Romantic Princess Vol 6

wpid-picsart_1393480179454.jpg

Author : Blue Rose

Title : Romantic Princess Vol 6

Genre : Romance, Sad, Conflict, Family

Length : Series

Rate : PG17

Cast : 

Lee Donghae

Kim Yookyung

Kang In Soo

Kim Kibum

 

 

 

Please Dont Copy Paste! Story Original Is Mine.

“Biarkan aku hidup tanpamu, meskipun itu sulit, tapi aku akan mencobanya. Jadi, kuharap kau pun mau mencobanya.”
 

————o0o———–

Layangan awan hitam mulai berarakan dari arah timur ke barat. Hari yang tadinya cerah kini mulai menggelap. Daun maple kering terbawa oleh angin yang bertiup pelan. Mungkinkah akan turun hujan? Pikir gadis yang duduk sendiri di sebuah ayunan yang ada di taman kanak-kanak. Yookyung, gadis itu mendongakkan wajahnya, menatap langit yang kini hitam pekat.

 

Terdengar isakan lirih yang keluar dari bibirnya yang bergetar. “Kenapa rasanya sesakit ini?’” isaknya lirih. “Kenapa kau harus menyakitiku, oppa? Kenapa?!”

 

Yookyung benar-benar tidak menyangka jika Kibum, kekasihnya, tega melakukan hal ini padanya. Menjadikannya objek balas dendam atas kesalahan yang dilakukan ayahnya di masa lampau.

 

Flashback

“Appa, aku ingin bertanya padamu satu hal.”

 

“Katakanlah..”

 

“Apa Appa mengenal keluarga Kibum Oppa sebelumnya?”

 

Yookyung yang melihat raut terkejut Tuan Lee langsung menegang. Jangan katakan jika ayahnya memang benar mengenal keluarga Kibum. Jangan katakan itu benar..

 

Namun semua pikiran itu musnah ketika ayahnya mengangguk, airmata langsung memenuhi pelupuk matanya. Benarkah ini…

 

“Jadi benar appa yang mengusir mereka dari rumah?” Yookyung sudah menangis. Ia tidak bisa membayangkan jika ayahnya tega melakukannya. Meskipun ayahnya keras tapi Yookyung tahu jika ayahnya adalah orang baik, tidak mungkin tega melakukan hal itu..

 

“Dan ini pun alasan appa melarangku untuk bersama Kibum Oppa? Iya?”

 

“Aigoo… ada apa ini?” Nyonya Kim yang baru datang dengan membawa nampan berisi secangkir teh terkejut ketika mendapati anaknya menangis. Dengan gerakan terburu ia meletakan  nampan di meja kerja suaminya.

 

“Appa..” Nyonya Lee menatap suaminya penuh tanya.

 

“Dengar Yoo, saat itu appa sedang di luar kota. Appa sama sekali tidak tahu kalau mereka di usir dari rumah itu.. Appa…”

 

“Cukup! Aku tidak mau dengar apapun lagi.” Yookyung segera berlari pergi, tidak menghiraukan panggilan ibunya yang terus memanggilnya. Yookyung terus saja berlari menajuhi rumah, berlari entah kemana. Ia hanya ingin sendiri, setidaknya untuk saat ini.

 

Dan di sinilah ia sekarang. Duduk seorang diri yang tanpa tahu bahwa kini tengah diperhatikan oleh seseorang yang tidak jauh darinya.

 

“Aku ingin bicara denganmu, tapi aku yakin kau masih marah padaku saat ini…” lirih pria itu sebelum pergi dengan luka di hatinya.

 

-o0o-

 

Panas matahari semakin menyengat kulit di siang itu, membuat setiap orang enggan untuk keluar rumah. Sepertinya duduk di dalam rumah sambil menikmati ice cream adalah pilihan bagus. Tapi sayangnya, itu bukanlah pilihan gadis ini yang saat kini melangkah dengan cepat menyusuri jalanan di bawah teriknya matahari. Bahkan panggilan serta derap langkah yang kian mendekat tidak ia hiraukan, gadis itu terus saja mempercepat langkahnya, menjauhi Perpustakaan kota -saat Kibum- pertama melihatnya.

 

“Kim Yookyung, kumohon, berhenti!” Seru seseorang dengan menahan salah satu pergelangan tangan gadis itu.

 

“Lepaskan, Kibum-sshi.”

 

Kibum, pria itu melepaskannya enggan. Ditatapnya gadis yang sampai detik ini ia cintai. “Aku ingin bicara,” ujarnya lirih.

 

“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Kibum-sshi. Semuanya sudah selesai.” Sahut Yookyung sengit. Kibum menghela nafas, “Tapi aku ingin menjelaskannya.”

 

“Untuk apa? Toh, semuanya sudah jelas.” Yookyung memalingkan wajahnya ke arah lain. Selama beberapa hari ini ia selalu menghindari pria ini namun kini mereka di pertemukan kembali, membuat rasa sakit di hati gadis itu kembali terasa.

 

Kibum memejamkan matanya sesaat, “Ikut aku.” Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu, ia segera menariknya pergi. Meninggalkan orang-orang yang sejak tadi menatap mereka dengan pandangan ingin tahu.

 

“Ya! Lepaskan. Aku bisa jalan sendiri.” Yookyung berusaha menghentakkan tangannya agar terlepas namun nihil.

 

“Tidak sebelum kau dengarkan semua penjelasanku,” tukas Kibum tajam.

 

Yookyung terdiam, ia baru melihat Kibum yang seperti ini. Pria ini terlihat begitu marah.

 

Hei… seharusnya yang marah itu dia kan? Karena Kibum telah menarik ia seenaknya!

 

Mereka tiba di sebuah restoran jepang dan Kibum segera memesan ruangan khusus. Dan di sini lah mereka saat ini, di sebuah ruangan yang cukup luas dengan mereka duduk berhadapan dalam diam.

 

“Katakan, apa yang ingin kau katakan.” Ujar Yookyung yang mulai kesal karena Kibum hanya diam saja.

 

“Aku tahu kata maaf saja tak akan cukup, tapi aku akan tetap meminta maaf padamu.” Kibum menjeda kalimatnya, “Maafkan aku untuk semua kesalahan dan kebohonganku selama ini padamu.”

 

“Jadi kau mengakui semuanya?” Yookyung tidak habis pikir, ternyata ia begitu bodoh dan naif sehingga dengan mudahnya terjerat oleh pesona seorang Kim Kibum.

