Mianhae, I Love You

image

Author : Bluerose8692

Title : Mianhae, I Love You

Ganre : Married life

Lenght : Oneshot

Rate : PG17

Cast : Park Jung Soo, Park Rae Ki

PS : Pernah aku post di acc pribadi milikku juga di salah satu page.

“Boleh saja kau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.”

Pagi masih belum sempurna. Kabut tebal melengkapi musim dingin tahun ini. Remang lampu jalanan sedikit memberi sentuhan hangat dalam hati seorang gadis berparas cantik, yang masih setia memandang gelapnya malam melalui kaca jendela yang sengaja ia buka.
Ia sedikit merapatkan jaket tipis yang melapisi piyama tidurnya, ketika angin malam sedikit menembus pori-pori kulitnya.

“Masih jam 02.00.” gumamnya lirih.

Tidak biasanya ia terbangun di pagi buta seperti ini. Rae Ki, gadis yang berdiri di depan jendela itu entah kenapa merasa tidak enak tidur. Hatinya gelisah, dan ia tidak mengerti apa sebabnya.
Dua setengah tahun hidup berdua dengan Park Jung Soo, pria yang sekarang berstatus sebagai suami, membuatnya sedikit merasa diperhatikan.
Meskipun ia tidak sedikitpun bersikap layaknya seorang istri, tapi suaminya tetap dan selalu perhatian padanya.

Ia dan Jong Soo menikah karena terpaksa. Menikah karena permintaan orang tua, dijodohkan tepatnya. Pernikahan mereka bahkan hanya dipersiapkan dalam kurun waktu satu bulan.

Awalnya ia menolak untuk menikah sehingga membuat sang Ayah marah, karena sama-sama mempunyai sifat keras membuat keduanya tidak ada yang mau mengalah. Sehingga berakibat pada tekanan darah Ayahnya meningkat dan berpengaruh terhadap jantungnya yang memang sedikit bermasalah, mengakibatkan serangan jantung ringan dan membuatnya harus dirawat di Rumah Sakit selama beberapa hari.
Meskipun ringan, tapi cukup fatal apabila fikirannya tidak tenang, gelisah. Itu akan membuatnya semakin droup.
Sehingga dokter menyarankan untuk memenuhi keinginannya.
Dan dengan sangat terpaksa Rae Ki menerima pernikahan itu, membuatnya mempunyai nama baru di depan namanya, menggantikan marga yang melekat sejak ia lahir sampai umur 24 tahun, Song Rae Ki dan kini menjadi Park Rae Ki . Mengikuti marga pria yang menjadi suaminya sekarang, Park Jung Soo.

Rae Ki berjalan meninggalkan jendela dengan membiarkannya tetap terbuka.
Ia akan kembali melanjutkan menyelami alam mimpi ketika teringat kalimat suaminya semalam.

“Rae-ya, aku akan tidur lebih dulu. Maaf, tidak bisa menemanimu menonton tv.” Ucap Jung Soo setelah makan malam usai.

“Apa kau akan langsung tidur?” Pertanyaan Rae Ki menghentikan langkah Jung Soo yang akan menuju lantai dua, tempat di mana kamarnya berada. Meskipun mereka telah menikah mereka tidak satu kamar, karena Jung Soo tahu bahwa Rae Ki belum menerima kehadirannya.

Jung Soo berbalik dan sedikit tersenyum. “Nde, aku merasa sedikit pusing. Jadi aku akan tidur lebih awal.”

“Apa kau sakit? Mau ke Dokter?” Entah kenapa tiba-tiba ia merasa cemas begitu mendengar ‘aku merasa sedikit pusing’. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak.

“Anniya, nan gwaenchana.” Jung Soo menjawabnya tetap dengan senyum manis, meskipun ia tahu bahwa gadis yang sedang menatapnya tidak akan membalas senyumannya. Bahkan selalu bersikap acuh tak acuh selama mereka menikah dua setengah tahun lamanya. Meskipun begitu, ia tetap mencoba untuk menjadi suami yang baik bagi gadis yang duduk di kursi makan itu.

