Mommy For Daddy Chapter 3

wpid-PicsArt_1388236780867.jpg

Title : Mommy For Daddy Chapter 3

Genre : Family, Romance

Lenght : Chapter

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Raeann / Lee Yookyung, Lee Haera

Author : bluerose8692

‘Jatuh cinta padamu adalah perasaan yang tidak bisa untuk aku jelaskan.’Read More

“Oppa…” Yookyung mematung ditempatnya berdiri.

“Ann.. Kau–Raeann kan?” Pria tampan itu segera menghampiri Yookyung yang masih mematung ditempatnya. Di peluknya erat gadis itu, yang kini tengah terisak dalam pelukan Kim Jaejong–Oppanya.

“Gadis nakal, kau tahu, Oppa sangat merindukanmu.” Bisik Jaejong dengan menahan tangis.

8 tahun tidak bertemu dengan sang adik, sungguh membuatnya sangat merindukan gadis itu. Kim Raeann. Adiknya yang manja, jika mereka sedang berdua. Adik kecilnya yang sangat ia sayangi. Kini mereka di pertemukan kembali setelah cukup lama berpisah.

“Sedang apa kau disini hm?” Di tatapnya Yookyung penuh tanya. Gadis itu masih menangis.

“A–aku…”

“Kita bicara di rumah saja. Appa pasti senang bisa bertemu lagi denganmu.” Jaejong segera menarik Yookyung menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh darinya. Dan Yookyung hanya bisa mengikuti langkah Jaejong yang terus menariknya.

¤¤¤

Gadis cilik yang mengenakan piyama tidur warna pink dengan gambar Winnie The Pooh itu mengerucutkan bibirnya sebal. Kadang bibir mungilnya ikut berkomat-kamit tanpa suara, mengikuti sang Ayah yang sedang berbicara sejak beberapa menit lalu.

“Haera…” Tegur Donghae yang tahu kelakuan putri kecilnya sedang mengikuti gaya bicaranya tanpa suara.

“Nde, Appa-ya?” Sahut gadis kecil itu dengan senyum manis.

Donghae menghela nafas dalam sebelum mengambil tempat duduk di samping Haera di ranjang kecilnya.

“Kau dengar tidak perkataan Appa tadi hm?”

“Nde, dengar.”

“Jadi, kau mau berjanji untuk tidak membuat Appa khawatir lagi kan? Jangan pergi dengan orang yang tidak kau kenal, biarpun dia bilang dia itu teman Appa, arrachi?” Donghae mengacungkan jari kelingkingnya.

“Waeyo, Appa? Eonnie itu baik sekali. Lagipula, Eonnie kenal dengan Appa dan Eomma, kenapa tidak boleh?” Haera merasa Donghae sangat berlebihan karena melarangnya pergi bersama Yookyung jika gadis itu mengajaknya pergi lagi.

“Karena Appa tidak tahu siapa ‘Eonnie’ yang kau maksud itu. Bisa saja dia itu orang jahat yang pura-pura menjadi teman Appa lalu menculikmu, kau mengerti? Appa takut kau kenapa-kenapa sayang,” di tatapnya Haera dengan sendu. Di elusnya rambut panjang Haera dengan lembut. Ia sangat takut jika hal buruk itu terjadi, Haera di culik ataupun hilang. Ia tidak tahu apa ia masih bisa bertahan jika itu terjadi. Yang jelas itu buruk. Dan ia tidak mau itu.

“Gundae, Haera yakin Eonnie orang yang baik Appa. Namanya Yookyung Eonnie.”

“Appa tidak kenal nama itu, Haera-ya. Pokoknya, kau tidak boleh bertemu lagi dengannya, arrachi? Terlihat baik belum tentu memiliki niat yang baik juga.”

Haera hanya menatap Donghae tidak mengerti. Tentu. Bagaimana mungkin anak usia 5 tahun dapat memahami kalimat seperti itu, ia hanya anak-anak. Yang ia tahu, hanya bersenang-senang, bermain bersama teman sebaya ataupun keluarganya.

“Sudah kau istirahat saja ne? Ini sudah malam, besok kau harus ke sekolah, ya kan?” Donghae memilih menyudahi memberi nasehat pada Haera. Mau bagaimana ia menjelaskannya pun Haera masih belum bisa mengerti atau memahaminya. Ia hanya anak-anak. Maka lebih baik ia sudahi saja.

Haera mengangguk kecil lalu menguap. Gadis kecil itu menaiki tempat tidur, berbaring lalu Donghae menyelimutinya.

“Jalja, Appa.”

Donghae mengecup kening Haera, “Jalja. Mimpi indah hm.” Haera mengangguk kecil kemudian memejamkan mata, siap memasuki alam mimpi.

Donghae duduk di sisi ranjang dengan membenarkan selimut, menarik selimut hingga setinggi bahu Haera.

“Jangan tinggalkan Appa sayang. Kau tahu, Appa sangat menyayangimu lebih dari apapun.” Di kecupnya sekali lagi kening Haera sebelum beranjak bangun, mematikan lampu utama dan keluar kamar.

¤¤¤

Awal musim semi kembali dirasakan oleh Yookyung setelah 8 tahun. Gadis itu tersenyum begitu melihat kemukus bunga sakura memenuhi ranting pohon.

“Oppa…” Gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah Jaejong yang duduk di pavilion di temani secangkir teh hangat.

“Nde?”

“Sejak kapan Appa menanam pohon ini? Seingatku dulu, disini tidak ada pohon sakura.” Yookyung berjalan mengelilingi halaman rumahnya yang cukup luas. Banyak sekali bunga-bunga juga tanaman hias yang tertanam disana, baik itu di tanah ataupun dalam wadah.

“Eum.., kalau tidak salah setelah beberapa bulan kalian pergi. Appa bilang, karena kau dan Eomma sangat suka bunga sakura maka Appa membeli satu dan menanamnya disini, agar selalu ingat kalian.”

Langkah Yookyung terhenti. Gadis itu menunduk, “Kalau saling mencintai kenapa harus berpisah.” Lirihnya sedih. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran orangtuanya. Saling mencintai satu sama lain, tapi kenapa memilih berpisah. Bukankah itu justru saling menyakiti?

Bahkan hingga saat ini, Ayahnya, Kim Joo Hyun, belum juga menikah lagi.

