Love Cafe

wpid-Ryeowook-super-junior-29564511-499-316.jpg

Author : Blue Rose Spring

Title : Love Cafe

Genre : Romance

Lenght : Oneshoot

Cast : Kim Ryeo Wook, Cho Yuen

Rate : PG15

“Jika cintaku hanya menyakitimu, maka aku lebih memilih pergi dari sisimu.
Jika cintaku hanya memberimu luka, tolong ma’afkan aku.
Dan jika cintaku masih ada dalam hatimu, tolong kembali padaku karena aku begitu mencintaimu.”Read More

***********Love Café************

Hilir mudik aktivitas di pagi hari, sudah menjadi rutinitas sejak matahari terbit, dari pagi hingga malam, dan itu terus berjalan setiap hari. Terlebih seperti kota ini–Seoul. Kota yang padat akan penduduk serta sibuk.

Seperti yang terjadi di sini, Love Café. Café yang dimiliki oleh keluarga Kim memang selalu ramai akan pengunjung yang datang.

Café itu akan selalu ramai di datangi pengunjung, baik muda maupun dewasa, baik hari biasa maupun hari libur. Bahkan hari minggu atau hari libur pun Love Café akan selalu dipadati pengunjung. Meja serta bangku-bangku yang tertata rapi selalu terisi penuh dengan pengunjung yang datang silih berganti, dan itu terjadi dari café ini buka hingga tutup malam hari.

Love Café yang terletak di pusat kota Dangju-dong ini sangat strategis. Café ini memiliki dua lantai. Indoor yang ada di lantai bawah dan outdoor yang ada di lantai atas, yang bisa menikmati indahnya keramaian kota di malam hari.

“Selamat datang… ” Suara sambutan serta senyum ramah yang diberikan oleh para waiters akan kau dengar dan lihat ketika menginjakan kaki di halaman depan café. Mereka akan menyambutmu dengan baik, melayani permintaan yang kau pesan. Mereka selalu mencoba memberikan yang terbaik bagi pengunjung, dan tidak lupa memberikan senyum selelah apapun mereka. Mereka sangat profesional dalam bekerja sehingga café ini dapat terkenal dengan cepat hanya dalam kurun waktu satu tahun.

“Jee Ah.. antarkan ini ke meja no.8” Pekik seorang pria dengan meletakan satu porsi roti bakar.

“Ne!” Sahut gadis dengan kuncir kuda mengangguk.

“Yoo-ya!! Kau jangan hanya melamun bodoh! Cepat bantu Oppa. Kalau kau datang hanya untuk melihat wajah Dong Hae, sebaiknya kau jangan datang lagi.” Kalimat terakhir yang keluar dari pria berparas imut itu–Kim Ryeo Wook–membuat seorang gadis yang di panggil ‘Yoo-ya’ mengerucutkan bibirnya sebal. Gadis itu bangkit dari duduknya di balik mesin kasir, berjalan ke arah suara itu berasal.

“Arra!” Sahutnya dengan menghentakan kakinya kesal. “Menyebalkan! Kau menggangguku Tuan Kim. Tsk!” Gerutu gadis itu dengan bibir yang terus berkomat-kamit tidak jelas.

“Hei, jangan cemberut begitu, lihat bibirmu itu.. jelek sekali.” Suara vibra yang amat dikenalnya membuat gadis itu–Kim Yoo Kyung–menoleh seketika, ia mendapati pria yang tadi diperhatikannya kini tersenyum lembut padanya.

“Oppa..” Ucap gadis itu dengan menunduk malu. Gadis itu terus menunduk agar pria di hadapannya ini tidak melihat wajahnya yang sudah bersemu merah.

“Waeyo hum? Pagi-pagi sudah memasang wajah seperti itu?” Tanya pria yang memiliki senyum memikat dan selalu bersikap lembut, Lee Dong Hae.

“Anniya..”

“Ya!! Yoo-ya.. cepat kemari kau!” Lengkingan suara yang berada di atas rata-rata itu berhasil mengusik pendengaran Yoo Kyung yang sedang bersama Dong Hae. “Nde! Segera kesana Oppa.” Sahut gadis itu dengan balas berteriak, agar sang kakak yang ada di dapur mendengarnya. Yah, mereka; Kim Ryeo Wook dan Kim Yoo Kyung adalah kakak-adik. Mereka hanya terpaut 2 tahun.

“Oppa, aku bantu Ryeowook Oppa dulu, bye Oppa.”

Chup!

Gadis itu segera melesat pergi setelah berhasil mengecup singkat bibir prianya yang kini tengah diam mematung dengan tangan terangkat, menyentuh bibirnya. “Aish.. awas kau..” Gumamnya dengan rona tipis yang menghiasi wajah tampannya.

====

“Oppa.. bagaimana kalau minggu depan kita kencan? Sudah lama kita tidak kencan kan?” Ujar seorang gadis dengan bergelayut manja di lengan kekar kekasihnya.

“Minggu depan?” Ulang pria itu dengan berpikir. “Ne! Bisa kan? Ayolah Oppa, kita kan sudah lama tidak keluar bersama. Kau selalu sibuk mengurusi café juga skripsimu itu.” Rajuk Yoo Kyung dengan melepaskan tangannya yang sedari tadi bergelayut di lengan Dong Hae.

Dong Hae jadi tidak tega begitu melihat raut wajah kekasihnya yang berubah murung. “Hahh~ jangan memasang wajah seperti itu Yoo. Oke, minggu depan aku usahakan ne?” Seketika Yoo Kyung mengangkat kepalanya dan menatapi Dong Hae dengan berbinar.

“Jeongmalyo?”

“Hum!”

“Yaksokhae?”

“Yaksokhae!”

Mereka saling menautkan jari kelingking mereka dan saling melempar senyum, membuat seorang pria yang duduk di pojok ruangan mencibir pelan. “Dasar mereka itu, tidak di rumah atau di mana pun tetap saja seperti itu.” Gumam Ryeo Wook dengan menyesap lemon tea miliknya. Café sudah tutup setengah jam lalu dan kini mereka sedang istirahat.

“Kenapa Oppa? Kau iri dengan adikmu?” Ucap seorang gadis manis yang kini duduk di hadapannya yang kemudian disusul dengan seorang pria dengan berparas manis; Shin Nara dan Lee Sung Min.

“Ani, siapa yang iri?”

Nara dan Sung Min saling lempar pandang kemudian tersenyum penuh arti. “Lalu kenapa kau sedari tadi terlihat kesal eoh? Apa kau sedang ada masalah?” Ryeo Wook menggelengkan kepala. Sung Min mendesah, ia tau kalau Ryeo Wook bukanlah orang yang mudah berbagi cerita dengan orang lain kecuali satu orang, Kim Yoo Kyung–adiknya.

“Baiklah kalau kau tidak mau cerita.” Sung Min menyerah, tidak ingin memaksa Ryeo Wook untuk berbicara dengannya. “Yeorobun, kami pulang dulu.. annyeong.” Seruan Yoo Kyung juga Dong Hae membuat mereka menoleh.

“Ne, josimhaseyo.”

Setelah Dong Hae dan Yoo Kyung pulang kini Hyesun pun menyusul karena sudah di jemput oleh Jong Woon, begitu pun dengan yang lainnya, mereka sudah pulang lebih dulu.

“Kalau begitu kami juga pulang kan Oppa?” Ucap Nara pada Sung Min.

“Kalian pulanglah lebih dulu, aku masih ingin di sini.” Sela Ryeo Wook begitu mendapati Sung Min memandanginya.

“Arraseo.” Sahut Sung Min mengangguk.

