Romantic Princess (Hae-Yoo Story) Vol.3

image

Author : Bluerose8692

Title : Romantic Princess

Genre : Romance, Drama, Family

Length : Series

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung, Kim Kibum

***

“Apa tidak sebaiknya kau pulang saja, Yoo?” Ucap Kibum dengan mengelus lembut rambut panjang Yookyung. Gadis itu kini berbaring di pangkuannya. Mereka saat ini sedang ada di rumahnya, karena gadis itu tiba-tiba merajuk, entah apa sebabnya sehingga ia mengajak Yookyung untuk beristirahat di rumah setelah mereka pulang dari acara jalan-jalan tadi.

“Kau mengusirku, Oppa?” Yookyung membuka matanya yang sedari tadi terpejam, menikmati belaian halus tangan Kibum di kepalanya.

“Aniya, tapi aku hanya khawatir jika nanti kau akan dimarahi Appamu.” Sahut Kibum dengan menatap gadisnya yang juga menatapnya.

“Tapi aku malas sekali pulang, Oppa.” Lagi, Yookyung merajuk sehingga Kibum hanya mampu mendesah pasrah. Tapi ini tidak bisa seperti ini, ia tidak ingin jika gadisnya ini dimarahi oleh orang tuanya. Ia tidak mau itu.

“Kau bisa ke sini lagi kapanpun kau mau, Kyung-ie. Dan ini sudah cukup malam untuk kau pulang dari jam biasanya, kau pasti akan dimarahi lagi oleh Appamu nanti.” Kibum mencoba membujuk gadis keras kepala ini agar mau menuruti nasehatnya.

Yookyung bangun dari berbaringnya dan menatap Kibum tidak suka, “Oppa, kau ini kenapa? Kau tidak suka berlama-lama denganku huh?”

“Aniya.” Sahut Kibum cepat. “Tentu aku tidak keberatan, sama sekali tidak. Justru aku senang kita bisa bersama lebih lama, tapi jika akibatnya kau akan dimarahi oleh Appamu tentu saja aku tidak mau. Lagi pula, masih ada hari esok dan seterusnya, kita masih bisa bertemu selama kau masih ada di Korea.”

“Apa maksudnya aku masih ada di Korea? Aku tidak akan kemana-mana tanpamu, Oppa.” Jawab Yookyung tegas. Ia tidak suka jika Kibum mengatakan jika seolah-olah mereka akan berpisah.

Kibum mengangguk, “Aku tahu. Tapi kita tidak ada yang tahu kan, bisa saja Appamu marah karena kau pulang larut sehingga mengirimmu ke luar negri, tentu kita tidak akan bisa bertemu lagi.”

“Oppa!”

“Itu hanya seandainya, Yoo.” Ralat Kibum karena Yookyung justru semakin marah dengan kalimatnya. Ia sentuh kedua bahu Yookyung lembut, mencoba meredakan amarah gadisnya ini.

“Nan arrayo. Aku akan pulang sekarang.” Yookyung segera meraih tasnya yang tergeletak di sofa lain. Gadis itu langsung pergi begitu saja tanpa ‘ucapan selamat tinggal’ seperti biasanya.

“Hahh… Kekanakan.” Lirih KIbum dengan menggelengkan kepalanya. Namun ini tidak membuatnya khawatir sama sekali. Ia jamin jika besok gadis itu akan lebih dulu mengiriminya pesan ucapan maaf. Ini sudah yang kesekian kali gadis itu marah padanya, jadi ia tidak aneh sedikitpun.

***

“Jeongseohabnida yeorobun. Jeongmal jeongseohabnida.” Ucap Tuan Kim dan Nyonya Kim berkali-kali.

“Sudahlah Joo Hyun-ah, jangan seperti itu.” Tuan Lee menepuk bahu Tuan Kim, membuat pria itu menatapnya.

“Maaf, benar-benar minta maaf atas semuanya.” Sekali lagi Tuan Kim menundukan badannya dalam. Dengan sangat menyesal pertemuan ini harus dibatalkan karena Yookyung tidak kunjung datang, padahal mereka sudah menunggu selama 2 jam lebih.

Tuan Kim beralih menatap Donghae yang sedang berbicara dengan neneknya. “Donghae-ssi..”

