Romantic Princess (Hae-Yoo Story) Vol.4

image

Author : Bluerose8692

Title : Romantic Princess Vol.4

Genre : Romance, Family

Length : Series

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung, Kim Kibum

————–o0o————–

“Bagaimana dengan rencanamu Kibum-ah? Apa sudah berhasil?” Ucap seorang pria dengan meraih gelas berisikan vodka. Pria yang di panggil Kibum menarik nafas panjang, “Aku tidak bisa melakukannya, Hyung.” Desah Kibum terlihat berat. Ia tidak berani menatap pria yang sudah ia anggap kakaknya itu.

“Kenapa tidak bisa? Bukankah kau sudah berjanji untuk mengakhirinya setelah gadis itu benar-benar mencintaimu huh? Kau harus ingat Kibum-ah, Kim Joo Hyun yang membuat keluargamu dan keluargaku hancur. Apa kau lupa itu?!” Bentak pria itu sengit.

“Aku tidak lupa, Hyung. Tapi aku benar-benar tidak bisa menyakitinya…”

“Kau bukannya tidak bisa. Kau tidak mau. Karena kau mencintainya!”

Kibum tidak menjawab, pria itu hanya diam karena apa yang di katakan oleh Jae Bum memang benar. Ia mencintai Yookyung. Ia tidak ingin menyakiti gadis itu. Ia tidak bisa melakukannya.

“Kenapa kau diam huh? Apa yang aku katakan benar kan? Kalau kau memang mencintai gadis itu.”

“Nde, aku memang mencintainya, Hyung. Aku tidak bisa melakukan itu padanya, tidak bisa.” Jawab Kibum dengan lirih.

Jae Bum menggeram tertahan, rahangnya mengeras dan tatapannya semakin menajam. “Bukankah sudah aku katakan untuk tidak mencintainya dari awal? Bukankah sering aku ingatkan kau agar jangan menggunakan perasaanmu padanya? Kenapa kau tidak mau menuruti nasehatku?!”

Kibum memejamkan matanya sejenak, “Maafkan aku, Hyung.” Ucapnya pelan dengan menunduk.

“Kau harus ingat baik-baik tentang hal ini Kibum-ah. Kim Joo Hyun, Appa gadis itu yang membuat orangtua kita menderita. Yang membuat kita jadi begini. Dan kau justru mencintai anaknya? Dimana pikiranmu huh?”

“Aku tahu, Hyung. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya. Yookyung tidak tahu apapun yang telah di lakukan Appanya pada keluarga kita. Ia tidak bersalah dalam hal ini. Dia gadis polos..”

“Cukup! Aku tidak ingin dengar apapun lagi dari bibirmu tentang gadis itu. Bagiku, semua keluarga Kim Joo Hyun bersalah, termasuk anaknya.”

Kibum mengepalkan tangannya, “Kau tidak bisa menyangkutkan hal yang Yookyung tidak tahu padanya, Hyung.” Ia berdiri dari duduknya di sofa, menatap Jae Bum yang duduk di hadapannya.

“Kau membelanya?” Tanya Jae Bum sinis, “Tentu kau akan membelanya karena kau mencintainya. Kau pun pasti akan melupakan rencana awal kita, niatmu untuk memanfaatkan gadis itu…”

“Maaf, Hyung.” Kibum menundukkan kepalanya singkat sebelum membalikkan badannya, berjalan menuju pintu rumahnya.

“Tunggu, Kibum-ah!” Sergah Jae Bum cepat.
Kibum menghentikan langkahnya yang tinggal beberapa langkah lagi.

“Apa kau berniat menghentikan ini semua?”

“Ya.”

“Kau…” Jae Bum membulatkan matanya, terkejut dengan jawaban Kibum. “Apa kau sudah gila huh?!” Suara Jae Bum meninggi, menggema di seluruh rumah kecil Kibum.