“Oppa kami pulang ne?” Pamit Nara begitu selesai membereskan perlengkapannya, begitu juga Sung Min. Ryeo Wook mengangguk, “Ye, hati-hati.” Sahutnya pelan.
Setelah kepergian Nara juga Sung Min, kini pria itu tinggal sendiri. Ryeo Wook mengaduk minumannya tanpa minat, entah kenapa hari ini suasana hatinya resah sehingga mempengaruhi orang-orang disekelilingnya, yang terkena dampak dari bad moodnya hari ini.

“Kapan kau kembali Yuen-ah? Apa kau sudah lupa padaku hum?” Lirihnya dengan menatap salah satu jari tangan kirinya yang dilingkari benda bulat berwarna putih. “Mianhae… jeongmal mianhae. Aku dulu begitu jahat padamu, mengacuhkanmu, selalu bersikap dingin dan tidak memperhatikanmu yang selalu ada untukku. Jeongmal mianhaeyo Yuen-ah.”

Ryeo Wook mengusap sudut matanya yang berair, ini selalu terjadi tatkala ia kembali teringat akan gadis itu. Gadis yang dulu ia fikir selalu mengacaukan hidupnya, gadis yang selalu bertingkah se-enaknya, manja dan pemaksa. Gadis yang selalu tersenyum manis tatkala dirinya diacuhkan oleh Ryeo Wook. Gadis yang kini dirasakan dalam hatinya ketika gadis itu telah pergi dari hidupnya, Cho Yuen.
Dan gadis itu adalah tunangannya, dulu. Mereka bertunangan karena Yuen yang meminta kedua orang tuanya untuk melamarkan Ryeo Wook, yang kebetulan anak dari relasi bisnis ayahnya di bidang desain interior, sehingga memudahkannya untuk meminta Ryeowook menjadi tunangannya.

“Hahh… apa kau begitu marah padaku Yuen-ah, sehingga kau tak ingin kembali?” Lirihnya lagi dengan menempelkan sebelah pipinya ke meja. Ryeo Wook memejamkan matanya begitu kenangan kembali berputar layaknya sebuah film. “Jeongmal bogoshipo..” Lirihnya dengan mata terpejam.

=====

“Jika Tuhan menginjinkan kau kembali ada di hadapanku, aku berjanji akan terus mendekapmu. Tidak akan membiarkanmu pergi dari hidupku untuk kedua kalinya, tidak! Karena aku tak akan sanggup tanpamu.”

“Aigo.. ternyata sudah banyak yang berubah disini?” Decak kagum dari seorang gadis dengan memandangi sekeliling tempatnya berpijak. “Hem… aku ingin kemana ya? Sudah lama juga aku pergi, apa aku masih ingat jalannya eoh?” Gumam gadis itu dengan mengedarkan tatapannya kesegala penjuru jalan yang nampak ramai meskipun hari tidak bersahabat; mendung dan sedikit angin yang berhembus. Gadis itu terus saja berjalan dengan sesekali mengamati bangunan-bangunan yang ada hingga langkahnya terhenti pada satu titik.

“Love Café?” Gumam gadis itu begitu membaca papan yang ada di depan pintu café itu. “Ramai sekali ne?” Ucapnya begitu ia sampai di depan pintu masuk. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk mendorong pintu tersebut yang begitu masuk langsung disambut oleh salah satu pelayan pria dengan senyum manis.

“Annyeonghaseyo..” Sapa pelayan–Zhoumi–nama yang tertera di name tag yang terpasang rapi di baju atas sebelah kiri.

“Annyeong..”

“Mari masuk Nona..” Ajak Zhoumi dengan berjalan lebih dulu yang di ikuti oleh gadis tadi. “Silahkan duduk.” Zhoumi menarik salah satu kursi yang tersedia untuk tamunya.

“Nde, ghamsahamnida.”

“Nona mau pesan apa?”

“Eum, joeseohamnida Tuan. Saya baru sekali ke sini, jadi saya tidak tau makanan apa yang enak di sini.” Sahut gadis itu dengan senyum kikuk. Zhoumi tersenyum mengerti.

“Oh, Nona baru kesini… Begini, di café kami tersedia berbagai kue juga dessert serta minuman. Biar Nona bisa memilih saya berikan Nona buku menu sehingga Nona bisa menentukan pilihannya. Kalau sudah, Nona panggil saja salah satu dari kami. Kami akan mengantarkan pesanan Nona.”

“Nde, ghamsahamnida.”

Sepeninggal Zhoumi, gadis itu mulai membuka buku menu. Melihat berbagai daftar kue-kue yang ada. “Hwaa… buku menunya ternyata lengkap dengan bahan-bahan untuk membuatnya.” Decak kagum gadis itu. Ia tidak menyangka jika buku menu di sini sangat menarik. Karena biasanya yang namanya buku menu pasti kebanyakan hanya berisi daftar makanan serta harganya saja, jarang-jarang yang sekaligus ditulis dengan rinci bahan apa saja yang digunakan. Karena hal seperti itu menjadi suatu ‘rahasia’, tapi berbeda sekali dengan Love Café yang justru kebalikannya.

“Rose muffin?” gumamnya dengan meletakan jari telunjuk di dagu. “Sepertinya enak.”

“Pelayan?” Gadis itu mengangkat sebelah tangannya keatas, agar ada yang melihatnya.

“Nde Nona, Anda ingin memesan sesuatu?” Ucap salah seorang gadis yang memakai pakaian yang sama dengan pria tadi–Zhoumi.

“Ne.. Hm, saya pesan Rose Muffin satu, minumannya.. eum.. hot chocolate. Sudah itu saja.”

“Baik, mohon tunggu sebentar Nona.” Sahut Hyesun–pelayan– yang tadi di panggil gadis itu. Setelah memastikan pesanan dengan tulisannya, Hyesun segera pergi untuk mengambil pesanannya.

“Café ini bagus, desain interior juga di luar pun berkelas.” Lirih gadis itu setelah mengamati café dengan mata sipitnya. Pandangannya terhenti tatkala melihat seorang gadis tengah berbicara dengan seorang pria, gadis itu terlihat marah.

“Yak! Lee Hyuk Jae! Kalau kau menggoda pelanggan lagi akan aku adukan ke Ahjushi  supaya kau di pecat.” Seru seseorang dengan keras dan berhasil membuat mereka menjadi bahan tontonan.

“Aish! Aku tidak menggodanya Jee Ah-ya.” Ucap pria berambut pirang dengan wajah memelas. Sedangkan gadis yang di panggil Jee Ah hanya mengalihkan tatapannya serta berkacak pinggang.

“Ya! Hyukjae, apa yang di katakan Jee Ah tadi benar eoh? Kau selingkuh?!” Tiba-tiba muncul seorang gadis dengan wajah menyipit curiga.

“Mwo? An..ni. Jeongmal aniya, mana mungkin aku selingkuh sayang.”

“Kau- pasti berbohong!”

“Ya! Ya! Hei, kalian apa-apaan ini? Jangan ‘bermesraan’ di depan pelanggan. Kalian ini sedang bekerja.” Seru gadis lain. Lalu tatapannya ia alihkan ke arah Hyuk Jae, “Dan kau Oppa! Jangan menggoda gadis-gadis di sini, bisa-bisa café ini kena amukan Jesun Eonnie nanti.” Sungut Yoo Kyung yang sengaja keluar dari dapur karena mendengar keributan.

“Sudah, kembali bekerja lagi.”

