Mommy for Daddy Chapter 6

wpid-picsart_1393596194463.jpg

 

 

 

 

Author : Blue Rose

 

Title : Mommy for Daddy Chapter 6

Genre : Family, Romance

Length : Chapter

Rate : PG17

Cast : 

Lee Donghae

Lee Yookyung/Kim Raeann

Lee Haera

Lee Hyukjae

Kenichi/Ken

Others

 

 

Takdir adalah jodoh. Dan aku percaya itu.

********
*******
*****
***

“Ann… di luar ada tamu untukmu,” seru Jaejoong dari luar kamar. Yookyung yang baru saja selesai mandi menyerngit bingung.

“Nuguya Oppa ?” serunya sedikit berteriak. Ini masih pagi, baru jam 7 tapi kenapa sudah ada tamu?

“Kenichi, kalau Oppa tidak salah ingat. Sebaiknya kau cepat temui dia, Oppa harus segera pergi ke kantor.” Yookyung langsug terdiam. Gadis itu bisa merasakan detak jantungnya mulai berdetak di atas normal. Pikiranya berkecamuk, berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya.

“Aigoo, bagaimana ini..” lirihnya panik. Ia belum siap bertemu dengan Ken. Dan kapan pria itu datang ke Korea, kenapa tidak memberitahunya lebih dulu?

“Ann..” suara Jaejoong kembali terdengar. “Nde, Oppa. Aku akan segera menemuinya.” “Cepat eo ?”

“Nde.” Terdengar langkah yang semakin menjauh, Yookyung menarik nafas dalam beberapakali. “Baiklah, tenangkan hatimu Ann. Semua pasti bisa diatasi.” ujarnya menyemangati diri sendiri.

“Hai… Lama menungguku ya…” Yookyung tersenyum serta melambaikan tangan kanannya begitu tiba di ruang tamu, dimana Ken menunggunya. Pria itu duduk sendiri, sepertinya Jaejoong sudah benar-benar pergi. Ken yang tadinya sibuk memainkan ponselnya segera menoleh ke sumber suara itu berasal. Senyum manis pria itu langsung mengembang begitu melihat Yookyung yang tersenyum ke arahnya. Ia berdiri dan langsung memeluk Yookyung erat sehingga membuat gadis itu terkejut.

“Kak..” lirihnya pelan. Ken melepaskan pelukannya kemudian mengecup kening Yookyung lama.

“Aku merindukanmu Ann,” Yookyung tahu, ia bisa merasakannya lewat sentuhan yang diberikan Ken.

“Aku juga merindukanmu, Kak.” Balas Yookyung dengan membalas tatapan Ken.

“Kau semakin cantik saja,” puji Ken setelah memperhatikan gadisnya selama beberapa saat. Yookyung tersipu, “Cih, mulai…”

“Eiy, aku serius. Kau memang tambah cantik,” Ken senang bisa melihat senyum gadis ini lagi.

“Ngomong-ngomong, kapan kau datang ke Korea? Kenapa tidak bilang padaku lebih dulu supaya aku bisa menjemputmu.” Yookyung duduk di samping Ken karena pria itu menariknya agar duduk bersama. “Kejutan,” ucapnya dengan cengiran khas miliknya.

Yookyung mencibir, “Dan sepertinya kejutanku berhasil,” lanjut pria itu dengan melirik Yookyung yang menggerutuinya.

“Tentu saja aku terkejut, kau datang pagi-pagi begini. Aku bahkan baru selesai mandi tadi,”

“Ha ha ha… maaf, itu karena aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu.” Ken kembali menatap Yookyung membuat gadis itu terdiam. “Apa kau datang sendiri?” Yookyung mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ya,”

“Jinchayo ?”

“Jinchayo ? Apa itu?” Ken menatap Yookyung bingung. Yookyung seketika menepuk keningnya kemudian meringis.

“Maaf, aku lupa kau tidak mengerti bahasa Korea.”

“Jadi tadi itu bahasa Korea? Apa artinya?” Ken menatap Yookyung berbinar. Sepertinya ia sedikit tertarik untuk mengetahui bahasa kekasihnya ini.

“Jinchayo hampir sama dengan ‘benarkah’,” Ken mengangguk.

“Nona, sarapan anda sudah siap.” Suara bibi Kwon menginterupsi keduanya. Yookyung mengangguk, “Nde, gamshahamnida Ahjuma. ” Yookyung beralih menatap Ken, “Kau sudah sarapan?” Ken tersenyum.

