Romantic Princess (Hae-Yoo Story) Vol.1

image

Author : Bluerose8692

Title : Romantic Princess Vol.1

Genre : Romance, Drama

Length : Series

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung, Kim Kibum, Others.

Please Dont Copy Paste!!!

Tenang dan damai.
Itulah yang dirasakan oleh seorang pria tampan yang sedang memandang laut lepas dihadapannya. Debur ombak yang terdengar keras serta semilir angin sama sekali tidak menganggunya, justru bagi pria bernama Kim Kibum, itu adalah sebuah nyanyian indah untuk di dengar.
Semburat jingga yang menghiasi langit barat terlihat begitu indah. Betapa pintarnya Dia yang mampu menciptakan langit yang begitu indah ini. Bibirnya tersenyum samar ketika merasakan pelukan hangat dari seseorang.

Oppa,” suara seorang gadis menyergap indera pendengarnya.

“Hm?” Hanya gumaman yang keluar dari bibir tipisnya.

“Aku lapar, kajja kita kembali.” Ajak gadis bertubuh mungil dengan rambut panjang. “Lapar? Bukankah kau baru makan bibimbab 2 porsi?” Ujar pria itu dengan membalikan tubuhnya sehingga ia bisa memandang gadis cantik itu.

“Itu kan 2 jam lalu, Oppa.

“Dan sekarang kau sudah lapar lagi?” Tebak Kibum yag diangguki oleh gadis itu. “Ck, aku saja belum lapar dan kau sudah lapar lagi? Aigo… kau itu wanita atau bukan, hm?” Kibum memperhatikan gadis itu dari atas hingga bawah.
Mwoya? Kenapa melihatku seperti itu?”
“Hanya merasa aneh saja denganmu.”
“Aih, kajja. Aku lapar.” Gadis itu dengan cepat mengamit lengan kekar Kibum, menjauh dari bibir pantai.
“Sebentar Yoo..”

Oppa, apa minggu depan kau ada waktu?”
Waeyo?” Kibum menghentikan kegiatan makannya, menatap gadis yang saat ini tengah menatapnya. “Aku hanya bertanya saja,” sahut gadis itu dengan menunduk, kembali meneruskan makannya.
“Ada apa Yoo-ya?” Kibum meraih tangan Yookyung yang ada di atas meja, meremasnya lembut. Gadis itu menatap Kibum, tersenyum. “Aku hanya ingin Oppa bertemu dengan keluargaku, itupun kalau Oppa bisa.” Ucap Yookyug pada akhirnya. Kibum tampak tersenyum, lebih terlihat sebuah senyuman miris tepatnya.

“Apa kau yakin? Apa orang tuamu sudah berubah pikiran? Terutama Appamu?” Yookyung sontak menunduk mendengar hal itu. Ingatannya melayang ke kejadian sebulan lalu saat ia membawa Kibum pulang ke rumah untuk ia kenalkan dengan orangtuanya. Senyum ceria yang biasa tersemat manis di bibir cherrynya seketika hilang ketika sang ayah langsung mengusir Kibum dengan kasar, sangat kentara sekali bahwa ayahnya tidak menyukai Kibum.

“Sudahlah, jangan dipikirkan.” Kibum kali ini tersenyum tulus. Ia tidak ingin membuat gadisnya ini sedih dengan mengingat kejadian sebulan lalu. Ia tahu kenapa ayah Yookyung tidak setuju putrinya berhubungan dengannya. Namun ia tidak memberitahukan hal ini pada gadisnya, ia tidak ingin Yookyung kembali berselisih dengan sang ayah. Itu saja. Dan alasan itupun cukup ia yang tahu.

“Tapi Opp-” Kibum meletakan jari telunjuknya tepet di bibir Yookyung, mengisyaratkan agar gadis itu tidak meneruskan kalimatnya. “Lanjutkan makanmu.” Yookyung mendengus kesal, namun menuruti ucapan pria itu.

