The Teen Bride Part 1

wpid-PicsArt_1390466334932.jpg

 

Title : The Teen Bride Part 1

Genre : Marriage life, Drama, Romance

Lenght : Series

Rate : PG16

Cast :Lee Donghae, Kim Yoo Kyung, Other

Author : bluerose8692

***

PLEASE DONT COPY PASTE!!!

Tidak ada yang tahu dengan takdir atau jalan kehidupan yang akan kita lalui atau jalani. Semua itu sudah diatur oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalankannya bukan? Bukankah semua itu sudah menjadi garis Tuhan yang dituliskan untuk kita? Begitupun dengan pernikahan. Bila Tuhan sudah menggariskanmu untuk menikah pasti itu akan terjadi, bukankah memang pada dasarnya manusia hidup berpasangan? Jadi, apa salahnya bila kau menurutinya.

Read More

Sebuah gereja yang terletak di daerah Gangnam-gu akan menjadi saksi atas lahirnya pasangan baru, di hadapan pendeta, orang tua juga tamu-tamu yang hadir diacara itu.

“Aku, Lee Donghae berjanji akan menjadi suami dan Ayah yang baik bagi istri dan anak-anakku kelak, akan mencintai dan menerima Kim Yoo Kyung dalam keadaan apapun, menjadikannya wanita satu-satunya yang akan aku cintai hingga ajal menjemputku.”

Pendeta beralih ke arah gadis di samping pria yang baru saja mengucapkan janjinya.

“Nona, sekarang giliranmu untuk mengucapkan janji.”

Gadis itu menghela nafas dan menutup mata sejenak, berusaha meyakinkan diri bahwa ini memang bukan mimpi belaka.

“Aku, Kim Yoo Kyung berjanji akan menjadi istri yang baik dan akan menuruti semua apa yang suamiku ucapkan. Akan mencintainya dalam keadaan apapun dan menjadikannya pria satu-satunya yang hadir dalam hidupku dan memenuhi hari-hariku kelak.”

Donghae tidak berhenti menatap gadis di sampingnya ini selama pengucapan janji itu selesai hingga kini gadis itupun menatapnya. Sekarang mereka telah resmi menjadi pasangan.

Apakah ia sedang bermimpi saat ini? Siapa saja tolong bantu sadarkan aku bahwa ini hanya sebuah mimpi. Ingin sekali Donghae meneriakan kata-kata itu, menyangkal bahwa ini hanya halusinasi semata. Tapi sayang, semua ini nyata!

Mereka berdua sungguh tidak habis pikir dengan semua ini, terlebih jalan hidup mereka. Bagaimana bisa, mereka yang notabennya seperti tikus dan kucing sejak mereka di playgroup dulu hingga sekarang selalu bertengkar kini justru menikah?

Apakah seseorang sedang bermain di belakang mereka?
Atau Tuhan sedang merencanakan sesuatu dengan jalan takdirnya hingga mereka disatukan dalam satu ikatan pernikahan?

Entahlah…
Semua ini seperti mimpi bagi mereka. Yang mereka ingat hanya saat pesta kelulusan yang mereka rayakan di apartemen Donghae atas bujukan teman-temannya waktu itu.
Dan ketika mereka membuka mata di pagi itu, mereka mendapati diri mereka berada dalam satu ranjang dengan selimut coklat pastel yang ada di sana sebagai penutup tubuh polos mereka.

Keadaan mereka saat itu membuat keduanya terkejut, sangat. Yang ada dalam pikiran mereka saat itu adalah bagaimana bisa mereka melakukan itu semua?
Apakah mereka benar-benar telah melakukannya?
Ini seperti sebuah mimpi terburuk yang pernah mereka alami bersamaan. Dan itu belum sepenuhnya karena ini baru awal permulaan.

“Saya persilakan bagi mempelai pria untuk mencium wanitanya.” Ucapan sang pendeta menyadarkan keduanya ke alam sadar mereka saat ini.

Donghae hanya diam kaku menatap gadis di depannya.

Tunggu, gadis? Bisakah disebut gadis setelah apa yang terjadi di antara mereka seminggu lalu?

“YA! Cepatlah Hae-ya, mencium saja butuh berpikir lama.” Seru seorang pemuda berperawakan kurus dan berambut yang dicat pink. Donghae mendecak, “Dasar The King Of Yadong!”

Donghae menarik nafas panjang sebelum mendekat ke arah wanita yang kini menunduk. Tangannya terulur untuk membuka cadar yang menutupi wajah wanitanya.

Wanitanya?
Boleh bukan kalau ia menyebutnya ‘wanitanya’ ? Toh, mereka kini telah resmi sebagai suami-istri.

“Tatap aku, Yoo.” Lirih Donghae dengan sedikit menyentuh dagu Yoo Kyung. Wanita itu menatap Donghae kaku. Terlihat sekali bahwa wanita itu tengah gugup.

Donghae sedikit demi sedikit menepis jarak di antara mereka, merasakan hembusan nafas wanita yang kini telah menutup mata, merasakan kehangatan juga lembutnya bibir wanita ini di antara tekanan bibirnya. Dan ia pun bisa mendengar detak jantungnya yang menggila di dalam sana ketika bibir mereka bertemu.

Tepuk tangan serta sorak riuh memenuhi gereja itu kala mereka melakukan penyatuan tersebut. Terlebih para orang tua yang tampak begitu semangat juga bahagia.

“Dambi-ya, akhirnya kita menjadi besan juga setelah lama menunggu.” Ujar wanita yang terlihat masih cantik itu dengan senyum terkembang. Wanita yang dipanggil Dambi itupun tak kalah senangnya. “Nde, kau benar Sungji-ya. Aku bahagia sekali akhirnya mereka bersatu.”

“Tapi, apa mereka tidak apa-apa setelah tahu apa yang sebenarnya nanti yeobo?” lirih seorang pria dengan tatapan khawatir.

“Tentu saja jangan sampai mereka tahu yang sebenarnya. Dan kita pun harus membuat mereka tutup mulut tentang semua ini.” Sahut pria yang lain, Lee Hyun Soo dengan menunjuk segerombolan anak-anak muda yang sibuk bercengkrama.

“Nde, kau benar yeobo.” Timpal sang istri, Eomma Donghae.

“Dan aku tahu dengan apa mereka bisa tutup mulut,” Ucap Kim Dambi, Eomma Yoo Kyung dengan menyeringai.

***

“Amnida, aku menolak Eomma.” Yoo Kyung mengucapkan dengan tegas kalimat penolakannya. Sedangkan Donghae hanya duduk diam tanpa bicara sepatah katapun, membiarkan kedua orang tuanya berdebat dengan Yoo Kyung tentang acara bulan madu.

