengabaikan istrinya.

“OPPA!” Yoo Kyung menghentakkan kakinya kesal karena Donghae kembali mengabaikannya. Pria itu berlalu dari hadapannya dan masuk kamar mandi untuk berganti baju.

“Bisakah kau tidak berteriak seperti itu?” Ucap Donghae datar setelah ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya.

Yoo Kyung mengepalkan kedua tangannya gamam. Ia harus bersabar, lagi. Ia dekati Donghae yang memunggunginya kemudian ia peluk Donghae dari arah belakang. Donghae cukup terkejut ketika tiba-tiba Yoo Kyung memeluknya seperti ini.

“Maafkan aku, maaf.” Lirih Yoo Kyung dengan suara parau. Ia sungguh ingin menangis jika Donghae seperti ini.

Kejadian ini kembali mengingatkannya dengan beberapa bulan lalu, saat Donghae selalu mengacuhkannya.

“Maaf tidak jujur padamu. Aku tahu kau marah padaku karena aku tidak jujur sudah bertemu Wang Zi Oppa. Maaf.”

Donghae merasa bersalah sudah membuat istrinya ini menangis untuk kesekian kalinya. Ia membalikkan tubuhnya, menatap wajah sembab Yoo Kyung yang menunduk dalam.

“Tidak sayang, jangan meminta maaf. Aku saja yang terlalu cemburu padamu. Maafkan aku hm?” Donghae memaksa Yoo Kyung agar menatapnya. Ia kecup kedua kelopak mata Yoo Kyung bergantian, turun ke hidung, kemudian bibirnya.

“Jangan menangis,” bisiknya lembut sebelum memeluk tubuh kecil istrinya, mendekapnya erat. Yoo Kyung membalas pelukannya. “Jangan marah atau acuhkan aku lagi, Oppa. Jebal.” Mohon Yoo Kyung dengan suara serak.

“Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengacuhkanmu lagi,” janjinya dengan melepaskan pelukan mereka. Ia tatap dalam wanitanya. “Asal kau berjanji tidak akan lagi membohongiku atau bertemu dengannya secara diam-diam seperti tadi.”

“Aku berjanji tidak akan berbohong, tapi aku tidak bisa berjanji untuk tidak bisa bertemu dengannya.”

“Ya sudah, aku pun tidak akan memaafkanmu.” Donghae membalikkan badannya, memunggungi Yoo Kyung. Wanita itu mendesah pasrah. “Oppa.. Ku mohon jangan ke kanakan begini.”

Donghae diam, tidak menyahut. “Oppa lupa dengan kerjasama itu hm? Kerjasama ini terjalin asal aku yang merancangnya. Jika aku tidak memenuhinya, kantor akan rugi besar Oppa. Dan Oppa juga harus berfikir, Abeonim pasti kecewa sekali denganku. Ku mohon Oppa mengerti, jangan kekanakan begini. Bukankah waktu itu kita sudah sepakat asal aku bisa membagi waktu antara dirimu dan kerja. Seminggu ini, kurasa tidak ada masalah. Lalu kenapa Oppa tiba-tiba begini?” Ujar Yoo Kyung halus dengan tatapan memohon. Ia berharap Donghae bisa memahami situasinya.

“Oke, aku akui bahwa aku kekanakan. Apa kau menyesal karena menikah denganku huh?” Donghae menatap tajam istrinya. Tanpa menjawab permohonan Yoo Kyung yang justru mengubah topik pembicaraan. Entah kenapa akhir-akhir ini ia sering lepas kendali. Kerap kali merasa cemburu terhadap istrinya jika Yoo Kyung dekat dengan pria lain, tak hanya Wang Zi. Bahkan Hyukjae pun pernah kena amarahnya karena pria itu terlalu dekat dengan Yoo Kyung. Hyukjae sebenarnya terpaksa mendekati Yoo Kyung, itu karena suruhan istrinya–Jaekyung–yang sedang mengidam dan meminta sup rumput laut buatan Yoo Kyung.

