Missing You, Kim Kibum

wpid-1962730_1397720043829292_1098818571_n.jpg

Author : Blue Rose

Title : Missing You, Kim Kibum

Length : Oneshot

Genre : Friendship, Family

Rate : General 

Cast : All members Super Junior’s, Kim Yoo Kyung

*****

‘Kebersamaan adalah moment terindah dalam hidup.’

Malam sudah cukup larut ketika pemuda bertubuh tegap itu menginjakkan kakinya di pelataran rumah bercat putih gading. Rumah yang dibelinya dari hasil kerja keras selama bertahun-tahun di dunia Entertainment. Rumah yang ia tempati bersama sang adik perempuan–Kim Yoo Kyung–karena kedua orang tuanya lebih memilih tetap tinggal di LA. Kim Kibum, nama pemuda itu. Pemuda yang memiliki julukan ‘Killer Smile’ itu merebahkan tubuh letihnya di sofa ruang tamu yang gelap, hanya ada penerangan lampu duduk didekat meja telpon.
Kibum memejamkan mata sejenak, mencoba me-rileks-kan tubuhnya yang seharian ini bekerja. Jadwalnya sungguh padat akhir-akhir ini, ia akui itu.

Oppa…” Panggilan lirih serta nyalanya lampu ruang tamu membuat pemuda itu membuka matanya yang sedari terpejam.

“Kau baru pulang?”

Nde, beberapa menit lalu. Kau belum tidur?” Kibum membenarkan posisi duduknya yang tadinya tiduran di sofa kini menjadi duduk, memberikan ruang bagi sang adik perempuannya–Kim Yoo Kyung–agar duduk disebelahnya.
Gadis itu menggeleng, “Aku terbangun karena haus dan ingin mengambil minum.” Jelas Yoo Kyung dengan terus memperhatikan sang kakak yang terlihat begitu letih.

Oppa sudah makan?” tanyanya begitu gadis itu sudah duduk.

Kibum terkekeh begitu mendengar pertanyaan sang adik. “Tentu saja sudah, kau tahu ini jam berapa huh? Jam 12.45 malam, tentu saja aku sudah makan. Kau ini…”

“Siapa tahu oppa belum makan, aku bisa membuatkan sesuatu kalau oppa lapar.”

Aniyeo, gomawo. Tapi aku sudah makan, Yoo. Lagi pula, oppa tidak mau ambil resiko setelah memakan masakan yang kau masak nanti oppa jadi sakit perut, aku tidak mau itu.” Canda Kibum dengan mengulurkan tangan kirinya untuk mengacak rambut bagian depan Yoo Kyung. Gadis itu memberengut sebal.

“Aish.. oppa, aku ini sudah bisa memasak.”

“Benarkah? Memasak apa? Jjangmyeon dengan kuah seperti sungai Han?” Ujar Kibum dengan tertawa ketika mengingat kejadian beberapa bulan lalu ketika Yoo Kyung mencoba belajar memasak Jjangmyeon. Tapi, karena gadis itu terlalu banyak menambahkan air sehingga Jajangmyeon itu terlalu lembek dengan kuah yang begitu banyak. Saat itu Kibum langsung tertawa begitu melihat hasil karya pertama memasak Yoo Kyung, membuat sang adik marah dan mogok belajar memasak selama beberapa hari.

Mwoya?! Tentu saja aku bisa memasak makanan layak makan. Tidak lagi Jjangmyeon dengan kuah sungai Han seperti Kyuhyun. Aku bisa memasak chicken doritang juga sup labu.” Sahut Yoo Kyung dengan bangga.

Gojitmal.

“Tentu saja! Apa oppa perlu bukti huh? Aku bisa memasaknya sekarang.” Yoo Kyung bersiap untuk beranjak menuju dapur namun segera di cegah Kibum.

Anniya. Lain kali saja. Sekarang sudah malam dan oppa percaya padamu.” Kibum tersenyum lembut ketika mengucapkannya. Yoo Kyung mengangguk dengan semangat.

“Bagaimana kalau aku memasak di hari ulang tahun oppa minggu depan? Aku akan meminta eomma mengajariku cara membuat kue.”

“Ulang tahun?” Ulang Kibum lirih. Yoo Kyung kembali mengangguk sebagai jawaban.

“Tanggal berapa memangnya?” Tanya Kibum tiba-tiba.

“21 Agustus. Jangan bilang oppa lupa ulang tahun sendiri?”

“Hehee… Kau kan tahu oppa sibuk, Yoo.” Kibum tersenyum malu. Yoo Kyung mendesis, “Sibuk sih boleh saja, tapi masa ulang tahun sendiri bisa terlupakan, ck.” Cibir Yoo Kyung dengan menyilakan kedua tangannya depan dada.

