image

Author : Bluerose8692

Title : Noona, Nado Saranghae!

Genre : Romance

Length : Oneshot

Rate : PG16

Cast : Henry Lau, Im Sunniel

“Jika suatu hari nanti aku pergi, kuharap kau tidak akan merindukan kehadiranku.”


***

Hidup itu penuh pilihan, begitu juga dengan pernikahan.
Jika kau memutuskan untuk menyudahi masa-masa berpacaran dan memilih jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan, berarti kau harus siap dengan segala resiko yang akan kau hadapi kelak.

Kegagalan.
Bukan berati kau tidak bisa mendapatkan kebahagiaanmu, melainkan belum saatnya.

Tapi lain halnya jika kau merasa takut untuk di kecewakan sehingga membuatmu memilih untuk menjauhinya.

Oke, mungkin semua orang mempunyai pendapat sendiri-sendiri akan arti ‘kegagalan’, begitu pula dengan gadis ini. Im Sunniel.

***

Pukul delapan pagi adalah saatnya waktu untuk bekerja, dan inilah yang biasa dilakukan seorang gadis bermata bulat dengan iris abu-abu, pergi ke perusahaan tempatnya bekerja sebagai seorang designer gaun pengantin.

“Joheun achime, Gyoung.” Sapa Sunniel dengan senyum ceria khas miliknya ketika sampai di kantor.

“Achime, Eonnie-ya.” Balas gadis yang biasa di panggil ‘Gyoung’ oleh Sunniel. “Ah ya!’ Seru Chae Gyoung seraya berdiri cepat dari kursi kerjanya. Sunniel yang hendak memutar handle pintu ruang kerja menoleh kaget.

“Wae gurae?”

“Aku lupa memberitahumu, jika tadi Henry-ssi datang kemari dan memintaku untuk menyampaikan jika ia akan mengajakmu makan siang.”

“Bilang padanya, aku sibuk.” Sahut Sunniel datar dan segera memasuki ruang kerja miliknya, meninggalkan Chae Gyoung yang menggerutu. “Aku kan belum selesai bicara,” lirihnya.

Sunniel meletakan berkas yang dibawanya dari rumah ke atas meja. Gadis keturunan Perancis itu segera mendudukan dirinya di kursi kerja dengan sedikit kesal karena lagi-lagi ia mendapatkan bunga mawar putih di atas meja, seperti biasa. Dan pengirimnya pun seperti biasa.

“Apa dia tidak ada kerjaan lain selain mengirimiku bunga setiap hari?” Tanyanya entah pada siapa. Ini terjadi sejak 1 tahun lalu, tepatnya setelah ia putus dari kekasihnya, Kim Jong Woon.

Baru saja ia akan menyalakan layar computer untuk mengecek apakah ada email masuk atau tidak, tapi deringan ponsel yang berada dalam tas tangan yang ia letakan di atas meja samping kanan menginterupsi keinginannya.

“Yeobseyo?” Sunniel menerima panggilan itu tanpa melihat siapa penelponnya. Gadis itu langsung menjauhkan layar ponsel begitu suara memekakan telinga memenuhi indera pendengarnya. Suara sahabatnya yang ia rindukan. Kim Yookyung. Sudah lebih dari 3 tahun ini mereka tidak bertemu, tepatnya setelah Yookyung menikah dengan Donghae dan pindah ke Jepang.

“Aigo, kau bisa membuatku tuli mendadak, Kyung-ie.” Gerutu gadis itu sebal, namun kemudian bibirnya tersenyum. “Bagaimana kabarmu?” Tanyanya lebih dulu.

“Aku baik, sangat baik. Dan kau sendiri bagaimana? Apa sampai saat ini kau masih melajang, Sunn-ie?” Terdengar nada mengejek dari suara gadis di seberang sana dan itu membuat bibir Sunniel maju beberapa centi.

“Ck, kau baru menelponku setelah sekian lama tapi kau justru langsung menanyakan itu? Lebih baik kau tidak usah menelpon.” Ancam Sunniel yang membuat Yookyung tergelak mendengarnya.

