wpid-PicsArt_1388236780867.jpg

Please, Comeback!

wpid-PicsArt_1390246676432.jpg

Title : Please, Comeback!

Genre : Romance

Lenght : Ficlet

Rate : PG15

Cast : Choi Siwon, Nam Jihye

Author : bluerose8692

“Jika aku diberi kesempatan untuk melihatmu lagi, ijinkan aku untuk lebih mengenalmu dan mencintaimu.”

————&———–

Sudah satu jam lalu aku duduk diam di bawah guyuran air hujan yang turun deras, atau mungkin lebih lama dari itu, aku tidak tahu pasti sejak kapan. Yang aku ingat hanya gadis itu meninggalkanku setelah mengatakan bahwa ia akan pergike luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya. Canada. Ya, itu yang di katakan gadis itu tadi. Ia berpamitan padaku jika lusa ia akan pergi.
Aku tidak tahu ada apa dengan diriku sekarang. Setelah mendengar penuturan dari bibir gadis bernama Nam Jihye, aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku saat ini. Apakah sedih atau justru senang.
Senang karena gadis yang dua tahun menguntitku akan pergi dari hidupku. Tapi, di sisi lain aku merasa ada yang menohok ulu hatiku ketika melihat raut wajahnya saat berpamitan. Ingatanku kembali berputar ke beberapa saat lalu.Read More

“Aku akan pergi ke Canada besok. Jadi sebelum aku perg,i aku ingin berpamitan dengan Oppa.”

Ia bahkan tidak menatap wajahku saat mengatakannya. Terlihat berat sekali baginya untuk mengucapkan satu kalimat.

“Baguslah,”

Hanya ku jawab seadanya, dan gadis itu langsung menatapku dengan tatapan.., terluka. Mungkin, aku tidak tahu pasti bagaimana mendeskripsikannya. Yang jelas ia terlihat sedih, itu yang aku tahu.

“Oppa pasti senang kan karena tidak ada lagi yang menganggumu? Karena aku akan pergi.”

“Tentu saja, hidupku akan damai tanpa kau yang selalu membuntutiku kemanapun aku pergi. Aku jadi bebas mau kemanapun yang aku mau,”

Saat itu Jihye tersenyum samar. Aku bertanya-tanya, apakah itu senyum kekecewaan atau yang lainnya?

“Aku sudah menduga jika jawaban Oppa akan seperti itu.”

Dia mengulurkan tangannya padaku, tangan kecil itu terlihat bergetar. Aku memandangnya dari dudukku sedangakan ia berdiri.

“Ayo salaman,”

“Nde?”

Ia memaksaku untuk bersalaman dengannya.

“Terima kasih karena Oppa telah mengijinkanku untuk berada di dekatmu.”

“Hei, aku tidak mengijinkanmu sama sekali, Nona. Kau lupa?”

Jihye hanya tertawa singkat ketika aku menyela kalimatnya. Apa dia tersinggung dengan kalimatku?

“Nde, kau benar. Aku lah yang memaksamu untuk membiarkanku berada di dekatmu. Maaf karena ke egoisanku membuatmu tidak nyaman dan repot.” Jihye membungkukan badannya dalam. Dan aku hanya diam.

“Baiklah, ku rasa tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan. Aku akan pergi sekarang. Dan sekali lagi aku minta maaf padamu, Oppa.”

Jihye berbalik pergi meninggalkanku. Sedangkan aku masih terdiam di tempat. Masih memikirkan kalimatnya.
Ia akan pergi besok. Seharusnya aku senang kan? Karena gadis yang merecokiku akan pergi. Tapi apa ini? Kenapa rasanya sesak sekali.

“Cinta tumbuh karena terbiasa.”

Ck, apa aku harus percaya kata-kata itu sekarang? Tidak. Aku bukanlah orang yang mudah percaya hanya karena kata seperti itu. Mustahil kan aku mencintainya?