“Tanggal 21…, berarti hanya selisih beberapa hari dari hyung,” gumam Kibum. Yoo Kyung mendengarnya, gadis itu semakin mendekatkan tubuhnya dengan sang kakak.
Ia tersenyum.

Oppa..”

Ye?”

“Apa yang paling oppa inginkan di ulang tahun besok?”

“Hadiah, maksudmu?”

“Selain itu.”

Kibum tampak berfikir sebentar kemudian tersenyum kecut, “Tidak ada. Hanya ingin oppa bisa selalu sehat, hidup dengan baik dan selalu diingat oleh orang-orang yang ada di dekat oppa. Itu saja, tidak ada yang lain.”

“Tidak ingin cepat menikah heh?” Seloroh Yoo Kyung dengan menyikut perut Kibum yang dihadiahi berupa jitakan manis dikepalanya.

“Kau ini…”

“Hehee… Just kid, oppa. Tapi, benar hanya itu? Tidak ada yang lain hum?”

“Tidak.” Setelah mengatakan itu Kibum tertunduk. Yoo Kyung tahu raut seperti itu, ia tahu bahwa kakaknya ini sedang memikirkan keluarganya yang di luar sana, Super Junior.

Oppa ingin bertemu mereka?” Ucap Yoo Kyung tiba-tiba. Kibum tersentak kaget, pemuda itu mengerjap cepat.

“Bertemu siapa?”

“Tentu saja oppadeul, siapa lagi?”

Kibum kembali menunduk dan menghela nafas, “Tidak mungkin, Yoo. Itu mustahil.” Lirihnya sendu.

Yoo Kyung meremas jemari Kibum lembut, gadis ini bisa merasakan bagaimana perasaan pemuda ini yang sebenarnya. Dan ia tau apa yang harus ia lakukan sekarang.

“Tidak ada yang tidak mungkin, oppa.” Hibur Yoo Kyung dan kembali melanjutkan kalimatnya, “Oppa bisa menghubungi mereka agar datang besok dihari ulang tahun oppa, kita rayakan bersama.”

Kibum menggeleng lemah, “Itu tidak mungkin, mereka sangat sibuk Yoo. Semua member mempunyai kesibukan masing-masing dan jadwal mereka berbeda juga padat.”

“Tapi, setidaknya mereka bisa hadir walau hanya sesaat, oppa. Aku yakin mereka akan datang kalau oppa meminta mereka.”

Kibum kembali menggeleng cepat, “Tidak, Yoo. Aku tidak ingin memaksa mereka. Bagiku, bisa melihat mereka hidup dengan baik dan sehat juga sukses, itu sudah membuatku senang. Oppa bahagia bila melihat mereka juga bahagia. Oppa pun akan tersenyum bila mereka tersenyum. Meskipun oppa tidak lagi bersama mereka dan menjadi bagian dari mereka lagi. Tapi bagi oppa, mereka tetap keluarga dan akan selalu seperti itu. Akan selalu oppa ingat dan simpan baik-baik kenangan-kenangan dulu disini.” Kibum meletakan tangan kanannya tepat didada kirinya. Pemuda itu tersenyum diantara menahan jutaan kabut tipis yang mulai memenuhi kelopak matanya.

Yoo Kyung merengkuh tubuh lelah itu, merasakan hangatnya berada dalam dekapan sang kakak yang terlihat kuat namun rapuh.

“Aku tahu. Aku tahu bahwa oppa begitu merindukan mereka bukan? Oppa tidak bisa membohongiku, aku tahu itu oppa.” Yoo Kyung semakin erat memeluk Kibum ketika merasakan pemuda itu membalas pelukannya.

“Kau tahu, Yoo… Saat bersama mereka, oppa merasa oppa menjadi lebih kuat, lebih tegar juga dewasa.” Yoo Kyung mendengarkan dengan seksama cerita Kibum.

Oppa bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sebenarnya. Mereka orang-orang yang sangat baik. Oppa beruntung bisa bersama mereka walau hanya sesaat. Oppa sangat menyayangi mereka semua, terutama Jung Soo hyung dan Donghae hyung. Jung Soo hyung, yang akan selalu menghiburku ketika aku sedang sedih karena merindukanmu, eomma dan appa. Yang akan memelukku dan menghiburku dengan kata, ‘buat mereka bangga padamu, Kibum-ah. Tunjukan pada kedua orang tuamu bahwa kau mampu dan tidak akan mengecewakan mereka.’ Jung Soo hyung memang pantas menjadi leader karena sikapnya yang baik.”

“Dan– Donghae hyung, dia adalah orang yang pertama kali menyapaku saat aku pertama kali menginjakan kaki di negeri ini, orang yang cengeng sama seperti Hyukjae hyung. Donghae hyung akan selalu marah padaku bila aku telat makan, hyung yang sangat baik.”

