Marrying with Millionaire Part 1

wpid-1524855_1473457642882725_875009230_n.jpg

Auhtor : Blue Rose

 

Title : Marrying with Millionaire Part 1

Genre : Romance, Marriage live

Length : Series

Rate : NC21, Yadong

Cast : Lee Hyukjae, Kim Jaekyung

 

====

Cerita ini murni milik saya, bagi ada kesamaan saya mohon maaf, itu unsur tidak sengaja. Dan bagi yang ga suka, harap jangan baca. Dan jangan di COPY PASTE. Mau berbangga diri lebih baik karya sendiri daripada punya orang lain yang kamu copy dan kamu ganti pake namamu. Itu ga kreatif sama sekali.😀

Oke… semoga ceritanya ga membosankan dan maafkan saya juga kalau ada kata yang kurang enak dibaca atau yang lainnya. Karena saya masih belajar jadi butuh bimbigan, jadi jangan sungkan kalau mau mengkritik ya.. ^^

=============================Happy Reading==============================

Malam semakin larut dan suhu kian menurun. Suhu yang dingin akibat guyuran hujan yang terus turun membasahi bumi, tampaknya tidak mempengaruhi kedua insan yang sesaat lalu baru mendaki puncak kepuasan secara bersama. Kini mereka berbaring bersebelahan, nafas keduanya masih memburu.

Hangat dan nyaman, rasa itulah yang kini dirasakan oleh salah satu dari mereka ketika lengan itu melingkupi tubuhnya.

“Kau… Tidak menyesal ‘kan?”

Gadis—ah, wanita—itu membalikkan badannya, menatap pria yang juga menatapnya.

“Kenapa?” ia justru balik bertanya. Apakah raut wajahnya menampakan sesal sehingga pria ini menanyakan hal itu?

“Aku bertanya, kenapa malah balik bertanya?”

Wanita itu terkekeh mendapati wajah pria yang baru saja memberinya kesenangan yang baru ia rasakan ini memberengut, kesal. Diusapnya dengan gerakan perlahan pelipis pria itu, “Aniyeo. Kalau aku menyesal, aku pasti sudah menangis ‘kan?” Benar, ia tidak menyesal. Sama sekali tidak.

Ia—yang notabenenya memegang teguh prinsip ‘no married no sex’ kini justru menyerahkan miliknya yang paling berharga dengan suka rela pada pria ini. Pria yang baru di kenalnya beberapa jam lalu. Gila. Yah, sepertinya kata itu cocok untuknya.

Mereka bertemu di sebuah club malam, tempat Jaekyung ingin mencoba melepaskan penatnya. Melupakan masalah yang membelit hidupnya, membuatnya merasa sesak nafas dan rasa-rasanya ia ingin mati aja. Sepertinya itu pilihan bagus. Tapi sayang, ia masih ingat dengan adik perempuannya—Kim Jee Ah. Apa jadinya adiknya yang manis itu jika ia pergi. Siapa yang akan membiayai hidupnya kelak? Ah, ia sangat sayang pada anak itu, melebihi dirinya.

Lee Hyukjae—pria berkulit putih dan bermata sipit dengan senyum yang begitu khas—dia lah pria yang pertama dan berani menyapanya lebih dulu.

Dan entah kenapa ia mau menyambut kedatangan pria itu, dengan cara tersenyum manis. Bahkan sebelumnya, ia menolak ajakan beberapa pria yang mencoba mengajaknya bicara atau menari di lantai dansa.

Pria bermarga Lee ini tampak berbeda dari pria kebanyakan. Pembawaannya santai dan pembicaraanya pun ringan. Cool. Itulah kesan pertama yang ia simpulkan ketika melihat Hyukjae.

Dan entah bagaimana detailnya ia bisa ada di sini sekarang, bersama dalam satu ranjang dengannya—Hyukjae—tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya selain selimut ini.

Oh, ini gila. Benar. Bagaimana bisa ia berbuat sampai sejauh ini? Ia sama sekali tidak mengenal Hyukjae—sebelumnya. Tapi ia yakin jika pria ini adalah orang Korea. Mata sipitnya itu begitu khas. Dan juga pria ini lancar sekali berbicara bahasa hangul. Ia benar kan? Orang Eropa tidak ada yang bermata sipit, pengecualian jika orang tua mereka campuran. British.

“Hei, kau melamun,”

Ani, aku hanya sedang mengagumi wajahmu. Kau—bertanya apa tadi?”

Tangan Hyukjae terulur, mengusap pipi Jaekyung, merasakan kelembutan kulitnya ketika indera peraba mereka saling bersentuhan. Menimbulkan getaran-getaran yang sama seperti saat ia menjabat tangan wanita ini ketika di club.

“Apa kau tidak menyesal setelah ini?”

Jaekyung menyerngit bingung, “Menyesal untuk apa? Bukankah kita melakukannya atas dasar suka rela?” Ia bahkan tidak menolak dan melakukannya dengan sadar.

“Apa justru kau yang menyesal?”

Hyukjae menarik halus tubuh Jaekyung agar semakin dekat dengannya, “Ani. Aku hanya takut kau menyesal saja,”

“Tidak, sungguh.”

