The Teen Bride Part 4

image

Author : Bluerose8692

Title : The Teen Bride Part 4

Genre : Marriage live, Drama, Romance

Length : Series

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung

***

Ketenangan yang ada di ruangan yang begitu luas dan terdapat begitu banyaknya buku-buku yang tertata rapi di rak dengan tinggi ±2,5 meter, tidak mempengaruhi kegelisahan seorang pria yang sedang memperhatikan sekelompok pelajar yang tampak berdiskusi.

Pria itu mencengkeram buku Anatomi yang dipegangnya. Ia merasa menyesal karena memaksa agar ia datang kemari. Di rumah setidaknya ia tidak harus merasa terbakar seperti ini.
Atau menemani Kyuhyun bermain game sepertinya menyenangkan, daripada melihat istrinya itu dikelilingi oleh pria-pria yang membuatnya panas dingin.

Cemburu.

Oh, ayolah.. siapapun pasti setuju dengannya untuk pendapatnya ini.

Apa ada seorang suami yang tidak cemburu melihat istrinya itu dikelilingi oleh pria-pria tampan? Terlebih Joy yang selalu berusaha mendekati Yoo Kyung.
Ingin sekali rasanya ia membuat perhitungan dengan pria satu itu agar tidak dekat-dekat dengan istrinya.

Donghae menarik nafas dalam, berusaha mengenyahkan pikiran bodohnya agar tidak mengacau di sini.
Ia tidak ingin setelah ini, Yoo Kyung membencinya karena membuat status mereka terbongkar dihadapan umum karena ia yang terlalu cemburu.

“Yoo?”

“Ye?” Yoo Kyung menoleh ke arah Yuen yang tadi memanggilnya. Gadis itu menunjuk Donghae dengan ekor matanya. Yoo Kyung menyerngit tidak mengerti.

“Donghae, wae?”

“Sepertinya ia bosan,” bisik Yuen.

“Lalu?”

“Temani sebentar,”

“Biar saja. Dia sendiri yang mau ikut dan melihatnya, kalau sekarang bosan jangan salahkan aku.” Yoo Kyung mendengus tidak perduli.

Yuen dan Jae Kyung mendesah. “Wanita ini..” lirih keduanya bersamaan.

Yoo Kyung sebenarnya tidak ingin mengacuhkan Donghae, tapi pria itu yang membuatnya seperti ini.

Ketika ia meminta ijin untuk belajar kelompok, Donghae memintanya ikut serta. Jadi jangan salahkan ia bila sekarang pria itu bosan di sini, di perpustakaan kota.

Donghae duduk di bangku lain yang tidak jauh dari Yoo Kyung dan teman-temannya mengerjakan tugas. Itu karena Yoo Kyung yang menyuruhnya untuk tidak terlalu dekat dan tentu saja agar teman-temannya tidak curiga.

Meskipun Donghae merasa bosan duduk dengan pura-pura membaca buku selama berjam-jam, ia tidak mengubah posisinya, tetap duduk di bangku itu. Ia terus memandangi wajah Yoo Kyung yang terlihat begitu serius. Kadang wanita itu menyerngit bila teman-temannya itu mengajukan pendapat yang kurang tepat, kadang pula tertawa yang membuat Donghae ikut tersenyum.

***

Senja telah tenggelam dibalik awan hitam. Semilir angin musim semi membawa kedua orang itu berjalan bergandengan, menyusuri jalan khusus pejalan kaki yang masih ramai.

Donghae mengeratkan genggamannya membuat wanita disampingnya itu menoleh.

“Wae?”

Yoo Kyung memandang Donghae bertanya-tanya. Namun, prianya ini justru tersenyum.

“Anni. Ternyata belajar Desain itu rumit ya?”

Yoo Kyung menggeleng pelan, “Tidak juga. Mungkin karena Oppa belum pernah mencobanya sehingga terlihat sulit. Kata Eomma, aku ini tidak mirip siapapun. Tidak Appa ataupun Eomma.”