“Aku–merindukan mereka semua, Yoo. Merindukan saat-saat kebersamaan itu. Berbagi cerita, pelukan, tawa bahkan tangis. Aku merindukan semuanya.” Kibum mengusap sudut matanya yang berair. Yoo Kyung bisa merasakan emosi dalam dekapan Kibum padanya. Ia sangat tahu bahwa oppanya ini merindukan keluarga keduanya itu.

“Meskipun aku sudah tidak bersama mereka lagi, aku tetap menganggap mereka keluargaku. Aku menyayangi mereka semua.” Lirih Kibum dengan mengeratkan pelukannya dengan Yoo Kyung.

‘Sudah aku putuskan, besok aku harus memulainya. Oppa tenang saja, aku akan memberikan sesuatu yang Oppa tidak akan lupakan. Ini sebagai hadiah dariku untuk Oppa yang selalu menjaga dan menyayangiku sejak kecil dulu hingga kini. Aku berjanji, Oppa.’ tekad Yoo Kyung.

Oppa, ayo kita tidur. Kau pasti lelah.” Ajak Yoo Kyung dengan melepaskan pelukannya. Kibum mengangguk, “Nde, kajja.” Kibum dan Yoo Kyung segera berdiri, melangkahkan kakinya menuju kamar mereka yang bersebelahan.

Oppa, bagaimana kalau kita tidur bersama saja?” Ujar Yoo Kyung tiba-tiba yang menghentikan jemari Kibum ketika akan membuka knop pintu kamarnya.

Mwo? Andwae. Kau itu sudah besar, sudah 18 tahun Yoo. Kau tidak mungkin kan takut tidur sendiri?” Tolak Kibum dan memandang sangsi adiknya.

“Tentu saja tidak. Hanya saja, malam ini aku ingin tidur dengan oppa,” rengek Yoo Kyung dengan menangkupkan kedua tangannya depan dada, memohon. Kibum mendecak, “Hanya kali ini saja eoh?”

Nde! Gamshahamnida, Oppaku yang tampan.” Gadis remaja itu sontak mengecup pipi kiri Kibum dengan senyum lebar, sedangkan Kibum hanya mampu menggelengkan kepala melihat kelakuan sang adik yang masih manja padanya, tidak pernah berubah, pikirnya.

***

Kibum merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku, seharian ini ia sibuk melakukan syuting drama terbarunya. Hari ini lebih melelahkan, pikir pemuda itu. Namun ia tersenyum ketika melihat ada beberapa bingkis kado dari Snowers–sebutan untuk fans-nya– yang sengaja datang dan memberinya kejutan ulang tahun. Pemuda itu merogoh tasnya untuk melihat ada tidaknya panggilan masuk. Kibum menyerngit begitu melihat nomor yang tidak dikenalnya.

“Nomor siapa ini?” Gumamnya lirih. Dan tepat saat itu ponselnya bergetar, ada telpon masuk dari nomor yang sama, nomor yang tidak dikenalnya.

Yeobseyo?” Jawabnya ragu begitu ponselnya ia tempelkan ke telinga.

Yeobseyo. Maaf, apa ini dengan Tuan Kim Kibum?” Tanya seseorang disebrang sana yang terdengar seperti suara seorang pria.

Nde, ini saya sendiri. Anda siapa?”

“Saya hanya ingin memberitau bahwa adik Anda saat ini ada dalam masalah, sebaiknya Anda cepat datang kemari Tuan.” Sahut orang disebrang sana dengan nada khawatir. Kibum sontak membelalakan matanya, pikiran seketika kalut. Adiknya dalam masalah, itu berarti ada sesuatu yang terjadi dengan Yoo Kyung, pikir Kibum.

Nde, alggeseumnida. Saya akan segera kesana, tolong sebutkan dimana alamatnya. Sebisa mungkin saya akan cepat sampai.” Setelah mendengar alamat yang disebutkan oleh sang penelpon, pemuda itu segera menutup sambungan dan membereskan barang-barang miliknya.

“Kibum-ah, kau mau kemana?” Tanya seseorang yang sepertinya salah satu dari kru dilokasi syuting. Kibum yang sedang terburu-buru hanya menjawab sekenanya.

“Ada urusan mendadak, hyung. Aku pulang dulu, annyeong.” Kibum sedikit menundukan badannya sebagai salam perpisahan setelah itu ia bergegas menuju parkiran mobilnya.