“Sudah,” Yookyung memicingkan matanya, “Sarapan apa? Kopi lagi?” tebak Yookyung langsung. Ia cukup tahu kebiasaan tunangannya ini. Pagi hari hanya minum kopi sambil membaca koran. “Apa minum kopi saja bisa kenyang?” Yookyung langsung menyela begitu melihat Ken berniat bicara.

“Ayo, kita sarapan bersama. Sepertinya bibi Kwon menyiapkan waffle,” Ken hanya menurut, mengikuti langkah Yookyung yang akan membawanya menuju ruang makan. Pria itu diam-diam tersenyum, ternyata gadisnya ini masih tetap cerewet.

***

Gadis kecil yang sedang asyik bermain bersama teman sebayanya itu langsung menoleh ketika mendengar salah satu temannya memanggil nama Yookyung. Haera bahkan langsung meninggalkan boneka barbie pemberian ayahnya kemarin. Namun langkah dan senyum ceria yang sempat mengiasi wajah polosnya kini meredup ketika tahu Yookyung tidak datang seorang diri. Pria itu…

Yookyung tersenyum cerah pada anak-anak didiknya yang datang menghampirinya ketika ia datang. Menjawab satu persatu salam dari mereka dan ketika tatapannya menangkap siluet Haera ia semakin mengembangkan senyumnya. Anak itu duduk bersama temannya di kursi panjang dengan bermain boneka.

“Haera,” lirihnya senang. Ia ingin menghampiri anak itu namun suara seseorang menghentikan langkahnya.

“Ann..” Yookyung menoleh ke arah Ken yang saat ini ditarik oleh beberapa anak kecil menuju tengah ruangan, sepertinya mereka ingin mengajak pria itu bermain.

Ah, ia melupakan keberadaan pria itu. “Tidak apa-apa, mereka hanya ingin mengajakmu bermain, Kak.”

“Tapi aku tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, Ann.” Pria itu tampak memelas namun Yookyug justru tertaw dan membiarkan Ken dibawa oleh anak-anak.

“Annyeong Haera-ya..” Tidak ada sahutan dari bibir mungil anak itu yang kini tengah sibuk bermain bonekanya.

“Joheun achim-e,” Yookyung kembali mencoba mengajak Haera bicara karena ia pikir anak itu mungkin tidak mendengar sapaanya. Di ruangan kelas saat ini sedang memutar lagu anak-anak yang cukup keras. Haera menghentikan kegiatannya, menoleh sekilas ke samping kiri, dimana Yookyung duduk di kursi panjang sebelahnya.

“Achim-e.”

Yookyung menyerngit melihat tingkah Haera pagi ini. Biasanya anak ini akan menjawab dengan senyum ceria dan langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Tapi sekarang hanya jawaban singkat dan itupun terdengar tidak semangat.

“Haera, neo apphayo ?”

“Aniyeo.” Yookyung semakin heran, apa terjadi sesuatu pada anak ini setelah pulang dari rumahnya kemarin lusa? Karena bagaimanapun, Haera tidak menelponnya selama 2 hari. Apa anak ini masih bertengkar dengan ayahnya karena ia yang bersikeras tidak mau pulang ke rumah?

Saat itu Haera sama sekali tidak mau pulang ke rumah, ingin tetap tinggal bersama Yookyung dan Tuan Kim.

“Ann..” Yookyung tersentak kaget karena tepukan di bahu kanannya. “Astaga, Min Ri, kau membuatku jantungan pabo.” gerutunya dengan menatap Min Ri yang menyerngit bingung.

“Cih, kau saja yang melamun.”

Yookyung mendengus, “Hei, siapa pria itu?” Ibu satu anak itu melirik ke arah Ken yang sedang tertawa dengan beberapa anak-anak. Yookyung mengikuti arah pandang Min Ri, “Ah itu..”

“Namjachigu ?” tebak Min Ri ingin tahu.

Yookyung mengibaskan sebelah tangannya, “Aniyo, nae yahonja.”

“Mwo? Ya! Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku?!” Yookyung mendesis sembari mengelus lengan kanannya yang kembali kena tepukan keras tangan Min Ri.

“Astaga Min Ri-ya, kau ini wanita atau bukan huh, kenapa teganamu besar sekali.” gerutu Yookyung.