“Aih, kau masih saja tetap galak, Sunn-ie.  Pantas saja tidak ada yang mau denganmu, kau terlalu judes.” Seloroh Yookyung dengan polosnya. Sunniel hanya tersenyum samar, ia tidak akan tersinggung ataupun marah dengan kalimat seenaknya yang keluar dari bibir sahabatnya itu. Itu sudah biasa.

“Kau itu menelponku hanya mau bicara itu eoh?”

“Aigo, kau marah eoh? Oh, baiklah. Maafkan aku ne?”

“Maafmu tidak kuterima,” Sunniel terkekeh tanpa suara begitu mendengar suara kaget Yookyung. “Aku dengar kau sudah pulang ke Korea kemarin, jahat sekali kau tidak memberitahuku.”

Terdengar kekehan dari seberang sana, “Hehe… Maaf tidak sempat memberitahumu, kemarin sibuk mengurusi Daehyun juga yang lain dan baru sempat hari ini. Ah ya! Apa siang ini kau senggang, Sunn-ie?”

“Apa kau berniat mengajakku makan siang?” Tebak Sunniel langsung.

“Ya, itupun jika kau ada waktu. Karena aku tahu kau seorang designer terkenal yang jadwalnya padat pasti akan sulit untuk meluangkan waktumu maka-“

“Ani, aku tidak sibuk. Dan aku mau!” Sela Sunniel cepat sebelum Yookyung menyelesaikan kalimatnya. Lagi pula, mereka sudah lama tidak bertemu tentu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. “Tentu saja, oke, kita ketemu di sana.” Sunniel mematikan sambungan telpon, gadis itu tersenyum. “Kalau seperti ini, aku jadi ada alasan untuk menolak ajakan ‘si bocah ingusan’ itu.”

Benar, ia jadi ada alasan untuk menolak ajakan makan siang Henry. Jika tidak seperti ini, pria yang biasa ia panggil ‘bocah ingusan’ pasti akan terus menerus merengek untuk makan siang bersama. Dan tentu saja ia tidak mau itu.

***

“Hyung! Noona!

Seorang pria dengan berlari kecil menghampiri orang yang dipanggilnya ‘Hyung dan Noona’ olehnya. Henry, pria itu tersenyum senang begitu sampai dihadapan mereka. “Maaf, aku terlambat.” Ucapnya dengan duduk disamping pria tampan yang sedang menyuapi bayi mungil yang duduk di kursi khusus bayi.

“Tidak juga, kami juga sedang menunggu satu orang lagi.” Jawab Yookyung dengan senyum. “Bagaimana kabarmu, Henry?”

“Baik, kalian bagaimaa? Kalian jahat sekali baru pulang sekarang di saat Daehyun sudah sebesar ini huh?” Ujar Henry merajuk. Ia merasa kesal dengan Donghae, pria yang lebih tua 4 tahun darinya yang sudah ia anggap Hyungnya ini tidak mengabari jika Yookyung sudah melahirkan, di kabari saat Daehyun sudah berumur satu bulan. Pria muda itu menatap sengit Donghae yang meringis polos.

“Mianhae Henry-ah, ku pikir kau sibuk jadi-” 

“Biarpun aku sibuk, akan aku usahakan untuk menjenguk kalian ke Jepang, Hyung.” Sela Henry cepat dan menggebu. Ia masih kesal dengan pria ini.

“Baiklah, aku minta maaf. Akan aku kabari kau jika Daehyun punya adik nanti-aw!” Donghae menatap istrinya dengan kesal. Yookyung menginjak kakinya di bawah sana dan itu sakit!

“Pabo! Jangan bicarakan hal itu di sini.” Desis Yookyung geram. “Dan ingat, aku belum ingin punya anak lagi di saat Daehyun masih membutuhkanku, tunggu hingga Daehyun umur 6 tahun.” Lanjutnya yang membuat Donghae mencibir kesal. Sedangkan Henry yang melihat pertengkaran kecil Hyung juga Noonanya terkekeh geli.

Mianhae, Henry… Hyungmu memang tidak bisa lihat situasi.” Yookyung tersenyum malu. Henry mengangguk mengerti. Dia tahu seperti apa Donghae jadi ia tidak akan kaget.