Pikiran Kibum tidak tenang selama perjalanan menuju Blue Café, tempat yang disebutkan penelpon tadi. Berbagai perangai buruk mulai meracuni pikirannya, “Sebenarnya apa yang dilakukan Yoo Kyung hingga menimbulkan masalah,” lirih pemuda itu dengan menambah laju mobilnya. Setahu Kibum, adiknya itu tidak pernah melakukan kesalahan yang berarti, ia akui bahwa adiknya itu memang ceroboh tapi ia yakin bahwa Yoo Kyung tidak pernah melakukan kesalahan yang merugikan orang lain.

Café yang terletak di distrik Myeong-dong itu terlihat begitu ramai dari biasanya. Kibum segera melangkahkan kakinya ke arah bangunan yang didominasi warna biru dengan tulisan Blue Café. Bahkan pemuda itu mengabaikan beberapa orang yang menyapanya, juga gadis-gadis yang berteriak memanggil namanya ketika melihat pemuda itu melintas di antara kerumunan orang yang berlalu lalang di sekitar jalan itu. Maklum saja bila mereka bisa mengenali dan memanggilnya, karena pemuda dengan postur tubuh tegap itu tidak memakai alat penyamaran atau sekedar masker untuk menutupi sebagian wajahnya.

Kibum langsung membuka pintu café yang cukup sepi, hanya ada beberapa meja yang terisi. Pemuda itu mengedarkan pandangannya, menelisik seluruh café, mencari seseorang yang dicarinya.

Oppa!”

Kibum melihat Yoo Kyung melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar mendekat. Pemuda itu berjalan kearah gadis itu, mengabaikan orang-orang yang mulai berbisik begitu mengenali pemuda itu.

“Ada apa ini, Yoo? Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Kibum tergesa begitu ia sampai dihadapan gadis itu.

“Duduklah dulu, oppa. Nanti aku jelaskan,” sahut Yoo Kyung dengan tenang, mengabaikan kekhawatiran sang kakak yang terlihat begitu jelas dari tatapan pemuda itu. Kibum menurut dan menarik kursi, mendudukan dirinya.

“Sekarang aku sudah duduk, bisa jelaskan ada apa?” Pinta Kibum dengan tidak sabar. Yoo Kyung menoleh ke arah seorang pria yang mengenakan pakaian yang cukup tertutup. Kibum mengerjap, ia baru sadar bahwa ada orang lain di antara mereka. Sepertinya ia terlalu khawatir dengan adiknya ini sehingga tidak menyadari adanya seseorang yang duduk di sebelah gadis itu.

“Kau, siapa?” Kibum bertanya dengan ragu. Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya yang disambut dengan ragu oleh Kibum.

“Aku, LD. Senang bisa bertemu denganmu, Tuan Kim.”

“LD?” Ulang Kibum merasa asing dengan nama itu.

Nde, itu namaku.”

Kibum beralih memandang kearah adiknya yang sedang menunduk dan memainkan jari-jari tangannya. “Bisa jelaskan pada oppa sebenarnya ada masalah apa, Yoo? Dan apa hubungan pria ini denganmu?”

Yoo Kyung mendongak, membalas tatapan Kibum. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, seakan ragu untuk mengatakan sesuatu dan Kibum menyadari itu. Hidup sejak kecil bersama sang adik tentu saja ia tahu akan kebiasaan gadis itu.

“Katakan padaku, kesalahan apa yang sudah kau perbuat?”

Yoo Kyung seketika menundukan kepalanya ketika Kibum menaikkan intonasi suaranya. “Mianhamnida, oppa. Aku.. Aku sudah melakukan kesalahan yang fatal. Mianhae.” Lirih gadis itu yang kemudian disusul dengan isakan kecil keluar dari bibir gadis itu.
Kibum mencoba meredam amarahnya yang mulai menguar. Ia tahu arti dari kalimat Yoo Kyung, tapi ia mencoba menyangkalnya. Tidak mungkin adiknya…

Mianhae,”

“Bisakah kau berhenti meminta maaf dan katakan dengan jelas?” Ujar Kibum tidak sabar dan pura-pura tidak tahu arti dari kalimat Yoo Kyung tadi. Yoo Kyung berulang kali menggumamkan kata maaf.

“Maafkan aku Kibum-sshi, aku yang bersalah jadi jangan memarahinya.”

Kalimat yang keluar dari pemuda yang duduk di samping Yoo Kyung terdengar, sedari tadi pemuda yang mengaku bernama LD itu terus terdiam. Kibum mengalihkan tatapannya ke arah pemuda itu. “Apa maksud dari kalimatmu barusan?”

Tiba-tiba Kibum merasakan firasat tidak enak, ia takut apa yang ia khawatirkan selama perjalanannya menuju café ini menjadi kenyataan.

“Maafkan aku, karena sudah membuat adikmu menjadi begini. Maaf.”