“Tentu saja aku wanita, bodoh.” Yookyung mendengus kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Haera sudah pergi dari sampingnya, kini anak itu bermain bersama temannya, Hyunji.

“Geuui ileumeun mueos ibnikka ? ”

“Ann.. ”

Yookyung yang baru saja akan bicara kini menoleh ke arah Ken yang berseru memanggilnya.

“Ada apa?” Ken mengisyaratkan agar mendekat, “Aku ke sana dulu,” pamitya pada Min Ri yang menyerngit bingung.

“Mereka bicara apa?” gumamnya setelah Yookyung pergi.

***

Lee Hyukjae atau biasa disapa Eunhyuk itu tampak merengut kesal selama dua jam terakhir. Pria yang memiliki gummy smile ini merasa ingin berteriak sekencang yang ia bisa untuk menghentikan kekasihnya.

Memutari pusat perbelajaan selama tiga jam. Lelah? Pasti. Bayangkan saja, Hyundai Departement sangatlah besar dan luas. Terdiri dari delapan lantai yang masing-masing memiliki keluasan melebihi lapangan sepak bola. Belum lagi kedua tangannya menjinjing berbagai paper bag dalam ukuran besar. Pegal.

“Honey, bisakah kita istirahat dulu? Kau tahu, aku lelah.” Eunhyuk menghentikan langkahnya, beberapa titik keringat tampak memenuhi keningnya. Valerine yang berjalan di depannya menoleh, gadis cantik itu tampak iba melihat kekasihnya kelelahan.

“Baiklah, bagaimana kalau kita makan ice cream?” ujarnya ketika melihat kedai ice cream yang tidak jauh dari mereka berdiri. Eunhyuk mengangguk setuju. Kebetulan, ia pun haus. Valerine segera menggandeng lengan Eunhyuk setelah mengambil alih paper bag yang ada disalah satu tangannnya.

“Hei, hei… pelan-pelan. Ice creamnya tidak akan lari,” Valerine mengulurkan beberapa lembar tissue kehadapan Eunhyuk yang sibuk melahap ice cream dengan cepat. Pria itu bahkan mengabaikan daerah sekitar mulutnya yang belepotan oleh ice cream.

“Ini gara-gara kau,” sungut Eunhyuk dengan meraih uluran tissue.

“What? It’s what I do to you?”

“Apa katamu? Kau tidak lihat itu,” Eunhyuk menunjuk paper bag yang ada di kursi samping Valerine. Gadis itu menyerngitkan kening bingung.

“Aku ini kekasihmu atau bukan huh?”

“Tentu saja kau kekasihku, kenapa malah bertanya?”

“Kalau kau menganggap aku kekasihmu seharusnya kau tidak memperlakukanku seperti assistenmu.” Eunhyuk menekankan suaranya pada setiap suku kata. Valerine membelalakan matanya. “Aku tidak pernah menganggapmu sebagai assisten, sungguh.” suara Valerine melemah.

Gadis itu menundukkan kepalanya. “Tapi kau terus saja berbelanja tanpa melihat kesusahanku yang membawa semua belanjaanmu itu.”

“Maaf, Hyuk-ah. Sungguh maaf.”

Eunhyuk jadi merasa tidak enak melihat gadisnya sedih. “Sorry Val,” bisiknya lembut dengan menggenggam jemari gadis itu.

“Maaf, aku terlalu bersemangat belanja dan tidak memikirkanmu yang kelelahan membawa semuanya. Aku asyik sendiri. I’m really sorry, boy.” Valerine menatap Eunhyuk dalam, gadis itu sungguh menyesal.

“Sudahlah, aku juga minta maaf padamu.” Eunhyuk mengusap pipi chubby Valerine yang memerah. Seharusnya Eunhyuk bisa memahami keantusiasan gadisnya karena ini pertama kalinya ia berkunjung ke Korea. Gadis itu mengangguk dengan senyum tipis.

“Palli moggo,” Eunhyuk menyuapkan sesendok ice cream rasa strawberry ke mulut Valerine yang langsung diterima dengan senang hati.

“Aku akan ke toilet sebentar. Kau tunggu di sini,”

“Hm.” Eunhyuk segera pergi meninggalkan Valerine yang sibuk dengan ice cream miliknya.