Setelah mereka menghabiskan makan malam, mereka memutuskan untuk melanjutkan berjalan-jalan disekitar pantai. memasuki beberapa kios yang cukup padat pengunjung. Yookyung tampak senang ketika Kibum menyanyikan sebuah lagu untuknya. Tapi senyum itu seketika hilang ketika tiba-tiba ada yang menarik tubuhnya dari pelukan Kibum. Kim Joo Hyun, ayahnya.

Appa..”

Tuan Kim tidak menyahut. Pria paruh baya itu menatap tajam Kibum yang saat ini tengah menatapnya datar.
“Bukankah sudah aku peringatkan padamu anak muda, agar tidak mendekati putriku.” Tukas Tuan Kim tajam dan dingin. “Kenapa kau melanggar laranganku?”

Sillyehabnida, Tuan.” Kibum menundukan badannya.

“Bawa Yookyung ke mobil sekarang.” Perintahnya dengan mengisyaratkan agar Yookyung dibawa oleh anak buahnya.
“Baik, Tuan.”
Appa!” Yookyung memberontak dari orang suruhan ayahnya yang menariknya menjauh dari tempat Kibum dan ayahnya. Ia terus mencoba melepaskan cekalan kedua tangannya yang ditarik paksa agar menjauh dari tempat itu, meninggalkan Kibum dan ayahnya. Berdua.

“Kibum Oppa!!!”
YA! Lepaskan aku!” Yookyug terus berusaha melepaskan tangannya namun tidak bisa. Tenaganya tidak sebanding dengan kedua orang yang membawanya pergi. Kedua orang itu saling pandang sejenak, kemudian mengangguk.
YA!! Turunkan aku! Turunkan!” Yookyung memukul punggung orang yang menggendongnya paksa. Ia terus memberontak namun usahanya tetap sia-sia. Mereka tetap membawa Yookyung pulang. Ia hanya bisa berdoa dan berharap, Kibum akan baik-baik saja. Berharap ayahnya tidak melakukan apapun pada pria itu.

-o0o-

Sesampainya di rumah Yookyung langsung berlari menuju lantai 2, menuju kamarnya berada. Mengabaikan sapaan dari kakak laki-laki serta ibunya. Gadis itu menutup pintu dengan kasar sehingga menimbulkan suara gaduh. “Coba kau lihat yeodongsaengmu Ryeowook-ah. Dan tanyakan kenapa ia menangis,” ujar sang ibu pada putra sulungnya. Ryeowook mengangguk mengerti dan tahu alasan ibunya menyuruhnya agar ia menemui adiknya. Yookyung hanya mau bicara dengannya sejak kejadian sebulan lalu, dimana ayah dan ibunya menolak kedatangan Kibum ke rumah mereka.

“Kyung-ie… ini Oppa, bisa kau buka pintunya?” Ujar Ryeowook dengan mengetuk pintu kamar Yookyung yang terkunci.
“Aku tidak ingn bicara dengan siapapun, Oppa.” Ryeowook mendesah pasrah mendengar jawaban adiknya. Ia tidak bisa memaksa gadis itu. Sepertinya gadis itu perlu waktu untuk sendiri, setidaknya untuk saat ini. “Baiklah, tapi kau harus cerita pada Oppa besok pagi, ok?” Tidak ada sahutan dari dalam kamar Yookyung. Ryeowook menyerah dan meninggalkan kamar Yookyung.

Eotteohge?” Ucap Nyonya Kim begitu melihat putranya menuruni tangga. Ryeowook menghela nafasnya, “Yookyung tidak mau bicara Eomma. Aku tidak tahu ada apa dengannya, tapi sepertinya Appa tahu hal ini.” Tukasnya begitu melihat ayahnya masuk kedalam rumah. Ia yakin itu. Yookyung seperti sekarang pasti karena ada hubungannya dengan ayahnya.
Appa?” Nyonya Kim menyerngit bingung. ” Memang kenapa dengan Appa?”