Donghae yang mendengar namanya dipanggil segera menoleh, “Nde, Ahjussi?”

“Maafkan kami, terutama putriku karena tidak bisa datang. Kami tahu kalian sangat kecewa dalam hal ini, tolong maafkan kami.”

“Tidak apa-apa, Ahjussi, mungkin putri anda sedang ada urusan dan tidak bisa ditinggalkan. Bukankah tahun ini dia akan lulus dari universitas? Tentu itu masa-masa yang sangat sibuk. Aku maklumi itu.” Donghae tersenyum ramah. Tidak ia pungkiri memang jika ia kecewa karena tidak bisa melihat secara langsung seperti apa gadis itu. Tapi, bukankah masih ada kesempatan lain?

“Mungkin lain waktu kami bisa bertemu,” tambahnya lagi. Tuan dan Nyonya Kim mengangguk mengiyakan. Benar, masih ada lain waktu jika keluarga Donghae mau di ajak untuk bertemu lagi.

“Benar apa kata cucuku, Joo Hyun-ah, lain kali kami bisa berkunjung ke rumahmu disaat putrimu ada di rumah.” Sambung nenek Donghae memaklumi.

“Ku harap kalian tidak marah pada kami.” Nyonya Kim bersuara.

“Kau ini bicara apa Dambi-ya… Tentu saja kami tidak marah,” sela Nyonya Lee cepat. Benar, mereka memang tidak marah, yah… hanya sedikit kecewa saja. Dan Tuan serta Nyonya Kim tahu itu.

“Kalau begitu kami pulang dulu. Sampaikan salam kami untuk putri dan putramu, Joo Hyun-ah.” Tuan Lee menepuk bahu Tuan Kim sebelum memasuki mobil yang akan membawa mereka pulang. Tuan dan Nyonya Kim melambaikan tangannya, mengantar kepergian keluarga Lee hingga mobil yang mereka tumpangi keluar dari area parkir.

“Aku harus memberi pelajaran pada anak itu.” Desis Tuan Kim dengan geram. Ini sudah tidak bisa di tolerir lagi. Yookyung sudah mengecewakannya dan juga mempermalukan mereka dengan tidak hadirnya Yookyung di acara makan malam pertemuan pertama mereka.

“Appa…”

“Cepat masuk, Yeobo. Aku perlu bicara dengan anak keras kepala itu.”

Nyonya Kim hanya bisa patuh, memasuki mobil dengan cemas.

Ya, cemas. Jika nanti suaminya ini amarahnya akan meledak-ledak. Ia tidak mau membayangkan lebih jauh lagi. Itu membuatnya pusing.

“Appa, ku mohon jangan memarahi Yookyung. Mungkin ia lupa.” Nyonya Kim mencoba merayu suaminya.

“Tidak marah? Apa kau tidak lihat dengan perbuatan putri kita hari ini huh? Ia membuat kita malu, Yeobo.” Desis Tuan Kim tajam. Sangat terlihat jelas jika ia sangat marah saat ini. “Dan apa katamu tadi? Lupa?” Tuan Kim tersenyum sinis, “Ia sengaja melupakannya.” Lanjutnya dengan dingin. Nyonya Kim hanya mampu menghela nafas berat. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

***

Pintu berdentum dengan keras sehingga membuat Ryeowook yang sedang bersama Foxy, kucing peliharaannya, tersentak kaget. Pria itu segera bangun dari tidurannya di ranjang. “Kyungie… kenapa kau sudah pulang? Mana Appa dan Eomma?” Tanyanya begitu Yookyung duduk di ranjang sebelahnya. Gadis itu meraih Foxy dan mengelus bulu halusnya sayang. Raut wajahnya terlihat kusut.

“Bukankah Appa dan Eomma ada di rumah?” Yookyung menatap Ryeowook bingung. “Kenapa bertanya padaku?”

“Kau tidak membaca pesan dariku?” Ryeowook menyipitkan matanya curiga.

“Pesan apa?”

“Pabo!” Seketika itu tangan kanannya menyentil kening adiknya. Ia sudah duga ini. Ia menggelengkan kepalanya iba. “Kau akan terkena masalah sebentar lagi, Yoo.”

