The Teen Bride (Sequel)

image

Author : Blue Rose Spring

Title : The Teen Bride (sequel)

Genre : romance, Marriage live

Length : Oneshot

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung

————–o0o————

Hari berganti hari dengan cepat, tapi tidak bagi Donghae. Sejak kepergian wanita-istrinya-Yoo Kyung ke Jeju beberapa hari lalu, Donghae merasa tidak bersemangat lagi. Rumah yang biasanya terasa hangat kini tampak dingin karena wanita itu tidak ada di sini. rumah yang biasanya penuh teriakan wanita itu kini tidak Donghae dengar lagi.

Pria itu merindukan istrinya.

Apa berlebihan jika ia merasa kesepian seperti ini? Tidak kan?
Wajar saja bukan jika ia merasa seperti itu?

“Ahhh… Kapan kau pulang Yoo?” Ucap Donghae dengan memandangi layar ponselnya yang menampilkan wajah Yoo Kyung yang sedang tersenyum.

Donghae kembali menyerukan wajahnya pada bantal, menggeram kesal.

Kenapa ia tidak bisa sehari saja tanpa kehadiran wanita itu?
Padahal Yoo Kyung hanya pergi beberapa hari saja untuk seminar. Wanita itu pasti pulang. Tapi kenapa ia merasa begitu menyedihkan begini.

Donghae yang sedang berbaring malas-malasan di ranjang tiba-tiba langsung berlari ke kamar mandi, menuju washtafel. Muntah. Tapi aneh.., tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Hanya mual.

“Astaga, aku pria normal tapi kenapa aku seperti mengalami moring sickness,” gerutunya kesal.

Ting Tong

Dengan malas Donghae melangkahkan kakinya menuju pintu utama untuk melihat siapa tamu yang berkunjung di pagi hari begini.

“Donghae Oppa,” sapa gadis cantik itu riang ketika melihat Donghae berdiri di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan di sini Min Ri-ssi?”

Tanpa menunggu tuan rumah mempersilahkan masuk, gadis bernama Jung Min Ri ini melenggang masuk, “Ya! aku bahkan belum menyuruhmu masuk,” seru Donghae dengan segera menyusul Min Ri yang sudah berada di ruang tamu.

“Rumahmu bagus, Oppa.”

Donghae mendecak sebal. “Cepat pergi dari sini,” usir Donghae galak.

“Mwoga? Kau bahkan belum menyuguhkan minuman untukku kenapa aku harus pergi?” Min Ri meletakan bungkusan yang dibawanya ke atas meja, lalu ia menatap Donghae yang terlihat pucat.

“Kata Eunhyuk kau sakit Oppa, sakit apa, hm?”

“Aku baik-baik saja. Sebaiknya kau cepat pergi sekarang, Min Ri-ssi.”

“Shirreo. Aku sudah datang jauh-jauh dan rela bangun pagi untuk masak kemudian membawanya kesini tapi kau malah mengusirku, tidak berperasaan sekali kau huh.”

“Aku bahkan tidak pernah memintamu datang bukan? Jadi untuk apa kau repot-repot berbuat begini?” Sahut Donghae tajam. Ia tahu jika Min Ri menyukainya sejak ia masuk universitas karena Hyukjae yang memberitahunya. Tapi sayangnya, ia sudah terlanjur mencintai gadis lain. Yoo Kyung, istrinya.

“Oppa!” Min Ri menghentakan kakinya kesal.

“Cepat perg-” Donghae buru-buru membekap mulutnya dengan sebelah tangan dan langsung berlari ke kamar mandi.
Min Ri yang melihat Donghae seperti itu segera menyusulnya, “Lihat, kau sakit kan.. sudah istirahat saja.” Tukas gadis itu dengan membantu Donghae mengurut tengkuknya.

“Aku tidak apa-ap..”

“Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas kau sakit,” gerutu Min Ri jengkel karena kekeraskepalaan pria ini.

“Oppa tiduran saja di sini,” Min Ri membantu Donghaenya berbaring di sofa dan menyelimuti dengan selimut yang kebetulan ada di sana.