Yoo Kyung menggeleng lirih, “Aku tidak pernah menyesal telah mencintai dan menikah denganmu. Yang aku sesalkan sikapmu. Kau kekanakan, Oppa.” Yoo Kyung memandang Donghae dengan sayu. Ia lelah. Lelah hati dan pikiran. Tapi kenapa suaminya ini justru berburuk sangka padanya?
Apakah ia tidak bisa memberi kepercayaan sedikit saja terhadap istrinya?

“Terserahmu saja mau menganggap aku kekanakan atau tidak. Yang jelas, aku tidak suka kau dekat dengan pria itu!” Donghae pergi meninggalkan Yoo Kyung yang menatap kepergiannya nanar.

“Oppa..” lirih Yoo Kyung sedih. “Aku hanya ingin membantumu, apa itu salah?” Airmatanya kembali turun dengan sendirinya. Ia sangat menyayangkan sifat keras kepala suaminya ini.

**

Dua hari telah berlalu sejak pertengkaran mereka, dan itu masih berlaku hingga hari ini. Kedua orang itu saling diam, tidak ada yang bicara meskipun mereka duduk berhadapan.
Sesekali Yoo Kyung melirik Donghae yang tampak sibuk dengan sarapannya. Ia ingin bicara agar semua ini tidak berlarut-larut.

“Oppa, aku—”

“Aku sudah selesai..” Donghae seketika menghentikan acara sarapan paginya. Ia segera menyambar jas kerja dan tas kantor yang tergeletak di kursi sampingnya. Pria itu bergegas pergi meninggalkan Yoo Kyung yang menatapnya sedih.

“Kau masih marah?” Seru Yoo Kyung keras membuat langkah Donghae yang baru sampai di ruang tamu terhenti.

“Tidak.” Sahutnya datar.

“Benarkah? Lalu kenapa kau seakan tidak mau menatapku? Apa aku begitu menjijikkan untuk kau lihat?” Yoo Kyung sebisa mungkin menahan tangisnya. Suaranya tercekat dan dadanya sesak.

“Dan dimana kau tidur selama 2 hari ini? Kenapa tidak tidur di rumah?” Suara Yoo Kyung semakin lirih. Sesak itu semakin menghimpit saluran pernafasannya.

“Di rumah teman?”

“Teman? Temanmu yang mana?”

Donghae tidak menyahut.

“Oh aku tahu, teman kencan kan maksudmu?” Seketika Donghae berbalik dan menatap tajam Yoo Kyung yang sudah menangis. Gadis itu berdiri tidak jauh darinya dengan wajah sembab. Yoo Kyung terlihat begitu rapuh. Wajah wanita itu begitu pucat beberapa hari ini. Meskipun Donghae marah dan acuh padanya, ia masih sempat memperhatikan keadaan istrinya itu. Yoo Kyung tampak begitu frustasi dan tertekan. Ia merasa bersalah telah membuat wanitanya bersedih sampai seperti ini.

Sepertinya ia begitu keterlaluan.

“Apa maksudmu dengan teman kencan?” Donghae menderap cepat kearah Yoo Kyung.

“Aku tidak perlu menjabarkannya secara gamblang kan Oppa? Kurasa kau tahu apa maksudku ‘teman kencan’.” Yoo Kyung memaksakan diri membalas tatapan tajam suaminya.

‘Bertahanlah sedikit lagi, Yoo. Please..’ Batinnya memberi semangat.

“Aku tidak berkencan dengan siapapun Yoo!”

“Tidak ada yang tahu,” balas Yoo Kyung lirih. Ia memejamkan matanya ketika sakit itu semakin terasa. Pandangannya mulai mengabur namun ia paksakan untuk tetap bertahan.

“Aku tidak berkencan dengan siapapun Lee Yoo Kyung. Aku sudah berhenti dari kehidupan malamku sejak malam itu.”

