Mommy For Daddy Chapter 4

wpid-PicsArt_1388236780867.jpg

Author : Bluerose8692

Title : Mommy For Daddy Chapter 4

Genre : Family, Romance

Lenght : Chapter

Rate : PG16

Cast : Lee Donghae, KIm Raeann/Lee Yookyung, Lee Haera

***

Yookyung menatap Haera dan juga Donghae bergantian. Sungmin pun sama. Sedangkan Ji Hyun menghela nafasnya, ia sudah duga ini, Haera pasti akan menolak tinggal bersamanya.Read More

“Haera tidak mau tinggal bersama Ji Hyun Eonnie selama Appa pergi. Haera dengan Yookyung Eonnie saja,” Haera kembali melingkarkan tangan kecilnya ke leher Yookyung, seakan takut jika Ji Hyun ataupun Donghae memaksanya pulang.

“Memang kau akan ke mana Donghae-ah? Kenapa kau ingin menitipkan Haera pada Ji Hyun?” Sungmin mengutarakan isi kepalanya. Ia sungguh penasaran dengan alasan Donghae yang ingin menitipkan Haera pada Ji Hyun. Bukankah di rumah ada Ibunya?

Donghae menghela nafas, “Aku akan ke Shanghai selama beberapa hari, dan karena di rumah tidak ada orang maka aku titipkan Haera pada Ji Hyun. Eomma sedang pergi ke rumah Donghwa Hyung dan menginap selama seminggu di sana. Dan aku tidak mungkin merepotkanmu kan? Kau sudah cukup sibuk.” Jelas Donghae lirih. Pria itu duduk di samping Sungmin. Ia sudah memikirkan ini sejak beberapa hari lalu dan hanya Ji Hyun yang cukup dekat dengannya. Lagi pula, Ji Hyun terlihat menyukai Haera jadi ia pikir ini tidak masalah. Tapi di luar dugaan, Haera justru menolaknya.

“Kapan kau pergi Donghae-ssi?” Yookyung mengeluarkan suaranya.

Donghae menatap Yookyung sekilas, “Besok siang.”

“Berapa lama?”

“Mungkin 3-4 hari.”

“Kalau kau tidak keberatan, biarkan Haera tinggal bersamaku.”

Seketika Donghae, Sungmin dan Ji Hyun menatap Yookyung dengan raut terkejut.

“Tinggal di rumahmu?” Ji Hyun bersuara lirih. Yookyung mengangguk.

“Jika Donghae tidak keberatan,” Yookyung mengangkat bahunya acuh.

Lagi pula, Haera tidak mau tinggal bersama Ji Hyun kan?

“Itu…” Donghae terlihat bingung, apalagi Ji Hyun menatapnya dengan sorot tidak setuju. Tapi lihat Haera sekarang.. Malaikat kecilnya begitu lengket dengan Yookyung. Ia tidak mengerti dan tidak tahu mengapa Haera bisa langsung begitu akrab dengan gadis yang baru dikenalnya kurang dari sebulan.

Padahal Haera sangat susah beradaptasi dengan orang baru. Ji Hyun saja yang sudah kenal selama 1 tahun tidak begitu dekat dengan putri kecilnya ini.

Aneh.

Dan ketika ia menanyakan alasannya pada Haera, dengan senyum bocahnya menjawab, “Haera merasa seperti punya Eomma dengan Eonnie, Appa. Eonnie sangat baik dengan Haera.”

Apakah perasaan bocah umur 5 tahun justru lebih peka ketimbang orang dewasa?
Kenapa Haera begitu mudahnya dekat dengan gadis yang mirip Raeann?

Tapi jika di pikir, ia pun merasakan hal yang sama. Ia seperti bersama Raeann lagi, seperti mengulang masa lalu.

“Bagaimana Donghae-ah? Kurasa tidak ada salahnya Haera tinggal bersama Yookyung karena Haera pun lebih memilih tinggal bersamanya.” Sungmin menatap Donghae.