Love Café memang kebanyakan pelanggannya gadis-gadis karena di sini hampir semua pelayannya pria-pria tampan juga mempesona. Contohnya saja Hyuk Jae atau biasa disapa ‘Eun Hyuk’. Dia pun salah satu dari pria-pria tampan yang digilai oleh gadis-gadis yang menjadi pelanggan tetap café, yang kebanyakan gadis remaja. Meskipun mereka tahu bahwa sang pujaan hati mereka sudah mempunyai kekasih, tidak menyurutkan niat mereka untuk berdekatan dengan orang yang disukainya sehingga terjadi keributan kecil seperti tadi, dan anehnya itu sudah biasa terjadi.
Meskipun begitu, café ini selalu ramai akan pengunjung, dari pagi hingga malam.

“Yoo Kyung? Benarkah itu dia? Gawat, aku harus segera pergi dari sini, jangan sampai dia tau kalau aku sudah kembali.”

Gadis yang sedari tadi memperhatikan keributan itu panik begitu mengenali salah satu dari beberapa gadis di sana, maka ia putuskan segera pergi, berjalan cepat ke arah pintu keluar. Mungkin karena terburu-buru ia jadi tidak fokus dengan yang ada disekitarnya sehingga kakinya tersandung, dan…

Srett!!

Gadis itu cukup terpaku dengan seseorang yang kini tengah memeluk pinggangnya, hatinya berdesir aneh begitu melihat tatapan mata pria yang menolongnya.

“Agashi, neo gwaenchanayo?”

“Ye, gwaenchana. Ghamsahamnida.”

“Lain kali hati-hati.”

“Nde, ghamsahamnida.”

“Oppa?” Suara Sung Hyo membuat pria dan gadis itu menoleh. “Apa yang kalian lakukan?” Tanya Sung Hyo yang melihat kekasihnya sedang memeluk pinggang gadis lain. Kyu Hyun langsung melepaskan tangannya yang sedari tadi ada di pinggang gadis yang di tolongnya.

“Ani, ini bukan apa-apa. Aku hanya membantunya saja tadi karena hampir terjatuh.”

“Jinchayo?” Tanya Sung Hyo dengan picingan mata yang berhasil ia pelajari dari Kyu Hyun.

“Nde! Jeongmal.” Sahut Kyu Hyun dengan menghampiri Sung Hyo. Gadis yang sedari tadi hanya diam dengan memandangi mereka berdua tiba-tiba tersenyum tatkala ingatannya kembali ke masa-masa 3 tahun lalu, ketika ia bersama tunangannya. Ia pasti akan merajuk pada kekasihnya agar tidak marah padanya.

‘Haishh!! Kenapa di ingat lagi bodoh!’ Rutuknya dengan mencoba menepis ingatan itu.

“Yuen? Cho Yuen?! Benar kau Yuen kan?”

Gadis yang sejak tadi mematung tersadar begitu seseorang mengguncangkan bahunya serta memanggil-manggil namanya.
“Yoo-ya..” Lirihnya sangat lirih. Yoo Kyung langsung merengkuh tubuh Yuen dengan erat.

“Ya! Kau ke mana saja huh? Kenapa tidak pernah mengabariku?”

Yuen tersenyum kaku, “Aku.. sibuk. Yah, aku sibuk. Mianhae.” Tunduk gadis itu dengan menyesal. Yoo Kyung menghela nafas, “Arra. Kita bicara di luar saja.”

“Leeteuk Oppa, nanti kalau Ryeo Wook Oppa datang dan bertanya di mana aku, bilang saja aku sedang pergi bersama temanku. Annyeong.”

“Nde!”

Yoo Kyung langsung menyeret Yuen untuk mengikuti langkahnya.

“Lho, kenapa pada di sini? Ada apa Hyung?” Tanya Ryeo Wook yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Lee Teuk. Ia menatap satu persatu temannya bergantian.

“Anniya, tidak ada apa-apa.”

Ryeo Wook mengangguk mendengar jawanan Lee Teuk yang tadi terdiam. “Yoo-ya eodiyeyo?”

“Pergi dengan temannya tadi.” Sahut Jee Ah yang memang sedari tadi ada di sana.

“Chingu? Nugu?” Ujar Ryeo Wook bingung.

“Nde, kalau tidak salah namanya Cho.. Yuen? Nde, Cho Yuen.”
Seketika Ryeo Wook menegang begitu mendengar nama gadis yang selama ini selalu ada dalam pikirannya. “Mereka pergi kemana Hyung?”

“Taman, mungkin. Coba saja…” Belum sempat Lee Teuk menyelesaikan kalimatnya Ryeo Wook sudah mengambil langkah seribu. Lee Teuk mendesah. “Aku belum selesai bicara, tapi sudah pergi..” Gumamnya dengan menatap punggung Ryeo Wook yang telah menghilang di balik pintu.

===

Yoo Kyung mengajak Yuen duduk disalah satu bangku panjang yang ada di sana. Yoo Kyung sengaja mengajaknya pergi agar bisa leluasa bertanya pada gadis yang hampir menjadi Eonnie iparnya.

“Jadi… sekarang jelaskan padaku.” Ucap Yoo Kyung begitu mereka ada disebuah taman yang tak jauh dari café.

“Jelaskan apa?”

Yoo Kyung mendengus keras. “Tentu saja selama ini kau tinggal dimana dan bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Begitu saja kau tidak mengerti. Tsk, benar-benar… aneh sekali kau ini, dan yang paling aneh, bagaimana mungkin Uri Oppa yang imut itu bisa mempunyai tunangan bodoh sepertimu huh?” Dengus Yoo Kyung dengan nada mengejek membuat Yuen kesal.

“Bukan lagi Yoo-ya. Itu dulu, 3 tahun lalu. Bagaimana kabarmu Yoo?”

“Aku atau Oppa?”

“Yah, tentu saja kau..”

“Aku baik. Dan kau tidak ingin mengetahui kabar Oppaku hum?”

“Bukankah dia baik-baik saja bukan?”

“Nde, saat ini baik-baik saja. Lebih baik dari 3 tahun lalu saat kau pergi. Pergi kemana kau dulu?”

“Taiwan.” Sahut Yuen singkat.

Yoo Kyung langsung menatap gadis di sampingnya tajam. “Jadi apa alasanmu pergi di saat acara pertungan dulu? Aku butuh penjelasan Yuen-ah.” Desak Yoo Kyung langsung.

Yuen nampak menghela nafas panjang kemudian menatap langit yang kelabu. “Apa harus aku jujur?”

“Tentu!”

“Aku pikir kau tahu alasanku lebih memilih pergi Yoo,”

“Aniya, aku tidak tahu apa alasanmu pergi, maka dari itu aku bertanya padamu.”Jawab Yoo Kyung cuek membuat Yuen tersenyum tipis.
“Tidak berubah..” Gumamnya namun tidak ditanggapi oleh gadis yang kini tengah bersandar pada pohon di belakangnya.

“Aku hanya merasa tidak cocok dengan Oppamu Yoo. Kau tahu bukan dia dulu bagaimana denganku?” Yoo Kyung mengangguk mengerti, ia tidak mengeluarkan suaranya. Tidak berniat untuk menyela sampai gadis yang lebih muda 2 bulan darinya ini menyelesaikan ceritanya.

“Jadi kupikir, lebih baik aku pergi, sehingga ia bisa bahagia dengan gadis pilihannya. Gadis yang dicintainya, gadis yang lembut dan cantik. Tidak sepertiku yang urakan, manja juga se-enaknya sendiri. Melihatnya tersiksa dengan perjodohan ini sungguh membuatku sakit Yoo..” Yuen menundukan kepala, menyembunyikan wajahnya yang kini telah basah.

Yoo Kyung menghela nafas berat. “Kau salah Yuen-ah..”

“Mwo?”