‘Appa tidak bisa menemukan pengganti Eomma kalian.’

Itulah kalimat yang ia dengar dari Ayahnya semalam ketika ia tanyai kenapa Ayahnya belum menikah lagi.

Mengenal seseorang lebih mudah daripada menghapusnya dari ingatan.

Mencintai lebih mudah daripada membencinya.

Ya, mungkin itulah gambaran yang cocok untuk menggambarkan sosok Ayahnya, yang hingga saat ini masih mencintai Ibunya.

Jaejong yang melihat Yookyung diam saja segera menghampiri gadis itu.

“Ada apa, Ann?”

Yookyung mendongak, menatap Jaejong yang terlihat khawatir. Ia tersenyum, “Ani. Aku hanya ingat masa lalu. Dimana kita sering bermain disini, di awasi Appa dan Eomma yang duduk di pavilion.”

Kenangan manis tentang masa kecilnya kembali berputar di kepala, bagaikan sebuah film yang di putar ulang.

Jaejong mengusap pipi Yookyung yang basah, airmatanya jatuh tanpa bisa di cegah. Jaejong tahu bagaimana perasaan Yookyung karena ia pun merasakannya. Ia pun sama, ingin kembali mengulang masa lalu.

“Uljima,” di tariknya Yookyung dalam dekapan hangatnya, memeluk erat gadis yang saat ini terisak halus.

“Kenapa mereka harus berpisah Oppa? Kenapa?” Isak Yookyung semakin menjadi, tentu saja Jaejong semakin mengeratkan pelukannya. Ini adalah cara yang biasa ia lakukan dulu jika Yookyung menangis.

Sejujurnya, Yookyung maupun Jaejong sangat menyayangkan keputusan orangtuanya yang memilih berpisah.
Bahkan hingga saat ini, mereka  masih tidak mengerti alasan apa yang mendasari untuk keduanya memilih jalan berpisah.

Tapi Yookyung maupun Jaejong tidak punya hak untuk mengatur orangtuanya, memaksakan kehendak mereka untuk tetap bersama.

*

“Ann…” Yookyung yang sedang duduk di sofa panjang dengan berselonjor kaki serta membaca novel menatap Ayahnya yang berdiri tidak jauh darinya.

Setelah gadis itu menangis tadi, Jaejong mengajaknya jalan-jalan ke toko buku untuk menghilangkan kesedihan adiknya. Dan seperti yang sudah-sudah jika Yookyung seketika langsung berbinar begitu tahu kemana mereka pergi. Langsung saja Yookyung meninggalkannya di pintu masuk toko dan langsung menjelajahi isi toko, mencari buku yang ia suka.

“Ye?”

“Boleh Appa bertanya?” Pria paruh baya dengan sedikit kerut di dahi dan sekitar mata berjalan mendekat ke arah putrinya.

“Tentu Appa. Mau bertanya apa?” Yookyung memperbaiki posisi duduknya agar Ayahnya bisa duduk di sampingnya.

Tuan Kim tampak ragu untuk mengutarakan apa yang ada dalam benaknya.

Yookyung menyerngit heran, “Waeseoyo Appa?”

Tuan Kim berdehem sebentar kemudian, “Sebenarnya apa alasanmu datang kemari?”

Yookyung semakin tidak mengerti dengan kalimat Ayahnya. “Alasan?”

“Nde, alasan. Tadi, Eommamu menelpon dan menanyakan apa kau datang ke rumah apa tidak. Appa bilang, kau ada disini sejak semalam.”

“Lalu?”

“Eommamu mengatakan jika Appa harus membantumu. Appa tidak mengerti maksudnya, jadi Appa tanyakan padamu. Apa alasanmu datang kemari? Apa kau sedang ada masalah jadi butuh bantuan Appa? Dan bantuan apa yang kau butuhkan dari Appa.”

Yookyung diam, bahkan tanpa sadar ia menahan nafasnya selama beberapa saat.

Ibunya menelpon dan meminta Ayahnya untuk membantunya.

Ia bingung.

Membantu apa?
Apa yang harus dilakukan Ayahnya untuk membantunya?

“A–ku…”

“Bantu Raeann mendapatkan cinta sejatinya Appa.”

“Nde?” Sahut Yookyung serta Tuan Kim secara bersamaan.

Jaejong yang baru sampai di ruang keluarga segera menghampiri Ayah dan adiknya. Pria tampan itu tersenyum, “Bantu Ann mendapatkan cintanya, belahan jiwanya Appa.”

“Maksudnya calon suami begitu, Jae-ah?” Tuan Kim menatap putranya penuh tanya. Jaejong mengangguk.
“Nde, Appa.”

“Jadi kau ingin Appa car…”

“Amnida,” sela Yookyung cepat. Gadis itu menggeleng keras. “Aku sudah bertunangan, Appa, Oppa. Aku tidak butuh calon suami lagi,”

“Tapi Eomma bilang, pertunanganmu sudah Eomma batalkan.” Sahut Jaejong santai. Yookyung langsung melebarkan mata bulatnya.

“Mwoya?!” Desisnya tidak percaya.

“Nde, aku tadi habis bicara dengan Eomma, dan Eomma menceritakan semuanya padaku.” Jaejong mendekati Yookyung, berdiri di depan gadis itu yang masih terkejut.

Ia terkekeh kecil, “Dasar gadis bodoh. Kau mencintai Donghae sejak dulu tapi tidak mau mengatakannya. Pabonika.” Di dorongnya kening Yookyung hingga gadis itu memundurkan kepalanya ke belakang.

“Oppa!” Ditepisnya tangan Jaejong dari keningnya.

“Ann, jadi kau menyukai Donghae?” Lirih Tuan Kim tidak percaya.

Yookyung menundukkan arah pandangnya, tidak menjawab pertanyaan sang Ayah.

“Tidak usah ditanyai lagi Appa, itu sudah jelas.”

Yookyung semakin kehilangan kata-kata, tidak bisa membalas kalimat Jaejong.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan agar putri Appa mendapatkan cinta sejatinya?” Tanya Tuan Kim memandang putranya yang tersenyum penuh arti.

“Jangan melakukan apapun Appa, Oppa. Awas saja jika kalian melakukan hal yang memalukan.” Tegas Yookyung buru-buru. Ia sangat paranoid dengan Ayah dan kakaknya ini. Karena mereka berdua sangatlah kompak. Tentu ia tidak ingin ada hal janggal yang dilakukan oleh mereka.