Kibum berbalik, “Aku tidak gila, aku masih sadar dengan apa yang aku katakan. Aku justru ingin memintamu untuk berhenti melakukan ini semua. Ini hanya akan membuat semua orang sedih, termasuk dirimu, Hyung.” Kibum menatap sendu Jae Bum yang menatapnya tajam. “Coba Hyung maafkan dia. Aku yakin apa yang terjadi dengan keluarga kita dulu bukan sepenuhnya salahnya. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah, Hyung.” Lanjut Kibum dengan sungguh-sungguh.

“Aku tidak akan pernah sudi memaafkan Kim Joo Hyun. Tidak akan pernah! Dan jangan harap.” Tandas Jae Bum sengit.

Kibum menghela nafas pasrah. “Aku tidak akan memaksamu karena itu pun percuma. Maaf Hyung, aku harus pergi.” Kibum membuka pintu dan keluar.

Jae Bum yang kesal dan marah meraih gelas yang ada di meja kemudian melemparnya ke arah pintu yang tertutup sehingga gelas yang menghantam pintu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Nafasnya memburu. Rasa benci yang ada dalam dirinya kini semakin bertambah.

“Kau sekarang sudah berani membangkang eoh? Bagus. Kita lihat saja nanti apa yang bisa kau lakukan setelah ini.” Ucap Jae Bum dengan senyum sinis.

Sebuah rencana yang menurutnya bagus akan ia lakukan.

Kibum yang mendengar teriakan serta bunyi gaduh dari dalam rumahnya hanya mampu memejamkan matanya. “Maafkan aku, Hyung.” Lirihnya sedih.
Ia berniat meninggalkan rumahnya namun langkahnya harus terhenti ketika baru dua langkah. Detak jantungnya berdebar dengan cepat dan tanpa sadar ia menahan nafasnya. Yookyung. Gadis itu berdiri tidak jauh darinya dan kini berjalan mendekat kearahnya.

Apakah gadis itu mendengar apa saja yang ia katakan tadi ketika di dalam? Karena bagaimana pun, suara Jae Bum begitu keras.

“Yoo…”

Yookyung diam, tidak menjawabnya. Gadis itu hanya terus menatapnya lekat dan begitu mereka saling berhadapan, Yookyung segera memeluknya erat. Menangis.

“Yoo… Ada apa?” Kibum mengusap punggung Yookyung yang bergetar hebat. Gadis itu melepaskan pelukannya, “Oppa…”

“Ada apa, hm?” Kibum mengusap pipi Yookyung yang basah oleh airmata. Di tatapnya lembut gadisnya sambil berharap jika Yookyung tidak mendengar apapun tentang kejadian tadi.

“Appa…” Suara Yookyung tercekat. Kibum menggenggam tangannya dan menariknya menjauh dari rumahnya. “Kita cari tempat untuk bicara ne?”

“Kenapa tidak di rumahmu saja?” Ucap Yookyung dengan tersendat.

“Di rumah ada Jae Bum Hyung, dia sedang tidur. Takut mengganggu jadi kita cari tempat lain saja, ok?” Bohongnya. Yookyung hanya mengangguk, mengikuti langkah Kibum yang menuntunnya.

>>>>>

Donghae melihat jam tangannya sekali lagi. Pria itu meraih cangkir kopi yang ia pesan sebelumnya. Ini sudah lebih dari waktu yang di janjikan.

“Maaf, aku datang terlambat.”

Senyum di bibir Donghae seketika tersemat. Ia bangun dari duduknya untuk menyambut kedatangan orang yang di tunggunya sejak tadi.

“Gwaenchana, duduklah.” Donghae menarik salah satu kursi untuk di duduki oleh gadis yang ia tunggu.

“Gamshahabnida,”

Jiri, gadis itu menyerngit heran melihat Donghae yang masih saja tersenyum. “Ada apa?” Tanyanya bingung.

Donghae mengusap tengkuknya, ” Eobseo.”

“Gojitmalyo?” Jiri menyipitkan matanya curiga.

Donghae terkekeh, “Jeongmal eobseyo.”

“Ck, kau tetap tidak mau jujur, sejak dulu.” Cibir Jiri pura-pura kesal.

“Jeongmal eobseo, Jiri-ya… Aku hanya senang karena bisa bertemu lagi denganmu setelah bertahun-tahun.”