“Kau salah! Kau pikir Ryeo Wook Oppa bisa bahagia setelah kau pergi heh? Kau pikir ia bisa tersenyum setelah kau pergi? Kau tidak tahu betapa berubahnya seorang Kim Ryeo Wook setelah kau pergi. Oppa sangat menderita Yuen-ah.. dia seperti orang tidak tahu arah tujuan, setiap hari yang ia lakukan hanya memandang kosong ke depan, entah apa yang di pandangnya. Kau tidak tahu betapa tersiksanya dia Yuen-ah… Oppaku berubah 180° karena kepergianmu waktu itu. Mungkin dulu kau hanya dianggap sebagai parasit dalam hidupnya karena kedatanganmu yang tiba-tiba, tapi… setelah kau pergi semuanya berubah. Ryeowook Oppa menyesal dulu mengacuhkanmu, mendiamkanmu, tidak memperhatikanmu bahkan selalu membentakmu…”

“Dia tidak mencintaiku Yoo!” Sela Yuen dengan keras serta airmata yang mengalir. Yoo Kyung menatapnya nanar.

“Nde! Tapi itu dulu Yuen-ah, dulu! Ketika Ryeo Wook Oppa akan mengatakan yang sejujurnya saat acara pertunangan itu kau justru pergi. Kau membuat Oppaku kecewa Yuen-ah… ”

“Sekarang…aku tanya satu hal padamu. Apa kau masih mencintai Ryeo Wook Oppa?”

Yuen menatap nanar, airmata yang mengalir semakin deras. “Jawab Cho Yuen!?” Sentak Yoo Kyung dengan keras sehingga membuat Yuen sedikit memundurkan tubuhnya karena terkejut melihat Yoo Kyung membentaknya.

Gadis yang dikenalnya selalu dapat mengontrol emosinya kini membentak. Ia tahu, sangat tahu. Kalau Yoo Kyung sudah berani membentak, itu berarti gadis itu sudah sangat marah padanya.

Yuen menundukan wajahnya dan semakin terisak. “Kenapa tidak kau jawab Yuen-ah?”

“Cukup Yoo!!” Suara yang begitu di hapal Yoo Kyung membuatnya menoleh ke belakang dan mendapati seseorang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu mendekat kearahnya, berjalan lurus dengan menatap gadis di samping Yoo Kyung yang kini menunduk dengan bergetar hebat karena menangis.

“Kau tidak apa-apa?” Seketika Yuen mengangkat wajahnya begitu orang itu berdiri di sampingnya hingga seketika ia merasa jantungnya berhenti berdetak saat ini juga. Pria ini… pria yang selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun, pria yang bisa membuatnya merasakan kenyamanan saat bersamanya.. sungguh ia merindukan pria ini, pria yang memiliki tatapan lembut serta pelukan yang hangat.

“Oppa..” Lirihnya dengan air mata yang masih mengalir.

“Dae Hyun Oppa..” Ucap Yoo Kyung yang tersadar dari keterkejutanya sesaat tadi ketika mendapati Kim Dae Hyun; saudara sepupunya, yang ada di Paris kini ada di hadapannya.

Dae Hyun tersenyum lembut ke arah Yuen. ” Kajja, kita cari tempat yang nyaman untuk bicara.” Ajaknya dengan menarik lembut lengan Yuen agar mengikuti langkahnya. Mau tidak mau Yuen mengikutinya.

“Ya! Kalian mau kemana? Dae Hyun Oppa!!” Sungut Yoo Kyung yang merasa diabaikan.
Dae Hyun berbalik dan tersenyum miring. “Bilang padanya Yoo.. kalau aku akan merebutnya, dan kali ini aku pastikan akan berhasil mendapatkannya.”

Yoo Kyung mematung dalam posisinya, memandang kedua orang itu yang mulai berjalan menjauh dari taman.

“Oppa..” Lirih Yoo Kyung begitu berbalik dan melihat Ryeo Wook berdiri tidak jauh darinya. Pasti Ryeo Wook mendengar kalimat terakhir Dae Hyun sebelum mereka pergi tadi, pikir Yoo Kyung. Karena itu terlihat saat ini kakaknya sedang menahan emosi; tangan yang mengepal serta rahang yang mengeras.

“Kajja, kita kembali Yoo.” Ryeo Wook berjalan lebih dulu kemudian di ikuti oleh Yoo Kyung.

“Eh.. kau sudah kembali Yoo? Mana temanmu tadi?” Dong Hae memandang Yoo Kyung yang kini langsung memeluknya erat begitu mereka ada di ruang istirahat staf.

“Hei, ada apa hum?” Dong Hae mendongakkan wajah Yoo Kyung yang sedikit sembab.

“Oppa, eotthokaeji?”

“Apanya yang bagaimana?”

“Aku… takut Ryeo Wook Oppa kembali seperti dulu lagi.”

“Maksudmu, kembali seperti 3 tahun lalu?” Yoo Kyung mengangguk mengiyakan. “Apa gadis tadi itu Cho Yuen?” Kembali Yoo Kyung mengangguk. Dong Hae mendekap Yoo Kyung erat.

“Uljima, aku yakin Ryeo Wook yang sekarang sudah bisa bersikap lebih dewasa Yoo, aku juga yakin dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.”

“Tapi… bagaimana kalau justru malah membuatnya terpuruk lagi Oppa? Aku tidak mau kalau Oppaku kembali seperti dulu, seperti orang gila. Tidak mau bicara ataupun melakukan hal lainnya. Aku sungguh tidak mau itu terulang lagi Oppa.”

“Aku tahu Yoo, aku pun mengerti. Sudah jangan menangis. Begini saja, kita cari cara agar mereka dapat bicara berdua, aku yakin mereka butuh bicara banyak.” Sontak Yoo Kyung menghapus sisa airmatanya.

“Benar! Kau benar Oppa. Aku akan minta bantuan Dae Hyun Oppa nanti.” Seru Yoo Kyung yang ingat dengan sepupunya tadi.

“Dae Hyun?”

“Kau lupa dengannya? Pabo! Itu sepupuku yang juga suka dengan Yuen, yang pindah ke Paris.” Dong Hae hanya mengangguk, meskipun ia tidak yakin dengan ingatannya akan orang yang bernama Dae Hyun.

“Tunggu, tadi kan Yuen pergi dengan Dae Hyun Oppa! Aku harus menelponnya sekarang.” Yoo Kyung langsung melesat menuju lokernya kemudian mengambil ponsel. Setelah menemukan daftar kontak yang di carinya ia segera menghubungi nomor itu. Dae Hyun.

“Yeobseyo..” Ucapnya begitu sambungan telpon tersambung. Dong Hae langsung mendekat begitu melihat isyarat yang di tunjukan Yoo Kyung padanya, ikut menempelkan telinganya ke ponsel yang ada di telinga Yoo Kyung.

“Oppa.. ne ini Yoo Kyung.. Ani, aku butuh bantuanmu. Yap! Benar. Oppa bisa bantu bukan? Begini…”

====

“Ya! Oppa.. sebenarnya kita mau kemana? Kenapa aku harus memakai pakaian seperti ini heh?” Yuen mendecak kesal dengan mengikuti langkah lebar Dae Hyun yang menyeretnya.

Dae Hyun tidak menghiraukan gerutuan gadis di belakangnya, ia hanya sibuk melihat sekeliling café yang sudah di pesannya. Café ini terlihat sepi, hanya ada beberapa meja yang terisi.

“Kau tunggu di sini sebentar ok? Aku ingin ke toilet sebentar.” Tanpa menunggu jawaban Yuen, Dae Hyun langsung melesat pergi begitu saja, meninggalkan gadis itu yang masih terus menggrutui dirinya.

“Tsk! Sebenarnya dia itu kenapa? Memaksaku memakai pakaian seperti ini lalu sekarang malah pergi seenaknya. Menyebalkan!” Sungut Yuen dengan duduk menopang dagu di atas meja.