Pria bermata sipit dengan kulit putih itu tersenyum lebar, “Jinjjcayo?” tatapannya tak Jaekyung sangka…, nakal.

Nde..” sahutnya disertai rona merah muda di kedua pipi chubby nya. Meskipun ruangan tempat mereka remang—hanya ada pencahayaan dari lampu duduk yang terletak di sudut kamar, tapi pria ini yakin jika wanitanya ini merona.

“Hyukjae… Kau terlalu dekat,” Jaekyung menahan dada bidang pria ini dengan sebelah tanangannya. Hyukjae menyerngit, “Setelah apa yang kita lakukan beberapa menit lalu kau memanggilku apa? ‘Hyukjae’?”

Nde? Memang harusnya apa?” pertanyaan polos itu membuat Hyukjae gemas. Wanita ini…

“Sepertinya aku harus melakukannya sekali lagi agar kau ‘tidak lupa’ dengan panggilan yang kau gunakan tadi.” Hyukjae tersenyum lebar. Jaekyung merapatkan selimut berwarna coklat pastel yang menutupi tubuhnya, menggenggamnya erat.

“Kau…, mau apa?”

“Menurutmu?” Hyukjae menatap Jaekyung dengan raut jenaka. Menggoda wanita ini.

“Ya! Jangan mendekat,” Jaekyung semakin erat mencengkeram selimutnya, Hyukjae mengabaikan larangannya. Semakin dekat dan dekat hingga ia bisa merasakan nafas hangat pria ini.

“Hyuk—” Jaekyung menahan nafasnya. Bibir tipis nan hangat itu kini bergerak menyusuri tulang belikatnya, berhenti di pangkal leher bagian dalam. Mengendus dengan hidungnya kemudian Jaekyung bisa merasakan sedikit basah. Hyujae menjilatnya—lehernya yang penuh dengan jejak merah keunguan.

“Bagaimana, eummm….” pria itu bergumam, memancing Jaekyung.

“Eugh—” sial, maki wanita ini. Kenapa justru desahan yang keluar dari bibir merahnya yang kini sudah membengkak—akibat ulah Hyukjae.

“Hyuk…” Jaekyung menggelinjang menahan sensasi ketika jemari panjang nan lincah itu bergerak menggodanya. Belum menyentuh bagian dalam, hanya luar saja kenapa sensaninya begini?

“Ayo sebut aku dengan benar, Kyung-ie…” suara Hyukjae terdengar berat dan sexy di telinga Jaekyung. Gadis itu tidak menjawab, sibuk menahan desahannya agar tidak keluar dengan menggigit bibir bawahnya.
Hyukjae yang gemas melihat tingkah wanitanya menyeringai, “Baiklah, kau masih tidak mau memanggilku hum, gwaenchana.”

“Ya!” Jaekyung seketika menatap Hyukjae dengan tajam namun hanya dibalas dengan kekehan ringan. “Kau— eugh…”

Sh*t, kenapa suara itu lagi yang keluar dari bibirnya?

“Bagaimana? Masih memanggilku ‘Hyukjae?” pria ini menyeringai menang melihat wajah frustasi yang ditunjukkan oleh Jaekyung. “Panggil aku ‘Oppa‘ baru aku hentikan,”

Jaekyung membuka matanya, menatap Hyukjae yang berada di atasnya. Menatapnya dengan tatapan menggoda. Pria ini terlalu sempurna. Bibir, hidung, rahang, wajah, semuanya dalam porsi yang pas—bagi Jaekyung.

“Sh*t, bisakah kau berhenti mempesonaku, Hyuk-ah?”

“Jadi kau terpesona padaku nona Kim?”

“Ya! Pelan-pelan,” Jaekyung sedikit meringis ketika Hyukjae menambah tempo gerakan jemarinya. Perih itu masih terasa.

“Eugh… Aku bilang pel—an-pelan.” ucap Jaekyung terputus. Hyukjae yang sudah tidak tahan melihat raut tersiksa Jaekyung segera membungkam bibir merah wanita itu. Bibirnya yang seperti buah cherry. Ia suka dengan bibir Jaekyung. Kecil dan padat. Apalagi bagian cekungan atas bibirnya—phillytrum.

Désolé, mais je ne peux pas.” (Maaf, tapi aku tidak bisa)

“Hyukjae!” Jaekyung membelalak kaget dengan tindakan Hyukjae yang membuat mereka menyatu dalam sekali sentakan. Meskipun tidak terlalu sakit—seperti saat pertama kali—tetap saja ia mendesis ngilu. Ia seperti tertarik ke suatu tempat yang ia tidak bisa mengatakannya, ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya, yang jelas ia merasa dirinya begitu penuh dan ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya saat hentakan pria ini semakin liar. Tak terkendali.

Op—pa.. Hyukjae oppa… Eughh…”

Hyukjae tersenyum puas dari balik punggung Jaekyung. “Kau ingat, hm?” bisiknya lirih di telinga kirinya kemudian mengecup berulang kali bagian belakang telinga wanita ini.
Jaekyung tidak menjawabnya, ia sibuk mendesah dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Hyukjae.