“Benarkah?”

Donghae mengangguk degan senyum, “Mullo. Bagaimana kabarmu?” Donghae mencoba berbasa-basi lebih dulu.

“Baik, kau? Aku dengar dari Sunniel kalau kau baru pulang dari Canada. Jadi selama ini kau tinggal disana?”

“5 tahun terakhir. Bukankah kau juga baru pulang dari Paris eoh?”

“Itu 4 bulan lalu, Donghae-ya. Bukan baru..” ralat Jiri.

Donghae hanya tertawa.

“Senyummu tidak berubah,” lirih Jiri sendu. Donghae seketika menatap lekat gadis itu.

“Kau pun tidak banyak berubah,” sahut Donghae yang membuat Jiri tersipu. “Aku dengar kau akan menikah, kapan itu?” Donghae sempat terkejut ketika Sunniel mengatakan jika Jiri akan menikah dalam waktu dekat ini. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya.

Jiri tersenyum, “Bulan depan,”

“Mwo? Aigo… Cepat sekali.” Seru Donghae terkejut.

“Mwoya? Kami ini sudah berpacaran lebih dari 5 tahun. Karena sebentar lagi dia akan tugas ke luar kota, maka pernikahan di percepat.”

“Hm, begitu rupanya.”

“Kau kenapa? Terlihat tidak senang?” Jiri memperhatikan wajah rupawan Donghae. Pria itu tersenyum tipis.

“Kau mengkhawatirkanku?” Godanya yang langsung di hadiahi cubitan kecil di lengan.

“Aku hanya bertanya, pabo.” Decak Jiri.

Donghae mengibaskan tangannya sebagai jawaban kalau tidak ada apa-apa. Ia mengganti topik pembicaraan dengan menanyakan seperti apa calon suami Jiri juga pekerjaanya. Serta mengingat masalalu yang dulu pernah mereka lalui bersama, hingga ia melupakan janjinya untuk memenuhi undangan makan malam bersama keluarga gadis yang akan di jodohkan dengannya.

>>>>>

Yookyung terus memperhatikan Kibum yang sedang melahap makanan yang mereka pesan dengan lahap. Bahkan ice cream strawberry yang di pesannya beberapa menit lalu kini telah mencair karena ia biarkan begitu saja.

“Ada yang ingin kau tanyakan?” Kibum mengangkat kepalanya, menatap Yookyung yang terlihat ragu. Ia tahu jika ada yang ingin di tanyakan oleh gadisnya ini. Dan semoga saja bukan hal yang ia khawatirkan.

“Katakan saja…” bujuknya.

Yookyung memainkan jari telunjuknya satu sama lain. Gadis itu menundukan wajahnya kemudian mengangkatnya lagi. “Eum… Apa Oppa pernah bertemu Appa beberapa bulan lalu?” Ujarnya takut.

Kibum menyerngit, “Kapan?”

“Sekitar 2 bulan lalu, di Hyundai.”

Kibum terdiam. Pria itu langsung menatap lekat gadisnya, “Apa yang di katakan Appamu?” Tanyanya hati-hati dan berusaha biasa.

“Appa bilang, kalau dia bertemu denganmu saat Oppa sedang bersama seseorang. Apa itu benar?” Yookyung tatap lekat pria di hadapannya. Ia berharap-harap cemas dengan jawaban yang akan keluar dari bibir Kibum.

Kibum menarik nafas panjang kemudian mengangguk, “Benar, kami memang pernah bertemu.”

“Saat itu Oppa bersama siapa?”

“Teman,” Kibum menjawabnya terlihat enggan. Dan itu memancing Yookyung untuk ingin lebih tahu.

“Apa teman Oppa seorang gadis?” Lagi, Yookyung menatapnya lekat.

“Kau seperti mencurigaiku, Yoo.” Kibum memicingkan matanya tidak suka.

“Ani, bukan seperti itu Oppa. Aku hanya bertanya saja, apa itu salah?” Kilah Yookyung kalang kabut.