Donghae menyerngit tidak mengerti.

“Bukan mirip dalam hal fisik atau rupa dan sifat. Kalau sifat aku persis seperti Appa, keras kepala. Ingin menang sendiri.” Jelasnya.

Donghae mengangguk setuju.

“Maksud Eomma, aku tidak mirip itu dalam hal yang aku sukai, hobby. Oppa tahu bukan, kalau Eomma adalah Dokter Spesialis Anak. Sedangkan Appa Dokter Bedah Penyakit Dalam. Dalam kedua hal itu, tidak ada satupun yang aku sukai. Yah, meskipun aku tumbuh bersama mereka; Suster, Dokter dan pasien rumah sakit. Tetap saja aku tidak berkeinginan menjadi Dokter, seperti Eomma dan Appa.”

Donghae diam, menyimak cerita istrinya.
Ia juga tahu masa kecil Yoo Kyung, karena ia pun tumbuh di tempat yang sama. Rumah sakit. Itu karena kedua orang tua yang sama-sama sibuk dan tidak ingin meninggalkan anaknya sehingga membawa anak mereka ke tempat kerja, yang nantinya akan mereka titipkan ke tempat penitipan anak yang ada di rumah sakit. Dan pada waktu mereka istirahat jam kerja, mereka bisa bertemu anak mereka.

“Saat aku melihat Jinhye Eonni menggambar sebuah baju, aku begitu tertarik dengan itu. Aku langsung meminta Jinhye Eonni untuk mengajariku menggambar. Dan ketika melihat JJ Oppa menjahit aku berkeinginan ingin bisa menjahit, agar bisa membuat baju sendiri.” Yoo Kyung tampak bersemangat ketika menceritakan masa kecilnya.

“Jinhye? Nugu?” Donghae bertanya tidak paham. Ia baru mendengar nama itu disebut istrinya kali ini.

“Oppa tadi lihat ada gadis berambut coklat panjang, duduk dengan Jaejoong Oppa?”

Donghae mengangguk. Ia memang melihat gadis itu datang bersama Jaejoong.

“Gadis itu Jinhye Eonni, tunangan Jaejoong Oppa.”

Donghae menghentikan langkahnya, memandang Yoo Kyung dengan raut terkejut.

“Jaejoong Hyung sudah bertunangan?”

Yoo Kyung mengangguk, “Nde.”

“Ku pikir, Jaejoong Hyung tidak jauh selisih umur dengan kita,”

Yoo Kyung seketika tertawa, “Oppa, JJ Oppa sudah 23 tahun. Dia tahun ini lulus dari universitas yang kemudian akan dilanjut ke Italia, karena JJ Oppa mendapat beasiswa tahun ini. Maka itu, JJ Oppa memutuskan untuk mengikat Jinhye Eonni lebih dulu.” Urai Yoo Kyung masih dengan kekehan.

Donghae mengangguk mengerti, “Eh, chankkhaman.”

“Wae?”

“Jaejoong Hyung sudah punya tunangan, tapi kenapa begitu banyak gadis yang mengejar-ngejarnya? Apa mereka tidak tahu kalau dia itu sudah punya kekasih?”

“Anni, mereka tidak tahu.”

“Bagaimana bisa?”

“JJ Oppa dan Jinhye Eonni tidak satu universitas Oppa. Jinhye Eonni di universitas Seoul jurusan psikologi, tahun depan di wisuda.”

“Wow! Daebak!!” Decak Donghae kagum.

Yoo Kyung tersenyum. “Nde, mereka saling percaya meskipun menjalin cinta jarak jauh. Terlebih nanti Jinhye Eonni akan ditinggal yang lebih jauh.”

“Apa tidak ada rasa cemburu? Jaejoong Hyung bahkan selalu dikelilingi gadis-gadis, apa Jinhye Noona tidak tahu atau khawatir?”

