The Teen Bride Part 5 (ENDING)

image

Author : Blue Rose Spring

Title : The Teen Bride Part 5 (Ending)

Genre : Marriage live, Romance

Length : Series

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung

“Ak–aku…”

Donghae menunggu dengan degup jantung yang tidak terkendali.

Apa yang akan dikatakan istrinya?

Donghae berharap istrinya itu tidak menjawab seperti apa yang ada di kepalanya.

Yoo Kyung menarik nafas dalam dengan mata terpejam. Setelah yakin akan jawabannya, wanita itu membuka matanya kembali.

“Nde. Aku memang berpikir begitu,”

Donghae melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi meremas kedua jemari Yoo Kyung.
Tatapannya nanar. Ia tidak percaya dengan pendengarannya.

Pria itu berdiri dari duduknya, mundur satu langkah. Memejamkan matanya rapat. Nafasnya tidak beraturan.

Yang ada di kepalanya hanya satu.

Wanitanya akan pergi dari sisinya.
Dari hidupnya.

Apa ia bisa menjalani hari-hari selanjutnya tanpa Yoo Kyung di sisinya?
Tanpa wanita itu?

Apa ia bisa?

Donghae meneteskan airmatanya berbarengan dengan ia mengerjapkan mata.

Yoo Kyung bisa melihatnya dari tempat ia duduk. Ia melihat pria itu menangis karena takut akan kehilangan dirinya.

“Oppa,” lirih Yoo Kyung dengan suara serak. Wanita itu pun menahan tangisnya sedari tadi.
Melihat Donghae menangis sungguh sesak.

Ia harus mengatakan yang sejujurnya sebelum Donghae salah sangka.

Donghae tidak menjawab. Pria itu menundukan kepalanya ketika tangisnya semakin menjadi.

Yoo Kyung menghampiri Donghae dan segera memeluk tubuh Donghae yang bergetar.

“Mianhae Oppa, jeongmal mianhae.”

Donghae melepaskan pelukannya tidak menatap Yoo Kyung.
Ia membalikan tubuhnya, memunggungi Yoo Kyung.

“Aku tahu kenapa kau berpikir seperti itu, aku mengerti.” Donghae menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya lagi.
“Aku– akan melepasmu. Aku tidak akan mencegahmu. Karena pada dasarnya kau memang membenciku.”

Yoo Kyung menggeleng dengan keras meski Donghae tidak melihatnya. Ia ingin bicara, menyangkal kalimat suaminya. Tapi, bibirnya kelu.

Donghae berjalan ke arah lemari pakaian, membuka kedua pintu itu lebar.
Ia ulurkan tangan kanannya untuk mengambil koper yang ada di atas lemari, koper biru, miliknya.

Dengan tangan gemetar Donghae mulai memasukan baju-bajunya ke dalam koper.

Yoo Kyung yang melihatnya melebarkan mata bulatnya.
Tidak.
Donghae tidak boleh pergi!

“Oppa! Apa yang kau lakukan?!” Yoo Kyung menarik tangan Donghae yang sedang memasukan baju-bajunya kedalam koper.

“Tentu saja membereskan baju-bajuku. Aku cukup tahu diri sebelum kau menyuruhku pergi.”

Donghae kembali melanjutkan kegiatannya, memasukan baju. Kali ini lebih cepat, tidak perduli baju-bajunya itu tidak tertata rapi.

Yoo Kyung mengepalkan kedua tangannya.

Plak!

Panas.
Pipi kiri Donghae terasa terbakar dan perih. Tapi itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.

“Kau memang bodoh! Bodoh!”

Yoo Kyung memukuli dada Donghae dengan brutal. Airmatanya terus mengalir. Sakit.
Rasa itu semakin menyesakan uluhati ketika melihat Yoo Kyung luruh ke lantai.

“Kenapa kau begitu bodoh huh?! Kenapa kau hanya mengambil kesimpulanmu tanpa mendengar penjelasanku lebih dulu? Kenapa?!”

Yoo Kyung menangis sesegukan dekat kaki Donghae yang berdiri dengan diam.

“Aku– memang berpikir seperti itu. Tapi itu hanya sesaat. Aku kembali berpikir, apa aku bisa kembali seperti dulu sebelum kita menikah, setelah apa yang terjadi dengan kita beberapa bulan ini? Apa aku bisa membencimu lagi setelah kau mengambil hatiku? Apa aku bisa tertawa lagi setelah berpisah denganmu? Aku memikirkan semuanya. Aku– memang sudah tahu tentang ‘kecelakaan’ yang ternyata rekayasa dari orang tua kita. Saat itu juga aku merasa bodoh karena tertipu oleh kedua orang tuaku sendiri.”