“Aku akan panaskan buburnya dulu setelah itu kau makan dan minum obat,” Min Ri segera menuju dapur dan memanaskan makanan yang tadi dibawanya.

Donghae mencoba memejamkan matanya. ‘Yoo… cepatlah pulang’

***

Seorang wanita tampak berdiri dengan kesal di sebuah pintu rumah seseorang. Wanita berambut panjang itu sekali lagi menekan bel rumah dengan tidak sabar. Ini sudah yang ke 5x nya wanita itu memencet bel rumah itu, tapi pintu kayu dengan cat coklat pastel ini masih belum terbuka.

“Huh, tahu begini tadi aku pulang ke apartemen Jae Kyung saja.” Gerutunya kesal.

Yoo Kyung bersiap akan menekan bel lagi ketika pintu terbuka yang disusul dengan seorang gadis berambut sebahu dari dalam rumah.

“Kau… Siapa?” Tanyanya terkejut.
Bagaimana Yoo Kyung tidak terkejut kalau di dalam rumahnya ada seorang gadis yang tidak ia kenal. Apa yang dilakukan gadis itu di dalam rumahnya? Kemana Donghae, suaminya?
Apa jangan-jangan…

“Seharusnya aku yang bertanya padamu Nona, kau itu siapa dan ada perlu apa?”

Yoo Kyung mencoba menormalkan detak jantung dan emosinya yang mulai menguar. Ia harus bertanya baik-baik, tidak boleh emosi.

“Aku yang tinggal di apartemen ini Nona.” Yoo Kyung memberikan sedikit senyum, “Aku, Lee Yoo Kyung.” Lanjutnya dengan mengulurkan tangan kanannya.

“Lee Yoo Kyung? Setahuku, yang tinggal di apartemen ini adalah Lee Donghae, bukan Lee Yoo Kyung. Mungkin kau salah alamat.”

Yoo Kyung mendesis geram, “Aku tidak salah alamat Nona. Ini memang rumahku.” Tegas Yoo Kyung kesal.

“Oh ya? Atau, jangan-jangan kau salah satu dari fans Donghae Oppa huh? Dan mengaku kalau ini rumahmu agar kau bisa masuk ke dalam. Iya kan? Ayo, mengaku saja.” Tuduh gadis itu sinis.

“Enak saja menuduh orang sembarangan! Seharusnya aku yang bertanya padamu Nona, kau itu siapa huh?!”

“Aku, Jung Min Ri. Kekasih Donghae.”

Demi burung onta yang berleher panjang dan pelari cepat, ingin sekali ia menendang gadis ini ke gurun sahara karena sudah lancang bicara. Apa katanya tadi? Kekasih?

Yoo Kyung mengepalkan tangannya erat. Pikirannya semrawut. Ia sudah cukup pusing setelah ia pulang dari Jeju untuk mengikuti seminar. Dan ia cepat pulang agar ia bisa cepat bertemu suaminya, tapi ketika sampai di rumah justru bukan suami yang menyambut kedatangannya melainkan seorang gadis yang mengaku sebagai kekasih Donghae. Menjengkelkan.

Yoo Kyung memejamkan matanya sebentar kemudian menatap gadis itu tajam. “Ini rumahku Nona. Minggir.” Yoo Kyung menerobos masuk ke dalam rumah dan berteriak memanggil Donghae.

“YA!!!”

Yoo Kyung tidak memperdulikan teriakan gadis itu. Ia terus berjalan dengan cepat menuju satu ruangan yang ia yakini bahwa suaminya itu ada disana. Dan ia butuh penjelasan atas kalimat yang diucapkakan oleh gadis tidak dikenalnya ini.

‘Benar-benar pria kurang ajar! Aku tinggal 3 hari, kau berani membawa masuk seorang gadis. Awas saja..’ geram Yoo Kyung dengan melangkah menuju kamar.

“Lee Donghae!!!” Yoo Kyung membuka pintu kamar mereka dengan kasar. Ia melihat Donghae sedang memakai bajunya yang kemudian terkejut karena mendengar namanya dipanggil.

“Yoo-ya…” Pekiknya senang kemudian langsung berlari ke arah Yoo Kyung yang sedang berdiri di ambang pintu kamar dan dibelakangnya ada Min Ri, teman sekelasnya.