Gwaenchana,”

“Bukankah tadi kau bilang ingin mengajak teman, mana dia?” Tiba-tiba Yookyung ingat perkataan Henry yang mengatakan akan membawa teman, tapi kenapa ia datang seorang diri?

“Ah itu, dia bilang dia-”

“Yoo!”

Henry menghentikan aliran kata-katanya begitu mendengar suara teriakan yang sangat ia hapal.

Tidak mungkin kan gadis itu ada di sini?

Dan untuk memastikan dugaannya ia menengokkan kepala dan matanya membulat sempurna begitu tahu siapa orang itu.

“KAU?! Untuk apa kau di sini?!” Tanya Sunniel dengan menunjuk Henry menggunakan jari telunjuknya. Gadis itu menatap Henry sengit. Tadinya ia sudah semangat ketika berangkat kemari, tapi kini moodnya langsung berubah begitu saja setelah melihat Henry juga duduk bersama mereka; Yookyung dan Donghae.

Siapa sebenarnya Henry bagi mereka? Apakah dia anggota keluarga? Dan kenapa ia tidak tahu?

“Kalian sudah saling kenal?” Yookyung menatap bergantian Sunniel juga Henry dengan bingung.

Sunniel menarik bangku yang ada di samping Yookyung, berhadapan langsung dengan Henry. Gadis itu mengangguk malas, “Nde.”

“Ye?” Yookyung langsung terkejut. Ia tidak menyangka jika mereka berdua saling mengenal.

“Apa kalian satu kantor?” Donghae kini bersuara. Pria itu menatap Sunniel dan Henry ingin tahu.

“Begitulah..” Jawab keduanya bersamaan. Yookyung dan Donghae terkekeh melihatnya. Entahlah, menurut mereka ini suatu kebetulan yang lucu juga menyenangkan. Henry adalah teman yang sudah Donghae anggap seperti adiknya. Sedangkan Sunniel adalah sahabat dari Yookyung.

“Jadi kalian teman satu kantor ne… ” Yookyung tersenyum penuh arti kepada sahabatnya. Ia jadi teringat dengan cerita Sunniel yang mengatakan jika ada teman sekantornya yang menyukainya namun selalu ia tolak. Tapi, tetap saja mendekatinya dan ciri-ciri yang digambarkan oleh Sunniel sangat cocok dengan Henry.

Mata sipit, putih, tinggi, dan keturunan Canada.

Dan bodohnya ia, baru ingat itu semua itu saat ini. Saat mereka sedang berkumpul bersama seperti sekarang.

Sunniel mencebikan bibirnya begitu tahu arti tatapan Yookyung, maka ia mengalihkan tatapannya ke arah lain. “Aigo, Daehyunie… Kau lucu sekali eoh?” Sunniel mencubit gemas pipi Daehyun begitu melihat anak yang saat ini sedang di pangku Donghae. Daehyun, bayi laki-laki berusia delapan bulan.

“Boleh aku menggendongnya, Oppa?” Sunniel menatap Donghae, meminta ijin.

“Tentu,”

Donghae membiarkan Sunniel menggendong buah hatinya. Gadis itu tampak senang karena Daehyun merespon ketika ia menggodanya, tertawa lucu.

“Kya! Dia sudah tumbuh gigi… Aigo cepat sekali.” Seru Sunniel kaget namun bibirnya tersenyum.

“Ck, reaksimu sama seperti Donghae Oppa dulu ketika tahu Daehyun tumbuh gigi.” Cibir Yookyung ketika ingat reaksi suaminya yang sama persis seperti Sunniel saat ini. Berteriak histeris.

Henry hanya diam dengan terus memperhatikan gadis yang duduk di depannya dengan memangku Daehyun, tertawa riang menggoda anak itu. Ia tersenyum tipis. Sangat jarang seorang Im Sunniel tertawa selepas ini. Apa lagi, setelah kejadian satu tahun silam. Dimana ia diputuskan oleh Jong Woon saat mereka tinggal menghitung hari menuju hari pernikahan.