 

“Ya..”

 

“Ck, bodohnya aku!” Desah Yookyung dengan miris.

 

“Tapi semua itu berubah setelah kita saling mengenal satu sama lain,”

 

“Mengenal?” Sinis Yookyung. “Aku sama sekali tidak mengenalmu, Kibum-sshi.” Andai saja ia dengarkan larangan ayahnya dulu mungkin ia tidak akan berada di sini sekarang, berurusan dengan pria bermarga Kim ini dan tentu saja ia tidak akan merasakan yang namanya sakit hati.

 

Kibum menarik nafas dalam untuk kesekian kalinya. Yookyung pantas marah, ia maklumi itu. Tapi Yookyung pun harus tahu seperti apa perasaannya. “Dengarkan dulu Yoo… Niat awal memang hanya ingin membalas sakit hatiku yang dilakukan ayahmu pada keluargaku, tapi seiring berjalannya waktu rasa itu sudah tidak ada lagi. Semua itu hilang begitu saja begitu aku sadar aku mencintaimu, sungguh mencintaimu.” Kibum ingin meyakinkan gadis ini jika ia memang mencintainya. Sangat.

 

“Mencintaiku? Cih, omong kosong.”

 

“Aku sungguh-sungguh Nona Kim,”

 

“Kalau kau mencintaiku, kau tidak mungkin menghamili gadis lain, oppa!” Setetes cairan bening itu lolos dari salah satu sudut mata Yookyung, rasa sakit itu datang lagi ketika mengingat kenyataan jika pria ini telah menghamili gadis lain.

 

Kibum terdiam, ia tidak bisa berkata-kata lagi.

Yookyung mencoba menenangkan batinnya, ia tidak boleh terbawa emosi. “Dua tahun bersama ternyata aku tidak pernah benar-benar memilikimu seutuhnya,” lirih Yookyung sedih. “Aku begitu buta akan cinta sehingga dengan mudahnya kau bodohi,” tangis gadis itu pecah.

 

“Yoo… aku sungguh tidak bermaksud begitu, aku pun tidak tahu kenapa hari itu aku bisa bersamanya, aku sama sekali tidak ingat.”

 

Ya, yang diingat oleh Kibum adalah saat ia bagun sudah berada di kamar hotel dengan seorang gadis yang tidur di sampingnya. Ia sungguh tidak ingat hal apa saja yang ia lakukan pada malam harinya bersama gadis itu. Gadis yang sudah ia anggap noonanya, Lee Mida. Dan kini gadis itu mengaku jika ia sedang mengandung anaknya.

 

“Aku ingin bertanya satu hal..”

 

“Apa?” Kibum menatap Yookyung.

 

“Apa yang dilakukan ayahku pada keluargamu, dulu? Sehingga kau ingin balas dendam padanya.” Yookyung sudah bertanya pada ayahnya dan kini ia ingin mendengarnya sendiri dari bibir pria ini. Apakah sama atau tidak.

 

Kibum terdiam, tampak ragu. “Semuanya berawal dari ayahku yang berhutang pada pihak bank namun tidak mampu melunasinya sehingga rumah kami menjadi jaminannya.” Kibum menundukan kepalanya. Saat itu ia masih begitu kecil, 8 tahun. Ia belum cukup mengerti masalah yang seperti itu. Yang ia tahu jika mereka dipaksa keluar dari rumah mereka, membuat mereka harus hidup luntang-lantung. Dan ketika orang tuanya pergi untuk selamanya ia tinggal bersama keluarga Jaeboom, kerabat satu-satunya dari pihak ibu. Jaeboom lah yang selama ini menjaga dan membantunya ini itu, pria itulah yang mengatakan jika ia harus membalaskan dendam orang tuanya pada Kim Joo Hyun, ayah Yookyung.

 

Seperti yang sering kita dengar, jalan hidup di dunia ini tidak ada yang tahu karena Tuhan yang telah menentukannya. Benar saja, apa yang sudah ia rencanakan sebelumnya kini gagal, karena ia mencintai anak gadis dari Kim Jo Hyun. Dan Kibum tidak ingin menyakiti gadis yang ia cintai karena dendam di hatinya yang sudah terkikis. Rasa benci yang dulu telah berubah jadi cinta.

 

“Kumohon, kembalilah padaku Yoo..”

 

“Tidak bisa, oppa.” Yookyung menggelengkan kepalanya lirih.

 

“Kenapa? Aku mencintaimu, Yoo-ya..”

 

Arrayo, geundhae, aku tetap tidak bisa. Gadis itu dan calon anakmu kelak akan membutuhkanmu, oppa. Kau harus menjaganya,”

 

“Tapi aku tidak mencintainya, Yoo. Dan aku yakin jika anak yang di kandungnya bukan anakku!” Seru Kibum keras. Nafas pria itu memburu. “Jebbal, Yoo… tetaplah bersamaku. Akan aku buktikan jika ucapanku benar, bahwa anak itu bukan anakku. Tunggu sampai anak itu lahir, kumohon.” pelas Kibum dengan tatapan memohon. Yookyung menutup mulutnya dengan sebelah tangan agar tidak mengeluarkan isakan. Gadis itu menggeleng, ia tidak bisa.

 

“Maaf, aku harus pergi.” Yookyung berdiri, Kibum segera menahannya.

 

Yookyung menatap tangan Kibum yang menahannya kemudian wajah Kibum secara bergantian, pria itu mengerti. Dilepaskannya perlahan, “Jaga dirimu baik-baik dan juga calon ibu dan anakmu, oppa. Selamat tinggal.” Ucap Yookyung disela isak tangisnya.

 

“Yoo…” lirih Kibum menatap sedih kepergian gadis itu.

“Bagaimana aku bisa baik-baik saja kalau kau saja tidak ada di sampingku?” Lirihnya dengan setetes airmata yang turun membasahi pipinya.

 

Yookyung yang ada dibalik tembok luruh ke lantai, tangisnya semakin deras. “Aku pun tidak yakin akan baik-baik saja tanpamu, oppa.” isaknya pilu.

 

Tapi bukankah dibalik semua ini ada hal yang bisa ia petik? Tuhan tidak akan mungkin menguji umatnya di luar batas kemampuan mereka. Jadi tunggu saja, semuanya akan indah pada waktunya.