“Tapi pertanyaanmu itu seperti kau tidak percaya padaku. Apa yang Appamu katakan padamu?”

Yookyung kehilangan kata-kata. Ini pertama kalinya ia melihat Kibum terlihat marah. Apa pertanyaan barusan telah menyinggungnya?
Dan apa ia salah jika ia ingin tahu yang sebenarnya?

“Maaf jika pertanyaanku membuatmu marah,” Yookyung langsung berdiri dari duduknya. Kibum sontak terkejut dan ikut beranjak ketika Yookyung meninggalkannya.

“YOO!” Serunya dengan mengejar gadis itu.

Yookyung semakin mempercepat langkahnya ketika jarak Kibum semakin dekat dengannya, bahkan ia sampai menabrak beberapa pejalan kaki karena ia terburu-buru.

Kibum meraih pergelangan tangan Yookyung dan segera menarik gadis itu dalam pelukannya.

“Maaf,” lirihnya di telinga Yookyung. Gadis itu menangis.

“Aku hanya bertanya, kenapa Oppa terlihat marah seperti itu?” Ucap Yookyung di sela-sela tangisnya. Ia abaikan orang-orang yang menatap mereka berdua.

Kibum melepaskan pelukannya. Diusapnya wajah sembab Yookyung dengan lembut. “Mianhae, aku tidak marah padamu, sungguh.” Ucapnya menyakinkan Yookyung. “Aku sedang ada masalah dengan Hyung, maaf sudah melimpahkannya padamu.”

Yookyung mengangguk kecil. Ditatapnya Kibum dengan wajah sembabnya. “Oppa mencintaiku kan?”

“Tentu,” Kibum tersenyum lembut dengan membelai pipi gadis itu.

“Kalau begitu, cium aku.”

Kibum sontak terkejut. Mata sipitnya membulat sempurna, “Kisseu?” Ulangnya. Ia takut salah dengar. Yookyung mengangguk. “Disini?” Lanjutnya lagi.

“Apa kau tidak lihat ini dimana, Yoo?” Desisnya sedikit geram dengan permintaan Yookyung yang tidak melihat keadaan mereka saat ini.

Di jalan.
Ramai oleh para pejalan kaki yang berlalu lalang.

Ada apa dengan gadis ini hari ini?
Apa Yookyung terbentur sesuatu sehingga meminta permintaan yang menurutnya tidak wajar itu?

“Oppa…” Yookyung menarik jaket yang dikenakan oleh Kibum. Pria itu tersadar dari lamunan sesaatnya. Ditatapnya Yookyung yang juga menatapnya.

“Masa disini, Yoo? Bagaimana kalau di rumah saja?” Kibum mencoba menawar.

“Shirreo. Aku mau disini. bukankah kita tidak pernah mencobanya?” Yookyung tersenyum bocah.

Kibum kembali terkejut dengan kalimat Yookyung.

Mencoba berciuman diantara kerumunan para pejalan kaki?

Oh God.
Sepertinya Yookyung memang terbentur sesuatu sehingga meminta permintaan yang begitu aneh ini.

“Ayolah Oppa,” Yookyung merengek dan mulai bertingkah menyebalkan sehingga membuat Kibum frustasi sekaligus gemas.

“Tapi tidak disini, Yoo.” Desah Kibum dengan menatap lekat Yookyung yang menarik-narik jaketnya. Yookyung menatapnya tajam yang justru dimata Kibum terlihat imut.

“Memang apa salahnya jika kita melakukannya disini?”

Kibum menggersah gemas. Ingin sekali rasanya ia cubit kedua pipi Yookyung yang akhir-akhir ini bertambah tembam. “Tapi ini tempat umum, Kyungie.”

“So?”

Demi kodok yang mengorek ingin sekali Kibum mencium gadis itu sekarang juga karena gemas, tapi ini tidak bisa. Ini tempat umum. Ia tidak ingin menjadi tontonan orang.

“Kajja kita cari tempat yang….”

“Kim Kibum?”