—————&—————

Seminggu sudah berlalu, tapi keadanku bukannya membaik malah sebaliknya. Aku jatuh sakit dan diharuskan di opname. Kau tahu… Aku sangat benci rumah sakit. Jika di suruh memilih, antara gereja atau rumah sakit, maka akan dengan senang hati aku memilih gereja. Karena disana aku bisa berdoa dengan khusyuk, itu lebih bagus daripada di rumah sakit, minum obat dan di infus. Aku benci ini.

“Oppa, kau harus makan banyak supaya cepat sembuh.”

Suara itu tiba-tiba saja terngiang di telingaku. Gadis itu, Jihye pasti akan menceramahiku jika aku sakit dan tidak mau memakan bubur buatannya. Dia akan terus membujukku agar aku mau makan sesuap saja.
Aish, kenapa aku jadi ingat dia lagi?!

Come on ,Choi Siwon.. Bagaimana bisa kau jadi begini hanya karena gadis yang menurutmu sudah menyusahkan hidupmu selama dua tahun ini. Ada apa denganmu huh?

Ini sungguh membingungkan.
Aku sama sekali tidak mengerti.
Sepertinya memang ada sesuatu yang salah dengan diriku sehingga aku terus menerus memikirkannya.

————-&————–

Ini sudah minggu kedua dan ini justru semakin parah. Bukan sakitku yang semakin parah, sakitku sudah sembuh. Tapi ini sakit rinduku yang bertambah parah.

Rindu?

Ya, rindu. Itu yang di katakan Donghae ketika aku bertanya padanya beberapa hari lalu.

“Jika kau terus memikirkannya setiap hari bahkan waktumu dan kau sampai jatuh sakit, itu artinya kau merindukannya sobat. Akui saja jika kau memang merindukannya, ah salah…, tapi mencintainya.”

Itu yang dikatakan Donghae padaku saat itu. Bahkan aku harus menahan rasa maluku karena di tertawakan oleh hyung juga dongsaengdeul ketika mereka mendengarkan penuturan dari Donghae.

Memalukan.

“Seorang Choi Siwon merindukan gadis yang di tolaknya. Kau kena batunya, Siwon-ah.”

Aigo, ingin sekali ku sumpal bibir Eunhyuk dengan kaos kakinya yang bau itu. Sayang sekali aku tidak melakukannya. Yang ku lakukan justru menggerutu.
Yesung hyung menyarankanku untuk menelpon ke rumahnya, untuk meminta nomor telpon Jihye di Canada. Tapi aku ragu.
Aku akan bicara apa nanti ketika orang rumahnya mengangkat telponku? Apa aku pura-pura jadi temannya atau apa? Aku benar-benar bingung memikirkan alasannya.

Setelah berpikir lama akhirnya aku putuskan untuk menelpon ke rumahnya. Aku ada nomor telponnya karena gadis itu sering sekali menelponku dengan nomor telpon rumah.

“Yeobseyo…”

“Yeobseyo, annyeong haseyo ahmoni, aku Choi Siwon. Bisa bicara dengan Nyonya Nam?”

“Oh mianhamnida Tuan, tapi Nyonya dan Tuan besar tidak ada di rumah. Mereka ada di rumah sakit.”

“Di rumah sakit?”

“Ye, mereka pulangnya malam Tuan. Apa ada pesan yang ingin disampaikan?”

“Amnida ahmoni, maaf kalau boleh tahu siapa yang sakit?”

Seingatku, Jihye anak tunggal. Dia tidak punya saudara.

“Nona, Tuan. Nona Jihye mengalami kecelakaan dua minggu lalu, saat akan pergi ke bandara.”

Seketika aku merasakan pasokan udara dalam paru-paruku berkurang. Sesak. Aku bahkan tidak mendengar lagi apa yang di katakan oleh pelayan keluarga Nam. Pikiranku kosong. Yang ada di pikiranku hanya ‘bagaimana keadaan Jihye sekarang’ ?

Aku bahkan sudah menjatuhkan ponselku tanpa sadar.

“Siwon-ah kau kenapa?”

Donghae menatapku dengan raut bingung.

“Jihye… Dia..”