“Ah, akhirnya kau pulang juga. Kau tahu, aku sudah merindukanmu. Tidak bertemu denganmu 3 hari saja aku sungguh merana Yoo.” Cerita Donghae dengan wajah berbinar karena bisa melihat kembali istrinya. Tapi kemudian senyum itu meredup begitu sadar arti tatapan Yoo Kyung padanya.

“Wae?”

“Siapa gadis ini Oppa?” Yoo Kyung seketika menolehkan kepalanya menatap gadis itu tajam. Ia sama sekali tidak suka ketika gadis ini menyebut Donghae dengan panggilan ‘Oppa’.

Cemburu kah?

Jawabannya tentu saja, iya.
Oh ayolah, siapa yang tidak cemburu begitu melihat tatapan penuh minat pada suaminya? Pasti semua istri akan merasa cemburu bukan, meskipun hanya sedikit.

Donghae menatap keduanya bergantian. “Sebenarnya ada apa ini? Aku tidak mengerti.”

“Siapa dia Donghae-ssi?” Ulang Yoo Kyung dengan malas. Ia merasa lelah dan ingin istirahat. Tapi ketika sampai di rumah justru begini.
“Apa ini yang kau bilang tidak bisa menjemputku di bandara? Karena sibuk berduaan dengan gadis lain huh? Umur pernikahan kita saja baru menginjak 10 bulan, belum genap 1 tahun, tapi kau sudah berselingkuh. Hebat.”

Donghae melebarkan matanya, tercengang dengan tuduhan istrinya itu.

“Anniya! Aku tidak berselingkuh Yoo.”

“YA!! Oppa, sebenarnya siapa gadis ini huh?” Min Ri merangkul lengan Donghae dari samping. Dan itu cukup membuat Yoo Kyung menghela nafas, lagi.

“Donghae-ssi, jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa benar gadis ini kekasihmu?”

“Nde.”

“Anniya!”

Donghae dan Min Ri menjawab bersamaan dan berbeda. Donghae menghentakan tangan Min Ri yang merangkul lengannya kasar. Ia langsung menggenggam kedua jemari Yoo Kyung, meremasnya gusar.

“Bukan Yoo. Dia hanya teman sekelasku saja. Kami tidak ada hubungan apa-apa, sungguh.”

“Lalu, kenapa dia ada di rumah kita?”

“Kita? Ini rumah Donghae Oppa, Yoo Kyung-ssi.” Sela Min Ri sinis.

“Shut Up!” Donghae menatap tajam Min Ri membuat gadis itu seketika menunduk diam, takut.

“Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian berdua. Aku akan pergi dari sini.” Yoo Kyung melepaskan tangannya dari genggaman Donghae. Berbalik pergi menuju pintu keluar.

“Yoo, kajima!” Donghae segera menghentikan langkah Yoo Kyung dengan memeluknya.

“Kau selesaikan masalahmu Oppa. Aku memberimu waktu untuk berpikir. Kau mau melanjutkan pernikahan ini atau cukup sampai disini. Kalau kau sudah menemukan jawabannya, aku menunggu di rumah Eomma besok.” Yoo Kyung melepaskan pelukan Donghae dan berlalu tanpa sedikitpun menolehkan kepalanya. Ia tidak akan sanggup menahan airmata bila harus melihat betapa menyedihkannya Donghae saat ini. Tidak. Ia ingin memberi waktu untuk Donghae berfikir.

“Oppa..” Min Ri menyentuh bahu Donghae yang bergetar. Namun pria itu langsung menepisnya kasar.

“Pergi dari sini sekarang juga, Min Ri-ssi. Aku ingin sendiri.” Tukasnya dingin.

“Tidak,” Min Ri menolak. “Aku akan tetap disini.”

“Untuk apa kau disini huh? Aku tidak membutuhkanmu. Aku membutuhkan istriku, Yoo Kyung. Bukan dirimu!”

“Dia bukan istrimu Oppa.”

Donghae menarik lengan Min Ri kasar agar mengikutinya. Ia membuka pintu kamarnya lebar.