“Masalah apa?” Yookyung menatap penuh tanya Ryeowook.

“Karena kau-” Belum sempat Ryeowook menyelesaikan kalimatnya namun suara berat Ayahnya sudah memenuhi rumah berlantai 2 itu. Ryeowook memejamkan matanya sejenak, sedangkan Yookyung menegang di tempatnya. Sepertinya benar kata Ryeowook jika ia akan terkena masalah sebentar lagi.

“KIM YOOKYUNG!!!” Pintu kamar Ryeowook terbuka dengan kasar dan membentur dinding dengan keras ketika Tuan Kim membuka pintu. Pria baya itu menatap tajam kedua anaknya, tepatnya kearah anak gadisnya. Nyonya Kim dengan tergopoh-gopoh mengikuti suaminya yang kini berjalan ke arah Ryeowook dan juga Yookyung.

“Oppa, eotthoge?” Yookyung menarik ujung kaos yang di kenakan Ryeowook.

“Aku tidak tahu. Salahmu sendiri kenapa kau tidak membaca pesanku.” Bisik Ryeowook lirih.

“Appa mau bertanya padamu, Yoo.” Datar, dingin dan menusuk, itulah kesan yang terdengar di telinga Yookyung ketika mendengar suara Ayahnya.

“N-ne?” Dengan takut Yookyung mencoba menatap Ayahnya yang berdiri tidak jauh darinya.

“Kemana kau hari ini?”

“Eummm… Aku,”

“Kau kemana nak?” Kini Nyonya Kim mendekati putrinya dan bertanya dengan halus.

“Hari ini aku mengerjakan tugas dengan Sunniel, Eomma. Bukankah aku sudah mengatakannya tadi siang?” Yookyung menatap ibunya takut.

“Tidak mungkin kau mengerjakan tugas hingga jam 10 malam kan Yoo?” Tuan Kim kembali bersuara. Yookyung langsung diam. “Kenapa diam?” Tidak ada sahutan dari Yookyung. Bibir merah cherry itu tertutup rapat.

“Jeongseohabnida Appa…” Bibir itu bergetar, menahan tangis.

“Appa tidak butuh maafmu, Yoo. Kau sudah terlalu sering mengecewakan Appa selama ini. Appa hanya minta sedikit bantuanmu untuk datang ke pertemuan itu, tapi kau malah…” Tuan Kim menghela nafas berat. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut pening. “Jangan bilang kau lupa dengan acara itu? Bukankah Oppamu sudah mengatakannya padamu dan juga memberikan amplop coklat?” Yookyung mengangguk, tanda ia memang menerima amplop itu. “Apa kau tidak lihat isinya?”

“Appa… Mianhae,” tangis gadis itu pecah. Nyonya Kim yang berdiri di samping putrinya segera memeluk Yookyung yang menangis.

“Sudahlah Appa, jangan memarahinya lagi.” Lerai Nyonya Kim berusaha menengahi perdebatan ini.

“Sudah katamu? Tidak bisa. Gadis ini harus tahu apa kesalahannya.” Tegas Tuan Kim. “Appa tahu jika hari ini kau pergi dengan pria itu, kenapa kau tidak mau menuruti perkataan Appa untuk menjauhinya huh?! Dia itu bukan pria baik-baik Yoo. Appa tidak mau kau terjerumus dengannya, kenapa kau tidak mau mengerti juga?!”

“Appa, Kibum pria yang baik.” Bela Yookyung tidak terima jika Kibum dikatakan bukan pria baik-baik.

Tuan Kim mendengus karena lagi-lagi putrinya ini membela Kibum. “Baik katamu? Apa itu bisa disebut baik jika ia mengencani seorang wanita yang berada di atas umurnya?”

Yookyung seketika menatap Ayahnya tidak percaya. “Tidak, itu tidak mungkin Appa!” Ucapnya tegas serta menggelengkan kepala keras. “Appa pasti hanya mengarang cerita. Kibum Oppa tidak mungkin seperti itu. Aku tahu itu.”

“Kau itu masih terlalu polos dan naif, putriku. Kau sudah dibutakan oleh cinta. Sehingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan tidak.”

