Just You, No More! (Sequel Pervert Husband)

wpid-tumblr_mbqvplmtfb1rx2wsno1_500.gif

Title : Jus You, No More!

Genre : Romance family

Lenght : Sequel

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung

Author : bluerose8692

“Kebahagiaanku adalah berada di sampingmu hingga maut menjemputku.”

Wanita dengan rambut sebahu itu tampak sibuk dengan berbagai makanan yang ada di meja. Seorang pria dengan pakaian ala koki menatap tidak percaya kejadian yang menurutnya langka ini.
Wanita itu, Kim Yoo Kyung–sepupunya–telah menghabiskan 5 porsi kepiting dan 2 porsi nasi goreng seafood.

Bukan hanya jumlah yang di makan oleh wanita itu yang membuatnya terkaget-kaget. Melainkan, bagaimana bisa wanita yang ia ketahui sejak kecil alergi terhadap seafood itu bisa menghabiskan makanan sebanyak itu tanpa gatal-gatal, yang biasa di alaminya jika memakan makanan seafood meskipun hanya sedikit.

“Yoo, kau–mengerikan.” Desis pria itu antara ngeri, takjub dan tidak habis pikir.

“Oppa, aku mau ice cream rasa stroberi dengan toping coklat,” ujar wanita itu tanpa mengindahkan kalimat sepupunya.

Ryeowook, pria itu menggelengkan kepalanya, tidak percaya jika sepupunya itu masih ingin makan.

Sebenarnya, terbuat dari apa perut wanita itu? Sudah makan begitu banyak kenapa masih ingin menambah ice cream?

“Oppa,” tegur wanita dengan perut membuncit ketika Ryeowook justru hanya diam menatapnya.

“Kau sungguh ingin menambah ice cream?”

Yoo Kyung mengangguk antusias, “Tentu.”

“Kau itu manusia atau bukan Yoo?”

“Apa maksud perkataanmu huh?” Sungut Yoo Kyung tersinggung.

“Kau itu baru makan seafood dan nasi goreng dalam porsi besar, tapi mau tambah ice cream?” Ulang Ryeowook dengan menggelengkan kepalanya.

“Waeyo? Apa ada yang salah?” Tanya Yoo Kyung polos.

Ryeowook menepuk keningnya, ‘Kenapa bocah ini begitu bodoh huh?’ gemas Ryeowook dalam hati.

“Oppa, sudahlah.., berikan saja dia ice cream.” Ucap seorang wanita dengan menggendong anak kecil berusia 3 tahunan.

“Annyeong, Hime-chan?” Sapa Yoo Kyung ketika gadis kecil dengan mata sipit itu mendekat ke arahnya, duduk di hadapannya dengan memegang boneka jerapah.

“Yoi gogo, Oba-chan…”

Senyum yang tadinya tersemat manis di bibir Yoo Kyung seketika pudar begitu mendengar gadis kecil itu menyebutnya ‘Bibi.’

“Mwoya? Hime-chan.. Not Oba, but Eonnie, arrachi?” Ujarnya dengan menekankan kedua suka kata, Oba dan Eonnie.

Ryeowook dan Michan–istrinya–terkekeh melihat Yoo Kyung kesal karena beradu mulut dengan anaknya, Kim Hime, 3 tahun 5 bulan.

“Eonnie?” Ulang Hime mengikuti Yoo Kyung. Wanita itu mengangguk, “Yup!”

“Bukan Oba?”

Yoo Kyung menggelengkan kepalanya keras, “Bukan.”

“Hajiman, Hime lebih suka memanggilmu ‘Oba’.” Ujar gadis kecil itu dengan senyum mengembang di bibir mungilnya.

“Kau ini, bukan Oba tapi Eonnie, Hime-chan.” Kekeh Yoo Kyung.

“Nan shirreo.” Hime menggelengkan kepala, menolak jika ia harus memanggil Yoo Kyung ‘Eonnie’.

Wanita itu mengembungkan pipinya, kesal karena ia harus kalah debat dengan anak kecil. Sejak ia hamil ia memang banyak perubahan dalam dirinya. Ia pun merasa aneh. Seperti hari ini, ia ingin memakan seafood yang jelas-jelas ia hindari.

“Jangan cemberut begitu, Kyung-ie.”