“Jeongmal?”

Jung Soo hanya mengangguk. “Jalja.”

Rae Ki menatap kepergian suaminya sampai pria itu hilang dari penglihatannya. Ia merasa sedikit aneh akhir-akhir ini, ia akan menunggu Jung Soo pulang kerja apabila suaminya itu pulang lebih terlambat dari dirinya. Karena memang mereka bekerja di tempat yang berbeda, Rae Ki di kantor Ayahnya dan Jung Soo di kantornya sendiri.

Rae Ki menyibakan selimut yang tadinya menutupi tubuhnya, ia sedikit khawatir dengan suaminya maka ia memutuskan untuk memastikan bahwa suaminya baik-baik saja.

Rae Ki melangkahkan kakinya menuju kamar Jung Soo, yang berada tepat di samping kamarnya. Ia mengetuk pintu dengan perlahan. Hening tak ada sahutan.
“Aish, pabo. Tentu saja dia masih tertidur. Lagi pula, kalau nanti dia membuka pintunya apa yang akan aku katakan? Paboya!” gumamnya pelan.
Maka ia pun beranjak meninggalkan kamar Jung Soo kemudian kembali ke kamarnya.

Berlalu sepuluh menit, perasaan Rae Ki masih tidak tenang, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia kembali menuju kamar Jung Soo, kali ini tanpa mengetuk pintu, gadis itu menerobos masuk.

“Jung Soo-ssi…!!!” Rae Ki memekik begitu mendapati Jung Soo yang tergeletak di lantai beralaskan karpet berwarna coklat samping tempat tidur. Ia langsung menghambur memeluk tubuh Jung Soo yang tidak sadarkan diri.

“Jung Soo-ssi… Irreonna. Ya! Jangan bercanda, ini tidak lucu! Buka matamu!”

Dalam kepanikan yang luar biasa Rae Ki linglung dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia mengguncang-guncangkan tubuh suaminya disela-sela isaknya yang tak beraturan. Sampai kesadaran menghinggapi dirinya dan secepat kilat ia meraih telpon untuk menghubungi Rumah Sakit.

Dingin semakin pekat membalut pagi yang mengejutkan itu. Dan hening menyisakan tanya setelah mobil ambulance datang membawa Jung Soo menuju Rumah Sakit.

***

Rae Ki terus berjalan ke sana kemari dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat dalam kepalanya. Ia merasa takut, cemas, khawatir, semuanya berbaur menjadi satu.

Pintu UGD berderit, menandakan pintu yang di buka, sontak gadis itu menghentikan kegiatannya yang sedari tadi berjalan ke sana kemari. Ia bergegas menghampiri Dokter yang mengobservasi (melakukan pemeriksaan) terhadap suaminya.

“Bagaimana keadaan suami saya Uisa-nim. Dia baik-baik saja bukan? Tidak ada penyakit apapun kan Uisa-nim? Apa saya boleh sudah boleh menjenguknya?” Rae Ki memberondong Dokter yang menangani Donghae dengan berbagai pertanyaan.

“Tenang Nyonya.” Ucap Dokter yang bernametag Jung Daesung. “Saya belum bisa menyimpulkan apa-apa karena harus menunggu hasil dari lab lebih dulu. Temuilah suami Anda, untuk saat ini masih tertidur, tapi mungkin sebentar lagi akan sadar.”

“Nde, ghamsa hamnida Uisa-nim.”

Sepeninggal Dokter Jung, Rae Ki segera menjenguk Jung Soo.
Ia membuka pintu dengan pelan, agar tidak menimbulkan suara berisik kemudian berjalan ke sisi lalu duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.

“Kau.., benar-benar membuatku cemas Jung Soo-ssi.. Kalau kau sakit kenapa tidak bilang padaku? Kau memikirkan apa?” Telaga bening itu kembali menetes, mengeluarkan cairannya dan membasahi wajahnya.

“Buka matamu Jung Soo-ssi.. Aku- ingin meminta maaf padamu.” Isaknya dengan menggenggam tangan Jong Soo.

