Romantic Princess (Hae-Yoo Story) Vol.2

image

Author : Bluerose8692

Title : Romantic Princess Vol.2

Genre : Romance, Drama, Family

Length : Series

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung, Kim Kibum

****

“Chukhae Oppa.” Yookyung memeluk pria tampan dengan stelan jas hitam nan rapi. Pria itu membalas pelukan adik sepupunya, “Terima kasih.” Gadis itu melepaskan pelukannya, berganti menatap seorang gadis yang mengenakan gaun pengantin berdiri disamping kakak sepupunya.

“Chukae Hye-ie,” ia memeluk gadis itu dengan senyum bahagia.

“Gomawo Yoo,” sahut Hyesun dengan haru.

“Mwoya? Kenapa kau masih menyebutnya Hye-ie? Harusnya itu ‘Eonnie’, Yoo.” Ralat Yesung. Yookyung seketika melepaskan pelukannya dan menatap Kakak sepupunya tidak terima.
“Shirreo. Hyesun lebih muda dariku, Oppa.” Yesung mendecak, “Biasakan mulai sekarang. Biarpun dia lebih muda darimu tapi sekarang dia ini istriku, Oppamu. Jadi kau harus biasakan memanggilnya ‘Eonnie’.” Tegas Yesung yang membuat Yookyung semakin mendengus sebal.

“Opp-”

“Sudahlah Yoo…” Lirih Kibum menyela perdebatan kedua sepupu itu.
“Oppa!” Yookyung mendelik tidak terima pada kekasihnya. Yesung dan Hyesung justru terkekeh melihat Kibum yang hanya pasrah saja ketika gadisnya memarahinya. “Menyebalkan.” Sungut gadis itu dengan berlalu pergi.

“Kau harus sabar, Kibum-ah.” Ucap Yesung berusaha menyemangati pria tampan itu yang menghela nafas.
“Aku tahu, Hyung.” Jawabnya dengan senyum. Ia sudah tidak aneh atau kaget lagi jika gadisnya itu marah ataupun bersifat kekanakan seperti tadi. Mengenal Yookyung selama 3 tahun ini, sudah cukup baginya untuk mengetahui bagaimana sikap dan sifat gadis itu yang sebenarnya. Seperti kejadian dua hari lalu ketika ia tidak menghubunginya, gadis itu datang ke rumah dengan menangis meraung-raung seperti anak umur 3 tahun yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya. Mungkin itu terdengar berlebihan, tapi itulah kenyataannya.

Gadis yang memiliki tinggi kurang dari sebahunya itu sangat cengeng dan manja jika bersamanya, dan entah kenapa ia justru menyukai gadis itu padahal Yookyung sama sekali bukan type gadis idamannya. Mungkin ia harus membenarkan apa yang orang-orang definisikan tentang cinta. Love is magic.
“Ngomong-ngomong, kapan kalian akan menyusul, Oppa?” Ucap Hyesun tiba-tiba. Yesung langsung mengangguk setuju, “Benar. Kapan kalian menyusul?”
Kibum tersenyum tipis, “Entahlah.”

“Apa Ahjussi belum juga merubah keputusannya?” Kibum menepuk bahu Yesung dengan tersenyum (lagi), “Aku cari Yookyung dulu Hyung. Dan selamat untuk kalian, aku doakan kalian selalu bahagia hingga kakek-nenek.” Ujarnya sebelum pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu tanpa menjawab pertanyaan mereka. Yesung menatap punggung Kibum sendu, “Aku harap kau bisa bersabar lebih lama, Kibum-ah.”

***

Yookyung membenarkan tatanan rambutnya sekali lagi sebelum meraih tas tangannya yang tergeletak di meja rias. Gadis itu tersenyum ketika membaca sebuah pesan masuk dari orang yang dicintainya.

Aku tunggu di perpustakaan kota.