“Oppa..,” Ji Hyun bergumam dan menatap Donghae sendu. Pria itu tampak ragu.

Haera masih saja memeluk erat gadis itu dengan menyandarkan kepalanya di bahu Yookyung. Pemandangan yang indah. Seperti Ibu dan anak. Sungguh ia ingin menangis ketika membayangkan jika yang di peluk oleh Haera adalah Mina, istrinya.

“Kau tidak percaya padaku, Donghae-ssi?” Yookyung mengerti kenapa Donghae begitu ragu untuk mengijinkan Haera tinggal bersamanya. Ia sadar, ia orang asing bagi mereka.

“Ani, bukan begitu..” sahut Donghae cepat. Bukan itu yang menganggu pikirannya. Masalahnya ia sudah berjanji pada Ji Hyun untuk mendekatkan keduanya, ini permintaan Ji Hyun. Agar Haera terbiasa kelak.
Tapi jika seperti ini, ia harus bagaimana?

Haera tidak mau tinggal bersama Ji Hyun. Itu artinya Haera menolak kehadiran Ji Hyun di sampingnya secara tidak langsung. Anak itu tidak atau kurang menyukai Ji Hyun.

“Sudah kau biarkan Haera tinggal bersama Yookyung saja, Hae-ah. Daripada dengan Ji Hyun nanti Haera menangis tiap hari,” Sungmin mengucapkan itu hanya sebagai candaan tapi Ji Hyun mengartikannya lain.

Kau tidak bisa mengurus anak-anak. Ya, kira-kira seperti itulah pikiran Ji Hyun.

Donghae membenarkan ucapan Sungmin. Tapi bagaimana dengan Ji Hyun?

“Kalau kau tetap memaksa, kau terlihat seperti ingin memisahkan anak dari Eommanya, Hae-ah.”

Ucapan Sungmin membuat Donghae terperanjat.
Benarkah jika ia memaksa Haera tetap tinggal bersama Ji Hyun akan terlihat seperti itu?

Setega itukah ia pada putri kecilnya?

Ia amat menyayangi Haera lebih dari dirinya sendiri.

“Naneun Yookyung-ssi, naega Haera dangsingwa hamkkeisseul su issdolog ihae.”

“Oppa! Kau mengijinkan Haera tinggal bersamanya dibanding denganku?” Desis Ji Hyun tidak percaya. Ia tatap Donghae nanar.

“Ji Hyun-ah…” Lirih pria itu sayu. Ia sungguh tidak bermaksud mengecewakan gadis itu. Tapi kalau tidak seperti itu Haera pasti akan rewel jika tinggal bersama Ji Hyun karena anak itu tidak mau bersamanya.

Ia tidak ada pilihan lain.

Tanpa banyak kata Ji Hyun langsung meninggalkan mereka. Donghae merasa serba salah. Ia ingin mengejar gadis itu untuk memberinya pengertian, tapi di sini ada Haera.

“Pergilah, kejar gadis itu Donghae-ssi.”

“Yoo..” Lirih Sungmin tanpa suara.

“Pergilah,” ucapnya lagi ketika Donghae masih duduk di kursinya.

“Tapi–”

“Biarkan Haera di sini. Nanti aku akan mengantarnya pulang bersama Sungmin-ssi.”

Akhirnya Donghae mengangguk, “Terimakasih, Yookyung-ssi.”

Setelah Donghae berpamitan pada Haera, pria itu segera menyusul Ji Hyun yang sudah tidak terlihat lagi.

Sungmin menatap Yookyung tidak percaya. Ia begitu gemas pada gadis ini. Bodoh, makinya dalam hati.

“Kau pasti mengataiku bodoh kan Oppa? Aku tahu itu. Tapi aku bisa apa? Donghae Oppa sudah menemukan pengganti Mina Eonnie untuk Haera.” Yookyung berkata tanpa menatap Sungmin. Gadis itu fokus pada Haera yang kini sibuk membuka-buka buku menu.