 

—o0o—

 

Pria tampan itu melirik seorang gadis yang duduk dibarisan paling belakang melalui ekor matanya. Gadis yang mengenakan sweater abu-abu dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai serta menopang dagu dengan pandangan lurus namun kosong.

 

“Kim Yookyung.”

 

Sena, teman Yookyung yang duduk bersebelahan dengan gadis itu segera menyikut gadis itu. “Kau dipanggil Donghae saem,” bisiknya pelan.

Namun sepertinya Yookyung pun tidak mendengar bisikan Sena. Ia masih saja sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan kini Donghae sudah berdiri tepat dihadapannya pun ia tidak sadar.

 

Sena memandang Donghae dengan senyum tiga jarinya, dan sekali lagi ia menyikut gadis di sampingnya. Nihil.

 

“Nona Kim Yookyung,” Donghae menyilangkan tangannya depan dada, menatap Yookyung lurus.

 

Sena yang sudah gemas karena Yookyung tak kunjung merespon dengan sengaja menginjak salah satu kakinya. “Ya! Sakit, pabo!” Maki Yookyung dengan menatap Sena tajam. Namun tidak ditanggapi oleh Sena, gadis itu menggunakan isyarat mata untuk menatap ke depan. Kini mereka menjadi perhatian seluruh siswa di kelas itu.

 

“Apa?” Yookyung tidak mengerti.

 

Sena meringis memandang Donghae yang kini menggelengkan kepalanya melihat kelakuan salah satu siswinya. “Nona Kim..”

 

Panggilan lembut itu akhirnya membuat Yookyung segera menolehkan kepalanya dan gadis itu langsung terkejut. Mata bulatnya semakin bulat dan bibirnya hampir saja memekik kalau tidak dengan sigap ia membekapnya, matilah kau, Yoo.

 

Saem…” Lirihnya.

 

“Setelah pelajaran ini selesai, temui aku di ruanganku, ada yang harus kita bicarakan.” Donghae segera berlalu setelah mengatakn itu. Ia membereskan mejanya dan pergi.

 

Yookyung hanya mengangguk lemas setelah kepergian pria itu. “Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal jika Donghae saem ada di sini sejak tadi, Sena-ya.” Desisnya pelan. Sena mendecak sebal, “Aku sudah berulangkali memanggilmu bahkan menyikutmu, tapi kau tidak merespon sama sekali. Kau memikirkan apa sih?”

 

Yookyung tidak menjawab, gadis itu enggan bercerita sekarang. “Aku pergi dulu, bye..” Ia membereskan buku-bukunya dan memasukannya ke dalam laci meja.

 

“Hei… Ya! Kim Yookyung, kau berhutang penjelasan padaku!”

 

Yookyung tidak memperdulikan seruan Sena. Gadis itu terus saja keluar kelas, ia harus menemui Donghae.

 

—o0o—

 

“Kau ini kenapa Yoo..” Tanya Donghae begitu gadis itu sudah duduk di kursi balik meja kerjanya. Gadis itu menggeleng, “Gwaenchana, saem.”

 

“Kau sakit?” Yookyung menggeleng, masih dengan kepala tertunduk. “Atau… baru saja mengalami patah hati? Ehm, mungkin.” Lanjut Donghae yang melihat Yookyung langsung menatapnya, terkejut. Jadi benar, jika gadis ini baru saja mengalami patah hati?

 

“Ceritalah,” lanjut Donghae lagi. Yookyung terdiam. Cerita? Ia harus bercerita apa?

 

“Anggap saja aku temanmu, bukan seorang guru.” Yookyung masih belum merespon, “Jika kau ada masalah sebaiknya dibicarakan atau berbagi dengan orang lain agar persaanmu lebih lega.”

 

“Aku… tidak apa-apa,”

 

Donghae tersenyum tipis. Gadis keras kepala, batinnya.

 

“Dibalik kata aku tidak apa-apa tersimpan sebuah kenyataan yang berusaha kau tutup-tutupi,” kali ini Yookyung langsung menatap Donghae tajam.

 

“Sudah aku bilang aku tidak apa-apa dan tidak ada masalah.” Kekehnya.

 

“Benar? Kau yakin? Jika kau terus seperti ini, aku jamin kau tidak akan lulus tahun ini, Yoo. Karena kau kurang konsentrasi,” Yookyung kembali terkejut. Tidak lulus tahun ini? Yang benar saja!

 

“Lihat,” Donghae yang mengerti keterkejutan gadis itu segera menyodorkan sebuah buku kehadapan Yookyung, gadis itu membacanya. “Itu adalah nilai-nilaimu akhir-akhir ini, tepatnya satu minggu ke belakang. Seojin saem memintaku untuk jadi dosen pembimbing skripsimu, jika kau mau.”

 

Yookyung kembali teringat pembicaraanya dengan dosen pembimbing seblumnya, Seojin saem yang saat ini sedang cuti hamil anak keduanya. Wanita itu memang sudah mengatakan jika ia akan cuti dan menyarankan untuk meminta bantuan Donghae dalam mengerjakan skripsinya jika ia ingin lulus tahun ini. Ia sudah mengajukan proposalnya minggu lalu dan diterima.

 

“Ah, aku lupa memberitahumu, kau pun ada Praktek Kerja Lapangan,”

 

Nde?!” Yookyung menatap Donghae dengan menyerngit. Kerja? Untuk apa? Kenapa Seojin saem tidak memberitahunya?

 

“Kau harus melakukan praktek kerja selama satu bulan sebelum sidang skripsimu.” Jelas Donghae agar Yookyung mengerti, “Kau sudah melakukan penelitianmu kan?” Yookyung mengangguk kecil. Ia memang sudah melakukan penelitian untuk skripsinya sejak bulan lalu atas saran Seojin saem.

“Apa sudah selesai?” Yookyung kali ini menggeleng, “Sudah sampai mana?”

 

Yookyung segera membuka notebook yang selalu ia bawa kemana-mana dan mulai menjelaskannya. Donghae menyimak dengan baik dan sesekali menimpali atau memberi saran pada gadis itu. Dan ketika Donghae menjelaskan tentang ia yang harus praktek kerja Yookyung terus menatap Donghae tanpa kedip.

 

Pantas saja Sena begitu memuja pria ini, lihat saja dia… sempurna. Tapi, tidak ada yang lebih sempurna dari Kibum Oppa.

