Mommy For Daddy Chapter 2

wpid-PicsArt_1387642722084.jpg

 

Title : Mommy For Daddy Chapter 2

Genre : Family, Romance

Lenght : Chapter

Rate : PG16

Cast : Lee Donghae, Lee Yookyung / Kim Raeann, Lee Haera, Others.

Author : bluerose8692

Note : Biar ga bingung saat kalian baca, nama Raeann aku ganti jadi Yookyung.

Link sebelumnya >>>>>>>> https://m.facebook.com/notes/raeann-hanagata/mommy-for-daddy-chapter-1/236313229877120/?refid=21&ref=wizard

©©©

Cafe Blue Rose yang tidak jauh dari kantor Kyuhyun menjadi pilihan mereka untuk makan siang sekaligus mengobrol, bertukar cerita satu sama lain diselingi makan siang.Read More

Raeann atau kini yang sudah mengganti namanya menjadi Yookyung menyerngit bingung karena di tatap lekat oleh kedua pria yang duduk di hadapannya setelah bertanya tentang Donghae.

“Wae? Kenapa menatapku seperti itu? Aku kan hanya bertanya tentang mereka, apa itu salah?” Yookyung menatap keduanya penuh tanya. Setelah ia bertanya tentang Donghae dan juga Mina, kedua pria itu terdiam.

“Ani,” Kyuhyun menggeleng kecil.

“Lalu kenapa menatapku seperti itu?” Yookyung masih tidak puas dengan jawaban Kyuhyun.

Sungmin memajukan badannya, sedikit condong kearah Yookyung. “Kau tidak…” Sungmin menggantungkan kalimatnya. Yookyung mengerti maksud Sungmin.

Gadis itu berdecak, “Aish, Oppa.., tenang saja, aku tidak akan merebut Donghae Oppa dari Mina Eonni. Aku bukan orang seperti itu.” Yookyung menjeda kalimatnya sejenak, “Lihat.” Diacungkannya tangan kirinya kearah Sungmin dan Kyuhyun yang menatapnya tidak mengerti.

“Apa?” Sahut keduanya bersamaan.

“Aku sudah bertunangan, tentu aku tidak akan merebut milik orang lain.” Jelasnya malas.

Kyuhyun dan Sungmin saling pandang kemudian berseru dengan keras sehingga kini mereka menjadi pusat perhatian pengunjung cafe yang lumayan ramai. Yookyung mendecak dan menggerutu dalam hati.

“Tidak perlu kaget seperti itu Oppa,” Yookyung memutar bola matanya malas.
“Sejak kapan kau bertunangan?” Cecar Sungmin tanpa bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.

“Bukankah kau…”

“Sejak satu tahun lalu. Aku memang menyukai Donghae Oppa, tapi itu dulu. Sekarang tidak. Lagipula, itu masalalu, Oppa.” Sela Yookyung cepat, tidak ingin di sangka yang bukan-bukan oleh kedua Oppanya ini.

“Baguslah kalau kau sudah bisa melupakan Donghae.” Gumam Sungmin lirih yang di angguki oleh Kyuhyun.

Yookyung terdiam, terpaksa ia harus berbohong. Tidak, ia tidak bisa melupakan pria itu hingga saat ini. Tidak bisa. Ia sudah mencobanya dengan mencoba menjalin hubungan dengan beberapa pria di Indonesia sana, tapi rasa cinta yang ia pikir hanya cinta monyet itu tak kunjung hilang. Bahkan hingga kini ia telah bertunangan pun ia masih mempunyai rasa itu.

“Ann, kau kenapa?” Kyuhyun menyentuh bahu Yookyung karena gadis itu menatap kosong.

Yookyung tersadar, “Jangan memanggilku Raeann lagi Oppa. Sekarang namaku Lee Yookyung, Bukan lagi Kim Raeann.”

“Lee Yookyung? Aneh sekali namamu. Tidak cocok. Lebih bagus juga Raeann.” Sahut Kyuhyun menginterupsi. Yookyung berdecak sebal mendengar komentar Kyuhyun.