“Kau saja yang tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Kau memang sangat bodoh, Ann. Kalau kau mencintai Donghae seharusnya kau tidak berbohong, kau seharusnya jujur padanya. Mengatakan jika kau adalah Raeann. Bukannya menyamar jadi orang lain.” Sinis Sungmin. Ia bukan bermaksud mengatai gadis itu. Hanya saja Yookyung memang benar-benar bodoh.

Cinta tapi tidak mau berterus terang. Sama saja menyakiti diri sendiri.

“Haera-ya..” Sungmin beralih menatap Haera.

“Nde, Oppa?”

Yookyung menyerngit, ‘Oppa’?

“Aku yang menyuruhnya memanggilku ‘Oppa’, aku ini masih muda masa dipanggil ‘Ahjussi’.” Jelas Sungmin yang melihat Yookyung menyerngit.

“Cih, dasar..” Cibir Yookyung enggan menanggapi.

“Kenapa kau tidak mau tinggal bersama Ji Hyun Eonnie?” Sungmin sebenarnya sudah menduga jawaban apa yang akan keluar dari bibir anak itu, tapi untuk meyakinkan asumsinya maka ia bertanya langsung.

“Karena Ji Hyun Eonnie suka Appa.” Sahut anak itu dengan polosnya serta bibir mengerucut.

Sungmin langsung mengulum senyum begitu pula Yookyung.

“Lalu, kenapa kau mau tinggal dengan Yookyung Eonnie?”

Haera menatap Yookyung dan Sungmin bergantian. “Haera suka Yookyung Eonnie.”

Yookyung sedikit terkejut atas jawaban Haera. Anak ini menyukainya.

“Kenapa kau suka Yookyung Eonnie?” Sungmin kembali menanyakan alasannya.

“Karena Eonnie baik,”

“Tapi, bukankah Ji Hyun Eonnie juga baik?”

“Aniya, Ji Hyun Eonnie baik karena suka Appa, bukan suka Haera.”

“Begitu?”

Haera mengangguk tegas. “Ji Hyun Eonnie pasti ingin jadi Eomma Haera, Oppa. Pasti itu. Karena Eonnie suka Appa.”

“Kau tahu?” Sungmin tidak aneh jika Haera merasa seperti itu karena kenyataannya memang benar. Bahwa Ji Hyun menyukai Donghae sejak lama. Tapi gadis itu sangat sulit mengambil hati Haera. Karena bagi Donghae, menyukainya berarti harus menyukai dan meluluhkan putri kecilnya ini.

Seorang pria yang berdiri tidak jauh dari meja yang di duduki Sungmin dan yang lainnya diam mematung. Ia tidak meneruskan langkahnya sejak mendengar penuturan putri kecilnya tentang Ji Hyun.

Ketika Yookyung menyuruhnya untuk mengejar Ji Hyun tadi, gadis itu sudah menaiki taxi dan pergi. Maka ia putuskan untuk kembali, namun langkahnya langsung terhenti ketika mendengar suara putri kecilnya saat Sungmin mengajukan beberapa pertanyaan.

Ia tidak menyangka jika Haera sangat peka terhadap sesuatu. Ia menarik nafas kemudian tersenyum tipis.

Hatinya terasa lebih tenang meskipun ia harus mencari alasan untuk Ji Hyun nanti.

“Kau tidak boleh makan spaghetti carbonara, sayang.”

Seketika Yookyung, Haera dan Sungmin menoleh ke sumber suara itu berasal.

Donghae tersenyum, “Ganti spaghettinya dengan mie saja ne?”

“Shirreo! Pokoknya Haera mau spaghetti. Tidak mau yang lain, Appa!”

Donghae menghela nafasnya. Anak ini sangat keras kepala, batinnya gemas.

“No! Tolong spaghettinya diganti dengan Gratin Dauphinois,” ucap Donghae pada pelayan yang sedang mencatat pesanan mereka. Pelayan itu mengangguk mengerti, setelah memastikan semua pesanan yang ditulisnya benar ia segera pergi dari sana.