Kalimat itu seakan menegaskan apa yang ada dibenaknya ini dengan tegas. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Bagaimana mungkin adiknya yang cengeng, manja dan takut dengan ulat bulu ini bisa melakukan tindakan seperti itu? Ini tidak bisa di cerna dengan baik oleh otaknya. Kibum menggeram, ia sudah tidak sabar dan segera berdiri dari duduknya. Menggebrak meja dengan keras sehingga menimbulkan suara gaduh, kini mereka menjadi pusat perhatian pengunjung café.

“Katakan maksudmu dengan jelas, Tuan. Apa yang sudah kau lakukan dengan adikku sehingga kau meminta maaf.” Kibum kembali menaikkan intonasi suaranya.
Pemuda yang duduk di samping Yoo Kyung segera berdiri, mundur beberapa langkah kemudian membungkukan badannya dalam.

“Maafkan aku Kibum-sshi. Aku sudah membuat adikmu ini dalam masalah.”

“Masalah apa yang kau maksud huh?!” Kibum sudah lepas kendali sekarang. Ia segera mendekat kearah pemuda itu dan mencengkeram kerah kemeja yang dipakai orang itu.

“Katakan dengan jelas apa yang sudah kau lakukan pada adikku, Tuan?” Ulang Kibum dengan emosi yang kentara. Yoo Kyung mencoba menenangkan sang kakak yang terlihat begitu emosi.

Oppa, lepaskan dia. Lihat, kita jadi tontonan orang,” bisik Yoo Kyung dengan menyentuh lengan Kibum yang ada dikerah baju LD.

Kibum menatap tajam sang adik, “Aku tidak peduli! Aku hanya ingin tahu apa yang sudah kalian lakukan selama ini?!” Bentak Kibum dengan tatapan berkilat marah.

OPPA!! Lepaskan dia!” Yoo Kyung menarik paksa kedua lengan Kibum agar terlepas dari kerah baju LD.

Kibum menatap Yoo Kyung dengan tercengang. Adiknya yang selama ini ia kenal penurut juga manja kini membentaknya. Ia tidak habis pikir.

“Kau berani membentak oppa, Yoo? Apa yang dilakukan pemuda ini sehingga kau berani berbicara dengan keras begini huh?” Kibum menatap tidak percaya Yoo Kyung yang telah membentaknya sesaat tadi. “Jadi ini yang kau pelajari dari sekolah huh? Berani dengan orang yang lebih tua?!”

Oppa…”

“APA? Kau mau bicara apa sekarang huh? Kau lebih memilih pemuda ini, begitu?!”

“YA! Dengarkan dulu penjelasan adikmu dan juga aku, Kibum-sshi.” Sela LD menengahi.

Kibum tersenyum sinis, “Penjelasan? Penjelasan apa huh? Penjelasan bahwa kau sudah merusak masa depan adikku, begitu? Kau benar-benar…” Kibum bersiap akan melayangkan pukulannya kerah LD namun ter-urungkan ketika ada seseorang yang menahan ayunan tangannya dari arah belakang. Kibum menoleh dan betapa terkejutnya ia begitu melihat siapa orang itu.

“Haii… Lama tidak bertemu, Bummie.” Sapa orang itu dengan senyum sehingga kedua dimple itu tercetak dengan jelas diwajah tampannya.

Hyung… Jung Soo… hyung?” Gagap Kibum tidak percaya.

Nde, ini aku. Bagaimana kabarmu hum?”

Kibum mengerjap beberapa kali, ia berpikir bahwa ini hanya mimpi. Tapi ketika merasakan sentuhan lembut juga pelukan yang begitu hangat, ia merasa kalau ini nyata.

Bogoshipo nae dongsaeng...”

Kibum melepaskan pelukan itu, ia memandang sang leader yang sudah ia anggap hyungnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“YA! Jangan menatapku seperti itu Kibum-ah, aku bukan setan dan kau tidak sedang bermimpi.”

“Eh, benarkah?”

Tiba-tiba ada yang memukul bagian kepala belakangnya dengan keras. “Hei!” Serunya tidak terima atas perlakuan orang itu. Kibum membalikan tubuhnya kebelakang dan ia semakin terkejut begitu sadar orang yang hampir dipukulnya tadi itu Donghae. Pemuda itu tersenyum manis dan mengacungkan kedua jarinya, membentuk tanda ‘Victory’.

“Kau merasa sakit bukan? Berarti ini bukan mimpi.”

Kibum mengerjap lagi begitu disekelilingnya ada orang-orang yang ia rindukan. Keluarga keduanya, Super Junior. Hyung juga dongsaengnya ada dihadapannya kini, bahkan Zhoumi dan Henry pun hadir di antara mereka, hanya satu yang tidak ada–Hankyung.

