Mommy For Daddy Chapter 5

image

Author : Bluerose8692

Title : Mommy For Daddy Chapter 5

Genre : Romance, Family

Length : Chapter

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Raeann/Lee Yookyung, Lee Haera

–o0o–

Matahari bersinar terik, udara menjadi sedikit lebih panas ketika menjelang siang hari. Pekerjaan yang menumpuk membuat pria tampan ini menarik simpul dasi kemudian melepas dua kancing kemeja putih gading yang dipakainya.

Donghae melirik arloji yang melingkari lengan kirinya, baru jam 11.25 itu berarti masih ada beberapa menit lagi untuk jam makan siang. Pria ini menarik nafas kemudian mengambil ponsel yang terletak di meja, menimbang-nimbang. Ia ingin menelpon gadis itu untuk menanyakan keadaan putri kecilnya, tapi ragu.

Jika nanti gadis itu mengangkat telponnya, pertama ia akan bicara apa?

Apakah berbasa basi lebih dulu atau langsung menanyakan keadaan putrinya, Haera?

“Sh*t, come on Hae-ya.. Kau hanya perlu menelponnya kemudian tanyakan keadaan Haera, itu saja. Apa susahnya huh?” rutuknya pada diri sendiri. Entah mengapa ia merasa nervous hanya mendengar suara gadis itu, catat, HANYA SUARA bukan BERTEMU LANGSUNG saja sudah gugup begini.

Oh, sejak kapan pria gentle ini jadi begini?

“Telpon… Tidak.. Telpon… Tidak… Tel–”

“Apanya yang telpon tidak?”

Donghae sontak terlonjak kaget dari tempat duduknya, hampir saja pria ini menjatuhkan ponsel yang sedang digenggamnya.

“Da jie, kau mengagetkanku!”

Wanita yang mengenakan blouse biru muda dipadu celana denim hitam yang masih berdiri di ambang pintu itu menyerngit bingung. “Apanya yang mengagetkanmu? Aku kan hanya bertanya saja, Dong Hai.”

Tia berjalan menuju Donghae yang duduk di kursi kerja. Pria itu tampak kusut.

“You sheme she ma? (Apa terjadi sesuatu?)”

Donghae menggeleng kecil, “Bu. (Tidak)”

“Lalu, kenapa wajahmu kusut begitu? Oh, apa karena kau kepanasan?”

Donghae terkekeh kemudian mengibaskan tangannya, “No, I’m ok, sist.”

“She ma? (Benarkah?)”

“Yup,”

“Baguslah, kalau begitu kita keluar.”

“Keluar? Kemana?”

“Tentu saja makan siang, apa kau tidak lapar?”

Donghae mengerjap, “Ini belum jam makan siang, Jie..” bukankah ini masih jam 11.25 ? Tentu itu belum masuk jam makan siang.

Wanita yang lebih tua dua tahun dari Donghae itu menarik pergelangan tangan kiri Donghae kemudian tersenyum, “Oh benar, tapi karena aku yang punya kantor ini jadi tidak masalah.” ucap Tia dengan menunjukkan senyum manis hingga dimple di kedua pipinya tersemat.

“Astaga, atasan yang tidak patut dicontoh.”

“Aku dengar gumamanmu, Dong Hai.”

“Bu hao yi-she, (maaf)”

“Akan aku maafkan kalau kau mentraktirku makan di resto kemarin siang.”

“Mwoga? Kau yang mengajakku makan kenapa aku yang harus mentraktirmu?” Donghae menatap Tia tidak percaya.

Bukankah wanita ini yang mengajaknya makan siang? Tapi kenapa ia yang harus membayarnya?

“Ck, sesekali kan tidak apa, Dong-chan.” Tia tersenyum, menunjukkan gigi putihnya.

“Jangan memanggilku dengan kata itu, Jie. Menggelikan, kau tahu?” Donghae meraih jas hitam yang tersampir di kursi kerja kemudian memakainya. Tia tergelak, ia suka menggoda pria tampan ini.

“Wei sheme? Wo jue de na khe ming ce she hao thing-a. (Kenapa? Kurasa, nama itu bagus)”

Donghae menghela nafas, “Panggilan itu–mengingatkanku pada Mina.”