“Appa tidak mau kau alergi, Ra-ya.” Donghae mengusap kepala Haera lembut. Namun anak itu tidak menyahut, justru memalingkan wajahnya ke arah lain.

Sungmin terkekeh kecil. Anak itu jika merajuk akan sangat sulit di bujuk.

“Marah eoh?”

Haera tidak menjawab, tetap diam.

“Kau duduklah Donghae-ssi, biar aku yang membujuknya.”

Donghae mengangguk kemudian duduk disamping Sungmin. Sedangkan Haera duduk di samping Yookyung tanpa mau menatapnya.

Ck, sebenarnya anak siapa kau huh?

※※※

Seperti yang sudah Donghae katakan jika hari ini ia akan pergi ke Shanghai selama beberapa hari.

Yookyung dan Haera mengantar kepergian pria itu hingga bandara.

Donghae sedikit merendahkan tubuhnya untuk menyamakan tingginya dengan Haera. Ditatapnya lembut anak itu, “Appa pergi dulu, kau jangan nakal dan merepotkan Yookyung Eonnie, ne?”

Haera mengangguk, “Arrayo, Appa. Haera sudah besar, Haera tahu.”

“Jincha? Bagus kalau Haera tahu. Janji tidak akan nakal?” Donghae mengacungkan jari kelingkingnya yang langsung di sambut oleh Haera kemudian keduanya saling menakutkannya.

“Janji.”

Donghae kembali berdiri tegak, menatap Yookyung. “Tolong titip Haera, Yookyung-ssi. Maaf merepotkanmu.”

“Gwaenchana, aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Haera anak yang baik,”

“Terima kasih banyak, Yookyung-ssi.”

Yookyung mengangguk lagi, tersenyum tulus. Ia melambaikan tangannya begitu Donghae masuk ke ruang tunggu. Pria itu pun melambai di sertai senyum.

Jika di pikir, ini terlihat seperti istri yang mengantar kepergian suaminya ke luar kota. Dan Yookyung–sebagai istri–menjaga anak di rumah dan menunggu kepulangan suaminya.

Yookyung menepis pikiran itu. Gadis itu menggeleng, ‘Apa yang kau pikirkan huh?’

“Eonnie, gwaenchanayo?”

“Eoh? Nde, gwaenchana. Kajja kita pulang.”

“Nde,”

Yookyung dan Haera bergandengan tangan meninggalkan bandara tanpa tahu ada seseorang yang memperhatikan mereka sedari tadi.

“Aku akan menyingkirkanmu, Yookyung-ssi. Donghae milikku dan akan selamanya milikku.”

※※※

Hari sudah larut ketika Yookyung dan Haera beranjak dari ruang keluarga menuju kamar tamu yang akan Haera tinggali beberapa hari kedepan.

Gadis kecil itu tampak begitu senang bisa tinggal bersama Yookyung. Apalagi Ayah Yookyung yang sangat menyukai anak-anak pun menerima Haera dengan baik. Bahkan pria baya itu terlihat begitu senang ketika Haera mengajaknya bermain di taman belakang rumah.

“Haera tidur di sini ne?”

Anak itu mengangguk, “Apa Eonnie akan menemani Haera?”

Yookyung tersenyum lembut, mengusap kepala anak itu. “Hm,”

Yookyung menyuruh Haera menaiki tempat tidur kemudian ia ikut menyusul dengan duduk di tepi ranjang.

“Eonnie…”

Suara Haera terdengar sayup, Yookyung menyahut dengan gumaman. Tangannya mengelus kepala Haera ketika anak itu menempatkan kepala dipangkuan Yookyung.

“Wae gurae?”

“Apa boleh Haera panggil Eonnie dengan panggilan ‘Eomma’?”

“Nde?!”

Yookyung sontak menghentikan belaian tangannya di kepala Haera. Gadis itu terkejut.

Apa yang baru saja dikatakan anak ini?