Ia tahu jika Sunniel sangat kecewa dan terpukul oleh kenyataan itu, sehingga gadis itu memilih menjauhi setiap pria yang berusaha mendekatinya. Bahkan ia sampai geram sendiri jika ingat betapa gencarnya teman kerjanya yang mengejar Sunniel. Namun gadis itu tidak pernah menanggapi siapapun, termasuk dirinya.

“Kau melamun, Henry-ah.” Tegur Donghae dengan menyikut lengan Henry.

“Ah, maaf.”

“Apa yang kau lamunkan hm? Apa kau baru saja putus dari kekasihmu?” Ucap Donghae menggoda Henry.

Pria muda itu tersenyum tipis, “Aku bahkan sudah patah hati sebelum merasakan manisnya masa pacaran, Hyung.”

“Aigo… Kasihan sekali uri Henry eoh?” Donghae tertawa kecil dengan mencolek genit dagu Henry, “Kalau begitu cari yang lain Henry-ah. Perempuan tidak hanya satu.” Donghae mencoba menyemangati.

“Tapi aku sudah terpatok padanya, Hyung. Susah untuk melepasnya, eotthe?” Henry melirik Sunniel dari ekor matanya. Gadis yang mengenakan blazer ungu muda dengan rambut di gulung ke atas itu tampak menunduk, berpura-pura sibuk mengajak Daehyun bermain. Tapi ia tahu, jika Sunniel mengerti dari maksud kaliamatnya. Gadis itu mendengarnya, ia yakin itu.

“Wah.. kalau begitu, itu sulit. Kau hanya mau dia. Lalu, apa dia juga mau kau, Henry-ah? Apa ia begitu cantik sehingga kau begitu menyukainya?” Donghae menatap penasaran pria yang sudah dianggapnya dongsaeng. Yookyung yang sudah memahami kalimat Henry dari awal itu hanya diam, memperhatikan keduanya; Sunniel dan Henry secara bergantian

“Cantik? Dia tidak cantik bagiku Hyung, hanya saja ia begitu berharga dan bersinar di mataku.” Henry tersenyum lagi, kali ini senyumnya begitu tulus. “Dan ia mencintaiku atau tidak, aku tidak yakin.” Nadanya berubah lirih.

“Kenapa tidak yakin begitu?” Donghae menyerngit heran.

“Yah, dia mungkin belum bisa melupakan mantan kekasihnya, atau mungkin juga dia membenci semua pria.”

Sunniel yang sedang menggoyang-goyangkan tangan mungil Daehyun langsung terdiam begitu mendengar kalimat terakhir Henry. Di tatapnya Henry dingin. Ia tidak suka topik pembicaraan ini, karena ini menyangkut dirinya. Meskipun Henry tidak menyebut secara langsung namanya, tapi ia tahu jika gadis yang dimaksud itu adalah dia. Dan ia tidak suka!

“Ah! Makanan datang. Kajja moggo!” Yookyung sengaja berseru begitu pramusaji yang membawa makanan pesanan mereka datang di saat yang tepat. Ia sangat berterimakasih terhadap pramusaji yang telah menolongnya secara tidak langsung. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika pembicaraan itu terus di lanjutkan. Melihat wajah Sunniel ia sudah bisa menebak jika gadis itu sangat kesal dan berusaha mati-matian menahan emosinya agar tidak lost control. Dan beruntunglah makanan mereka segera datang sehingga ia sengaja berseru untuk membuat mereka mengalihkan perhatian dari topik yang membuat Sunniel jengah.

Yookyung tersenyum lega ketika Donghae dan Henry mengalihkan topik pembicaraan mereka.

Sunniel terus memperhatikan Henry yang sibuk berebut kepiting dengan Donghae. Gadis itu mengerjap kaget ketika tiba-tiba ia sodori kepiting. “Untukmu. Bukankah Noona sangat menyukainya?” Henry tersenyum setulus mungkin dengan menyodorkan piring yang berisi satu kepiting, yang tadi ia rebutkan bersama Donghae.

“Ambil lah..”

Dengan ragu Sunniel menerima piring itu, ia tatap Henry yang masih tersenyum padanya. “Gomawo,” lirihnya.

“Nde..”