Tiba-tiba Hyukjae berdiri dengan menarik Jaekyung ikut serta, “Letakan kakimu di pinggangku,” Jaekyung menurut. Hyukjae berjalan ke arah kamar mandi.

Jaekyung tidak berkomentar, ia hanya diam dan membantu pria itu membukakan pintu agar mereka bisa masuk ke dalam dan setelahnya hanya terdengar samar-samar suara abstrak keduanya. I think, you know what they are doing ..

ππππππππ©©©ππππππππ

Wanita itu tersenyum lebar dan memekik senang ketika akhirnya ia bisa melihat Menara Eiffel dari dekat. Ia bahkan sampai melepaskan genggaman tangan Hyukjae untuk mengagumi betapa menakjubkannya bagunan pencakar lagit yang dijadikan salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Pria itu tidak berkomentar, hanya tersenyum simpul melihat wanita itu bisa tersenyum. Terlihat lebih cantik, batinnya.

“Apa kau harus seantusias ini heh?” nada Hyukjae sedikit merajuk.
Jaekyung berbalik, menghampirinya kemudian menggandeng lengannya. “Tentu saja aku senang, karena tujuanku kemari kan memang untuk liburan. Tapi karena kau, aku jadi tidak bisa menjalankan rencanaku.” bibir Jaekyung mengerucut. Hyukjae gemas sekali melihat wanita ini merajuk begini sehingga ia menjawil hidung mancungnya.

Ia tahu, ia salah karena telah mengurung Jaekyung di kamar hotel bersamanya selama 2 hari 1 malam. Makan pun ia menelpon room service agar membawakan pesanan makanan mereka ke kamar.

“Tapi kau tidak keberatan terus bersamaku, yang ada kau malah senang. Iya kan?” pipi Jaekyung langsung merona, wanita itu langsung memalingkan wajahnya ke samping.

Anniyeo,”

“Ck, kau tidak pandai berbohong, Kyung-ie..”

Jaekyung tidak menyahut. Ini memalukan. Yang dikatakan Hyukjae memang benar, bahwa ia menyukainya.
Kalau di sini ada Yookyung dan Donghae pasti mereka akan menggodanya. Karena jarang sekali Jaekyung dapat tersenyum malu begini—sejak kejadian satu bulan lalu.

Tepatnya setelah ia gagal menikah dengan —Lee Hongki—kekasihnya.
Pria itu meninggalkannya tepat saat hari pernikahan, ketika ia berdiri di depan altar. Dengan teganya pria itu mengatakan jika ia tidak bisa menikah denagannya karena ia telah mencintai wanita lain yang sedang mengandung anaknya.

Tidak ada badai tidak ada hujan angin, kalimat yang di ucapkan oleh pria itu seakan membuatnya tuli mendadak. Ia merasa jatuh dari tebing yang curam dan tinggi. Impian tentang keluarga kecil yang bahagia, yang ia rangkai sejak 3 tahun lalu lenyap dalam hitungan detik.
Hanya derai airmata yang keluar, tidak ada sepatah katapun. Tidak ada yang bisa ia lakukan ketika Hongki meninggalkannya, ia hanya menatap punggung itu nanar.

Setelah kejadian itu ia berubah—tidak hanya dirinya, tapi semuanya. Yang ia lakukan hanya pergi bekerja, pulang lalu tidur, begitu seterusnya. Dan pada akhirnya Yookyung mengusulkan untuk mengambil cuti kerja—berlibur—untuk merilekskan pikirannya.

Gadis itu sangat tidak tega melihat Jaekyung yang sudah seperti zombie, setelah bujukan yang keras akhirnya Jaekyung mau mengambil cuti. Menggunakan semua uang tabungannya yang tersisa untuk berlibur ke Paris—seperti saran sahabatnya. Berharap dengan berlibur ia bisa melupakan kenangan buruk itu.

‘Paris itu kota romance, siapa tahu dengan kau berlibur ke sana kau bisa mendapatkan cinta yang baru,’

Yookyung benar, sepertinya ia memang mendapatkan cinta yang baru. Tapi ini hanya sementara. Liburannya akan selesai dalam hitungan hari—3 hari lagi dari sekarang.

Ia tidak mungkin bersama pria ini kan? Mereka berbeda. Lee Hyukjae tidak sama. Ia yakin jika Hyukjae punya kehidupan sendiri di sini, dan tentu saja ia tahu itu.

Kenyataan mereka akan segera berpisah kembali memukul telak hati wanita itu. Kenapa Tuhan hanya memberinya kebahagiaan sesaat?

“Kau kenapa?”

Jaekyung mengerjap, “Ani,”

“Aku mau membeli beberapa oleh-oleh untuk temanku, boleh?” Jaekyung melirik Hyukjae yang sibuk dengan ponselnya.
Pria itu menoleh sekilas kemudian mengalihkan tatapannya ke segala arah. Saat ini mereka berada di sebuah jalan yang biasa dilalui pejalan kaki—khususnya pelancong atau turis. Banyak sekali toko-toko soveunir yang berjejer rapi sepanjang jalan.