“Lihat baik-baik photo yang ada di figura itu! Itu aku dan Yoo Kyung. Kami sudah menikah setelah lulus SHS.”

Min Ri menggelengkan kepalanya keras. Ia tidak percaya. Ia ingin menepisnya. Tapi ini nyata. Di photo itu, pria yang mengenakan jas putih dan seorang gadis dengan gaun pengantin memang Donghae dan Yoo Kyung.

Ia memang sempat mendengar kabar bahwa Donghae dan Yoo Kyung telah menikah, tapi ia mencoba menyangkalnya. Ia sengaja datang kerumah Donghae hari ini karena ingin membuktikan bahwa gosip itu salah. Tapi kini, semuanya jelas. Perkataan Hyukjae memang benar, bahwa Yoo Kyung dan Donghae telah menikah. Mereka pasangan suami istri. Dan ia lah penyebab pertengkaran mereka saat ini. Tapi, ia pun tidak bisa menampik perasaan ini, ia mencintai Donghae. Sangat.

“Pergi.”

“Oppa..,”

“Kumohon, pergi dari sini Min Ri-ssi. Aku ingin sendiri.”

Min Ri tidak menjawabnya, gadis itu hanya mengangguk mengerti. Ia meninggalkan Donghae yang sedang terduduk di lantai yang dingin dengan wajah sembab.

“Yoo… Maafkan aku,” lirih Donghae dengan menangis. Ia sangat takut kehilangan istrinya itu.

Ia ingin menyusul Yookyung kemudian menjelaskan semuanya, tapi sepertinya terlamabat. Biarlah untuk saat ini Yookyung menenangkan pikirannya lebih dulu baru ia bicara.

**

Ketukan pintu yang kemudian di susul dengan pintu yang terbuka membuat Yoo Kyung menoleh ke arah pintu kamarnya. Wanita yang telah melahirkannya itu berjalan mendekat dengan membawa semangkuk sup gingseng yang dimintanya beberapa menit lalu, ketika ia sampai di rumah orang tuanya.

Kedatangan Yoo Kyung yang tiba-tiba tentu saja membuat kedua orang tua itu heran, apa lagi, putrinya itu datang seorang diri dengan keadaan yang cukup kacau. Mata sembab dan wajah pucat. Ditambah udara yang cukup dingin karena sekarang musim gugur, sungguh membuat Nyonya Kim bertanya-tanya. Apa yang telah terjadi dengan putri satu-satunya ini?

“Makanlah,” ucap wanita berumur 45 tahun ini halus. Yoo Kyung mengangguk kemudian menyuapkan sesendok sup ke dalam mulutnya.

“Kau tidak ingin menemui Donghae hum?”

Perkataan Nyonya Kim membuat Yoo Kyung tersedak sup yang sedang dicicipnya. Ia segera menatap sang ibu dengan mata membulat kaget.

“Donghae datang dan dia ada di bawah sekarang. Tapi, karena Appa melarangnya masuk dia menunggu di luar. Appa marah dengan Donghae karena membuatmu menangis.” Urai Nyonya Kim dengan mengelus rambut panjang Yoo Kyung.

“Biar saja, apa peduliku.” Sahut Yoo Kyung berusaha acuh dan kini ia kembali sibuk dengan sup yang dibawa ibunya tadi.

“Jangan seperti itu Yoo, tidak baik. Kalian perlu bicara dan menyelesaikan ini secara baik-baik. Beri dia kesempatan untuk menjelaskannya, apa yang sebenarnya terjadi. Kau tidak boleh mengambil kesimpulan sendiri seperti ini, menuduh Donghae berselingkuh.”

“Eomma! Sebenarnya yang anak Eomma itu siapa huh? Aku atau Donghae? Kenapa Eomma justru membela Donghae? Ishh!” Yoo Kyung meletakan sendok yang dipegangnya dengan kasar. Ia berdiri dari duduknya di kursi belajar berganti duduk di ranjang.

Nyonya Kim menggelengkan kepala pelan. Ia pikir, setelah menikah Yoo Kyung akan merubah sifat childishnya ini, tapi ternyata tidak.