Mendengar suara pria dari arah belakangnya membuat wanita itu segera berbalik, “Oppa, kau tidak tahu jika Hime begitu menyebalkan,” gerutunya pada pria yang kini duduk di antara ia dan Hime.

Wang Zi menyerngit tidak mengerti, “Waeyo?”

“Dia memanggilku Oba, Oppa. Padahal aku sudah menyuruhnya memanggilku Eonnie dan ia tidak mau,” adunya dengan mimik kesal.

Wang Zi menoleh ke arah Hime yang juga menatapnya polos. Gadis kecil itu begitu manis dan menggemaskan. Hime, putri Ryeowook dan Michan adalah keturunan Jepang. Ayah Korea dan Ibu dari Jepang.

“Benarkah itu Hime-ya?”

“Hm,”

“Kenapa kau tidak mau?” Tanya Wang Zi dengan mimik ingin tahu alasan gadis kecil itu karena tidak mau memanggil Yoo Kyung ‘Eonnie’.

“Karena Oba sebentar lagi akan punya adik bayi, jadi lebih cocok dengan ‘Oba’ daripada ‘Eonnie’. ” Jelas gadis kecil itu dengan polosnya. Seketika itu juga café milik Ryeowook yang sepi karena memang hari libur itu dipenuhi dengan tawa, tapi tidak dengan Yoo Kyung yang mendengus kesal.

“YA!! Kalian semua… Berhenti tertawa!”

Pria yang duduk di dalam mobil hitam dengan plat nomor L 1506Y mencengkeram setir kemudi dengan keras. Rahangnya mengeras hingga terdengar gemeletuk dari dalam akibat gigi yang saling beradu.

“Berani sekali kau menyentuhnya,” geramnya ketika mata hitamnya melihat pemandangan menyebalkan, menurutnya.

Tapi kemudian raut wajahnya berubah seketika begitu ia melihat hal yang membuatnya menatap sayu. Senyum wanita itu.

“Kau terlihat begitu bahagia, Yoo. Secepat itukah kau melupakanku?” Gumamnya dengan lirih dan sendu.

Ia ingin sekali bertemu dengan wanita yang duduk di dalam café tidak jauh darinya, yang kini sedang tertawa dengan orang-orang yang ada di sana. Ia ingin memeluknya. Ia merindukan wanita itu. Kim Yoo Kyung.

Sejak ia mengatakan kata cerai beberapa bulan lalu, ia sangat menyesali tindakan gegabahnya. Namun ia tidak menarik kata-kata itu hingga Yoo Kyung datang dengan membawa akta cerai padanya. Wanita itu menyerahkan semua urusan itu padanya, karena Yoo Kyung tidak ingin di kira mengulur waktu.

Sejak itu Donghae ragu akan keputusannya. Ia mencintai wanita itu dari apapun. Ia tidak ingin kehilangan wanita itu dari hidupnya. Maka itu ia mengambil keputusan ini. Dan mengikuti wanita itu kemanapun ia pergi, secara diam-diam tentunya.

“Andaikan anak yang kau kandung itu anakku, aku–pasti bahagia sekali karena sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah.” Ia usap sudut matanya yang basah. “Andaikan aku dulu tidak egois, kau pasti masih bersamaku hingga sekarang.”

Ia menyesal.
Dan ini sudah terlambat.

Lamunannya buyar ketika ia melihat pria yang tadi duduk bersama wanitanya menggendong wanita itu menuju mobil dengan langkah cepat dan tergesa, yang di ikuti oleh Ryeowook dan keluarganya.

‘Ada apa?’ Batinnya cemas.

Ia segera memacu mobilnya untuk mengetahui jawaban yang memenuhi kepalanya. Ia harus tahu ada apa dengan wanita itu.

**

Donghae melangkah cepat menyusuri lorong panjang rumah sakit, ia segera menuju Ryeowook yang berdiri dengan gelisah. Pria itu terus menerus meremas tangan.

“Ryeowook-ah!”

Pria bertubuh kurus itu membalikkan badan. Ia cukup terkejut melihat Donghae ada di sini.

“Hyung!”

“Bagaimana keadaan Yoo Kyung? Dia kenapa? Apa dia baik-baik saja?” Cecarnya cemas.