“Cukup Appa.” Nyonya Kim mencoba kembali membujuk suaminya untuk menyudahi perdebatan ini. Ia tidak bisa melihat putrinya menangis tersedu-sedu seperti ini. Ia tidak tega.

“Aku tetap tidak percaya.” Yookyung menggeleng lagi, kali ini ia menutup kedua telinganya dengan tangan. Tidak mau mendengar apapun yang akan dikatakan oleh Ayahnya.

“Terserah padamu, tapi itu benar adanya. Appa dan Eomma melihatnya sendiri. Dan satu lagi, mulai besok kau tidak akan Appa ijinkan untuk membawa mobil sendiri. Appa akan carikan supir sekaligus bodyguard untuk mengawasimu. Meskipun kau protes Appa tidak akan mengubah keputusan itu.” Tuan Kim segera berlalu dari kamar Ryeowook, meninggalkan mereka bertiga: Ryeowook yang terdiam kaku serta Ibunya yang sedang berusaha menenangkan Yookyung.

“Eomma… Katakan kalau yang dikatakan Appa itu bohong, ya kan Eomma?” Yookyung memandang Nyonya Kim dengan berlinang airmata di wajahya. Nyonya Kim mengusap wajah sembab putrinya.

“Ani, itu benar. Itulah alasan kenapa Appamu melarang kalian berhubungan, bukan karena Kibum tidak seperti kita. Tapi karena alasan itu.” Jelas Nyonya Kim dengan pelan, agar Yookyung dapat memahaminya.

“Aniya. Eomma juga pasti bohong kan? Tidak mungkin Kibum Oppa seperti itu. Aku tahu dia, Eomma. Dia pria baik-baik,” ujarnya tetap pada pendiriannya. Ia yakin jika Kibum bukan pria seperti itu. “Eomma pasti salah lihat.”

Nyonya Kim menggeleng, ia tatap putrinya iba. “Tidak sayang, kami tidak salah lihat. Itu benar Kibum karena kami menghampirinya untuk memastikan bahwa kami tidak salah lihat.”

Yookyung melepaskan kedua tangan Ibunya yang menangkup wajahnya. Gadis itu berdiri dari duduknya dan berjalan serampangan menuju pintu. “Aku tidak akan percaya itu, apapun itu. Karena aku yakin jika Kibum Oppa pria yang baik. Ia mencintaiku. Aku yakin itu.” Ucap Yookyung sebelum pergi meninggalkan kamar Ryeowook.

“Kyungie…” Nyonya Kim menatap sayu kepergian putrinya. Inilah yang ia takutkan selama ini. Yookyung akan labil. Tapi jika dipikir ulang, cepat atau lambat Yookyung pun perlu tahu yang sesungguhnya. “Maafkan Eomma, Yoo…” lirih wanita itu sedih. Ryeowook yang sedari tadi terdiam kini mendekati sang ibu, ia peluk ibunya. Mencoba menenangkan lewat pelukannya.

“Ryeo…”

“Aku akan mencoba membujuknya, Eomma. Tenang saja.”

***

Sejuk dan indah.
Itulah yang dapat Donghae rasakan ketika menghirup udara pagi hari di hari minggu. Hari ini ia tiba-tiba ingin berolahraga, jogging di taman yang tidak jauh dari area perumahannya. Hari yang cerah tentu bagus untuk keluar rumah seperti ini. Terlebih ini hari minggu, tentu banyak orang-orang yang akan keluar untuk berolahraga sepertinya.

Pria tampan itu melemparkan senyum ketika beberapa orang dan gadis-gadis menyapanya. Ia cukup senang karena ternyata mereka cukup ramah padanya. Setelah merasa cukup lelah dan berkeringat ia memilih beristirahat sejenak, meminum air mineral yang dibawanya.

“Donghae?!”

“Ye?” Donghae menatap seorang gadis yang berjalan cepat ke arahnya. “Nuguya?”

“Aigo, jahat sekali kau melupakanku huh?” Sahut gadis itu dengan mencubit lengan Donghae gemas. Pria itu hanya menunjukan senyum polosnya. “Maaf Nona, tapi aku benar-benar tidak mengenalmu.”