“Coba kau lihat Donghae di bawah sana Yoo. Dia tidak bergeming dari duduk bersimpuhnya di sana. Sejak Appa menyuruhnya pergi dari rumah, Donghae tetap di sana, di bawah pohon cemara itu.” Nyonya Kim menunjuk Donghae yang ada di bawah sana dari jendela kamar Yoo Kyung.

Ia tadi sempat menemui Donghae untuk menyuruhnya pulang saja dan kembali besok, tapi menantunya itu menolak dan bersikukuh untuk tetap ada di sana sampai Yoo Kyung turun dan memaafkannya. Keras kepala.

“Eomma akan turun untuk masak makan malam, renungkan apa yang Eomma katakan tadi. Semarah apapun kau pada suamimu, bicarakan dulu dengan pikiran dingin. Jangan asal mengambil keputusan yang nantinya akan membuatmu menyesal dikemudian hari.” nasehat Nyonya Kim sebelum pergi meninggalkan Yoo Kyung yang terdiam.

—–*—-

Hari beranjak larut. Pendar kekuningan memenuhi langit barat. Semilir angin musim gugur membawa daun kering tertebaran memenuhi jalanan.

Donghae masih tetap ada di posisinya sejak siang tadi. Pria itu tidak beranjak sedikitpun. Tetap duduk bersimpuh di bawah pohon cemara di halaman rumah kediaman keluarga Kim.

Rasa pegal yang dirasakan kakinya tidak ia perdulikan. Rasa dahaga akibat sengat matahari siang tadi tidak ia hiraukan. Bahkan ia lupa bahwa perutnya belum terisi apapun sejak pagi.

Ketika Min Ri datang ke apartemennya tadi pagi, Donghae baru bangun tidur. Pria itu malas sekali untuk melakukan aktivitasnya sepeninggal Yoo Kyung ke Jeju 3 hari lalu. Ia bahkan membolos masuk kuliah di hari kedua Yoo Kyung pergi. Ia tidak bersemangat sama sekali.
Tidak melihat Yoo Kyung dalam sehari, benar-benar merasa kehilangan. Terasa hampa.

Donghae mengusap peluh yang berada di keningnya dengan tangan. Angin yang bertiup cukup terasa membuatnya merinding.

“Sial, aku tidak pakai jaket.” Keluhnya ketika sadar ia hanya memakai kaos lengan panjang. Karena terburu-buru ia sampai lupa memakai jaket yang dibawanya.

Pria itu menengadahkan kepalanya, menatap jendela kamar Yoo Kyung yang tertutup tirai putih tipis.

“Yoo… Ku mohon keluarlah, aku ingin menjelaskannya.” Seru Donghae untuk kesekian kali. Pria itu tidak berhenti berteriak memanggil nama Yoo Kyung agar wanita itu mau menemuinya.

“Yoo…”

Pletak!

Donghae mengelus kepalanya yang terkena sesuatu. Ia menoleh ke samping, boneka dolphin. Ia pungut boneka itu dan mengusapnya, menghilangkan kotoran yang menempel di boneka itu. Ia ingat boneka ini, boneka yang ia dapat saat main game bersama Kyuhyun di area pusat perbelanjaan saat SHS dulu. Ia memberikan boneka ini untuk Yoo Kyung karena ia tahu wanita itu sangat menyukai apapun yang berjenis lumba-lumba dan kucing.

“Yoo Kyung, dengarka–”

“Bisakah kau diam huh?! Kau mengganggu para tetangga dengan suara jelekmu itu, ikan bodoh! Pulang saja sana. Aku tidak ingin menemuimu. Bukankah aku sudah memberimu waktu hingga besok, jadi temui aku besok saja.” Seru Yoo Kyung dari kamarnya tanpa memperlihatkan dirinya. Ia bersembunyi di samping jendela.

Donghae menggelengkan kepala keras.

“Aku tidak mau! Aku ingin bicara sekarang Yoo.”

Yoo Kyung tidak menyahut. Wanita itu diam dengan sesekali mengintip dari celah horden jendela yang transparan. Donghae terlihat pucat. Tidak terlihat baik-baik saja.
Sebenarnya ia tidak tega berbuat seperti ini, tapi ego yang membuatnya begini.