“Waeyo? Apa Eonnie tidak mau?” Haera menatap Yookyung sayu. Anak itu mempunyai tatapan mata yang begitu mirip dengan Donghae. Yookyung sungguh tidak tega jika melihat anak ini menatapnya dengan sorot mata seperti itu.

Disentuhnya pipi Haera dengan halus, kemudian ia tersenyum.

“Kau ini bicara apa huh? Sudah, kajja tidur. Ini sudah malam dan besok kau harus sekolah.”

Haera menunduk sedih kemudian mengangguk. Anak itu langsung menarik selimut hingga menutupi kepalanya.

Yookyung menghela nafas. Ia tidak habis pikir dengan anak jaman sekarang. Kenapa anak sekecil ini begitu mengerti akan suatu hal?

Gadis itu beranjak dari ranjang setelah memastikan bahwa Haera sudah tertidur. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu duduk yang ada di kedua sisi ranjang.

Deringan telpon rumah membuat gadis itu mengurungkan niatnya yang akan memasuki kamar miliknya, yang bersebelahan dengan kamar tamu.

“Yeobseyo?”

“Hallo, Ann.”

Detak jantung gadis itu langsung berdebar cepat ketika mendengar suara bass diseberang sana. Nafasnya tercekat, susah sekali untuk menjawab sapaan pria itu.

“Ya, Kak…”

※※※

Hembusan angin malam yang bertiup dengan lembut membuat pria tampan itu memejamkan matanya sesaat. Kedua sudut bibirnya melengkung, membuat seulas senyum tipis.

“Jadi seperti ini kota kau di lahirkan?” Bisiknya dengan mata terpejam, merasakan terpaan angin yang menerpa wajahnya.

Pria itu kembali membuka matanya, memandang pemandangan kota di malam hari dari balkon kamar hotel tempatnya menginap.

Bibirnya semakin tersenyum lebar ketika ingat kalimat gadis itu.

‘Aku tidak memutuskan pertunangan itu, Kak. Aku bahkan tidak tahu kalau Mama bicara begitu denganmu. Bukankah aku sudah berjanji padamu untuk memberimu kesempatan? Apa kau meragukanku?’

Ken, pria itu merasa lega setelah mendengar penuturan gadis yang ia cintai. Ia sengaja datang ke Korea untuk menyusul gadis itu, memastikan kabar batalnya pertunangan mereka.

Ibu Yookyung, Kim Dambi yang memberitahunya jika pertunangan itu dibatalkan. Karena ia tidak percaya begitu saja maka ia putuskan untuk menanyakan sendiri tentang kepastian itu.

Dan jawabannya seperti apa yang ia yakini. Jika Yookyung tidak memutuskannya.
Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja Ibu Yookyung mengatakan seperti itu. Apa beliau tidak menyukainya? Apa alasannya?

Itulah sekelebat pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.

Namun ia tidak ambil pusing. Karena jawaban gadis itu sudah cukup membuatnya yakin. Maka ia akan terus berusaha mendapatkan gadis itu.

“Aku akan segera membawamu pulang dan menjadikannya milikku, Ann.”

※※※

Donghae baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar ketukan pintu. Pria itu segera berjalan kearah pintu dan membukanya.

“Bu hau yi she, sien sheng. Ce ghe you tong si kei ni.”

Donghae menerima bingkisan berwarna biru yang disodorkan oleh pelayan kamar.

“Xie-xie ni.”

“Bu ghe ci.”

Donghae menutup pintu kemudian berjalan ke arah ranjang. Diperhatikannya bingkisan yang berbentuk kotak besar.

Tidak ada nama pengirim, hanya terdapat nomor telpon.

Pria itu menyerngit bingung. Ia jadi menebak-nebak siapa pengirimnya.

Seingatnya, ia tidak punya saudara ataupun kenalan disini.

‘Aku akan mengirim sesuatu untukmu nanti.’

Donghae tersentak kaget ketika ingat ucapan wanita itu tadi sore, ketika mereka membahas masalah kerja sama perusahaan.