“Kau ingin apa?” Hyukjae kembali menatap Jaekyung. Wanita itu memiringkan kepalanya, berpikir.
Ia teringat adiknya, sepertinya baju boleh juga.

“Itu..” jari telunjuk Jaekyung mengarah ke arah toko baju yang lumayan di penuhi pengunjung. “Kajja,”

Sesampainya di toko, Hyukjae tidak ikut masuk, “Kau saja, aku tunggu di sini.” Jaekyung tersenyum berterimakasih, sepertinya pria ini begitu memahaminya.

“Baiklah,”

Hyukjae mengangguk kemudian mengecup kilat bibir Jaekyung, wanita itu membelalak kaget.

“Jangan lama-lama,” bisiknya lembut.

Oh God, bisa tidak pria ini tidak bersikap seperti ini? Mereka jadi pusat perhatian beberapa pengunjung sekarang.

“Sudah, sana masuk,” Hyukjae sedikit mendorong halus bahu Jaekyung.

Arrayo,”

Jaekyung melangkah ragu, memasuki toko pakaian lebih dalam. Ia menangguk kecil dan tersenyum ketika salah satu penjaga toko bertanya apakah mereka pasangan yang baru saja menikah dan berbulan madu.

Andai itu benar, Jaekyung akan dengan senang hati menjawabnya.

πππππππππ©©©πππππππππ

Jaekyung berdiri di samping beranda kamar hotel miliknya—kali ini ia sendiri—memandang langit yang hitam pekat. Tidak ada bulan ataupun bintang yang terlihat di atas sana. Gelap.

Ponsel yang ia letakan di atas ranjang berdering, menginterupsi kegiatannya. Segera ia berjalan ke sana kemudian menjawabnya, belum sempat ia menyapa, suara itu sudah berbicara tanpa jeda.

“Untuk apa aku ke sana?” tanyanya heran ketika Hyukjae memintanya agar datang ke kamar 1004—kamar pria itu. Memang ada apa?

“Aku malas, Hyuk-ah. Aku ingin tidur lebih awal,” itu bohong. Sejujurnya, ia hanya ingin menghindari pria itu. Ia tidak mau jatuh terlalu dalam. Itu bahaya. Karena lusa ia akan kembali ke negaranya. Mereka tidak akan bertemu lagi.

Hyukjae memang pria yang baik dan lembut, tapi ia tidak mau berharap banyak.

“Pokoknya aku tidak mau, aku lelah, mau tidur, bye.” Jaekyung segera mematikan sambungan begitu Hyukjae tetap memintanya agar datang ke kamarnya.

Di lemparnya ponsel itu ke atas ranjang lalu pandangannya tidak sengaja melihat sebuah dress berwarna peach yang dibelikan Hyukjae siang tadi.

‘Kau akan terlihat semakin cantik jika mengenakan gaun ini, tapi hanya di depanku.’

Jaekyung menggeleng pelan, menepis ingatan itu. Lebih baik ia bebenah saja, pulang lebih awal. Sepertinya itu ide bagus daripada terus menerus di buntuti oleh pria bermarga Lee itu.
Tapi sayang sekali jika esok ia melewatkan berkunjung ke gereja katredal terbesar juga makan malam di kapal yang berlayar di sungai Seine. Ia sudah bayar mahal untuk itu.

Akhirnya wanita itu mendesah kasar, membaringakn tubuhnya di ranjang dengan mata terpejam.

Baru saja ia akan memasuki alam mimpi ketika ia merasakan sisi ranjangnya bergoyang.

Siapa yang datang? Ia hanya sendiri di kamar ini.

Apa gempa?

Mustahil.

“Kyung-ie…”

Astaga, kenapa suara itu terdengar lagi. Tidak mungkin ‘kan tiba-tiba pria itu ada di—

“Ya!” Jaekyung langsung terlonjak kaget begitu ia berbaring miring melihat Hyukjae ada di kamarnya. Dengan cepat ia berdiri, “Apa yang kau lakukan di sini, Hyukjae-ya?”

Hyukjae tersenyum lebar, “Tentu saja memastikan dugaanku, dan benar kan.. Kau belum tidur, ck.”

Jaekyung memperhatikan penampilan pria itu. Tampan. Meskipun, hanya mengenakan pakaian santai, celena jeans selutut dengan hodie biru tua dan rambut yang rapi. Pria ini selalu mampu membuatnya terpesona.

“Kenapa kau bisa masuk?!” seru Jaekyung ketika ingat sesuatu.

“Tentu saja bisa, kau tidak mengunci pintunya.”

Jaekyung menyerngit, benarkah ia lupa menguncinya? Tapi seingatnya ia sudah menguncinya tadi.

Hyukjae mendekat ke arah Jaekyung yang masih berpikir, “Kajja, aku tunjukkan sesuatu padamu.”

“Hei, hei,” Jaekyung meronta, meminta pria itu berhenti menyeretnya keluar kamar. Ia akan dibawa ke mana?

“Diam,” Jaekyung menggeram halus. Pria ini…

“Kau mau membawaku ke mana? Aku tidak mau ke luar, lihat…, aku bahkan masih menggunakan ini,” keluh Jaekyung dengan memperhatikan baju yang dikenakannya. Baju tidur satin berwarna ungu. Hyukjae berhenti tepat depan pintu kamar hotel, memperhatikan wanita itu.

