Sweet Matchmaking (Freelance)

image

Author : Rin ( https://m.facebook.com/amerinda.azarine?refid=12&ref=wizard )

Title : Sweet Matchmaking

Genre: Romance, Family

Rating: G

Length: Oneshoot

Cast : Choi Siwon, Han Jihye

Happy reading!

Author pov.

Seorang pria tampan bermarga Choi itu tengah mempelajari naskah dramanya dengan serius di sofa ruang tengah rumahnya. Ia tak sadar jika sedari tadi sang ibu tengah menatapnya intens.

Setelah sekian lama terhanyut dalam kegiatannya ia sadar bahwa ada yang memperhatikan dirinya. Ia melihat sang ibulah yang tengah menatapnya sambil tersenyum. Ia mengernyit bingung saat menyadari senyum ibunya yang tak seperti biasanya.

“Eomma wae? Eomma membuatku takut dengan senyumanmu itu.” katanya yang menatap ngeri sang ibu.

Sementara ibunya sendiri semakin mengembangkan senyumnya menanggapi perkataan sang anak.

“Anio, chagi. Eomma hanya mau tahu, apa kau besok sibuk?” tanya Ibunya lembut tetap dengan senyumnya.

“Anio, hari ini hingga tiga hari kedepan aku free. Wae?”

Ibunya yang mendengar hal itu semakin mengembangkan senyumnya.

“Ikut Eomma untuk bertemu teman Eomma dirumahnya ne?” pinta ibunya penuh harap dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.

“Eomma tidak bermaksud menjodohkanku ‘kan?” tanya Siwon curiga.

“Emm, yah kalau kau tidak menyukai gadis itu, Eomma tidak akan memaksa.” kata ibunya meng’iya’kan yang kini menunduk sambil memutar jari telunjuk kanannya di atas lututnya.

“Hhh.. Baiklah tapi jangan memaksaku untuk menerimanya kalau aku tidak suka.” jawab Siwon pasrah namun tegas diakhirnya.

“Ne, Eomma janji!” kata ibunya dengan senyum yang kembali menghiasi wajahnya, tak lupa dengan jari tangan kanannya yang membentuk ‘V’.

“Baiklah kalau gitu Eomma pergi dulu, ne? Eomma masih ada janji.” kata Eommanya yang masih betah tersenyum itu lalu pergi.

Sementara Siwon hanya menanggapinya dengan deheman singkat sambil menggelengkan kepalanya. Karena ini bukanlah yang pertama kalinya. Sudah sering ibunya itu berusaha untuk menjodohkannya. Namun hatinya sudah dimiliki oleh satu gadis.

Ia tak tahu siapa dia. Bahkan ia baru bertemu sekali yaitu saat ketidaksengajaan mereka bertatap muka sejenak, di salah satu hotel di Jepang saat ia dan teman-temannya mengadakan konser.

Sampai saat ini ia tak tahu apa yang ia rasakan adalah cinta pada pandangan pertama atau hanya rasa kagum semata.

——–

Berbeda dengan di sebuah rumah yang terletak di salah satu kawasan elit gangman. Kini seorang ibu yang berusaha membujuk putrinya untuk tinggal di rumah dengannya besok, karena temannya akan datang berkunjung besok dan ia ingin mengenalkan putrinya.

“Ayolah Honey mau ya?” pelas ibunya sambil menggoyangkan lengan kiri putrinya.

“Bukannya tidak mau Mom, tapi besok aku ada rapat!” kata putrinya tak enak.

“Mommy akan bicara pada Daddy untuk mengizinkanmu tidak hadir. Pasti Daddy akan mengizinkan jika Mommy yang minta, ne?”

Gadis itu hanya bisa menghela napas pasrah dan berkata, “Baiklah, jika Mommy bisa mendapatkan izin Daddy, aku mau.”

“Ah~ thank you honey.” kata ibunya sambil memeluk sang putri senang lalu pergi begitu saja dengan bersenandung riang. Dan sang putri hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat tingkah kekanakan sang ibu.

“Kenapa aku bisa punya ibu sepertinya? Untung aku menyayanginya. Jika tidak? Ah molla.” gerutunya pelan dan kembali melanjutkan mendesain bajunya. Ya selain membantu ayahnya diperusahaan ia juga punya butik sendiri dengan hasil karya sendiri.