“Wae? Eomma dan Eommonim sudah menyiapkan semuanya untuk bulan madumu, sayang. Semuanya sudah kami persiapkan sebelum pernikahan kalian hari ini.” Bujuk Dambi pada putrinya.
Yoo Kyung memalingkan wajahnya ke arah lain. Tidak ingin menanggapi permintaan orang tuanya.

“Hae-ya…” Panggilan itu membuat Donghae menatap ibu mertuanya, Donghae menghela nafas jengah.

“Arrasoyo, kami akan berangkat besok pagi seperti yang kalian inginkan. Bulan madu ke Paris selama 4 hari bukan?”

Yoo Kyung menatap tajam Donghae, tidak setuju akan ucapan pemuda itu. Ia mendesis, ingin sekali ia mencekik leher pemuda itu bila tidak dihukum. Oh, ayolah.. Pemuda ini begitu patuhnya terhadap permintaan orang tua mereka yang berlebihan. Apa ia tidak merasa lelah setelah pernikahan mereka hari ini? Bulan madu? Cih.. Itu hanya akal-akalan orang tua mereka saja agar mereka bisa berduaan. Karena, orang tua mereka pun sangat tahu bahwa mereka tidak pernah akur sejak dulu.

“Kenapa kau menyetujui permintaan Eomma?” Yoo Kyung melepaskan sweater yang dipakainya dan menggantungnya di belakang pintu kamar. Mereka kini berada dalam kamar Donghae di rumah keluarga Lee karena besok harus pergi pagi-pagi ke bandara untuk take off.

Donghae yang sedang berbaring di ranjang dengan mata tertutup membuka matanya, bangun dari posisinya dan menyandarkan punggungnya pada dashbord ranjang. Tubuhnya terasa lelah dan ia mengantuk.

“Daripada mendengar mereka terus merengek, bukankah lebih baik menurutinya? Lagi pula, liburan ke Paris kurasa cukup menyenangkan.”

“Kau selalu saja menuruti kemauan mereka. Itu sangat menyebalkan, kau tahu?!”

Donghae tidak menggubris gerutuan wanita itu, ia lelah ingin tidur sehingga ia lebih memilih membaringkan tubuhnya lagi. Baru saja ia memejamkan matanya, ia sudah merasakan seseorang menarik paksa lengan kanannya.

“YA! Bangun, jangan tidur.”

“Wae? Aku lelah Yoo.”

“Tapi kau tidak boleh tidur di sini.”

“Kenapa tidak boleh? Ini kan kamarku.”

“Karena aku tidak mau satu ranjang denganmu! Cepat bangun dan pindah ke sofa sana.” Yoo Kyung menunjuk sofa biru yang ada di sudut kamar dengan jari telunjuknya.

Donghae menyeringai, “Kenapa harus aku yang tidur di sofa? Kan kau yang tidak mau tidur denganku, kau saja yang tidur di sana.” Donghae membenamkan wajahnya pada bantal dan menarik selimut hingga leher, membiarkan wanita ini menggertakan gigi menahan emosinya.

“Dasar laki-laki tidak berperasaan! Suami macam apa kau ini huh? Aku menyesal mengucapkan janji itu tadi pagi.” Yoo Kyung menghentakan kakinya berjalan ke arah sofa. Wanita itu membaringkan badan kecilnya di sana dengan posisi meringkuk, bersiap memasuki alam mimpi, tanpa  memakai selimut atau apapun untuk menutupi tubuh kecilnya.

Donghae membuka mata karena tidak lagi mendengar gerutuan wanitanya. Pemuda ini hanya pura-pura tidur. Ia bangun dari ranjang, berjalan pelan ke arah sofa, di mana Yoo Kyung kini tidur. Pemuda itu berjongkok, menatapi wajah Yoo Kyung yang terlihat damai. Senyumnya terkembang begitu saja kala ia melihat bibir ranum milik wanita ini. Ia ingin merasakan lagi kehangatannya sehingga ia mendekatkan wajahnya hingga ia bisa menjangkau bibir manis dengan rasa stroberi. Donghae menekannya lembut beberapa saat sebelum akhirnya ia menjauhkan wajahnya.

“Kau tidak akan pernah aku lepaskan, Yoo. Sampai kapanpun, meskipun kau memohon untuk lepas dariku, aku tidak akan mau melepasmu.” Lirih Donghae sebelum mengangkat tubuh wanita itu dalam gendongannya, memindahkannya ke ranjang tidur dan ia ikut berbaring di sampingnya, memeluk wanita itu ke dalam dekapan hangatnya.

Bagi Donghae, bisa merasakan kehangatan tubuh wanita ini sangat membuatnya senang dan berdebar. Perasaan itu tiba-tiba saja muncul dan ia tidak sadar ia bisa merasakan itu sejak kapan. Hanya saja ia merasa itu sangat menyenangkan.

***

Yoo Kyung dan Donghae sudah siap ketika mendengar panggilan dari Eomma Donghae. Mereka berdua dengan segera menuju ke luar, bertemu dengan keluarga mereka sebelum mereka berangkat bulan madu.

“Donghae-ya, jangan lupa oleh-oleh untuk kami. Kami akan sangat senang bila dalam 9 bulan lagi kami bisa dipanggil Halmeoni juga Harabeoji.” Ucap sang Ayah dengan tatapan penuh arti. Donghae menggeleng pelan, ia merasa prihatin akan sikap kedua orang tuanya ini. Sejak semalam sang Ayah tak henti-hentinya menasehati cara-cara yang baik saat melakukan ‘itu’ dengan Yoo Kyung. Dan lebih memprihatinkan lagi adalah ia anak dari mereka.

“Donghae, kajja.” Yoo Kyung sentak menarik lengan Donghae ketika pemuda itu masih mematung di depan pintu mobil yang akan mengantar mereka ke bandara.

“Eomma, Appa.. Kami pergi, annyeong..” Yoo Kyung membuka kaca mobil dan melambai pada orang tuanya juga orang tua Donghae yang berada di luar. Mereka tidak mengantar sampai bandara karena ada kepentingan.

“Nde, annyeong. Hati-hati di sana ne..” Mereka balas melambaikan tangan hingga mobil itu menghilang di tikungan jalan.

***

Donghae memperhatikan Yoo Kyung yang mengenakan celana pendek warna abu-abu dipadu t-shirt putih di lapisi cardigan hitam. Wanita ini tampak begitu berbeda ketika tidak mengenakan seragam sekolahnya, jadi terlihat lebih.. Donghae tidak ingin membohongi bahwa istrinya ini cantik, ia akui itu.