“Nah, sudah oke kan?” Ucapnya pada dirinya sendiri yang terpantul dari cermin besar di kamarnya.

Ryeowook yang baru akan mengetuk pintu kamar adiknya tersentak kaget karena disaat yang bersamaan Yookyung keluar kamar. “Oppa, ada apa?” Gadis itu menatap Ryeowook heran. “Kau mau pergi?” Tanyanya.

“Hm,”

“Dengan Kibum?”

“Yep!” Sahutnya dengan senyum sumringah. Ryeowook mendesah keras, “Kalian masih tetap bertemu? Apa kau tidak takut Appa akan memergoki kalian lagi huh? Bagaimana jika Appa marah lagi padamu?”

“I dont care.” Sahut Yookyung acuh. Ia sudah tidak perduli lagi jika Ayahnya akan marah atau yang lainnya. “Apa Oppa ada perlu?” Ucap gadis itu ingat jika Ryeowook tadi berniat mengetuk pintu kamarnya.

“Aku hanya mau menyerahkan ini padamu.” Ryeowook menyerahkan amplop besar berwarna coklat.

“Ige mwoya?” Yookyung membalikan amplop itu, tidak ada tulisan apapun.
“Kau buka sendiri saja.” Jawab Ryeowook sambil lalu. “Ingat, jika kau akan pergi harap pulang sebelum jam 7 malam. Dan setelah itu kau langsung datang ke Cafe di daerah Gangnam.”
“Untuk apa?” Yookyung berseru karena Ryeowook sudah berjalan cukup jauh. Pria itu berbalik ketika akan menuruni tangga, “Datang saja dan jangan terlambat. Nanti aku kirim alamatnya.”

Yookyung mendengus, “Membuat orang penasaran saja.” Gerutunya. “Apa ini?” Yookyung membuka amplop itu, ia penasaran dengan isinya namun sebelum tangannya menarik isi yang ada dalam amplop deringan ponsel membuatnya mengurungkan niatnya. “Aish, siapa sih.” Akhirnya ia memasukan amplop itu ke dalam tas dan mengambil ponselnya yang terus berdering.
“Yeobseyo…” Yookyung menutup pintu kamarnya. “Aku tahu Im Sunniel. Arra.” Sahut gadis itu terdengar malas. “Nde, ok. Bye.” Yookyung memasukan ponselnya ke dalam tas. Gadis itu berhenti di tengah tangga ketika melihat ibunya yang akan menaiki tangga. Wanita baya itu mendongak menatap anak gadisnya yang tampak rapi.
“Kau akan pergi?”

“Nde.” Yookyung kembali melanjutkan menuruni tangga.

“Kemana?”

Yookyung yang sudah berada di anak tangga terakhir menatap ibunya jengah. “Ke perputakaan kota dengan Sunniel, Mom.” Ucapnya langsung karena sang ibu menatapnya penuh selidik.

“Di hari minggu?” Nyonya Kim menyerngit heran. “Mengerjakan tugas kuliah Eomma. Sudahlah, jangan berlebihan aku akan kabur.” Yookyung mengucapkannya malas. Ia benci jika ibu atau siapapun itu mencurigainya.

“Eomma kan hanya bertanya,” ucap Nyonya Kim datar.

“Tapi tatapan Eomma seakan tidak percaya denganku.”

Nyonya Kim menghela nafasnya berat, “Apa Eomma salah berprasangka seperti itu?” Tanyanya lirih. Wanita baya itu memang takut jika anak gadisnya ini akan kabur seperti beberapa hari lalu untuk mencari keberadaan Kibum. Dan beruntung Ryeowook bisa menemukan gadis itu ketika akan naik bus dan memaksanya pulang. Itu terjadi karena Tuan Kim, suaminya, mengurung Yookyung di rumah agar tidak menemui Kibum lagi. Tapi siapa sangka jika gadis itu justru kabur dari rumah. Nekad.