Donghae yang melihat itu mengerjapkan matanya berulang kali. Ia tatap kedua orang itu bergantian, namun kemudian ia tersenyum. Ia sudah mengerti sekarang.

“Kajja makan!” Seru Donghae tiba-tiba. Dan dengan semangat, pria itu mulai mengambil satu persatu lauk yang ada di meja sehingga membuat Yookyung-istrinya-menggelengkan kepala melihat kelakuannya.

Acara makan hari itu sangat berkesan bagi salah satu diantara mereka, Henry. Kenapa? Karena ia bisa sebebas dan selama yang ia mau menatapi wajah Sunniel dan tawa gadis itu. Hatinya terasa damai hanya dengan melihat tawa Sunniel, perasaannya menghangat ketika melihat gadis itu bisa tertawa seperti itu. Namun ia tersentak kanget begitu sadar ada kehangatan lain yang ia rasakan. “Daehyun, kau ngompol!” Ujarnya dengan tidak percaya karena kini celana yang ia pakai menjadi basah dan bau oleh ulah Daehyun yang berada dipangkuannya.

Yookyung segera mengambil alih anaknya “Aigo.. Mianhae Henry-ah, uri Daehyun tidak sopan padamu.” Yookyung menundukan badannya sebagai permintaan maaf stelahnya ia segera membawa Daehyun ke toilet untuk berganti celana yang langsung di ekori oleh Sunniel.

“Kenapa tidak kau pakaikan ia pempers Hyung?!” Marahnya pada Donghae yang terkekeh.

“Daehyun tidak suka pakai pempers Henry-ah, iritasi.” Donghae berdiri dari duduknya. “Kajja, kita cari toko celana, untukmu. Kau harus berganti, jika tidak ingin dikira kau-”

Arraseo!” Sela Henry kesal.

Setelah membereskan barang-barang bawaan mereka serta membayar makanan, mereka segera bergegas mencari toko baju, mencari celana untuk Henry. Untung saja di seberang jalan tempat restoran mereka makan tadi ada supermarket sehingga tidak perlu jauh-jauh mencari.

***

Sunniel berkali-kali membolak-balik daftar sketsa yang ia sudah tertata rapi dengan asal sehingga menjadi sedikit lusuh. Gadis itu mengigit bolpoint yang dipegangnya dengan gemas, kebiasaannya jika sedang tidak fokus. Pikirannya menerawang jauh.

Ia teringat dengan kalimat Henry beberapa hari lalu, ketika ia kembali menolak pria yang lebih muda 1 tahun darinya. Namun kali ini bukan pernyataan cinta, melainkan lamaran.

Apa ia sekarang merasa menyesal?

Besok aku akan pergi. Aku akan ke Paris dalam jangka waktu yang tidak bisa aku tentukan. Maka itu, hari ini aku ingin berpamitan denganmu sekaligus meminta maaf karena sudah merecoki hidupmu yang tenang dan damai. Maafkan aku. Dan kuharap kau secepatnya bisa mendapatkan pengganti Jong Woon Hyung.’

Kalimat itu terus terngiang di telinganya secara berulang-ulang, terlebih raut sedih Henry. Meskipun pria itu tersenyum tapi tatapan matanya tidak bisa membohonginya. Jika di ingat-ingat, Henry berubah sejak pertemuan itu, saat mereka makan siang bersama Donghae dan Yookyung.

Sunniel tiba-tiba menggebrak meja tanpa sadar. Gadis itu segera berlari setelah menyambar tasnya, menuju parkiran mobil.

“Astaga, apa yang aku pikirkan tadi?” Sunniel menepuk keningnya keras hingga terlihat memerah. Gadis itu segera menghentikan langkah kakinya yang akan membuka pintu mobil. “Untuk apa kau menyusulnya huh? Apa kau mencintainya? Tidak kan? Lalu apa?” Tanyanya frustasi. Gadis itu menarik nafas dalam dan panjang secara berulang-ulang, menetralkan pikirannya yang kacau.

“Baiklah. Kuharap ini tidak salah.” Putusnya cepat.