Tia langsung terdiam, senyum di wajah cantiknya langsung surut. “Dui bu chi, wo bu che dao. (Maaf, aku tidak tahu)”

Donghae tersenyum lembut, “Mei guan xi, (tidak apa-apa). Ayo pergi, bukankah kau bilang ingin makan? Aku yang traktir.”

Tia langsung tersenyum mengangguk, “Ayo. Sekalian beli oleh-oleh untuk putrimu,”

“Ah! Kau benar. Sore aku pulang.” Donghae bahkan melupakan jika ia sudah empat hari di China-Shanghai. Ia jadi tidak sabar untuk bertemu putri kecilnya itu.

“Aih, jadi kau lupa eoh? Atau kau ingin tetap di sini?” Tia menggerlingkan sebelah matanya.

“Anniya, aku terlalu sibuk jadi tidak ingat kalau sekarang hari terakhir aku di sini.”

“She ma? (Benarkah?)”

Donghae mengangguk tegas, “Kajja, aku mau beli oleh-oleh untuk putriku.” Donghae berjalan lebih dulu, meninggalkan Tia sebelum wanita itu kembali menggodanya dengan pertanyaan lain.

“Wei, teng-teng wo. (Hei, tunggu aku.)”

–o0o–

Gadis kecil berkepang dua yang sedang duduk di bawah pohon akasia hanya menatap kosong teman sepermainannya yang bermain bersama yang lain.

Anak itu tidak terlihat tertarik untuk ikut bergabung bersama. Ia justru lebih memilih duduk menyendiri di bangku panjang di bawah pohon.

“Hahhh….”

“Kenapa?”

Kepala anak itu langsung mendongak begitu mendengar suara dari samping kanannya, “Eonnie..” lirihnya.

“Wae gurae?”

“Amnida,”

Yookyung memilih duduk disamping Haera. Tangannya terulur untuk mengusap kepala anak itu.

“Haera apphayo?” tanyanya memastikan. Ia khawatir pada anak ini karena sudah dua hari ini Haera tampak murung.

Anak ini menatap Yookyung sayu lalu memeluknya, menyerukkan kepalanya ke dada gadis itu. Yookyung semakin bingung.

“Haera-ya, ada apa, sayang?” di usapnya kepala Haera lembut.

“Naega–Eomma–bogoshipoyo, Eonnie..” suara Haera tersendat. Yookyung mengerti sekarang.

“Kau ingin bertemu Eomma, hm?” Haera mengangguk kecil.

Ditariknya Haera semakin dekat dengannya, kemudian membisikkan sebuah kalimat.

“Pejamkan matamu dan bayangkan wajah Eomma Haera, nanti pasti Haera bisa merasakan kehadirannya.”

Haera menggeleng pelan, “Haera ingin mengunjungi Eomma, Eonnie.” Yookyung tersenyum mengerti, diusapnya pipi Haera yang basah.

“Gurae, sepulang sekolah kita jenguk Eomma hm?” Haera langsung mengangguk dan kembali memeluk Yookyung.

“Gomapseubnida, Eonnie.”

“Nde, cheonmaneyo, Ra-ya.”

–o0o–

Terik. Panas dan pengap.
Hanya tiga kata itu yang terpikir oleh pria bertubuh kurus berambut merah maron yang mengenakan celana jeans panjang dipadu dengan kemeja kotak hijau toska, yang saat ini bersandar pada badan mobil sport silver kesayangannya.

“Oh God, it’s very hot. I hate summer.” gumamnya lirih dengan mengibas-ngibaskan tangannya ke arah leher guna mendapat sedikit rasa sejuk.

“Ck, apa ada yang aneh denganku sehingga gadis-gadis itu menatapku tanpa kedip?” lagi, pria itu bermonolog, kali ini ia memperhatikan dirinya sendiri. Ia heran dengan beberapa gadis yang tidak sengaja lewat di depannya, menatapnya dengan tatapan yang–eerrrr… Aneh.

“Kurasa tidak ada yang aneh denganku.” gumamnya lagi lalu menaikkan kacamata hitam yang sedikit turun dari hidung mancungnya.

“Sorry, I’m late.”

Pria kurus itu langsung mendengus, “Kau membuang waktuku 10 menit, Val.” desisnya kesal.

“Astaga, kau hanya menunggu 10 menit saja sudah mendumel begitu. Apa lagi kalau satu jam? Apa kau akan langsung meninggalkanku huh?” balas gadis ayu itu sengit.