“Mom, come on… percaya padaku. Aku memang akan mengerjakan tugas dengan Sunniel. Kalau Eomma tidak percaya, silahkan Eomma telpon Sunniel sekarang juga.” Ucap gadis itu kesal. Ia memang akan mengerjakan tugas bersama Sunniel selain bertemu dengan Kibum. Berbohong sedikit tak apa kan?

“Baiklah, Eomma percaya padamu.” Putus Nyonya Kim mengalah, “Apa Oppamu sudah memberikan amplop coklat?”

“Nde. Sudah Eomma, aku harus pergi sebelum Sunniel menelpon lagi dan mengomel padaku.” Yookyung mengecup pipi ibunya sebelum pergi. Nyonya Kim hanya bisa menggelengkan kepalanya lirih menatap kepergian putrinya.

***

Yookyung tersenyum begitu melihat Kibum yang duduk membelakanginya. Ia sudah hapal dengan pria itu meskipun dalam keadaan memunggunginya. “Oppa!” Yookyung memeluk Kibum dari belakang, membuat pria itu sedikit terkejut.

“Yoo…” Desahnya lega begitu hapal dengan suara gadisnya.
Gadis itu beralih duduk disamping Kibum, tersenyum manis.

“Kau terlihat bersemangat hari ini. Apa ada hal yang membuatmu bahagia hm?” Tanya Kibum penasaran. Yookyung meraih lengan Kibum dan bersandar di bahunya manja.
“Tentu saja karena bertemu Oppa. Kenapa masih bertanya?”
Kibum tersenyum dan menjawil hidung gadisnya, “Benarkah begitu?” Yookyung mengangguk dengan semangat.

“Eghem!”

Mendengar suara deheman seketika Yookyung menoleh kebelakang, “Bisakah kalian tidak bermesraan di tempat umum.” Desis seorang gadis dengan memilih duduk dihadapan pasangan itu. Kibum mengusap tengkuknya dan menundukkan wajahnya.
“Bilang saja kau iri pada kami Im Sunniel,” balas Yookyung dengan menyeringai.
“Iri katamu? Cih, sama sekali bukan gayaku.”

“Ck, sombong sekali kau.” Yookyung mendesis sebal, “Bilang saja kau malu mengakuinya. Iya kan?”
“What? Oh no, itu bukan gayaku.”

“Kau itu sudah terlalu lama menjomblo Sun-ie.. carilah pacar biar kau tidak kesepian.”

Sunniel membuka buku yang tadi diambilnya dari rak sebelum menghampiri Yookyung. “Nanti juga akan datang sendiri,” sahutnya acuh.

“Apa kau masih belum bisa melupakan Kyuhyun?” Tebak Yookyung. Sunniel menatap Yookyung sengit. “Jangan sebut nama itu lagi di hadapanku Kim Yookyung.” Desis Sunniel tajam. “Ck. Lupakan dia Im Sunniel, pria tidak hanya satu.”

“Cukup Yoo. Sekarang mulai kerjakan tugas kita atau aku telpon ibumu dan bilang jika kalian sedang bertemu saat ini.” Ancam Sunniel yang langsung membuat gadis itu langsung bungkam, “Bagus.” Sunniel tersenyum menang melihat Yookyung seketika diam.
“Beraninya mengancam,” gerutu Yookyung sengit.
Kibum yang mendengar gerutuan gadisnya terkekeh geli karena Yookyung terus menggerutu tanpa suara.

“Berhenti menggeretuiku Kyungie.”

“Aku tidak menggerutuimu,” sahut Yookyung semakin sebal karena Sunniel tahu meskipun tidak melihatnya, gadis itu sibuk menulis sesuatu di buku catatannya.
“Tapi aku tahu kebiasaan yang satu itu.” Sunniel mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Kibum, “Apa kau tidak sibuk Kibum-ssi, sehingga mau menemui gadis kepala batu ini?” Ucapnya dengan melirik Yookyung yang menggeram tertahan karena menyebutnya ‘gadis kepala batu’.