“Begitu saja sudah cukup, kau tetap cantik.” Satu kecupan Jaekyung rasakan di sudut bibirnya.

“Cih, rayuan murahan.”

“Itu sungguhan Nona Kim, kajja,” kali ini wanita itu menurut, tidak berkata apapun lagi, mengikuti langkah Hyukjae yang terus menggenggam jemari tangannya, saling menaut. Hangat. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.

Dapatkah ia rasakan kehangatan ini lagi jika mereka berpisah esoknya?

ππππππππ©©©πππππππππ

Jaekyung menatap Jyukjae meminta penjelasan ketika mereka sampai di kamar pria itu. Kamar yang tadinya biasa—seingatnya—kini telah berubah. Pria itu tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum.

Jaekyung melangkah masuk lebih dalam, ia dapat mencium wangi bunga-bungaan. Ia memperhatkan sekitarnya, ranjang dengan ukuran besar itu kini berbeda. Ada kelambu panjang yang menutupi sebagian ranjang itu, di atas ranjang yang bersepraikan warna putih kini bertaburan kelopak bunga mawar yang membentuk hati. Lalu lilin-lilin yang menyala di lantai. Sangat romantis.

“Kau suka?” Jaekyung berbalik, menatap Hyukjae yang menatapnya dengan senyum.

“Ini untukku?” tanyanya ketika Hyukjae menglurkan mawar merah, pria itu mengangguk. Jaekyung segera memeluknya, ia terharu. Belum ada seorang pria pun yang berlaku begini baik padanya selain Hyukjae. Pria ini benar-benar sesuatu.

“Duduk,” Jaekyung duduk di sisi ranjang, “Jjamkamman,” Jaekyung hanya memperhatikan Hyukjae yang pergi meninggalkannya ke kamar mandi lalu kembali membawa baskom dan meletakannya di bawah—dekat kaki Jaekyung.

“Mau apa?” Jaekyung semakin bingung dengan tingkah pria itu.

Hyukjae menarik halus kaki kanan Jaekyung kemudian mencelupkannya ke dalam baskom berisi air hangat.
Ia memijatnya dengan lembut, “Sakit?”

Jaekyung menggeleng, ia hanya kaget karena geli sehingga dengan refleks ia menarik halus kakinya.
Wanita itu terus memperhatikan Hyukjae yang dengan telaten mengurut kakinya.

“Tunggu, jadi maksudmu aku suruh datang ke sini untuk ini?”

“Ya,” Hyukjae menjawab tanpa menatap wanita itu.

‘Kakiku pegal, aku lelah, aku mau pulang saja.’

Jaekyung teringat ucapannya saat siang tadi, ketika mereka berjalan-jalan. Ia sudah merasa lelah tapi Hyukjae masih ingin mengajaknya mengitari Menara Pisa.

Jadi pria ini melakukan semua ini karena keluhannya. Ya Tuhan, beruntungnya ia bisa bertemu pria sebaik ini.

“Hyuk…”

“Hm?”

“Ceritakan tentang dirimu,” ujar Jaekyung lembut.

“Bukankah sudah aku ceritakan waktu itu?”

“Yang lebih detail lagi,”

Hyukjae mengelap kedua kaki Jaekyung dengan handuk, setelahnya ia berdiri, mensejajarkan tubuhnya—condong ke depan—ke arah Jaekyung. “Kenapa kau ingin tahu?”

“Hm, rasanya tidak adil saja. Kau tahu aku, tapi aku tidak tahu dirimu.”

Hyukjae mengembalikan baskom yang tadi digunakannya untuk mencuci kaki Jaekyung ke kamar mandi, lalu kembali dan duduk di samping wanita itu. “Apa yang ingin kau tahu dariku?”

“Semuanya.”

“Lalu, apa yang aku dapat jika aku menceritakan hidupku?”

“Ck, kau pamrih sekali Tuan Lee,” cibir Jaekyung gemas.

“Di dunia ini tidak ada yang gratis nona Kim.” Hyukjae mengambil nampan yang ada di atas meja kecil samping ranjang, membawa ke pangkuannya. Buah strawberry. “You want?” tangannya mengarah ke mulut Jaekyung. Wanita itu membuka mulutnya, menerima suapan buah strawberry yang berlumuran coklat cair. Asam dan manis.

“Kau ingin apa?”

Hyukjae tampak berpikir, “Aku ingin—kau.”

Joneun?”

Hyukjae mengangguk, “Aku sudah di sini,” Jaekyung mengerti maksud pria itu. Tapi itu tidak mungkin. Lusa ia akan pulang—kembali ke Korea.

“Benar juga.. Baiklah, kau mau bertanya apa?” ia kembali mengangsurkan strawberry ke mulut Jaekyung.

“Hm, sebenarnya aku ingin sekali bertanya ini sejak bertemu denganmu…” ucap Jaekyung setelah menerima suapan kedua.

Mwoendeyo?”

“Kau—apa orang Korea? Eum, maksudku Brithish.”