***

Donghae memperhatikan putri kecilnya yang berubah menjadi pendiam setelah pulang dari sekolah. Anak itu langsung masuk kamar dan baru keluar setelah ibunya memanggilnya untuk makan malam. Ini aneh. Apa terjadi sesuatu dengannya hari ini?

“Appa…”

“Ye ?” Donghae tersentak kaget dan segera memfokuskan tatapannya ke arah putri kecilnya yang duduk di sampingnya.

“Eum…” Anak itu terlihat ragu untuk mengucapakan sepatah kata.

Donghae semakin menyerngit heran. “Ada apa sayang?” Ujarnya lembut dengan mengusap sayang kepala putri kecilnya.

“Haera…”

“Nde ? Haera kenapa?”

“Appa tidak ingin menikah lagi?” Gerakan tangan Donghae sentak terhenti, ia menatap Haera dengan raut terkejut.

“Kenapa Haera tiba-tiba bertanya begitu?” Donghae tentu ingin tahu alasan anaknya kembali menanyakan perihal satu ini. Sejak kedatangan Yookyung sebulan lalu, Haera tidak pernah menyakan hal ini ataupun menyuruhnya untuk dekat dengan salah satu gurunya.

“Eum, Haera ingin punya Eomma.” jawabnya lirih dengan kepala tertunduk.

Nyonya Lee yang memang kebetulan mendengar pembicaran itu langsung mendekati mereka. Ia yang tadinya ingin menuju dapur seketika menghentikan langkahnya. Wanita baya itu duduk di samping cucunya yang ada di sofa ruang keluarga.

“Sungguh Haera ingin punya Eomma ?” Donghae terkejut mendengar kalimat yang diucapkan ibunya.

“Eomma…” desisinya.

“Nde. Seperti Yookyung Eonnie, Halmeonie.” Donghae semakin terkejut mendengar jawaban anaknya. ‘Seperti Yookyung’. Astaga, yang benar saja!

“Yookyung Eonnie? Nuguya ?” Nyonya Lee menatap cucunya penasaran. Ia baru dengar nama itu dan ini adalah kali pertamanya ia mendengar cucunya ini bertanya tentang hal ini pada putranya.

“Eonnie neomu-neoumu yeppeunda, Halmeonie. Guru Haera di sekolah…”

“Wah, benarkah?” Nyonya Lee semakin semangat mendengarkan cerita cucunya. Donghae menghela nafas berat. “Eomma, jangan dengarkan Haera.” pintanya memelas. “Kenapa? Seharusnya kau turuti permintaan anakmu ini Hae-ya, dia butuh kasih sayang seorang ibu. Kau harus ingat itu.”

“Aku tahu,”

“Kalau begitu, segera lamar gadis itu. Kau tidak dengar cucuku ini menyukainya? Daripada dengan Ji Hyun, Eomma lebih setuju dengan gadis bernama Yookyung ini.”

“Nde?!”

“Kenapa? Jujur saja, Eomma kurang setuju jika kau bersama Ji Hyun. Dia tidak bisa mengurus Haera. Bagaimana jika cucuku yang manis ini justru menderita setelah kau menikah dengannya huh?”

“Aigoo… kalian ini berlebihan sekali. Lagi pula, siapa yang akan menikah dengan Ji Hyun? Kapan aku bilang begitu?”

“Bagus kalau kau tidak menikah dengan gadis itu, jadi cepat bawa dia kemari. Eomma ingin bertemu dengannya.” Nyonya Lee menatap Donghae berbinar.

“Eomma, kau belum mengenalnya kenapa sudah setuju saja!” ucap Donghae frustasi.

“Maka itu bawa ia kemari, anak bodoh, biar Eomma bisa melihatnya, seperti apa dia.” Donghae menggersah melihat ibu dan anaknya saling berhigh five dan tertawa senang.

“Hae-ya, cepat bawa dia kemari dan ikat dia agar tidak diambil orang.” Pesan Nyonya Lee dengan senyum cerah.

“Aigoo… Eomma, aku bahkan baru mengenalnya bulan lalu dan kau menyuruhku langsung mengikatnya. Yang benar saja. Dan lagi, dia bukan barang.”

“Appa anjohaesoyo? ”

“Ha?” Donghae semakin frustasi melihat putri kecilnya menunjukan wajah sedih.