“Aku tidak butuh komentarmu Tuan GaemGyu!” Desis Yookyung sengit.

“Tapi namamu aneh, Ann. Bagus juga Raeann,” balas Kyuhyun tak mau mengalah, tetap bersikekeh jika nama Raeann lebih cocok dengan gadis itu.

Sungmin yang melihat kelakuan Kyuhyun juga Yookyung menggelengkan kepalanya prihatin. Sudah 8 tahun tidak bertemu ternyata sifat keduanya yang seperti kucing dan tikus jika bertemu tidak pernah berubah.

“Bisakah kalian hentikan perdebatan konyol kalian?” Geram Sungmin yang mulai sebal melihat kedua orang itu masih saja berdebat.

Apa mereka tidak sadar jika mereka kini tengah menjadi tontonan beberapa pengunjung secara terang-terangan?

“Ann, sudah.” Lerai Sungmin dengan mengisyaratkan tangannya agar Yookyung mengalah. Berdebat dengan Kyuhyun samapi besok pun tidak akan membuat perut kenyang, jadi lebih baik mengalah.

“Ck, menyebalkan.” Gerutu Yookyung dengan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Kyuhyun yang melihat Yookyung mengalah tersenyum menang.

“Sampai kapanpun kau tidak akan pernah menang berdebat denganku, Ann.”

Yookyung semakin menekuk wajahnya karena mendengar kalimat Kyuhyun yang penuh kemenangan.

Selalu begini, batinnya.

“Kau ingin tahu keadaan Mina dan Donghae?”

Seketika Yookyung memusatkan perhatiannya ke arah Sungmin. Kepalanya mengangguk tanpa sadar.

“Mereka sudah menikah,” Ucap Kyuhyun cepat karena Sungmin tak kunjung melanjutkan kalimatnya.

“Jincha?” Sedikit ada rasa nyeri di dada ketika mendengar mereka telah menikah. Namun Yookyung sudah menyakinkan dirinya jika ia akan menutupi kenyataan yang sebenarnya. Karena ia telah berjanji pada dirinya sendiri ia akan memberikan kesempatan untuk pria yang telah menunggunya.

“Nde, dan mereka sudah mempunyai seorang anak, Haera namanya.” Sambung Sungmin dengan berat. Ia tahu jika dalam lubuk hati Yookyung yang paling dalam  masih ada sedikit rasa untuk Donghae. Biar sepintar apapun Yookyung menutupinya, ia akan tahu. Sejak dulu.

Bibir bisa menyangkal, berkata ‘aku tidak mencintainya lagi’. Tapi hati dan matamu tidak akan pernah bisa berbohong.

“Lalu dimana mereka tinggal sekarang?Aku ingin sekali bertemu dengan mereka.” Yookyung berusaha tersenyum meskipun terasa sulit.

“Masih di tempat yang sama,”

Yookyung mengangguk dan kembali menanyakan seperti apa mereka hingga ia cukup terkejut mengetahui kenyataan bahwa Mina meninggal setelah melahirkan putrinya, Haera. Dan membiarkan Donghae mengurus putri kecilnya seorang diri.

>>>>>>>

Senja telah menguning di langit barat ketika Yookyung tiba di sebuah area pemakaman umum. Gadis itu berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang ada, kepalanya berkali-kali menoleh kiri kanan. Setelah menemukan satu nama yang tertera di batu nisan, ia langkahkan kakinya mendekati pusara yang ia yakini itu adalah milik orang yang di kenalnya.

Di letakannya karangan bunga yang ia beli tadi sebelum kemari. Yookyung memberi salam dengan merendahkan tubuhnya beberapakali, setelah cukup ia berjalan ke samping pusara.

Di sentuhnya batu nisan yang bertuliskan Lee Mina dengan hati-hati. “Eonnie, aku datang mengunjungimu.” Yookyung tersenyum lirih, tanpa bisa ia cegah airmatanya turun dengan sendirinya.