“Coba Eomma tanyakan saja pada Appa,” sahut Ryeowook malas. “Aku mau tidur lebih awal.” Ryeowook segera membalikan badannya, menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia tidak ingin berdebat dengan ayahnya seperti waktu itu karena lebih membela adiknya. Ia sangat bertolak belakang dengan sang ayah, yang keras kepala dan selalu bersikap diktator, segala ucapannya harus dituruti, tidak boleh ia langgar. Itulah yang membedakan ia dan ayahnya. Meskipun ia putra kandungnya tapi ia membenci sifat ayahnya yang satu itu.

“Ryeo…” Nyonya Kim mencoba memanggil putranya namun anak itu tidak menyahut, bahkan tidak berbalik, tetap berjalan menaiki anak tangga. “Anak itu…”

Yeobo..” Nyonya Kim segera membalikan badan, menghadap suaminya yang sudah berdiri dihadapannya.
Appa, sebenarnya ada apa ini? Kenapa dengan putri kita?” Cecar Nyonya Kim langsung. Wanita itu menatap suaminya penuh tanya. “Anak itu susah sekali diatur Yeobo,” keluhnya dengan wajah lelah. “Ada apa lagi dengan Kyung-ie, Appa?” Wanita itu mengikuti suaminya menuju ruang keluarga. “Ia masih saja tetap keras kepala.” Sahut Tuan Kim dengan mendudukan dirinya di sofa.

“Maksud Appa, Yookyung masih tetap bertemu dengan Kibum?”
“Ya, tadi aku tidak sengaja melihat mereka di pantai.”
“Lalu Appa memaksanya pulang, begitu?” Tebak Nyonya Kim langsung.
“Ya, begitulah.”

Nyonya Kim tampak mendesah lelah. “Apa tidak sebaiknya kita biarkan Yookyung dengan Kibum saja, Appa?” Seketika itu Tuan Kim menatap istrinya tidak percaya, “Yeobo, apa yang kau bicarakan?”

“Aku hanya tidak ingin melihat putri kita terus menerus bersedih Appa, bahkan dia tidak mau bicara pada kita setelah kejadian itu. Dia hanya mau bicara pada Ryeowook.” Ucap Nyonya Kim sedih, matanya berkaca-kaca. Sebagai seorang ibu tentu ia tidak ingin membuat anaknya sedih, ia ingin membuat mereka bahagia. Tapi sepertinya ini tidak membuat putrinya bahagia, ini kebalikannya. Dan tentu saja ia sangat sedih serta bersalah.

” Dan kau ingin membatalkan perjanjian itu huh?” Tukas Tuan Kim tajam. Wanita itu menunduk, menahan tangisnya, “Aku hanya tidak ingin membuat Yookyung bersedih, Appa. Dia putri kita satu-satunya. Aku seorang ibu dan aku wanita, tentu aku tahu bagaimana perasaannya saat ini. Sejak kecil dia selalu mendapatkan apa yang ia mau, tapi kali ini kita melarangnya.. pasti ia kecewa.”

” Itulah salahmu, yeobo. Bukankah aku sudah pernah bilang, jangan terlalu memanjakan anak itu, tapi kau tidak mau mendengarnya.” Tuan Kim berdiri dari duduknya, ia tatap wanita yang sudah menemaninya selama kurun waktu yang tidak sebentar, 25 tahun. Wanita yang telah memberinya 2 keturunan, Ryeowook dan Yookyung. Ia rendahkan tubuhnya, menjadi berlutut dihadapan sang istri yang menunduk dengan menangis. Di genggamnya jemari wanita itu kemudian meremasnya lembut. ” Aku tahu kau ingin membahagiakan putri kita, aku pun begitu. Tapi perjanjian itu telah terjadi 10 tahun lalu, itupun atas permintaan mendiang Abeonim (*Appa dari Eomma Yookyung). Apa kau lupa?” Suaranya berubah melembut, ia tahu ia telah salah karena tadi membentak dan menyalahkan istrinya ini.