Yoo.Kyung tersenyum sinis, “Jinchayo huh? Kalau begitu, jawab pertanyaanku ini. Untuk apa Taeri datang menemuimu di club yang biasa kau datangi?”

Donghae mencelos mendapati tatapan terluka istrinya.

Ia jadi teringat tentang kejadian saat malam pertengkaran mereka. Ia pergi ke club untuk menghilang penatnya, siapa sangka ia justru bertemu Taeri disana sehingga ia menemani Taeri minum. Ia tidak tega melihat Taeri yang terlihat begitu frustasi, maka ia putuskan untuk menghibur wanita itu dengan menemaninya minum.

“Apa kau berniat akan kembali lagi padanya?” Yoo Kyung menatap Donghae dalam. Pria itu diam, seperti tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan istrinya.

“Jawab Oppa..” Yoo Kyung menyentuh lengan kekar Donghae dengan tangan bergetar. “Katakan sesuatu, jangan diam seperti ini?” Tangis wanita itu semakin menjadi.

“Jika kau memang ingin kembali padanya, aku–ijinkan.” Yoo Kyung tahu Donghae bertemu Taeri karena ia yang melihatnya sendiri. Ia sengaja datang kesana mencari suaminya. Dan ia terkejut begitu tahu bahwa suaminya justru asyik berbincang dengan Taeri, bahkan wanita itu dengan santainya bersandar di bahu Donghae. Yang membuatnya semakin geram, Donghae pun tidak terlihat keberatan Taeri bersikap seperti itu.

Donghae membelalakan matanya. Kenapa istrinya ini bicara seperti ini?

Ini hanya masalah sepele. Kenapa harus sampai begini? Batinnya kesal. Ia kesal dengan dirinya sendiri yang merasa seperti pecundang, karena tidak mau mengalah. Dan mengakui sifat kekanakannya.

“Aku tidak ap–”

“YOO!!” Donghae tersentak kaget karena tiba-tiba Yoo Kyung kehilangan kesadarannya. Pingsan. Ia segera menggendong Yoo Kyung dan membawanya ke luar rumah, menuju mobil. Ia harus ke rumah sakit sekarang.

“Yoo, bertahanlah.” Gumamnya dengan sebelah tangan meremas jemari Yoo Kyung yang dingin. “Maafkan aku, Yoo. Maaf.” Di kecupnya tangan itu berkali-kali. Donghae semakin menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit. Ia sangat khawatir. Dan ia menyesal telah membuat keadaan Yoo Kyung seperti ini.

***

Cintaku sederhana. Yaitu, cukup aku mencintai dan membuatmu bahagia meskipun harus ditukar dengan bahagiaku. Sesederhana cintaku padamu.’

=====

Donghae menunggu dengan gelisah di depan ruang operasi. Pria itu tidak henti-hentinya meremas tangan guna meredakan kegusaran serta ketakutannya. Ia berharap istrinya bisa bertahan dan operasi itu berjalan lancar.

Yoo Kyung di vonis dokter terkena usus buntu maka harus di lakukan operasi secepatnya.
Ketika ia mengetahui hal itu tadi, ia begitu syock. Seluruh tubuhnya terasa lemas dan pikirannya kosong.
Ia bahkan tidak berfikir 2 kali untuk menyetujui usul Dokter ketika meminta persetujuan tentang tindakan operasi. Ia langsung setuju begitu saja. Yang ia pikirkan adalah keselamatan Yoo Kyung.

“Hae-ya,” suara lembut itu membuat Donghae yang berjalan mondar-mandir terhenti, ia menoleh kearah belakang. Dimana kedua orangtuanya berada.

“Eomm–”

Plak

“Appa!!” Jerit Nyonya Lee tertahan. Ia menatap suaminya nanar. Donghae seketika meraba pipinya yang terasa perih dan panas. Ia tatap Ayahnya penuh tanya. Terlihat jelas bahwa Tuan Lee sangat marah.