Dengan penasaran Donghae membuka bungkusan itu. Pria itu langsung tersenyum begitu melihat isinya.
Segera saja ia mengambil ponselnya yang tergeletak di samping ia duduk. Menekan nomor yang ada dalam phone book kemudian menempelkan ke telinga.

“Jie-jie, fei chang xie-xie ni.”

Wanita di seberang sana tertawa renyah mendengar suara Donghae. Ia tidak menyangka jika barang yang ia pilih disukai oleh pria tampan yang lebih muda 2 tahun darinya.

Cukup lama keduanya berbincang-bincang. Dari masalah pekerjaan dan candaan mengenai Donghae kapan menikah lagi.

Pria tampan itu menanggapinya dengan tertawa keras.

‘Aku tidak akan menikah lagi, jika orang yang aku tunggu tidak kembali.’

Itulah jawaban yang Donghae katakan ketika wanita ini–Tia Lee–menggodanya.

Dan ketika Tia menanyakan siapa gadis beruntung itu, Donghae enggan menjawabnya, hanya ditanggapi dengan tawa ringan. Tentu saja ia tidak akan memaksa Donghae untuk menjawabnya. Itu privasi Donghae.

※※※

Hari masih begitu pagi ketika Haera terbangun dari tidurnya. Gadis kecil itu terisak lirih begitu ingat mimpi yang baru saja ia alami.

“Ra-ya.”

Haera langsung berlari ke arah Yookyung dan memeluknya dengan menangis. Yookyung mengelus kepala anak itu, berusaha menenangkan.

“Kau mimpi buruk hm?” Tanyanya halus. Haera mengangguk dalam dekapannya.

Yookyung yang tadinya ingin ke dapur mengurungkan niatnya, memilih memastikan jika Haera yang menangis.

“Apa Eonnie akan pergi meninggalkan Haera?” Anak itu menatap Yookyung dengan wajah sembab.

Yookyung mengusapnya, “Memang kau mimpi Eonnie akan pergi?”

Haera kembali mengangguk.

“Dengar, Haera-ya. Eonnie tidak akan pergi, tetap di sini bersama Haera sampai Appa Haera pulang.”

“Jadi Eonnie akan pergi setelah Appa pulang?”

Yookyung seketika terdiam. Ia harus jawab apa?

‘Aku akan segera pulang jika urusanku di sini sudah selesai, Kak. Jangan khawatir, aku pasti menepati kata-kataku.’

Yookyung teringat kembali kata-katanya yang ia ucapkan untuk menyakinkan Ken jika ia akan menikah dengan pria itu. Ia meminta sedikit waktu dan Ken menyanggupinya.

Tapi belum apa-apa Haera sudah menanyakannya. Bahkan anak ini menangis karena bermimpi jika ia akan pergi.
Itu artinya Haera sangat ingin ia ada di sampingnya.

Sejujurnya ia ingin, bahkan sangat ingin. Tapi itu tidak mungkin. Ia sudah mempunyai Ken dan Donghae bersama Ji Hyun.

Seharusnya, sebelum memutuskan untuk menemui Haera ia memikirkan akhirnya. Bagaimana jika anak itu sudah terlanjur menyukainya dan tidak mau ditinggalkan?

Kini semua ini terjadi dan ia tidak tahu harus bagaimana.

Bodoh.

Benar, ia bodoh karena tidak memikirkan kemungkinan itu.

Lalu sekarang harus bagaimana?

“Eonnie,”

“Nde?”

“Eonnie benar tidak akan pergi kan? Haera sangat takut jika Eonnie akan pergi bersama Oppa itu.”

“Oppa? Nugu?” Yookyung menyerngit.

Oppa?

“Nde, Oppa itu. Haera tidak kenal dengannya. Tapi Oppa itu terlihat baik dan tampan. Ah tidak, lebih tampan Appa Haera dari Oppa itu.”

Yookyung sedikit terkekeh mendengar Haera mengatakan jika Donghae lebih tampan.

Tapi… Itu benar.