” Aku ingat itu, tapi…” Nyonya Kim menatap suaminya dengan wajah sembab, ” Tidak bisakah kau membatalkannya Appa? Demi putri kita.” Mohonnya dengan sangat. Ia harap suaminya ini mengerti.
Tuan Kim memejamkan matanya, kemudian menggeleng kecil. ” Tidak yeobo, aku tidak bisa. Aku baru membicarakan ini dengan mereka tadi siang, mereka justru ingin agar ini dipercepat. Ini tidak bisa dibatalkan. Kau tahu sendiri apa yang akan terjadi dengan keluarga kita jika ini dibatalkan begitu saja. Bukan masalah harta, tapi dengan kehormatan keluarga kita, keluarga Kim dan keluarga besarmu. Mereka tentu kecewa.” Nyonya Kim tidak menjawab, ia diam. Kalau di pikir lagi, apa yang diucapakan suaminya memang benar. Tapi apa ia tega mengorbankan kebahagiaan putrinya? Menggadaikan kebahagiaan putri mereka demi sebuah kehormatan dan status sementara?

” Lalu kita harus bagaimana Appa?”

“Tidak ada jalan lain. Mereka akan datang seminggu lagi, dan aku sudah bicara dengannya agar perlahan mengenal putri kita. Ini butuh proses, dan aku sangat minta bantuanmu dalam hal ini.” Tuan Kim menatap istrinya dengan sungguh-sungguh.
“Aku tahu.”
” Terima kasih.” Tuan Kim memeluk istrinya. Ia tahu bahwa ini akan sangat sulit, maka ia butuh bantuan dari semua pihak untuk ini.

-o0o-

” Selamat datang kembali Tuan.” Ucap seorang pria paruh baya dengan menunduk hormat ketika seorang pria tampan dengan stelan jas rapi keluar dari mobil.
” Lama tidak jumpa, Yoon Ahjussi.” Pria itu melepas kacamata yang sejak tadi membingkai hidung mancungnya.
Nde, mungkin sudah 5 tahun lebih Tuan Muda.”

” Putra Eomma sudah kembali!” Seketika pria tampan itu membalikan tubuhnya, mencari sumber suara.
Eomma!!!” Serunya senang begitu melihat sang ibu berjalan cepat kearahnya dengan senyum. Ia adalah orang yang paling ia rindukan selama pergi kemanapun.

AigoEomma sangat merindukanmu nak,” ujar wanita itu dengan memeluk erat putra bungsunya. ” Aku juga, Eomma. Bagaimana kabar Eomma dan Appa?”
” Kami baik-baik saja, dan kau juga sepertinya baik-baik saja.” Wanita itu memperhatikan putranya dari atas hingga bawah, lalu kembali menatap wajah rupawan putranya.
” Seperti yang Eomma lihat.” Sahutnya dengan mengangkat bahu.
Eomma bisa lihat itu. Kajja, kita masuk, kau sudah ditunggu Appa.”
Appa baik-baik saja bukan?” Ia cukup khawatir ketika mendengarbahwa ayahnya msuk rumah sakit karena terkena serangan jantung dadakan. Dan alasan itulah yang membuatnya memilih pulang lebih awaldari jadwal yang sebenarnya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan sang ayah.

“Sekarang sudah lebih baik, jangan khawatir.” Ucap ibunya berusaha menenangkan putranya agar jangan terlalu khawatir.

“Syukurlah kalau begitu.” Desahnya lega. Jujur saja, selama perjalanan dari Canada ke Korea-Seoul, ia tidak bisa tenang. Pikirannya dipenuhi dengan bagaimana keadaan sang ayah.

Aigo, kau mau pulang juga,” ujar seorang pria dengan senyum. Lee Donghwa, kakak laki-lakinya tersenyum hangat dan berjalan mendekati mereka. Ia peluk dengan erat adik satu-satunya itu. ” Bogosippoyo, hyung.”
Nado.” Donghwa melepaskan pelukannya, mereka tersenyum hangat.