Dae Hyun sengaja mengajaknya untuk makan malam bersama, ini semua untuk menjalankan rencana yang telah disusunnya bersama dengan Yo Kyung tempo hari. Ia akan berpura-pura mengajak Yuen kemudian pura-pura melamar gadis itu, dimana nanti Ryeo Wook juga Yoo Kyung ada di café ini. Itu pasti akan membuat Ryeo Wook kesal sehingga pria itu mengungkapkan perasaannya. Dae Hyun yakin bahwa rencana ini akan berhasil, karena Yoo Kyung pun sangat setuju.

“Oppa.. kita duduk di sana saja ne?” Yoo Kyung dan Ryeo Wook sudah sampai di café yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia memilih meja yang berada tepat di samping meja Yuen dan Dae Hyun. Ryeo Wook hanya mengikuti langkah Yoo Kyung yang terlihat riang dengan senyum ceria, sehingga membuatnya ikut tersenyum.
Tadi siang Yoo Kyung tiba-tiba mengajaknya makan malam berdua dengannya. Padahal biasanya, adiknya itu akan selalu menempel dengan Dong Hae dimanapun mereka berada. Jarang-jarang Yoo Kyung mau makan berdua dengannya, maka itu ia langsung mengiyakan ajakan sang adik.

“Eh.. Yuen-ah?” Yoo Kyung berhenti tepat di meja Yuen. Gadis itu nampak cantik dengan balutan gaun putih gading yang dikenakannya dengan rambut yang disanggul ke atas. Ryeo Wook menatap Yuen tanpa kedip, sedangkan Yuen terlihat tegang begitu mengetahui Ryeo Wook juga Yoo Kyung ada di  hadapannya.

“Annyeong Yoo.. Op..Oppa.” Salam Yuen dengan kaku. Yoo Kyung tersenyum.

“Kau di sini juga? Dengan siapa kesininya? Mau bergabung dengan kami?”

“Anni, terimakasih. Tapi, aku datang dengan..”

“Denganku!”

Ryeo Wook dan Yoo Kyung sentak menoleh ke belakang, mendapati Dae Hyun dengan pakaian rapi berjalan ke arah mereka. “Hai Yoo, Hyung.” Ryeo Wook menatapnya sebentar, terlihat tidak suka.

“Hai…” Sahut Yoo Kyung pelan.

“Maaf, kau lama menunggu eoh?” Dae Hyun segera duduk di kursinya, berhadapan dengan Yuen. Begitu pun dengan Yoo Kyung dan Ryeo Wook yang kini telah duduk di kursi mereka.

Selama acara makan kedua orang itu; Ryeo Wook juga Yuen, kadang terlihat sibuk mencuri pandang satu sama lain. Tentu saja tanpa sepengetahuan mereka masing-masing. Yoo Kyung sudah berusaha menahan tawa ketika mendengar Dae Hyun yang tiba-tiba melamar Yuen. Apalagi saat melihat Ryeo Wook yang sudah merah padam menahan marah.

“Tap.. tapi.. bukankah kau bilang kau sudah mempunyai kekasih Oppa dan akan segera melamarnya?”

Daehyun tersenyum. “Memang aku bicara seperti itu, tapi apa kau tidak mengerti maksudku huh? Gadis itu kau Yuen-ah.”

Yuen membulatkan matanya tidak percaya. “Jadi bagaimana? Apa kau menerima pinanganku?”

Diam.
Yuen hanya terdiam dalam posisinya, ia tidak tahu harus menjawab apa. Dae Hyun memamg orang yang sangat mengerti dirinya, orang yang sangat dekat dan selalu ada di dekatnya. Orang yang akan selalu menghiburnya di saat ia merasa sedih kala Ryeo Wook menyakitinya, ia juga menyayangi pria ini.

Tapi, apakah ia bisa mencintainya seperti ia mencintai Ryeo Wook?
Tidak ia pungkiri memang, sampai saat ini hanya nama Ryeo Wook yang masih memenuhi ruang hatinya, seberapa besar usaha yang dilakukan dulu hingga sekarang, tetap hanya nama pria itu yang ada di hatinya, pria yang ia cintai–Kim Ryeo Wook.

“Yuen-ah?” Dae Hyun mengibaskan sebelah tangannya ke hadapan gadis yang diam mematung. Gadis itu mengerjap beberapa kali, terlihat ia sedang mencoba mengatur nafas dan detak jantungnya agar teratur.

“Aku… tapi, apa Oppa serius?”

“Tentu saja! Mana mungkin aku bercanda untuk melamar seorang gadis. Lagi pula bukankah kau sudah tau bahwa dari dulu aku menyukaimu huh? Dan bukankah aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu seperti lelaki yang kau cintai itu.” Ucap Dae Hyun dengan melirik melalui ekor matanya ke arah Ryeo Wook yang nampak biasa saja. Tapi ia yakin bahwa hyungnya itu saat ini sedang berusaha mati-matian agar terlihat biasa saja.

“Yuen-ah… percayalah padaku, aku tidak akan pernah mengecewakan ataupun meninggalkanmu.” Lanjutnya lagi yang kali ini dengan menggenggam jemari kanan Yuen yang ada di atas meja.

Yuen menatap Dae Hyun ragu. Ia bimbang. Entah kata apa yang pantas untuk mengungkapkan isi hatinya saat ini. Melihat Ryeo Wook yang sama sekali diam saja, tidak meliriknya sedikitpun membuatnya sedikit kesal. Padahal ia berharap pria itu mengucapkan sesuatu.

“Aku.. eum.. Oppa, sebenarnya aku…”

“Yoo, kajja pulang. Aku sudah kenyang.” Ucapan Ryeo Wook berbarengan dengan Yuen yang akan menjawab pernyataan Dae Hyun tadi kini terhenti begitu saja.
Ryeo Wook mendorong kursi yang tadi di dudukinya kebelakang. Ia melenggang melewati meja Dae Hyun dan Yuen tanpa menoleh sedikitpun.

Yoo Kyung hanya mendesah keras, dalam hati ia terus memaki Oppanya yang sangat pintar mengendalikan emosi. Setelah membayar pesanannya ia pun melangkah pergi, menyusul sang kakak yang sudah menunggunya di luar.

“Oppa, Yuen.. Aku pulang dulu. Annyeong.”

“Oh ne, josimhaseyo.” Sahut Dae Hyun dengan senyum, membalas senyuman Yoo Kyung.

“Oppa?”

“Hum?”

“Em.. begini, boleh kalau aku memikirkanya dulu? Jawaban atas pernyataanmu.”

Dae Hyun mengangguk, “Nde, tentu kau boleh memikirkanya lebih dulu.”

Yuen tersenyum lega begitu mendengar jawaban Dae Hyun. Tapi berbeda dengan Dae Hyun yang kini tengah memaki hyungnya itu, rencana yang di pikirnya akan berhasil kini telah gagal total. Dan untung saja Yuen lebih memilih untuk memikirkanya lebih dulu, coba kalau langsung menjawab ‘iya’, apa tidak lebih repot nanti urusannya?
Belum lagi kalau sampai kekasihnya tau, bisa-bisa langsung di gantung dia. Ia pun menghela nafas dengan lega sekarang, tapi tetap saja ia perlu bicara dengan Yoo Kyung nanti mengenai rencana selanjutnya.

====

“Oppa.. kau mau kemana?” Yoo Kyung memandang heran kearah Ryeo Wook yang sudah rapi dengan pakaiannya.

“Keluar sebentar.” Ryeo Wook menjawab tanpa menoleh ke arah Yoo Kyung yang sedang duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya.