“Appa..”

“Suami macam apa kau huh? Istri sakit saja kau tidak tahu? Kemana kau selama ini, Hae-ya?” Geram Tuan Lee tertahan. Nyonya Lee segera menarik Tuan Lee sedikit menjauh dari Donghae yang masih terkejut.

“Appa, tenangkan dirimu,” bujuknya halus.

“Tenang katamu? Kau tidak lihat apa yang dilakukan putra kita, yeobo? Ia yang membuat menantu kita masuk rumah sakit.”

“Tapi Yoo Kyung terkena usus buntu, Appa. Tidak sepenuhnya salah Donghae. Appa jangan menghakiminya seperti itu,”

“Bela saja anakmu,” ketus Tuan Lee kesal. Ia sudah cukup bersabar ketika mendengar cerita dari Hyukjae jika Donghae selalu mengacuhkan Yoo Kyung. Ia fikir, itu hanya sementara sehingga ia tidak perlu ikut campur.
Tapi ini sudah tidak dapat ditolerir lagi, Yoo Kyung harus menjalani operasi karena usus buntu itu sudah parah. Ia berfikir, jika Donghae memperhatikan istrinya tentu masalah ini tidak akan begini, setidaknya lebih ringan.

Donghae terduduk lemas di kursi tunggu, ia tidak perduli dengan bekas tamparan yang masih terasa sedikit sakit.
Pikirannya penuh dengan kata penyesalan.

Ayahnya benar. Jika ia sering memperhatikan Yoo Kyung tentu semua ini tidak akan begini. Keadaan Yoo Kyung bisa lebih cepat diketahui.

Ia menyesal.
Dan itu tidak ada gunanya, ini sudah terjadi. Ia terlambat menyadari kesalahannya.

Dentingan lampu yang menunjukkan operasi telah selesai membuat Donghae dan kedua orangtuanya tersentak.

“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” Cecar Donghae panik ketika Dokter keluar dari ruangan operasi.

“Apa menantu saya baik-baik saja?” Sambung Tuan Lee dengan cemas.

Dokter tersenyum, “Operasinya sudah selesai dan semuanya lancar. Ia akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap, kalian bisa menjenguknya disana,” jelas Dokter yang membuat semuanya bisa menarik nafas lega.

“Syukurlah,” gumamnya mereka secara bersamaan.

“Terimakasih, Dok.”

“Sama-sama..” Dokter segera berlalu meninggalkan mereka.

“Appa peringatkan Hae-ya.. Jika kejadian seperti ini lagi terulang kembali, Appa tidak akan pernah memaafkanmu!” Tukas Tuan Lee tajam.

“Appa,” Nyonya Lee mencoba meredam amarah suaminya. Sedangkan Donghae diam saja. Ia tahu, ia salah. Dan ia menyesal.

Ia tatap nanar kepergian kedua orangtuanya. “Maafkan aku, Appa. Maaf,” gumamnya penuh sesal.

**

“Donghae-ya.. Masuklah, temani istrimu. Kami pulang dulu,” ucap Nyonya Lee dengan menyentuh bahu putranya halus. Sejak Yoo Kyung di pindahkan ke ruang rawat inap setelah operasi pria itu belum juga melihat keadaan Yoo Kyung yang masih belum sadarkan diri. Masih tertidur.

“Nde, Eomma..”

“Jaga dia, Hae-ya. Appa harap kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi. Apa tidak ingin membuat besan kecewa, membuat mereka marah karena kita tidak bisa menjaga putri mereka yang di titipkan padamu.” Nasehat Tuan Lee bijak.

“Algeumsebnida, Appa.” Donghae mengangguk mengerti.

“Bagus kalau kau mengerti. Dan jika ini terjadi lagi, sebaiknya kau lepas saja Yoo Kyung.” Kalimat yang di ucapkan Tuan Lee membuat Donghae dan ibunya sontak terkejut.