Appa!!” Seorang gadis kecil berlari ke arah mereka, tepatnya menuju salah satu dari kedua pria itu.

Appa?” Pria itu menatap kakaknya dengan menyerngit bingung. Donghwa tertawa, “Nde, sayang…” pria itu langsung menyambut kedatangan putrinya yang berlari ke arahnya dengan memegang permen loli cukup besar.

“Beri salam pada Samchon, Yoon-ie.”

Annyeong haseyo Samchon,” sapa gadis kecil itu dengan tatapan polos serta sedikit menundukan kepalanya dengan tetap berada dalam gendongan sang ayah.

Annyeong..” Pria itu menatap penuh tanya kakaknya, “Sejak kapan kau menikah, hyung? Dan kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau kau menikah huh?” Protesnya kesal.

” Hei, itu salahmu sendiri Hae-ya.. kenapa kau tidak memberitahu kami jika kau pindah rumah dan nomer telponmu pun tidak ada satupun yang aktif, huh? Kau masih mau menyalahkanku?” Ujar Donghwa dengan sengit ketika tahu akan hal satu itu, ketika ia ingin mengabari adiknya ini. Pria yang di panggil ‘Hae-ya‘ oleh kakaknya itu menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk, serta menunjukan wajah innocent miliknya. “Mian,” cicitnya lirih.

Hyungmu benar Hae-ya, kau bahkan tidak menghubungi kami beberapa tahun terakhir ini, kami kehilangan kontak denganmu.” Sambung wanita baya dengan sedih. Ia cukup takut dan khawatir ketika anak bungsunya ini tidak ada kabar sama sekali, hingga sebulan lalu ia menelpon ke rumah dan memberitahukan keadaannya.

Sillyehabnida, Eomma,” lirihnya penuh sesal, karena telah membuat semua orang mengkhawatirkannya, terlebih ibunya ini. ” Tapi mulai sekarang kalian tidak perlu khawatir lagi, aku sudah putuskan aku akan menetap di Seoul, bersama kalian.” Ujarnya yang langsung membuat ibu serta kakaknya tersenyum senang.

“Bagus, itu yang kami inginkan dari tahun-tahun lalu.” Sambung seorang pria baya yang kini berdiri di anak tangga paling bawah, membuat ketiga orang itu seketika mengalihkan tatapan mereka. Pria yang hangat dan selalu Donghae takuti, ayahnya. Lee Sung Kwan.

Appa!” Seru Donghae dengan langkah cepat langsung menghampiri ayahnya. Ia peluk hangat tubuh renta itu. “Bogosippo, Appa.” Lirihnya.

“Anak nakal, kenapa baru bulang ketika aku hampir sekarat huh?” Sungut pria baya itu dengan menyentil kening putra bungsunya.
Donghae mendengus kesal, pura-pura tentunya. “Appa, kau terlihat sehat-sehat saja.” Ucap Donghae memperhatikan ayahnya yang kini tampak lebih matang dari sebelumnya. Ada beberapa kerutan di dahi yang dulu selalu tampak mulus, ketika terakhir kali ia melihatnya, 5 tahun lalu.

“Benarkah? Tapi sepertinya aku merasa tidak baik-baik saja sekarang. Aku tidak tahu sampai kapan tubuh ini bisa bertahan lebih lama.” Tuan Lee menatap sayu putranya yang kini tampak diam. Bahkan semua orang yang ada disitu terdiam mendengar penuturan dari bibirnya. Apakah ia salah bicara? Sepertinya tidak. Karena itu memang benar adanya. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan.

Appa…” Gumam Donghae sedih. Ia sangat tidak suka dengan kaliamat ayahnya itu.

“Hae-ya? Kau kah itu nak?”