Eh, wait… aku bilang apa? Kibum Oppa? Anniya. Bukankah aku sudah melupakannya huh? Kenapa aku harus ingat dia lagi… Aishh…

 

Pabo!” Rutuknya pelan.

 

Donghae yang sedang menulis di buku notenya segera menatap Yookyung, “Kau mengataiku ‘bodoh’?”

 

Nde?!” Yookyung tersentak kaget, menatap Donghae gusar. Ia tanpa sadar telah menyuarakan isi hatinya, betapa bodohnya ia…

 

Animida, saem.

 

“Tapi aku dengar dengan jelas kau mengatakan ‘pabo‘ padaku,” Donghae mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, refleks Yookyung memundurkan kepalanya.

 

Jeongseohabnida, saem.” Ucapnya lirih dan menatap Donghae was-was.

 

Pria itu ingin sekali tertawa melihat wajah gusar Yookyung, ia berdehem untuk menahannya lalu kembali duduk normal.

 

“Aku sudah tentukan untuk tempat pelatihan kerjamu,”

 

“Dimana?” Seru Yookyung tidak sabar.

 

“KJ Corporation,” Yookyung menyerngit, ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. “Ini perusahaan baru, berdiri satu tahun lalu, kau akan bekerja dibagian marketing; pemasaran. Tapi karena kau hanya magang, jadi kau hanya diberi tugas untuk melakukan sebuah promosi produk perusahaan itu saja,” jelas Donghae dengan melihat buku catatannya.

Yookyung mengangguk. Hanya promosi kan? Sepertinya mudah. batinnya senang.

 

“Jangan dianggap mudah, Yoo.” Ucap Donghae tiba-tiba. Yookyung tersentak kaget, “Kau pasti berpikir melakukan promosi itu mudah kan?”

 

Yookyung menggaruk pipinya dan tersenyum malu, Donghae dapat menebak isi kepalanya. “Memang kedengarannya mudah, hanya mempromosikan sebuah produk. Tapi kau pun harus benar-benar tahu apa produk yang kau promosikan, jangan hanya asal bicara. Kau harus bisa menarik customer untuk mempercayai produkmu kemudian membelinya, itu tidaklah semudah yang kau pikirkan.” Nasehat Donghae serius. Ia ingin Yookyung tahu tanggung jawabnya dalam memasarkan sebuah produk, bukan hanya untuk nilai semata. Tapi ia ingin jika gadis ini benar-benar tahu mengenai aturan dan jalannya sebuah bisnis.

 

“Kau mengerti apa yang aku maksud?”

 

Yookyung mengangguk, “Arrayeo,

 

“Bagus, mulai minggu depan kau sudah masuk kerja di sana, aku akan mengantarmu ke sana.”

 

Ye, algeseubnida.”

 

-o0o-

 

Seperti yang sudah Donghae katakan jika ia akan mengantar Yookyung ke tempat pelatihan kerjanya. Sehingga hari ini, gadis itu bebenah. Ia sudah memutuskan jika ia akan menyewa apartement kecil dekat tempat kerjanya agar tidak terlalu jauh dari sana. Untung saja Donghae mau membantunya mencarikan tempat tinggal sementara untuknya. Dan beruntungnya lagi, pria itu akan memintakan ijin pada orang tuanya. Yookyung yakin jika ia sendiri yang meminta ijin untuk tinggal di luar pasti tidak akan diijinkan dengan alasan apapun, meskipun kini mereka tahu bahwa ia tidak lagi bersama Kibum.

 

“Nona, ada tamu bernama Donghae mencari anda,” suara wanita baya yang bekerja di rumahnya terdengar, ShinAhjuma.

 

Nde, bilang padanya aku akan segera turun.”

 

Yookyung segera menutup koper kecil miliknya, meletakannya dekat pintu kamar. Sekali lagi ia menelisik kamarnya, “Aku akan merindukan kamar ini,” lirihnya dengan senyum.

Diraihnya jaket tipis berwarna biru yang ada di ranjang lalu memakainya. “Oke, lets go.”

 

“Nah itu dia..” Yookyung menyerngit mendengar nada suara ayahnya ketika melihatnya berjalan mendekat ke arah mereka yang ada di ruang tamu. Ia menatap Donghae yang juga tersenyum. Sesaat Yookyung mematung di tempatnya. Pria yang duduk di single sofa merah marun, mengenakan kemeja biru garis-garis dipadu dengan jeans terlihat errr.. tampan.

 

“Yoo…” panggilan ayahnya menyadarkan gadis itu yang terus menerus memandang ke arah Donghae.

 

Ye?” gagapnya dengan menatap sang ayah yang tersenyum sumringah. Ia heran melihatnya.

 

“Kenapa kau tidak bilang pada appa jika Donghae adalah guru pembimbingmu?” tanya pria yang sudah memasuki usia setengah abad itu tidak sabar.

 

Mwo? Untuk apa? Appa saja tidak bertanya kenapa aku harus bercerita? Ah ya, aku akan melakukan praktek-”

 

Appa tahu,” potong Tuan Kim cepat.

 

“Dan appa ijinkan,”

 

Jinchayo?” serunya tidak percaya. Donghae dapat membujuk ayahnya, oh… syukurlah.

 

“Ya, tapi dengan satu syarat,” Yookyung mendesis mendengar ujung kalimat ayahnya. “Cih, pamrih sekali appa ini,” gerutu gadis itu dengan bibir mengerucut, tanda sebal. Donghae memalingkan wajahnya ke samping guna menyamarkan bahwa ia ingin tertawa melihat rajukan gadis di depannya.

 

Arrayo, aku tidak akan macam-macam, appa-ya.”

 

“Donghae, tolong jaga putriku ini ya..” Tuan Lee menatap Donghae serius. Pria muda itu mengangguk mantap. “Algeusseo, Ahjushi.“

Yookyung memperhatikan keduanya bergantian. Ia merasa aneh dengan kedua orang ini. Kenapa keduanya terlihat begitu akrab? Apa hanya perasaanya saja?

 

Kajja,” ajak Donghae dengan menarik koper merah milik Yookyung.

 

Eoh, nde. Appa, aku pergi dulu, sampaikan pada eomma aku akan menelponya nanti,”

 

Nde, akan appa sampaikan. Sudah sana pergi,” Tuan Lee mendorong bahu putrinya. Donghae sudah menunggunya di depan pintu.