——

Hari yang di nanti oleh kedua ibu itu tiba. Dan salah satu dari mereka yang mempunyai putri yang sangat cantik, baru saja mendapatkan kabar bahwa temannya telah dalam perjalanan menuju rumahnya, bersama sang putra yang selama ini diagung-agungkan temannya itu.

Wanita paruh baya yang bertingkah kekanakan itu, segera berlari menuju kamar putrinya setelah menutup sambungan telepon.

“Honey kau sudah siap?” tanyanya setelah berhasil masuk ke kamar putrinya, yang bernama Han Jihye itu.

Jihye yang sedang menyisir rambutnya terkejut karena tingkah sang ibu yang tiba-tiba masuk kekamarnya.

“Sabar Mom, sebentar lagi.” katanya berusaha tenang.

“Oh, ayolah Honey, teman Mom bersama putranya sebentar lagi sampai.” kata ibunya tak sabar.

“Maksud Mom bersama putranya apa?” tanya Jihye curiga dan menatap ibunya. Karena ibunya kemarin tak bilang jika ada pria yang akan hadir. Jadi ia pikir hanya wanita yang sebaya dengan ibunya.

“Ne, teman Mommy dan putranya!” jawab ibunya polos.

“Putra? Mommy tak bermaksud untuk menjodohkankukan?” Jihye kini mulai curiga dan memicingkan matanya ke arah ibunya.

“Anio, Mommy hanya ingin mengenalkan kalian saja.” bantah ibunya gelagapan saat niatnya terbongar.

“Apa bedanya?”

“Tentu saja beda.”

Tokk! Tokk! Tokk!
“Nyonya tamunya sudah datang.” suara Yoora, maid di rumah ini menghentikan perdebatan ibu dan anak ini.

“NE~!” suara ibunya keras yang terlihat senang. Secepat mungkin ibunya keluar dari kamar Jihye, tapi sebelum ia mencapai pintu ia berbalik menatap anaknya dan berkata, “Cepat turun!” sambil menyacungkan jari telunjuknya.

“Ne~” jawab Jihye malas-malasan.

——–

Di ruang tamu, ibu dan anak yang baru saja tiba itu mengamati keadaan sekeliling rumah sambil menunggu Nyonya rumah datang menghampiri mereka.

“Rumahnya luas ya, chagi?” tanya Nyonya Choi pada sang anak yang sibuk dengan ponselnya.

“Eomma mau punya rumah yang besar seperti ini?” tanya Siwon tanpa menatap sang ibu.

Nyonya Choi yang mendengarnya kini menatap binar sang anak, “Kau akan memberikan rumah yang sebesar ini untuk Eomma, chagi?” tanya ibunya antusias.

“Anio. Minta saja pada Appa.” jawab Siwon santai dan ibunya hanya mengerutu tak jelas.

“YOONJI!” teriak seseorang wanita mengalihkan perhatian mereka. Yoonji, nama ibu dari Choi Siwon segera berdiri menghampiri wanita yang meneriakan namanya dan berpelukan, seakan-akan mereka baru bertemu setelah bertahun-tahun lamanya. Padahal baru tiga hari yang lalu mereka bertemu.

Sedangkan Choi Siwon hanya menatap kedua wanita itu tersenyum geli dari tempatnya berdiri.

“Apa dia putramu? Ternyata lebih tampan jika di lihat secara langsung ya?” tanya Nyonya Han saat melihat Siwon setelah melepaskan pelukan mereka.

Siwon yang mendengarnya tersenyum malu dan mengenalkan diri sambil membungkuk.

“Ne. Dia putraku.” kata Nyonya Choi bangga. “Lalu dimana putrimu?” lanjutnya melihat ke belakang punggung temannya namun tak ada siapa-siapa.

Nyonya Han juga melihat kebelakangnya dan berkata, “Dia masih bersiap-siap sebentar lagi juga turun.” balasnya seraya menatap temannya yang hanya menganggukan kepalanya.

“Ah, kenapa masih berdiri? Ayo duduk!” ajak Nyonya Han saat menyadari posisi mereka yang menurutnya tak pantas jika mengobrol.