“Baiklah, aku mengerti,” suara Donghae kembali terdengar. “Aku tahu kau marah, kecewa padaku. Tapi, bisakah kau beri aku kesempatan untuk menjelaskannya? Aku dan Min Ri, tidak ada hubungan apapun. Kami hanya sebatas teman. Dia memang menyukaiku, tapi aku tidak. Aku hanya mencintai satu wanita, yaitu kau. Kau, wanita yang aku cintai hingga detik ini ataupun seterusnya. Hanya kau yang akan aku cintai Yoo…”

Yoo Kyung tidak mendengar suara Donghae lagi. Ia terdiam.
Ia merasa trenyuh mendengar penuturan suaminya itu. Ia mencoba mengintip lagi, tapi kali ini ia terbelalak melihat Donghae terkapar di rumput bawah pohon cemara.
Wanita itu lantas berlari kelimpungan menuju pintu kamar.
Ia bahkan mengabaikan Nyonya Kim yang menanyakan ada apa, karena Yoo Kyung begitu terburu-buru menuruni tangga.

“OPPA!!” Yoo Kyung langsung menubruk Donghae yang tidak sadarkan diri. Ia tepuk pipi Donghae bergantian, tidak ada respon. Pra itu tetap diam dengan mata terpejam.

“Omo! Oppa, kau demam! Eomma, bantu aku!” Yoo Kyung berteriak seperti orang kesetanan. Ia berusaha memapah Donghae ketika Nyonya Lee datang dengan langkah tergopoh-gopoh.

“YA! Ada apa dengan Donghae, Yoo?” Cecarnya panik dan ikut membantu Yoo Kyung memapah Donghae masuk kedalam rumah.

“Pingsan Eomma,” jawabnya dengan menangis. Ia menyesal tidak menuruti nasehat ibunya untuk menemui Donghae.

Kini Donghae pingsan dan demam.

“Baringkan Donghae, Eomma akan ambil kompresan dan obat.”

Yoo Kyung mengangguk patuh dan membaringkan Donghae di ranjang. Mereka membawa Donghae ke kamar tamu. Tidak mungkin mereka memapah Donghae ke kamar Yoo Kyung di lantai 2, itu melelahkan.

Nyonya Kim kembali dengan baskom berisi air hangat dan kain untuk mengompres Donghae. Ia meletakannya di bawah samping ranjang.

“Kau kompres Donghae, Eomma akan buat bubur. Obatnya Eomma letakkan di sini. Nanti Han Ahjuma akan membawakan air minum.”

Yoo Kyung kembali mengangguk. Ia mengambil kain dan memasukannya ke dalam baskom berisi air hangat.

“Nona, ini air minumnya.” Suara Han Ahjuma menginterupsi kegiatan Yoo Kyung sejenak.

“Ghamsahamnida,”

Han Ahjuma mengangguk kemudian pamit pergi setelah membalas ucapan Yoo Kyung.

Dengan telaten Yoo Kyung mengganti baju Donghae dengan yang bersih. Wanita itu melakukannya sambil menangis. Ia sangat menyesal.
Mungkin ini tidak akan terjadi bila ia mengesampingkan egonya dan menemui Donghae untuk bicara baik-baik. Suaminya ini pasti saat ini sedang tertawa manis bila ia sedang bercerita mengenai selama ia di Jeju.

Ah, betapa ia merindukan senyuman pria ini. Sentuhan lembutnya dan juga betapa cemburunya pria ini. Ia merindukan semua yang ada dalam diri suami ini.

“Yoo,” gumaman lirih itu menghentikan tangis Yoo Kyung. Wanita itu langsung menggenggam tangan Donghae erat.

“Oppa..,”

“Cengeng,” lirih Donghae begitu ia membuka matanya yang disambut tangis istrinya.

“Mianhata, Oppa.” Yoo Kyung mengucapkannya dengan tersendat. Tenggorokannya terasa tercekat. Tapi ia sedikit merasa lega karena Donghae kini telah sadar.

Donghae menepuk bantal disebelahnya, mengisyaratkan agar Yoo Kyung berbaring disampingnya.