“Tidak, hari minggu aku senggang.” Sahut Kibum dengan tersenyum. Sunniel cukup terpaku ketika melihat senyum pria itu. Kibum memiliki senyum yang manis, jarang sekali seorang pria memiliki senyum seperti itu. Dan pantas saja temannya ini begitu mencintai pria ini.

“YA! Jangan terus menatapnya Sunniel, He is mine!” Seru Yookyung dengan mengapit lengan Kibum posesif. Sunniel mendecakan lidahnya, “Ck. Aku bukan pagar makan tanaman, Yoo.”

“Lalu kenapa kau terus memperhatikan kekasihku huh?”

“Aigo, apa tidak boleh jika aku menatapnya huh?” Sunniel tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. “Cemburumu mengerikan Kim Yookyung.” Lanjutnya lirih.

“Biar,”

Kibum mendesah frustasi melihat kedua gadis ini, “Come on Baby-ya… Jangan berlebihan eoh? Lihat, sekarang kita jadi pusat perhatian karena suaramu.” Tegur Kibum lembut. Pria itu menundukkan kepalanya berkali-kali pada orang-orang yang menatap ke arah mereka, sepertinya merasa terganggu dengan suara Yookyung yang cukup keras.

“Oppa…” Yookyung merajuk ke arah Kibum. Sunniel yang melihatnya tampak sebal, “Berhenti childish Kyungie.” Lirih gadis itu tanpa menatap Yookyung. “Aku heran padamu Kibum-ssi, bagaimana mungkin kau bisa tahan dengan sahabatku yang keras kepala ini. Ckck.” Kibum tersenyum maklum menanggapinya. Bukan cuma kali ini ia mendengar keluhan seperti itu, cukup banyak yang mengatakan itu padanya. Termasuk Ryeowook, kakak gadisnya pun bicara serupa.
“Apa kau tidak jengah mendengar rengekannya setiap hari?” Tanya Sunniel ingin tahu, gadis itu tidak memperdulikan Yookyung yang melemparkan tatapan sebal.

“Awalnya cukup terkejut, tapi lama-lama terbiasa.”

“Hebat. Aku saja yang sudah berteman sejak SHS dengannya merasa sebal dengan sifatnya itu.” Cerita Sunniel dengan melirik Yookyung yang tampak tidak perduli seperti tadi. Gadis itu kini sibuk dengan buku-buku yang dibacanya.

“Ah, biasa saja.” Kibum tersenyum malu.

“Tentu saja kau hebat. Bukankah kalian sudah berpacaran selama 2 tahun? Tentu itu bukan hal yang mudah untuk dilalui olehmu, terlebih mengingat sifat bocah ini.”

Kibum mengangguk, “Begitulah…”

“Lalu, apa kau sudah ada rencana untuk meminangnya?” Sunniel memajukan badannya ke arah Kibum dan mengucapkannya dengan suara lirih. Kibum terdiam ketika pertanyaan itu terlontar dari Sunniel. Senyumnya kini terlihat samar, seperti di paksakan.

“Im Sunniel, cepat kerjakan tugasnya. Jangan malah mengobrol dengan kekasihku. Atau jangan-jangan kau ingin menggodanya huh?” Yookyung menyipitkan matanya, curiga.

“Aniya, pabo.” Sunniel memperbaiki posisi dudunya kesemula. Gadis itu membuka bukunya dengan sebal. Ia hanya bertanya, kenapa Yookyung menuduhnya seperti itu?

Yookyung menoleh ke arah Kibum yang tampak diam dengan tatapan kosong. Ia tahu apa yang ada dalam pikiran kekasihnya ini.
“Oppa…” Kibum menoleh karena merasakan tangan halus Yookyung menggenggam tangan kirinya. Pria itu tersenyum, “Nde?”