“Nde? Jihye, waeyo? Apa kau sudah mendapatkan nomor telponnya?”

“Ani,” ku jawab dengan gelengan singkat. Bahkan suaraku terdengar begitu lirih di telingaku sendiri, entah Donghae bisa mendengarnya atau tidak.

“Jihye… Dia kecelakaan Donghae-ah.”

“Mwo?”

————&————

“Jika Tuhan memberiku kesempatan sekali lagi untuk bertemu denganmu, aku ingin kau mengingatku.”

Apa yang kau rasakan saat orang yang ingin kau temui justru tidak mengingatmu? Sakit. Dan kecewa. Kedua hal itulah yang aku rasakan saat ini. Dia -Nam Jihye- gadis yang berpamitan denganku dua minggu lalu sama sekali tidak mengenaliku saat aku mengunjunginya di rumah sakit.

“Jihye mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya saat kecelakaan. Mobilnya terbalik. Untung saja tidak terbakar sehingga ia bisa diselamatkan.”

Aku mendengarkan dengan seksama cerita dari Tuan Nam, pria yang sudah memasuki usia setengah baya ini terlihat pucat dan tertekan. Beliau pasti merasa sangat takut kehilangan putri tunggalnya saat mendengar kabar itu. Syok. Mungkin kata itu yang cocok untu menggambarkan keadaan mereka saat itu.

“Dokter mengatakan jika Jihye keilangan memory tiga tahun terakhir. Ku rasa itulah yang membuatnya tidak mengenalimu nak,” Tuan Nam memandangku sayu.

“Ku dengar kalian pernah dekat..”

Seketika aku menegang. Aku was-was karena Tuan Nam menyinggung hubungan kami.

Hubungan. Bisakah di katakan seperti itu?

“Bisakah kau bantu kami untuk mengembalikan Jihye kami yang dulu?” Tuan Nam memandangku dengan tatapan memohon.
“Ku mohon, bantu kami untuk menyembuhkan Jihye. Aku tidak tahu apa ini akan berhasil atau tidak, tapi aku ingat bagaimana senangnya dia jika akan bertemu denganmu. Wajahnya akan berseri-seri dan terlihat bersemangat. Jadi ku mohon, kau mau membantuku Siwon-ssi. Bantulah kami untuk membuat Jihye mengingat masa lalunya yang hilang, ku mohon.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Yang dapat kulakukan hanya menganggukkan kepalaku.
Asal kau tahu, aku bukanlah orang yang tega membiarkan orang memohon-mohon padaku. Maka aku putuskan untuk membantunya, bukan membantu mereka, tapi semua ini untuk Jihye. Karena aku ingin dia mengingat semua memorinya. Termasuk memori tentangku.

————-&————-

“Kenapa kau mengajakku kemari, Siwon-ssi?”

“Ini, duduklah.” Ku sodorkan ice cream rasa coklat mint padanya. Dia menerimanya dengan raut bingung.
Saat ini kami sedang ada di taman kota yang biasa Jihye kunjungi. Tempat yang sama saat ia berpamitan denganku dulu ketika ia akan pergi ke Canada keesokan harinya.

“Bagaimana kau tahu aku suka coklat mint?”

“Tentu saja aku tahu, karena kau selalu memesan rasa yang sama setiap kita kesini.”

“Kita?”

“Ya, kita. Kau dan aku.”

Dia tertawa kecil namun kemudian menatapku tajam.

“Kau jangan bercanda Siwon-ssi, kita baru mengenal kemarin lusa tapi kau bilang kita sering kemari? Lelucon macam apa ini?!”

“Ini bukan lelucon Jihye-ah. Kita memang sering kemari, bahkan penjual ice cream yang ada disana sangat hapal denganmu.” Ku tunjuk kios ice cream yang ada di seberang jalan dengan tanganku.

“Aku tidak percaya.”

“Ok, jika kau tidak percaya ucapanku kita kesana sekarang dan tanyakan pada mereka. Pasti mereka akan menjawab jika mereka mengenalmu.”

Tangannya aku genggam dan menariknya menuju kios ice cream.