“Uljimayo, chagi.” lirih Nyonya Lee dengan mendekap cucunya yang menangis. Donghae menarik nafas dalam, “Kalian membuatku pusing.” gersahnya kemudian berlalu pergi meninggalkan ibu dan anaknya.

Haera yang melihat Donghae sudah menaiki tangga menuju lantai dua segera menghapus airmatanya. Nyonya Lee menatap cucunya bingung karena anak itu kini tersenyum penuh kemenangan.

“Halmeonie harus membantu Haera, arrachi.”

***

Hari yang cerah dan cocok untuk berjalan-jalan. Maka Donghae berinisiatif untuk mengajak putri kecilnya itu jalan-jalan, yah.., kemana saja. Meluangkan waktu untuk putri kecilnya sudah jarang ia lakukan akhir-akhir ini. Ia bahkan sudah mendapat teguran dari Sungmin yang mengatakan ia gila kerja.

Donghae sudah rapi dengan kemeja biru muda dengan dalaman kaos putih model v tanpa mengancingkan kancingnya, yang dipadu dengan celana jeans hitam panjang. Ia melangkah menuju kamar putrinya.

“Haera-ya..” Donghae memutar knop pintu kamar anaknya. Ia yakin jika Haera masih tidur, ini hari libur pasti Haera akan bangun siang. Biasanya..

Kosong. Donghae tidak menemukan anaknya di kamar itu. Kemana perginya?

“Ahjuma,” panggilnya dengan menuruni tangga. Jung Ahjuma yang sedang di dapur tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.

“Ye. Tuan.”

“Eomma dan Haera eodiseyo?” tanyanya tidak sabar. Ia tidak bisa menemukan kedua orang itu di lantai atas. Kalau di bawah pasti ia bisa mendengar suara mereka, dan lagi, ini masih pagi. Kemana perginya mereka?

“Nyonya besar dan nona Haera pergi di antar Shin Ahjusshi,”

“Sepagi ini?”

“Nde.”

“Ke mana?” sela Donghae tidak sabar.

“Jeongseohabnida, saya kurang tahu.”

Donghae menghela nafas kasar, “Ya sudah, terima kasih. Silahkan lanjutkan pekerjaan Ahjuma.” Jung Ahjuma mengangguk lalu pamit pergi.

“Ck, gagal sudah rencanaku.” gumamnya setelah duduk di sofa ruang tengah. Deringan ponsel yang ada di saku celananya membuatnya sedikit terkejut.

“Yeobseyo?”

“Donghae-sshi… bisa kau tolong kemari?” Donghae menyerngit bingung, “Ke mana?”

“Ke Black Baen cafe.” “Untuk apa aku ke sana?” ujarnya bingung. Sepagi ini Yookyung mengajaknya bertemu di cafe. Ada apa?

“Eommonim ada di sini bersama Haera.” Donghae terlonjak kaget, bahkan ia sampai berdiri dari duduknya.

“Mworago?!” serunya keras. Bahkan Jung Ahjuma yang ada di dapur ikut terlonjak kaget.

“Arraseyo, 10 menit lagi aku akan sampai.” Donghae memasukan ponselnya dalam saku kemudian meraih kunci mobil yang ada di meja. Selama perjalanan pria itu terus bergumam tidak jelas. Ia bingung apa yang dilakukan ibu dan anaknya. Untuk apa menemui Yookyung? Apa jangan-jangan… Tidak, ia harus cepat sampai di sana. Ya, secepatnya.

***

“Jadi bagaimana Yookyung-ah?” Yookyung tersenyum canggung, ia menatap wanita baya dan cucunya bergantian.

“Eonnie mau kan jadi ibu Haera?” anak berumur 6 tahun itu menatap Yookyung polos dengan sorot penuh harap.

“Cucuku sangat menyukaimu, Yookyung-ah. Kumohon, jadilah ibu bagi Haera.”

Yookyung tidak tahu harus bagaimana lagi menjeslakannya, ia sudah mencoba menolak dengan halus.

“Haera janji tidak akan nakal lagi, mau ya?” Haera masih tidak mau menyerah.

“Haera-ya..” desah Yookyung bingung.

Bukannya ia tidak mau, tapi kini posisinya sangat sulit. Ia akan menyakiti banyak pihak jika menuruti egonya. “Eomma!”

Ketiga orang itu serentak menoleh ke arah pintu masuk. Donghae dengan langkah lebar segera menghampiri mereka.