“Eonnie, bogoshipo,” isaknya dengan mengusap pipinya yang basah. “Maafkan aku karena baru menjengukmu sekarang. Maaf.”  Lanjutnya dengan menangis.

Setelah kemarin mendengar cerita dari Sungmin, ia putuskan untuk mengunjungi makam Mina sebelum ia kembali ke Indonesia. Ia hanya tinggal beberapa hari disini, sehingga ia memutuskan untuk segera mengunjungi makam Mina.

“Bukankah Eonnie berjanji padaku untuk membahagiakan Donghae Oppa, kenapa Eonnie justru pergi meninggalkannya secepat ini?” Yookyung berbicara seolah-olah batu nisan itu adalah Mina, sahabat sekaligus Eonnie baginya. Orang yang ia sayangi.

“Kau dengar kan Eonnie? Aku marah padamu karena kau tidak menepati janjimu.” Yookyung berpura-pura marah seolah-olah ada Mina di hadapannya. Gadis itu kembali tergugu, di tutupnya mulutnya dengan sebelah tangan guna meredam suara tangis yang semakin kencang.

Yookyung jadi teringat dengan janji mereka ketika masih sekolah dulu. Ia, Mina dan Donghae. Jika kelak mereka menikah nanti dan mempunyai anak, mereka akan menjodohkan anak mereka agar ikatan persahabatan mereka tetap terjalin. Tapi jika seperti ini tentu lain cerita.

Sebenarnya ia pun salah. Ia lah yang meninggalkan mereka lebih dulu, pindah ke Indonesia karena ikut dengan ibunya tanpa memberitahu pada mereka semua. Tapi ia ada alasan mengapa ia melakukan itu. Ia ingin Mina dan Donghae bisa hidup bahagia hingga maut memisahkan mereka. Ia ingin melihat mereka berdua bahagia meskipun ia sakit.

Baginya, kebahagiaan Donghae dan Mina adalah segalanya.
Mina orang yang ia sayangi, seperti keluarganya. Sedangkan Donghae adalah orang yang ia cintai. Kedua orang itu saling mencintai. Jadi ia berpikir kepergiannya adalah yang terbaik. Tapi kini ia menyesal.

Menyesal karena telah egois. Ia telah meninggalkan orang-orang yang disayanginya tanpa memberi kabar selama 8 tahun. Bukankah ia egois?

Yookyung menyeka pipinya yang basah, gadis itu tersenyum. “Aku ingin bertemu dengan Haera, Eonnie-ya. Apa gadis itu mirip denganmu atau Donghae Oppa, boleh kan?”

“Tentu boleh kan,” sahutnya setelah beberapa saat. “Besok aku akan menemuinya.” Lanjut gadis itu dengan senyum cerah.

©©©

Pagi yang cerah mengawali langkah Yookyung  menuju sebuah sekolah dimana Haera bersekolah. Gadis yang mengenakan cardigan biru di padu dalaman kaos putih segera melangkahkan kakinya menuju ruang guru, untuk menemui salah satu temannya yang kebetulan anak dari pemilik sekolah TK ini.

“Annyeong haseyo,” Yookyung menundukkan badannya dalam sebagai salam. Gadis itu baru saja akan mengucapakan sepatah kata namun terurungkan karena tiba-tiba ada yang memeluknya erat. Gadis itu tidak siap dan hampir saja terjungkal ke belakang.

“YA! Minri!” serunya begitu tahu siapa orang yang memeluknya tiba-tiba. Gadis dengan rambut ikal panjang yang di kucir tinggi itu tersenyum lebar. Untung saja ruang guru kini sedang ada orang yang duduk di bangku kerja mereka. Mungkin jika Yookyung tidak ingat itu, ia sudah memaki teman lamanya ini, Lim Minri .

“Senang bertemu denganmu lagi, Ann.” Minri menggandeng lengan Yookyung untuk mengikuti langkahnya menuju ruang pribadi miliknya. Agar mereka bisa leluasa bercerita.