“Mungkin,” datar dan acuh.

Gadis yang dipanggil ‘Val’ ini menatap pria itu kesal. “Aigo, Hyukjae, aku ini tunanganmu dan kau bicara semudah itu?!”

“Bisakah kau tidak berteriak, Valerine?” kini mereka menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang karena mereka masih berada dipinggir jalan, depan butik langganan Valerine.

“Kau yang membuat aku kesal,” sungut gadis bertubuh mungil ini dengan membuka pintu mobil lalu menutupnya kasar sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.

“Aish, dasar wanita itu cerewet, apa dia tidak tahu jika aku jadi perhatian gadis-gadis yang lewat huh?” gerutunya dengan berjalan cepat menuju pintu satunya.

“Tidak mampir ke tempat lain kan?” tanya Hyukjae memastikan begitu mobil yang dikendarainya sudah berbaur dengan pengendara lain di jalan raya.

“Wae?”

“Kenapa katamu? Tentu saja aku tidak mau. Kau tidak tahu kan jika aku jadi pusat perhatian orang-orang?”

“Siapa suruh kau menunggu di luar? Kenapa tidak menunggu dalam mobil saja?” Valerine menjawab acuh. Ia masih kesal dengan pria ini.

Hyukjae menghela nafas, yang diucapkan Valerine memang benar sehingga ia memilih diam daripada nanti gadis itu bertambah marah padanya.

“Malam ini kita pulang,” ucap Valerine tiba-tiba.

“Pulang?”

“Ya, ke Korea.”

Hyukjae seketika langsung menghentikan laju mobilnya. Karena begitu mendadak sehingga membuat ban mobil berdecit dengan aspal jalan. Pria itu langsung menatap Valerine yang sedang mengelus keningnya yang terbentur dashboard mobil.

“Hei, kau ingin membunuhku huh?!” sungut gadis itu sengit.

“Pulang? Korea?”

Valerine yang tadinya emosi kini menyerngit bingung karena melihat wajah Hyukjae yang terkejut.

“Ya, ibumu bilang kita harus pulang. Kenapa? Kau tidak mau pulang?”

“Tidak, tentu saja aku ingin. Bahkan sangat ingin.” selanya cepat.

Valerine tersenyum sumringah, “Bagus. Aku sudah sangat ingin melihat seperti apa itu Korea. Bagaimana orang-orangnya? Dan kau tahu, aku ingin sekali mencoba memakai hanbok.” ucap gadis keturunan asli Amerika ini. Sepertinya gadis ini begitu antusias dengan apa yang ada dipikirkannya jika ia melakukan itu semua, ketika tiba di negeri ginseng itu.

Hyukjae tidak menjawab, pria itu kembali menyalakan mobil dan melaju.
Pikirannya melayang ke kejadian beberapa tahun lalu. Kejadian yang membuatnya enggan untuk kembali ke negeri ia dilahirkan.

Delapan tahun lalu ia telah melakukan sebuah kesalahan besar. Dan karena ia tidak berani mengakui kesalahannya ia memutuskan untuk menjauh dari semua itu, melupakannya dengan melanjutkan studynya di Jepang. Setelah delapan tahun berlalu ia telah berhasil, tapi kini ia harus kembali ke sana.

Bagaimana jika ingatan akan kesalahan itu kembali? Bersalah.
Lalu untuk apa selama ini ia pergi jika ternyata sia-sia belaka?

Tapi jika dipikir ulang. Kembali tidak ada salahnya. Setidaknya ia harus mengakui kesalahannya cepat atau lambat.

Ya, sepertinya tidak ada salahnya ia pulang. Karena sekarang ia tidak sendiri, ada Valerine disampingnya meskipun gadis itu tidak tahu apa-apa.

‘Semoga tidak ada hal buruk nantinya.’

–o0o–

Yookyung dan Haera berjalan bergandengan menyusuri jalan setapak yang akan membawa mereka menuju sebuah tempat peristirahatan terakhir orang yang amat mereka cintai. Gadis bermata bulat itu tersenyum begitu Haera melepaskan genggaman tangannya dan langsung berlari ke salah satu pusara. Makam Mina.

“Eomma, annyeong..” Haera menyapa serta meletakan rangkaian bunga tulip putih di atas pusara. Anak itu meraih lengan Yookyung begitu gadis itu sudah ada disampingnya, menyuruhnya agar merendahkan tubuhnya–sama sepertinya–yang berjongkok.