“Apa maksud Appa?” Donghae menatap Ayahnya penuh tanya.

“Benar, apa maksud Appa berkata seperti itu? Kau menyuruh Donghae melepas Yoo Kyung? Bercerai maksudmu, Appa?” Nyonya Lee bahkan sudah berkaca-kaca. Ia tidak bisa membayangkan jika itu benar terjadi. Ia akan kehilangan anak gadis untuk kedua kali.

“Jika kau tidak bisa menjaganya, tentu lebih baik kau melepasnya. Appa hanya memperingatkanmu, agar kau tidak menyesal. Appa tahu bagaimana sikap dan kelakuanmu selama ini. Dan Appa salut terhadap Yoo Kyung yang bisa bertahan hingga sekarang, tanpa mengeluhkan sifatmu pada kami. Dia wanita yang tegar. Seharusnya kau bangga bisa mendapat istri.seperti itu, Hae-ya.” Tuan Lee menatap dalam putranya.

“Dan jika kau melakukan seperti ini lagi, sebaiknya kau bercerai saja dengannya. Meskipun Appa tidak suka dengan cara itu, tapi hanya itu yang terbaik buat kalian. Appa tidak mau kau menyakitinya lagi.”

Donghae terdiam, mencerna baik-baik setiap kalimat yang di ucapkan Ayahnya.

“Aku tidak mau bercerai dengannya, Appa. Aku mencintainya.” Tegas Donghae dengan yakin.

“Benarkah? Apa kau bisa buktikan? Appa tidak butuh janji, tapi bukti. Jika kau tetap seperti ini, maka Appa tetap menyuruhmu untuk melepasnya. Itu demi kebaikanmu dan Yoo Kyung!”

“Aku bisa, Appa. Ku mohon percayalah padaku. Kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, aku janji, Appa.”

“Kita lihat saja, jika kau bisa menepati janjimu tentu Appa tidak akan ikut campur lagi. Tapi jika kau tidak bisa, Appa akan bertindak.” Tuan Lee segera berlalu setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Meninggalkan Donghae yang terduduk kaku dengan menatap kepergiannya nanar.

“Pikirkan nak, Eomma harap kau bisa memahami maksud dari kalimat yang di ucapkan oleh Appa,”

“Nde, Eomma. Aku tahu.”

“Kalau begitu kami pulang dulu, nanti malam kami datang lagi.” Donghae mengangguk sebaga jawaban. Setelah memastikan orangtua telah pergi, ia segera masuk ke dalam, dimana istrinya sedang terbaring tidak sadarkan diri.
“Mianhae, Yoo. Jeongmal mianhata.” Lirih Donghae dengan menggenggam erat sebelah tangan Yoo Kyung. Di kecupnya berulang-ulang punggung tangan istrinya.

Wajah yang biasanya berseri dan rona merah jambu yang ia sukai kini pucat. Mata dengan iris madu yang menjadi ciri khas wanitanya kini tertutup rapat. Ia merindukan semua yang ada di dalam diri istrinya ini. Terlebih suaranya, ia sangat ingin mendengarnya.

“Yoo-ya..,” lirihnya dengan sendu. Kini ia sangat menyesali sifat keras kepala dan kekanakannya beberapa hari lalu. Melihat Yoo Kyung terbaring seperti ini membuatnya sakit dan rasa bersalah semakin besar.

“Jebalyo, bangunlah Yoo.” Ia tempelkan punggung tangan Yoo Kyung dengan pipi kirinya. Merasakan permukaan kulit wanita itu.

Ia rindu dengan sentuhan wanita ini.

Sejak pertengkaran hari itu, mereka tidak tidur dalam.satu ranjang yang sama. Ia yang memilih tidur di kamar tamu.

Betapa egoisnya ia.

