Romantic Princess (Hae-Yoo Story) Vol 5

image

Author : Bluerose8692

Title : Romantic Princess Vol 5

Genre : Romance, Family, Sad, Conflict

Length : Series

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung, Kim Kibum, Others.

—————-o0o—————

Jinjeonghan saranghae cheongmunhoeneun mueseul malhaji ahseubnida.
Seolmayeongdeoji ahneun geaseul alsuisseubnida. Sarangeun ibnul, hyeottoneun maeumsseo oji anhgi ttaemunibnida. Georeona maeumsseo.

©©©

Donghae menatap lekat Yookyung dengan senyum serta menopang dagu dengan sebelah tangan. Gadis berambut panjang lurus itu menyerngit semakin bingung ketika Donghae justru menyuruhnya mengingat kejadian apa saja yang dialaminya ketika di Myeongdong beberapa waktu lalu.

“Sudah ingat?” Donghae bertanya setelah cukup lama Yookyung terdiam.

“Eum… Maaf, ingatanku kurang bagus, jadi tidak ingat,” lirih Yookyung dengan senyum canggung. Ia sudah berusaha untuk mengingatnya tapi tidak ingat juga.

“Kau ingat orang yang menabrakmu dan kau terjatuh?” Donghae menyuapkan sasimi dalam mulutnya kemudian memandang Yookyung yang lagi-lagi berpikir dengan kepala dimiringkan.

“Ahjussi itu? Yang menabrakku dan membuat bajuku kotor,” ujar Yookyung tidak yakin. Namun Donghae membenarkan dengan mengangguk kecil.
“Itu kau Donghae-ssi?” Yookyung menatap Donghae tidak percaya. Orang itu… yang sudah ia maki dan membuatnya kesal karena telah mengotori baju pemberian Kibum saat ulang tahunnya yang ke 22 tahun.

Ya ampun…

“Ya.”

“Tapi, waktu itu sepertinya kau…”

“Potong rambut.” Sela Donghae cepat. Yookyung mengangguk. Saat ia bertemu dengan Donghae waktu itu rambut Donghae cukup panjang, hampir sebahu dan sekarang sudah pendek serta rapi. Wajar saja jika ia merasa pernah melihat Donghae sebelumnya.

“Apa kau masih sekolah, Yoo? Boleh kan aku panggil begitu? Biar lebih nyaman saja.”

“Terserah saja. Aku semester akhir di Yonsei,”

Donghae seketika menghentikan acara makannya, “Wae?” Yookyung menatap bingung.

“Kau semester akhir di Yonsei?”

Yookyung mengangguk, “Nde, Management Bussines.” Jelas Yookyung karena Donghae masih tidak percaya. Donghae memijit pelipisnya, bukan pening ataupun sakit kepala. Ia hanya tidak menyangka jika gadis ini adalah salah satu mahasiswa bimbingannya. Kemana ia selama ini eoh? Kenapa ia tidak tahu? Padahal ia mengajar di sana sudah hampir 2 minggu.

“Kau masuk di hari apa saja?”

Yookyung semakin menyerngit, “Memang kenapa?”

“Karena aku salah satu pembimbingmu, tapi aku tidak pernah melihatmu masuk di kelasku.”

Kini Yookyung dibuat menganga. Ia sangsi jika Donghae ini seorang Dosen Pembimbing. Tidak ada yang menyakinkan jika pria tampan dengan sorot mata meneduhkan ini seorang pengajar.

“Yoo…”

“Eoh?” Yookyung tersentak kaget. “Aku masuk hari senin, rabu dan sabtu, siang hari.”

“Oh pantas saja. Aku hanya mengajar di hari selasa dan kamis pagi.”

“Sudah berapa lama kau mengajar disana Donghae-ssi? Eum… Atau aku panggil kau ‘seongsangnim’?” Yookyung merasa sedikit tidak enak hati jika hanya memanggil Donghae tanpa embel-embel, biar bagaimanapun ia seorang guru.

Donghae tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, lagi pula ini di luar, bukan di area universitas.” Yookyung mengangguk mengerti.