 

“Hati-hati, bekerja yang baik.” Pesan Tuan Kim sebelum Yookyung masuk mobil Donghae.

 

“I know Dad,” sahut Yookyung malas.

 

Donghae segera kembali ke tempat Yookyung dan ayahnya berdiri setelah memasukan koper dalam bagasi mobil, “Ahjushi, kami pergi dulu.” pamitnya.

 

“Tolong jaga dia, aku percayakan padamu.” Tuan Kim mengedipkan sebelah matanya. Donghae tertawa.

 

Ye, allgesubnida, aku akan menjaganya Ahjushi, jangan khawatir.”

 

Appa, aku tidak akan melakukan hal yang macam-macam, jangan berlebihan begitu.” sela Yookyung yang merasa sebal dengan sikap over ayahnya. “Ayo pergi, Donghae-sshi.” Yookyung masuk ke dalam mobil lebih dulu kemudian Donghae—setelah berpamitan dengan ayah Yookyung tentunya.

 

“Donghae-sshi..?”

 

“Ya?” Donghae menoleh setelah memasang seat belt miliknya, “Wae?”

 

“Tadi, ketika appa bicara denganmu, apa dia mengatakan sesuatu padamu?”

 

Donghae memiringkan kepalanya, “Tidak, memang kenapa?”

 

“Lalu, apa yang kalian sembunyikan dariku?”

 

Donghae memandang Yookyung tidak mengerti, “Menyembunyikan apa? Aku tidak mengerti maksudmu,”

 

“Kau terlihat seperti sudah akrab dengan appa,” Yookyung memicingkan tatapannya. Donghae tergelak, gadis itu menyerngit. “Ya! Kenapa malah tertawa?!”

 

“Kau itu penuh prasangka buruk, aku tidak mengenal appamu sebelumnya.” bohong, tentu saja ia sudah mengenal ayah Yookyung. Bukankah mereka pernah bertemu beberapakali—saat acara perjodohan itu. Tapi saat itu ia tidak tahu jika gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah Yookyung. Dan kini ia tahu, ia merubah pemikirannya.

Ia teringat kembali percakapan mereka, sebelum Yookyung datang…

 
Flashback

“Jadi, kau guru pembimbing anakku?”

 

“Ye,”

 

“Astaga, aku sama sekali tidak menyangkanya, Donghae-ya.” seru Tuan Kim kaget namun senang.

 

“Sejak kapan kau kenal putriku?” Tuan Kim tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya ketika bertanya perihal itu.

 

“Kurang lebih dua bulan, Ahjushi.” Donghae pun tidak menyangka jika ayah Yookyung adalah orang tua dari gadis yang akan dijodohkan dengannya. Ia terkejut ketika ia datang ke rumah gadis itu Tuan Kim yang menyambutnya.

 

“Jadi, bagaimana?”

 

“Ye?” Donghae memandang bingung. Apanya yang bagaiman? Pikirnya.

 

“Tentu saja putriku, apa kau menyukainya?” Tuan Kim sangat penasaran rupanya.

 

“Cantik, Ahjushi.” Donghae tidak bohong, ia bicara jujur jika Yookyung memang cantik.

 

“Kau setuju bukan?” Tuan Kim kembali tersenyum dan tidak sabar. Donghae menggaruk tengkuknya, bingung. Ia memang menyukai Yookyung, tapi masih dalam tahap rendah, yah.., level satu lah. Belum menjurus ia mencintai gadis itu.

 

“Apa Yookyung tahu jika aku yang dijodohkan dengannya?” Donghae mengalihkan pembicaraan.

 

“Sepertinya tidak,”

 

“Majja, kalau begitu jangan samapai Yookyung tahu.”

 

Tuan Kim menyerngit bingung, “Maksudku, untuk saat ini. Bukankah Yookyung baru saja putus dari kekasihnya? Jadi, biarkan dulu seperti ini. Ahjushi jangan mengatakan jika aku adalah calon tunangannya,” jelas Donghae. Tuan Kim mengangguk, “Geundhae, kenapa harus disembunyikan? Bukankah dia tahu lebih bagus?”

 

“Aku hanya ingin memastikan jika ia bisa melupakan kekasihnya. Dan biarkan kami mengenal lebih dulu.” Tuan Kim mengangguk, masuk akal juga.

 

“Baiklah, aku setuju.”

 

Yookyung memandang Donghae aneh, pria itu tersenyum sendiri. “Donghae-sshi, apa kau sudah gila?”

 

Nde?”

 

“Kau tersenyum sendiri seperti orang gila,” lirih Yookyung masih memandang aneh ke arah Donghae yang sibuk menyetir.

 

“Benarkah?”

 

“Yup, atau jangan-jangan kau kerasukan hantu gila?”

 

Mwo?! Aish, aku masih waras bocah,”

 

“Jangan sebut aku bocah, aku sudah dewasa.” Yookyung paling sensitif jika ia disebut bocah.

 

“Kalau kau bukan bocah, kau tidak akan merajuk seperti ini.” goda Donghae dengan melirik Yookyung yang mengembungkan pipinya.

Gadis itu tidak menyahut, memalingkan wajah ke samping—memandang jalanan.

 

Donghae menggelengkan kepalanya. Setelahnya mereka tidak saling bicara satu sama lain, Donghae sibuk menyetir dan Yookyung dengan ponselnya.

 

—o0o—

 

Sebuah apartemen minimalis yang terletak di daerah Gwangjang-ro adalah tempat tinggal Yookyung mulai hari ini hingga sebulan kedepan.

Tempatnya cukup strategis, dekat dengan Incheon City Hall juga Art Center.

Donghae bilang, ia hanya tinggal berjalan hingga persimpangan jalan dan naik bus 15 menit untuk sampai di tempat kerjanya. Pria itu juga sudah menyiapkan beberapa bahan makanan di kulkas kecil yang ada di ruang tamu—merangkap dapur. Karena apartemen ini memang kecil, terdiri dari satu kamar tidur, dan kamar mandi dekat ruang tamu. Ini permintaan ia sendiri. Dan Donghae sungguh pintar memilih. Ia langsung suka tempat ini.

Setelah membantu ia bebenah pria itu langsung pergi karena ada urusan.

 

Yookyung merebahkan tubuhnya di ranjang single, bibirnya tersenyum.

 

“Jangan suka pergi malam hari, aku akan menelponmu setiap saat untuk memastikan kau pulang tepat waktu.”