“Kenapa tersenyum seperti itu? Kau mengerikan.” Yoo Kyung sedikit bergidik ngeri melihat Donghae yang tersenyum aneh seperti itu.

“Apa? Apa tidak boleh aku tersenyum huh? Dan apa tadi kau bilang? Senyumku mengerikan? Heh, ralat Yoo. Senyumku ini menawan, mampu membuat gadis-gadis pingsan dalam satu kedipan mata.”

Yoo Kyung mencibir, “Kelakuanmu sama persis dengan sahabat-sahabatmu itu, apa lagi Kyuhyun. Dan aku heran, apa yang membuat Sung Hyo begitu tergila-gila akan Kyuhyun. Benar-benar tidak habis pikir.”

“Dalam cinta tidak memandang apapun, Yoo. Warna hitam pun bisa jadi putih dipenglihatanmu kala kau sedang jatuh cinta.”

“Ck, teori klasik. Kuno.”

“Hey, itu benar adanya Mrs. Lee.”

Yoo Kyung menoleh dengan mata melotot, Donghae ingin sekali tertawa tapi ia tahan. Melihat wanita ini terlihat begitu marah adalah suatu kesenangan tersendiri bagi dirinya, seperti hiburan kala sedang bosan. Ia menyukai reaksi wanita ini kala ia menggodanya, terlebih ketika wanita ini sedang merajuk yang akan mempoutkan bibirnya, yang tentu saja ia jadi ingin menciumnya. Oh.. Tidak, pikiran itu mulai memenuhi kepalanya saat ini dan itu tidak bagus untuk otaknya.

“Jangan memanggilku seperti itu Donghae-sshi, aku tidak suka!” Tandas Yoo Kyung sengit. Donghae mengangkat bahunya acuh.

“Kenapa? Bukankah itu memang benar bahwa kau kini memang bermarga Lee, hm?”

Yoo Kyung membuang muka, tidak ingin meladeni ocehan Donghae. Ia hanya merasa aneh dengan dirinya kala pemuda itu menyebutnya seperti itu. Seperti menegaskan bahwa ia memang milik pemuda itu dan keanehan lainnya ia merasakan debaran tak tentu pada jantungnya kala menatap mata dengan iris hitam itu. Seakan-akan ia tertarik ke dalamnya tanpa bisa keluar lagi.

Yoo Kyung berjengit kaget kala merasakan sentuhan dipunggung tangan kirinya, dingin. Yoo Kyung menoleh ke samping kiri, di mana Donghae duduk. Pemuda itu tampak pucat dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Sentuhan itu terasa makin kencang kala pesawat mulai landing. Yoo Kyung menatap khawatir Donghae yang tampak pucat. Tangan pemuda itu begitu dingin di kulitnya.

“Op..pa?” Panggilan lirih itu tidak terdengar oleh Donghae yang sedang sibuk mengatur pikirannya.

Yoo Kyung mencoba menyentuh tangan Donghae yang masih berada di atas tangan kirinya, menyalurkan rasa hangat ke tangan Donghae yang begitu dingin.

“Donghae Oppa,” lagi Yoo Kyung mencoba memanggil Donghae dan berhasil, pemuda itu menatapnya. Tatapan penuh ketakutan. Yoo Kyung meremas lembut jemari Donghae yang berada digenggamannya.

“Kau takut terbang?” Yoo Kyung bertanya dengan hati-hati, ia hanya mencoba menebaknya. Donghae mengangguk kecil, “Aku tidak pernah naik pesawat, Yoo. Aku takut seperti Hyoeng.” Cicit Donghae dengan membalas remasan tangan istrinya.

Yoo Kyung merasa ingin tertawa saat itu juga, bagaimana mungkin pria yang terlihat begitu sempurna ini takut akan naik pesawat? Oh, itu hal terlucu yang di ketahuinya dari sosok Donghae. Tapi ia tidak bisa tertawa kala ia melihat ketakutan itu begitu jelas di mata Donghae.

“Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa. Percaya padaku.” Yoo Kyung berusaha meyakinkan Donghae bahwa semuanya akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apapun. Yoo Kyung tahu penyebab pemuda ini takut akan naik pesawat terbang. Hyoengnya–Lee Donghwa–meninggal kala melakukan perjalanan dari Canada ke Korea ketika Donghae masih duduk di bangku Junior High School, itulah alasan bila ada liburan ke luar negeri ia tidak pernah ikut. Takut akan naik pesawat.

“Tapi.. Pikiran itu selalu memenuhi kepalaku, Yoo.” Lirih Donghae dengan keringat bercucuran. Yoo Kyung mengambil saputangan miliknya dan mulai menyeka keringat di pelipis Donghae dengan hati-hati. Wanita itu tersenyum begitu lembut, memajukan sedikit wajahnya ke arah Donghae.

Chup!

Kecupan kecil ia daratkan di bibir pucat Donghae. Pemuda itu terkejut, seakan melupakan rasa takutnya tadi. Ketika Yoo Kyung akan menarik kepalanya mundur Donghae justru menahan serta sedikit mendorong tengkuknya, yang tentu saja memperdalam tekanan pada bibir mereka.

“Aish.. Dasar anak muda jaman sekarang.” Ujar seorang wanita baya ketika tidak sengaja melihat Yoo Kyung dan Donghae.

“Eomma ini seperti tidak pernah muda saja, maklumi saja. Mereka itu pasti pengantin baru.” Sahut wanita yang duduk di samping wanita baya tadi.

Yoo Kyung melepas paksa ciuman panjang mereka, nafas keduanya memburu. “Kau ingin membuatku mati karena ciumanmu huh?!”

Donghae tersenyum amat manis, “Itu karena kau yang memulainya lebih dulu Mrs. Lee.” Jawabnya enteng. Yoo Kyung mengutuk dirinya yang telah bertindak bodoh sesaat tadi. Sebenarnya apa yang ada dipikirannya sehingga mencium Donghae?

“Aish.. Sudah, aku tidak ingin berdebat denganmu.”

“Berdebat? Bukan melanjutkan ciuman kita, hm?” Goda Donghae dengan terkekeh begitu melihat rona merah muda menghiasi ke dua pipi Yoo Kyung, menambah kesan manis wanita itu.

“Ingat Mrs. Lee, kau harus mempersiapkan dirimu begitu kita sampai di Paris nanti. Jangan sampai kau kehabisan nafas juga tenagamu, ok?” Donghae mengecup kecil daun telinga Yoo Kyung yang berefek pada kerja jantung wanita itu menjadi berpuluh kali lipat bertambah cepat. Yoo Kyung seketika menoleh dan kesempatan itu digunakan Donghae untuk mencuri kecupan bibir Yoo Kyung yang masih memerah dan basah.