“Jinhye Eonni tahu dan dia memaklumi. Bukankah tadi aku sudah bilang, bahwa mereka saling percaya satu sama lain? Itulah kunci mereka bisa bertahan hingga saat ini, 4 tahun.”

“Kalau aku pasti sudah cemburu,” lirih Donghae.

“Yup! Itulah perbedaan besar dalam diri Oppa. Cemburu. Dan Oppa tidak mudah percaya padaku. Benar bukan apa yang aku katakan?” Yoo Kyung memiringkan kepalanya, melihat reaksi Donghae.

Pria itu merengut sebal. Kalimat istrinya itu memang tepat. Ia terlalu cemburu dan belum bisa memberikan kepercayaan penuh pada wanita itu.

Bukankah dalam suatu hubungan yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan?
Apa hubungan itu bisa berjalan lancar kalau kalian tidak percaya pada pasangannya?

Tentu saja, tidak.

Sama halnya dengan pohon. Bukankah pohon tidak akan hidup bila tanpa akar?
Apa pohon itu bisa berkembang tanpa adanya akar yang menjadi sumber utama?

Maka seperti itulah jika kau ingin menjalin sebuah hubungan. Harus saling percaya. Apalagi jika kalian sudah berkeluarga, tentu kepercayaan sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah rumah tangga.

“Mianhamnida, Yoo.” Lirih Donghae dengan sedih.

Yoo Kyung memang benar, ia terlalu cemburu.

“Gwaenchana. Oppa bisa merubahnya kalau Oppa mau. Pelan-pelan saja dan harus sabar,” Yoo Kyung mencoba menghibur Donghae yang tampak murung.

“Eum! Aku akan mencobanya,” Donghae tersenyum kemudian mengangguk.

“Berarti Oppa harus percaya padaku mulai sekarang. Tidak bertanya yang macam-macam lagi seperti minggu-minggu sebelumnya. Oppa hanya perlu dengarkan apa ucapanku, bukan orang lain. Bukankah aku sudah menjadi milik Oppa, apa yang harus di khawatirkan?” Yoo Kyung mengedipkan sebelah matanya, menggoda Donghae.

Pria itu kembali menunjukkan senyum menawannya. Ia ulurkan tangan kanannya, mengacak gemas surai hitam milik Yoo Kyung.

“Eum, Kajja pulang. Aku lapar.”

Yoo Kyung membalas senyum itu hangat. Hati dan perasaannya sedikit lega mengetahui bahwa Donghae mau mencoba memberinya kepercayaan.
Perasaanya menghangat seperti genggaman tangan mereka.

***

“Annyeong..” Yoo Kyung menyapa sahabatnya ketika ia sampai di kelas.

Jae Kyung dan Yuen membalas sapaan itu dengan lemas.
Yoo Kyung menyerngit heran.
Ada apa dengan mereka?

“Ada apa? Dan kenapa kalian cuma berdua? Sung Hyo, eodiga?”

Ya, di sana memang hanya ada dua sahabatnya itu, sedangkan Sung Hyo tidak terlihat.

“Sung Hyo hari ini tidak masuk, ia masuk kelas sore.” Jawab Yuen malas.

“Wae? Apa terjadi sesuatu?”

“Kyuhyun sakit, jadi ia datang merawatnya,” lanjut Yuen lagi.

Yoo Kyung mengangguk mengerti. Ia alihkan tatapannya ke arah sepupunya yang tampak–frustasi.

“Kau kenapa Jae-ya?” Yoo Kyung mengelus rambut pendek gadis itu. Tapi bukannya menjawab, Jae Kyung justru langsung memeluk Yoo Kyung dan menangis tersedu.

“Ya! Ya! Kau itu kenapa huh? Ayo, katakan padaku, kau kenapa?”

Jae Kyung tidak menjawabnya, gadis itu hanya semakin tergugu. Yoo Kyung menatap Yuen bertanya-tanya.