Dan ia juga kepikiran kenapa ibunya membatalkan pertunangan itu tanpa persetujuan darinya.

Ini perlu dipertanyakan.

Jika ini benar, lalu bagaimana dengan janjinya yang ingin memberikan kesempatan bagi pria yang sudah dengan sabar menunggunya?

Ia tidak mau dianggap gadis yang suka mempermainkan perasaan seorang pria.

Ia harus menelpon Ibunya sekarang.
Ya, harus.

¤¤¤

Haera tersenyum ceria ketika ia melihat Yookyung yang berdiri di luar gerbang dan melambaikan tangannya dengan senyum.
Haera semakin mempercepat langkahnya, bahkan sampai berlari kecil agar cepat sampai dihadapan Yookyung yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.

“Eonnie!”

Yookyung tertawa begitu Haera membalas pelukannya dengan memeluknya erat serta memanggilnya ‘Eonnie’. Itu berarti Haera masih ingat padanya.

“Bagaimana kabarmu, Haera-ya? Baik kan?”

Haera mengangguk dengan semangat. “Baik, Eonnie. Bogoshipo,” dipeluknya lagi Yookyung oleh Haera. Yookyung membalas dengan mengelus lembut rambut panjang Haera yang dibiarkan tergerai.

“Nado, Haera-ya.”

Benar, Yookyung pun sama dengan Haera. Ia merindukan gadis kecil nan manis itu, putri dari Mina dan Donghae.
Entah kenapa ia merasa begitu mudah untuk berkomunikasi dengan Haera di hari pertama bertemu, bahkan Haera mau saja ikut dengannya, tidak takut atau berpikiran jika ia adalah orang jahat.

“Kau sudah selesai belajar kan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan di taman lalu beli ice cream?” Yookyung merasa ingin lebih dekat dengan Haera. Maka, ia mengajaknya jalan-jalan.

Haera tampak berbinar ketika mendengar ajakan Yookyung, tapi kemudian gadis kecil itu menunduk sedih.

“Haera tidak bisa, Eonnie. Mianhamnida.”

“Eh, waeyo?” Yookyung terkejut dengan jawaban Haera. Ia pikir jika Haera akan langsung mengiyakan ajakannya, seperti saat pertama bertemu beberapa hari lalu.

“Itu karena aku yang memintanya agar tidak menerima ajakanmu,”

Yookyung seketika memutar arah pandangnya ke belakang. Gadis itu sontak berdiri dari posisi setengah jongkoknya. Mata bulat dengan iris coklat madu itu melebar sempurna, bahkan ia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika mengenali siapa pria yang berdiri beberapa langkah darinya.

Pria dengan mata sayu adalah ciri khas darinya yang Yookyung ingat selain senyum dari bibir tipisnya.

Pria tampan yang selalu membuat jantungnya tidak bisa berdetak normal jika sedang bersamanya.

Ia sahabat sekaligus cinta pertamanya.

Lee Donghae.

“Donghae Oppa…”

“Rae–ann?”

Yookyung mematung ditempatnya berdiri begitu pula Donghae. Keduanya saling berpandangan satu sama lain. Haera yang melihat keduanya saling diam memandang keduanya secara bergantian, bingung.

“Appa!”

Donghae mengerjapkan matanya cepat beberapa kali, pria itu menoleh ke arah Haera yang sudah ada disampingnya, menggenggam tangan kirinya.

“Nde?”

“Appa kenapa?”

Donghae bingung, “Eum…” ia menolehkan tatapannya ke arah depan, mencari gadis yang mirip Raeann. Gadis berambut panjang bergelombang yang tadi bersama putrinya, gadis itu masih disana, berdiri dengan menundukkan kepala.

“Haera-ya, apa…, dia yang kau sebut ‘Eonnie’?” Donghae kembali menatap putrinya. Haera mengangguk kemudian menarik tangan Donghae untuk mendekat ke arah Yookyung.

“Eonnie,” Haera melepaskan genggaman tangannya dari Donghae, berganti menjadi menggenggam tangan Yookyung. Gadis itu mengangkat kepalanya kemudian tersenyum.

“Ye?”

“Appa, ini Eonnie yang waktu itu Haera ceritakan.” Haera memperkenalkan Yookyung pada Donghae. Gadis itu menatap Donghae dengan ragu, senang, takut dan perasaan lain. Perasaannya berkecamuk jadi satu. Entah ia harus merasakan rasa yang bagaimana.

Yookyung memantapkan hatinya ketika akan menguluran tangannya, “Annyeong haseyo, aku Lee Yookyung. Senang bertemu Anda Tuan Lee,” Yookyung tersenyum biasa agar tidak terlihat begitu gugup.

Donghae masih bergeming, menatap wajah ayu gadis itu dan tangan kanan yang terulur padanya bergantian.

“Yookyung?” Ulang Donghae lirih.

“Ye, aku Lee Yookyung,”

“Kau… Lee Yookyung? Kau sungguh Lee Yookyung?”

Wajah Yookyung seketika berubah pucat ketika Donghae maju satu langkah, pria itu terus menatapnya dengan tatapan yang selalu Yookyung ingat. Mata sayu dengan iris hitam pekat, ciri khas seorang Lee Donghae yang dikenal Yookyung.

“Kau–Raeann?”

“N–nde? A–pa yang Tuan bicarakan?” Yookyung sebisa mungkin mengontrol suaranya agar terdengar biasa.

Donghae kembali maju selangkah dan tanpa berkata lagi, pria itu segera mendekap erat gadis itu.

“Gadis bodoh, kau licik sekali huh. Pergi dan datang seenakmu,”

“Tu–an, tapi aku bukan Raeann, aku–”

“Mwo?”

Donghae langsung melepaskan pelukannya dan menatap Yookyung dengan bingung, “Kau bukan Raeann?” Yookyung mengangguk kaku.

“Ye, aku Lee Yookyung.”

Donghae menggelengkan kepalanya keras, ia tidak percaya jika gadis ini bukanlah Raeann, sahabatnya yang telah lama menghilang. Jika dilihat dari sisi manapun gadis ini sangat mirip dengan Raeann. Tapi kenapa gadis ini mengaku bernama Lee Yookyung, bukan Kim Raeann?