“Lee Yookyung, Min-a.” Ralat Yookyung begitu mereka sampai di ruang kerja Minri yang cukup luas. Gadis itu mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan, wallpaper yang berwarna kuning dengan berbagai gambar binatang juga banyak sekali mainan anak-anak di ruangan itu.

“Ini ruang kerjamu, Min-a?” Tanya Yookyung dengan menatap heran gadis itu.

“Nde, waeyo? Apa ada yang aneh?”

“Tidak, hanya saja aku merasa kau terlalu banyak menaruh mainan juga boneka,” Yookyung menunjuk sudut ruangan yang terdapat lemari besar setinggi 2 meter yang di dalamnya di penuhi oleh mainan juga boneka beruang serta jerapah. Ini bukan ciri khas Minri, Yookyung hapal itu. Seingatnya Minri gadis yang tomboy.

Minri terseyum, “Itu milik putriku.”

“N-nde?”

Minri terkekeh mendapati reaksi Yookyung yang kaget mendengar ucapannya. “Waeyo? Kenapa kau kaget begitu, Ann?”

“Yookyung, Min-a. Bukan Raeann.” Ralat Yookyung sekali lagi. Minri berdecak.

“Tidak terbiasa, Ann. Lagipula kenapa kau mengganti nama huh?”

“Jadi kau sudah menikah dan mempunyai anak?” Yookyung alih-alih menjawab pertanyaan Minri justru balik bertanya.

“Ya, aku menikah 3 tahun lalu, dan putriku sekarang sudah berumur 2 tahun.”

Yookyung mengangguk mengerti, “Kau tidak ingin tahu aku menikah dengan siapa?” Minri kembali bertanya.

“Memang dengan siapa lagi kalau bukan dengan Jong Soo sunbae, benar kan?”

“Bagaimana kau tahu?” Minri bahkan belum bercerita apa-apa padanya, tapi kenapa gadis ini tahu?

“Dari Kyuhyun Oppa,” Minri mengangguk.

“Jadi kau datang kemari ingin bertemu Haera?” Yookyung yang sedang melihat-lihat boneka menoleh kearah Minri. Gadis itu mengangguk, “Apa bisa?”

Yookyung tidak perlu heran kenapa Minri bisa tahu jika kedatangannya yang ingin bertemu Haera. Itu pasti Kyuhyun atau Sungmin yang memberitahunya, jika ia akan datang kemari dan menceritakan niatnya. Bertemu Haera.

“Tentu, biasanya jam segini mereka sedang belajar musik di ruang musik. Kajja aku antar kau kesana.” Minri terseyum dan berjalan lebih dulu menuju pintu keluar yang langsung di susul oleh Yookyung.

©©©

Ruang musik yang cukup luas itu begitu ramai oleh anak-anak sekitar umur 4-5 tahun yang sedang mencoba berbagai alat musik yang ada disana. Semuanya tampak antusias dengan alat musik yang mereka mainkan, tapi tidak dengan seorang gadis kecil yang duduk diam tanpa memainkan atau bahkan menyentuh piano kecil yang ada di hadapannya.

Haera, nama gadis kecil yang di ikat dua dengan pita warna pink. “Haera, ada apa? Kenapa Haera diam saja, apa kau tidak mau bermain piano hm?” Tanya guru pembimbing dengan halus. Tidak biasanya gadis kecil yang biasanya periang ini kini diam saja.

“Amnida, Seongsangnim.” Haera menggelengkan kepalanya lirih. Gadis itu berdiri dari duduknya kemudian berlari keluar.

“Haera.”

Gadis kecil itu tidak menghiraukan panggilan guru pembimbingnya, ia terus saja berlari keluar, melewati koridor yang sepi hingga ia menabrak seseorang.

“Joesonghabnida,” Haera menundukan tubuhnya dalam sambil menunduk, tidak berani mengangakat kepalanya.

“Gwaen-”

“Haera!”