***

Henry menatap paspor yang berada di kedua tangannya bimbang. Pikirannya terbagi dua. Satu sisi, ia ingin pergi. Namun sisi lain memberatkannya, Sunniel. Ya, gadis itu. Gadis itulah yang membuatnya ragu untuk pergi. Ia ingin tetap berada dekat dengan gadis itu, tapi sepertinya itu tidak mungkin karena gadis itu sudah berulang kali menolaknya. Bahkan sampai menolak lamarannya. Jadi apa lagi alasannya untuk tetap bertahan?

‘Usia kita, Henry. Apa kau tidak ingat itu?’

Benarkah hanya karena ia lebih muda sehingga Sunniel tidak bisa menerimanya? Atau kah ada alasan lain?

Ia tidak tahu pasti akan hal itu. Sunniel tidak pernah mau memberinya alasan yang cukup logis untuknya. Semua kalimat penolakan gadis itu hanya menyangkut usia.

Come on, apakah dalam cinta dan perasaan usia menghalangi seseorang untuk jatuh cinta?

Apakah ia salah karena mencintai wanita yang lebih tua darinya? Mereka hanya terpaut satu tahun.

‘Umur mempengaruhi kedewasaan seseorang. Dan kau tahu kan apa maksudnya?’

Sunniel selalu menyangkut pautkan kedewasaan seseorang dengan umur. Tapi baginya, umur bukanlah patokan untuk seseorang mempunyai sifat dewasa. Tergantung diri masing-masing orang sebenarnya. Dan ia rasa, ia sudah cukup dewasa saat ini, dan seandainya belum ia akan berusaha untuk lebih dewasa agar Sunniel mau menerimanya.

Tapi ia pun tidak bisa memaksa Sunniel untuk menerimanya. Gadis itu tidak mencintainya. Dia tahu, maka ia tidak bisa memaksa gadis itu untuk mencintainya.

“Sudah saatnya,” lirihnya begitu mendengar pengumuman akan pesawat yang akan membawanya menuju Paris.

“Semoga kau bahagia, Noona.” Henry menoleh sekali lagi ke belakang, namun ia tersenyum miris begitu orang yang ditunggunya tidak ada diantara mereka. Maka ia putuskan untuk segera memasuki ruang tunggu.

Tidak mungkin kau datang. Memang aku siapa? Bukankah ia sudah mengatakannya kemarin? Jadi, berhentilah bermimpi, Henry!

“See you again,” bisiknya seperti angin dan segera masuk ruang tunggu. Harapan terakhirnya sudah tidak mungkin terjadi. Ia menyerah dan harus berusaha melupakan Sunniel-gadis yang ia cintai-begitu sampai di Paris nanti.

Sunniel berkali-kali menarik nafas dengan cepat dan terputus. Ia tolehkan kepalanya ke samping kiri kanan, mencoba mencari. Nihil. Tidak ia temukan pria itu di manapun.

“HENRY, NEO PABO SARANG!!” Serunya keras begitu melihat daftar nama-nama pesawat yang akan take off. Dan pesawat dengan nomor AE506 tujuan Paris baru saja lepas landas. Gadis itu merasa seluruh tubuhnya melemas seperti ubur-ubur sehingga terduduk di lantai. Air matanya membasahi kedua pipi putihnya, mengabaikan tatapan orang-orang yang berlalu lalang menatapnya bingung.

END

***

Epilog

Jika kau percaya kata ‘Indah pada waktunya’, maka yakinlah jika itu akan terjadi.”

Hamparan putih salju memenuhi seluruh kota. Jalan raya bahkan tertutup salju setinggi 5cm. Sedikit menyusahkan para pengendara kendaraan karena jalan menjadi licin dan rawan kecelakaan sehingga harus ekstra hati-hati.

Gadis dengan topi rajut berwarna abu itu mendongakkan kepalanya, menatap pohon-pohon yang kini dihiasi oleh beraneka ragam pernak pernik natal meskipun natal masih 2 minggu lagi. Gadis itu tersenyum hambar. Wajahnya sudah memerah karena terkena suhu yang begitu dingin.