“Gotjimal,”

“Amnida, aku tidak berbohong.” Yookyung susah payah mengucapkannya, itu sangatlah sulit baginya. Bahkan kini tenggorokannya terasa tercekat. “Aku bukan Raeann, Tuan.”

Donghae mundur beberapa langkah. Senyum di bibir tipisnya yang sempat terlihat kini menghilang. Haera yang melihat Ayahnya berubah murung langsung mendekatinya, menarik ujung jas abu-abu yang dikenakan Donghae.

“Appa,”

“Ye?” Dengan enggan Donghae menoleh ke arah putri kecilnya yang memandangnya bingung.

“Appa kenal Yookyung Eonnie?”

Donghae kembali memandang Yookyung yang tersenyum canggung kearahnya lalu kembali menatap Haera yang menunggu jawabannya. Ia merendahkan posisinya agar sejajar dengan Haera. Dielusnya kepala Haera sayang, “Ani, Appa salah mengenali orang. Appa pikir dia teman Appa, tapi sepertinya bukan.” Donghae kembali memandang Yookyung ketika mengucapkan kata terakhir, membuat gadis itu menyunggingkan seulas senyum tipis.

‘Mianhata, Oppa. Jeongmal.’

“Yookyung-sii, mohon maafkan aku karena telah lancang tadi,” Donghae menundukkan badannya dalam.

“Gwaenchana Tuan..”

“Donghae, Lee Donghae.” Donghae mengulurkan tangan kanannya yang langsung disambut oleh Yookyung.

“Ah, nde. Tuan Donghae-sii.”

“Donghae, cukup itu saja.”

Yookyung mengangguk mengerti. Gadis itu terus saja memperhatikan Donghae yang sedang berbicara dengan Haera, sesekali Donghae menggeleng tidak setuju ketika Haera mengajukan beberapa permintaan.

“Haera tidak mau tahu, pokoknya Appa lusa harus datang ke sekolah.” Rajuk Haera dengan menghentakkan kakinya kesal. Bahkan gadis kecil itu hampir menangis ketika Donghae akan membuka mulutnya untuk bicara.

“Eonnie…” Haera langsung mendekat kearah Yookyung dan menarik tangannya. Gadis itu tentu saja langsung mengelus kepala Haera sayang.

“Hm?”

“Appa jahat, Eonnie. Appa tidak sayang Haera,” adunya dengan wajah sedih dan hampir menangis.
Yookyung berlutut untuk menyamakan posisi mereka, Haera hanya setinggi pinggangnya.
Ditangkupnya wajah Haera dengan kedua tangannya, ia tersenyum lembut.

“Memang ada apa, hm?”

“Besok di sekolah ada acara dan Haera ingin Appa datang melihat Haera menyanyi bersama teman-teman. Tapi Appa bilang tidak bisa, Haera sedih, Eonnie. Appa naeppeun!” Ungkap Haera dengan menangis.

“Ya! Appa tidak bilang kalau Appa tidak bisa, Ra-ya. Appa bilang, akan Appa usahakan.” Sela Donghae, meralat kalimat putrinya.

Semalam, Haera memang mengatakannya dan ia menjawab, ‘Akan Appa usahakan.’ bukannya tidak bisa. Ck.

“Kalau Appa tidak bisa, tidak apa-apa. Masih ada Eonnie yang akan melihat Haera menyanyi. Uljima ne?”

“Tapi Appa tidak pernah datang ke sekolah jika di sekolah ada acara, Eonnie. Hanya Halmeoni yang datang melihat Haera. Appa jahat! Appa tidak sayang Haera!”

“Mwo?! Bu–kan begitu sayang. Tentu saja Appa sayang padamu.” Donghae mendekat ke arah Haera dan juga Yookyung. Kalang kabut mencari alasan.

“Kau ini bicara apa? Tentu saja Appa sangat sayang padamu, Ra-ya.” Lanjut Donghae panik. Ia sangat menyanyangi putrinya lebih dari apapun di dunia ini, tentu. Maka ia akan lakukan apapun untuk membuat Haera bahagia.
Namun sepertinya Haera benar, jika akhir-akhir ini ia begitu sibuk mengurusi pekerjaannya sehingga jarang menemani atau mengurusi keperluan malaikat kecilnya. Tugas itu ia serahkan pada ibunya, Nyonya Lee.

“Appa tidak sayang Haera!” Tangis Haera justru semakin kencang dan Yookyung panik.

“Uljima ne?” Yookyung mengusap kedua pipi chubby Haera yang basah secara perlahan. Gadis itu tersenyum begitu lembut. Terlihat sekali jika gadis itu sangat menyanyangi Haera. Dan Donghae dapat melihat itu. Tatapan dan gerak gerik gadis itu sangat mencerminkan betapa keibuannya Yookyung.

Dan yang mengganggu pikirannya, benarkah gadis ini bukan Kim Raeann?
Kenapa semua yang ada dalam diri gadis ini begitu mirip dengan Raeann?

Kemungkinannya hanya satu, jika Raeann mempunyai saudara kembar.
Tapi itu tidak mungkin. Karena setahunya, Raeann tidak mempunyai saudara perempuan, hanya ada laki-laki, kakaknya–Kim Jaejong.

Jadi, siapa sebenarnya gadis ini?

Itulah yang membuat pria tampan itu terus memperhatikan Yookyung yang tengah berusaha membujuk putri kecilnya agar berhenti menangis.

“Siapa kau sebenarnya?”

◎◎◎

Semburat merah kekuningan terlukis indah di langit barat. Sepoi angin perlahan bertiup lembut. Gemerisik dedaunan yang saling bergesekan akibat tertiup angin pun sayup-sayup terdengar. Sore hari di musim semi yang indah.

Pria yang duduk di kursi panjang yang ada di taman itu terus memperhatikan kedua gadis yang berbeda usia; Yookyung dan Haera, yang saat ini tengah bermain pasir bersama, tertawa bersama dan mereka terlihat begitu akrab. Layaknya kedekatan ibu dan anak.

Donghae tidak mengerti dan terus bertanya-tanya. Siapa gadis itu?

Pertanyaan itu selalu memenuhi benak dan pikirannya. Ia sangat ingin tahu siapa gadis bermata bulat dengan iris coklat madu itu sebenarnya. Seperti apa gadis itu. Penasaran. Sangat.