Saat baru saja duduk Nyonya Han yang memang posisinya menghadap ke tangga memekik melihat putrinya turun dengan balutan dress selutut berwarna peach dan senyum yang mengembang dibibirnya, “Ah, itu putriku.” tunjuknya.

Siwon yang memang membelakangi tangga harus berbalik dan melihat seperti apa putri nyonya Han itu. Dan yang terjadi adalah ia mematung saat mengetahuinya.

Ia ingat betul siapa gadis itu. Ya, gadis itu adalah gadis yang telah merebut perhatiannya sejak pertemuan pertama dan terakhirnya di Jepang. Dan kini ia kembali melihatnya lagi karena kedua ibu mereka.

Siwon masih betah memandanginya sampai tak menyadari bahwa Jihye telah memperkenalkan diri padanya dan ibunya. Ia kembali dari dunianya setelah ibunya menyadarkannya dengan menyenggol tangannya.

Entah kenapa tiba-tiba ia menjadi kikuk saat mengenalkan dirinya pada gadis itu.

Ia merasa ada sesuatu yang terbang diperutnya saat menatap mata biru gadis itu sehingga terciptalah garis-garis merah di bawah matanya. Garis-garis merah itu semakin jelas terlihat saat melihat senyum gadis itu.

Ia tak tahu arti dari apa yang ia rasakan. Mungkinkah itu cinta?

Ia ingin sekali mengajak gadis itu mengobrol namun ia tak bisa, karena tiba-tiba saja lidahnya seperti terlilit saat menatap wajah ayunya. Ia hanya bisa menundukan wajahnya untuk menyembunyikan semburat merah yang tak akan hilang selama gadis itu berada dihadapannya.

Lalu bagaimana dengan Jihye? Apa dia juga merasakan hal yang sama pada Siwon?

Entahlah. Ia belum menyadarinya. Ia hanya merasa bahwa Siwon adalah pria yang menarik dan lucu. Ia tersenyum karena melihat Siwon yang salah tingkah dengan wajah yang merona. Ia hanya bisa menyimpulkan satu hal, bahwa Siwon memiliki rasa padanya. Darimana ia bisa tahu? Itu karena ia pernah mempelajari bahasa gerak tubuh manusia.

“Honey, ajaklah Siwon-ssi jalan-jalan keliling rumah sambil menunggu waktu makan siang tiba ne?” usul Nyonya Han.

“Yes, Mom. Kajja Siwon-ssi.” ajak Jihye tersenyum.

Siwon hanya mengangguk kaku dan mengikuti kemana gadis didepannya melangkah.

—–

Siwon pov.

Jantungku! Jantungku! Ada apa dengan jantungku? Kenapa berdetak secepat ini. Kupegang dada kiriku dengan tangan kananku. Aku dapat merasakan detakannya. Kupikir ini hanya perasaanku saja.

Padahal aku hanya melihat punggungnya saja yang berjalan didepanku. Tapi kenapa rasa senang bercampur gugup sudah menghampiriku? Bagaimana jika kami berhadapan, mungkin saja jantungku akan meledak setelahnya. Bahkan kini kami hanya berdua saja. Oh ayolah Choi Siwon jangan membuat malu dirimu di depan gadis yang kau suka. Apa aku benar-benar menyukainya ya? Ani. Aku rasa ini cinta. Ya! Cinta.

—-

Author pov.

Hingga kini Siwon pun tak berkutik sejak ia dan Jihye telah duduk berdampingan menghadap taman yang berada di belakang rumah gadis itu.

Ia sibuk mengatur detak jantungnya yang tak kunjung mereda. Bahkan ia mengabaikan semua penjelasan Jihye tentang setiap sudut rumahnya.

Jihye yang menyadari itu hanya tersenyum. Ia tahu kenapa pria disampingnya hanya diam saja.

Jihye mencoba menyadarkannya dengan menyentuh lengan kiri pria disampingnya itu dengan tangan kanannya sambil memanggil namanya, “Siwon-ssi?” dan Jihye tak menyangka jika reaksinya berlebihan. Siwon tergagap dan wajahnya kembali merona. “Siwon-ssi, gwaenchanayo?” tanya Jihye mencoba memegang kening Siwon, namun Siwon segera menurunkannya.