“Ya, ibuku asli Perancis dan ayah Korea. Ada lagi?”

Jaekyung mengangguk, benar dugaanya. “Apa pekerjaanmu?”

“Aku hanya pegawai hotel biasa,”

“Benarkah?” Jaekyung sangsi jika Hyukjae hanya pegawai hotel biasa. Biar dilihat dari segi manapun pria ini cocok untuk jadi seorang pemimpin sebuah perusahaan. Pakaian, mobil serta aksesoris yang dipakainya cukup berkelas, mustahil jika hanya pegawai biasa.

“Aku hanya manager keuangan,” lanjut Hyukjae yang masih mendapati bahwa Jaekyung menatapnya ragu.

“Ada lagi yang ingin kau tahu?”

Seberapa sering kau tidur dengan wanita?

Ingin sekali Jaekyung mengatakannya, namun ia tidak berani. Itu sangat privasi dan takut Hyukjae tersinggung. Pria ini sudah begitu baik padanya.

“Tidak ada.” sahutnya pelan. Hyukjae mengangguk.

“Hisap,”

Jaekyung menyerngit, “Jariku.” wanita itu mengangguk, menghisap jari telunjuk Hyukjae yang dipenuhi coklat cair. Ia menghisapnya seperti mengemut permen loli.

Hyukjae memejamkan matanya. Pria itu terlihat sangat puas begitu Jaekyung melepaskan hisapannya.

“Apa kau mau aku pijat?”

Jaekyung terkejut, “Pijat?” ulangnya. Hyukjae mengangguk lalu meletakan piring kosong itu ke lantai—dekat nakas.

“Aku bisa memijatmu, kalau kau mau.”

Jaekyung tertawa keras, “Aku tidak percaya jika kau bisa memijat,”

“Hei, kau akan tahu jika sudah merasakan pijatanku. Aku jamin kau akan ketagihan,” pria itu menyeringai.

Jaekyung memandang remeh, “Jincha? Kalau begitu, aku mau coba.”

Hyukjae tersenyum lebar dan mengangguk semangat. “Akan aku buktikan kalau pijatanku enak. Kau akan ketiduran nanti,” bisiknya di telinga Jaekyung.

ππππππππ©©©πππππππππ

Ternyata apa yang dikatakan Hyukjae benar, pria ini memang pintar memijat. Ia yang biasanya akan merasa kegelian jika di pijat kini justru merasa nyaman dan mengantuk. Tangan besar Hyukjae bergerak dengan lembut dengan sesekali menekan bagian yang memang terasa pegal. Pria itu tahu dimana letak-letaknya.

“Hei, kau tidak boleh tidur, nona.” tegur Hyukjae karena Jaekyung untuk kesekian kalinya kembali menguap.
Tangan pria itu kini berada di kedua bahunya, menekannya beberapa kali. Harum minyak zaitun yang dipakai Hyukjae untuk memijatnya sungguh sangat nyaman, sehingga membuatnya mengantuk.

“Hyuk—” Jaekyung menggelinjang geli karena Hyukjae mulai menggodanya. Tangannya mulai bergerak bebas ke titik sensitif di tubuhnya.

“Ya?”

“Kau salah pijat, bodoh.” sungutnya karena Hyukjae tidak mendengarkan tegurannya.

“Tidak, bagian ini juga perlu di pijat.”

“Ya!” Jaekyung terpaksa membalikkan badannya—yang tadinya tengkurap kini jadi telentang. Menatap kesal ke arah Hyukjae yang terkekeh puas.

Tatapan pria itu berubah serius, menatapnya lurus tanpa kedip. Jaekyung mengerjap, ia baru sadar jika ia tidak memakai apapun. Astaga…

“Lihat apa kau?!” secepat kilat ia meraih selimut tipis yang ia gunakan sebagai alas berbaring tubuhnya tadi untuk menutupi tubuh polosnya.

“Kenapa? Toh, aku sudah lihat semuanya, bahkan bagian yang paling dalam dari dirimu.” Jaekyung melemparkan tatapan membunuh, pria ini…, bisa tidak ia tidak bicara segamblang itu? Membuat malu saja.

“Rona pipimu cantik, aku suka.” Hyukjae mengecup kedua pipi Jaekyung secara bergantian.

Wanita itu memejamkan matanya ketika bibir hangat pria itu mengecupi seluruh wajahnya, merambat turun dan berhenti di pangkal lehernya.

“Hyuk—” Jaekyung menahan bahu Hyukjae.

“Hm…” hanya gumaman yang keluar dari bibir pria itu.

“Berat,” cicit Jaekyung. Hyukjae segera tersadar.

Mian,” ia sedikit mengangkat tubuhnya agar tidak terlalu menindih Jaekyung.

Gwaenchana.”

“Jaekyung-ah..”

“Hm..” Jaekyung memejamkan matanya ketika jemari Hyukjae mengelus pelipisnya, turun menyusuri garis wajahnya dan berakhir di atas bibirnya. Ia membuka mata, memandang Hyukjae yang menatapnya dengan tatapan… Memuja?

“Boleh aku menciummu?”