Wanita itu menurut, membaringkan tubuhnya dan merapatkan pelukannya. Menempel dengan tubuh Donghae yang panas.

“Maafkan aku.” Ucap Donghae dengan mengeratkan pelukannya di pinggang Yoo Kyung.

“Anni, bukan Oppa yang meminta maaf. Tapi aku. Mianhamnida yeobo,” Yoo Kyung mendongak, menatap Donghae dari jarak yang begitu dekat.
Ia bisa merasakan hembusan nafas Donghae yang terasa panas, apalagi ketika bibir mereka bertemu.

“Jangan marah lagi eum? Kau tahu, aku sangat takut kehilanganmu tadi. Aku takut kau akan meminta cerai dariku karena kau tidak percaya padaku.”

“Tidak akan.”

“Janji?”

“Janji.”

Donghae semakin menarik Yoo Kyung agar lebih merapat ke tubuhnya. Ia merindukan wangi ini. Bunga mawar yang menguar dari rambut panjang Yoo Kyung. Juga wangi bunga sakura, parfum favorit istrinya. Ia merindukan semua yang ada pada diri Yoo Kyung.

“Boleh aku bertanya Yoo?” Donghae membuka percakapan setelah lama terdiam.

“Hm, apa?”

“Apa kau cemburu?”

“Pertanyaan bodoh.”

“Ayolah Yoo, jawab saja.” Gemas Donghae tidak sabar.

“Mana ada istri yang tidak cemburu jika ada seorang gadis ada di rumah bersama suaminya tanpa ikatan apapun. Dan yang lebih membuatku kesal itu, gadis itu mengaku sebagai kekasihmu.” Gerutu Yoo Kyung kesal ketika ingat kalimat yang diucapkan Min Ri, bahwa gadis itu adalah kekasih Donghae.

“You’re jealous Mrs Lee, right?”

Yoo Kyung tidak menjawabnya, ia hanya membenamkan wajah tersipunya di dada Donghae. Pria itu terkekeh mendapati reaksi Yoo kyung yang seperti itu.

“Kupikir, kau tidak akan pernah cemburu padaku.”

“Hei, tentu saja setiap orang dapat merasakan yang namanya cemburu Oppa. Terlebih yang mempunyai pasangan. Dan aku ini istrimu.” Cibir Yoo Kyung dengan menepuk pelan dada Donghae.

“Arra, arra.”

“Yoo,” Donghae kembali memanggilnya.

“Ye?”

“Apa kau tidak merasa kalau keluarga kita kurang sesuatu hum?”

“Apa maksudmu Oppa?” Yoo Kyung melonggarkan pelukannya untuk memandang Donghae. Pria itu tersenyum kikuk.

“Itu…, maksudku…”

“Ah tunggu. Ada kabar bagus untukmu Oppa,” Sela Yoo Kyung cepat. Donghae menatapnya bertanya-tanya.

“Seharusnya aku jadikan kejutan saat ulang tahunmu, tapi sekarang juga sepertinya sama saja.”

“Apa?” Potong Donghae tidak sabar.

Yoo Kyung menggenggam sebelah tangan Donghae kemudian menuntunnya menuju perutnya yang masih datar. Ia tersenyum manis.

“Aku hamil, Oppa.”

“Nde?!”

Yoo Kyung mengangguk, “Nde, aku hamil 3 minggu. Saat di Jeju aku pingsan dan Jae Kyung membawaku ke rumah sakit untuk periksa. Dokter mengatakan bahwa aku sedang mengandung 3 minggu.”

“Jinchayo?”

“Hm. Aku bahagia sekali. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Tapi aku tidak mengalami morning sickness Oppa. Aneh bukan?” Ujar Yoo Kyung polos. Donghae mengeratkan pelukannya.

“Tentu saja kau tidak, karena aku yang merasakannya.”

“He?”