Setelahnya mereka saling bertukar cerita satu sama lain. Yookyung maupun Donghae bahkan tidak sadar jika hari telah larut hingga mereka memutuskan untuk segera menyelesaikan makan mereka lalu pulang.

©©©

Rindu. Sebuah perasaan ingin bertemu dengan sesuatu atau seseorang. Rasa rindu itu akan kian bertambah jika kau menyangkalnya. Dan itulah yang kini terjadi pada seorang gadis yang berbaring dengan gelisah di ranjang tidurnya. Yookyung.

Sudah berulang kali Yookyung menimang ponselnya lalu meletakannya lagi. Bimbang. Antara ego atau menuruti hatinya. Ia marah pada Kibum, tapi ia juga rindu. Ingin mendengar suaranya barang sebentar. Ia sudah menghindari Kibum selama 2 hari. Sebelumnya, ia tidak pernah bisa marah lama dengan pria itu.

“Aahhhh…. Lama-lama aku bisa gila kalau begini,” gerutunya kesal lalu menutup wajahnya menggunakan boneka dolphin besar pemberian Kibum.

“Ok, kesampingkan egomu sesaat Yoo.” Ucapnya pada diri sendiri. Yookyung menarik nafas dalam beberapa kali untuk meredakan gejolak dalam dada juga jantungnya. Diraihnya ponselnya kemudian menempelkannya ke teliga begitu sambungan tersambung.
Gadis itu menunggu beberapa saat hingga terdengar suara dari seberang sana.

“Yeobseyo, Op-” Kalimat Yookyung terhenti seketika begitu orang yang menjawabnya justru orang lain. Wanita. Yookyung yakin itu suara wanita.

“Oh? Aniya, tidak ada. Maaf mengganggu, terima kasih.” Yookyung langsung mematikan sambungan telpon begitu wanita itu mengatakan jika Kibum sedang tidur. Diletakannya ponsel itu dengan lemas. Pikirannya seketika berkelana. Menebak-nebak kemungkinannya.

Apa yang dilakukan Kibum dengan wanita itu?

Siapa wanita itu?

Kenapa bisa bersama Kibum?

Seingat dan setahu Yookyung, Kibum tidak mempunyai saudara perempuan. Ia anak tunggal, dan kerabat dekatnya hanya Jae Bum.
Seketika ia teringat dengan kejadian tempo lalu. Ada seorang wanita cantik yang bernama Mida. Apa saat ini Kibum sedang bersamanya? Ada hubungan apa kekasihnya dengan wanita itu?

“Ani!” Yookyung menggeleng keras begitu pikiran itu memenuhi kepalanya. Jika Kibum dan wanita itu memang ada hubungan. Dan saat ini mereka sedang bersama.

“Tidak mungkin kan Kibum Oppa selingkuh?” Gumamnya lirih. Ia tidak percaya jika Kibum tega melakukan itu padanya.

Tapi Kibum pria normal.
Ia bisa saja kan tergoda? Dan lagi, wanita itu lebih cantik darinya.

“Andwae! Aku harus memastikannya sendiri. Aku harus bertemu Kibum Oppa sekarang,” Yookyung segera bergegas mengganti baju dan meraih tasnya. Ia putuskan untuk menemui Kibum dan menanyakan siapa wanita itu, agar semuanya jelas sehingga ia bisa berpikir positif.

“Yoo, neo eodileulganeungeoya?” Ryeowook yang sedang duduk menoton tv di ruang keluarga menyerngit bingung melihat adiknya yang berpakaian rapi. Mau kemana ia malam-malam seperti ini?

“Pergi sebentar Oppa.” Sahut Yookyung sambil lalu.

“Jangan pulang terlalu larut kalau kau tidak ingin dimarahi Appa.”

“Arraseo.” Yookyung meraih kunci mobil yang ada di meja dekat telpon. “Oppa, billyeo,” Yookyung mengacungkan kunci mobil milik Ryeowook kemudian memasukannya ke dalam tas, sebelum Ryeowook melarangnya. Ryeowook pasti akan menceramahinya jika ia tahu, maka ia cepat-cepat berlalu. Itu karena ia sudah tidak diperbolehkan lagi menggunakan mobil pribadi oleh ayahnya.