“Jangan sedih.” Lirih Yookyung tanpa suara.

“Aku tidak sedih.” Kibum tersenyum, meyakinkan gadisnya jika ia baik-baik saja. “Cepat kerjakan tugasmu. Bukankah kau ingin jalan-jalan?”

“Arraseo.” Yookyung mengangguk dan kembali mengerjakan tugasnya.

Kibum terus memperhatikan Yookyung yang sibuk dengan menulis di buku. Sejujurya ia memang ingin sekali meminang gadis ini, tapi terhalang oleh status mereka dan juga restu dari orang tua Yookyung. Ia sudah berusaha agar orang tua Yookyung mau menerimanya, terlebih Appanya. Namun sepertinya jalan mereka penuh dengan kerikil yang harus mereka lalui saat ini, maka ia pun harus terus berusaha agar jalan lurus itu ia dapatkan. Ia harap, jika suatu hari nanti Tuan Kim bisa menerimanya.

***

Donghae berjalan dengan santai di area pertokoan yang ada di daerah sekitar Namsan Park. Pria itu mengenakan kemeja hijau dengan dalaman kaos putih, lengan kemeja yang digulung hingga siku tanpa mengancingkan kancingnya, dipadu dengan celana jeans panjang sudah cukup membuatnya menarik perhatian beberapa orang yang melihatnya, terutama gadis.

“Apa ada yang aneh dengan penampilanku?” Lirihnya bingung ketika lagi-lagi kedua gadis dengan seragam SHS memperhatikannya, bahkan kedua gadis itu menunjuk kearahnya. Jadi ia berpikir ada yang aneh dengan dirinya.

“AW!”

Donghae menghentikan langkahnya ketika tubuhnya berbenturan dengan seseorang. “Agghasi, neo gwaencana?” Ucapnya dengan membantu gadis itu berdiri karena terduduk di jalan, akibat tabrakannya tadi.
“Apa kau tidak punya mata Ahjussi? Lihat, bajuku jadi kotor.” Sungut gadis itu dengan menunjuk dress yang di pakainya karena terkena ice cream.

“Jeoseohabnida Aggasi.” Donghae menundukan badannya sebagai permintaan maaf.

“Maafmu tidak akan mengembalikan baju ini juga ice cream strawberryku.” Geram gadis itu dengan berlalu pergi meninggalkan Donghae yang mendesah pasrah.
“Aigo, galak sekali gadis itu. Dasar bocah.” Donghae terus memperhatikan punggung gadis itu hingga tidak terlihat. “Tapi tetap cantik meskipun galak. Besarnya pasti lebih cantik lagi,” gumamnya dengan melanjutkan langkahnya, menyusuri jalan dengan sesekali berhenti di toko jika ada yang menarik perhatiannya.

***

“Hei!”

Donghae yang sedang duduk disebuah cafe dengan meminum jus stawberry langsung tersedak karena sebuah seruan serta tepukan di bahunya.

“Ah mianhae.” Ucap orang itu yang ternyata pria dengan mengulurkan tissue. Donghae segera meraihnya dan mengelap mulutnya.

“Monyet jelek, kau mengagetkanku bodoh.” Sungut Donghae dengan memukul bahu pria itu sepenuh hati.

“YA! Sakit Donghae-ya.” Ucap pria itu dengan pura-pura mengaduh namun kemudian tertawa karena pria di hadapannya mencibir.

“Bagaimana kabarmu kawan? Aku pikir kau sudah lupa denganku.” Tanya pria itu dengan memilih duduk di hadapan Donghae.

“Aku baik, lalu kau? Dan tentu saja aku ingat kau, Lee Hyukjae. Si Playboy campus.”

“Hei, hei… Aku bukan palyboy guys.” Ralat Hyukjae dengan mencomot kentang goreng yang ada di piring, yang baru saja di letakan oleh pramusaji.