“Appa, lihat!”

Donghae hanya melambaikan tangannya dan tersenyum singkat ketika Haera menunjukkan istana pasir yang berhasil dibuatnya.

“Siapa kau sebenarnya, Yookyung-ssi? Kenapa kau begitu mirip dengan Raeann? Dan kenapa aku begitu yakin jika kau adalah Raeann.” Gumam Donghae dengan terus memperhatikan Yookyung yang sedang tertawa.

“Jika kau benar Raeann, kenapa kau tidak mau mengakuinya? Kenapa kau justru memakai nama lain?” Lagi, Donghae kembali bergumam.

Ia amat sangat penasaran dengan Yookyung. Sejak pertemuan pertama mereka beberapa hari lalu, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia terus memikirkan siapa sebenarnya gadis itu.

Ia bahkan sampai bertanya pada Kyuhyun dan Sungmin mengenai Raeann kalau-kalau gadis itu mempunyai saudara kembar.

“Kau ini ada-ada saja, Hae-ya. Sudah tahu sendiri kalau Raeann tidak mempunyai saudara kembar. Ia hanya punya Oppa, Jaejong Hyung. Kau lupa apa amnesia dadakan hm?”

Ia ingat kalimat Sungmin waktu ia bertanya kemungkinan itu. Sungmin justru menertawakannya. Dan tidak beda jauh dengan respon Kyuhyun.

“Sepertinya Hyung berhalusinasi sehingga kau mimpi bertemu Raeann. Dia tidak mungkin disini, Hyung. Dia di Indonesia. Kau ini…”

Donghae mengusap
wajahnya frustasi. Ini sangat mengganggu pikirannya. Tapi bukan hanya dia yang mempunyai pikiran jika Yookyung adalah Raeann. Ibunya pun berpikiran sama ketika ia memperkenalkan keduanya kemarin lusa, saat Yookyung diajak ke rumahnya, atas paksaan Haera tentunya.

“Kau kenapa Donghae-ssi?”

Donghae yang tadinya menutup wajahnya dengan kedua tangan sontak menurunkan tangannya. “Ani, gwaenchana,” ia tersenyum untuk meyakinkan jika ia baik-baik saja.

Yookyung tampak menyerngit, “Kau yakin? Tapi jika diperhatikan, kau tampak kurang sehat. Apa kau kurang istirahat? Tidur mungkin?” Tebak Yookyung asal. Donghae memang terlihat tidak baik, ada lingkaran hitam di sekitar mata teduhnya.

Pria itu tersenyum, “Kau mengkhawatirkanku?”

Yookyung mencibir mendengar nada menggoda Donghae, “Aku hanya bertanya. Lagipula, siapa yang mengkhawatirkanmu.” Yookyung memalingkan wajahnya ke samping. Senyum Donghae semakin lebar. Ia tidak tahu mengapa dan ada apa dengan dirinya saat ini.

Ia baru mengenal Yookyung kurang dari seminggu, tapi ia merasa jika ia sudah begitu dekat dengan gadis ini. Aneh bukan?

Atau karena Yookyung mirip Raeann sehingga ia menganggap jika Yookyung adalah Raeann?

“Kenapa aku merasa kau begitu familiar, Yookyung-ssi.”

“Nde? Maksudmu?” Yookyung menyerngit tidak mengerti.

“Kau seperti–”

“Raeann?” Sela Yookyung cepat. Donghae mengangguk mengiyakan.

“Kenapa kau masih berpikir jika aku ini Raeann? Apa gadis itu sangat mirip denganku?” Yookyung berpura-pura ingin tahu. Sejujurnya ia sangat cemas jika Donghae sudah mengetahui semuanya.

Bisa saja kan kalau ada yang memberitahunya bahwa ia adalah Raeann. Sungmin, Kyuhyun, Jaejong atau Appanya yang memberitahukan ini padanya mungkin.

“Ya tidak semuanya, 80% kau memang mirip dengannya.”

“Bisa aku tahu seperti apa itu Raeann? Gadis yang kau sebut itu?” Yookyung memasang wajah ingin tahu dengan tatapan berbinar.

Ia ingin tahu seperti apa sosok Raeann di mata Donghae selama ini. Karena bagaimanapun, ia tidak tahu seperti apa pikiran Donghae terhadap dirinya selama mereka berteman. Bisa saja kan baik di luar tapi di dalam membencinya? Siapa yang tahu.

Donghae mengalihkan tatapan matanya menjadi memandang Haera yang sibuk membuat castle-castle kecil disamping castle besar.

“Raeann, dia–sahabat yang baik dan menyenangkan.” Donghae memulai bicara, mengingat memori-memori yang ia simpan dengan baik di otaknya tentang sosok Raeann yang ia kenal selama ±17 tahun.

Donghae menceritakan semua yang ia ingat tentangnya juga Raeann, tak lupa Mina–istrinya.
Yookyung sempat menahan nafasnya ketika Donghae mengatakan jika ia sangat mencintai gadis itu dan tidak sanggup kehilangannya. Sesak rasanya. Bahkan tenggorokannya serasa tercekat.

“Tapi kini aku membencinya.”

Deg

Yookyung terkejut. Gadis itu menatap Donghae tanpa kedip. Dunianya seperti berhenti berputar saat ini juga ketika kata ‘aku membencinya’ terucap dari bibir Donghae.

Benarkah pria ini membencinya sekarang?

“Kau tahu kenapa Yookyung-ssi?” Donghae menoleh kearah Yookyung yang menatap dengan raut terkejut tercetak jelas di wajah ayu gadis itu.

“Karena ia membohongiku! Ia pergi tanpa pamit lebih dulu padaku, hanya meninggalkan sebuah surat yang di titipkan pada Eommaku. Ia hilang, ia akan menghubungiku secepatnya setelah sampai di negara Ibunya, tapi apa…, gadis itu tidak pernah menghubungiku sama sekali hingga kini. Aku kecewa padanya. Dan kau tahu Yookyung-ssi…” Donghae kembali menatap Yookyung. “Aku benci dibohongi. Aku tidak akan memaafkan orang yang telah membohongiku dan mengecewakanku. Aku tidak suka orang seperti itu. Orang seperti itu tidak bisa di percaya.”

“Begitu–kah…” Bibir Yookyung terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata itu keluar dari bibirnya.