Lama duduk menunggu istrinya tak kunjung sadar membuat pria itu lelah dan mengantuk. Ia rebahkan kepalanya disisi ranjang dengan pandangan tertoleh kearah Yoo Kyung. Donghae perlahan memejamkan matanya, mencoba terlelap dengan terus menggenggam jemari Yoo Kyung.

Perlahan gerakan halus yang berada di genggaman tangan Donghae bergerak pelan. Kelopak mata yang sedari tadi menutup kini membuka. Sangat pelan dan perlahan, iris madu itu menelisik setiap sudut ruangan dimana ia berada.

Ia dapat melihat wajah yang sangat ia rindukan ada di hadapannya, sangat dekat. Ia ulurkan sebelah tangannya yang bebas untuk menyentuh surai hitam milik suaminya dengan gerakan pelan. Bibir pucatnya tersenyum simpul. Ia bisa menyentuh suaminya lagi. Itulah yang membuat hati wanita itu senang dan bibirnya tersenyum simpul.

“Oppa,”panggilnya dengan suara lirih. “Yeobo-ya..” Yoo Kyung justru terkekeh geli begitu menyebut nama panggilan itu. Rasanya ada yang menyenangkan dalam dirinya ketika bibirnya menyebut Donghae dengan panggilan ‘yeobo.’

Ah, semoga saja pria itu tidak akan mengoloknya atau protes dengan panggilannya ini.

“Donghae Oppa,” bibir Yoo Kyung kembali berucap. Kali ini ia sentuh philtrum milik suaminya. Biasanya cara ini berhasil untuk membangunkan Donghae selain dengan kecupan manis di pagi hari.

Pria itu mengerjap lambat selama beberapa kali. Ia langsung terkesiap begitu sadar istrinya sedang menatapnya.

Mata ini…
Tatapan yang ia rindukan dari istrinya.

“Kau sudah sadar, Yoo. Syukurlah..” Serta merta Donghae langsung memeluk Yoo Kyung erat meskipun dengan keadaan berbaring. Ia sangat lega dan bersyukur karena masih bisa melihat istrinya sekarang. Ia begitu takut melihat Yoo Kyung yang tak kunjung sadarkan diri.

“Oppa,”

“Naneun naui anaeleul bogosipeoyo. (Istriku, aku sangat merindukanmu)”

“Jinchayo?”

Donghae segera melepaskan pelukannya, menatap Yoo Kyung. Ia mengangguk sekali.

“Oppa sudah tidak marah padaku lagi?” Yoo Kyung menatap sayu suaminya. Hangatnya kecupan yang di berikan Donghae membuatnya tersenyum kecil. Ia bisa merasakan betapa rindunya pria ini. Begitu dalam dan lembut.

Ia rengkuh wajah Donghae dengan kedua tangannya, agar tautan itu tidak terlepas. Ia membalas kecupan Donghae yang lembut dengan menggebu. Ia ingin Donghae tahu bahwa ia pun sangat merindukan pria ini.

“Jangan di teruskan, Yoo.” Bisik Donghae dengan suara serak di telinga Yoo Kyung.
Ia tatap istrinya dengan penuh rindu. Ia tidak bisa menjamin ini akan bertahan lama jika Yoo Kyung terus membalas ciumannya dengan sukarela.

“Waeyo?”

“Kau belum sembuh,” sahut Donghae dengan mengecup singkat bibir basah istrinya yang memerah. Wanita itu tersenyum malu.

Sejak kapan ia berubah menjadi wanita yang agresif seperti ini?

Ini semua karena pria ini, makinya dalam hati.

“Kau kenapa? Apa ada yang sakit?” Tanya Donghae cemas karena Yoo Kyung tiba-tiba terdiam dengan wajah tertunduk.

“Hm,”

“Dimana?” Cecar Donghae berubah panik. Yoo Kyung menatap Donghae sendu. Ia raih jemari suaminya kemudian menuntunnya menuju dada kiri. “Disini, sejak kau marah dan mengacuhkanku, disini sakit Oppa.”