“YA! Yookyung-a!” Ryeowook segera mengejar Yookyung keluar namun ia terlambat karena gadis itu sudah menstrater mobilnya dan pergi.

“Pokoknya aku tidak mau disalahkan lagi jika kau ketahuan Appa, Yoo.” Lirih Ryeowook menatap sayu kepergian mobilnya. Gadis itu benar-benar nekat dan keras kepala. Ia hanya bisa berharap jika Yookyung pulang tepat waktu, sebelum Appa dan Eommanya pulang, pukul 10 nanti.

©©©

“Siapa yang menelpon, Noona?” Kibum baru saja keluar dari dapur dan melihat Mida meletakan ponselnya di meja. Wanita itu tiba-tiba saja datang ke rumahnya.

Kibum meletakan cangkir teh di meja dan menatap Mida curiga karena wanita itu diam saja. “Siapa yang menelponku, Noona?” Ulangnya sekali lagi.

Mida mendecakan lidahnya, “Bocah ingusan, memang siapa lagi..” Sahutnya malas. Kibum segera meraih ponselnya untuk melihat daftar panggilan masuk. Ia tahu siapa yang di maksud oleh Mida sebagai ‘bocah ingusan’.

Baby Yoo-ya.

“Kenapa kau mengangkatnya? Kenapa kau tidak memanggilku huh?” Ditatapnya Mida dengan tajam. Ia sangat tidak suka ada orang yang mengutak-atik barang pribadinya, terlebih ponsel. Baginya, itu adalah barang penting dan sensitif. Bahkan Yookyung pun sangat mengerti dan menghargai privasinya.

Mida bangun dari duduknya, berjalan mendekati Kibum yang terlihat sangat marah. “Ayolah Bummie, kenapa kau marah seperti itu hm?”

Kibum menyentakan tangan Mida yang menyentuh wajahnya dengan kasar. “Apa yang kau katakan padanya?” Kibum berucap dengan dingin dan menatap tajam. Namun itu tidak berpengaruh sama sekali bagi Mida. Wanita itu justru tersenyum tipis.

“Kau berubah, Bummie.” Tatapan Mida berubah sayu, ia kembali duduk di sofa, “Jadi kau sudah benar-benar mencintai gadis itu eoh?”

“Aku memang mencintainya sejak awal, Noona.”

“Cih, jeongmalyo huh?” Mida menatap sangsi Kibum. Ia meraih bungkus rokok yang ada di meja kemudian mengambilnya sebatang dan menyulutnya. Kibum hanya memperhatikan Mida dengan diam.

“Apa yang membuatmu menyukai gadis ingusan sepertinya?”

Kibum mengepalkan tangannya gamam. Ia sangat tidak suka dengan nama panggilan yang diberikan Mida. Gadis ingusan.

“Cinta tidak membutuhkan alasan logis, Noona.” Sahut Kibum kalem setelah berhasil meredakan gejolak dalam dirinya.

“Kau seperti pujangga saja Bummie. Jadi cintamu kau pikir itu tulus? Kau lupa niat awalmu mendekati gadis itu huh?” Nada bicara Mida kini berubah tajam dan sinis.

“Itu bukan urusanmu. Tidak ada sangkut pautnya denganmu.”

“Tentu saja ada.” Mida mematikan puntung rokok di asbak dengan kasar. Wanita itu menderap ke arah Kibum. Ditatapnya Kibum nanar. “Karena gadis itu kau berubah. Kau bersikap dingin dan acuh padaku sejak kedatangan gadis itu. Kau sudah tidak pernah lagi memperhatikanku seperti tahun lalu.” Mida meneteskan airmatanya. Wanita itu benar-benar menangis dan Kibum merasa sedikit iba melihatnya. Biar bagaimanapun, wanita ini pernah mengisi relung hatinya.

“Noona…”

“Katakan padaku Bummie, apa yang tidak aku punyai dari gadis itu sehingga kau berpaling? Katakan.”