“Kau tidak sarapan dulu Ryeo Wook-ah?” Tanya sang ibu begitu melihat putranya berjalan ke arah mereka dan meminum segelas susu. “Ani Eomma, aku buru-buru.” Ryeo Wook mengecup lembut pipi wanita yang sudah melahirkannya.

“Jangan lupa nanti kau harus pulang tepat waktu.” Ingat sang Ayah, Ryeo Wook hanya mengangguk.

“Aku pergi dulu Eomma, Appa. Dan Kau Yoo..”

“Mwo?”

“Jangan pacaran terus, mentang-mentang hari ini café tutup kau jadi seharian kencan dengan Dong Hae.” Sindir Ryeo Wook yang sudah hapal sifat sang adik, membuat gadis itu mencibir.

“Biar saja, biar cepat dinikahkan oleh Appa. Kalau menikah menunggu Oppa, bisa-bisa aku jadi perawan tua!” Balas Yoo Kyung dengan sengit.

Yah, ia memang sudah meminta ijin pada orang tuanya untuk menikah dengan Dong Hae, tapi orang tuanya menyuruhnya untuk menunggu sang kakak menikah lebih dulu.

Ryeo Wook mendengus sebal mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Yoo Kyung. “Kau… ah.. sudahlah aku tidak mau meladenimu bocah ingusan. Aku pergi.”

Setelah Ryeo Wook pergi Eomma menatap Yoo Kyung tajam. “Wae?” Tanya Yoo Kyung yang merasa diperhatikan oleh Eommanya.

“Kau itu.. jaga bicaramu, bagaimana kalau Oppamu tersinggung huh?”

“Biar saja! Aku kesal padanya Eomma. Oppa itu bodoh sekali, tinggal bilang cinta saja susah sekali.”

“Mwo? Cinta?” Seru Appa dan Eomma bersamaan. Yoo Kyung mengangguk.

“Dengan siapa?” Tanya Eomma antusias.

“Yuen, siapa lagi.”

“Itu sih kami tahu. Tapi kan Yuen sudah pergi Yoo..” Lirih Appa dengan lemas.

“Sudah kembali Appa-ya. Yuen sudah kembali ke Korea minggu lalu. Aku sudah kenyang. Aku mau mandi kemudian kencan dengan Dong Hae Oppa.”

“Ya! Ya! YOO-YA!! Tunggu dulu. jelaskan pada kami dulu Yoo!” Namun sayang teriakan Appa tidak didengar oleh anaknya yang sudah melenggang masuk ke kamarnya.

“Haish! Dasar bocah itu…” Geram Eomma kesal.

====

Ryeo Wook berdiri disebuah pintu dengan gelisah, ia sudah setengah jam berada di depan pintu itu dengan tangan yang terulur untuk menekan bel rumah yang terpasang di tembok bercat putih, tapi kemudian ia urungkan lagi, begitu seterusnya.

“Haish.. pencet tidak ya?” Gumamnya dengan meremas kedua tangannya.
“Lalu kalau pintunya di buka, aku bicara apa?”

Akhirnya setelah berdebat dengan batinnya, ia memberanikan diri untuk menekan bel itu dengan tangan yang sedikit gemetar, karena nervous.

“Ah.. segarnya selesai mandi.” Gumam seorang gadis dengan senyum cerah. Gadis itu baru saja akan melangkahkan kakinya kearah dapur ketika mendengar bel apartemenya berbunyi, Ia mengurungkan niatnya untuk mengambil minum dan berjalan ke arah pintu.

“Ryeo Wook Oppa?” Ucapnya lirih begitu melihat wajah Ryeo Wook yang tampak di layar intercome.

“Aish, bagaimana ini… buka atau tidak.. ada apa juga dia datang kemari.” Yuen berjalan mondar-mandir tidak jelas di depan pintu. Bel kembali terdengar membuat Yuen semakin panik. “Omo!! Bagaimana ini?” Ia semakin berjalan mondar-mandir dengan sesekali menggigit jari-jari kuku tangannya.

“Yuen-ah..” Ryeo Wook memanggilnya dan itu malah menambah kepanikan Yuen.

“Bagaimana ini? Aku belum siap untuk bertemu dengannya.”

Ryeo Wook terlihat kesal karena pintu di depannya tak kunjung di buka, ia mengetuk pintu dengan sedikit keras karena dengan menekan bel pun sama saja.

“Kemana dia itu? Tidak mungkin kan sepagi ini sudah pergi.” Gerutunya kesal. Ia mencoba mengetuk lagi dan memanggil nama Yuen, tapi tetap tidak ada sahutan. Ryeo Wook mendesah frustasi, padahal ia sudah menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan gadis itu, tapi sepertinya ia harus mengurungkan niatnya sekarang.

“Apa jangan-jangan dia tidak mau bertemu denganku lagi ya?” Lirihnya dengan membalikan badan, berniat untuk pergi dari rumah Yuen. Tapi ia mengurungkan niatnya begitu mendengar suara pekikan dari dalam rumah. “Yuen-ah.. buka pintunya! Aku tahu kau di dalam. Yuen… kau tidak apa-apa kan?”

Ryeo Wook terus saja menggedor pintu serta memanggil nama Yuen hingga pintu itu terbuka dan menampakan gadis dengan balutan kimono putih tersenyum kaku ke arahnya. Ia terpana melihat Yuen yang memakai kimono mandi serta rambut panjang yang terurai basah.

“Oppa.. masuklah.” Yuen mengucapkannya dengan tersendat, ia merasa canggung setelah lama tidak bertegur sapa dengan pria yang masih berdiri di  depan pintu rumahnya.

“Oppa! Kajja!” Sentak Yuen kesal karena Ryeo Wook hanya diam mematung menatapnya tanpa kedip. Mungkin pria itu terkejut karena melihatnya yang hanya mengenakan kimono mandi.

Ryeo Wook mengerjap setelah merasa ada yang menarik sebelah lengannya, ia melihat Yuen sedang memegang lengan kanannya, menuntunnya untuk duduk di sofa. “Oppa duduk dulu. Aku akan ganti baju.” Yuen pergi ke kamar untuk mengganti bajunya.

“Kau.. kenapa?” Ryeo Wook akhirnya mengeluarkan suaranya setelah melihat Yuen kembali dan kini gadis itu sedang menuangkan susu coklat ke dalam gelas.

“Nae?”

“Nde, memang ada siapa lagi di rumah ini?”

Yuen berjalan ke arah Ryeo Wook dan meletakan segelas susu juga teh hijau favorit Ryeo Wook ke atas meja serta sepiring sandwich sayur.

“Aku tidak apa-apa,”

Ryeo Wook menatapnya sangsi, “Jeongmalyo hum?”

“Hm!”

“Lalu kenapa jalanmu aneh sekali?”

Yuen langsung menghentikan mengunyah sandwichnya dan memandang pria yang duduk di sampingnya.

“Oh, itu.. tidak apa-apa, hanya terpeleset tadi di kamar mandi.”

Padahal tadi itu, ia terjatuh di depan pintu karena tersandung karpet yang ada di sana, akibat dirinya yang mondar-mandir tidak jelas -_-!
Tapi tidak mungkin juga bukan mengatakan yang sejujurnya? Pasti terdengar sangat konyol!

Ryeo Wook menggeser sedikit tubuhnya agar dekat dengan Yuen. “Terpeleset?” Ulang pria itu dan di jawab angggukan.

“Nde..” Yuen menjawab dengan kaku, ia merasa jantungnya sudah tidak normal lagi sekarang begitu menyadari Ryeo Wook yang kini duduk bersebelahan dengannya tanpa jarak sedikitpun.

“Mau ke dokter? Biar aku antar.” Yuen seketika mengalihkan tatapannya ke arah Ryeo Wook yang menatapnya. Ia mengerjap beberapa kali.