“Hyukjae sudah punya kekasih,” ucap Yuen pendek dan acuh. Gadis satu itu tampak malas. Yoo Kyung tahu kenapa gadis berpipi chubby itu seperti itu, karena Sung Hyo tidak ada. Kedua gadis itu ibarat amplop dan perangko. Selalu menempel kemanapun mereka pergi. Itu sudah sejak mereka duduk di Sekolah Dasar.

Yoo Kyung tampak melongo. Apa Yuen tidak salah bicara?
Hyukjae punya kekasih? Bukankah itu wajar karena pria itu selalu dikelilingi gadis-gadis, seperti Donghae?

Tapi ini aneh.

Bukankah Jae Kyung tidak menyukai Hyukjae karena pria itu playboy? Lalu, kenapa sekarang gadis ini menangis?
Apa jangan-jangan gadis ini…

Yoo Kyung melepaskan pelukannya, memperhatikan wajah sembab Jae Kyung. Wanita ini menghapus jejak airmata gadis itu.

“Apa kau sekarang menyukai Hyukjae, Jae Kyung-ah? Sekarang kau merasa menyesal?” Tanyanya hati-hati.

Jae Kyung tidak langsung menjawab, gadis itu mencoba mengatur nafasnya. “Aku– tidak tahu. Aku hanya merasa sesak ketika Hyukjae mengatakan ia menyerah untuk membuatku mencintainya. Katanya, ia lelah Yoo–”

Air mata itu kembali membasahi pipi Jae Kyung. Sepertinya gadis itu tidak perduli lagi bila nanti ia akan menjadi tontonan teman-teman sekelasnya.

“Tadi, aku bertemu dengannya di koridor. Dia menggandeng seorang gadis Yoo. Aku–merasakan sesak di sini.” Jae Kyung memukul dada kirinya. Yoo Kyung segera menahannya.

“Aku tidak tahu ada apa denganku. Hyukjae bahkan tidak mau menatapku tadi. Aku–” Gadis itu tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
Yoo Kyung segera memeluknya kembali, mengelus punggung gadis itu, berusaha menenangkannya.

Yoo Kyung memandang Yuen dengan tatapan mengintimidasi. Gadis satu itu tidak begitu peka.

“Wae, Yoo?” Yuen bertanya tidak mengerti.

“Nothing.” Sahut Yoo kyung pendek.

Yuen kesal mendengarnya.

“Lalu, kenapa melotot padaku huh? Kau tahu Yoo, matamu itu bisa keluar dari kelopaknya kalau kau melotot seperti itu.”

“Kau– aish!! Kau ini seharusnya mencari solusinya Yuen-ah, bukannya hanya duduk dengan bermain ponselmu itu.” Desis Yoo Kyung kesal.

Seharusnya Yuen ikut menghibur Jae Kyung agar tidak terlalu sedih. Tapi apa yang dilakukan gadis itu, duduk manis dengan menopang dagu dan tangan kanan sibuk memencet tombol ponselnya. Benar-benar…

“Mwoya? Kau saja. Kau yang mencari solusinya. Anggap saja balasan untuk Jae Kyung yang sudah membuat kalian berdua bisa menikah.” Ujar Yuen dengan polosnya. Tapi sesaat kemudian gadis itu membungkam bibirnya yang sudah salah bicara. Anni. Tepatnya, tidak seharusnya ia katakan.

Yuen menatap takut-takut ke arah Yoo Kyung yang kini sudah berdiri dihadapan gadis itu dengan bertolak pinggang.

“Bisa jelaskan apa maksud dari ucapanmu barusan Yuen-ah?” Yoo Kyung memandang Yuen tajam.

Yuen menoleh ke arah Jae Kyung yang juga menatapnya tajam. Gadis cantik itu sudah berhenti menangis namun masih sesegukan.

“Eum– itu… Anu.. Aku dan–” kalimat yang di ucapkan Yuen terputus-putus membuat Yoo Kyung memejamkan matanya, bersabar.

Ya. Sabar. Ia ingin tahu apa maksud ucapan Yuen tadi.
‘membuat kalian berdua bisa menikah.’
Itu kata yang membuatnya merasa aneh.