Donghae mencelos melihat raut tersiksa istrinya. Ia rengkuh tubuh rapuh Yoo Kyung dalam dekapan hangatnya.

“Maafkan aku, sayang. Maaf.” Bisiknya berulang-ulang.

Donghae sangat menyesali perbuatannya.

“Apa Oppa bisa merasakannya hm? Sakit Oppa. Ini lebih sakit dari ketika kau mengacuhkanku dulu. Ini lebih dari itu,” balas Yoo Kyung dengan suara tercekat.
Donghae semakin mengeratkan pelukannya.

“Maafkan aku, Yoo. Dan ku mohon jangan ceraikan aku karena masalah ini, jebalyo.”

Seketika tangis Yoo Kyung berhenti begitu mendengar kalimat Donghae yang terasa ganjil.

“Cerai?” Ulangnya tidak mengerti.

“Hm. Ku mohon maafkan aku. Aku tidak mau berpisah denganmu, Yoo.”

“Aku tidak mengerti,”

“Appa.. ” Donghae menarik nafas panjang. “Appa bilang, jika aku menyakitimu lagi kita akan bercerai.”

Yoo Kyung sontak terkejut bukan main. Ia menatap tidak percaya suaminya yang tampak frustasi. “Lalu Oppa setuju?”

“Tentu saja tidak! Aku tidak mau melepasmu. Aku tidak perduli aku di cap egois dan kekanakan. Yang jelas aku tidak mau berpisah denganmu.”

“Bukankah Oppa justru senang bisa bercerai denganku? Oppa bisa dekat lagi dengan Taeri kan?”

“Aniya!” Seru Donghae cepat. “Sampai kapanpun aku tidak mau melepasmu. You is mine!” Ucap Donghae tegas.

Yoo Kyung menundukkan wajahnya, kedua tangannya memegangi perut.

Donghae yang melihat itu menyerngit bingung, “Yoo, neo gwaenchana?” Ujarnya dengan nada cemas karena bahu wanita itu bergetar.

“Yoo!!” Donghae memaksa wanita itu menatapnya. Ia semakin dibuat bingung oleh tingkah istrinya itu. Ia pikir Yoo Kyung menangis, tapi nyatanya… Wanita ini justru menahan tawa.

Ada apa ini sebenarnya?

“Kau itu kenapa Yoo?” Tidak ada sahutan.

“Lee Yoo Kyung!!”

Seketika itu juga tawa Yoo Kyung meledak, memenuhi ruang rawat inap khusus itu. Gadis itu bahkan sampai menangis karena tertawa.

“Katakan ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba tertawa seperti itu? Setahu ini bukan hari perayaan april mop ataupun halloween.”

“Memang bukan,” sahut Yoo Kyung disela tawanya.

“Lalu?” Donghae menatap istrinya tidak mengerti, penuh tanya.

“Oppa kau itu lucu sekali. Melihatmu mencemaskanku sampai seperti tadi. Aku tidak menyangka bahwa ini bisa berhasil.”

“Maksudmu kau membohongiku?” Tebak Donghae setelah lama mencerna setiap kata yang dikatakan Yoo Kyung.

“Maaf.”

Donghae berdiri dengan cepat dari duduknya. Ia marah. Bodoh karena ia terjebak oleh permainan istrinya.

Apa ini akan berakhir sama seperti dulu?

“Aku begitu mencemaskanmu karena kau terkena usus buntu dan harus di operasi, tapi semua itu hanya pura-pura?!” Ujar Donghae sengit. Ia mendengus dan memalingkan wajahnya kearah lain.

Tawa Yoo Kyung sudah terhenti, kini wanita itu menatap takut Donghae. Ia salah, ia tahu itu. Tapi hanya dengan cara ini ia bisa memastikan bahwa Donghae mencemaskannya. Rencana ini bukan hanya ia yang melakukannya, tapi kedua orangtua Donghae pun ikut andil. Bahkan mereka begitu setuju dengannya.