Donghae diam, tidak berniat menyela kalimat Yoo Kyung.

“Awalnya aku berpikir, bahwa menikah denganmu adalah suatu bencana terbesar dalam hidupku. Tapi aku salah. Setelah beberapa bulan ini kita bersama, aku merasakan perasaan lain. Rasa nyaman saat kau di dekatku dan mendekapku.
Rasa yang lain dari yang pernah aku rasakan untuk Jong Woon. Ini tidak sama.
Meskipun kau cemburuan, posesif dan manja tapi aku– aku mencintaimu Oppa.”

Yoo Kyung menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut agar suara tangisnya teredam.

“Aku tidak ingin kau pergi. Tidak. Kalau kau pergi, bagaimana denganku? Aku tidak tahu apa aku masih bisa tersenyum lagi setelah kau pergi. Aku tidak tahu.” Isaknya parau.

Donghae merasa bodoh sekarang.

Lihat, wanitanya sampai menangis begini karena takut kehilangan dirinya. Sama dengannya.
Mereka sama-sama tidak ingin kehilangan.

“Yoo,” Donghae menyentuh kedua bahu Yoo Kyung. Wanita itu mendongakan wajah sembabnya.

“Apa yang harus aku lakukan agar Oppa percaya? Apa, Oppa? Katakan.”

Donghae menggelengkan kepalanya, ia tidak perlu apa-apa lagi untuk mempercayai istrinya itu. Dengan ini sudah cukup dan ia percaya.

“Tidak ada,”

“Apa Oppa percaya padaku?”

Donghae mengangguk.

“Oppa tidak akan meninggalkanku?”

Donghae kembali menganggukan kepalanya.

“Op–”

Kalimat Yoo Kyung terhenti ketika Donghae membungkam bibirnya dengan ciuman panjang dan menuntut. Begitu menggebu, tidak terkesan lembut seperti yang biasa Donghae lakukan.
Seperti ada sesuatu yang lain dari ciuman Donghae. Frustasi dan marah.

“Opp–a.” Nafas Yoo Kyung terengah. Ia menatap Donghae sayu.

Donghae kembali mendekatkan wajahnya, mengecup kening Yoo Kyung lama sebelum kembali merasakan bibir manis dengan rasa strawberry, rasa kesukaannya. Dan ia akan menyukai rasa itu setiap mengecup bibir istrinya.

Yoo Kyung menggeliat dalam dekapan Donghae ketika jari-jari panjang itu menggelitik punggungnya, memberikan sensasi lain dalam dirinya.

Donghae tersenyum senang melihat Yoo Kyung yang memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Menahan agar tidak mengeluarkan desahan.

Pertahanan Yoo Kyung gagal ketika salah satu jemari Donghae menggoda pusat tubuhnya. Seketika itu juga rasa itu datang dan tanpa bisa dicegah lagi bibirnya mengeluarkan jeritan yang amat Donghae sukai.

“Aaakkhh!!”

Yoo Kyung terengah, dadanya naik turun. Wanita itu menatap Donghae tajam yang menyeringai menang.

Senyum itu berbeda.
Tidak seperti senyum mesum yang biasa Donghae tunjukkan.
Ini lain. Ia tidak bisa menjelaskannya.

Donghae mengecup ujung hidung wanitanya. Memandang dengan tatapan menggoda.

“Boleh kan Yoo?”

Wanita itu tidak menjawab, masih sibuk meresapi rasa yang baru saja ia rasakan.
Donghae tahu bahwa istrinya itu tidak bisa menolak.

“Kalaupun aku menolak, kau juga akan tetap melakukannya.” Lirih wanita itu dengan mata terpejam karena Donghae sudah sibuk dengan bagian depan tubuhnya yang sudah tidak tertutup apapun.
Ia bahkan tidak sadar bahwa kini mereka telah berbaring di lantai, sehingga ia bisa merasakan dinginnya ubin yang menyentuh punggung telanjangnya.

“Oppa,” Yoo Kyung menahan kepala Donghae dengan kedua tangan.

“Bisakah kita lakukan di ranjang saja? Di sini dingin.” Cicit Yoo Kyung dengan wajah memerah.

Donghae seakan baru sadar bahwa mereka masih di dekat lemari pakaian dengan Yoo Kyung yang berbaring di lantai.