Yookyung menurut. “Annyeong, Eonnie. Maaf aku datang lagi, kau tidak marah kan?”

“Tentu saja tidak. Eomma justru senang, ya kan Eomma?” sahut Haera cepat dengan tawa. Yookyung jadi ikut tertawa.

“Eomma, kau tahu.. Appa pergi bekerja ke tempat yang jauh lagi. Haera ditinggal, Eomma..”

Yookyung hanya diam mendengarkan Haera yang bicara pada makam Mina. Anak itu bicara seolah-olah Mina ada dan sedang mendengarkannya. Perasaan sedih ini begitu kuat. Entahlah, ia sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa memiliki perasaan seperti ini.

Iba kah ia? Atau lebih dari itu?

Yookyung sendiri tidak tahu. Ia merasa perlu membuat anak ini selalu tersenyum sejak pertama melihat Haera. Membuatnya bahagia. Meskipun, ia tidak tahu caranya.

–o0o—

Donghae berjalan dengan terburu-buru menuju pintu kedatangan dalam negeri. Pria itu menarik koper biru sedang dengan langkah lebar.

“Ini gara-gara delay tadi, mereka pasti menunggu terlalu lama.” gumamnya dengan semakin mempercepat langkahnya. Pria itu langsung menolehkan kepala kesana kemari mencari keberadaan Yookyung dan putri kecilnya, Haera.

Donghae merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponsel, berniat menghubungi Yookyung untuk menanyakan dimana posisi mereka menunggunya. Karena suasana yang cukup ramai tentu akan sulit menemukan kedua orang itu diantara ratusan manusia yang ada di bandara ini, terlebih ini sangat luas.

Donghae menempelkan ponsel ke telinga setelah menekan nomor Yookyung. Pria itu menunggu hingga beberapa deringan baru telpon tersambung.

“Yeobs–”

“Ah, I’m sorry, Sir.” pria bertubuh tinggi dari arah belakang tidak sengaja menabrak Donghae sehingga pria itu menjatuhkan ponselnya dan terlempar sekitar 1meter.

“Oh, no problem.” Donghae sedikit tersenyum meskipun sebenarnya ia kesal karena pria itu telah menabraknya.

“Thank you,” Donghae berterimakasih karena pria tinggi dengan kulit langsat itu membantunya mengambil ponsel miliknya.

“Welcome.”

Donghae tersenyum mengangguk, “Mati.” desisnya lirih ketika menekan tombol ponsel agar menyala namun ponsel itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

“Ah, really sorry, Sir. Ponselmu jadi mati,”

Donghae serta merta menegakkan kepalanya, pria tinggi ini masih ada di sini, pikirnya.

“Tidak apa-apa,” Donghae mencoba tersenyum untuk menyakinkan karena pria ini terlihat begitu bersalah.

“Bagaimana kalau ku pinjamkan ponselku? Bukankah tadi kau sedang menghubungi seseorang?”

“Ye?”

Donghae menatap pria ini tidak mengerti. “Kau tidak perlu begitu Tuan, sungguh tidak apa-apa. Biar aku telpon menggunakan telpon umum saja,” tolak Donghae halus.

Namun pria ini tetap bersikekeh agar Donghae menerima tawarannya.

“Ayolah Tuan, sebagai permintaan maafku.”

Karena merasa tidak enak hati akhirnya Donghae menerimanya dan mulai menghubungi seseorang.

“Terima kasih,” Donghae mengembalikan ponsel pria ini.

“Jangan sungkan.”

“Sepertinya kau bukan orang Korea?” Donghae yakin jika pra tinggi ini baru pertama kali datang ke sini.

Pria ini terkekeh, “Ya, ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di negeri kelahiran calon istriku.” sahutnya malu-malu. “Apakah terlihat begitu jelas?”

Donghae tersenyum mengangguk, “Sedikit.”

“Ken!!”

Pria tinggi ini sontak menoleh ke belakang karena mendengar seruan seseorang memanggil namanya. Ia melambaikan tangannya.

“Ah, maaf, aku harus pergi.”

“Ye, silahkan.”