Jika seperti ini Kibum seperti melihat Mida yang sama seperti 2 tahun lalu. Saat mereka berteman dan dekat. Ia memang mendekati Yookyung saat sudah menjalin hubungan dengan Mida. Dan hubungan mereka kandas satu tahun lalu, itu karena ia tidak mau mengecewakan Mida begitu banyak. Tapi ia tidak meyangka jika Mida justru berubah drastis setelah ia mengakhiri hubungan mereka.
Mida yang anggun dan manis tidak ada lagi, telah berubah menjadi Mida yang dingin dan agresif.

“Mianhae, Noona.”

“Bummie…” Mida menatap Kibum dengan sorot terluka, dan Kibum merasa begitu jahat karena telah melukai wanita ini juga Yookyung.
Kibum tidak bergerak ketika Mida perlahan mendekatkan wajahnya hingga nafas wanita itu menerpa wajahnya. Ia bisa merasakan bibir Mida yang bergetar diatas bibirnya. Tapi kemudian ia tersadar. Ini tidak benar. Ini salah. Jika ini dibiarakan ia justru semakin meyakiti Mida.

“Andwae!” Kibum mendorong bahu Mida hingga wanita itu tersentak kaget. Namun hanya sesaat karena detik berikutnya wanita itu tersenyum sinis.

“Kenapa? Apa ciumanku tidak semanis dulu eoh?”

Kibum menggeleng lemah.
Bukan itu.
Ingin sekali Kibum menyuarakan suaranya, tapi bibirnya terasa kelu dan kaku.

Mida memundurkan tubuhnya. “Apa di hatimu sudah tidak ada namaku sedikitpun, Bummie?”

“Maafkan aku Noona.”

“Tidak masalah jika kau memang sudah tidak mencintaiku lagi. Tapi, berikan aku satu alasan kenapa kau berpaling ke gadis itu?” Mida menatap Kibum dalam. “Aku ingin tahu alasanmu. Ku pikir, kau tidak bodoh untuk dengan mudahnya menyukai gadis itu. Apa kau sudah melupakan siapa ayah gadis itu huh?”

Kibum memejamkan matanya sesaat. Ia tidak lupa dan tidak akan mungkin melupakan kejadian itu begitu saja. Dimana ayah dan ibunya harus keluar dari rumah mereka dan hidup luntang lantung di jalan. Meskipun kejadian itu sudah lama, saat Kibum berumur 8 tahun. Tapi ia masih mengingatnya dengan baik hingga kini.

Ia memang tidak tahu pasti apa penyebab orang tuanya terpaksa keluar dari rumah mereka, tapi lambat laun ia tahu. Bisnis orang tuanya mengalami krisis ekonomi dan gulung tikar. Dan sebagai jaminan untuk melunasi hutangnya pada pihak bank, rumah mereka menjadi jaminannya. Dan ketika tenggat tanggal pembayaran orang tuanya belum bisa melunasi hutang itu, dengan terpaksa bank menyita rumahnya.

Apa kalian ingin tahu apa hubungannya dengan ayah Yookyung?
Itu karena ayah Yookyung, Kim Joo Hyun, saat itu adalah pimpinan bank yang di pinjami oleh keluarga Kibum, sebelum menjadi wali kota.

Orang tua Kibum mencoba meminta perpanjangan waktu untuk mencari pinjaman sebagai uang muka agar mereka tetap dibiarkan tinggal lebih lama, namun ayah Yookyung tidak memberikan kesempatan itu sehingga mereka di paksa keluar dari rumah.

“Bummie, aku menunggu jawabanmu.”

Kibum segera tersadar dari lamunannya. “Aku tidak punya alasan untuk di jelaskan, Noona. Karena cinta tidak datang dari bibir, lidah atau pikiran. Tapi dari sini,” Kibum menyentuh dada kirinya. Dimana detak jantungnya akan berdetak cepat jika ia berdekatan dengan Yookyung. Ia memang merasakan itu jika bersama Mida, tapi ini lain. Ini tidak sama jika ia bersama Mida.