Kepalanya dipenuhi kalimat terakhir Donghae.

‘Aku benci dibohongi. Dan aku tidak akan memaafkan orang yang telah membohongiku dan mengecewakanku.’

“Yoo…, neo gwaenchanayo?” Donghae melambaikan tangannya di depan wajah Yookyung karena gadis itu melamun.

“Eh–”

“Kau baik-baik saja?” Tanya Donghae karena Yookyung tampak pucat.

“Hm,” gadis itu tersenyum tipis. “Donghae-ssi…”

“Ya?”

“Seandainya gadis itu datang padamu dan meminta maaf, apa kau akan memaafkannya?” Yookyung memandang Donghae ragu namun tidak ia pungkiri jika ia merasa takut kalau Donghae tidak akan memaafkannya. Ia takut.

Donghae berpikir sejenak, “Eum–tergantung.”

“Huh?”

“Ya, jika Raeann datang padaku dan meminta maaf karena telah membuatku kecewa, mungkin aku akan memaafkannya. Biar bagaimanapun, ia tetap sahabat terbaikku.” Donghae tersenyum, “Tapi itu sepertinya tidak mungkin kan? Ia ada di Indonesia. Dan aku tidak tahu ia ada di Indonesia bagian mana, karena Indonesia itu luas dan besar. Jika aku tahu ia ada dimana, maka aku akan menyusulnya dan mengatakan jika aku–”

“Appa! Eonnie! Kemari.” Seruan Haera membuat Donghae menghentikan kalimatnya.

“Nde, Appa kesana!” Donghae beralih ke arah Yookyung yang menunggu lanjutan kalimatnya. “Aku marah padanya, dan aku akan menghukumnya.” Setelah mengucapkan itu Donghae segera meninggalkan Yookyung yang termangu menatap kepergiannya. Gadis itu tersenyum miris.

“Jadi kau membenciku, Oppa? Lalu, bagaimana jika kau tahu kalau sekarang ini aku membohongimu lagi? Apa kau akan semakin membenciku? Lalu tidak mau bertemu denganku lagi?” Lirih gadis itu dengan menunduk sedih. Ingin sekali Yookyung menangis saat itu juga. Ia adalah gadis yang jahat, menurutnya. Karena telah membuat Donghae–pria yang ia cintai–membencinya.

“Yoo! Sini!”

Yookyung segera mengusap sudut matanya yang berair, tidak ingin Donghae dan Haera tahu jika ia menangis.

“Nde!”

Yookyung menarik nafas dalam sebelum berdiri dari duduknya di kursi yang tadi ia duduk bersama Donghae. Setelah yakin ia lebih baik, ia segera melangkahkan kakinya menuju Donghae dan Haera yang sedang menara kerucut kecil sebagai pelengkap castle.

“Wah, yeopeunda.”

Gadis itu kemudian ikut berbaur bersama mereka, tertawa dan bernyanyi bersama, mengikuti lagu yang Haera nyanyikan. Berusaha melupakan kalimat yang terus menerus terngiang di telinganya.

◎◎◎

“Hyung… Jebalyo, katakan di mana Raeann tinggal saat ini,”

“AKU TIDAK TAHU, HAE-YA!” Seru pria manis dengan menghentakkan kakinya kesal. Telinganya terasa panas karena terus menerus mendengar rengekan dari pria tampan ini. Donghae.

“Tapi tadi kau bilang, Raeann sudah ada di Korea dan kau bertemu dengannya?” Tuntut Donghae dengan terus mengekori Sungmin yang berjalan menuju dapur.

Saat ini Donghae sedang berkunjung ke rumah Sungmin karena pria itu bilang ada berkas yang harus mereka diskusikan untuk rapat minggu depan. Dan tanpa sengaja Sungmin mengatakan jika ia bertemu Raeann beberapa waktu lalu, maka ia langsung mengorek kebenarannya. Namun Sungmin justru langsung menghindari topik itu dengan beralasan jika ia salah bicara.

“Aku salah bicara, Hae-ya. Waktu itu aku bertemu dengan orang yang mirip Raeann, aku pikir ia Raeann tapi ternyata bukan.”

“Jinchayo?” Donghae menyipitkan matanya curiga.

“Nde, itu benar.” Sahut Sungmin buru-buru. “Aku pikir gadis itu Raeann tapi ternyata bukan. Aku salah mengenali orang. Gadis itu bernama Yookyung, ya.., itu namanya.”

Donghae melemaskan bahunya, “Aku pikir kau memang bertemu gadis itu, Hyung.” Lirih Donghae jauh. Sungmin merasa iba melihat Donghae seperti itu. Ia merasa bersalah karena telah membohongi pria ini.

‘Mianhae Donghae. Jeongmal mianhata. Aku sudah terlanjur berjanji padanya untuk tidak memberitahumu hingga ia sendiri yang akan mengatakannya.’

Sungmin tahu bagaimana perasaan Donghae saat ini. Ia bisa memahaminya.

“Ngomong-ngomong, boleh aku tahu alasanmu kenapa kau ingin bertemu lagi dengan Raeann, Hae-ya?” Sungmin menatap Donghae penasaran. “Apa kau ingin menyakitinya lagi?” Sungmin pernah mengatakan jika Raeann menyukainya sejak dulu.

Donghae memandang Sungmin kemudian menggeleng lemah, “Ani, Hyung. Aku tidak akan mengecewakannya lagi. Aku hanya ingin meminta maaf karena telah menyakitinya begitu banyak, itu saja.”

Sungmin meletakan gelas cangkir di meja makan, kemudian mendekat kearah Donghae yang berdiri di dekat lemari pendingin.
Disentuhnya bahu pria itu, “Maaf tidak akan cukup untuk mengobati luka di hati, Hae-ya.”

“I know, but…”

“Lagipula, itu masa lalu, mungkin saja Raeann tidak akan kembali lagi kemari.”

“Tapi aku yakin Hyung, jika Raeann suatu saat akan kembali kesini, menemui kita. Aku yakin itu.”

‘Hae-ya….’

Sungmin tidak berkata apa-apa lagi. Pria itu hanya menatap sendu Donghae yang begitu percaya jika Raeann akan kembali.

Well, itu benar. Kalau Raeann telah kembali, namun bukan lagi Raeann yang dulu. Melainkan mengubah namanya menjadi Lee Yookyung. Menjadi sosok Raeann yang baru.