“Rasanya tetap sama seperti saat pernikahan kemarin, stroberi.” Donghae mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jari, tatapannya begitu berbeda dengan yang tadi. Yoo Kyung tidak berkedip melihatnya.
Dan satu kenyataan yang dapat ia rasakan saat ini, bahwa jantungnya berdetak begitu cepat dan perutnya terasa di aduk-aduk. Perasaan apa ini?

Mungkinkah ia sedang mengalaminya?
Jatuh cinta?
Oh.. Ya Tuhan, jatuh cinta pada suami sendiri?
Tidak lucu bukan?

***

Hotel Du Louvre yang terletak di pusat kota Paris, yang hanya berjarak 2 menit dari Stasiun Metro Palais Royal serta 10 menit dari Menara Eiffel, Hotel bintang 5 dengan bergaya Hausmannian dengan arsitektur yang kental budaya Paris adalah tempat pasangan pengantin baru itu menginap.

Yoo Kyung dan Donghae meneliti isi kamar yang didominasi oleh warna putih dan abu-abu itu dengan seksama begitu mereka sampai di kamar 0615, kamar yang sudah disiapkan oleh orang tua mereka. Yoo Kyung berjalan ke arah jendela besar yang terdapat di kamar itu, membukanya lebar, membiarkan angin malam musim gugur menyapanya.

Donghae hanya memperhatikan wanitanya dari posisi duduknya di ranjang yang luas. Ia kembali mengedarkan pandangannya. Kamar ini begitu luas dengan perabotan yang begitu lengkap. Ranjang yang langsung berhadapan dengan tv layar lebar yang menempel di dinding kamar. Sofa warna abu dengan corak bunga yang sama dengan horden jendela, juga ada dapur serta mini bar  yang terletak di dekat kamar mandi, yang hanya berbataskan dinding yang dicat putih.

Donghae merebahkan tubuhnya ke belakang, membiarkan kedua kakinya  di ujung ranjang. Mata pemuda itu terpejam, sepertinya pemuda itu masih lelah dan butuh istirahat.

“Kau tidak membereskan barang-barangmu, Donghae-ya?” Yoo Kyung kini sudah berada di sisi ranjang. Menarik koper biru miliknya dan membukanya. Berniat menyusun barang-barang bawaannya.

“Aku lelah, kepalaku pusing. Tolong kau yang bereskan ne?” Donghae bergumam pelan dengan mata terpejam. Yoo Kyung mendesis. “Aku bukan pembantumu, Mr. Lee.”

“Tapi kau istriku, Mrs. Lee. Bukankah sudah sewajarnya kau melakukan tugasmu sebagai istri, melayani suami dengan baik.” Donghae menjawabnya tanpa merubah posisi berbaringnya.

Yoo Kyung segera membuka koper miliknya dengan perasaan kesal. Kesal karena jawaban Donghae mengingatkan pesan sang ibu sebelum berangkat kemari. “Patuhi semua ucapan kalimat suamimu, jangan membantahnya. Dan bersikaplah dewasa karena kau sudah menikah. Jangan manja lagi seperti saat kau masih sekolah.”

Yoo Kyung menyerngit melihat isi koper miliknya, ada beberapa barang yang menurutnya bukan miliknya. Ia mencoba mengeluarkan dari tumpukan baju-bajunya.

“Apa ini?” Gumam wanita ini dengan mengangkatnya menggunakan kedua tangan, diperhatikannya dengan seksama baju yang ada di hadapannya itu. Sebuah gaun tidur berwarna ungu berbahan sutra lembut namun tembus pandang. Lingerie.

“Aaaaaaaaaa….” Teriakan yang bisa meruntuhkan sebuah gedung itu membuat Donghae terbangun, pemuda ini terkejut. Pemuda ini segera mendekat ke arah Yoo Kyung yang sedang berjongkok di dekat lemari. Donghae sedikit mencondongkan badannya, mencoba melihat dari arah belakang wanita yang memunggunginya.

“Ada apa?” Donghae bertanya dengan suara pelan. Yoo Kyung berjengit kaget karena nafas pemuda itu menerpa kulit lehernya.

“Yoo, kenapa?”

“Ini bukan barang-barangku, Hae-ah.” Lirih Yoo Kyung lemas. Donghae memperhatikan isi koper milik istrinya itu, ia menyerngit bingung.

“Apanya yang bukan milikmu? setahuku itu semua kau yang memasukannya.”

“Anni. Ini bukan milikku! Kau lihat ini…” Yoo Kyung menenteng lingerie berbahan sutra itu kearah Donghae dengan kesal.

“Lingerie? Bagus. Kurasa cocok dipakai olehmu.” Donghae menyeringai, berniat menggoda istrinya dan benar saja Yoo Kyung langsung mendeplak kepala bagian belakang dengan tangan kecilnya.

“Kasar sekali kau huh,” sungut Donghae tidak terima atas perlakuan Yoo Kyung padanya.

“Aku tidak akan memakainya!”

“Lalu, kau akan pakai apa? Kau tidak lihat bahwa semua bajumu itu berisi lingerie? Kau mau tidur memakai celana jeans? Tidak mungkin kan? Kurasa itu tidak nyaman.”

Yoo Kyung mendesah. Yang diucapkan Donghae memang benar, semua baju tidurnya telah berganti lingerie dan ia yakin bahwa ini semua ulah Eommanya.
Yoo Kyung menoleh ke arah Donghae yang sedang menyusun baju-baju miliknya ke lemari. Wanita itu terus memperhatikan gerakan Donghae. Entah ia yang bodoh atau apa karena, baru menyadari bahwa pemuda yang selalu bertengkar dengannya ini lumayan tampan.
Baiklah, mungkin ia memang bodoh karena baru menyadarinya saat ini, saat mereka sudah menikah. Pantas saja Donghae selalu dikelilingi oleh gadis-gadis cantik dan populer.

Yoo Kyung mengerjap ketika Donghae sudah berada di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat. Wanita itu refleks memundurkan wajahnya. “A–apa?” gagapnya.

Donghae sedikit memiringkan kepalanya, “Kenapa kau terus memperhatikanku? Kau baru sadar bahwa aku ini tampan heh?”

“M.. mwo?” Yoo Kyung mengerjap beberapa kali, ia tiba-tiba saja merasakan kegugupan itu ketika Donghae semakin memajukan wajahnya. Pemuda itu tersenyum miring, sepertinya ia berniat akan menggoda Yoo Kyung sekarang.