“Mwoya?! Bagaimana bisa kau melupakanku huh? Ini aku, Im Sunniel, adik dari Im Jiri.”

“Ah ya, aku ingat!” Seru Donghae setelah mengingat-ingat.

“Cih, giliran aku sebut nama Eonnie saja kau ingat. Menyebalkan.” Sungut Sunniel kesal.

“Maaf, aku memang lupa. Lagi pula, sekarang kau sudah banyak berubah, kau tambah cantik.” Puji Donghae jujur.

“Dan kau pandai merayu eoh? Belajar dari Eunhyuk Oppa ya?” Sunniel terkekeh senang karena Donghae tertawa.

“Aku bicara jujur malah dibilang merayu.. ckckck.” Donghae menggelengkan kepalanya dengan senyum. “Bagaimana kau bisa ada di sini Sun-ie? Bukankah rumahmu ada di district Gangnam?” Donghae tentu ingin tahu bagaimana bisa gadis ini ada di sini, komplek perumahannya. Ini daerah Gwucheon, tentu cukup jauh dari Gangnam, mungkin sekitar setengah jam jika ditempuh dengan kendaraan roda empat.

“Tidak mungkin kan kau berolahraga hingga ke sini?” Donghae sangsi akan hal itu. Ia tahu benar seperti apa Im Sunniel, gadis keturunan Perancis ini. Kenal dengannya sejak ia sekolah menengah tentu ia tahu bagaimana karakter gadis itu.

“Mana mungkin aku berlari hingga kemari,” sahut Sunniel dengan memilh duduk di samping Donghae yang duduk di bangku panjang taman. “Aku pindah rumah sekarang, tidak jauh dari taman ini. Hanya jalan beberapa blok saja,”

“Jincha?!” Donghae menatap Sunniel tidak percaya. “Rumahku juga di sekitar sini.”

“HEH?!” Sunniel berseru keras dan menatap Donghae dengan berbinar. “Di mana?”

“Nanti aku kasih tahu alamatnya, supaya lain waktu kau bisa main ke rumah.” Donghae tersenyum, “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kabar Jiri?” Tanya Donghae mengganti topik pembicaraan yang langsung dijawab dengan semangat oleh gadis itu.

Sunniel tampak senang bisa bertemu lagi dengan Donghae, ia tidak menyangka jika bisa bertemu lagi dengan pria ini setelah bertahun-tahun tidak bertemu ataupun bertukar kabar. Ia mengenal Donghae karena dulu pria ini adalah kekasih dari Eonnienya saat sekolah menengah atas. Donghae orang yang menyenangkan, menurutnya.
Dan kenapa ia tidak menyebut Donghae dengan embel-embel ‘ssi, ah, ataupun oppa’, itu karena Sunniel merasa nyaman jika hanya dengan menyebut namanya saja, meskipun terdengar kurang sopan karena usia mereka terpaut jauh, tapi ia tidak perduli. Toh Donghae tidak keberatan akan hal itu.

***

Air. Basah dan dingin.
Ribuan rintik hujan turun membasahi bumi di pertengahan bulan Mei. Kadang cuaca memang tidak menentu. Seperti hari ini. Padahal tadi pagi mentari bersinar cerah di ufuk timur, menyambut pagi yang indah. Tapi kini, pertengahan siang, hujan memenuhi seluruh kota. Udara menjadi sedkit lembab dan basah.

Yookyung mengerakan tangannya, menulis di kaca jendela yang lembab karena terkena tetesan air hujan.

김기범 (Kim Gi Boem)

“Oppa, bogoshipo.” Lirih sekali Yookyung mengucapkannya. “Kau sedang apa eum?” Tanyanya entah pada siapa.

Ryeowook yang melihat kelakuan adiknya menggelengkan kepala miris. Yookyung yang biasanya cerewet kini tidak ada lagi, yang ada Yookyung yang pendiam dan mengurung dirinya.

“Kyungie…” Panggil Ryeowook dengan meletakan nampan berisi makanan untuk gadis itu, karena sejak kemarin gadis itu hanya meminum susu, itupun tidak seberapa.