“Terima kasih,” Donghae tersenyum ke arah pramusaji setelah meletakan makanan pesanannya. “Bukan? Apa kau sudah bertobat Eunhyuk-ah?” Ejeknya dengan senyum miring.

“Tentu, aku sudah menikah sekarang. So, aku tidak mau membuat istriku cemburu kemudian meminta cerai dariku. Oh, itu buruk.”

“Mwo?! Kau sudah menikah? Kapan?” Donghae tampak terkejut mendengar sahabatnya ini sudah menikah. Hyukjae atau lebih sering disapa Eunhyuk itu tertawa melihat reaksi Donghae yang menurutnya berlebihan.
“2 bulan lalu. Tidak perlu kaget, Bro.” Sahutnya santai. Wajar bukan jika pria seumurannya sudah menikah? 28 tahun, tentu usia yang sudah cukup matang untuk membina sebuah keluarga.

“Apa kau masih juga melajang Hae-ya?”

Donghae meringis, “Benar?!” Seru Hyukjae dengan mata membulat sempurna.

“Ya begitulah..”

“Apa tidak ada satupun gadis cantik di sana sehingga membuat pria tampan sepertimu masih betah melajang huh? Atau mampu membuatmu tertarik?”

Donghae mengibaskan tangannya, “Mereka biasa saja.” Jawabnya datar.

“Aigo… Masa iya tidak ada satupun yang mampu membuatmu tertarik. Bukankah gadis-gadis di sana cantik-cantik eoh?”

“Ya, mereka memang cantik. Tapi cantik itu relatif Eunhyuk-ah, aku ingin yang mampu membuatku merasakan getaran asing tapi menyenangkan. Dan hingga saat ini belum ku temukan gadis seperti itu,”

Hyukjae mengangguk setuju dengan kalimat Donghae. Benar, cantik itu relatif. Bahkan semua gadis itu pada dasarnya cantik, jika kau perhatikan baik-baik gadis itu.
“Apa sekarang kau akan menetap di sini?” Tanya Hyukjae mengganti topik pembicaraan mereka. Donghae mengangguk, “Hm. Aku sudah berjanji untuk tetap di sini, memantau keadaan Appa.”

“Apa beliau masih sakit?” Hyukjae sangat khawatir ketika mendengar kabar jika Ayah dari sahabatnya ini terkena serangan jantung dan mengharuskan di opname di Rumah Sakit. Meskipun ia bukan anggota keluarga Donghae tapi ia sudah kenal lama dengan keluarga Lee, sejak ia duduk di bangku JHS. Baginya, Tuan Lee adalah Ayah kedua yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang meskipun terkadang tegas. Tapi terlepas dari itu beliau orang yang baik, itulah yang ia simpulkan dari pria yang kini sudah memasuki usia lanjut itu.

“Sekarang sudah lebih baik.”

“Syukurlah. Maaf, aku belum sempat menjenguk Appamu, aku cukup sibuk akhir-akhir ini.” Sesal Hyukjae.

“Gwaenchana. Lain waktu kan bisa, sekalian ajak istrimu.” Hyukjae menangguk tersenyum.

“Ngomong-ngomong, ada apa kau memintaku datang kemari? Tentu bukan karena kau kangen padaku.”

Donghae tergelak. “Kau ingin bercerita apa?” Tanya Hyukjae penasaran.

“Kau memang couple sejati Eunhyuk-ah,”

“Cih, sudah katakan ada apa? Aku tahu alasanmu meminta kita bertemu, tentu menginginkan sesuatu kan?” Berteman dengan Donghae selama belasan tahun tentu ia sangat memahami pria satu ini. Begitu pula dengan Donghae.

“Aku tidak butuh apa-apa darimu, hanya ingin berbagi cerita saja.” Ucapnya jujur. Hyukjae menyipitkan matanya, “Jeongmalyo?”

“Kau tidak percaya huh? Ya sudah, tidak apa-apa.”