“Kalian.. Bagaimana bisa kalian ada di sini?” Suara Kibum tiba-tiba saja menghilang, rasanya susah sekali untuk mengucapkan sepatah kata. Melihat mereka, orang-orang yang ia sayangi ada dihadapannya kini benar-benar seperti mimpi. Atau… ini memang hanya mimpi?

Jung Soo mendekat ke arah Kibum yang sedang di rangkul oleh Siwon. Ia memeluk Kibum erat. “Kau tahu Kibum-ah, kami sangat merindukanmu.” Lirih Jung Soo di telinga Kibum.

Nde, hyung benar Kibum-ah. Kami merindukanmu, sangat.” Sambung Siwon dan ikut merengkuh tubuh Kibum yang disusul oleh yang lain. Mereka kini saling melepas rindu juga tangis mereka dalam sebuah rangkulan hangat. Merasakan dekapan yang sudah lama tidak Kibum rasakan membuat perasaan pemuda itu meledak-ledak. Sungguh, ini adalah hari yang paling ia tunggu-tunggu sejak ia memutuskan untuk ‘istirahat’ dari kegiatan Super Junior.

“Akupun merindukan kalian, hyung.” Seru Kibum diantara sela-sela tangis bahagianya.

“Aku baru melihat kau menangis dihadapan semua orang untuk pertama kalinya Kibum-ah,” ucap seseorang yang sedari tadi hanya melihat semua hyungnya saling merangkul. Kibum yang sudah melepaskan pelukannya menatap orang itu dengan senyum.

“Apa?”

Kyuhyun berjalan mendekat ke arah Kibum dan berhenti ketika jarak mereka hanya tersisa satu langkah.

“Hei, kenapa kau tidak tambah tinggi juga?” Kyuhyun kembali berkata dengan mengejek. “Apa kau–”
Kalimat Kyuhyun terputus begitu saja ketika Kibum memeluknya erat. “Dasar dongsaeng tidak sopan! Aku ini lebih tua darimu, Kyu.”

Kyuhyun tersenyum miring dan semakin melebarkan senyumnya menjadi tertawa renyah. “Hahaha… Karena itulah aku, hyung. Aku tidak akan pernah berubah.” Sahut Kyuhyun dengan membalas pelukan Kibum.

“Eh, ada! Kata siapa kau tidak berubah?”

“Apa?”

“Kau yang sekarang bertambah chubby!” Kibum tertawa begitu menyelesaikan kalimatnya dan tentu saja Kyuhyun langsung memanyunkan bibirnya ke depan. Kibum semakin tertawa lepas begitu melihat reaksi Kyuhyun yang disusul oleh kekehan yang lain. Yoo Kyung yang berada tidak jauh dari sana tersenyum haru melihat Kibum–kakaknya–bisa kembali tertawa bersama mereka.
Melihat Kibum yang seperti itu adalah hal yang sangat gadis itu tunggu-tunggu dan menjadi khayalannya sejak dulu, tapi kini itu menjadi kenyataan tentu saja ia merasa senang.

***

Blue Café kini berubah menjadi lebih ramai oleh celoteh-celotehan para tamu yang hadir, bahkan hingga keluar yang sudah dipenuhi oleh ELF yang semakin banyak. Meneriakan nama-nama bias mereka juga bernyanyi-nyanyi dengan riang. Sepertinya ELF sangat bahagia bisa mendapati idolanya itu bisa berkumpul kembali, yah… meskipun kurang satu member, Hankyung. Bahkan mereka rela berpanas-panasan di luar sana demi melihat idola mereka. Ketika member Super Junior keluar dari café untuk menyapa mereka, saat itulah semuanya semakin histeris, terharu dan lainnya.

“Ah… Sungguh aku sangat bersyukur bahwa tadi itu hanya sandiwara. Aku hampir saja terkena serangan jantung karena terkejut. Kalian hebat bisa menipuku dengan mulus tanpa cacat. Dan kau hyung…,” Kibum menatap Donghae yang duduk di samping Hyukjae. “Acting-mu hebat!” Kibum mengacungkan kedua ibu jarinya ke depan, memuji kekompakan para hyungnya yang berhasil mengerjainya hari ini.

Mereka menggeleng bersamaan. “Aniyeo. Bukan kami yang seharusnya mendapat pujian dan terima kasih darimu Kibum-ah, dia lah yang seharusnya mendapat pujian darimu.” Donghae menunjuk ke arah Yoo Kyung yang sedang duduk bersama Siwon, Ryeowook, dan Sungmin di meja yang tidak jauh dari tempat duduknya.

“Yoo Kyung? Apa yang dilakukannya hyung?”

Jung Soo tersenyum, “Ku rasa kau harus tahu tentang ini Kibum-ah.”