Merasa ada yang memanggil namanya, pria itu menolehkan kepalanya kesamping kanan. “Halmeoni!” Serunya senang dengan bibir tersenyum. Ia langsung menyongsong tubuh tua itu dalam pelukannya. “Halmeoni, bogosippo.

Wanita tua yang sudah lebih 80 tahun itu tertawa, “Nado. Kapan kau pulang? Kenapa tidak memberi kabar pada Halmeoni?” Tangan tuanya mengusap surai hitam cucu bungsunya sayang. Matanya berkaca-kaca. “Kau tahu, Halmeoni sangat merindukanmu Hae-ya.” Donghae meraih jemari tua itu kemudian mengecupnya beberapa kali, “Aku tahu. Maafkan aku, Halmeoni.” Lirihnya sendu. Ia telah membuat semua orang khawatir, jahatnya ia.

” Tidak apa-apa, yang penting kau sudah kembali. Dan kau harus berjanji kau tidak akan pergi dari kami lagi.”

“Aku janji, Halmeoni.” Sahut Donghae dengan menganggukan kepalanya. Ia kembali memeluk wanita tua itu. Seorang nenek yang selalu membelanya ketika ia melakukan kesalahan dan dimarahi oleh ayahnya. Wanita tua inilah yang selalu memberinya dukungan dan semangat selain ibunya. Dan ia sangat menyanyangi kedua wanita itu, ibu dan neneknya. Ia rela melakukan apa saja demi kebahagiaan kedua wanita itu. Apapun.

“Karna kau sudah pulang, ini bagus.” Ucap wanita tua itu dengan senyum sumringah.
“Apa akan ada hal yang mengejutkan?” Tebak Donghae yang melihat semuanya tampak berbinar.
Kajja ikut Halmeoni. Ada hal yang harus kusampaikan padamu.” Donghae menatap bingung neneknya kemudian ayahnya yang mengangguk. memintanya agar mengikuti neneknya yang sudah berjalan lebih dulu, menuju sebuah ruangan. Dengan rasa penasaran yang tinggi maka ia ikuti neneknya.

Apa yang akan disampaikan neneknya?

-o0o-

NAN SIPJI ANHA, APPA!

“Yoo, pelankan suaramu, sayang.” Pinta Nyonya Kim dengan menarik lembut lengan putrinya. Deru nafas gadis itu terdebgar memburu dan berat, menahan amarah. Kedua lengannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. “Dengarkan dulu semua penjelasan dari Appamu,” bujuk Nyonya Kim dengan lembut. Gadis itu berganti menatap ibunya, “Apa yang perlu kalian jelaskan huh? Apa kalian sudah tidak punya perasaan dengan mengorbankan putri kalian demi harta hah?” Suara Yookyung meninggi beberapa oktaf. Baginya, ini tidak bisa di tolerir.

Menikah.

Itulah permintaan kedua orang tuanya dan inilah asal muasal kenapa gadis itu berani membentak kedua orang tuanya.

“Sekali ini saja turuti permintaan Appa, Yoo. Appa janji setelah ini Appa tidak akan meminta apapun darimu.” Pelas Tuan Kim dengan wajah sayunya. Yookyung mengalihkan tatapannya ke arah lain. Amarah masih merasuki akal sehatnya.

“Kenapa aku harus menuruti permintaan Appa sedangkan Appa saja tidak mau menerima Kibum? Dan apa yang Appa lakukan padanya waktu itu? Sehingga ia tidak merima panggilan telpon. Apa yang Appa lakukan padanya?”

Appa tidak melakukan apapun padanya.”

“Bohong! Appa pasti melakukan sesuatu padanya sehingga ia tidak mau aku temui, iya kan?!” Yookyung yakin itu. Ia sudah mencari pria itu kerumahnya namun tidak ada. Pria itu pergi. Meninggalkannya.

Appa mohon padamu, Yoo-ya.”

Shirreo! Aku hanya akan menikah dengan Kibum, bukan dengan orang lain atau siapapun itu.” Yookyung langsung melesat pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang cukup tercengang dengan kekeraskepalaan gadis itu.