Jihye tak sadar apa yang dilakukannya akan membuatnya bertambah tak baik-baik saja.

“Aa-aa gwaen-chan-a.” kata Siwon tergagap.

“Jeongmal? Aku khawatir Siwon-ssi kenapa-kenapa, dari tadi hanya diam saja.”

Baiklah Siwon merasa dirinya akan pingsan karena mendengar bahwa Jihye mengkhawatirkannya.

Hening. Setelah kejadian tadi mereka memutuskan untuk diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Jihye memutuskan untuk mengawasi sekeliling, melihat keindahan taman bunga yang karya ibunya yang menjadi bagian favoritnya di rumah ini dengan senyum tipisnya. Bisa di bilang bahwa Jihye adalah gadis yang ramah dan murah senyum.

Sementara Siwon sendiri sesekali mencuri pandang ke arah Jihye. Sebenarnya ia sangat benci suasana canggung seperti ini. Tapi ia tak tahu harus memulainya dari mana.

“Ekhm. Jihye-ssi?” akhirnya setelah mengumpulkan keberanian dan ketekatan, Siwon mulai menyapa Jihye.

“Ne, Siwon-ssi. Wae?” merasa di panggil Jihye mengalihkan tatapannya pada Siwon yang kini mulai gugup saat gadis itu menatapnya.

“Ekhm. Apa kau pernah ke Jepang sebelumnya?” tanyanya bersikap tenang.

“Ne. Aku sering kesana.” jawab Jihye sambil mengangguk.

“Apa kau pernah menginap di hotel ******?” tanyanya lagi. Ia ingin memastikan bahwa gadis disampingnya ini benar-benar gadis yang pernah dilihatnya.

“Setiap ke Jepang, aku selalu menginap di sana. Karena hotel itu satu-satunya milik Daddy di Jepang.”

“Jadi Hotel itu milikmu?”

“Bukan punyaku, tapi punya my Daddy.” jawab Jihye terkekeh.

“Ohh. Aku pernah melihatmu di sana.” kata Siwon menunduk malu. Ia tak menyangka bahwa Jihye tidak seperti gadis pada umumnya yang mengakui kekayaan orang tuanya sebagai miliknya. Dan itu membuat perasaannya pada gadis itu semakin besar.

“Jeongmal? Mian aku tak mengingatnya.” ucap Jihye menyesal namun segera di sangkal oleh Siwon.

“Gwaenchana. Waktu itu aku memakai masker jadi sudah pasti kau tak mengingatnya. Kau tahukah siapa aku Jihye-ssi?” kata Siwon menggerakkan tangannya. Ia tak ingin gadis itu merasa bersalah karena pada saat itu ia memang menggunakan masker.

Jihye menganggukkan kepalanya. “Eum! Bukankah Siwon-ssi seorang aktor juga member Boy Band?” kata Jihye sedikit ragu karena ia lupa nama grubnya.

“Ne!” kata Siwon tersenyum malu karena ia tak menyangka jika Jihye tahu siapa dia.

“Eum. Kalau boleh tahu Siwon-ssi pernah melihatku di mana? Dan kapan?”

“Di lift hotel ******. Setahun lalu. Dan sebenarnya sejak itu aku mulai tertarik denganmu, Jihye-ssi. Mianhae jika aku lancang tapi itulah yang kurasakan. Awalnya aku mengira rasa ini hanya sebatas rasa kagum dan bersifat sementara. Tapi aku salah, semenjak saat itu aku tak pernah bisa melirik gadis lain, karena yang ada dibenakku hanya ada wajahmu dan senyummu. Jika Jihye-ssi tak percaya, Jihye-ssi bisa merasakannya sendiri.” ucap Siwon panjang lebar yang diakhiri dengan mengambil tangan kanan Jihye yang ada dipangkuannya dan diletakkannya didadanya.

Jihye bisa merasakan detak Jantung Siwon yang begitu kencang. Dalam hati ia tersenyum, tapi itu tak berlangsung lama karena Siwon mengembalikan tangan Jihye ke tempat asalnya, karena ia merasa tak sopan telah berani memegang tangannya tanpa izin.