Kibum menunggu kelanjutan dari kalimat Jung Soo. “Yoo Kyung yang membuat kami semua ada di sini sekarang, dia lah orang yang paling berjasa karena bisa membuat kita bisa berkumpul lagi hari ini.”

“Aku tidak mengerti.”

“Kau masih ingat yang dilakukan oleh ELF dulu yang membeli saham SM? Yang dilakukan Yoo Kyung pun tidak jauh berbeda dengan itu.”

Kibum membelalakan matanya, terkejut? Sangat. Mungkin lebih tepatnya tercengang. Adiknya itu bisa membeli saham SM? Dapat dari mana uang sebanyak itu?

Donghae yang mengerti perubahan wajah Kibum segera menyela, “Bukan membeli Kibum-ah. Hanya membeli jadwal kami hari ini.”

Kibum beralih menatap Donghae, masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya. “Yoo Kyung mengumpulkan uang dari ELF dan datang ke kantor SM dengan membawa uang yang terkumpul itu untuk diserahkan ke Sooman Sanjang-nim. Gadis itu bilang ingin menyewa kami dalam beberapa jam saja.”

“Oh.. God!” Desahan itu lolos dari bibir Kibum. Ia tidak menyangka adik kecilnya itu bisa melakukan hal seperti itu, menyewa Super Junior dari uang yang dikumpulkannya dari berbagai ELF. Oh my..

“Meskipun uang itu tidak cukup, Yoo Kyung tetap bersikeras akan menyewa kami Kibum-ah.” Sambung Yesung dengan membawa beberapa cake kemudian meletakannya di meja.

“Perjuangan adikmu itu patut diacungi jempol. Gadis itu mampu meluluhkan hati Sanjang-nim hanya dengan secuil kata namun bermakna.”

Kibum hanya diam, mendengarkan dengan seksama cerita dari hyung-hyungnya ini mengenai adiknya.

Kebersamaan dan cinta tidak bisa dibeli dengan uang. Meskipun mereka tidak lagi menjadi bagian dari kalian, tapi mereka tetap akan menjadi bagian dari kalian. Kami, ELF tidak bisa melupakannya begitu saja. Bukan karena aku adiknya, aku bicara seperti ini sebagai fans, sebagai ELF. Bukan sebagai adik Kim Kibum.”

Kibum terdiam mendengar kalimat yang diucapkan Jung Soo, mengutip dari kalimat yang diucapkan Yoo Kyung beberapa hari lalu ketika gadis itu memohon pada Sooman Sanjang-nim.

Jung Soo ingat ketika gadis remaja itu mengucapkannya dengan lantang di depan pintu lobby gedung SM. Saat itu ia sedang bebas tugas sehingga mengunjungi dorm, namun ketika sampai di lobby langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis remaja berseru dengan lantang bersama teman-temannya. Semua orang yang ada di sana termenung dan merasa trenyuh atas usaha gadis itu sehingga mereka pun ikut menyuarakan suara mereka, mendukung agar Super Junior bisa berkumpul walaupun hanya beberapa jam saja. Tadinya Sooman Sanjang-nim tidak begitu peduli, tapi ketika Kim Sung Jae, salah satu pemegang saham terbesar SM melihat aksi Yoo Kyung, pria baya itu memanggilnya masuk dan mengajaknya bicara. Berdua. Entah apa yang mereka sepakati sehingga memperbolehkan semua member Super Junior diliburkan sehari. Hari ini. Termasuk member yang wajib militer seperti; Jung Soo dan Jong Woon.

***

Annyeong hasimika, naneun Kim Yoo Kyung, bagapta.” Suara Yoo Kyung yang begitu khas membuat gadis itu menjadi pusat perhatian. Semua yang ada di ruangan itu memusatkan perhatian mereka pada gadis itu yang mulai berbicara.

“Saya sebagai perwakilan dari ELF ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk Oppadeul yang sudah meluangkan waktunya untuk datang kemari, merayakan ulangtahun dari salah satu member Super Junior Kibum oppa, bersama kami, ELF.” Tepuk tangan yang begitu meriah langsung menyambut kalimat gadis itu ketika terhenti.

“Kami tahu, bahwa ini mungkinlah tidak seberapa bila dibandingkan dengan hadiah-hadiah lain yang mungkin oppa dapat dari fans oppa. Tapi, meskipun begitu.. Kami harap oppa bisa merasa lebih baik setelah bertemu mereka. Meskipun nantinya kalian akan kembali berpisah, kami akan tetap mendukung kalian oppadeul. Kami akan selalu mengingat kalian meskipun makin banyaknya boyband baru yang bermunculan cinta kami terhadap uri Super Junior tidak akan pudar. Kami akan tetap mencintai dan mendukung kalian. Dan.. Untuk Kibum oppa,” Yoo Kyung menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat, matanya pun mulai dipenuhi dengan kabut-kabut tipis yang mulai menumpuk dipelupuk mata. Yoo Kyung menarik nafas panjang. “Untuk Kibum oppa… Kami tidak pernah melupakanmu, oppa. Kami selalu mengingatmu. Meskipun kau tidak lagi berdiri di atas panggung bersama mereka tapi bagi kami oppa tetap bagian dari Super Junior sampai kapanpun. Tidak ada yang bisa merubah itu. Dan juga, kami merindukanmu.”