Ia ingin mengatakan semuanya dan meminta maaf atas segala sikapnya selama menjadi istri yang mungkin kurang atau bahkan tidak pantas disebut istri apabila mengingat kebelakang, masa di awal-awal mereka menikah dulu. Ia ingin memperbaiki segalanya dan memulainya dari awal lagi.

Melihat Jung Soo yang terbaring di Rumah Sakit membuatnya merasa takut. Perasaan itu tiba-tiba saja ada dalam dirinya, takut Jung Soo akan pergi dari sisinya. Sungguh ia merasa takut akan hal itu. Meskipun selama ini ia selalu bersikap acuh tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Jung Soo telah memasuki hatinya secara perlahan.

Sikapnya yang baik dan perhatian, tidak pernah menuntut apapun meski mereka telah menikah. Donghae selalu memperlakukannya dengan baik, bahkan sangat baik terlebih dihadapan kedua orang tua mereka apabila mereka sedang berkunjung ke rumah.

Merasa sedikit terganggu dengan isakan seseorang membuat Jung Soo menggerakan kelopak matanya perlahan, hingga terbuka sepenuhnya. Kini di samping tempat tidurnya duduk seorang gadis yang masih mengenakan piyama tidur sedang menggenggam tanganya, menangis dengan menunduk.

Ia hapal siapa gadis itu.

“Rae-ya…” Panggilnya lirih seperti bisikan.

Rae Ki yang merasakan gerakan halus yang berasal dari tangan Jung Soo segera mendongakan kepalanya, dan mendapati pria itu yang sedang menatapnya.

“Jung Soo-ssi.. Kau sudah sadar?” Tanyanya yang di jawab anggukan oleh Jung Soo.

“Tunggu sebentar, aku panggilkan Dokter untuk memeriksamu.”
Ketika akan beranjak dari duduknya, Jung Soo menahan pergelangan tangannya, membuatnya kembali menatap pria itu.

“Tidak perlu. Kenapa aku ada di sini?” Ucap Jung Soo masih dengan suara lirih.

Rae Ki kembali menangis dan langsung memeluk tubuh Jung Soo yang masih berbaring, membuatnya sedikit terkejut. Bagaimana tidak terkejut, karena selama mereka menikah belum pernah sekalipun ia di ijinkan untuk memeluk istrinya. Namun kini justru gadis ini yang memeluknya lebih dulu. Sungguh di luar dugaan dan tentu saja ia merasa senang.

“Waeyo?” Ujar Jung Soo setelah menguasai diri dari keterkejutannya.

“Jangan tinggalkan aku. Aku takut. Sangat takut.” Isak Rae Ki dengan masih memeluk Jung Soo erat.

Diam-diam pria itu tersenyum begitu mengerti jika Rae Ki sangat takut kehilangan dirinya.

“Bodoh! Tentu saja tidak akan. Meskipun kau mengusirku sekalipun aku tidak akan pernah pergi dari sisimu. Tidak akan pernah Rae-ya!” Ucapnya tegas dan sungguh-sungguh.

“Uljimayo. Kau jelek sekali kalau menangis.” Kalimat Jung Soo sontak membuat Rae Ki yang tadinya masih memeluknya kini menatapnya tajam.

“Apa? Memang benar kau jelek!” lanjutnya lagi ketika melihat Rae Ki akan membuka mulut untuk bicara.

“Lihat mata pandamu itu? Jelek sekali. Dan lagi kau masih mengenakan piyama Hello Kitty? Aigo.. Bagaimana kalau para karyawan kantor tahu bahwa bos mereka ini masih menggilai Hello Kitty ya? Pasti mereka akan tertawa.” Cibir Jung Soo dengan santai tanpa melihat perubahan ekspresi istrinya saat ini.

Rae Ki menundukan kepala semakin dalam guna menyembunyikan air mata yang terus mengalir.

“Rae-ya.” Jung Soo yang melihat istrinya menundukan kepala serta bahu yang bergetar merasa bersalah.
“Rae Ki-ya, mianhae. Aku hanya bercanda sungguh. Uljimayo.”