“Dia–”

“Untuk apa kau ada di sini huh?” Sela Wang Zi yang baru keluar dari ruang pemeriksaan. Ia menatap garang ke arah Donghae.

“Tentu saja untuk mengetahui keadaan istriku.” Sahut Donghae tanpa sadar.

Wang Zi tersenyum sinis, “Istri? Kau masih menganggapnya istri setelah apa yang kau lakukan padanya beberapa bulan lalu huh?!”

Donghae diam. Ia baru tersadar dari ucapannya tadi.

“Kenapa diam?” Wang Zi mendengus melihat Donghae diam saja. Gamam sekali ia melihat pria seperti Donghae ini. Pecundang.

Bug!

“YA!” Jerit Ryeowook kaget karena tiba-tiba Wang Zi melayangkan pukulan telak mengenai wajah Donghae. Pria itu tidak sempat menghindar, sudut matanya lebam akibat terkena pukulan pria itu.

“Kau pecundang, Donghae-sshi.” Ucapnya penuh penekanan. Rasa bencinya semakin bertambah sekarang.

Kenapa di dunia ini ada orang sebodoh Donghae yang dengan mudahnya melepas wanita seperti Yoo Kyung?

“Maaf, apa di antara kalian ada yang bernama Donghae?”

Pertanyaan suster sontak membuat ke tiga pria itu terdiam. Wang Zi memilih pergi meninggalkan mereka. Ia perlu menjernihkan pikirannya kembali.

“Hyung, pergilah. Temani Yoo Kyung,” Ryeowook menepuk bahu Donghae.

“Tapi..,” Donghae terlihat ragu.

“Pergilah Hyung, temani Yoo Kyung berjuang melahirkan putra kalian.”

“Putraku?” Donghae menunjuk dirinya sendiri. Terkejut.

Ryeowook mengangguk kemudian tersenyum. “Nde, putramu. Temani dia berjuang, Hyung. Beri dia semangat untuk melahirkan putramu. Mereka butuh kehadiranmu.”

“Tuan?”

Donghae menatap suster dan Ryeowook bergantian.

“Baiklah,” putusnya dengan menarik nafas lega kemudian tersenyum.

“Kajja Tuan,” ajak suster itu untuk segera memasuki ruang bersalin.

Donghae memutuskan untuk mengikutinya setelah ia mendapat anggukkan dari Ryeowook.

**

“Yoo-ya..” Lirih Donghae memanggil Yoo Kyung yang sedang menarik nafas berulang kali.

Wanita itu menoleh. Titik keringat memenuhi seluruh wajahnya. Donghae segera menggenggam tangan Yoo Kyung erat.

“Oppa,” Yoo Kyung tidak menyangka saat ini akan tiba. Ia seperti bermimpi. Donghae ada di sini, bersamanya saat ia akan melahirkan putra mereka.

“Uljima,” Donghae mengusap pipi Yoo Kyung yang basah. Ia kecup kening Yoo Kyung untuk meyakinkan wanita itu bahwa ini bukan mimpi. Ini nyata. Ia ada bersamanya saat ini. Menemaninya untuk memperjuangan kehadiran putra pertama mereka.

“Terima kasih Oppa bersedia datang,” gumam Yoo Kyung di sela tangis harunya.

Pria itu menggeleng, “Ani. Akulah yang seharusnya berterimakasih padamu. Terima kasih karena kau akan melahirkan seorang putra untukku.”
Yoo Kyung tidak menyahut. Ia hanya mengangguk.

“Nyonya, ayo dorong lagi.” Suara dokter yang membantu Yoo Kyung melahirkan kembali terdengar. Donghae semakin menggenggam erat tangan Yoo Kyung, memberi dorongan dan kekuatan agar wanita itu kuat.

Setelah proses yang cukup lama akhirnya bayi mungil yang masih merah itu keluar dengan selamat dan tanpa kekurangan apapun. Yoo Kyung tersenyum haru. KIni ia telah seituhnya menjadi seorang wanita, ia sudah menjadi seorang Ibu mulai sekarang. Yoo Kyung tidak tahu harus mengungkapkan seperti apa rasa bahagia yang begitu meluap dalam dirinya.

Donghae yang melihat Yoo Kyung menitikkan air mata segerea mengusapnya lembut.