“Seperti apa Oppa yang kau maksud itu?” Yookyung jadi penasaran dengan orang yang dipanggil Haera dengan sebutan ‘Oppa itu’.

“Eum…” Anak itu berpikir, sudah tidak menangis lagi.

“Sepertinya lebih tinggi dari Appa. Dan ia memanggil Eonnie dengan panggilan Hunn.. Eum.. Panggil apa ya…” Haera kebingungan ketika ingin mengucapkan kata yang diucapkan oleh orang itu ketika memanggil Yookyung.

“Haera tidak bisa mengucapkannya Eonnie. Itu bukan bahasa Haera, terdengar aneh.”

Yookyung berpikir, terdengar aneh?
Memang bahasa apa yang diucapkan oleh orang itu?

“Eonnie juga bicara seperti orang itu dalam mimpi Haera. Tidak bisa di mengerti.”

“Nde?!”

Ia mengucapkan bahasa yang sama dengan orang itu. Berarti bahasa Indonesia. Hanya itu kemungkinannya.

“Ah, Haera ingat namanya!” Seru Haera tiba-tiba.

“Ken!”

Yookyung tersentak kaget.
Ken. Jadi orang yang ada dalam mimpi Haera adalah Ken?
Tapi bagaimana bisa Haera memimpikan Ken? Ia belum pernah bertemu dengan pria itu.

“Ann, sedang apa kau disitu?”

Jaejoong yang melihat Yookyung terduduk di lantai segera menghampiri gadis yang melamun.

“Haera, Eonnie kenapa?”

“Mollaseyo, Oppa.” Haera pun bingung karena tiba-tiba Yookyung terduduk lemas di lantai.

Gadis kecil itu tidak mengerti kenapa Yookyung tiba-tiba seperti itu. Ia hanya bercerita mengenai mimpinya. Itu saja.

“Ann..”

Jaejoong mencoba memanggil adiknya sekali lagi, kali ini gadis itu merespon dengan menoleh ke arahnya.

“Gwaenchanayo?”

Yookyung tampak tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat dan tatapan matanya kosong meskipun gadis itu menatapnya.

Ada apa dengan gadis ini?

“Kau itu kenapa?”

“Oppa…”

“Nde, waeyo?”

“Eotthokhaeji?”

Jaejoong terkejut karena Yookyung meneteskan air matanya. Dengan panik ia segera memeluk adiknya yang terisak lirih.

“Hei, hei, ada apa sebenarnya hm? Katakan pada Oppa, kau itu kenapa?” Ucap Jaejoong lembut.

“Ken Oppa.. Dia–”

“Ya? Ada apa dengannya?”

“Oppa–”

“Ya, ya! Jangan menangis gadis bodoh.” Kesal Jaejoong yang kebingungan karena Yookyung tidak mengatakan alasannya ia menangis.

Haera yang duduk di lantai samping Yookyung menatap gadis itu bingung.

“Oppa, apa Eonnie sakit?”

“Nde? Nan mollaseyo, Haera.”

“Lalu kenapa Eonnie tiba-tiba menangis? Apa karena Haera?” Anak itu menunduk sedih.

Haera berpikir jika Yookyung menangis karena salah satu kalimatnya yang membuat gadis itu menangis.

“Mianhae.”

“Haera…” Lirih Jaejoong bertambah bingung.

“Ani, Ra-ya. Eonnie tidak apa-apa, jangan sedih ya?”

Yookyung menghapus sisa air matanya yang menggantung di pelupuk mata. Direngkuhnya Haera kedalam pelukannya.

“Kau tidak salah, maafkan Eonnie.”

“Tapi Eonnie tiba-tiba menangis,”

Yookyung menunjukkan senyumnya untuk menyakinkan Haera. “Lihat, Eonnie tersenyum kan? Tidak menangis.”

Haera hanya mengangguk polos.

Jaejoong hanya menatap keduanya dengan menggeleng kecil. Ia sama sekali tidak mengerti dengan kedua orang ini.