“Lepaskan aku Siwon-ssi, aku tidak mau kesana.” Dia menyentakkan tangannya keras sehingga terlepas dari genggaman tanganku. Diusapnya pergelangan tangannya yang memerah.

Astaga, aku sudah menyakitinya.

“Jihye-ah, mianhae…”

Dia menolak ketika aku ingin menyentuhnya, bahkan dia mundur beberapa langkah. Seperti takut kalau aku akan kembali memaksanya.
Sungguh bukan itu maksudku. Aku hanya ingin menyakinkannya jika apa yang aku katakan adalah benar.

“Berhenti disitu Siwon-ssi. Jangan mendekat.”

Aku mencelos meihatnya melayangkan tatapan tajam padaku. Dulu, dia tidak pernah menatapku seperti itu. Dia selalu menatapku dengan penuh kekaguman.
“Jihye-ah, aku hanya…”

“Cukup Siwon-ssi. Cukup. Aku tidak mau lagi pergi bersamamu jika kau hanya ingin membuatku mengingat masa laluku. Itu percuma. Kenapa? Karena itu membuatku kesakitan. Kepalaku terasa sakit jika aku memaksa untuk mengingat semuanya. Dan jika memang aku tidak dapat mengingatnya, ku rasa itu lebih baik.”

Lagi-lagi bibirku terasa kelu. Tidak ada yang keluar dari bibirku meskipun aku berusaha untuk bicara.

“Maaf, aku harus pulang dan terima kasih sudah mengajakku kemari.”

Tubuhnya mulai menjauh dariku. Aku ingin mencegahnya,tapi kenapa kakiku terasa berat untuk aku gerakan.

Bodoh.

Lagi dan lagi kau membiarkannya pergi.
Aku memaki diriku sendiri.

Benar apa yang di katakan Kyuhyun padaku kemarin, jika aku ini bodoh karena melakukan kesalahan yang sama. Membiarkan gadis itu pergi sekali lagi.

“Siwon-ssi awas!”

Kepalaku sontak terangkat, mencari sumber suara itu berasal. Jihye berteriak memanggil namaku serta melambaikan tangannya. Bibirku tersenyum dengan sendirinya.

Dia ingat namaku?

Apa itu berati ia sudah mulai mengingatnya?

“Siwon-ssi cepat…, jangan di… jalan!”

Suaranya terdengar sayup. aku tidak bisa mendengar dengan jelas kalimat yang di ucapkannya.

“YA! Pabo! Jangan berdiri di tengah jalan!”

“Apa? aku tidak dengar.”

Mungkin karena jarak antara kami yang cukup jauh sehingga aku tidak bisa mendengar jelas suaranya. Jihye bukan type gadis yang memiliki suara keras. Dia begitu lembut. Mungkin kalau suaranya seperti Ryeowook atau Kyuhyun, aku bisa mendengar jelas suaranya dari tempat aku berdiri.

“YA! Siwon-ssi cepat berlari.”

Ish, dia bicara apa sih? Aku hanya dengar kata berlari. Memang kenapa aku harus berlari? Aku kan sedang menyebrang jalan dan ini belum lampu hijau kan?

Saat aku menolehkan kepalaku ke arah kanan, mataku sontak terbelalak. Ini sudah lampu hijau dan di depan sana, mobil truk besar melaju cepat ke arahku.
Aku ingin berlari tapi kenapa aku masih di tempat?
Aku sudah memerintahkan otakku untuk berlari tapi kenapa masih disini.

Sudah terlambat jika aku ingin mengindar. Maka aku pasrah saja, ku pejamkan mataku erat, bersiap menerima kemungkinan yang terjadi.

Takdir sudah ada yang mengaturnya. Mungkin ini memang jalanku, maka aku harus bersiap.

Dan untuk Jihye,
Jika kita bertemu lagi kelak, aku harap kau dapat mengingatku agar aku dapat mengungkapkan persaanku padamu serta meminta maaf.

Saranghae, jeongmal saranghanda Nam Jihye.