“Oppa…” Lirih Yoo Kyung dengan menatap Donghae yang tersenyum.

“Terima kasih, Yoo. Aku sangat bahagia sekali.” Donghae mengecup pelipis Yoo Kyung lembut membuat wanita itu memejamkan matanya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan kecupan lembut ini. Ia merindukannya, sangat. Dan ia sangat bersyukur pada Tuhan karena mengabulkan doanya, melahirkan di dampingi oleh Donghae.

“Gomawo, Oppa.” Bisik Yoo Kyung sebelum memejamkan mata. Ia merasa lelah dan mengantuk.

***

Senyum bahagia itu tersemat di bibir keduanya kala melihat bayi mungil dalam gendongan Yoo Kyung ketika merespon panggilan dari Donghae. Keluarga yang harmonis dan bahagia. Itulah yang dapat di tangkap dari pantulan kaca yang terpasang di pintu masuk kamar 1015.

“Diam, jangan dorong-dorong!” Gerutu seorang pria paruh baya dari balik pintu.

“Appa, aku juga ingin melihatnya..” Sela seorang wanita, yang di ketahui bernama Kim Dambi–Ibu Yoo Kyung.

Tuan Kim memberengut kesal karena di dorong oleh istrinya hingga ia bergeser ke samping.

“Yeobo, aku belum puas melihatnya.” Gerutu Tuan Kim kesal.

“Aigo.. Kenapa tidak masuk saja!” Seru seorang pria yang baru datang bersama seorang gadis cantik.
Seruan itu membuat para orang tua terkaget.

“Wang Zi!” Seru mereka bersamaan. Kesal. Karena acara mengintip moment bahagia anak mereka harus tertunda oleh kehadiran putra keluarga Shin.

“Mwoya Abeonim?” Wang Zi menatap polos para orang tua. Dan tanpa basi-basi ia langsung membuka pintu.

Semua orang yang ada di depan pintu mematung melihat pemandangan di depan mereka. Bahkan Wang Zi harus menutupi kedua mata gadis di sampingnya agar tidak melihat pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.

“Oppa, aku juga ingin lihat!”

Donghae dan Yoo Kyung sontak menjauhkan diri mereka, menoleh ke arah sumber suara.

“Kalian–” ucap keduanya menggantung. Yoo Kyung menunduk, tersenyum malu. Ia tidak bisa membalas tatapan mereka semua.

Mereka tertangkap basah sedang berciuman.

Ya ampun, betapa memalukannya. Apalagi di lihat oleh kedua orang tua mereka.

“Bisakah kalian lihat tempat jika ingin bermesraan huh?” Dengus Wang Zi kesal kemudian mengambil alih bayi mungil yang berada di gendongan Yoo Kyung. Ia timang bayi itu sayang.

“Jun, lucu yah..” Ujarnya menggendong bayi itu ke arah gadis cantik yang datang bersamanya tadi.

“Hm, kita juga bisa melahirkan bayi seperti ini, Oppa. Pasti.”

Wang Zi mengangguk, “Tentu saja. Bahkan lebih lucu dari Daehyun.”

Tuan Kim menghampiri putri dan menantunya. Ia tepuk bahu Donghae, “Hae-ya.. Abeoji harap kalian bisa bersama lagi. Bukan demi kami, tapi kalian terutama anak kalian, Daehyun. Dia membutuhkan kasih sayang kalian.” Ucap Tuan Kim dengan sangat berharap.

“Abeoji, tenang saja. Tidak perlu Abeoji suruh pun kami sudah memikirkannya. Lagi pula, kami tidak pernah bercerai.”

Seketika suasana menjadi tenang. Semua tertuju pada Donghae, termasuk Yoo Kyung.

“Apa maksudmu, Oppa?”

Donghae tersenyum, “Aku tidak pernah menceraikanmu, Yoo. Surat cerai yang kau berikan dulu, tidak pernah aku tanda tangini ataupun aku sentuh. Kau masih menjadi istri sahku secara hukum.”

Yoo Kyung menutup mulutnya dengan tangan. Terkejut. Bahkan semua orang pun terkejut mendengar kenyataan itu. Sejak Yoo Kyung menyerahkan surat perceraian yang di minta Donghae 9 bulan lalu, ia tidak pernah lagi menghubunginya. Ia takut Donghae justru semakin membencinya maka ia tidak pernah bertanya apapun, yang ia tahu mereka telah bercerai. Bahkan orang tua mereka pun sama dengannya.