“Apa yang kalian pikirkan huh?!” serunya emosi. Ia sudah tidak perduli kini ia menjadi perhatian para pengunjung, ia tidak bisa membiarkan ibunya mencampuri urusan pribadinya.

“Hae-ya..”

“Appa..” Donghae mengalihkan tatapannya pada anaknya yang duduk samping ibunya. Anak itu tampak berkaca-kaca. Donghae mencelos, tanpa sadar ia membentak putrinya. Ya Tuhan..

“Sayang..” dielusnya kepala Haera sayang. Anak itu tidak merespon, yang dilakukannya hanya menunduk dengan memainkan jemari tangannya.

“Mianhaeso..” lirihnya menyesal. Haera hanya mengangguk kecil, tidak mau menatap ayahnya.

“Kau membuatnya sedih Hae-ya.” tukas Nyonya Lee tajam.

Donghae merendahkan tubuhnya dengan Haera, “Chagi..” panggilnya lembut.

“Sebagai ibu dan nenek tentu aku ingin melihat kau dan Haera bahagia Hae-ya,” lirih Nyonya Lee dengan menatap sayu putra bungsunya. “Eomma hanya ingin membantu putrimu mewujudkan impiannya. Ia ingin seorang ibu,” Yookyung langsung membekap mulutnya dengan sebelah tangan. Jadi selama ini Haera ingin mempunyai figur seorang ibu? Dan anak itu ingin dirinya yang menjadi ibu keduanya.

“Dan ketika Haera menceritakan Yookyung dengan raut bahagia, Eomma pikir tidak ada salahnya membantunya.” Nyonya Lee menatap Yookyung lalu tersenyum kecil. “Cucuku sangat menyukaimu, nak. Maka itu, hari ini aku memintamu bertemu untuk menanyakan ketersediaanmu untuk menjadi ibu Haera..”

“Eomma…” lirih Donghae tidak percaya.

“Apa kau mau Yookyung-ah?” Nyonya Lee tidak menghiraukan panggilan Donghae. Ia menatap lurus ke arah Yookyung yang terlihat tidak percaya.

“Joneun..”

“Tidak.” Nyonya Lee dan Yookyung menoleh bersamaan.

Donghae berdiri di antara keduanya. “Kami tidak bisa bersama Eomma,”

“Waeyo?” tuntutnya tidak sadar.

“Ada alasan, aku tidak bisa mengatakannya.” Nyonya Lee melebarkan matanya tidak percaya,.

“Hae-ya…”

“Kajja, kita pulang.” Donghae menggendong Haera paksa. “Yookyung-sshi, maafkan keluargaku yang sudah mengganggu ketenanganmu di pagi hari ini.” Ucapnya sebelum pergi meninggalkannya.

Nyonya Lee menghela nafas, “Maafkan aku Yookyung-ah,”

“Anniyeo, Eommonim. Gwaencahanyo, jeongmal..”

“Mungkin putraku belum bisa melupakan mendiang istrinya,” Nyonya Lee memandang sendu kepergian putranya.

Yookyung merasa sakit ketika mendengar Nyonya Lee mengatakan Donghae belum bisa melupakan istrinya. Mina. Kenyataan yang memukul telak hatinya.

“Tapi, aku benar-benar berharap kau akan menikah dengan putraku. Entah kapan.. tapi aku sangat mengharapkan itu bisa terjadi.”

“Eommonim.. ”

Nyonya Lee mengelus pipi putih Yookyung, “Kau mengingatkanku pada putriku, Raeann.”

Deg

Detak jantung gadis itu langsung berpacu dua kali lipat, bahkan rasa-rasanya ia bisa mendengar suaranya, membentur rongga dadanya dengan keras.

“Semuanya sangat mirip,” seulas senyum tulus tersemat di wajah tuanya. Yookyung merindukannya, sungguh.

“Kupikir, dulu Donghae akan menikah dengan gadis itu, tapi ternyata..” kenang Nyonya Lee dengan mengaduk tehnya. Yookyung diam. “Aku sudah menganggap gadis itu anakku sendiri, mereka tumbuh dengan begitu cepat di mataku.” mata wanita tua itu menunjukkan betapa ia merindukan gadis itu.

Ingin rasanya ia mengatakan jika ia sudah ada di sini, bersamanya. Tapi bibirnya terasa kelu.