“Dua tahun sudah,” lirihnya kemudian menundukan wajahnya. Tanpa terasa pipinya basah. “Huh, selalu begini.” Diusapnya kedua pipinya dengan tangan yang terbalut sarung tangan untuk menangkal udara dingin tahunan. Tahun ini terasa lebih dingin dari tahun sebelumnya, suhu bisa mencapai 0 derajat celcius.

Sunniel memutuskan untuk segera melanjutkan langkahnya karena sadar hari semakin larut, ia harus segera pulang jika tidak ingin ketingalan kereta. Lampu-lampu jalanan bahkan sudah menyala sejak beberapa menit lalu.
Gadis itu melanjutkan langkahnya dengan menunduk, berjalan dengan lesu.

Bruk!

“YA!”

“AW!”

Sunniel jatuh terduduk di jalan beralaskan salju yang dingin. Gadis itu mendongak dan bersiap akan memaki orang yang sudah menabraknya sehingga membuatnya terjatuh terduduk. Aliran kata yang sudah di ujung lidah harus ia telan kembali dengan susah payah begitu tahu siapa orang yang menabraknya. Ia tidak bisa berkata apa-apa selain diam dengan terus memperhatikan orang yang saat ini membantunya berdiri dan menepuk bajunya yang terkena salju.

Ia ingat wajah ini.

Pria yang selalu ia sebut dengan sebutan ‘bocah ingusan‘.
Kini pria itu ada dihadapannya, bahkan membantunya membersihkan salju yang menempel di bajunya.

Tidakkah ia sedang bermimpi saat ini?
Atau berhalusinasi, mungkin?

Noona, kau baik-baik saja bukan?” Henry melambaikan tangan kanannya di depan wajah Sunniel yang diam menatapnya dengan raut terkejut. Ia sudah duga ini. Dua tahun tidak bertemu dan bertukar kabar lalu muncul secara tiba-tiba seperti ini pasti membuat gadis dengan tinggi semampai keturunan Perancis ini terkejut.

Noona!” Henry menaikan satu oktaf suaranya agar Sunniel tersadar dan itu berhasil.

“Kau.. baik-baik saja?” Henry ingin sekali terkekeh melihat raut wajah yang di tunjukan gadis itu namun ia tahan.

N-nde,”

“Syukurlah.” Henry tersenyum, “Maaf sudah menabrakmu.” Ia menundukan badannya, “Dan senang bisa bertemu lagi denganmu.”

Sunniel tidak menjawabnya, gadis itu terus saja diam dengan memperhatikan Henry yang tersenyum.

Tidak ada yang berubah darinya, tetap sama.’

“Maaf, aku buru-buru, aku harus segera pergi.” Henry melambaikan tangannya dengan senyum yang sama seperti 2 tahun lalu. Ia meninggalkan Sunniel yang terdiam kaku di tempatnya.

Gadis itu kemudian menggeram tertahan dan kedua tangannya mengepal gamam. Ia berjongkok dan meraih salju dengan kedua tangan yang kemudian ia buat menyerupai bola salju.

“Bocah ingusan!!”

Tepat saat Henry berbalik saat itu juga bola salju yang di lemparkan Sunniel tepat mengenai wajahnya.

“Dasar bocah ingusan bodoh! Apa hanya itu yang kau ucapkan setelah membuatku seperti ini huh? Menunggu 2 tahun tanpa kabar apapun dan ketika pulang kau justru hanya mengucapkan ‘senang bertemu denganmu’. Kau menyebalkan. Aku mem-bencimu…” Makinya kesal namun suaranya mengecil seiring langkah Henry yang semakin dekat dengannya kemudian menatapnya datar.

“Coba Noona ulangi lagi, dua kata terakhir.” Pinta Henry lirih dengan tatapan tidak lepas dari wajah Sunniel yang sembab. Untuk pertama kalinya ia melihat Sunniel menangis dihadapannya.

“Aku membencimu.” Air mata Sunniel justru jatuh semakin deras ketika bibirnya mengucapkan dua kalimat yang Henry minta.

“Sekali lagi dan coba lebih keras,”

Sunniel mencoba menahan tangisnya yang semakin menjadi. “A-Aku mem-be-ci-mu.” Ucap gadis itu dengan tersedat. Sesak yang dirasanya semakin menghimpit saluran pernafasan.