Samar-samar ku dengar teriakan orang-orang juga klakson mobil truk yang kini semakin dekat. Sekali lagi ku tolehkan kepalaku ke depan, dimana Jihye yang ada di seberang jalan. gadis itu masih meneriakan namaku. Aku tersenyum, merasa senang ia menyebut namaku.

Ku harap kau bisa hidup bahagia kelak, Jihye-ah. Tolong maafkan aku yang sudah mengacuhkanmu.

Air mataku lolos berbarengan dengan mataku yang kembali terpejam erat. Mungkin sakit ini akan hilang bersama ragaku yang terkubur nanti. Itu lebih baik daripada aku harus menahan sakit ini lebih lama lagi. Aku tidak akan sanggup,

Tuhan, terima kasih Kau telah memberiku nikmat yang begitu indah. Mengenalkanku pada keluargaku dan keluarga keduaku -Super Junior- juga Jihye. terima kasih banyak karena Kau begitu mulia terhadapku. Sekarang aku siap jika Kau ingin memanggilku.

Aku merasakan dorongan yang cukup kuat pada bagian depan tubuhku kemudian tubuhku berguling beberapa kali. Lalu ada yang membentur keningku. Mataku masih terpejam erat, aku tidak ingin membuka mataku. Karena jika aku membuka mata, pasti aku melihat darah di tubuhku dan itu membuatku lebih takut lagi.

“YA! Choi Siwon pabo! Buka matamu.”

Teriakan ini…
Mungkinkah…

“Jihye?” Ucapku dengan perlahan membuka mataku yang sedari tadi terpejam.

Gadis itu ada di depanku sekarang, wajahnya sembab. Menangis.

Apa aku sudah di surga? atau ini hanya mimpi belaka?

“Jihye..” Suaraku kenapa lirih sekali. Aku ingin menyentuhnya tapi aku tak dapat menggerakan tanganku.

“Choi Siwon bodoh! Apa yang ada di kepalamu huh? Aku menyuruhmu cepat berlari tapi kau malah mematung di tengah jalan. Bodoh!”

“Kau menangis? Apa kau mencemaskanku?” Aku akan sangat senang jika ia benar mencemaskanku, meskipun ini hanya dalam mimpi saja.

“Bertahanlah Oppa, ku mohon bertahanlah. Sebentar lagi ambulance akan datang, bertahanlah.”

Dapat kurasakan genggaman tangannya di tangan kananku.
Dan apa tadi? Aku tidak salah dengar kan? Dia menyebutku ‘Oppa’, senangnya aku. Dia ingat aku sekarang. Ini bagus.

“Maafkan aku Oppa, maaf karena aku sudah membohongimu. Sejujurnya aku ingat semuanya, aku ingat. Tidak ada satu hal pun yang aku lupakan, terutama dirimu. Aku hanya ingin melupakanmu dari hidupku, maka aku berpura-pura amnesia. Tapi kau malah membuatku mengingat semuanya, kau melakukan semua yang dulu aku lakukan padamu. Mianhamnida Oppa, jeongmal mianhae.”

Ini bukan mimpi kan?

Dia sama sekali tidak melupakanku. Itu berarti ia ingat semuanya.

Aku senang dengan kenyataan ini.

“Jihye-ah…”

“Nde, Oppa?”

“Aku mencintaimu,”

Jihye tersenyum disela tangisnya.
Mataku kian terasa berat, aku merasa mengantuk. Ada apa ini?

“Oppa, kau dengar aku kan?”

Samar-samar aku mendengar Jihye menyebut namaku. Dia bicara apa? Aku tidak dengar apapun.

“Aku ti-dak dengar..”

Jihye membungkuk dan berbicara di telingaku.

“A-k-u- m-e-n-c-i-n-t-a-i


-m-u. Kau harus bertahan Oppa.”

“Ar-raso,” sahutku lemah karena kesadarankumulai menurun. Mataku semakin terasa berat dan kepalaku semakin pusing, maka aku pejamkan mataku sebelum gelap menyerangku.

FINISH!!!

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s