 

“Jangan makan mie instan, itu tidak sehat. Seminggu sekali aku akan datang kemari untuk membawakan bahan makanan untuk kau masak, kau bisa memasak kan?”

 

“Kalau kau butuh sesuatu atau ada masalah segera hubungi aku, arrachi?”

 

“Astaga, kenapa dia harus seperti itu? Aku bukan anak kecil dan tentu saja aku tahu,” bibirnya mengeluh namun tidak ia pungkiri bahwa ia senang Donghae tanpa sadar memperhatikannya. Pria itu begitu baik padanya. Ia jadi teringat Kibum.

 

Oppa, apa kau baik-baik saja?” Jujur, ia sangat merindukan pria satu itu. Meskipun bibirnya menyangkal namun hati tidak dapat berbohong.

 

Aigoo, bukankah aku sudah berjanji untuk tidak mengingatnya lagi huh? Kenapa disaat begini malah ingat dia lagi. Ck.” keluhnya gadis itu dengan meraih ponselnya yang bergetar. Ada pesan masuk.

 

Jangan tidur terlalu larut,

besok aku akan ke sana, membawakan barangmu yang tertinggal di mobilku.

 

Yookyung tersenyum membaca pesan dari Donghae. Jika dipikir, yang mampu membuatnya melupakan Kibum adalah pria itu, meskipun hanya sesaat.

Meskipun Donghae lebih tua 7 tahun darinya, ia itu senang sekali menggodanya. Tidak seperti Kibum yang selalu mengalah padanya. Sangat bertolak belakang.

 

“Sebaiknya aku mandi, lalu tidur.” Yookyung beranjak dari ranjang, meraih handuk mandinya yang tersampir di gantungan beranda kamar lalu masuk kamar mandi. Ia harus istirahat untuk hari esok, menuruti saran Donghae.

 

–o0o–

 

Pria dengan stelan jas hitam rapi dengan sepatu hitam yang mengkilat keluar dari mobil yang berhenti tepat di lobby kantor. Dia- Kang In Soo melangkahkan kakinya memasuki perusahaan ayahnya. Berjalan dengan santai. Tersenyum sesekali pada pegawai yang menyapanya. Dan ketika sampai di meja kerja resepsionis pria itu berhenti. “Chogi, apa pegawai yang baru sudah datang?” Suaranya begitu lembut.

 

Wanita berusia diatas tiga puluh tahun itu menyerngit, “Maksud anda pegawai untuk magang?”

 

“Ya, itu.”

 

“Sudah Tuan, sekarang ia menunggu di ruang kerja anda. Ini berkas-berkas gadis itu,” Heejin menyerahkan map hijau pada In Soo.

 

“Jadi pegawai itu seorang gadis?” ujar In Soo memastikan.

 

Heejin mengangguk, “Ya, anda bisa melihatnya sendiri, seperti apa ia.” Wanita itu tersenyum, menggoda putra satu-satunya keluarga Kang.

 

In Soo terkekeh melihat kedipan mata Heejin, ia tahu artinya jika gadis itu pasti cantik. “Oke, aku akan melihatnya. Terima kasih Heejin-sshi.”

 

“Sama-sama Tuan Muda,”

 

In Soo memasuki lift yang akan membawanya ke lantai 8. Pria itu mencoba membuka map yang tadi di berikan oleh Heejin, data orang yang akan magang ditempatnya. Mata sipitnya semakin memicing begitu membaca nama Kim Yookyung berserta foto yang terlampir di sudut kanan kertas putih itu. Ia mengucek matanya sekali untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Tapi nama itu tetap sama, ini nyata.

 

“Aku ingin mencarimu tapi kau malah datang sendiri kesini, keberuntungan.” lirihnya senang.

 

In Soo semakin tidak sabar ingin segera bertemu dengan Yookyung. Maka ketika pintu lift terbuka ia langsung melesat pergi, berjalan dengan cepat dan mengabaikan sapaan beberapa pegawainya.

 

Yookyung yang sedang membaca buku novel di sofa hitam di ruang kerja Direktur terkejut mendengar pintu yang terbuka dengan kasar. Ia segera menyimpan novelnya lalu berdiri.

 

Annyeong hasseyo, sogae, jeileum Kim Yookyung imnida. Dangsineul mannaseo bangapseubnida.“ Yookyung membungkuk 90°.

 

“Yookyung?”

 

Gadis itu kembali menegakkan tubuhnya, dan terkejut mengetahui suara pria yang memanggilnya tadi. “In Soo-ya?” terdengar ragu. Tapi pria itu mengangguk dan langsung menghampirinya.

 

“Aku tidak menyangka jika kita bisa bertemu di sini,” pria itu benar-benar senang. Sedangkan Yookyung masih terkejut, yang dilakukannya hanya diam dengan menatap In Soo. Jadi ia akan bekerjasama dengan pria ini?

 

“Kenapa melihatku begitu? Apa ada yang aneh?” In Soo coba memperhatikan dirinya, sepertinya tidak. Ia tetap seperti biasanya—jika ia ke kantor. “Ah…, aku tahu, kau terpesona padaku, aku memang tampan. Aku akui itu.” ujarnya bangga. Yookyung mencebikan bibirnya.

 

“Kurangi kadar kenarsisan dirimu, In Soo-ya. Tampang begitu kau bilang tampan, ck. Lebih tampan juga kekasihku—” Yookyung serta merta langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan. Kenapa pula ia harus mengarang cerita? Ia tidak punya kekasih! Apa ia lupa?

 

“Cih, jangan pamer di depanku.” senyum di bibir pria itu langsung tergantikan wajah datar. Yookyung merasa tidak enak. “Mianhae.” lirih Yookyung.

 

In Soo hanya bergumam. Ia menuju meja kerjanya untuk meletakan tas kerja juga berkas yang lain di meja. Ia mendesah keras melihat tumpukan map-map yang ada di mejanya. “Lembur lagi…” gumamnya yang masih bisa di dengar Yookyung.

 

“Kenapa berdiri begitu, duduk saja.” In Soo memandang Yookyung heran. Apa gadis itu tidak pegal berdiri seperti itu?

 

Nde, ghamsa habnida.