Mida mendecak, “Alasan apa itu? Apa kau berubah bodoh setelah bergaul dengan gadis ingusan itu huh? Dimana pikiranmu saat kau mengatakan itu? Appa gadis itu telah menghancurkan keluargamu dan hidupmu, tapi kau justru mencintai anaknya. Jincha neo pabo saram.” Desis Mida tajam dan sengit.

“Apa maksudmu dengan Appaku menghancurkan keluarga Kibum Oppa?”

Seketika Kibum memutar arah pandangnya, menatap ke arah pintu masuk. Disana Yookyung berdiri dengan menatap tidak suka ke arah Mida.

Mida tertawa kecil mengetahui Yookyung datang disaat yang tepat, menurutnya. Ini akan semakin menarik jika gadis itu tahu apa alasan Kibum mendekatinya. Maka ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Kau tidak tahu kenapa Appamu tidak mengijinkanmu bersama dengan Kibum?” Mida berjalan mendekat ke arah Yookyung yang masih berdiri diam di pintu masuk.

“Dan apa kau tidak tahu jika Kibum ada motif tertentu ketika mendekatimu?”

“Cukup, Noona!” Sela Kibum dengan keras.

Yookyung tidak boleh tahu apa alasannya dulu ketika ia mendekatinya. Setidaknya untuk sekarang. Tidak bisa. Ia belum siap dan tak akan pernah siap jika kemungkinan buruk itu terjadi, Yookyung marah dan menjauhinya. Ia tidak mau. Dua hari ini Yookyung marah padanya pun ia sudah gelisah, apalagi jika gadis itu tidak mau bertemu dengannya setelah tahu semuanya.

Itu buruk.

“Motif?” Yookyung menyerngit tidak mengerti.

“Ya, motif untuk mendekatimu kemudian memanfaatkanmu.”

Yookyung membelalakan matanya, gadis itu kini beralih menatap Kibum yang tampak gelisah dan pucat.

“Oppa, apa benar apa yang dikatakannya?” Pelupuk mata Yookyung sudah di genangi oleh airmata.

“Yoo…”

Mida tersenyum menang karena Kibum tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pria itu diam dengan menatap sendu Yookyung. Ini kesempatan bagus untuk membuat mereka berpisah.

“Kibum mendekatimu hanya untuk membalaskan dendam.” Mida kembali bicara. “Membuatmu hancur adalah rencananya.”

“Cukup, Noona!” Kibum menggertak ke arah Mida yang tersenyum sinis.

“Waeyo? Bukankah ini menarik hm? Bukankah ini memang rencanamu dari awal? Menghancurkan keluarga Kim Joo Hyun lewat putrinya.”

“Tidak.” Sahut Kibum tegas. “Kajja, Yoo. Kita pergi dari sini,” Kibum meraih tangan Yookyung namun gadis itu tetap diam.

“Kyungie, kajja.”

“Maaf, tapi aku ingin tahu yang sebenarnya.” Yookyung bicara tanpa menatap Kibum yang menatapnya terluka. “Bisa kau jelaskan apa maksudmu? Menghancurkan keluargaku. Memang apa yang telah dilakukan oleh Appa pada kalian?” Airmata itu lolos begitu saja dari sudut matanya.

“Appamu telah menghancurkan keluarga Kibum. Sehingga mereka di depak dari rumahnya sendiri.”

“Yoo-ya, kajja.” Sekali lagi Kibum meraih tangan Yookyung untuk mengajaknya keluar.

“Oppa, lepaskan.” Yookyung menyentakkan tangannya dengan keras hingga tangan Kibum terlepas. Gadis itu menatap Kibum dengan wajah sembab. “Katakan padaku jika itu bohong. Appa tidak mungkin melakukan itu padamu.”

“Kau tidak percaya?”

“Noona! Ini tidak ada hubungannya denganmu, jadi ku mohon kau jangan ikut campur urusanku.” Tegas Kibum tajam.

“Tidak bisa. Aku akan mengatakan semua padanya sekarang. Bukankah ini kesempatan yang kau tunggu-tunggu selama ini huh? Setelah gadis ini mencintaimu kau akan memutuskannya, jadi sekaranglah saatnya. Ini saat yang tepat.”

“Tidak!” Seru Kibum keras.