Ya ampun!

“Arraseo,” Donghae segera menggendong Yoo Kyung menuju ranjang, membaringkan wanita itu dengan hati-hati.

“Nanti kau harus menggantinya lagi, Yeobo-ya.”

Yoo Kyung memukul dada Donghae karena pria itu terkekeh. “Oppa harus membantuku. Harus, tidak boleh menolak.”

“Arraseo. Ngomong-ngomong, sampai di mana tadi kita eoh? Aku lupa,” Donghae tampak berpikir. Ia ingin menggoda Yoo Kyung

“Oppa!!” Yoo Kyung menutup wajahnya karena Donghae justru menggodanya.

Pria itu tertawa mendengar nada merajuk Yoo Kyung.

“Kau semakin manis saja eoh..” Donghae kembali mendekatkan wajahnya sehingga ia bisa merasakan sapuan nafas Yoo Kyung yang menerpa wajahnya.

Kali ini mereka memulainya dengan lebih lembut, tidak terburu-buru. Meresapi setiap sentuhan yang diberikan pasangannya, saling menggoda.

Dalam keremangan cahaya yang minim dan udara dingin musim semi, tidak menyurutkan kegiatan kedua orang itu.

Yoo Kyung menatap sayu Donghae yang berada di atas tubuhnya. Membuat tubuh mereka menempel tanpa penghalang apapun.
Dan ketika Donghae berhasil membuat mereka kembali menyatu, Yoo Kyung merasa dirinya begitu penuh dan sesak. Tapi ia menyukainya.
Apalagi ketika Donghae menghujam dengan keras pusat tubuhnya, itu membuat rasa itu datang lagi. Rasa yang membuat kepalanya pening dan pandangannya berkunang-kunang.

“Oppa… Saranghanika.”

“Nado,” Donghae mengecup bibir Yoo Kyung kemudian tersenyum menatap wajah istrinya yang penuh dengan peluh.

***The Teen Bride***

“Oppa,” Yoo Kyung mendongakan wajahnya agar bisa menatap wajah tampan suaminya.

Pria itu membuka matanya yang sempat terpejam. Ia mengantuk setelah ± 3 jam bergelung dibalik selimut membuat wanitanya itu terus menyebut namanya.

“Hm,” Donghae menundukan wajahnya sedikit, menjangkau bibir ranum dengan rasa strawberry.

“Aku lapar,” Yoo Kyung menunjukkan senyum polos.

Donghae mencapit hidung Yoo Kyung gemas kemudian tertawa.
Sedari tadi mereka sibuk saling memuaskan satu sama lain, sehingga lupa bahwa mereka belum mengisi perut.
Jangan ditiru.

“YA!!”

Yoo Kyung menepis tangan Donghae yang mencapit hidungnya.

“Mianhae. Jam berapa sekarang hum?”

“Mungkin sudah larut malam,”

Donghae meraba meja kecil tempat lampu duduk, mencari panel lampu agar sedikit ada pencahayaan.
Di kamar mereka saat ini benar-benar gelap.

Setelah lampu menyala Donghae mengambil ponsel Yoo Kyung.

“10.40 KST, kau benar-benar lapar hum?” Donghae kembali menatap istrinya yang sudah bangun dan mengenakan hodie hijau miliknya. Baju itu tampak kebesaran di tubuh Yoo Kyung yang kurus.

Wanita itu meraih penjepit rambut kemudian menggelung rambutnya.

Yoo Kyung berbalik, “Nde. Aku tadi siang tidak makan. Aku lapar.”

Donghae melonjak kaget mendengar penuturan sang istri.

“YA!! Neo pabonika huh? Apa kau lupa, kalau kau punya penyakit asam lambung?!”

Yoo Kyung memajukan bibirnya beberapa senti sehingga membentuk bulatan kecil pada bibirnya.

Donghae segera meloncat bangun, berlari ke arah lemari dan mengambil kaos tanpa lengan yang kebetulan ada di atas koper.

“Kajja kita keluar, aku buatkan sesuatu. Kau harus makan. Aku tidak mau nanti Eommonim mengira aku tidak memberimu makan,”

Yoo Kyung hanya menurut, mengikuti langkah Donghae yang menyeret tangan kirinya, menuju dapur.

“Kau duduk saja, biar aku yang masak. Nasi goreng saja yang cepat.” Ucap Donghae seperti perintah.

Yoo Kyung menurut ketika Donghae menarik satu kursi untuk ia duduk.

Donghae mulai membuka lemari pendingin, mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng.