“Apa?” Donghae kembali bertanya dengan terus memajukan wajahnya hingga wanita itu menahan dadanya dengan kedua tangan. Yoo Kyung hampir tertidur di lantai bila Donghae tidak menyangga punggungnya dengan sebelah tangan.

“K–kau mau ap–pa?”

Bodoh! Kenapa malah gugup begini huh? Maki Yoo Kyung dalam hati.

Donghae semakin melebarkan senyumnya kala Yoo Kyung kini memejamkan matanya begitu hidung mereka bersentuhan. Niat Donghae yang tadinya hanya ingin menggoda Yoo Kyung kini justru tidak sesuai dengan jalan pikirannya ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir wanita itu. Tidak. Ia tidak bisa menghentikan ini. Ia pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri bila sudah menyentuh wanita ini ia tidak bisa mengendalikan dirinya, selalu ingin lebih dan lebih lagi.
Bahkan Donghae tidak membiarkan Yoo Kyung menarik nafas dengan leluasa ketika bibirnya beralih mengecup dagu wanita itu, karena selanjutnya Donghae kembali membungkam bibir Yoo Kyung. Menghentikan segala protes wanitanya.

Deringan ponsel yang cukup keras itupun tidak membuat Donghae menghentikan kegiatannya. Mereka kini telah berbaring di lantai dengan Donghae berada di atas tubuh Yoo Kyung yang sudah lemas.

“Op.. Mmmhhh.” Yoo Kyung memukul punggung Donghae ketika tangan pemuda itu bergerak di atas perutnya, menggelitiknya. Donghae menatap Yoo Kyung sayu, kentara sekali tatapan Donghae begitu tersiksa. Seperti menahan sesuatu dalam dirinya. Nafas keduanya tidak beraturan, memburu.

Ponsel yang ada di ranjang itu kembali bergetar. Yoo Kyung segera menahan wajah Donghae yang akan menciumnya lagi dengan kedua tangan.

“Wae?” Donghae menatap dengan tidak suka. Yoo Kyung menggeleng pelan.

“Ponselmu,” Yoo Kyung menjawab dengan lirih.

“Biarkan,” Donghae kembali mendekatkan wajahnya namun kembali tertahan tangan Yoo Kyung yang menahan sisi wajahnya. “Waeyo?” Rajuknya dengan sebal. Ia sebal karena kesenangannya terganggu.

“Angkat dulu, siapa tahu itu penting.” Donghae mendecak, ia segera bangkit dari posisinya. Menjauh dari tubuh Yoo Kyung yang berbaring di lantai. Pemuda itu segera meraih ponselnya yang sedari tadi terus berdering tiada henti.

“Wae?” Jawabnya dengan kesal tanpa melihat siapa nama penelponnya lebih dulu. Dan ia semakin kesal ketika mengetahui yang menelponnya adalah Hyukjae yang bertanya mengenai nomor ponsel Jaekyung, sepupu Yoo Kyung.

“Aku tidak tau, Hyuk-ah.. Ok, nanti aku tanyakan.” Donghae segera mematikan sambungan dengan sepihak. Pemuda itu mengacak rambutnya gemas. Ia kesal karena Hyukjae telah merusak semuanya, ketika ia sedang bersama Yoo Kyung.

“YA! Kau mau ke mana, Yoo?” Donghae memekik begitu melihat Yoo Kyung berjalan ke arah kamar mandi. Wanita itu menoleh, “Mandi.”

“Aku ikut! Kita mandi sama-sama.” Donghae segera berdiri dan bersiap akan menyusul Yoo Kyung namun sayang ia kalah cepat karena wanita itu telah masuk dan mengunci pintunya. Donghae menggedor pintu itu keras dan berteriak-teriak.

“Yoo!! Buka pintunya!”

“Andwae!! Aku tidak mau mandi bersama denganmu!”

“Waeyo? Lagi pula kita sudah menikah, jadi tidak apa-apa.”

“Pokoknya tidak mau!!” Balas Yoo Kyung dengan berteriak. Membuat pemuda itu kesal.

Donghae kembali mengacak rambutnya kasar. “Aargghh.. Ini gara-gara kau Hyuk-ah!!” Kesal Donghae dengan memberengut sebal. “Awas saja nanti.. Aku jamin kau tidak akan selamat malam ini, kekeke.” Donghae menyeringai begitu sebuah ide melintas dipikirannya.

***

Seorang wanita berjalan dengan kesal dan terus menggrutu tidak jelas, sesekali wanita itu menoleh ke arah belakang berharap orang yang membuatnya kesal ada di sana, tapi ternyata tidak. Yoo Kyung memilih duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon mapel yang daunnya mulai berguguran. Ia merasa kesal karena Donghae tidak mengajarnya, ke mana pemuda itu huh?

“Menyebalkan. Kau malah asyik menggodai gadis-gadis bule itu huh? Ck!” rutuk Yoo Kyung dengan menghentakan kakinya ke tanah. Donghae tadi pagi mengajaknya berkeliling museum yang kemudian dilanjut berjalan kaki kesebuah café tradisional yang ada di dekat sana, tapi pemuda itu malah mengacuhkannya setelah bertemu dengan gadis itu.

Gadis yang Yoo Kyung ketahui sebagai mantan kekasih Donghae sewaktu Junior High School, Jung Saerin. Adik dari Jung Yunho, sunbae mereka. Saerin memutuskan untuk meneruskan sekolahnya ke luar negeri karena mendapat beasiswa yang diajukannya dulu. Gadis bermata biru dengan logat bicara yang khas, tidak terlalu fasih menggunakan bahasa Korea meskipun gadis itu lahir di Korea.

Yoo Kyung lebih memilih pergi meninggalkan café itu daripada harus melihat mereka berdua yang begitu akrab, tidak memperdulikan dirinya yang ada di sana. Maka itulah wanita ini ada di sini, duduk di bawah pohon mapel yang mulai menggugurkan daunnya, di saat matahari bersinar cukup terik.

Yoo Kyung menarik nafas panjang dan memejamkan matanya sebentar, berharap bisa melegakan saluran pernafasannya yang tiba-tiba saja sesak.

“Yoo Kyung?” Sapaan yang sepertinya dari seorang pria membuat Yoo Kyung membuka matanya yang tadi terpejam. Wanita itu memandang seorang pemuda yang memakai coat berwarna coklat hingga lutut. Pemuda itu tinggi menjulang di hadapan Yoo Kyung yang duduk. Bahkan wanita itu harus mendongakan wajahnya agar bisa mengenali siapa orang yang menyapanya.