Mendengar nama Haera, Yookyung, orang yang di tabrak oleh Haera langsung memusatkan perhatiannya pada anak gadis yang menunduk dengan memainkan jemari tangannya.

“Joengsonghabnida, Nona.” Wanita yang di ketahui bernama Kang Haebin-dari name tag yang terpasang di baju bagian atas sebelah kiri- itu meminta  maaf.

“Gwaenchana,” Yookyung tersenyum dan kembali memperhatikan Haera yang masih diam.

“Haera, kita kembali ke kelas ne?” Bujuk Haebin dengan pelan dan lembut. Namun Haera menggelengkan kepalanya pelan.

“Ada apa? Apa Haera sakit?” Haera menggeleng lagi. Haebin semakin menyerngit heran, ini aneh.

Yookyung merendahkan posisinya agar bisa sejajar dengan Haera, di usapnya kepala Haera sayang. “Jadi kau yang bernama Haera?”

Haera mengangguk, “Eonnie siapa?” Lirih dan lembut, sama seperti mendiang ibunya yang begitu lembut jika berbicara.
Kabut tipis memenuhi pelupuk mata Yookyung, terasa berat karena tidak mampu menahan airmata yang membendung.
Di usapnya sekali lagi kepala Haera sebelum menjawabnya, tenggorokannya tercekat dan dadanya sesak.

“Aku-” Yookyung tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya dan langsung merengkuh tubuh kecil Haera dalam pelukannya. Haera menyerngit bingung. Sedangkan Haebin langsung menoleh ke arah Minri, bertanya lewat tatapan matanya.

“Dia teman lama almarhum ibu Haera, Haebin-ah.” Haebin langsung mengangguk paham. “Kau kembali ke kelas saja, bantu Jocellyne Eonnie, biarkan Haera disini.” Lanjut Minri yang melihat Yookyung masih memeluk Haera erat.

“Ye, algeumseubnida.”

Minri menepuk pelan bahu Yookyung dan mengisyaratkan agar mereka bicara di taman atau tempat lain, bukan di koridor. Yookyung mengangguk, ia melepaskan pelukannya dan menatap Haera yang menatapnya bingung.

“Haera ikut Eonnie sebentar ne? Jangan takut, Eonnie teman Eommamu. Naneun Lee Yookyung,” Yookyung tersenyum sambil mengusap wajahnya yang basah.

“Chingu?”

Yookyung menggandeng Haera untuk mengikuti Minri yang sudah berjalan lebih dulu. Mereka memutuskan untuk ke taman.

Haera terus saja memperhatikan Yookyung, ia merasa tidak asing dengan wajah ini. Ia pernah melihatnya, tapi dimana?

“Eonnie?” Langkah Yookyung terhenti, ia menunduk menatap Haera yang mendongak menatapnya.

“Ye?”

“Eum, apa benar Eonnie teman Eomma dan Appa Haera?” Gadis kecil itu memiringkan kepalanya. Yookyung tersenyum dan mengangguk, “Hm.”

“Jeongmalyo?” Seketika raut wajah Haera berbinar. “Apakah Eonnie yang bernama Raeann Eonnie? Karena wajah Eonnie mirip sekali dengannya.” Haera ingat sekarang, ia pernah melihat Yookyung di album foto ayahnya.

Yookyung terdiam cukup lama memikirkan jawaban apa yang akan diberikan untuk Haera. “Bukankah tadi aku sudah memperkenalkan namaku, kau lupa?”
“Ye?” Haera menatap bingung. Sepertinya ketika Yookyung memperkenalkan namanya Haera tidak begitu mendengarkan. Yookyung tersenyum lembut kemudian menarik halus Haera menuju bangku panjang. Di tariknya Haera agar duduk bersebelahan dengannya.

“Aku memang teman ayah dan ibumu, tapi aku bukan Raeann. Aku Lee Yookyung,” terpaksa Yookyung harus berbohong. Ia tidak mau jika Donghae tahu kalau ia menemui putrinya. Pria itu pasti akan mencarinya.