“Yoo, kajja.” Kibum menarik Yookyung keluar namun lagi-lagi Yookyung bergeming.

“Yoo…” Kibum semakin mencelos karena Yookyung melepaskan tangannya.

“Aku harus pergi,” suaranya amat lirih. Yookyung langsung berlari menjauh dari rumah Kibum. Gadis itu menangis.

“Yookyung!”

“Kau tidak boleh menyusulnya, Bummie.” Mida mencegah Kibum dengan menahan pergelangan tangan kanan Kibum.

“Aku harus menyusulnya dan menjelaskan semuanya, ia tidak boleh marah padaku, Noona. Lepaskan.”

“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu. Kau harus tetap bersaku dan anak kita, kau tidak akan ku biarkan menyusulnya.”

“Apa maksudmu dengan ‘anak kita’?”

Mida menarik tangan Kibum dan meletakannya di permukaan perutnya yang masih rata, “Disini ada anak kita, Bummie.”

Kibum terkejut dan dengan cepat menarik tangannya. “Kau berbohong kan? Bagaimana mungkin kau…” Kibum menggeleng keras. “Tidak mungkin,”

“Tentu saja mungkin. Kau lupa 2 bulan lalu kita pernah melakukannya? Aku tidak pernah melakukannya dengan pria manapun selain dirimu. Karena aku mencintaimu, maka akan ku berikan apa saja yang aku punya untukmu, Bummie.” Mida menangis. Ia tidak berbohong. Ini kenyataan, bahwa saat ini ia tengah mengandung anak Kibum. Ia pun baru tahu tadi pagi. Maka itu, malam ini ia menemui Kibum.

“Tidak mungkin, tidak.” Kibum menggelengkan kepalanya berulang kali dengan terus bergumam ‘tidak mungkin’.

“Ini tidak mungkin terjadi!”

©©©

Yookyung terus saja mengendarai mobilnya tanpa arah. Tangisnya belum reda meskipun ia merasa sudah lelah. Ponselnya pun berulang kali berdering tanpa henti. Ia tidak mau bicara dengan siapapun. Ia ingin pergi ke tempat yang jauh, dimana tidak ada seorang pun yang tahu dirinya.

“Kenapa? Kenapa kau membohongiku, Oppa. Kenapa?!”

Yookyung menepikan mobilnya di pinggir jalan. Gadis itu keluar dan berlari ke arah jembatan.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaa~” Yookyung berteriak dengan keras untuk meluapkan emosinya. Ia tidak perduli dengan orang-orang yang menatapnya dan berbisik jika ia gila. Ia tidak perduli.

“Kim Yookyung pabo saram.” Lagi, Yookyung berteriak dengan keras. Ia merasa begitu kacau dan juga bodoh. Bagaimana bisa ia dengan mudahnya jatuh cinta pada Kibum.

“Hiks… Seharusnya aku mendengarkan apa kata Appa.” Gadis itu menundukkan kepalanya.

Menyesal.

Yah, ia menyesal karena tidak mempercayai ucapan Appanya dulu.

Appamu telah menghancurkan keluarga Kibum, sehingga mereka di depak dari rumahnya sendiri.’

Yookyung teringat kata-kata Mida jika ayahnya telah menghancurkan keluarga Kibum. “Apa maksudnya itu?” Lirihnya dengan sesegukan.

“Tapi…, itu bisa ditanyakan nanti, sekarang aku ingin menangis lagi. Huaaaaaaaa~”

Yookyung kembali menangis. Gadis itu bahkan sampai duduk dipinggir jalan dengan menangis. Tidak perduli dengan orang-orang.

“Kibum Oppa, kau jahat.” Ucap Yookyung sengit. Ia berdiri dan berbalik, menatap danau kecil di bawah sana. “Kim Kibum aku mencintaimu. Eh… salah.” Yookyung tersadar jika tadi ia bukan ingin mengucapkan itu. Tapi kenapa justru itu yang terucap?

Pikiran dan hati memang berlainan.
Sepertinya Yookyung harus ingat kata-kata itu baik-baik.

Yookyung menarik nafas dalam lalu, “Kim Kibum! Nan niga silheo!”