“Kau, Kim Yoo Kyung, right?” Ulang pemuda itu dengan menunjuk Yoo Kyung.

Wanita itu menyerngit heran, bagaimana bisa orang ini tau namanya?

“Ye?”

Pemuda itu melepas kacamata hitam yang menutupi indera penglihatannya kemudian tersenyum manis ke arah wanita itu yang sepertinya masih belum mengenali dirinya.

“Aku, Choi Siwon. Kau ingat?” Ujar pemuda itu karena Yoo Kyung hanya menatapnya bingung. Wanita itu mengerjap cepat.

“K–kau Choi Siwon?” Ulang wanita itu dengan menunjuk Siwon ragu. Pemuda itu mengangguk, mengiyakan. Yoo Kyung memperhatikan penampilan Siwon dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Kau.. Kau sungguh Choi Siwon, si kutu buku itu?” Yoo Kyung sepertinya belum percaya bahwa orang yang ada di hadapannya ini adalah Choi Siwon si kutu buku dengan kacamata tebal yang selalu dipakainya itu. Choi Siwon yang selalu membantunya mengerjapkan PR Matematika juga Sains, mengingat wanita itu tidak begitu mahir dalam kedua bidang pelajaran itu. Temannya sejak sekolah dasar hingga Junior High School, orang yang dekat dengannya selain Sung Hyo juga Hyesun.

“Nde, ini aku. Apa yang sedang kau lakukan di sini, Kyungie?” Siwon kini telah duduk di samping Yoo Kyung. Gadis ini masih terus memperhatikan penampilan Siwon yang jauh berbeda. Sejak pemuda itu pergi dari Korea 3 tahun lalu, ia tidak pernah tahu kabarnya. Tidak ada kabar sama sekali barang e-mail sekalipun, seakan-akan pemuda itu telah hilang dari peradaban. Tapi kini pemuda itu kembali muncul dihadapannya dengan penampilan yang amat jauh berbeda dari 3 tahun lalu.

“Kenapa?” Siwon bertanya karena Yoo Kyung masih diam dengan terus menatapnya. Apa ada yang aneh dengan penampilannya hari ini atau ada sesuatu yang menempel di wajahnya?

Yoo Kyung menggeleng kemudian tersenyum kaku. “Kau terlihat berbeda dari yang dulu, aku sampai tidak mengenalimu lagi.” Aku Yoo Kyung jujur. Siwon tersenyum sehingga memperlihatkan cekungan di kedua pipinya. Yoo Kyung sempat terpaku sejenak. Siwon bila tersenyum seperti itu sangat tampan dan bodohnya ia baru sadar sekarang, setelah berteman ± 9 tahun lamanya dan ia baru sadar sekarang. Bodoh.
Apa ia terlalu sibuk sehingga tidak menyadari bahwa dibalik sifat Siwon yang baik namun pendiam yang selalu dibully oleh Donghae Cs itu mempunyai sisi seperti ini? Wajah yang rupawan. Yoo Kyung akui itu sekarang.

“Ngomo-ngomong, kau kenapa di sini Yoo? Sedang liburan?” Siwon menatap lurus ke depan, melihat para pejalan kaki yang sengaja menikmati indahnya musim gugur. Yoo Kyung bingung harus menjawab seperti apa.

“Eum, aku sedang liburan. Kalau kau sendiri?”

Siwon menoleh ke samping, kemudian ia tertawa. Yoo Kyung menyerngit tidak mengerti kenapa Siwon justru tertawa setelah ia mengajukan pertanyaan. “Kenapa tertawa, Siwon-ah?”

“Apa kau lupa kalau sekarang aku tinggal di sini? Apa setelah aku pergi kau semakin bodoh huh? Kenapa penyakit lupa akutmu itu tidak pernah hilang? Nona si pelupa akut.” Cecar Siwon dengan tertawa lepas. Yoo Kyung mengerucutkan bibirnya kesal, satu yang ia tidak sukai dari Siwon ini. Bila Siwon sselalu menyebutnya dengan sebutan “Nona lupa akut.”

Itu sungguh sebutan yang menyebalkan. Tapi meskipun begitu, ia tidak pernah marah bila Siwon menyebutnya seperti itu. Lain halnya jika yang memanggilnya Donghae, ia pasti akan langsung marah-marah tidak jelas.

“Kau liburan dengan siapa?”

“Dengan teman. Oh ya, bagaimana kabar Taerin?” Yoo Kyung teringat dengan adik perempuan Siwon yang hanya selisih 3 tahun dari mereka. Choi Taerin, gadis manis yang manja dan selalu ramah pada siapapun.

“Dia baik. Bukankah kau sudah lulus sekolah hum? Melanjutkan di mana sekarang?”

“Nde. Aku melanjutkan di Anyang, meneruskan hobbyku.” Yoo Kyung tersenyum hangat ke arah Siwon. Pemuda itu mengerjap senang, menatap Yoo Kyung dengan berbinar.

“Jinchayo huh?”

Yoo Kyung mengangguk dengan semangat. “Nde.”

“Bagaimana bisa? Bukankah Ahjusshi tidak setuju kalau kau jadi desainner?” Ujar Siwon penasaran. Pemuda itu ingat betul ketika Yoo Kyung menceritakan tentang keinginannya yang ingin menjadi desainer tapi tidak diperbolehkan oleh Tuan Kim, Appa Yoo Kyung yang menginginkan Yoo Kyung agar menjadi Dokter supaya dapat meneruskan rumah sakit milik keluarganya, Internasional Medic Hospital.

“Ah, itu.. Appa sudah berubah pikiran. Sekarang beliau setuju saja.” Ungkap Yoo Kyung dengan menggaruk tengkuknya.

Ah.. Itu juga karena syarat yang Eomma ajukan agar aku menikah dengan si setan mesum itu! Batinnya menggerutu.

Benar. Yoo Kyung bisa melanjutkan kuliah ke bidang yang ia sukai karena ia menikah dengan Donghae. Itu adalah syarat yang diajukan Eommanya setelah kejadian ‘malam kelulusan’ itu. Saat itu Yoo Kyung bersikeras menolak untuk menikah dengan Donghae karena ia tidak merasa melakukan apapun meski mereka terbangun dalam keadaan yang tidak patut dibicarakan. Namun orang tuanya bersikeras akan tetap menikahkan mereka dengan alasan kalau ia hamil nanti siapa yang akan bertanggungjawab. Karena ia dan Tuan Kim sama-sama memiliki sifat yang sama, keras kepala sehingga terjadi perdebatan alot, saat itulah Nyonya Kim mengusulkan akan memberinya ijin untuk meneruskan kuliahnya di bidang desain dengan sarat ia mau menikah dengan Donghae.
Mungkin Yoo Kyung bodoh karena menerima syarat itu begitu saja. Menikah dengan Donghae yang notabennya musuh bebuyutan demi cita-citanya menjadi desainer.