“Tapi wajah Eonnie mirip dengan orang yang bernama Raeann, teman Appa dan Eomma. Aku ingat sekali wajahnya, hanya rambut Eonnie saja yang lebih panjang dari di foto.” Terang Haera bersikekeh jika Yookyung adalah Raeann.

Yookyung memejamkan mata dan menarik nafas berat. Ini akan sulit. Jika ia menjelaskannya pada anak umur 5 tahun tentu tidak akan mengerti.

“Eonnie?” Tegur Haera dengan menyentuh tangannya. Yookyung menoleh, “Ya?”

“Apa Haera bisa meminta tolong pada Eonnie?”

“Tolong apa?”

“Hari ini hari peringatan Eomma pergi, Haera ingin pergi melihat rumah Eomma. Bisakah Eonnie antar Haera kesana? Appa Haera sibuk, jadi Haera tidak bisa pergi,” gadis kecil itu menunduk sedih. Yookyung merasa iba. Di usapnya dengan sayang kepala Haera kemudian, “Tidak masalah. Tapi setelah kau selesai belajar eoh?” Di tatapnya Haera dengan senyum.

“Ghamsahabnida Eonnie, kau baik sekali.” Spontan Haera memeluk Yookyung karena senang. Yookyung merasa begitu nyaman bisa di peluk seperti ini oleh Haera. Ia seperti di peluk oleh Mina. Tanpa terasa airmatanya kembali jatuh, dengan cepat ia segera menghapusnya sebelum Haera melihatnya.

Yookyung bertanya banyak tentang dirinya juga ayahnya, Donghae. Haera anak yang cukup pintar bagi seusianya, Yookyung tidak menyangka jika Haera sangat ceriwis. Berbeda sekali dengan cerita Sungmin juga Minri.

Seperti janjinya tadi pagi, setelah jam pelajaran habis Yookyung mengajak Haera untuk mengunjungi makam Mina. Mereka membawa karangan bunga untuk di letakan di makam Mina.

“Annyeong Eomma… Hari ini Haera datang.” Di letakannya karangan bunga lili dan bunga mawar dekat batu nisan. Yookyung mengikutinya.
“Eomma maafkan Appa ne hari ini tidak bisa datang. Appa sedang sibuk, tapi nanti pasti datang, tenang saja.”

Yookyung tersenyum tipis mendengarkan cerita Haera. Gadis kecil itu begitu bersemangat dan menceritakan apa saja yang telah ia alami akhir-akhir ini. Hingga tiba nama Yookyung di sebutnya.

“Eomma, ini Yookyung Eonnie. Katanya teman Eomma, Eonnie yang mengantarku kemari.” Haera tersenyum dengan menatap Yookyung yang berdiri disampingnya.

“Annyeong Eonnie, aku datang menjengukmu.” Yookyung ikut berjongkok di samping Haera. “Aku harap kau baik-baik disana, jangan khawatirkan Haera. Aku akan menjaganya, tenang saja.”

“Jincha Eonnie akan menjaga Haera? Jadi Eonnie akan tetap disini bersama Haera?” Haera menatap Yookyung penasaran. Yookyung tersenyum lembut, mengulurkan tangannya mengelus pipi chubby Haera.

“Ya.”

“Yey! Eomma, kau dengarkan Eomma? Eonnie akan menemani Haera jadi Haera tidak akan kesepian lagi.” Haera terlihat senang sekali.
Yookyung yang melihat senyum Haera merasa ikut senang. Ia berubah pikiran setelah mendengar cerita Haera jika Donghae akhir-akhir ini begitu sibuk, jarang meluangkan waktunya untuk bermain bersama, meski hari minggu sekalipun.

Semoga keputusannya ini tidak salah. Anggap saja sebagai penebus rasa bersalah karena dulu ia pergi tanpa pamit. Selain itu, ada keinginan besar dalam hatinya untuk membahagiakan Haera. Ia pun tidak tahu kenapa, rasa itu tiba-tiba saja ada dalam benaknya.