‘Maafkan Hyung karena membohongimu.’

◎◎◎

Pria tampan itu terus memperhatikan seorang gadis yang duduk termenung di kursi ayunan yang ada di halaman rumah.

Jaejong, ia putuskan untuk mendekati adiknya yang tampak melamun. Kalau di perhatikan, ini sudah kedua kalinya ia mendapati Yookyung sering melamun duduk di sini.

Apa terjadi sesuatu dengan gadis itu?
Sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Ann,” disentuhnya bahu Yookyung perlahan. Gadis itu dengan cepat mendongak, menatap Jaejoong yang berdiri dihadapannya.

“Oppa.”

“Melamun hm?”

Yookyung menggeleng kecil lalu menyandarkan kepalanya di bahu Jaejoong ketika pria itu duduk disampingnya.

“Menurut Oppa, aku harus bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” Jaejoong menyerngitkan sebelah alisnya bingung.

Yookyung mendongak menatap Jaejoong tanpa mengubah posisinya, tetap bersandar di bahu pria itu.

“Aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri, Oppa. Aku tidak memahaminya. Ken Ken akan kemari dalam waktu dekat ini untuk menanyakan kebenaran batalnya pertunangan itu. Ia ingin tahu alasanku kenapa aku membatalkannya,” lirih gadis itu bingung.

“Aku kembali menyakitinya, Oppa. Inilah alasan aku menolak permintaan Mama waktu itu agar aku datang kemari. Aku tidak ingin menyakiti Ken Ken. Aku ingin memberinya sebuah kepastian bahwa aku sudah bisa menerimanya, bukan lagi harapan kosong. Tapi, Mama…, ia merasa bersalah padaku karena perceraian itu. Aku– aku tidak tahu harus bagaimana Oppa.” Yookyung menatap Jaejoong dengan mata berkaca-kaca. Gelisah memenuhi benaknya sejak ia menerima telpon dari Ken Ken–tunangannya– dua hari lalu.

Jaejoong meletakan tangan kanannya di bahu Yookyung, menariknya halus agar lebih mendekat sehingga ia dapat memeluknya dari samping.

“Kau tidak tahu mana yang akan kau pilih?” Yookyung mengangguk sebagai jawaban. “Turuti apa kata hatimu, Yoo. Oppa tidak bisa memaksamu untuk bersama Donghae ataupun Ken Ken. Karena kau yang akan menjalaninya,” Yookyung seketika menatap Jaejong. Terkejut. Jaejong langsung tahu apa maksudnya.

Ah, ia lupa. Bahwa Jaejong adalah kakaknya. Mereka selalu bersama sejak ia lahir hingga remaja, tentu saja pria ini tahu semuanya.

Jaejoong tersenyum lembut dan mengecup kening Yookyung sayang. “Lakukan yang menurutmu baik dan benar. Oppa akan ada disampingmu, selalu.” Bisiknya lembut.

Yookyung kembali mengangguk dengan memeluk Jaejoong erat. Gadis itu menangis tanpa suara.

Pria paruh baya yang sedari tadi memperhatikan kedua anaknya menatap sendu kearah gadis yang kini tengah memeluk Jaejoong.

Ia ingin melakukan sesuatu untuk kebahagian putrinya. Tapi ia bisa apa? Ia hanya orangtua. Ia tidak suka mencampuri urusan anak-anaknya. Biarpun mantan istrinya meminta bantuannya untuk melakukan sesuatu agar Yookyung berhasil mendapatkan cinta sejatinya, tapi ia tidak akan melakukan itu. Biar saja Yookyung yang memilih jalannya sendiri. Biarkan gadis itu menentukan pilihan hidupnya. Bahagia dengan orang yang dicintainya atau bahagia dengan orang yang mencintainya.

Semuanya ia serahkan pada putrinya.

◎◎◎

Sebuah café yang ada di daerah Goyang, Geonggi terlihat cukup ramai pengunjung meskipun bukan di jam makan siang. Café dengan ciri khas masakan perancis itu memang selalu ramai di jam berapapun, karena café itu buka hingga pukul 11 malam.

Yookyung maupun Sungmin hanya duduk berhadapan dalam diam. Pria mania itu duduk dengan terus memperhatikan Yookyung yang menunduk dengan memainkan cangkir kopi miliknya.

“Ann…”

“Yookyung, Oppa.” Ralat Yookyung tanpa menatap Sungmin membuat pria manis itu menghela nafas.

“Sebenarnya kau ingin bicara apa denganku? Kalau kau memintaku untuk datang hanya melihatmu diam begini lebih baik aku pulang saja,” Sungmin bersiap berdiri dari duduknya namun suara Yookyung mengurungkannya.

“Mana yang harus Oppa pilih jika Oppa menjadi aku?” Yookyung menatap Sungmin dengan sayu. Ia sudah cukup frustasi menghadapi masalah hatinya, cinta masa lalunya.

Sungmin kembali duduk dan menatap gadis itu dalam. “Pejamkan matamu,” titah Sungmin langsung.

“Ye?”

“Sudah pejamkan saja,” pinta Sungmin tidak sabar.

Yookyung menurut, memejamkan matanya. “Apa yang kau lihat?”

“Oppa!” Yookyung membuka matanya. “Memang apa yang aku lihat selain gelap?” Sungutnya kesal karena merasa dipermaikan.

Benar bukan apa yang dikatakan Yookyung jika hanya kegelapan yang kau lihat ketika matamu tertutup?

“Aish, pabo!” Dengan seenaknya Sungmin menyentil kening Yookyung sehingga gadis itu mengaduh.

“Pejamkan sekali lagi dan tanya hatimu. Maka kau akan menemukan jawabannya.”

“Oppa yakin jika aku akan menemukan jawaban yang aku butuhkan?” Yookyung merasa sangsi dengan usul Sungmin.

Apa dengan memejamkan mata saja ia mendapatkan jawaban dari masalahnya?

Selama ia kembali ke Korea ia justru semakin dilanda dilema yang besar.

Ia ingin membuat Haera senang dan sejauh ini berhasil. Dan Donghae pun belum tahu identitas aslinya, itu bagus. Tapi yang tidak bagus adalah hatinya. Pikirannya kacau ketika ia bertatapan dengan pria itu. Rasa itu kembali ada sebesar apapun ia mencoba menghilangkannya.