“Lalu bagaimana denganmu, Siwon-ah?”

“Aku?” Siwon menunjuk dirinya sendiri. Yoo Kyung mengangguk. “Seperti yang kau tahu, aku harus meneruskan bisnis Appa jadi aku kuliah ambil jurusan bisnis.”

“Kau hebat, mau menuruti keinginan orang tuamu. Anak yang berbakti.” Puji Yoo Kyung dengan menepuk bahu Siwon pelan.

Siwon memang anak yang baik dan selalu menuruti keinginan kedua orang tuanya. Mengesampingkan cita-citanya yang ingin menjadi pianis demi permintaan orang tua yang menginginkan pemuda itu agar meneruskan bisnis keluarganya. Yoo Kyung salut dengan Siwon. Ia adalah anak yang patut dibanggakan.

“Ah ya, aku baru ingat. Bagaimana kabar soulmate setiamu itu huh?” Siwon terlihat begitu ceria ketika mengatakannya.

“Soulmate? Nugu?”

“Aish.. Dasar pelupa akut.” Siwon menyentil kening Yoo Kyung gemas. “Tentu saja Donghae!!” Pekik Siwon semangat.

Yoo Kyung melebarkan matanya, terkejut. “M–mwo? Dong.. Hae?” Ucapnya gugup.

“Nde. Bagaimana kabarnya, apa kalian masih tetap saja seperti dulu huh? Selalu ‘mesra’.” Goda Siwon dengan menggerlingkan sebelah matanya, menggoda Yoo Kyung. Ia jadi teringat kebersamaan mereka dulu, bila ia menyebut Yoo Kyung dan Donghae soulmate yang selalu mesra, pasti Yoo Kyung akan marah dan memukulinya dengan pensil atau buku diary yang selalu Yoo Kyung bawa kemanapun ia pergi. Dan untuk soal kata ‘mesra’ yang di maksud Siwon adalah mereka selalu beradu argumen. Bertengkar.

“Dengar baik-baik, Siwon-ah. Aku dan Donghae bukan soulmate.” Yoo Kyung mengucapkan kalimatnya dengan nada yang di tekan dan terpisah-pisah, agar Siwon mengerti dengan maksudnya. Bahwa ia dan Donghae bukan soulmate melainkan musuh.

Siwon mendecak, “Oh ya? Aku beri tahu padamu, Yoo. Yang namanya benci dan cinta itu bedanya setipis kertas. Dan tidak ada yang tahu sejak kapan perasaan itu timbul. Sekarang, aku tanya padamu, apa benar rasa yang ada dalam hatimu itu perasaan benci atau justru kebalikannya?” Yoo Kyung menatap Siwon tidak mengerti. Pemuda itu hanya tersenyum kemudian melanjutkan kalimatnya. “Jawabannya ada dalam dirimu, Yoo. Seberapa besar kau membenci seseorang, berarti sebesar itu pula kau mencintainya.”

Yoo Kyung terpekur dengan kalimat Siwon. “Kau tahu Yoo…”

“Apa?” Yoo Kyung menunggu.

“Donghae itu mencintaimu,”

“A–apa? Ti–dak mungkin. Hahaha.., kau pasti bercanda.” Yoo Kyung berusaha menepis perkataan Siwon barusan.

Donghae mencintainya? Mustahil.

“Tsk, jadi kau tidak percaya huh? Apa kau masih ingat kejadian saat kita kemah dulu, saat kau tiba-tiba menghilang. Kau tersesat saat jelajah hutan? Donghae saat itu begitu panik dan meminta para guru agar segera mencarimu. Agar cepat menemukan keberadaanmu. Tapi karena hari yang mulai gelap, guru menunda untuk mencarimu menjadi keesokan paginya. Kau tahu, saat itu Donghae nekat mencarimu seorang diri, tanpa memberi tahu kami. Kami semua panik saat Donghae tidak ditemukan di tendanya. Akhirnya kami pun mencarinya setelah guru-guru meminta bantuan warga setempat.” Siwon berhenti sejenak, memperhatikan raut Yoo Kyung yang sepertinya terkejut. Wajar saja bila Yoo Kyung tidak tahu. Itu karena saat Yoo Kyung ditemukan oleh Donghae, Yoo Kyung terluka parah pada kaki kirinya dan dalam keadaan pingsan, bahkan demam tinggi.

“Lalu Donghae menemukanmu yang tergeletak di lereng bukit, kau sudah pingsan saat itu. Dan kau malah mengira Jong Woon yang menolongmu ketika kau sadar karena di sampingmu ada Jong Woon.” Siwon mengakhiri ceritanya. Itu adalah kejadian saat mereka masih duduk di kelas 2 Junior High School. Saat mereka mengadakan kemah tahunan bersama junior mereka.

“Donghae saat itu terlihat begitu kecewa Yoo, saat kau justru mengira Jong Woon lah yang menyelamatkanmu. Donghae saat itu sedang di rawat di kamar sebelah ruang rawatmu karena tangan kirinya yang terkilir.”

Yoo Kyung menatap Siwon tidak percaya, wanita itu membekap mulutnya dengan sebelah tangan. Pantas saja saat ia mengucapkan terima kasih pada Jong Woon pemuda itu tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum kaku. Jadi karena ini. Bodoh. Yoo Kyung memang bodoh.

“Ah! Maaf, Yoo. Aku harus pergi. Aku ada janji dengan teman. Aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang.” Siwon berdiri dengan mengulurkan sebelah tangannya. Yoo Kyung pun segera berdiri setelah cukup lama termenung, menyambut uluran tangan Siwon. “Aku harap kau sehat.” Ucap pemuda itu dengan senyum khasnya.

Yoo Kyung mengangguk.”Nde, kau juga.”

“Sampaikan salamku untuk teman-teman yang lain, kapan-kapan aku akan mengunjungi kalian, kita adakan reuni. Dan saat itu datang, aku harap kau dan Donghae sudah menjadi pasangan. Donghae pria yang baik dan cocok untukmu, Yoo. Aku yakin bahwa ia bisa membahagiakanmu.”

“Kenapa kau bisa begitu yakin?”

“Karena akupun seorang pria. Aku bisa merasakan ketulusannya padamu meskipun Donghae selalu membuatmu kesal. Tapi percaya Yoo, Donghae amat mencintaimu.” Siwon kembali tersenyum hangat dan begitu tulus. Yoo Kyung tidak bisa membalas kalimat Siwon. Lidahnya terasa kelu, tidak ada sepatah katapun yang mampu ia ucapkan untuk membalas ucapan Siwon.