©©©

Pria berpakaian rapi dan tampan itu berjalan kesana kemari dengan berbagai pikiran buruk. Ia cemas. Gelisah memikirkan putri kecilnya yang pergi bersama salah satu teman lamanya.

Donghae, pria itu sudah mendatangi sekolah anaknya, untuk menjemputnya pulang. Tapi ternyata putrinya itu sudah pulang. Minri, kepala sekolah sekaligus guru Haera mengatakan jika Haera pergi dengan temannya untuk mengunjungi makam Mina dan akan di antar pulang sore hari.

“Untuk apa melarangnya? Lagipula dia temanmu, dan Haera begitu senang dengannya.”

Donghae teringat salah satu kalimat Minri ketika ia memarahi wanita itu karena tidak memberitahunya lebih dulu.
Ia berpikir, siapa orang itu? Karena Minri sama sekali tidak memberitahukan namanya.

Karena ia begitu cemas dan penasaran Haera pergi dengan siapa, maka ia putuskan untuk menyusul ke makam Mina. Tapi sesampainya disana, ia tidak menemukan mereka, hanya ada beberapa karangan bunga baru. Tentu itu semakin membuatnya cemas dan berpikiran buruk, jika sesuatu terjadi pada putrinya.

“Apa sebaiknya aku lapor polisi ya?” Gumamnya cemas. Ini sudah hampir jam 6 tapi Haera belum juga kembali. Tentu ia sangat cemas.

Ting Tong!

Donghae dengan langkah lebar segera menuju pintu untuk membuka pintu. “Haera!” Serunya lega begitu pintu terbuka ada Haera yang berdiri di depan pintu dengan menenteng kaontong plastik.

Di peluknya Haera erat, ia sekarang dapat bernafas lega karena putrinya telah kembali.

“Appa..”

“Kau membuat Appa cemas saja?” Di tatapnya Haera dengan matanya yang sembab. “Jangan lakukan ini lagi eum?”

“Mianhae, Appa. Haera janji tidak akan melakukannya lagi,”

“Katanya kau pergi dengan teman Appa, siapa dia? Dimana orangnya?” Donghae menolehkan kepalanya kesana kemari, mencari keberadaan orang yang mengaku temannya. Tapi tidak ada siapapun.

“Kau pulang sendiri hm?”

“Amnida, Haera di antar pulang oleh Eonnie. Tapi Eonnie harus buru-buru pulang karena ada urusan, dan meminta Haera untuk menyampaikan maafnya untuk Appa.” Jelas Haera dengan melepaskan pelukannya dan berjalan masuk lebih dulu. Meninggalkan Donghae yang kebingungan.

“YA! Haera-ya… kau meninggalkan Appa!” Seru Donghae yang baru sadar sudah tidak ada Haera di sampingnya, sudah masuk ke dalam rumah. Maka ia pun segera menyusulnya dan ia harus bertanya lagi nanti mengenai ‘teman lamanya’ itu.

Yookyung menatap sendu rumah minimalis bercat kuning pastel dengan daun pintu bercat coklat. Rumah itu tidak ada yang berubah sejak kepergiannya, tetap sama di matanya.

“Maaf Oppa, aku belum cukup siap untuk bertemu denganmu lagi.”

Yookyung segera membalikan badannya dan mengusap pipinya yang basah. Baru dua langkah ia berjalan tapi harus terhenti karena ada seseorang yang menghadang jalannya.

Gadis itu mengangkat kepalanya yang tadi menunduk dan langsung terkejut begitu tahu siapa orang itu.

“Oppa…”

Continue…

10 comments

  1. Cie cie cieee… Ada yang penasaran nih yeee.. Kekeke… Heh? Siapa yang tiba-tiba datang dan dipanggil oppa oleh Yookyung?

  2. masih penasaran dg jalan ceritanya, kyaknya haera suka bgt sama ann, hm donghaenya gimana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s