Dia tidak mentertawakanku? Batin gadis itu heran.
Padahal dulu kalau gadis ini terkena musibah (bukan musibah besar) pasti Ryeo Wook akan mentertawakan dirinya, tapi sekarang… pria ini malah terlihat cemas ketika Yuen mengatakan ia terpeleset.

“Hei, kau sungguh tidak apa-apa Yuen-ah?”

“Nde, tidak apa-apa. Nanti juga sembuh.”

“Tapi lebih baik kita ke rumah sakit saja biar diperiksa dokter, aku takut kau kenapa-kenapa.” Kembali, Yuen memandang Ryeo Wook dengan tatapan herannya.

Sepertinya ada yang aneh dengan pria ini, batin Yuen.

“Kau tidak sedang sakit kan Oppa?”

Ryeo Wook menyerngit bingung, “Aku? Sakit? Tidak. Aku baik-baik saja. Justru kau yang sakit.”

“Tapi kenapa kau jadi berubah perhatian?”

Ryeo Wook langsung terdiam mendengar lontaran kalimat dari bibir gadis di sampingnya. “Apa aku tidak boleh berubah?” Gumam Ryeo Wook lirih dengan menunduk. Ia tahu pasti Yuen masih marah dan kecewa padanya atas sikapnya dulu.
Tapi itu dulu, sekarang ia sudah berubah. Ia tidak mau lagi mengacuhkan gadis ini, dan tentu tidak ingin gadis ini pergi dari jangkauannya.

“Aku hanya merasa aneh saja melihatmu berubah seperti ini, seperti bukan Kim Ryeo Wook yang aku kenal.” Lirih Yuen dengan meminum susu coklatnya.

“Apa kau tidak suka?”

“Tidak, tentu saja itu bagus. Tapi sepertinya kau terlambat menyadarinya Oppa.” Ryeo Wook terdiam mendengar kalimat Yuen yang menurutnya terdengar sinis.

Yuen menghela nafas kemudian kembali memperbaiki posisi duduknya, menjaga jarak dengan Ryeo Wook. Diam. Keduanya tidak ada yang berbicara, hanya terdengar hembusan nafas dari keduanya serta jarum jam yang ada di dinding rumah itu.

“Kau.. masih marah padaku?” Tanya Ryeo Wook hati-hati.

“Anni. Hanya kecewa saja.” Jawab Yuen singkat membuat Ryeo Wook mendesah pasrah.

“Boleh aku bertanya lagi?”

“Bukankah kau dari tadi bertanya?”

“Dulu.. kenapa kau tiba-tiba pergi begitu saja?” Ryeo Wook kembali bertanya, mengacuhkan nada sinis dari Yuen.

“Apa aku harus menjawabnya? Kurasa Oppa tahu apa jawabanku.”

“Tapi aku ingin mendengar dari bibirmu sendiri.”

Yuen menghela nafas panjang sebelum menatap Ryeo Wook yang tengah menatapnya. “Bukankah kau tahu alasannya? Aku juga sudah menulisnya di surat yang aku titipkan pada Yoo Kyung untukmu. Lalu kau mau penjelasan apa lagi?”

“Lalu apa kau masih mencintaiku?” Ryeo Wook mengajukan pertanyaan lainnya tanpa menjawab pertanyaan Yuen.

Yuen langsung membeku begitu Ryeo Wook menanyakan hal itu, apakah ia terlihat bahwa ia masih mencintai Ryeo Wook sampai-sampai pria ini bertanya seperti ini?

“Tidak.”

“Jeongmal?”

“Nde! Mungkin dulu aku memang begitu mencintaimu Oppa, tapi itu dulu, 3 tahun lalu.” Sahut Yuen sedikit ketus.

“Kau berubah Yuen-ah..”

“Bukankah setiap orang bisa berubah? Oppa saja bisa, kenapa aku tidak?”

“Benar, setiap orang pasti berubah begitu pula kau.”

“Sekarang apa bisa kau jelaskan kenapa kau pergi begitu saja tanpa memberiku satu alasan yang masuk akal heh? Kau membuatku merasa dipermainkan Yuen-ah. Dulu kau selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, selalu berusaha membuatku agar mencintaimu. Tapi setelah semua itu berhasil kau malah pergi entah kemana. Kemana kau waktu itu Yuen-ah?”

“Itu bukan urusanmu Oppa!”

“Tentu saja urusanku Yuen-ah! Kau sudah berhasil membuatku mencintaimu tapi kau malah menghilang begitu saja, tentu saja aku butuh penjelasan darimu!”

“Aku tak ingin mengatakan apapun!”

Suasana yang tadinya cukup mencair kini kembali tegang karena Yuen sedikit menaikkan intonasi suaranya. Ryeo Wook memejamkan matanya sesaat. “Aku ingin mendengar semua penjelasan darimu sekarang, bisa kau jelaskan padaku?” Pintanya dengan suara lebih lembut.

“Maaf, tapi aku tidak ingin mengatakan apapun lagi sekarang. Itu hanya akan membuka luka lama di hatiku.” Sahut Yuen sinis. Ryeo Wook mengangguk.

“Aku minta maaf untuk semua kesalahanku padamu dulu. Maaf sudah membentakmu. Baiklah aku pergi, aku harap kau memaafkanku dan aku ucapkan selamat untuk kalian.” Ryeo Wook berdiri dari duduknya kemudian mengulurkan sebelah tangan kehadapan Yuen. Mengajaknya untuk bersalaman.

“Selamat? Untuk apa?”

“Tentu saja atas lamaran Dae Hyun padamu semalam.” Ryeo Wook mengucapkannya dengan senyum, meskipun ia harus menahan jutaan rasa sesak dan perih di dada akibat ia mengucapkan kalimat itu.
Yuen baru mengingat sekarang, yah, semalam Dae Hyun memamg melamarnya tapi ia belum memberikan jawaban apapun! Tapi kenapa Ryeo Wook memberinya selamat?

Ia mendongak, memandang Ryeo Wook dengan mata sipitnya yang berdiri di hadapannya dengan tangan terulur serta tersenyum. Tapi meskipun pria ini tersenyum, ia bisa melihat gurat kekecewaan dalam tatapan matanya. Hatinya kembali berdesir begitu melihat tatapan Ryeo Wook seperti itu, ini baru pertama kalinya pria ini menatapnya seperti ini.

“Aku doakan semoga kau bahagia selalu.”

Ryeo Wook menjabat tangan Yuen erat, kemudian melepasnya. Ia tersenyum lagi sebelum berjalan mundur kemudian membalikan badan, memunggungi Yuen yang berdiri di belakangnya. “Ah satu lagi.. ” Ryeo Wook berbalik lagi dan menghampiri Yuen.

“Boleh aku memelukmu? Sekali saja.”

Yuen mengerjapkan matanya, ‘memeluk’ ulang batinnya. Ia memandang Ryeo Wook yang menatapnya penuh harap. Ini pertama kalinya Ryeo Wook meminta memeluknya, karena dulu dirinya lah yang selalu meminta Ryeo Wook untuk memeluknya yang akhirnya pria itu menolaknya mentah-mentah. Ia mengangguk. Ryeo Wook tersenyum dan pria ini langsung mendekap erat gadis yang dirindukannya, siang dan malam. Gadis yang sudah berhasil membawa separuh jiwanya, gadis ini adalah oksigennya agar bertahan hidup.
Tapi, kini ia harus merelakannya untuk bersanding dengan orang lain dan orang itu adalah sepupunya sendiri–Kim Dae Hyun.