“Sebenarnya apa yang tidak aku ketahui dari kalian semua? Apa yang kalian sembunyikan dariku?” Yoo Kyung menatap Yuen dan Jae Kyung bergantian.
Kedua gadis itu sama-sama menundukan kepala, terlihat menyesal. Terlebih Jae Kyung.

“Aku yang salah Yoo.. Jangan marah dengan Yuen. Akan aku jelaskan semuanya, tapi tidak di sini ne?” Akhirnya Jae Kyung bersuara juga. Yuen menatap Jae Kyung dengan tatapan bersalah karena membuat gadis itu harus mengatakan yang sebenarnya, di saat suasana hatinya sedang kurang baik.

Yuen memaki dirinya karena telah melontarkan bom atom.

“Ok. Kita bicara di luar. Dan kau Yuen-ah,” Yoo Kyung menoleh ke arah Yuen. “Kau juga ikut,” lanjutnya dengan berjalan lebih dulu.

“Mian–”

“Gwaenchana.” Sela Jae Kyung cepat kemudian menyusul Yoo Kyung yang sudah keluar dari kelas lebih dulu.
Yuen menyusul dibelakangnya dengan langkah lesu.

***

Yoo Kyung berjalan menyusuri koridor dari kelas Music menuju kelas Kedokteran. Tadinya ia bersama Yuen, tapi gadis itu mentok di jalan ketika bertemu Ryeowook yang baru keluar dari kelasnya di kelas Music. Pria itu satu kelas dengan Kyuhyun.

Wanita itu menghentikan langkahnya ketika melihat Donghae dan Sungmin yang baru keluar dari kelas. Ia langsung berlari kecil dengan memanggil Donghae.

Donghae membalikan tubuhnya ketika mendengar seseorang meneriakan namanya. Pria itu langsung tersenyum lebar ketika melihat istrinya itu berlari menghampirinya.

“Yoo! Ada apa?” Donghae bertanya setelah wanita itu sampai dihadapannya. Senyum manisnya ia suguhkan untuk Yoo Kyung.

Yoo Kyung mengatur nafasnya yang tidak beraturan. “Aku ingin bicara denganmu, berdua,” ucap Yoo Kyung terputus.

Donghae menoleh ke arah belakang, Sungmin menunggunya.

“Apa itu penting? Aku masih ada praktek,”

Yoo Kyung mendesah, “Sampai jam berapa?”

Donghae melihat ke arah tam tangannya kemudian kembali memandang Yoo Kyung, “Sampai jam 14.30 ”

“Aish.. Kenapa lama sekali,” gerutu wanita itu dengan kesal. Ini masih jam 12.10 KST, berarti masih ada sekitar 2 jam 20 menit lagi, itu terlalu lama.

Apa ia harus menunggu?
Hari ini Yoo Kyung hanya ada 2 mata pelajaran, itupun hanya sampai jam 1 nanti.

“Memang ada apa?” Donghae melihat ada yang begitu mendesak dari tatapan istrinya ini.

Apa ada hal yang begitu penting yang ingin dibicarakan oleh wanitanya sekarang juga, sehingga membuat wanita itu datang mencarinya?

“Tidak apa-apa. Kita bicara di rumah saja ne?” Yoo Kyung memberikan senyum simpul untuk Donghae.

Meskipun masih penasaran tapi Donghae tetap mengangguk.

“Nde. Kalau begitu sampai ketemu di rumah ne, annyeong.”

“Hm. Bye-bye.” Yoo Kyung tidak memlambaikan tangannya seperti Donghae. Wanita itu terus was-was karena beberapa anak dari kelas kedokteran menatapnya dengan tatapan aneh, terutama gadis-gadis.

Mungkin mereka berfikir, bagaimana bisa anak ini di sini, sedangkan ini kelas kedokteran.
Dan kenapa dia terlihat begitu akrab dengan Donghae?

Yah.. Mungkin seperti itu.