“Baiklah, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik.” Siwon memeluk Yoo Kyung sebagai salam perpisahan. Yoo Kyung pun membalas pelukan itu. Mereka tidak sadar bahwa ada seorang pemuda yang menyaksikan pemandangan yang mampu membuatnya kesal sehingga memilih pergi, meninggalkan mereka. Donghae.

Saat Donghae sadar bahwa Yoo Kyung telah pergi, pemuda itu langsung pamit pergi untuk mengejar Yoo Kyung. Setelah cukup lama berputar dan bertanya pada orang yang lewat akhirnya ia bisa menemukan wanitanya. Tapi ketika ia akan menghampirinya, ia melihat ada seorang pemuda yang datang menghampiri wanita itu dan mereka terlihat begitu akrab karena sesekali Yoo Kyung terlihat tertawa lepas atau kadang memukul bahu pemuda itu. Donghae tidak menghampiri mereka, ia justru memilih bersembunyi dibalik pohon yang cukup jauh dari mereka. Menahan kekesalan yangmembuatnya benar-benar kesal. Marah pada dirinya sendiri karena ia terlalu pengecut, tidak berani mengungkapkan secara terang-terangan bahwa wanita itu adalah istrinya. Membiarkan kecewa memenuhi relung hatinya.

***

Yoo Kyung melangkahkan kakinya gontai menuju hotel tempatnya menginap. Hari sudah larut ketika ia memutuskan untuk pulang. Setelah kepergian Siwon ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Merileks kan pikirannya yang semrawut tidak karuan akibat kenyataan yang baru diketahuinya juga tentang perasaannya selama ini. Perasaan bencinya terhadap Donghae. Benarkah ia membenci pemuda itu? Atau malah mencintainya?

“Tidak, tidak. Apa yang kau pikirkan, Yoo. Pikiran bodoh.” Gumamnya dengan terus berjalan menyusuri koridor yang sepi, yang menghubungkannya dengan kamar menginap mereka.

“Tapi tadi siang itu perasaan apa? Kenapa aku begitu kesal saat Donghae mengacuhkanku? Perasaan seperti itu baru aku rasakan tadi.” Yoo Kyung kembali bermonolog ria hingga ia sampai di depan pintu kamarnya. Wanita itu segera membuka pintu setel membuka kuncinyakemudian melangkah masuk. Kamarnya terang, itu berarti Donghae ada di sini, pikirnya.

Yoo Kyung merebahkan tubuhnya di ranjang dan tidak lama terdengar bunyi pintu terbuka. Yoo Kyung menoleh, Donghae ke luar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melingkari pinggangnya hingga lutut. Memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang putih dan juga atletis. Mata mereka sempat bertemu dan bertatapan cukup lama sebelum Yoo Kyung terkesiap ketika menyadari keadaan Donghae. Wanita itu segera memalingkan wajahnya, ia yakin bahwa saat ini wajahnya ini sudah merona malu.
Jujur, ini pengalaman pertama melihat tubuh seorang pria dengan seperti itu, half naked.

“Kau baru pulang?” Suara Donghae terdengar di telinga Yoo Kyung.

“Ye.” Jawab Yoo Kyung kaku.

“Sudah makan?” Donghae kini telah memakai pakaian tidurnya. Celana pendek warna pastel dengan kaos putih longgar. Pemuda itu memperhatikan Yoo Kyung yang terus menunduk sejak pemuda itu berjalan mendekat ke arahnya.

“Sudah.”

“Tadi, kau pergi ke mana? Kenapa larut sekali pulangnya?”

Yoo Kyung mendongak, menatap Donghae ragu. “Aku.. Aku jalan-jalan sebentar.” Bohongnya.

“Oh… Ke mana?”

“Taman kota, dekat dari café tadi siang.”

“Benarkah? Tapi, kenapa aku tidak melihatmu ya? Padahal aku juga ke sana tadi.” Sengaja. Donghae sengaja berkata seperti itu. Ia ingin tahu reaksi Yoo Kyung dan apa Yoo Kyung akan bicara jujur atau tidak. Tidak bisa Donghae pungkiri bahwa ia penasaran sekali akan sosok pemuda yang berbicara dengan istrinya siang tadi, tapi ia tidak ingin bertanya langsung maka itu ia memancingnya agar Yoo Kyung bicara sendiri.

Yoo Kyung nampak gugup. “Jincha? Ehehe.. Bagaimana bisa kita tidak bertemu ya?”

“Mungkin karena kau terlalu sibuk dengan temanmu sehingga kau tidak tahu bahwa aku ada disitu.” Rasanya ingin sekali Donghae berkata seperti itu namun ia tahan. Ia tidak akan bertanya kalau istrinya itu tidak berbicara lebih dulu.

Donghae merangkak naik keatas tempat tidur, bersiap akan tidur.

“Kau.. Sudah akan tidur?” Ragu Yoo Kyung bertanya. Donghae menghentikan kegiatannya yang sedang membenarkan bantalnya agar nyaman.

“Nde. Aku lelah karena mencarimu tapi tidak ketemu.”

Yoo Kyung seketika menatapnya, ia merasa bersalah karena melupakan Donghae yang mungkin saja cemas karena pergi tanpa pamit. Ia menyesal.

“Mian,” lirih. Suara itu begitu terdengar lirih di telinga Donghae. Pemuda itu menarik nafas panjang.

“Sudahlah, gwaenchana. Kau sebaiknya mandi saja kemudian tidur. Kau pasti lelah.”

Yoo Kyung hanya mengangguk kemudian beranjak bangun dan masuk kamar mandi. Donghae hanya menatap wanitanya yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan perasaan berkecamuk. Cemburu. Ia cemburu karena Yoo Kyung dekat dengan pemuda lain, tertawa dengan begitu lepas saat bersama pemuda itu. Sedangkan ketika bersamanya, Yoo Kyung justru tidak pernah tertawa selepas itu, justru kebalikannya, memberengut sebal.

“Aku harus bagaimana agar kau mau menatapku, Yoo? Hanya menatapku.” Gumam Donghae dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan.

Continue…

 

14 comments

  1. Jadi semuanya settingan ortu mereka?!
    Wah,,,
    Donghae udah suka Yoo Kyung dari jaman SMP?
    Tapi akhirnya kesampaian..

  2. yoo kyung beruntung dicintai donghae
    tapi donghae bodoh gk mau jujur ama yoo kyung soal perasaannya
    gregetan pan jadinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s