Ryeo Wook tersenyum miris dalam pelukannya ketika memikirkan bahwa gadis dalam dekapannya ini sebentar lagi akan menjadi pengantin. Padahal kalau ia bisa mengembalikan semuanya, ia ingin ia lah yang menjadi pendamping gadis ini, menemani hingga ajal menjemput. Semua itu kini hanya tinggal angan saja karena faktanya Yuen lebih memilih Dae Hyun. Itulah pemikiran Ryeo Wook.

“Gamawo Yuen-ah, dan maafkan aku. Saranghae.”

Chup!

Ryeo Wook menempelkan bibirnya di kening Yuen. Gadis itu berjengit ketika merasakan sapuan material lembut dan hangat yang menempel di keningnya, ia memejamkan mata, menikmati kecupan yang diberikan Ryeo Wook. Jantungnya berdetak dengan cepat begitu mengingat bahwa tadi Ryeo Wook mengatakan ‘Saranghae’ diakhir kalimat. Ia membuka matanya dan sedikit mendorong dada Ryeo Wook agar dapat melihat wajah pria ini.

“Kau bilang mencintaiku Oppa?”

Ryeo Wook mengelus pipi chubby Yuen. “Hm!” Tenggorokan terasa tercekat, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Yuen.

Perasaan bahagia seketika merasuki relung hati gadis itu.

“Sungguh?”

“Nde, tapi sepertinya aku terlambat.”

“Mwo? Terlambat?”

“Bukankah kau akan segera menikah dengan Dae Hyun?” Yuen melihat mata Ryeo Wook berkaca-kaca. Ia tidak pernah melihat Ryeo Wook seperti ini, pria ini terlihat begitu tersiksa sekarang.

“Aku ucapkan selamat, dan juga aku minta maaf untuk semuanya. Aku pastikan aku akan hadir di pesta pernikahanmu nanti.” Ryeo Wook tersenyum, terpaksa. Terlihat jelas bahwa pria ini memaksakan sebuah senyum untuk Yuen.

“Apa kau benar-benar melepasku Oppa?”

“Mau tidak mau. Lagipula, Dae Hyun pria yang baik, aku yakin kau bisa bahagia dengannya.”

‘Tidak! Aku akan lebih bahagia bila bersamamu Oppa’. ingin sekali gadis itu berteriak seperti itu tapi tenggorokannya terasa kelu, tidak ada yang keluar dari bibirnya ketika melihat Ryeo Wook mulai berjalan menjauh darinya, menggapai knop pintu dan membukanya kemudian tertutup, bersamaan dengan menghilangnya sosok Ryeo Wook.

Airmata mengalir begitu saja, dadanya sesak dan tenggorokannya tercekat. Anggota tubuhnya terasa kaku, tidak bisa digerakkan sehingga tidak bisa mengejar pria itu, pria yang sampai detik ini masih memenuhi ruang hatinya.

“Oppa… Ryeo Wook Oppa!!”

Yuen segera berlari keluar rumah, ia tidak perduli dengan dirinya yang tidak memakai alas kaki, ia hanya ingin mencegah kepergian Ryeo Wook. Ia ingin pria itu di sampingnya, dan ia ingin mengatakan bahwa ia masih mencintainya.

Ingin mengatakan bahwa ia tidak menerima lamaran Dae Hyun.

“Oppa! Kajima Oppa… kajima.” Yuen terduduk di jalan, ia tidak bisa mengejar Ryeo Wook yang sudah melesat jauh dari pandangan dengan mobil yang dikendarainya.
“Bodoh! Kenapa kau begitu bodoh hah? Kenapa kau harus pura-pura dihadapannya huh? Kau bodoh Yuen!” Yuen meluapkan kekesalannya dengan memukul jalanan dengan tangan, kini tangan gadis itu sudah penuh dengan bercak darah di kedua punggung tangannya.
Airmatanya tidak berhenti mengalir. “Oppa.. saranghae..” Bersamaan dengan usai kalimatnya gadis itu menutup mata kemudian limbung, jatuh menyentuh jalanan aspal yang dingin akibat air dari langit yang mulai turun.

=====

“Eugh..” Lenguhan kecil yang keluar dari bibir pucat seorang gadis yang terbaring dalam ranjang rumah sakit berhasil membangunkan seorang pria yang tertidur dengan posisi duduk.

“Oppa?” Suara lirih itu terdengar di indera mendengaran Ryeo Wook. “Kau sudah bangun Yuen-ah? Tunggu, aku panggil dokter ne?” Ryeo Wook hendak beranjak dari duduknya tapi Yuen segera menahannya.

“Ani. Oppa temani aku saja di sini ne?” Pinta Yuen dengan suara lirih. Wajah pucatnya sungguh membuat Ryeo Wook menatapnya iba.
“Arraseo.” Ia kembali menempatkan dirinya duduk di kursi yang tadi didudukinya.

“Tentang lamaran itu..” Ryeo Wook langsung menempelkan ujung jari telunjuknya di bibir Yuen, menghentikan kalimat gadis itu.

“Aku sudah tahu, mereka sudah menjelaskan semuanya. Jangan dipikirkan lagi ne?” Yuen mengangguk.

“Kau membuatku cemas saja. Kupikir kau akan meninggalkanku lagi.”

Yuen menggelengkan kepalanya. “Jangan tinggalkan aku lagi Yuen-ah, kumohon.”

“Oppa memintaku untuk tidak meninggalkanmu, apa itu berarti Oppa mencintaiku?”

“Bukankah aku sudah mengatakannya waktu itu hum?”

“Hanya ingin memastikan saja bahwa pendengaranku tidak salah, apa tidak boleh?” Yuen menatap polos Rye Wook.

Pria itu meremas lembut jemari Yuen yang berada dalam genggamannya. “Perlu aku ulangi agar kau percaya?” Yuen mengangguk.

“Aku Kim Ryeo Wook, mencintai Cho Yuen dengan segenap hatiku dan aku bersumpah untuk membuatnya hidup bahagia bersamaku hingga tua nanti.” Ucap Ryeo Wook lantang dengan sebelah tangan diletakan menyilang depan dadanya.

“Oppa.. itu seperti janji pernikahan..” Kekeh Yuen tapi di hiraukan Ryeo Wook.

“Dan kau Cho Yuen, apa kau bersedia menemani seorang Kim Ryeo Wook hingga menua nanti?”

Seketika tawa Yuen yang sedari tadi ditahannya kini meledak. “Ya! Aku butuh jawabanmu, kenapa malah tertawa huh?”

“Oppa.. kau itu lucu sekali. Aku hanya butuh satu kata ‘Saranghae’ kenapa malah jadi seperti janji pernikahan?”

“Sudah jawab saja.. palli.”

“Nde, nde. Baiklah, aku bersedia menemanimu hingga tua nanti.”
Ryeo Wook langsung mengecup kilat bibir pucat Yuen, membuat gadis itu seketika merona malu.

“Dan kau pun sudah resmi jadi tunanganku, lagi.”

“Mwo?”

Ryeo Wook mengangkat tangan Yuen yang tadi berada dalam genggamannya, di jari manis tangan kirinya sudah terpasang cincin polos berwarna putih dengan sedikit ukiran di atasnya, tersemat manis di sana. Sangat pas dengan jarinya.

“Oppa..” Lirih Yuen dengan mata berkaca-kaca. Ryeo Wook tersenyum lembut kemudian mengecup punggung tangannya.

“Saranghae Nona Cho! Neomu-neomu saranghae.”

“Nado saranghae Tuan Kim.”

Cinta bisa membuatmu merasakan segalanya, benci ataupun marah dalam waktu yang bersamaan.
Cinta juga bisa merubah segalanya. Dari benci jadi cinta.
Dan seberat apapun rintangan yang datang dalam kehidupan cintamu, jadikanlah itu sebagai acuan agar kau mempertahankan cintamu padanya.

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s