Yoo Kyung segera memilih pergi daripada ditatap seperti itu.
Ia merasa seperti seorang buronan polisi ketika ditatap oleh anak-anak fakultas kedokteran.

***

Hari sudah mulai petang ketika pria dengan paras tampan yang memiliki senyum memikat itu sampai di rumah.
Donghae melepaskan sepatunya kemudian menggantinya dengan sandal rumah. Pria itu langsung mencari keberadaan istrinya yang belum ia lihat.

“Ke mana Yoo Kyung?” lirihnya dengan menelusuri isi rumah.

Biasanya ketika ia pulang kalau Yoo Kyung ada di rumah, wanita itu pasti menyambut kedatangannya dengan tersenyum manis yang kemudian dilanjut dengan satu kecupan selamat datang. Tapi ini aneh, kenapa istrinya itu tidak menyambutnya? Bahkan di ruang tamu juga kosong.

Donghae membuka pintu kamar. Ia melihat Yoo Kyung sedang bebenah kamar mereka, mengganti seprai dengan yang bersih.

Peluh nampak menghiasi kening wanita itu. Yoo Kyung menyekanya dengan punggung tangan. Wanita itu terlihat lelah.

Donghae berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Ia berniat mengangetkan istrinya.

Grep!

“Aaaaaaa!!!!” Teriakan Yoo Kyung memenuhi kamar yang cukup luas itu. Wanita itu begitu terkejut karena tiba-tiba seseorang memeluk tubuhnya dengan sedikit mengangkatnya.

Donghae segera menurunkannya, menatap sang istri dengan senyum polos andalannya.

“OPPA!! KAU INGIN AKU MATI MUDA HUH?!” Sentak Yoo Kyung memukuli Donghae dengan bantal guling yang tadi sedang ia ganti sarungnya.

Pria itu mencoba melindungi wajahnya dari amukan Yoo Kyung dengan tangan yang menutup wajah.

“Mianhata Yeobo-ya,” sesal Donghae meminta maaf.
Yoo Kyung menghentikan aksi memukulnya karena merasa lelah. Wanita itu mengatur nafasnya yang naik turun dengan cepat.

Donghae segera menarik tubuh Yoo Kyung kemudian berguling ke ranjang.

“Oppa!!” Protes Yoo Kyung karena Donghae mendidih tubuh kecilnya.

Pria itu tersenyum menang.

“Menyingkirlah, Oppa. Aku ingin bangun.” Yoo Kyung mencoba mengangkat tubuhnya namun kembali tertidur karena Donghae mendorongnya.

Yoo Kyung merengut sebal.

“Kau boleh bangun setelah menjalankan tugasmu Mrs. Lee,” Donghae menyeringai melihat istrinya yang ada di bawah tubuhnya kembali berontak, ingin terlepas dari kekangan badan kekarnya.

“Oppa! Jebbal, bangunlah. Aku akan memberikannya setelah kau bangun.” Yoo Kyung memperlihatkan wajah memelasnya.

Donghae menggeleng dengan keras. “Andwae! Kau pasti bohong lagi seperti kemarin. Kau langsung masuk kamar mandi. Anni. Anni.”

“Oh, ayolah Oppa. Percaya padaku, bukankah Oppa bilang ingin mempercayaiku huh?”

“Ini urusan lain Yeobo-ya.” Donghae mengembangkan senyumnya ketika melihat wajah pasrah istrinya.

“Baiklah, lakukan sesukamu.” Yoo Kyung mendengus pasrah. Ia benci dengan hal yang satu ini.

Bila Donghae sudah menciumnya, pria itu pasti akan lama. Dan tidak hanya cukup sampai mencium. Donghae akan meninggalkan sedikit ‘tanda’ di tubuhnya yang tidak akan hilang dalam 2 hari kedepan.

Yoo Kyung terengah begitu Donghae melepaskan tautan bibirnya. Pria itu belum beranjak bangun dari tubuhnya. Donghae kini sibuk dengan bagian lain dari tubuhnya.