Dan selama 9 bulan ini, Wang Zi lah yang berada di dekatnya selain keluarga. Pria itu lah yang berperan sebagai suami menggantikan Donghae saat ia mengidam. Wang Zi tidak pernah mengeluh jika ia di repotkan, malah dengan senang hati pria itu menawarkan kebaikkannya.

“Tunggu, jangan-jangan kau juga yang selama ini mengikutiku, Donghae-sshi?” Wang Zi menatap Donghae penuh tanya. Pria itu menggaruk tengkuknya, tersenyum kaku. Tentu itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Wang Zi.

“Pantas saja.. Dan kau mengira kami berhubungan kan?”

“Mianhae..”

“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku juga ingin. Tapi Yoo Kyung tidak mau, ia menolaknya secara halus. Aku bahkan begitu frustasi saat itu. Aku sudah melakukan sebisaku untuk menarik perhatiannya agar ia mau menerimaku. Tapi hasilnya nihil, sampai akhirnya ak-”

“Oh, jadi aku di jadikan pelarianmu huh?” Sela Juniel cepat. Gadis itu menatap sinis Wang Zi yang langsung terdiam kaku. “Kau menerimaku karena terpaksa begitu? Pasti karena bujukan Yoo Kyung Eonnie, ya kan?”

“Aniya!” Seru Wang Zi kalang kabut. Ia lupa jika ia bersama Juniel, kekasihnya sekarang.

Nyonya Lee segera mengambil alih cucunya agar Wang Zi dapat meredakan acara merajuk kekasihnya. “Kita bicara di luar, Jun.” Wang Zi langsung menarik lengan gadisnya menuju keluar. Ia harus menjelaskan yang sebenarnya. Bisa gawat jika Juniel sampai benar-benar marah.

“Kalian bicaralah, kami akan keluar sebentar.” Ucap Tuan Lee dengan mengisyaratkan pada yang lain untuk memberi waktu pada anak-anak mereka agar meyelesaikan masalahnya. Donghae mengangguk berterimakasih kemudian kembali memandang Yoo Kyung.

“Oppa, yang aku dengar ini benar kan?” Yoo Kyung sudah berkaca-kaca. Dalam satu kedipan mata air mata itu pasti langsung jatuh.

“Maafkan aku, Yoo.” Donghae segera memeluk wanita yang ternyata hingga saat ini masih menjadi istrinya.

“Maafkan kebodohanku dan tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Biarkan aku menjaga dan mencintai kalian,” Donghae tatap istrinya lembut.

“Oppa, ak-ku…” Yoo Kyung tidak bisa bicara dengan lancar. Benarkah semua ini? Benarkah ia masih menjadi istri dari pria yang saat ini ada di hadapannya?

“Uljimayo..” Yoo Kyung membalas pelukan Donghae erat.

“Bagaimana Yoo? Kau mau kan?”

Yoo Kyung tidak sanggup bicara lagi. Ia hanya mampu mengangguk sebagai jawaban. Rasanya ini seperti mimpi. Ia bisa bersama lagi dengan orang yang di kasihinya, ia sangat bahagia. Mereka akan memulai dari awal lagi, membangun keluarga kecil yang bahagia.

“Terima kasih, istriku.”

“Aku sangat mencintamu, Oppa.” Ujar Yoo Kyung dengan menatap lurus Donghae yang sedang mengusap wajahnya. Pria itu tersenyum. senyum yang sangat Yoo Kyung rindukan. Donghae sedikit memajukan wajahnya, “Dan aku lebih mencintaimu juga Daehyun.” bisiknya sebelum mengecap bibir merah Yoo Kyung yang bergetar karena menangis.

‘Aku berjanji tidak akan lagi melakukan kebodohan seperti ini, melepasmu. Tidak akan pernah. Kalian lebih berharga dari apapun di dunia ini. Saranghanika.’

Finish!

15 comments

  1. Ini sequelnya pervert husband ya?
    Kok semuanya sama, cast dan alurnya? Iya ya?
    Anggap ajalah iyaaaaaaaaa walupun ficlet tp seruuuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s