“Oppa, aku tidak makan cumi.” Yoo Kyung menunjuk cumi-cumi yang ada di tangan Donghae.

Pria itu mengerjap, “Aish.. Mian, aku lupa kau alergi seafood.”
Donghae kembali memasukan cumi-cumi itu ke dalam freezers.

Yoo Kyung hanya memperhatikan Donghae yang sibuk memasak.

“Oppa,”

“Hm?”

“Siapa yang mengajari Oppa memasak?” Yoo Kyung hanya merasa heran, bagaimana Donghae begitu pandai memasak? Setahunya, Donghae tidak pernah tinggal sendiri sejak dulu. Tapi kenapa pria itu bisa memasak?

Donghae menoleh sebentar sebelum kembali melanjutkan kegiatannya memotong ayam menyerupai dadu-dadu kecil.

“Tidak ada, belajar sendiri.”

“Jincha?”

“Nde. Kau tahu bukan, bahwa Appa dan Eomma sama-sama sibuk. Appa di Rumah Sakit sedangkan Eomma di butik. Tentu saja mereka tidak mungkin mengajariku memasak. Aku belajar sendiri, melihat dari buku panduan atau televisi yang menayangkan acara khusus memasak, hanya untuk menghilangkan rasa bosan. Yah, meskipun kadang ada Hyukjae dan Kyuhyun yang sering datang. Kurasa, tidak ada ruginya mencoba belajar memasak.” Urai Donghae yang sibuk dengan acara mengaduk nasi dan bahan-bahan yang sudah ia potong.

Yoo Kyung berjalan menghampiri Donghae, melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu. Menempelkan pipinya di punggung Donghae.

“Gamawo, Oppa,”

“Untuk apa?”

“Karena Oppa sudah bisa memasak, sehingga kalau aku sedang sakit ada Oppa yang merawatku. Dan aku tidak perlu khawatir dengan masakan yang Oppa masak.”

Donghae membalikan badannya, menyerngit tidak mengerti.

“Maksudmu apa Yoo? Aku bingung,”

Yoo Kyung menengadahkan wajahnya, sedikit berjinjit.

Chup!

Sebuah kecupan singkat namun manis ia berikan untuk Donghae.

“Aku hanya merasa bersyukur bisa menikah dengan Oppa. Meskipun kita menikah di usia 19 tahun, aku tidak menyesal. Sama sekali tidak. Aku justru bahagia mempunyai suami yang begitu mengerti akan diriku, meskipun cemburuan tapi aku cinta.” Yoo Kyung tersenyum manis dan tulus.

Donghae merengkuh tubuh kecil itu dalam dekapan hangatnya. Merasakan detak jantung wanita itu yang sama seperti dirinya, berdetak tak terkendali.

“Jeongmal saranghanda, Yoo. Aku akan berusaha untuk merubah sifatku yang satu itu.”

Yoo Kyung tersenyum dalam pelukan Donghae.

“Oppa,”

“Wae?”

“Nasi gorengnya…”

Seketika itu juga Donghae melepaskan pelukan mereka. Pria itu panik kemudian sibuk dengan mengaduk nasi gorengnya yang bisa saja gosong bila istrinya itu tidak menyadarkannya.
Yoo Kyung terkekeh geli melihat suaminya itu kalang kabut.

***The Teen Bride***

“Oppa, tolong buka pintu. Ada tamu!” Seru seorang wanita yang sedang sibuk menata berbagai macam makanan di atas meja makan.

Donghae yang memang ada di ruang tamu, mendekor ruang tamu seperti acara ulang tahun, segera menuju pintu seperti perintah istrinya.

“Annyeong…” Sapa beberapa orang dengan menunjukkan senyum terbaik mereka.

“Nde, nde, masuk saja.” Donghae melengos malas karena teman-temannya itu hanya berbasa-basi saja.

“YA! Kenapa kau langsung pergi begitu saja huh? Tanpa menjawab sapaan kami lebih dulu.” Seru seorang pria bertubuh kurus dengan rambut yang di cat merah maron, Lee Hyukjae. Sepertinya pria satu itu gemar sekali mengganti warna rambut.

Donghae tidak menjawab, ia sibuk dengan menata balon-balon yang akan dijadikan hiasan.

“Lee Donghae!!! Aku bicara padamu bodoh!” Sungut Hyukjae kesal dengan menghampiri pria itu.

“Daripada kau mengoceh yang tidak jelas, lebih baik kau bantu aku eoh?” Sahut Donghae kalem dengan mengacungkan pita kertas.