 

“Sejak kapan kau jadi sopan begitu, Yoo?” cibir pria itu dengan menghampiri Yookyung, duduk di sofa tepat samping gadis itu. Yookyung menggeser tubuhnya—sehingga memberi jarak antara mereka berdua. In Soo mendesis melihatnya dan Yookyung meringis. Pria itu tidak suka, ia tahu itu. Tapi ini kantor dan ia pegawai. Apa kata orang jika ada yang melihat mereka duduk berdampingan. Bisa-bisa beredar kabar yang tidak-tidak tentangnya.

 

“In Soo-ya, eum.. jadi kau adalah Direktur?” Tanya Yookyung dengan suara tersendat. In Soo menghela nafas, “Ya, aku menggantikan appa karena kondisinya sekarang kurang sehat.” raut wajah pria itu mendadak berubah murung. “Kenapa? Apa aku terlihat tidak pantas?” Yookyung menggeleng pelan. Pria itu cocok dan tampan dengan stelan jas yang dipakainya saat ini.

 

“Apa appamu sakit keras?” Yookyung bertanya dengan hati-hati. In Soo mengangguk lirih, “Diabetes.” Yookyung mengangguk, ia tahu apa itu penyakit Diabetes. Kadar gula dalam darah yang cukup tinggi. Cukup bahaya memang jika tidak mau menjaga diri sendiri dengan megatur pola makan yang sehat juga benar.

 

“Oh ya, jadi kau sudah akan skripsi?” In Soo berseru, ia sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin terlalu terbebani dengan kondisi ayah juga tanggungjawabnya sebagai Direktur.

 

“Ya, beberapa bulan lagi..”

 

In Soo mengangguk dan mulai menanyakan perihal lainnya. Pria itu merasa jika dewi fortuna sedang berpihak padanya sekarang. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Ia hanya punya waktu sebulan untuk membuat gadis itu menatapnya, lagi.

 

–o0o–

 

Hari sudah beranjak gelap ketika pria dengan mantel hitam panjang itu sampai di sebuah apatement kecil dengan nomor 16. Donghae menekan bel rumah yang menempel di tembok, samping kiri. Ia merapikan bajunya sebentar. Tidak bertemu dua minggu saja ia sudah uring-uringan begini, maka ia putuskan untuk mengunjungi gadis itu. Yookyung.

 

Bukan tanpa alasan ia sampai selama itu tidak mengunjungi gadisnya.

Tunggu, gadisnya?

 

Donghae tersenyum kemudian menggeleng kecil. Ia tidak salah kan menyebut Yookyung gadisnya? Toh sebentar lagi mereka akan resmi bertunangan, setelah Yookyung lulus dari Universitas.

 

Pintu perlahan terbuka kemudian kepala gadis itu menyembul keluar. Ia langsung tersenyum begitu melihat tamunya adalah Donghae. “Donghae-sshi, masuklah..” gadis itu membuka pintu lebih lebar. “Kau ini, sudah kubilang jangan repot-repot kalau mau datang kemari.” Ujarnya dengan mengambil alih kantong plastik besar di tangan kiri Donghae.

 

“Itu titipan ibumu, kau bilang ingin makan kimchi buatan ibu, aku bawakan.” Yookyung langsung berbinar mendengar klaimat Donghae.

 

Jinchayo? Huwaaa…. Gomawo.” ujarnya senang kemudian melangkah menuju dapur.

 

Donghae mengangguk, melangkah masuk, mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Ia menyerngit melihat ada sepasang sepatu pria.

 

Punya siapa?

 

Seingatnya, ia tidak pernah meninggalkan sepatunya di sini, kecuali sandal rumah yang ia pakai saat ini.

Jadi, ada orang lain di rumah ini dan ia seorang pria?

 

“Yoo, di luar sepatu siap-” Donghae menggantungkan kalimatnya begitu melihat siluet seorang pria sedang memasak bersama gadis itu. Mereka tertawa bersama.

 

Yookyung yang sempat mendengar seruan Donghae menolehkan kepalanya, “Nde? Kau bicara apa Donghae-sshi?”

 

Donghae tidak menjawab, pria itu hanya menatap lurus pria berdiri di samping Yookyung, pria itu menggunakan apron yang biasa ia gunakan jika ia memasak di rumah ini.

 

Nuguya?” Yookyung menyerngitkan dahi mendengar nada suara Donghae terdengar dingin, tidak bersahabat sama sekali.

 

“Oh dia..”

 

Annyeong, joneun Kang In Soo, bangapta.” sela In Soo cepat serta membungkukkan tubuhnya. Ia tahu jika pria yang sedang menatapnya ini adalah Donghae, guru pembimbing gadis di sampingnya untuk menyelesaikan skripsinya.

 

“In Soo atasan tempat aku bekerja, Donghae-sshi.” lanjut Yookyung lirih. Ia merasa heran dengan tatapan mata pria itu.

 

“Hanya sebatas itu?” Yookyung kembali bingung. Ia tidak mengerti maksud dibalik pertanyaan Donghae.

 

“Tidak, sekarang kami sepasang kekasih.” In Soo bereaksi lebih dulu. Yookyung terkejut, apa yang kau katakan, bodoh? sungutnya kesal.

 

“Donghae-sshi, itu bohong. Ia bukan kekasihku, sungguh.” Entah kenapa Yookyung tiba-tiba merasa takut melihat Donghae menatapnya tajam seperti sekarang.

 

“Ya! Jangan bicara sembarangan, In Soo-ya..” desisnya geram dengan menatap sengit ke arah In Soo yang tersenyum puas. Tidak tahu mengapa jika ia merasa Donghae menaruh perasaan khusus pada Yookyung. Ia yakin itu. Insting seorang pria tentu tepat, apalagi tatapan mata Donghae menyiratkan semuanya.

 

“Oh begitu, sebaiknya aku pulang saja. Aku pasti menganggu acara kalian,” Donghae tersenyum ke arah Yookyung yang menatapnya dengan raut kaget.

 

“Tunggu,” cegah Yookyung dengan meraih tangan Donghae. “Makan malam lah dulu di sini, baru setelah itu kau pulang. Bukankah kau bilang ingin memakan kimchi buatan eomma?”

 

Donghae memandang Yookyung yang menatapnya dengan memohon, ia menghela nafas. “Baikalah,” putusnya setengah hati. Moodnya berubah setelah mengetahui Yookyung dekat dengan pria lain. Sepertinya ia salah mempekerjakan Yookyung di perusahaan itu. Nasi sudah jadi bubur, ia bisa berbuat apa?