“Aku tidak dengar,”

“Bocah ingusan, aku membencimu!!!” Teriak Sunniel keras seperti yang di minta Henry.

Noona, nado saranghae!” Balas Henry dengan senyum menggoda.

“Hei, aku bahkan t-” Sunniel mengerjapkan matanya cepat dan berulang kali.

Henry dengan cepat menarik syal yang melilit leher Sunniel dan langsung membungkam bibir gadis itu. Ia tidak perduli jika setelah ini Sunniel akan memakinya.

image

Ia melepaskan panggutan bibirnya kemudian menatap Sunniel dalam jarak yang begitu dekat. Nafas gadis ini dan nafasnya sama-sama memburu dan panas.
Namun setelah beberapa menit berlalu Henry justru tertawa yang tentu membuat Sunniel menatap bingung sekaligus kesal.

“Berhenti tertawa karena tidak ada yang lucu!” Sunniel menghentakkan kakinya kesal karena Henry masih saja tertawa.

“Tentu saja lucu. Wajahmu saat ini,” kekeh Henry dengan menunjuk pipi Sunniel yang memerah, bukan karena make up. Tapi memerah karena malu.

“Menyebalkan.” Desisnya kesal sehingga memunggungi pria itu.

“YA! Noona, tunggu dulu! Kau mau ke mana?” Henry segera mencegah Sunniel yang akan melangkah pergi dengan menarik lengan gadis itu.

“Jadi, kau akan pergi begitu saja huh? Bukankah tadi kau bilang kau menungguku? Tapi sekarang kenapa mau pergi.”

“Ak-ku tidak bilang begitu..”

“Hei, kau tidak mau mengakuinya. Noona, pendengaranku ini bagus, jadi tidak mungkin aku salah dengar.”

“Aku tidak bilang begitu!”

“Kau bilang begitu, Noona.” Henry dengan cepat mengecup sudut bibir Sunniel. Gadis itu langsung menoleh, menatap Henry dengan mata bulatnya. Henry kembali mendekatkan wajahnya kemudian berbisik, “Meskipun kau mengatakan kalau kau membenciku, aku anggap kau sangat mencintaiku, Noona.

“Dasar bocah ingusan menyebalkan!”

“Tapi kau cinta padaku!” Jawab Henry cepat yang langsung membuat Sunniel terdiam. Gadis itu tidak lagi mengatakan apapun, hanya menunduk dengan semburat merah jambu menghiasi kedua pipinya. Dan Henry senang mengetahui itu sehingga ia dengan semangat menggoda Sunniel.

“Setelah ini kita menikah ne?” Ucap Henry dengan meraih jemari Sunniel dan mengaitkannya. Ia tersenyum manis.

“Aku tidak mau menikah denganmu.”

“Cih, mulai lagi. Kalau begitu kita tinggal bersama saja jika kau tidak mau menikah. Ingat, umurmu tahun ini sudah 30 tahun, dan ini sudah bulan Desember berarti tahun depan 31, itu sudah tua.” Cibir Henry tanpa dosa lalu mengambil langkah seribu.

“YA! Dasar bocah kurang ajar. Kemari kau!” Sunniel segera mengejar Henry yang sudah berlari di depan setelah menyelesaikan kalimatnya tadi. Pria itu tertawa mengejek ke arah Sunniel yang berusaha mengejarnya.
Gadis itu tersenyum dengan mengejar Henry.

Ku rasa dia benar, jika umur tidak mempengaruhi kedewasaan seseorang. Dan aku sadar kalau selama ini aku justru sudah menyukainya. Natal kali ini, aku tidak akan merayakannya sendirian lagi karena ada dia, ‘bocah ingusan’. Terima kasih, Tuhan.

End

4 comments

  1. .ciaaa. . . Henry jadi polos. . :v :v

    sunniel telat sadar cinta sama henry. .

    syukur deh kalo happy end. . .

  2. Nado saranghae , Henry,, hehehe
    Sempat kesel pas ada end, truus. Lgsung seneng lgi, ternyata ada epilogny juga,,
    Uwaaaa,, bikin aq berdebar2 bacany,,
    Nice job thor,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s