“Aku pikir kau butuh bantuan dariku, syukurlah jika tidak.” Hyukjae tersenyum lebar setelahnya. “Lalu kau ingin bercerita apa?” Hyukjae menatap Donghae penuh tanya dan penasaran.
“Menurutmu aku harus bagaimana?”
Hyukjae menyerngit tidak mengerti. “Bagaimana apanya?” Bingungya balik bertanya. Tentu saja ia bungung jika Donghae langsung berkata seperti itu.

“Halmeoni memintaku menikah,”

“Lalu, kau sudah ada calonnya? Bukankah kau bilang tidak ada, ya bilang saja kau tidak punya calonnya. Gampang kan?”

“Mereka sudah menentukannya.” Ucap Donghae dengan wajah memelas.

“Perjodohan?” Hyukjae menatap tak percaya sahabatnya. Donghae mengangguk, “Eotthoge?” Lirih pria itu.

“Apa kalian sudah bertemu?” Donghae menggelengkan kepalanya. “Belum, aku bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya.”

“Coba kau terima saja, Hae-ya.”

“MWO?! Kau gila huh?” Donghae mendelik kesal.

“Aku tidak tuli Hae-ya,” desis Hyukjae dengan mengusap telinganya yang berdengung akibat teriakan Donghae. “Kau membuat kita jadi pusat perhatian,” sambungnya lagi. Donghae mendengus sebal, ia tampak tidak perduli dengan itu. “Menurutku itu bagus, lagipula kau tidak ada kekasih jadi apa salahnya kau terima saja. Siapa tahu pilihan orangtuamu itu baik, mereka pasti sudah mengetahui latar belakang gadis itu sehingga memutuskan untuk meminangnya untukmu.”
“Bukan masalah strata yang menjadi soal Eunyuk-ah, tapi ini karena perjanjian Halmeoni dengan teman lamanya.”

“Maksudmu?”

“Yah, perjodohan ini ada karena dulu mereka berjanji untuk menikah tapi ternyata Halmeoni dijodohkan oleh orangtuanya sehingga mereka membuat rencana untuk menikahkan anak mereka, tapi karena Halmeoni dan temannya itu memiliki anak laki-laki jadi tidak bisa dan jatuh ke cucu, dan kebetulan yang mengenaskan untukku karena Hyung dan juga anak pertama mereka sama-sama laki-laki, sehingga ini terjadi padaku sekarang. Mereka ada anak gadis yang usianya terpaut 7 tahun denganku, dan dialah yang akan menikah deganku.” Jelas Donghae dengan frustasi.

“Bagaimana bisa mereka semena-mena seperti ini padaku?” Gumam Donghae miris. Hyukjae menatap iba sahabatnya.

“Apa gadis itu sudah tahu jika di jodohkan denganmu?”

“Aku tidak tahu. Mungkin sudah, karena malam ini kami akan bertemu.” Desah Donghae tanpa semangat.

Hyukjae hanya menepuk bahu Donghae, “Coba kau pikirkan lagi saranku, Hae-ya. Sepertinya tidak buruk menerima perjodohan itu.”

“Tap-”

“Umur tidak menjadi halangan untuk menikah, jika itu yang kau khawatirkan.”

“Bukan itu, masalahnya dia apa bisa menerimaku atau tidak. Lagi pula, aku ingin mencari pendampingku sendiri.” Hyukjae paham itu. Tapi ia bisa apa? Ia hanya seorang teman yang hanya bisa memberinya semangat, solusi jika bisa. Tapi ini masalah lain, ia tidak bisa memberikan solusi apa-apa, hanya bisa jadi pendengar yang baik.

Continue…

4 comments

  1. jd ini perjanjian antara halmoeni n haraboeji yg g bisa menikah jd anak atw cucuny yg djodohin..aku kasian sama yookyung n donghae yg jd korban,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s