“Kalian sedang apa di situ?”

Suara serak yang amat di kenal Yookyung maupun Jaejoong membuat mereka serentak menoleh, memandang Ayahnya yang masih mengenakan piyama tidur sutra berwarna abu-abu.

Pria baya itu menaikkan sebelah alisnya bingung menatap ketiga orang yang duduk di depan pintu kamar Haera.

“Joheun achim-e, harabeoji.”

Haera menyapa lebih dulu. Anak itu tersenyum ceria.

“Achim-e, Haera.”

Haera berdiri dari duduknya dan berlari kecil menghampiri Tuan Kim.
Tuan Kim yang melihat Haera berlari ke arahnya segera merendahkan tubuhnya untuk menyambut anak itu.

“Kau sudah sarapan?”

Haera menggelengkan lucu. Tuan Kim tertawa melihat anak itu begitu manja padanya.

Jadi ini rasanya mempunyai seorang cucu?

Menyenangkan, pikirannya.

“Kalau begitu kajja kita sarapan. Kau sudah cuci muka dan sikat gigi?”

Haera hanya tersenyum menunjukkan gigi susunya yang rapi. Tuan Kim menunjuk hidung Haera membuat anak itu tertawa.

“Baiklah, sebelum sarapan kita cuci muka dulu, ok?”

Jaejoong dan Yookyung yang melihat Ayahnya dan Haera pergi meninggalkan mereka terdiam.

“Oppa, kau harus segera memberi cucu untuk Appa.” Yookyung menepuk bahu Jaejoong sebelum berdiri.

“Mwoga? Kenapa aku?”

“Yah, karena kau yang paling tua dan sudah waktunya kau menikah kemudian punya anak.”

“Aku masih muda, Ann.”

Yookyung membelalakan matanya.

“Muda? Kau itu sudah 29 tahun, hampir 30 malah. Tapi kau bilang muda?” Yookyung tidak habis pikir dengan Oppanya ini.

Baiklah, mungkin orang akan tertipu dengan wajah tampan nan imutnya ini. Tapi siapa sangka jika wajahnya ini tidak sesuai umur.

Bahkan dulu, sering sekali Yookyung dikira Kakak bukannya Adik.
Dan sering sekali Jaejoong ‘memudakan’ umurnya.

Yah, bilang saja korupsi umur saat berkenalan dengan gadis-gadis.

“Aku memang masih muda, Ann.” Sahut Jaejoong tidak mau kalah.

“Ya! Kalian, cepat sarapan!”

Yookyung mendengus mendengar pembelaan Jaejoong. Ia berlalu begitu saja meninggalkan Jaejoong dan masuk kamarnya yang ada disebelah kamar Haera.

“Dasar suka korupsi umur.”

“Ck, yeodongsaeng kurang sopan. Masih muda begini di bilang tua.” Gerutu Jaejoong dengan berlalu meninggalkan kamar Haera, menyusul Ayahnya yang sudah menunggu di ruang makan.

Continue…

PS :
*Gratin Dauphinois adalah makanan khas Perancis yang terbuat dari bahan dasar kentang yang di masak

10 comments

  1. Seru meski d’awali part nie.. Tp ada sesuatu yg sedikit merusak mata #plaaak bhs korea ma shanghai harus d’translate uga biar qt mengerti apa yg d’katakan!!

  2. Haera gk mau ama hyunji wkwkwk
    dia udah tau yg mana yg baik n yg mana yg nggak!
    Ken datang?
    Makin rumit,makin seru!

  3. kenapa aku ngerasa jihyun agak jahat y..mollaseo,.
    Yookyung knp malah bilang g batalin pertunangan dgn ken..pdhl haera udh sayang sama dia..

  4. Mimpinya Haera kenapa bisa tepat kayak gitu ?? Hebat banget, hehehehehe..

    Yookyung psti hati-nya lelah, harus pilih kedua orng tersebut. Semangat Yookyung psti ada jalan terbaik kok.

    Semangat juga buat author..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s