Kibum dan Yookyung sontak berbalik untuk melihat siapa orang yang memanggil pria itu.
Seorang wanita yang cukup cantik serta modis berjalan menghampiri mereka. Kibum menahan nafasnya ketika langkah wanita itu semakin dekat dengannya.

“Sedang apa kau disini?” Tanya wanita itu heran. Ia alihkan tatapannya kesamping kiri, dimana Yookyung berada kemudian tangan mereka yang saling terkait. Wanita itu kembali menatap Kibum, “Siapa gadis ini, Bummie?”

Yookyung seketika menoleh kearah Kibum, bertanya-tanya siapa wanita itu.

“Oppa, dia siapa?” Yookyung menatap lekat Kibum yang masih diam.

“Apa yang kau lakukan disini, Noona?” Kibum mengacuhkan pertanyaan Yookyung. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana bisa wanita ini ada disini. Bukankah ia telah pergi ke Jepang bulan lalu? Lalu kenapa sekarang ada disini?

Wanita itu tersenyum dan dengan santainya mengecup pipi Kibum membuat Yookyung terkejut, terlebih Kibum sendiri.

“Noona!” Kibum menyentak tautan tangannya dengan Yookyung tanpa sadar, sehingga Yookyung cukup terkejut. Gadis itu mundur dua langkah.

“Waeyo Kibum-ah? Bukankah kita sudah biasa melakukan ini hm? Bahkan lebih.” Wanita itu tersenyum manis dan mengapit lengan Kibum tanpa canggung. Pandangannya ia alihkan kearah Yookyung yang menatap nanar keduanya.

Bahkan lebih?

Pikiran Yookyung dipenuhi oleh kedua kata itu.

“Benarkah itu?” Desisnya lirih.

“Apa kau Kim Yookyung?” Tanyanya dengan senyum remeh.

Yookyung mengusap pipinya yang basah, “N-nde.”

“Aku, Lee Mida, senang berkenalan denganmu?” Mida mengulurkan tangannya.

“Sillyehabnida, aku harus pergi.” Yookyung langsung berbalik dan berlari meninggalkan Kibum dan Mida tanpa membalas uluran tangan wanita itu.

“YOO!” Kibum berniat mengejar Yookyung namun dengan cepat Mida menahannya.

“Lepaskan aku, Noona.” Kibum menyentak tangan Mida kasar kemudian segera berlari mengejar Yookyung.

Mida tersenyum sinis melihat Kibum yang mengejar Yookyung. Ia merogoh tas tangannya, meraih ponsel kemudian menempelkan ketelinga. “Aku sudah menjalankan perintahmu Bum-ah. Sepertinya gadis itu marah sekarang… OK, kita ketemu di apartemenku.”

Mida memasukan kembali ponselnya kemudian berbalik arah, “Aku akan mendapatkanmu kembali, Bummie.” Lirihnya penuh misteri.

>>>>

Yookyung terus saja berlari tanpa arah sambil menangis. Ia abaikan orang-orang yang di tabraknya serta makian yang terlontar dari mereka. Gadis itu terus berlari menghindari Kibum yang mengejarnya.

Bruk!

Yookyung jatuh terduduk di trotoar, gadis itu mengeluh karena kakinya yang terasa sakit. Dilepasnya higheels yang ia pakai kemudian melemparnya kesembarang arah.

“YA!”

Donghae mengelus pelipisnya yang berdenyut nyeri karena terkena suatu benda keras yang menimpanya. Ia mengelus pelipisnya yang berdenyut. “Aigo… Siapa orang yang melempar sepatu ini huh?” Sungutnya kesal dengan memungut sepatu hak dengan tinggi 10cm itu.
Ia edarkan pandangannya ke kiri kanan dan tatapannya terhenti pada seorang gadis yang duduk menangis dengan menekuk lutut tanpa memakai alas kaki. Ia yakin jika sepatu ini adalah milik gadis itu.

“Hei, Nona?” Donghae mencolek bahu gadis itu.

“Jangan menyentuhku! Khaa!”

Donghae berdecak sebal. “Ya! Harusnya yang marah itu aku Nona, kenapa kau justru mengusirku huh?”