 

Makan malam terasa sunyi, hanya terdengar dentingan sendok dengan mangkuk. Donghae makan dengan diam, tidak bicara sepatah pun. Yookyung melirik takut ke arah Donghae yang makan dengan pelan. Biasanya pria itu akan bicara banyak jika mereka makan bersama. Apa Donghae marah atas ucapan In Soo tadi?

 

Setelah makan malam usai In Soo pamit lebih dulu, kini di rumah kecil itu hanya ada Donghae yang duduk di sofa ruang tamu serta Yookyung yang sedang mengupas buah di dapur.

 

Ayolah, katakan sesuatu Donghae-sshi? Kenapa kau diam saja?

 

Yookyung meletakan buah semangka dan melon di atas nampan kemudian membawanya ke ruang tamu-dimana Donghae duduk. Pria itu sibuk dengan ponsel putih miliknya dan terlihat serius.

 

“Kau sedang apa?” Donghae tersentak kaget serta-merta menoleh cepat ke samping. Ia terkejut karena jarak keduanya sangat dekat, begitu pula dengan Yookyung yang refleks menarik kepalanya mundur.

 

“Kau mengagetkanku,”

 

“Maaf,” lirih Yookyung kemudian duduk di samping Donghae. Yah, karena memang hanya ada satu sofa di rumah ini.

 

“Makanlah,” Yookyung menyodorkan buah melon yang di potong dadu ke mulut Donghae. Pria itu meraih sendok garpunya, “Terima kasih.”

 

“Hm.”

 

Diam. Itulah yang mereka lakukan. Tidak ada tanda-tanda jika keduanya akan bicara. Yookyung sebenarnya ingin bertanya, namun ia ragu.

“Ada yang ingin kau tanyakan padaku?” Donghae akhirnya bersuara lebih dulu, ia tidak enak terus menerus di lirik oleh gadis ini. Dan jujur, ia tidak suka suasana canggung begini.

 

Nde? aniyeo.”

 

“Sungguh?” Yookyung mengangguk, “Kalau begitu, aku yang bertanya.” Seketika Yookyung menoleh, memandang Donghae.

 

“Kalian… Sungguh tidak ada hubungan apapun?” tanyanya hati-hati.

 

“Kami hanya teman,” Yookyung mengambil sepotong buah semangka lalu memakannya.

 

“Hanya teman?”

 

“Ya,”

 

Gotjimal.” Ujar Donghae pendek namun tajam.

 

“Aku tidak bohong, sungguh. Kami memang hanya teman.” Bagaimana cara menyakinkan pria ini? Gusar Yookyung. “Jebalyo, kami hanya teman saja. Jangan bilang pada appa ya?” mohonnya dengan menagkupkan depan dada.

 

“Aku tetap tidak percaya, karena bagaimanapun pria itu sudah mengatakan padaku jika kalian adalah kekasih.”

 

Mworago?! Kami sungguh tidak pacaran, Donghae-sshi.” Tegas Yookyung dengan suara lebih tinggi. Donghae mengerjap, gadis ini marah.

“Kenapa susah sekali membuatmu mempercayaiku huh?” lanjutnya lirih. Gadis itu tertunduk.

 

“Dulu memang ada, tapi saat kami masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, setelah kami lulus tidak ada lagi kabarnya. Karena kami pun sudah putus saat itu.” Donghae mendengarkan baik-baik. Jadi memang pernah ada hubungan kan? Meskipun itu dulu.

“Kumohon, percaya lah.” Yookyung menatap Donghae memelas.

 

“Tapi sepertinya ia masih menyukaimu,” Donghae dapat melihatnya dari sikap In Soo yang begitu perhatian pada Yookyung ketika mereka makan tadi. Pria itu menawarkan ini itu pada gadis itu.

Yookyung tidak menjawab. Ia juga tahu itu. Tapi sungguh ia sama sekali tidak ada perasaan special terhadap pria itu. Entahlah…

di hatinya masih ada nama pria lain, yang hingga saat ini belum bisa lupakan.

 

“Ya, aku tahu itu. Tapi aku tidak bisa menyukainya..”

 

“Kenapa? Kurasa, dia tampan dan mapan.”

 

“Benar, tapi aku tidak mencintainya..” Donghae langsung terdiam. Yookyung masih belum bisa melupakan pria itu, pikirnya.

Keduanya kembali terdiam, sibuk menyelami pikiran masing-masing. Donghae dengan pemikiran bagaimana caranya ia bisa membuat gadis itu melupakan mantan kekasihnya. Sedangkan Yookyung justru teringat kembali kenangan-kenangan indahnya bersama Kibum.

 

Melupakan seseorang itu tidak mudah apalagi jika orang itu pernah mengisi hari-harimu.

 

 

 

 

 

 

Continue…

22 comments

  1. disaat yookyung udah mulai ngerasa nyaman sama donge ada orang ketika TIDAKKKKKKKK ANDWEEEE
    lanjutannya cepet dong thor🙂 keep writing & fighting ♡♡

  2. Lupain aja Kibum, Yoo.. masih ada Donghae yg menanti apa gi skrg ada In Soo.. tpi pilih Donghae aja😀
    Hahaha

  3. yoo lupain ja kibum oppa, move on ja le donghae oppa
    donghae oppa klo suka ma yookyung buruan ungkapin nanti kebalap loh sama insoo yg ungkapin dluan hehe

  4. yoo move on ja ke donghae oppa,
    donghae oppa km buruan ungkapin klo suka nanti kebalap loh sama insoo yg ungkapin dluan hehe

  5. Aigo, sepertinya Dong Hae butuh perjuangan untuk membuat Yoo Kyung mencintainya. Dong Hae punya 2 saingan. Ckckck..

  6. ‘Melupakan seseorang itu tidak
    mudah apalagi jika orang itu
    pernah mengisi hari-harimu.’ kata”x bermakna bgt >< hduhhh gw awalx pngin yookyung sm ki bum tp knp donghae bkin galau U.U hufttt trsrh onnie aj atuh😀 nurut aj jd readers ^^ awalx ak kira krja di prushaan dongek trnyta di prusahaan mntan yoo ==" fighting oen

  7. datang lagi satu pengganggu, ki bum aja blum sepenuhnya pergi eh udah datang lagi..
    eon banyakin scene donghae ma yookyungnya dong heheh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s