“Mwoya?!” Jerit Hyukjae keras dan tidak percaya.

Teman-teman yang melihat Hyukjae terlihat begitu kesal justru terkekeh. Jarang-jarang Hyukjae tidak dihiraukan oleh Donghae.

“Hyo, kajja kita bantu Yoo Kyung saja.” Ajak Jae Kyung dengan menarik lengan Sung Hyo.

“Hm, kajja Yuen-ah,”

Ketiga gadis itu segera menuju dapur, membantu wanita yang sedang sibuk itu.

“YA!! Kalian berdua, cepat bantu juga! Jangan hanya diam disitu.”

Hyukjae menunjuk Kyuhyun dan Ryeowook yang hanya mematung melihat Donghae dan Hyukjae yang sedang sibuk.
Kedua pria itu segera menghampiri mereka sebelum Hyukjae mengamuk.

“Yoo, sebenarnya kau memasak begini banyaknya dan menghias rumah sampai begini, ada acara apa huh? Setahuku ulang tahunmu masih beberapa bulan lagi,” Sung Hyo angkat bicara. Gadis satu itu merasa heran dengan Yoo Kyung yang menelponnya untuk datang membantu.

“Sepupu Donghae akan datang hari ini,” Yoo Kyung menjawabnya tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang menghias kue ulang tahun.

“Sepupu, nugu?” Sambung Jae Kyung ingin tahu.

“Lee Min Ji, 16 tahun. Pindahan dari Melbourne, Australia. Untuk sementara akan tinggal di sini.”

“Oh,” Jae Kyung dan Sung Hyo mendesah bersamaan.

“YA!! Cho Yuen!! Berhenti memakan buah cherry itu! Itu untuk Min Ji.” Seru Yoo Kyung tiba-tiba ketika melihat Yuen sibuk dengan memindahkan buah-buah cherry ke dalam mulutnya.

“Waeyo? Kau tahu bukan aku sangat suka buah satu ini?” Yuen menatap polos ke arah Yoo Kyung yang terlihat kesal.

“Arraseo. Tapi apa kau tahu, mencari buah cherry itu sangat sulit Yuen-ah. Aku dan Donghae sampai berkeliling Supermarket hanya mencari buah cherry, karena dimana-mana sudah habis.” Yoo Kyung menggeram tertahan.

Yuen menatap Yoo Kyung dengan tatapan bersalah.

“Mianhaeyo,” lirih gadis itu dengan menunduk.

“Sudahlah,” Yoo Kyung menatap miris buah cherry yang tinggal separuh itu.
Nyonya Lee bilang, Min Ji itu sangat menyukai buah cherry. Maka itu ia membelinya hanya untuk menyambut kedatangan gadis itu, tapi sekarang…, buah itu hanya tinggal separuh, tidak ada waktu lagi untuk membelinya.

Jae Kyung mengelus bahu Yuen yang terlihat begitu menyesal. Ia amat menyukai buah cherry, sehingga bila melihat buah itu ia akan begitu berbinar.

***The Teen Bride***

Ruangan yang cukup luas itu kini begitu penuh sesak dengan orang-orang yang ada di sana. Mereka semua terlihat begitu ceria, ada yang bernyanyi, tertawa lepas, dan menari. Seperti Hyukjae yang kini sedang menunjukkan kebolehan menari bridgedance, menjadi tontonan semua orang.
Tapi tidak dengan satu orang yang hanya duduk dengan diam, tidak terlihat menikmati acara itu. Hanya melihat dari tempat duduknya di kursi makan.

“Oppa,” Yoo Kyung duduk di samping pria itu, Donghae.

“Ye?”

“Kenapa? Apa sakit?” Yoo Kyung menempelkan punggung tangannya di kening Donghae.

Pria itu menggeleng, “Anni.”

“Lalu, kenapa?”

Donghae menyandarkan kepalanya di bahu Yoo Kyung.
Wanita itu merasa heran dengan tingkah suaminya hari ini. Aneh. Tidak biasanya Donghae begitu pendiam begini.

“Aigoo… Eonni, Oppa, kalian ini apa tidak lihat masih ada kami di sini, kenapa malah tebar kemesraan di hadapan kami huh?”

Seorang gadis berdiri di hadapan Donghae dan Yoo Kyung dengan bertolak pinggang. Gadis remaja itu merengut kesal melihat pasangan muda itu.