Ryeowook yang memperhatikan pertengkaran itu mendesah keras. Ia tahu bagaimana sifat adiknya itu, dan ia pun tahu bagaimana perasaan kedua orangtuanya saat ini.

“Ini tidak bisa dibiarkan begini.” Gumamnya lirih. Ia harus memberi pengertian terhadap gadis kecilnya.

“Kyung-ie.. ini Oppa, bisa kau buka pintunya? Oppa ingin bicara denganmu.” Ryeowook mengetuk pintu kamar adiknya kemudian mencoba memutar knop pintu. Tidak di kunci.

Gelap.

Itulah keadaan kamar adiknya ketika Ryeowook memasuki kamar itu. TIdak ada satu penerangan apapun. Namun ia bisa menebak jika adiknya itu saat ini sedang menangis di balik selimut. Kebiasaan yang tidak akan pernah hilang dari Yookyung. Ryeowook menyalakan lampu agar terang sebelum menghampiri adiknya yang bersembunyi di balik selimut.

“Yoo-ya,” Ryeowook duduk di tepi ranjang. Tidak ada sahutan dari gadis itu, hanya isakan samar yang terdengar. “Uljima.” Bisik Ryeowook dengan menepuk pelan selimut yang Yookyung gunakan untuk menutupi tubuhnya.
“Kenapa mereka begitu jahat, Oppa?” Ujarnya sengit dengan membuka selimut yang membungkus dirinya. Wajahnya sembab.
Ryeowook mengusap pipi Yookyung yang basah dengan tissue. Pria itu tersenyum, “Mereka tidak jahat, Yoo. Mereka hanya ingin yang terbaik untukmu.”

“Jadi Oppa membela mereka huh? Oppa pun sama saja!” Marahnya kemudian kembali berbaring dan menutupinya dengan selimut hingga kepala.
Oppa tidak membela siapapun Yoo. Tapi Oppa pun akan melakukan hal ini-setuju-jika itu terjadi pada Oppa. Kau perlu tahu Yoo, perjanjian ini ada karena Harabeoji yang membuatnya, bukan Appa.

“Apa maksud Oppa?” Yookyung kembali membuka selimutnya, duduk menatap sang kakak penuh tanya. “Ini semua bukan rencana Appa?” Tanya Yookyung memastikan. Ryeowook mengangguk, “Nde. Perjanjian itu dibuat saat ia dan temannya itu masih muda. Itu sudah bertahun-tahun lalu,” urai Ryeowook dengan memperhatikan perubahan raut wajah adiknya.

“Lagipula, kau tidak akan menyesal menikah dengannya.”
“Kenapa Oppa begitu yakin?”
“Insting.”
“Ck, aku tidak percaya. Dan lagi, aku tidak mencintainya, mengenalnya saja tidak.”

“Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu Yoo.”

“Pokoknya aku tidak mau. Aku hanya mau menikah dengan Kibum Oppa.” Tegas Yookyung sekali lagi. Ia tetap pada pendiriannya. “Kalau Oppa masih saja mencekokiku agar menikah, lebih baik Oppa saja yang menikah dengan orang itu. Aku tidak mau!” Keukeuh Yookyung sengit.

“Gadis kepala batu. Mana ada pria menikah dengan pria? Lagi pula, aku masih normal uri yeodongsaeng. Oppa tampanmu ini masih laku di kalangan gadis-gadis.”

“Oh ya? Lalu, kenapa hingga saat ini Oppa belum juga mempunyai kekasih, hm?” Ucap Yookyung meledek.

Ryeowook mendecak, “Tunggu saja, Oppa pasti secepatnya memperkenalkan gadis itu padamu.”

Jincha huh? Arra, kita tunggu saja seperti apa seleramu itu.” Ledek Yookyung yang membuat Ryeowook gemas sehingga menggelitiki pinggang gadis itu.

Continue…

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s