“Senang bertemu denganmu Tuan, semoga kita bisa bertemu lagi. Oh ya, sekali lagi maaf untuk ponselnya.” tunjuknya ke arah tangan Donghae yang menggenggam ponsel berwarna putih. Donghae mengibaskan tangannya, “Jangan dipikirkan dan terima kasih kembali karena kau sudah meminjamkan ponselmu. Tentu saja senang bertemu denganmu.” balas Donghae ramah.

Pria itu mengangguk kemudian melambaikan tangannya setelah cukup jauh berjalan meninggalkan Donghae yang masih berdiri dekat pintu keluar kedatangan dalam negeri.

“Appa!”

Donghae tersentak kaget karena pelukan yang begitu tiba-tiba di tubuhnya. Pria ini menunduk, “Haera-ya! Bogoshipoyo,”

“Nado, Appa.” balas Haera dengan memeluk erat leher Donghae ketika sudah berada dalam gendongan pria ini.

Yookyung tersenyum memperhatikan keduanya.

Hei, ini seperti di film-film saja.

Istri dan anak yang menjemput kepulangan suaminya dari dinas di luar kota.

Oh, betapa bahagia.

Yookyung menggeleng kecil untuk menepis pikiran bodoh itu. Sepertinya ia mulai tidak waras akhir-akhir ini, ck.

“Maaf sudah merepotkanmu, Yookyung-ssi.”

“Tidak apa, aku juga tidak merasa direpotkan sama sekali. Haera anak yang baik,”

“Nde, Eonnie benar Appa. Haera nurut kok.”

“Jincha?”

Haera mengangguk mantap, “Jadi, mana oleh-oleh untukku?” anak ini menadahkan sebelah tangannya yang bebas ke depan Donghae yang menggendongnya.

“Oh itu–mianhae sayang, Appa lupa membeli hadiah untukmu.” Donghae menunjukkan wajah bersalahnya karena melupakan hadiah untuk putri kecilnya ini.

“Appa!!”

Seketika tawa Donghae meledak melihat anaknya merajuk. “Maaf, Appa berbohong. Tentu Appa tidak lupa hadiahnya,”

Haera memukul gemas bahu Donghae dengan tangan kecilnya, sebagai tanda protes karena dibohongi.

“Donghae!”

Donghae yang merasakan sebuah tepukan di bahu kanan segera menoleh kesamping. Pria tampan ini segera tersenyum lebar begitu mengenali pria yang memanggil namanya.

“Presdir Seo..”

“Sedang apa kau di sini, baru bepergian ke luar kota?” Presdir Seo melirik koper yang ada di dekat Donghae.

“Ya,”

Presdir Seo menoleh ke arah Yookyung yang berdiri dekat Donghae.

“Apa ini calonnya Donghae-ya?”

“Nde?” Donghae menatap Presdir Seo tidak mengerti.
Pria baya ini hanya terkekeh mendapati Donghae tidak mengerti maksudnya.

“Kalian terlihat cocok, serasi.” ucap wanita yang sedari tadi diam pada pria disampingnya.

“Benar,”

“Anu–kami buk…”

“Gomapseubnida Nyonya.” Donghae tersenyum ke arah wanita baya ini. Ia mengerti kalimat Presdir Seo tadi.

“Tuan, kita harus segera pergi.” ucap salah satu pria berpakaian rapi pada Presdir Seo yang kemudian dibalas anggukan.

“Baiklah, kami harus pergi. Kalau kau ada waktu mainlah ke rumah. Kurasa Jenni akan senang,”

Donghae mengangguk, “Nde, akan aku usahakan.”

Yookyung terus memperhatikan Donghae yang melambaikan tangan ke arah Presdir Seo serta istrinya.

“Jenni?” gumamnya tanpa sadar sehingga Donghae menoleh dan menatapnya. Gadis ini merasa sedikit kesal mendengar nama itu. Jenni, bukankah itu nama perempuan?

Jadi Donghae dekat dengan gadis lain selain Ji Hyun?

“Ah, Jenni itu anjing husky milik Presdir Seo. Anjing yang lucu,”

Yookyung mengerjap beberapa kali. Apa ia tadi merasa cemburu karena mendengar nama ‘Jenni’ ? Cemburu pada seekor anjing. Aigo…
Dan kenapa pula ia harus merasa cemburu karena Donghae dengan gadis lain?

“Kau kenapa?” Donghae menyerngit bingung karena Yookyung berulang kali menggelengkan kepala.