“YA!” Yookyung mengelus kepalanya yang berdenyut nyeri karena terkena sesuatu. Gadis itu berbalik lalu menatap ke bawah.

Permen loli.

Siapa yang berani melemparnya dengan permen loli?

Yookyung memungutnya kemudian menoleh kanan kiri guna mengetahui siapa pelakunya.
Hanya ada satu orang yang berdiri tidak jauh darinya.

Yookyung yakin jika orang itu adalah pelakunya. Maka ia mendekati orang itu.

“Tuan, apa ini punyamu?” Yookyung mengacungkan permen loli itu ke hadapan pria berjaket hitam yang membelakanginya.
Kenapa Yookyung yakin jika orang itu adalah pria?
Itu karena dilihat dari postur tubuhnya. Tidak mungkin jika seorang gadis mempunyai badan kekar kan? Yah, meskipun ada, itu juga jarang.

“Itu obat untukmu,” orang itu berbalik. Tersenyum manis.

“In Soo?”

“Kau masih ingat denganku?”

“Ck, tentu saja. Kau pria paling menyebalkan seangkatan saat kita sekolah menengah atas dulu,”

“Dan pria menyebalkan ini yang kau putuskan secara sepihak,” Yookyung meringis. Ia ingat bagaimana ia memutuskan hubungan mereka dulu, saat mereka masih duduk di kelas 2 SHS dengan alasan tidak ada kecocokan. Tentu saja alasan seperti itu tak masuk akal bagi In Soo karena mereka telah menjalin hubungan hampir satu tahun, tapi mengapa Yookyung baru mengatakan tidak cocok setelah berjalan cukup lama. Bukankah itu aneh?

Kang In Soo, captain tim basket putra di sekolahnya. Pemuda yang tampan dan mempunyai banyak sekali penggemar gadis, fakta yang selalu membuat Yookyung kesal karena pemuda itu selalu dikerubungi oleh siswi-siswi.

“Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini?” Yookyung mencoba mengganti topik pembicaraan mereka. Ia sungguh tidak ingin mengenang masa lalu. Biarlah itu menjadi kenangan. “Kudengar kau pindah ke Austria setelah lulus sekolah, kapan kau kembali?” Raut gadis ini sudah berubah, penasaran.

“Kau tidak berubah juga. Kupikir setelah bertahun-tahun tidak bertemu denganmu kau ada sedikit perubahan, tapi sepertinya tidak.”

“Mwo?”

“Tadi kau menangis dan memaki, sekarang… lihat, kau bahkan sudah seperti biasa lagi.” In Soo tergelak karena Yookyung memajukan bibir bawahnya beberapa senti.

“Kau juga tidak berubah, selalu mengolokku.” Desis Yookyung lirih.

“Apa kau baru putus cinta?”

“Mworago? Animida,” jawab Yookyung cepat.

“Bagaimana jika kita ngobrol sedikit? Bertukar cerita?” tawar In Soo. Yookyung berpikir, ini sudah larut malam. Jika sampai orang tuanya pulang dan ia tidak ada di rumah mereka pasti akan semakin marah dengannya dan tentu saja akan semakin mengetatkan pengawasannya.

Itu tidak boleh.

“Eum, bagaimana kalau lain waktu saja? Aku harus segera pulang,”

“Baiklah,”

Yookyung segera berpamitan dan pergi, meninggalkan In Soo yang terus mengawasi langkahnya hingga gadis itu masuk mobil dan pergi.

“Yookyung, kali ini aku pastikan kau akan jadi milikku.”

Continue….

2 comments

  1. Bener2 konflik, asek Donghae jadi guru pembimbing Yookyung. Aaaaish stlah Kibum pergi malah ada cwo laen lg #Insoo aq kira Yookyung bakalan mau d’jodohin.. Aaaaaaa makin penasaran ma cerita’y eung

  2. Nambah lagi deCh cast namjanya. Belum jg Hae-Yoo saling suka, eh ada lagi muncul penghalang. Tapi semoga dia tidak jahat. Dan semoga Hae dijodohkan dengan Yookyung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s