“Hm?” Hanya sebuah gumaman yang keluar dari bibir Yookyung, tanpa mengubah posisinya yang menatap kosong ke arah luar jendela.
Ryeowook duduk di samping adiknya yang masih sibuk dengan kegiatannya, menulis sesuatu di kaca jendela dengan jari telunjuk.

“Bisakah berhenti berkelakuan bodoh Kim Yookyung?”

“Dan maukah Oppa mengantarku menemui Kibum Oppa tanpa sepengetahuan Appa?”

Ryeowook mendesah keras, ia bertanya justru gadis itu balik bertanya, membuatnya kesal saja. “Tidak bisa.” Sahutnya datar. Ryeowook menyentuh kedua bahu Yookyung kemudian memaksa gadis itu agar berbalik menatapnya. “Berhenti bersikap seperti ini, Yoo. Ini hanya akan menyakitimu sendiri.” Pelas Ryeowook memohon. Sudah dua hari terhitung dari hari ini, jika Yookyung bersikap pendiam. Ia tidak suka ini, rumah jadi sepi tanpa ia beradu argumen ataupun berebut strawberry cake jika ibunya sedang menyiapakan camilan untuk minum teh. Ia merasa ada yang kurang. Meskipun kadang ia merasa sebal terhadap sikap Yookyung, tapi jika itu tidak ada tentu ada yang kurang lengkap. Tanpa pertengkaran kecil.

Terbiasa.

Benar, itu sudah terbiasa terjadi. Maka ia merasa ada yang kurang jika ia tidak meributkan sesuatu dengan adiknya ini.

“Oppa…, ayolah, bantu aku menemui Kibum Oppa. Sudah dua hari ini aku tidak tahu bagaimana kabarnya,” Yookyung menangkupkan tangannya, memohon.

“Kau kan bisa menelponnya,”

“Bukankah Appa juga menyita ponselku huh?” Dengus Yookyung kesal ketika ingat ponselnya di rebut paksa oleh Ayahnya saat ia akan menelpon Kibum.

“Pakai telpon rumah,” saran Ryeowook yang membuat Yookyung gemas.

“Itu sama saja aku cari mati dengan Appa.” Ucap Yookyung penuh penekanan. Ryeowook tersenyum manis, sangat manis hingga membuat Yookyung melayangkan pukulan kecil di dada pria itu. “Jangan tunjukan senyum menjijikkan seperti itu di depan gadis-gadis Oppa.”

“Cih, dasar yeodongsaeng kurang ajar.” Desis Ryeowook geram. Jika ia tidak ingat Yookyung adiknya sudah ia lakban bibir gadis itu agar berbicara sopan dengan orang yang lebih tua.

“Oppa…” Yookyung menggoyangkan lengan Ryeowook dan mengedipkan matanya cepat secara berulang kali, merayu pria itu.

“Tidak.” Pendek, tegas , singkat dan padat. Ryeowook bangun dari duduknya di sofa yang ia duduki bersama Yookyung. “Aku tidak mau. Dan sebaiknya kau lupakan Kibum jika kau ingin bebas seperti dulu. Itu saran Oppa.” Ryeowook berniat meninggalkan kamar Yookyung, namun ia kembali berbalik. “Satu lagi, jam 7 malam nanti kau harus sudah siap untuk makan malam bersama keluarga Lee. Jika tidak, Oppa pastikan Appa akan menyeretmu agar kau mau keluar.”

“Aku tidak perduli dan aku tetap tidak mau menemui mereka meskipun Appa menyeretku keluar. Yang aku mau hanya Kibum Oppa!” Seru Yookyung sengit dengan melempar bantal sofa yang ada di pangkuannya kearah pintu, dimana Ryeowook yang mencibirnya.

Yookyung menggeram kesal dan menghentakkan kakinya yang beralaskan sandal bulu bergambar hello kitty. “Kibum Oppa! Naneun dasingneul managgo sipda!” Teriaknya dengan keras sehingga memenuhi kamarnya yang luas.

Continue…

2 comments

  1. Aaaach makin seru n menarik. Pertemukan za biar Yookyung liat dengan mata dy ndri gmn jahat’y Kibum #plaaaak . Waaaah Donghae pnya masa lalu uga ea? Ckckckck d’tunggu next part’y moga Yookyung mau k’temu Donghae….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s