“Oppa, bu–”

“Dont touch me!” Donghae menepis tangan Yoo Kyung yang hendak menyentuh bahunya. Ia kecewa dengan istrinya ini karena membohonginya.

“Oppa..”

“Kau pikir aku mencemaskanmu itu pura-pura huh? Aku benar-benar cemas Yoo! Melihatmu kesakitan membuatku tidak bisa memaafkan diriku jika terjadi hal yang tidak di inginkan. Tapi kau hanya pura-pura sakit, ck. Bodoh sekali aku di kerjai oleh istri sendiri.”

“Aku memang sakit Oppa!”

“Sakit? Sakit apa huh?” Donghae menatap tajam istrinya. Ia sangat kecewa.

“Aku memang pingsan karena maag-ku kambuh..”

“Dan ini semua pun rencana Appa.” seru Tuan Lee yang tiba-tiba ada disana bersama dokter dan istrinya.

“Oh.. Bagus. Jadi kalian bersekongkol huh?” Donghae memandang sinis mereka yang ada disana. Ia merasa muak melihatnya. “Dengar baik-baik, ini keputusanku. Aku dan Yoo Kyung akan bercerai.”

Deg!

Yoo Kyung yang tadinya sudah berdiri kini luruh ke lantai yang dingin. Nyonya Lee langsung menghampiri menantunya yang sudah meneteskan airmata.

“Itu kan yang ingin kalian lakukan jika aku membuatnya menangis lagi? Tapi bedanya, kalian yang membuatku merubah keputusanku.” Donghae segera berlalu dari ruangan itu. Meninggalkan Yoo Kyung yang menangis tersedu dalam pelukan Nyonya Lee.

“Maafkan Eommonim dan Abeonim, Yoo.” Lirih Nyonya Lee yang ikut menangis.

Mereka tidak menyangka jika ini akan berakhir seperti ini.

Donghae ingin menceraikan Yoo Kyung disaat wanita itu sangat membutuhkan kehadirannya.

Yoo Kyung tidak bisa berkata apa-apa. Kelu. Dan sakit.

“Jika itu terbaik buat kami tidak apa-apa, Eommonim. Oppa benar, aku keterlaluan karena mengerjainya seperti ini.” Ujar Yoo Kyung dengan tersendat. “Ini tidak lucu,”

“Yoo-ya..” Lirih Tuan dan Nyonya Lee sedih.

“Sepertinya ini memang yang terbaik buat kami.” Yoo Kyung mencoba tersenyum setulus mungkin untuk kedua mertuanya.

Benar, jika ini memang sudah menjadi keputusan Donghae maka tidak ada yang dapat mengubahnya, sekalipun ia ingin.

‘Maafkan Eomma, aegy-ya.’

FINISH!!!

18 comments

  1. loh apa ini. !!??, kok finish?? Gantung bgd thor. ., masa hae gtu aja mau minta cerai, cz yookyung hamil. ?!?, pokoknya wajib sequel, ceritanya udah bgus tp endingnya gantung.

  2. yaaaaa, ini gimana masa iya cerai? kok endingnya jadi gini? lanjut lg dong,
    alur ceritanya seru tauuuu masa iya ending gitu aja sequel2

  3. wwwiihhhhhh kok endingnya jd gini, ni blm end kaliii slh ketik nih authornya hrsnya TBC bkn END alurnya bagus tauuu walaupun bagroud ceritanya perjodohan tp konfliknya beda, br ketemu ff yg karakter hae oppa evil gini

    ayo donng chinggu bkn lanjutanya , sequel2

  4. Dari part 1-4 aku comment disini aja gpp kan?
    Aku cuma bingung, pervert nya donghae dimana ya? ‘-‘
    ini aku kira FF comedy😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s