“Nde, 3 hari ini aku mual-mual dan pusing. Bahkan hari ke 2 kau pergi aku tidak masuk universitas karena tidak berhenti bolak-balik kamar mandi, sampai badanku lemas.” Cerita Donghae. Sebenarnya, ia sudah menduga sebelumnya. Hanya saja, ia tidak yakin karena Yoo Kyung tidak ada disampingnya. Ia ingin menelpon untuk menanyakan keadaan istrinya itu, tapi ia takut mengganggu konsentrasi Yoo Kyung sehingga ia mengurungkan niatnya.

“Ah mianhae Oppa, kau pasti susah.” Sesal Yoo Kyung dengan rasa bersalah. Ia tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Donghae bila setiap pagi harus mual-mual seperti orang hamil.

“Tidak apa-apa. Aku justru bersyukur bukan kau yang merasakannya. Kalau kau yang seperti itu, aku tidak akan tega melihatnya.” Bisik Donghae dengan menatap dalam Yoo Kyung.

Yoo Kyung tersenyum penuh arti. “Gamawo untuk semuanya, Oppa. Aku mencintaimu.” Yoo Kyung langsung mengecup bibir Donghae singkat sebagai luapan rasa bahagianya.

“Aku pun berterimakasih padamu karena kau bersedia menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Dan ini adalah hadiah ulang tahun paling indah yang aku dapat darimu, dan tentu saja tidak akan aku lupakan.” Balas Donghae tidak kalah bahagianya.

Keduanya tersenyum bahagia. Merasakan luapan rasa bahagia yang memenuhi dadanya. Rasa yang begitu meluap-luap.

“Aegi-ya.., tumbuhlah dengan baik di dalam sini eoh. Jangan buat Eomma lelah ne? Jadilah anak yang baik dan penurut. Appa sangat menantikan kehadiranmu.”

Yoo Kyung tidak sanggup lagi menahan laju airmatanya. Ia merasa terharu dengan kalimat Donghae ketika berbicara pada calon bayi mereka, dengan tangan yang mengelus lembut permukaan perutnya.

“Oppa…,”

“Aih.., jangan menangis Yoo. Uljima hum?” Donghae menghapus jejak airmata di pipi Yoo Kyung kemudian mengecup kedua pelupuk mata istrinya, merambat turun ke hidung kemudian pipi dan terakhir bibir manis dengan rasa strawberry, rasa favoritnya dan akan selalu mejadi kesukaannya sampai kapanpun.

“Saranghanda Lee Yoo Kyung.”

“Nado saranghanika, Oppa.”

Keduanya tersenyum sebelum kembali saling memanggut. Meluapkan rasa bahagia mereka dengan sentuhan dan kecupan.

“Ah.., syukurlah mereka baikan.” Ucap Nyonya Kim lega begitu melihat kedua anak itu telah berbaikan.
Nyonya Kim tadinya ingin mengantarkan bubur untuk Donghae, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar kedua anak itu berbicara. Ia memilih untuk mendengarkan.

“Eh tunggu! Tadi aku tidak salah dengar kan? Yoo Kyung hamil. Kyaaaaa!!! Ini berita bagus. Aku akan menjadi nenek dalam 9 bulan kedepan. Ah! Yang lain harus tahu tentang hal ini, terutama besan.” Nyonya Kim langsung pergi menjauh dari kamar tamu. Ia langsung menyambar gagang telpon untuk memberitahukan kabar bahagia ini pada keluarga besarnya. Pasti semuanya akan heboh dan senang.

Bahagiaku bila kau ada disampingku.
Bahagiaku jika aku dapat melihat senyum lembutmu, suaramu dan apa yang ada pada dirimu.
Semua itu adalah sumber kebahagianku atas cintaku padamu.

Finish!

13 comments

  1. Benar kan Yoo hamil,, chukkae,,
    Hae jjang😛
    Tapi pengen afstor ato ga sequel lagi,,
    Pengen liat masa hamil n ngelahirin ny Yoo,,,
    Hehehe
    Good job thor,,

  2. seorang suami bisa ngrasain morning sickness itu kan sweet banget kasian sich tapi malah romantis seenggaknya yoo kyung ntar yang ngrasain juga pas melahirkan impas kan jadinya hehehehe
    lagian tuh perempuan gatel maen ngaku” laki orang kekasihnya aja dasar min ri sinting
    masalahnya udah clear ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s