“Kau pikir aku begini karena siapa huh?! Kau pingsan sehingga membuatku cemas. Yang ada ada dipikiranku aku harus segera membawamu ke Rumah Sakit secepatnya, tidak peduli dengan keadaanku yang bagaimana. Apa kau puas membuatku seperti ini?” Cecar Rae Ki dengan menatap lurus mata suaminya.

Jung Soo bisa melihat dari mata coklat istrinya bahwa ia begitu mengkhawatirkannya. “Mianhae, sudah membuatmu repot dan terima kasih sudah mencemaskanku.” Ucapnya tulus.

“Jangan pernah lagi membuatku cemas Jong Soo-ssi. Aku mohon.” Pelas Rae Ki dengan menggenggam tangan Jong Soo.

“Kau berkata seperti itu apa artinya kau sudah menerimaku?” Jung Soo bertanya dengan menatap Rae Ki disertai senyum.

Pertanyaan Jung Soo yang seperti itu membuat Rae Ki langsung menundukan kepala, pipinya langsung bersemu merah.
Tapi ia menganggukan kepalanya, mengiyakan pertanyaannya.

“Jeongmal?” Rae Ki hanya mengangguk lagi.

“Ya! Jawab aku.” Rajuk Jung Soo dengan menyentuh bahu istrinya, karena Rae Ki hanya menunduk.

“Nde..” Lirih gadis itu.

“Jeongmal? Kau benar-benar menerimaku sekarang?”

“Ya.”

“Hwaa!! Aku bahagia!” Jung Soo dengan sigap memeluk Rae Ki erat, membuat istrinya sesak.

” Eh tunggu dulu..” selanya dengan melepaskan pelukannya.

“Waeyo?” Tanya Rae Ki bingung karena Jung Soo terus menatapnya.

“Apa boleh kalau…” Jung Soo menghentikan kalimatnya membuat Rae Ki penasaran.

“Mwo?”

Jung Soo tidak menjawab melainkan tersenyum dengan menunjuk bibirnya sendiri. Rae Ki yang mengerti maksud Jung Soo melebarkan matanya kemudian menggeleng keras, membuat senyum pria itu sirna seketika.

“Oh. Arraseo, mianhamnida.” Ujarnya lirih dengan menunduk, membuat Rae Ki serba salah.

Sebenarnya ia bukannya menolak hanya saja ia belum siap dan lagi Jung Soo sedang sakit.
Tapi melihat Jung Soo sedih seperti itu membuatnya merasa bersalah.

“Jung Soo-ssi..” Panggilnya pelan dengan. mengangkat dagu suaminya agar menatapnya.
Terlihat dari sorot mata Jung Soo bahwa ia kecewa. Rae Ki tersenyum. “Mianhae.” Ucapnya tulus.

Jung Soo membalas senyumanya.

“Mianhae, i love you!” Setelah mengucapkan sebaris kalimat yang membuat Jung Soo tuli mendadak kini Rae Ki menempelkan bibirnya tepat di bibirnya.

Jung Soo terdiam dengan mata membulat sempurna.

Rae Ki hanya menempelkan bibirnya tidak melakukan apapun sampai ketika ia akan menarik kepalanya tapi langsung ditahan oleh Jung Soo, lalu bibirnya mulai bergerak melumat bibir Rae Ki membuat sang pemiliknya seperti terkena sengatan listrik dalam tegangan kecil.

“Gomawo.” Jung Soo mengucapkannya dengan senyum manis dan tangan yang mengusap sudut bibirnya yang basah.
Rae Ki langsung tertunduk malu membuatnya terkekeh.

“Kau malu huh? Aku suka melihatmu tersipu seperti itu. Johae!” Goda Jung Soo yang semakin membuat rona merah jambu dipipi Rae Ki semakin bertambah.

“Siapa yang malu huh?” Sangkal Rae Ki sebal karena Jung Soo semakin menggodanya.