Jihye sedikit kecewa saat ia tak dapat merasakan detak jantung Siwon lagi, karena saat itu ia dapat merasakan hal yang sama pada jantungnya.

“Siwon-ssi, apa kau tahu tujuan Uri Eomma mengadakan pertemuan ini?” tanya Jihye memecahkan kecanggungan yang muncul tiba-tiba.

“Ne. Mereka berniat menjodohkan kita.” jawab Siwon malu dengan di tandai garis merah pada pipinya.

“Apa kau menerimanya?” tanya Jihye lagi.

“Awalnya aku tidak mau. Tapi saat mengetahui gadis itu adalah dirimu, sepertinya aku berubah pikiran.” dengan wajah tertunduk malu. “Jadi, Jihye-ssi. Maukah kau menjalin hubungan denganku sebagai sepasang kekasih?” lanjutnya penuh harap dengan kedua tangannya yang menggenggam tangan kanan Jihye.

“Aku mau!” Siwon tersenyum senang mendengarnya. “Asalkan hubungan ini tak dirahasiakan pada publik.”

“Wae?” tanya siwon. Bukannya ia tak mau hanya saja ia takut jika ELF tidak setuju.

“Aku hanya ingin fans Siwon-ssi merestui hubungan kita.” Jihye menunduk, ia takut salah bicara.

“Baiklah akan kuberitahu mereka tapi dengan cara perlahan. Tidak masalahkan?” wajah Siwon memucat, ia takut Jihye tak setuju, bahkan ia tak sadar jika ia masih menggenggam tangan Jihye.

Jihye mengangkat wajahnya yang tersenyum tipis dan mengangguk kecil tanda setuju. Mengetahui cintanya terbalas meski tak diucapkan dengan kata-kata ia merasa senang bahkan tanpa sadar ia memeluk Jihye erat.

Jihye yang di peluk secara tiba-tiba itu hanya bisa diam membeku. Karena ini pertama kalinya ia bersentuhan dengan seorang pria yang bukan keluarganya. Benar, Jihye belum pernah berpacaran sebelumnya meski kini usianya sudah 21 tahun. Itu karena semua pria yang ingin mendekatinya harus meminta izin terlebih dahulu pada kakak lelakinya, yang sangat protektif padanya dalam memilih pasangan.

Jihya melepaskan pelukannya. “Tapi aku tak ingin ada kisseu disini (nunjuk bibirnya) sebelum kita menikah. Oppa setuju?” Siwon terkejut mendengar itu. Tapi bukan mendengar larangan berciuman melainkan panggilan ‘Oppa’ padanya. Ia tak menyangka akan secepat ini.

“Tentu saja Oppa setuju. Itu akan membuat Oppa tak sabar ingin segera menikahimu.” entah kenapa mereka jadi malu sendiri mendengarnya.

——

Tak jauh dari mereka ada 2 wanita paruh baya yang mengawasi mereka sedari tadi. Memang mereka tidak mendengar apa yang dibicarakan pasangan kekasih baru itu. Tapi mereka tahu dari gerak-gerik mereka bahwa rencana untuk menjodohkan anak mereka berjalan sukses. Bahkan kini kedua tangan 2 ibu itu saling bertautan menandakan mereka sedang bahagia.

“Aku jadi tak sabar ingin segera menikahkan mereka.” ucap Nyonya Han.

“Benar aku ingin secepat mungkin!” timpal Nyonya Choi.

“Tapi aku tak ingin memaksa mereka, biar mereka saja yang menentukan.”

“Ne, kau benar juga.” Nyonya Choi mengangguk setuju.

“Yasudahlah biarkan saja mereka. Ini sudah lewat jam makan siang, sebaiknya kita makan duluan saja. Jika mereka lapar mereka pasti akan mencarinya sendiri.” ajak Nyonya Han

“Ne, kajja kita makan. Aku sudah lapar karena mengawasi mereka.” balas Nyonya Choi sambil mengusap perutnya.

Dan mereka akhirnya meninggalkan 2 sejoli yang lagi kasmaran itu, ke meja makan untuk mengisi perut mereka yang kelaparan.

FIN!

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s