“Maaf karena tidak bisa membawa Hankyung oppa hadir di sini,” Yoo Kyung sudah meneteskan airmatanya, sama seperti ELF yang hadir di sana. Nafasnya terasa begitu sesak. “Aku hanya bisa memberikan ini untukmu, oppa. Ini hadiah dariku.” Yoo Kyung memutar sebuah kaset CD dan tidak lama terpampanglah wajah Hankyung di layar tv plasma yang ada di café itu. Semua orang yang ada di sana langsung berpusat pada layar tv.

Annyeonghaseyo..” Suara pemuda asal China itu memenuhi café yang mendadak hening. Bahkan semua pasang mata yang hadir disana terfokuskan pada layar televisi berukuran besar yang sedang menayangkan wajah Hankyung.

“Lama tidak bertemu denganmu, Kibum-ah.. Bagaimana kabarmu? Dan juga kalian hyung serta dongsaengku? Aku harap kalian selalu dalam keadaan sehat. Ah ya, aku ucapkan selamat ulang tahun, Kibum-ah. Saengil chukkhahamnida.” Hankyung bertepuk tangan dengan senyum ramahnya. “Tunggu, aku ada sesuatu untukmu.” Pemuda itu membelakangi kamera sebentar kemudian berbalik kembali dengan kue ulang tahun bertuliskan, ‘Happy Birthday to Kim Kibum’ beserta lilin berangka 27 yang sudah menyala. Hankyung mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan tiga bahasa berbeda, inggris, korea dan mandarin.

Kibum sudah tidak bisa lagi menahan airmatanya untuk tidak turun. Cairan bening itu lolos begitu saja membasahi kedua pipinya. Jung Soo yang ada di samping pemuda itu segera merengkuhnya, memeluk erat, bahkan Jung Soo pun ikut menangis.

Saengil chukkhahamnida, nae dongsaeng. Mianhata hyung tidak bisa datang untuk mengucapkannya secara langsung padamu, hanya bisa dengan cara ini. Meskipun begitu, hyung harap kau menyukainya. Aku juga ingin mengatakan bahwa aku begitu merindukanmu, Kibum-ah. Bogoshipoyo.” Hankyung kini telah meneteskan airmatanya begitu kalimat itu keluar dari bibirnya.

“Aku sangat menyukainya, nado bogoshipoyo, hyung. Gamshahamnida. Aku tidak akan melupakanmu, hyung.” lirih Kibum dengan mengusap pipinya yang basah. Bukan hanya Kibum yang meneteskan airmatanya bahkan semua orang yang ada disana ikut menangis. Terlebih para ELF yang begitu histeris karena bisa melihat idola mereka berada dalam satu tempat yang sama meskipun tanpa Hankyung, tapi tetap tidak mengurangi rasa bahagia yang meledak-ledak begitu melihat idola mereka kembali bersatu. Seakan mengingatkan mereka dulu, sewaktu awal perjalanan karir Super Junior.

***

Hyung..” Kibum memanggil Jung Soo yang sedang melahap cake. Hyung tertuanya itu mendongak.

“Apa?”

“Kau tahu apa yang Yoo Kyung sepakati dengan Sung Jae Sanjang-nim?” Kibum terlihat begitu penasaran. Jung Soo mengangkat bahunya, “Tidak.”

“Aku tahu, Kibum-ah.”

Kibum dan Jung Soo menoleh bersamaan, Ryeowook tersenyum. “Apa hyung? Katakan.” Desak Kibum tidak sabar.

“Yoo Kyung akan menjadi model pembuatan video clip terbaru kami.”

Jung Soo dan Kibum sontak berseru kaget dengan mata membulat sempurna.

“APA?!”

FINISH!!!

8 comments

  1. Kali nie aq acungkan 2jempol untukmu, udh bkn aq nangis. Miss you Bummie!!! ;( Kami slalu menunggumu untuk berdiri tegak d’panggung bersama oppadeul kami…
    Dan aq suka ma qoute’s nie :

    “Kebersamaan dan cinta tidak bisa dibeli dengan uang.Meskipun mereka tidak lagi menjadi bagian dari kalian, tapi mereka tetap akan menjadi bagian dari kalian. Kami, ELF tidak bisa melupakannya begitu saja.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s