Yookyung mendongak dengan wajah sembab, “Apa? Siapa kau?”

Donghae terpaku selama beberapa detik. Ia ingat wajah ini.

“Bocah?”

“Aku bukan bocah, Ahjussi.” Yookyung menyentak Donghae sebal.

Ia sudah 21 tahun, tapi kenapa orang ini menyebutnya bocah?

“Aku bukan Ahjussi.” Sahut Donghae tak kalah kesal.

Apa umur 28 tahun sudah tua? Atau wajahnya terlihat keriput sehingga gadis itu memanggilnya ‘Ahjussi’?

“Kalau begitu jangan panggil aku bocah.” Yookyung berdiri dari duduknya. Ditatapnya Donghae dengan mendongak, karena tinggi mereka yang cukup terpaut jauh.

Donghae menarik nafas panjang. Urat lehernya bisa putus jika ia meladeni bocah ini, pikirnya.

“Ige, aku hanya ingin mengembalikan sepatumu yang kau lempar mengenai kepalaku.” Donghae mengacungkan sepatu itu kehadapan Yookyung kemudian menjatuhkannya.
“Lain kali jangan lakukan itu lagi jika kau tidak ingin masuk kantor polisi karena telah mencelakai orang dengan sepatumu itu.” Nasehat Donghae sebelum berlalu meninggalkan Yookyung yang terpaku.

“Ya, ya, kajima.” Yookyung segera menyusul Donghae yang sudah berjalan beberapa langkah.

“Aku bilang tunggu dulu, Ahjussi.” Yookyung menarik kemeja yang dikenakan Donghae hingga pria itu berhenti kemudian berbalik.

“Apa? Bukankah kau menyuruhku pergi huh?”

“Joesonghabnida sudah melukaimu Tuan.” Yookyung membungkukan badannya dalam. Donghae menyerngit heran kenapa tiba-tiba gadis ini meminta maaf. Bukankah tadi ia begitu tempramen?

“Sudahlah, tidak apa-apa. Toh aku tidak terluka, hanya nyeri saja,” sahut Donghae mengibaskan tangan kirinya singkat.

Yookyung mengangguk, “Sekali lagi maaf Tuan.”

“Nde,” Donghae mengangguk. “Ak…” Donghae tidak sempat menyelesaikan kalimatnya sebab Yookyung menarik lengannya dan langsung berlari, tentu ia pun jadi ikut berlari mengikuti Yookyung.

“Kyungie, kajima!”

Samar-samar Donghae mendengar teriakan dari arah belakang. Seorang pria mengejar mereka, salah, tepatnya Yookyung.

“Kenapa aku harus ikut berlari bocah?” Tanya Donghae dengan menyamakan langkahnya. Yookyung menoleh sekilas, “Pokoknya lari saja. Jangan banyak tanya.”

“YA! Kim Yookyung, kajima!” Seru Kibum dengan mempercepat larinya.

“Hei, dia terus mengejar. Eotthe?” Yookyung panik ketika menoleh ke belakang Kibum masih mengejarnya.

Donghae menolehkan kepalanya ke samping dan menarik Yookyung untuk memasuki sebuah restoran jepang.

“Kangei doto…” Seorang pramusaji dengan mengenakan pakaian adat jepang langsung menyambut kedatangan mereka.

“Pesan meja untuk dua orang,” ucap Donghae cepat.

“Ha’i. Mari ikuti saya Tuan.”

Donghae menarik Yookyung mengikuti pelayan yang akan membawanya menuju meja yang kosong.
Restoran ini memiliki meja yang bersekat/pemisah dengan meja lain yang cukup tinggi. Dan beruntung Donghae di bawa ke meja yang cukup tertutup sehingga cukup aman untuk bersembunyi. Ditambah resto yang cukup ramai oleh pengunjung.

“Silahkan duduk Tuan, Nona. Ini menunya. Kalau sudah siap memesan silahkan panggil kami.”

“Nde, gamshahabnida.”

Donghae segera meraih gelas yang berisikan air putih di meja, menyerahkannya ke Yookyung. “Minumlah,”

Yookyung menerimanya, “Gamshahabnida.”