Jaekyung mengerjapkan matanya berulangkali lalu tertawa. “Apa ada yang lucu?”

“Tentu saja ada.” Jaekyung mengusap sudut matanya yang berair. Ia teringat dengan kejadian tempo hari—ketika mereka akan melakukannya, Hyukjae bertanya lebih dulu. Suaranya begitu lembut.

“Dimana letak kelucu—” Hyukjae terkejut, Jaekyung tiba-tiba menciumnya lebih dulu.

“Kurasa, kali ini kau tidak usah sungkan padaku,” ujar Jaekyung setelah melepaskan tautan bibir mereka.

“Kau sungguh-sungguh?”

Jaekyung hanya menjawab dengan anggukan kecil. “Baiklah, aku tak akan sungkan lagi mulai sekarang.” seru pria itu senang yang membuat Jaekyung terkekeh, lagi.

Biarlah ia nikmati kebahagiaan sesaat ini. Untuk kenangannya. Ia harap setelah ia pulang nanti, ia bisa merasakan kebahagiaan seperti ini lagi.

πππππππππ©©©πππππππππ

Rumah kecil yang ia tinggalkan selama seminggu ini ternyata membuatnya rindu. Ia jadi teringat dengan adik kecilnya. Jaekyung segera merogoh tas tangannya untuk menghubungi sang adik—mengatakan jika ia sudah kembali.

Yeobseyo…” suara dari seberang terdengar begitu sambungan tersambung.

Annyeong, Jee-ie…”

Eonnie... Bogoshipda,” Jaekyung terkekeh mendengar lengkingan adiknya.

Nado, saengie.. Bagaimana kabarmu?”

“Aku? Tentu saja baik, kau sendiri?” ujar gadis remaja itu.

“Baik, aku baru saja sampai apartemen lalu menelponmu.”

Nde? Bukankah seharusnya kau baru kembali besok? Kenapa sekarang sudah pulang?” cecar Jee Ah tidak sabar. “Apa liburan di Paris itu membosankan eoh?”

“Tidak juga, tempatnya lumayan.”

Mwoga? Masa hanya lumayan? Bukankah di sana tempatnya bagus?” terdengar nada kecewa dari suara Jee Ah.

“Tempatnya memang nagus, tapi aku ke sana seorang diri tentu saja tidak sebagus apa yang di katakan orang. Di sana hampir semuanya membawa pasangan, hanya aku saja yang sendiri.” terpaksa Jaekyung mengarang cerita. Ia pulang lebih awal dari jadwal karena tidak ingin terlalu dekat dengan Hyukjae, maka ia putuskan untuk menyudahinya. Ia bahkan pergi tanpa pamit—ketika pria itu masih tertidur. Dan ia hanya meninggalkan sepucuk surat di samping pria itu.

Hanya ucapan terima kasih dan selamat tinggal.

Terdengar kejam kah? Tapi biarlah. Ini lebih baik, pikirnya.

“Hallo, eonnie, kau masih di sana kan?”

Eoh? Nde, kau bicara apa?” gagapnya.

“Aku bilang, apa kau di sana menemukan pria lain? Yang lebih ganteng dan baik dari—”

“Jee… Tunggu sebentar, ada tamu. Nanti aku telpon lagi, bye.” Jaekyung segera mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari adiknya. Ia yakin jika gadis itu pasti sedang menggerutu sekarang. Biarlah, itu urusan nanti. Sekarang ia harus melihat siapa tamu yang dengan tidak sabarnya memencet bel rumahnya.

“Ya! Kenapa lama sekali huh?!” seru seorang gadis begitu pintu terbuka.

Jaekyung hanya menggelengkan kepalanya, “Kau saja yang tidak sabar, ada apa kau kemari?”

Gadis itu—Yookyung—mengeluarkan sebuah majalah, “Kyung-ie, kau dalam masalah besar sekarang.” paniknya dengan menunjukkan majalah itu.

“Aku dalam masalah? Memang apa yang aku lakukan?” tanyanya heran, berjalan menghampiri sahabatnya dengan membawa nampan berisi teh hangat.

“Ini petaka, Kyung-ie..” desah Yookyung lemas. Ia prihatin dengan nasib sahabatnya ini.

“Petaka apanya? Kau membuatku bingung,” Jaekyung segera meraih majalah yang tergeletak di meja—yang tadi dibawa gadis itu.

Jaekyung seketika menjatuhkan majalahnya, ia menatap kosong ke arah Yookyung. “Ini… bagaimana bisa—?” suaranya bergetar.

Yookyung segera berdiri dan memeluk wanita itu, “Jadi benar itu kau, chigu-ya?”

Jaekyung mengangguk, ia tidak mungkin menyangkalnya. Gadis yang sedang bersama seorang pria di dalam foto majalah itu memang dirinya—ia dan Hyukjae. Foto itu saat mereka jalan-jalan dan membeli oleh-oleh. Ia ingat betul baju yang ia kenakan. Mereka berjalan bergandengan tangan dan tertawa riang. Ia sama sekali tidak menyadari jika ada seseorang yang menguntit mereka lalu menyebarkan foto-foto ini.