“Ah tidak,”

“Kau persis sekali dengannya,” pria tampan ini terkekeh.

Yookyung menatap Donghae tidak mengerti, “Aku mirip dengannya–siapa?”

“Raeann,”

Deg

Yookyung merasa detak jantungnya langsung berdetak kencang di dalam rongga tubuhnya. Gadis ini terus menatap Donghae tanpa kedip.

“Appa, Ahjussi itu siapa?”

Astaga, ia melupakan kehadiran putri kecilnya yang sedang ia gandeng.

“Oh itu teman Appa, Ahjussi tadi punya anjing yang lucu, namanya Jenni.”

“Jinchayo?” tatapan Haera langsung berbinar begitu mendengar kata ‘anjing’. Anak ini begitu menyukai binatang satu itu.

“Apa Ahjussi itu punya anak anjingnya?”

“Sepertinya punya, waeyo? Ah–jangan bilang Haera ingin memelihara anjing lagi.” desah Donghae sedikit berlebihan.

“Kau sudah punya dua ekor di rumah sayang,”

“Wae? Di rumah Eonnie saja ada tiga ekor. Ya kan Eonnie?”

Yookyung mengangguk bingung, ia tidak begitu mendengarkan percakapan ayah dan anak ini karena pikirannya melayang entah kemana.

“Nah, lihat kan Appa. Eonnie punya tiga tidak apa-apa,”

“Tentu saja lain, Eonnie bisa mengurusnya sedangkan kau tidak.”

Donghae ingat bagaimana putri kecilnya ini begitu terobsesi dengan anjing lucu, selain dengan hal yang berbau beruang madu– si Winny The Pooh.

“Haera bisa, Appa.”

“Appa tidak ijinkan. Bada dan Meo bahkan jarang kau beri makan. Tidak, tidak. Kajja kita pulang, Appa lelah.” potong Donghae cepat kemudian menggendong Haera dan mulai berjalan. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak rengekan putri kecilnya ini.

Yookyung mengikuti dengan diam. Ia masih berpikir, jika Donghae tidak pernah melupakannya sampai saat ini.

Rasa bersalah itu langsung merayapi relung hatinya karena telah membohongi Donghae.

‘Eomma, sekarang aku harus bagaimana?’

Continue…

18 comments

  1. chapter sebelumnya aku lupa lupa ingat, jadi rada bingung deh:/
    tapi tetep seru kok😀
    cepetan jadiin Yookyung jadi Mommy-nya Haera ^_^

  2. Ini cuma nebak ya.
    Apa Haera anaknya HyukJae sama Mina ya? Kalo egak salah di MFD yang itu Haera bukan anak kandung DongHae ya.

    Hahahaha.😀
    YooKyung cemburu sama seekor anjing.
    Hae egak bakal lupa sama Ann, Yoo.

    Lanjut.

  3. penasaran dg msa lalu hyuk jgn2 haera ank nya… ya ampun td q pkir yg manggil ken tu yookyung n ktmu ma donghae trus donghae tau yookyung clon istrinya ㅋㅋㅋ tryta tdk trjadi!!! eonn next part panjangin lg yeee….

  4. Omo!! tunangan YooKyung dtg?? ><
    wah, bakal serba salah nie YooKyung..
    alesan Yookyung ga mw ngasih tw klo Reann mungkin Ia ga mw Donghae inget ma perasaan'a yg dlu😦
    knp singkat ya, pengen'a aq bca terus.. KEREN!!^^b

  5. Aaaaach jadi penasaran ma k’salahan yg d’bwt hyukjae???? Aaaaigo donghae k’temu ken, dan d’tempat yg sama Yookyung k’temu donghae, aaargh makin penasaran eung?

  6. Kyaaaaaa.. Ada Hyuk Jae. Suka suka suka. Tapi dia malah muncul dengan membuatku sangat penasaran dengan kata-katanya. Adakah hubungannya ma Hae dan Mina?

  7. Kasihan sama Yookyung, jadi perang batin sendiri bingung untuk nentuin..
    Jadi kasihan, ayo semangat Yookyung. Kamu psti jd eomma-nya Haera nanti..
    Wkwkwkwkwk..😀

  8. Aduch.. pnasaran sama ksalahan yg d.buat hyukjae.. jadi makin rumit… donghae ktemu sam ken lagii..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s