Bahu dan leher.

Entah kenapa Donghae suka sekali membiarkan kepalanya berada di sana. Bahkan bibir hangat itu kini Yoo Kyung rasakan di area tulang belikatnya.

Yoo Kyung mencengkeram hodie yang dikenakan Donghae dengan erat, dan menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara menjijikkan yang justru disukai Donghae.

“Kau sungguh menggemaskan Yoo,” lirih Donghae dengan mengecup sekilas pipi Yoo Kyung yang memerah.

Wanita itu membuka matanya yang sedari tadi terpejam, memandang suaminya dari posisi berbaring dengan Donghae ada di atas tubuhnya.

“Yoo, apa kau akan meninggalkanku?” Donghae bertanya tiba-tiba.

“Mwo?” Yoo Kyung menyerngit tidak mengerti.

Donghae bangun dari posisinya yang menindih Yoo Kyung, menjadi duduk membelakangi wanita itu.

“Aku hanya merasa kau akan pergi jauh dariku setelah ini.”

Deg!

Yoo Kyung ikut duduk disamping Donghae. Memandang ke luar jendela yang menampakan cahaya jingga memenuhi cakrawala.

Tidak. Ia tidak bisa meninggalkan pria ini.
Meskipun sempat terlintas dalam pikirannya setelah mendengar pengakuan Yuen dan Jae Kyung, bahwa mereka dan orang tua adalah dalang dari rencana di malam kelulusan mereka dulu.
Tapi tidak. Ia tidak bisa.

Donghae menoleh ke arah Yoo Kyung yang diam dengan pandangan lurus. Ia tidak tahu apa yang ada dipikiran wanita itu saat ini.

Apakah Yoo Kyung akan meninggalkannya setelah tahu bahwa mereka dulu tidak pernah melakukan ‘kesalahan’?

Tapi, itu dulu.
Kini mereka sudah menikah dan ia telah membuat wanita itu terikat dengannya.

Ia baru mengetahuinya dari Hyukjae tadi, ketika ia akan pulang.

Hyukjae dan Jae Kyung sudah mengatakan yang sejujurnya dan mereka meminta maaf.
Jae Kyung bahkan terlihat begitu cemas karena saat ia menceritakan semuanya Yoo Kyung hanya diam dan pergi begitu saja, tidak bicara apapun. Dan lagi, wanita itu membolos di jam terakhir.

“Apa kau akan menceraikanku, Yoo?”

Seketika Yoo Kyung langsung menolehkan kepalanya, memfokuskan tatapannya ke arah pria disampingnya yang juga sedang menatapnya.

Apa Donghae sudah tahu tentang masalah ini?
Tentang ‘kecelakaan’ saat malam kelulusan mereka dulu? Kalau iya, siapa yang memberitahukannya?

Yoo Kyung bisa melihat kesedihan yang begitu dalam ketika menatap iris hitam milik Donghae.
Ia bisa merasakan berkecamuknya perasaan pria itu, sama seperti dirinya sesaat lalu.

“Apa kau akan meninggalkanku dan kembali membenciku? Setelah kau tahu bahwa malam itu kita tidak melakukan apapun. Tidak terjadi apa-apa.” Suara Donghae kini tercekat. Kabut tipis mulai memenuhi kelopak matanya. Pandangannya mengabur, tidak jelas.

“Jawab Yoo, apa kau akan pergi dariku?” Donghae menggenggam erat kedua tangan Yoo Kyung yang dingin, sama seperti tangannya.

Wanita itu membuka mulutnya, bersiap akan menjawab pertanyaan Donghae.

“Ak–aku…”

Continue….

12 comments

  1. Oh my God, TBC-nya benar-benar disaat yang paling bikin penasaran. Yoo Kyung bilang apa coba?

  2. mulut yuen emang gk bisa dikontrol banget yakk
    kan terbongkar dech semuanya
    apa mungkin yoo kyung mau pergi ninggalin donghae ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s