Ditambah Ken Ken yang akan datang lusa untuk menanyakan kepastiannya.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Pilihan mana yang harus ia pilih untuk jalan hidupnya?

Ia sudah bertanya pada teman-temannya untuk meminta saran dan pendapat mereka, dan jawaban mereka tidak jauh berbeda, ‘tanya hatimu’.

Oh ayolah, apakah tidak ada orang yang bisa membantunya memecahkan masalah ini?

Ia sungguh bingung.

“Ya! Palliyo, pejamkan matamu.” Suara Sungmin membuat Yookyung tersadar dari lamunannya.

“Arraseo,” Yookyung menurut, memejamkan matanya seperti perintah Sungmin.

“Sekarang pikirkan siapa orang yang benar-benar kau cintai.”

Yookyung mencoba merilekskan pikirannya, menenangkan pikirannya yang gelisah.

Senyum dari bibir tipis itu sangat manis. Suara yang lembut ketika menyebut namanya. Mata hitam meneduhkan yang ia sukai.

Ya, pria itu. Hanya ada satu dalam hatinya. Ia tahu itu.

“Siapa yang kau lihat?” Sungmin bertanya dengan senyum tersemat indah di bibirnya, pria itu sudah tahu pasti jawaban gadis itu ketika Yookyung tersenyum meskipun masih memejamkan matanya.

“Nuguya, Ann?”

“Donghae Oppa?” Yookyung mengucapkan kalimat itu berbarengan dengan ia membuka matanya. Senyum gadis itu berangsur memudar begitu seseorang berjalan mendekat kearah mereka.

“Yookyung-ssi?” Suara lembut itu membuat Yookyung maupun Sungmin kontan menegang. Mereka sangat tahu siapa pemilik dari suara itu.

“Donghae?”

“Eoh, Hyung? Apa yang kau lakukan disini? Kalian saling kenal?” Donghae menyipitkan matanya curiga.

“Kau mengenal Yookyung-ssi, Hyung?”

“Eum, itu…”

“Ya,” sahut Yookyung karena Sungmin tak kunjung melanjutkan kalimatnya. “Kami kenal beberapa hari lalu, tidak sengaja.”

“Benar! Bukankah aku sudah pernah mengatakannya jika aku pernah bertemu dengan orang yang mirip Raeann? Ya ini orangnya.” Sambung Sungmin cepat.

Donghae mengangguk, ia ingat jika Sungmin memang pernah berkata seperti itu beberapa hari lalu.

“Kau kenapa ada di sini, Hae-ya?”

“Ah itu, aku ada janji dengan seseorang.”

“Dengan siapa?” Ucap Yookyung dan Sungmin bersamaan.

“Donghae Oppa!”

“Ah itu dia, Ji Hyun namanya.”

Sungmin mengangguk kecil. Ia kenal siapa itu Ji Hyun, gadis yang saat ini tengah dekat dengan Donghae.
Yookyung langsung mencari gadis yang dimaksud Donghae. Gadis berambut sebahu yang mengenakan dress berwarna plum dengan menggandeng Haera berjalan ke arah mereka.

“Eonnie!” Serta merta Haera melepaskan gandengan tangannya dengan Ji Hyun. Ia berlari kecil ke arah Yookyung dan langsung memeluknya senang.

“Eonnie, bogoshipoyo.”

“Nado, Ra-ya.” Yookyung tersenyum lembut kemudian mengusap kepala Haera.

Ji Hyun yang melihatnya nampak tidak suka. Dan Sungmin tahu itu. Pria itu tersenyum miring setelah memperhatikan ketiganya; Donghae, Yookyung kemudian Ji Hyun.

“Apa kalian akan makan di sini?” Ujar Sungmin memulai lebih dulu.

“Nde!” Haera menyahut dengan semangat. Gadis kecil itu sudah duduk di pangkuan Yookyung.

Ji Hyun yang berniat mengatakan ‘tidak’ sontak saja langsung mengatupkan bibirnya rapat.

Suasana hatinya berubah drastis setelah melihat betapa akrabnya Haera dengan Yookyung. Haera jarang sekali tersenyum lebar seperti itu padanya.

‘Siapa sih dia?’

Donghae yang melihat Ji Hyun diam langsung bertanya, “Gwaenchana?”

Ji Hyun tersenyum kemudian mengangguk.

“Appa! Spaghetti carbonara!” Seru Haera dengan antusias begitu melihat daftar menu yang ada di meja.

“Kau suka spaghetti?” Yookyung bertanya dengan lembut. Haera mengangguk, “Nde, tapi Appa melarangnya.”

“Waeyo?”

“Alergi susu dan keju,” jawab Sungmin. Donghae tidak mendengar sepertinya karena pria itu tengah berbicara dengan Ji Hyun.

“Mwo? Alergi susu dan keju?Sama persis dengan Mina Eonnie kau ne?” Gumam gadis itu dengan senyum.

“Haera,” panggil Donghae.

“Nde, Appa?”

“Kita pulang ne?”

“Shirreo!” Sahut Haera cepat dan menggeleng keras.

Yookyung maupun Sungmin menatap Donghae bingung. Kenapa Donghae tiba-tiba mengajak Haera pulang?

Ada apa ini?

“Haera tidak mau bersama Ji Hyun Eonnie. Haera tinggal bersama Yookyung Eonnie saja, Appa.”

“Mwo?!”

“Tinggal bersamaku?”

Continue…

7 comments

  1. Rumit serumit qt makan mie #plaaaak gmn reaksi donghae kalo lagi2 yookyung berbohong. Bakalan tambah membencinya atw….. #penasaran eung

  2. Ya ampun, seru seru seru. Ternyata ada gadis yang dekat dengan Dong Hae. Kayaknya orangnya sedikit sinis, bakalan ada cinta segitiga.

  3. Waaah…udah ketemu ya?! Setelah 8 thn?!
    Waw,donghae langsung ngenalin,tapi kenapa Yookyung pake’ acara bohong segala?! -.-

  4. FF ini menguras hati banget sama menguras air mata juga..

    Ehh,,Ji Hyun itu siapa ? Yg lagi deket dgn si Donghae ?
    Tapi si Haera kyaknya ndak terlalu suka sama dia malah lebih suka sama Yookyung,hehehehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s