Donghae memperhatikan gerak gerik Yookyung yang sedang mengusap keningnya dengan tissue. “Berapa umurmu?”

Gerakan tangan Yookyung terhenti, “Umurku?” Ulangnya.

Donghae mengangguk.

“21 tahun.”

“MWO?! 21 tahun?” Donghae tidak percaya jika gadis itu sudah 21 tahun. Jika dilihat dari postur tubuhnya yang mini, ia terlihat seperti anak sekolahan, masih belasan tahun.

“Kau tidak percaya?” Yookyung membuka tas selempangnya, “Ini KTP-ku.” Di sodorkannya pada Donghae. Pria itu menerimanya dan membacanya baik-baik.

“Aigo… Bahkan di photo pun kau terlihat bocah.” Desahnya dengan menggeleng kecil. Yookyung mengerucutkan bibirnya sebal dan mengambil kartu itu cepat.

“Terimakasih untuk pujiannya, Tuan.”

“Ngomong-ngomong, untuk apa kau menarikku untuk ikut berlari denganmu?” Donghae ingat tadi pertanyaannya belum di jawab.

“Ah itu, refleks.” Yookyung terkekeh kecil. “Maaf, dan terimakasih sudah membawaku kemari sehingga aku bisa menghindarinya.”

“Dia… Orang itu siapa? Kenapa kau berlari untuk menghindarinya? Atau jangan-jangan kau mencuri?” Donghae menyipitkan matanya curiga.

“Enak saja. Aku gadis bai-baik Tuan, jangan menuduh sembarangan. Dan kau tidak perlu tahu alasannya. Sudah, kau pesan apa saja biar aku yag bayar nanti. Anggap sebagai ucapan terimakasih dariku.” Yookyung membuka buku menu yang tadi di berikan oleh pelayan.

“Wah, ada bebek panggang juga. Aku pikir hanya ada ikan..” serunya semangat dengan mata berbinar.

Donghae yang melihat Yookyung begitu bersemangat memesan makanan hanya menggelengkan kepalanya.

Kim Yookyung.

Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?

“YA, kau mau pesan apa Ahjussi?”

Lamunan Donghae buyar karena seruan dari Yookyung, “Lee Donghae. Itu namaku, bukan Ahjussi, arra?’

Yookyung mencibir, “Donghae-ssi… Cepatlah pesan apa saja yang kau suka, aku sudah lapar.”

Donghae mendengus, “Aku pesan sasimi,”

“Baik, silahkan mohon tunggu sebentar, pesanan anda akan kami antar.” Pelayan itu segera pamit setelah memastikan semua pesanan mereka.

Yookyung diam-diam memperhatikan Donghae yang sibuk degan ponselnya. “Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya Donghae-ssi?”

Donghae menatap Yookyung bingung, “Apa yang kau katakan?” Tadi ia tidak begitu mendengar ucapan Yookyung.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kurasa wajahmu tidak asing lagi, aku seperti pernah melihatmu. Tapi dimana? Aku lupa,”

“Kau lupa?”

“Nde?”

Donghae tersenyum tipis melihat raut bingung Yookyung. “Ya, kita pernah bertemu sebelumnya.”

“Dimana?” Yookyung menatap Donghae penasaran.

Continue…

PS : No edit, maaf kalau banyak typo atau EYD yg kurang tepat. #bow

3 comments

  1. Aaaaach ternyata semua’u berawal balas dendam kibum ma orang tua’y Yookyung. Akhir’y Yookyung tau cpa kibum sebener’y meski membuat yookyung kecewa. Lee mida,penasaran ma cwe itu??? Pernah bertemu d’mana ea?? Atw mereka udh pernah k’temu lewat foto, biasa’y sech gtu…

  2. Berawal dari dendam yang akhirnya menjadi cinta. Rumit. Mungkinkah Dong Hae dijodohkan dengan Yookyung? Baguslah, daripada ma Kibum, mending ma si abang ikan. Kekeke… Btw, aku reader baru disini. Ijin ubek-ubek^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s