Donghae tampak tidak perduli, pria itu justru sengaja memeluk Yoo Kyung dihadapan Min Ji, menatap gadis itu dengan tenang.

“Waeyo? Kau iri huh?”

“Ck, tentu saja tidak. Aku belum ingin menikah muda seperti kalian. Aku masih ingin sekolah, mengejar cita-citaku. Menjadi seorang Sutradara film, itu impianku.” Min Ji mengucapkannya dengan angkuh.

“Dasar anak kecil,” desis Donghae.

“Oppa! Min Ji sudah dewasa. 16 tahun itu sudah dewasa!”

“16 tahun itu disebut REMAJA, Min Ji sayang. Kalau kau sudah dapat kartu penduduk baru bisa disebut DEWASA.” Tandas Donghae dengan penuh penekanan.

“Oppa.” Tegur Yoo Kyung dengan mencubit kecil pinggang Donghae. Wanita itu khawatir bila nanti Min Ji akan berteriak-teriak, tentu akan mengganggu tetangga mereka nanti.

“Min Ji-ya, jangan dihiraukan Oppamu itu ne? Kajja kita ke tempat Kyuhyun Oppa saja, kau bisa main game?” Jae Kyung tiba-tiba datang dan segera membawa pergi gadis itu. Kebetulan ia lewat ketika akan menuju kamar mandi. Ia melihat Min Ji berteriak kesal, jadi lebih baik ia membawanya pergi dari area Donghae yang sepertinya lagi dalam mood yang buruk.

“Game? Min Ji hanya bisa main angry bird saja Eonni,” lirih gadis itu dengan mengikuti Jae Kyung menuju ruang tamu, dimana teman-teman juga orang tua ada di sana. Sedangkan Donghae dan Yoo Kyung ada di dapur.

Yoo Kyung segera mengalihkan tatapannya dari Jae Kyung dan Min Ji yang berlalu pergi kearah suaminya.

“Wae?” Donghae balik memandang istrinya karena wanita itu terus menatapnya.

“Oppa hari ini aneh.”

“Aneh bagaimana? Aku, biasa saja.”

“Itu menurut Oppa, tapi tidak di penglihatanku juga yang lain. Kau seperti perempuan yang sedang kedatangan tamu, begitu sensitif.”

Donghae tidak menyahut, pria itu diam dan menarik Yoo Kyung lebih dekat. Menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu lagi.

“Oppa!” Protes Yoo Kyung ketika Donghae mengecup lehernya, bahkan pria itu mengulumnya sehingga menimbulkan jejak merah keunguan. Menambah jumlah koleksi pria itu yang masih membekas di sana, yang ia lakukan kemarin malam.

Donghae terkekeh, ia senang menggoda Yoo Kyung.

“Arraso, nae Yeobo-ya.”

Yoo Kyung mendecak, “Ya Tuhan, dosa apa aku selama ini sehingga kau memberiku suami yang begitu manja, cengeng, dan yang lebih parahnya adalah mesum.”

Donghae mencibir mendengar gumaman istrinya.

“Biar begini juga kau cinta mati padaku, Yoo.”

Yoo Kyung kembali menghela nafas beratnya, “Dan sayangnya kau benar, ck.”

Donghae tersenyum puas begitu mendengar istrinya itu mengakui kalimat yang tadi diucapkannya. Ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Yoo Kyung yang duduk di sampingnya. Tidak perduli dengan keadaan rumah yang masih ramai oleh orang-orang yang bergembira ria.

Baginya, ada Yoo Kyung disisinya sudah cukup. Ia tidak butuh yang lain. Karena bagi Donghae, Yoo Kyung adalah segalanya. Sumber kehidupannya selama ia masih bisa melihat dunia, ia tidak akan membiarkan wanita itu pergi meskipun Yoo Kyung yang memintanya. Tidak, dan tidak akan pernah.

End!!!

13 comments

  1. W.o.w happy end uga nie d’akhir part sempet berpikir kalo Yookyung bakalan pergi eeeeh ternyata nggak. Like this😉

  2. Kaget tadi, aku kira Yoo Kyung benar-benar minta cerai. Untung aja happy ending. Huffhhh..

  3. Happy end ye ye ye,,,
    Kkk
    Curiga,, DongHae lemas n bad mood mngkin YooKyung hamil???? Hahaha
    Nebak aja
    Good job thor ,,

  4. donghae mah bukan kayak orang lagi pms tapi dia seperti orang hamil yang lagi ngidam tingkat sensitifnya tinggi
    iya kan ya yoo kyung lagi hamil pastinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s