“Bagaimana ceritanya kau mengenal Lee Hyukjae?”

“Kami bertemu di club, di hari kedua aku berada di sana.”

“Apa kau tidak tahu jika pria itu anak dari Lee Jung Sik—pemilik Nagoya Enterprise?” Jaekyung menggeleng. Itu benar. Ia memang tidak tahu. Lagi pula, Hyukjae mengatakan jika dirinya hanya pegawai hotel bagian keuangan.

Jaekyung menangis dalam diam, ia memikirkan nasib kedepannya. Ia telah berurusan dengan putra dari Lee Jung Sik, itu berati ia memang dalam masalah besar. Karena Nagoya Enterprise adalah salah satu perusahaan besar di Asia yang bergerak di bidang system informasi juga bisnis lainnya.

“Eh tunggu, Yoo… Kau bilang Hyukjae anak dari Lee Jung Sik?” Yookyung mengangguk.

“Tapi ia bilang padaku jika ia hanya pegawai biasa dan lagi, ia tidak tinggal di Korea.” ia baru ingat fakta ini.

“Memang benar, tapi pria yang ada di foto itu memang Lee Hyukjae putra Lee Jung Sik, ia anak yang tidak di duga kedatangannya.”

“Maksudmu?” Jaekyung sama sekali tidak paham maksud gadis itu.

Yookyung sudah berniat menjelaskan tapi suara bel membuatnya mengurungkan niatnya itu. Jaekyung segera mengusap wajah sembabnya kemudian menuju pintu.

“Maaf mengganggu, apa di rumah ini ada nona yang bernama  Kim Jaekyung?”

Jaekyung menyerngit memperhatikan penampilan dua orang pria yang menatapnya, menunggu jawaban. “Nde, saya sendiri.”

Salah satu pria berpakaian hitam itu mengeluarkan identitasnya. Jaekyung membulatkan matanya karena terkejut, atau lebih tepatnya syock.

FBI (Federal Bureau of Investigation)

Oh my… Dia bukan buronan tapi kenapa sampai ada FBI datang mencarinya. Sepertinya ia benar-benar dalam masalah besar.

“Nona, anda tolong ikut kami ke Incheon.”

“Ke Incheon? Untuk apa Tuan?” Jaekyung takut.

“Tentu saja untuk melakukan pemeriksaan,” Jaekyung langsung lemas mendengar jawaban itu. Pemeriksaan?

“Bagaimana Nona?”

“Tunggu—sebentar, bagaimana kalau kalian masuk dulu sedangkan saya berganti baju sebentar.”

“Terima kasih, kami menunggu di sini saja. Silahkan anda bebenah,” tolak salah satu dari mereka dengan halus. Jaekyung mengangguk lalu berbalik pergi.

“Siapa, Jaekyung-ah?” tanya Yookyung begitu Jaekyung kembali.

“FBI.” sahut gadis itu pendek. Yookyung mengikuti sahabatnya yang menuju kamar.

“FBI?” ulangnya dengan dahi berkerut. Jaekyung mengangguk lirih, ia sibuk mengaduk-aduk isi koper dan lemarinya.

“Untuk apa mereka mencarimu? Kau bukan buronan negara.”

Seakan baru tersadar Yookyung segera memeluk tubuh Jaekyung yang lemas. Jaekyung memang buronan sekarang akibat fotonya yang beredar di dunia massa.

“Aku harus bergegas, Yoo.” dengan terpaksa Yookyung melepaskan peluakannya.

“Jaekyung-ah…”

Jaekyung hanya menunjukkan senyum sendunya, “Aku ganti baju dulu.” Yookyung mengangguk. Ia tidak tahu harus berkata apalagi.

Kenapa cobaan hidup harus seberat ini?

Yookyung hanya bisa mendoakan semoga semuanya lancar dan sahabatnya baik-baik saja. Ia hanya mengantar kepergian Jaekyung bersama kedua petugas FBI itu sampai lobby apartemen.

“Tuhan… tolong jaga Jaekyung,” lirih Yookyung sendu.

Continue…

76 comments

  1. lgi suka sma tingkah hyukie skrg .. tp aq ttap cinta kyu kok.. hehe.. mknya cari ff yg ad hyukie ny..
    dan aq jatuh hatii..
    udah pernah liat juduk ini sih dulu.. tp krna biasany klo bca ff ttg hyuk ga dpt feel mknya ga dbca.. dan skrg krna lg deman hyuk akhirnya baca deh.. hehe..
    lnjutt yaa..

  2. lgi suka sma tingkah hyukie skrg .. tp aq ttap cinta kyu kok.. hehe.. mknya cari ff yg ad hyukie ny..
    dan aq jatuh hatii..
    udah pernah liat judul ini sih dulu.. tp krna biasany klo bca ff ttg hyuk ga dpt feel mknya ga dbca.. dan skrg krna lg deman hyuk akhirnya baca deh.. hehe..
    lnjutt yaa..

  3. Lahkk Itu Kenapa Jaekyun Di Bawa FBI?? Apa Karna Kabur Dari Hyukjae :v Jadi Kayak Buronan😀 Izin Baca Ff Nya Aku New Readers Di Sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s