***

Musim semi telah merampas habis bunga sakura yang sempat mewarnai indahnya Februari. Menggantikan dengan kemukus hijau muda di pucuk-pucuk rantingnya. Seperti kehidupan yang kadang terlihat kejam ketika jiwa-jiwa kerdil menanggapinya.
Diambang sebuah pagi, sosok yang nampak jauh lebih segar dengan balutan kimono berwarna putih keluar dari balik pintu kamar mandi yang ada di kamar itu.
Dilihat dari mimik wajah sepertinya gadis itu sedang bahagia. Terlihat dari bibirnya yang terus menampakan senyum simetrisnya, menambah kecantikan dalam diri gadis itu.

Sejak kepulangan Jong Soo dari Rumah Sakit beberapa minggu lalu, keadaan rumah tangganya mulai membaik. Ia sering tersenyum dan mulai belajar menjadi istri yang baik untuk Jung Soo.

Rae Ki berjalan ke arah tempat tidur, tepatnya kearah pria yang masih menyelami alam mimpinya. Dan pria itu adalah suaminya, Park Jung Soo.

“Jung Soo-ya, irreonna, palli.” Rae Ki duduk disisi ranjang, tepat samping suaminya yang masih setia di balik selimut yang membungkus tubuhnya.

Jung Soo hanya menggeliat tanpa membuka mata sehingga membuat Rae Ki mendengus sebal.
Akhirnya ia mencondongkan sedikit tubuhnya.

Chup!

Sebuah kecupan ia berikan untuk suami tercinta.
“Joheun achim-e, yeobo-ya.” Sapa Jung Soo dengan suara serak khas bangun tidur.

Rae Ki mencebikkan bibirnya namun kemudian tersenyum. “Pagi, cepat bangun.” Ujarnya dengan menarik halus pergelangan tangan Jung Soo.

“Chagi-ya, aku lapar.” Rajuk Jung Soo dengan meletakan tangannya yang bebas ke atas perutnya membuat Rae Ki terkekeh. Raut Jung Soo sangat mirip sekali dengan anak umur 5 tahun yang merengek ketika lapar.

“Kalau begitu cepat bangun dan akan aku buatkan sarapan. Kau ingin makan apa hari ini?”
Rae Ki beranjak dari duduknya namun segera ditahan Jung Soo.

“Wae? Bukankah kau bilang lapar? Aku akan siapkan sarapan untukmu sekarang.”

“Aku bukan lapar ingin makan.”

“Lalu?”

Jung Soo segera menarik tangan Rae Ki yang mengakibatkan gadis itu terjatuh ke ranjang yang langsung ditindih Jung Soo.

“Ya! Lepaskan, Jung Soo-ya.” Pintanya dengan mendorong tubuh suaminya.
Jung Soo semakin mencondongkan badannya ke arah istrinya lalu berbisik. “Aku ingin Aegi.”

Rae Ki membulatkan matanya, kaget, tentu saja. Namun tidak dipungkirinya bahwa sebenarnya ia pun menginginkan kehadiran malaikat kecil dalam keluarga mereka.

“Kau mau menolak? Oh, maaf chagi, aku tidak pernah menerima penolakan apapun! Kau tidak rindu padaku hm? Dua minggu kita tidak bertemu apa kau tidak merindukanku?”

” Tap..mmmpppp…”

Jung Soo langsung membungkam bibir istrinya dengan ciuman yang sarat akan kerinduan. Ia ingin istrinya tahu bahwa hanya ia lah satu-satunya wanita yang ia cintai di dunia ini selain ibunya.

“Naeun jeongmal bogoshippoyo, yeobo-ya.” Bisik Jung Soo dengan mesra di telinga Rae Ki.

“Nado,”

Finish!

3 comments

    1. Ah ya itu.. hehehe.. nanti aku benerin.
      Makasih ya udah sempetin komen, meskipun ga aku bales satu-satu komenanmu tapi aku baca kok. ^_^

  1. Qeyy jincha si soo oppa kan milik gue hu.uu shrusnya aku yg ad dsno buat dpetin cinte dr soo oppa hahahha πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
    #very nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s