“Raeann anak yang baik meskipun sedikit tomboy, mereka bahkan selalu bersama. Ketika tahu gadis itu pergi, aku seperti kehilangan. Hampa. Rasanya sama seperti aku ditinggal suamiku,” suara Nyonya Lee bergetar. Yookyung langsung berdiri dan mengambil tempat duduk samping Nyonya Lee, mengusap punggung wanita itu.

“Eommonim..”

“Ah, maafkan aku, Yookyung-ah.” diusapnya sudut matanya yang basah dengan sapu tangan. Yookyung terus memperhatikan wanita yang sudah ia anggap ibunya ini.

“Maafkan aku, Eommonim.” tiba-tiba Yookyung memeluk Nyonya Lee dari samping. Ia sangat-sangat bersalah.

“Jangan meminta maaf, kau tidak salah, nak.” Nyonya Lee mengusap lengan yookyung yang memeluk lehernya. Wanita baya itu tersenyum lembut.

Aku sudah membohongimu, Eommonim. Mianhamnida, jeongmal mianhae..

***

Sungmin menatap Donghae heran. Tidak biasanya pria satu itu begitu pendiam. Selama rapat berjalan hingga selesai, Donghae hanya bicara seperlunya, itupun tidak banyak. Ada apa dengannya?

“Hae-ya, neo gwaenchanayo?”

“Naega ?” tunjuknya pada diri sendiri. Sungmin menangguk, “tentu aku baik-baik saja.”

“Geundhae, kau terlihat… lelah. Apa terjadi sesuatu atau kau ada masalah?” Donghae menghela nafas kemudian menutup berkas yang sedang di periksanya.

“Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Eomma,”

“Memang kenapa dengan Imo?” Sungmin menyerngit bingung.

“Kemarin mereka menemui Yookyung,”

“Mereka? Maksudmu Haera dan Imo?” Donghae menangguk.

“Ya, dan mereka benar-benar..” Donghae mendesah berlebihan sehingga semakin membuat Sungmin penasaran.

“Memang apa yang mereka lakukan pada Yookyung?”

“Kau tidak akan menyangkanya Hyung..”

“Ya, apa?” sahut Sungmin tak sabar.

“Eomma meminta Yookyung untuk jadi istriku..” jelasnya gemas dan frustasi. Sungmin menganga namun hanya beberapa saat karena detik berikutnya ia langsung terbahak.

“Ya! Terus saja tertawa..”

“Aigoo… kau saja yang bodoh, Hae-ya.” ujar Sungmin di sela-sela tawanya. Bahkan ia sampai memegangi perutnya.

“Apa maksudmu dengan aku yang bodoh, huh?” sewotnya kesal.

“Ya karena kau menolak usulan ibumu, seharusnya kau mau saja.”

“Berikan aku alasan kenapa kau pun mendukung Eomma?”

“Kau tidak sadar siapa sebenarnya gadis itu?” Sungmin berubah serius. Donghae menatap Sungmin tidak mengerti.

“Maksudmu Hyung…”

Sungmin menghela nafas, “Dasar bodoh…”

“Terus saja bilang aku bodoh,” sungut Donghae kesal. “Aku mana tahu apa maksudmu kalau kau tidak mengatakannya.”

“Kau benar-benar… Sudahlah, kau akan tahu nanti, cepat atau lambat.” Sungmin melenggang pergi meninggalkan Donghae yang menggerutuinya.

“Kau membuatku penasaran, Hyung!!!”

***

Yookyung sedang sibuk di depan komputer dalam kamarnya ketika pintu kamarnya terbuka, “Oppa.. ” Jaejoong menghampiri adiknya kemudian berbisik di telinga gadis itu.

“Mworago?!”

Jaejoong mengangguk, Yookyung mendesah pasrah.

“Cepat turun, Appa sudah menunggumu di bawah.” Jaejoong pergi meninggalkan Yookyung lebih dulu. Gadis itu merenung, Kenichi ada di rumahnya dan sedang berbicara dengan ayahnya. Jaejoong mengatakan jika pria itu meminta ijin langsung pada ayahnya agar memberi restu pada mereka.

Ya Tuhan. Pria satu itu…

Yookyung segera bergegas keluar kamar, bahkan ia sampai lupa mematikan komputernya.

Continue…

14 comments

  1. Kesel ma Kenichi. Selalu muncul. Bukannya pertunangan dia dengan Yoo sudah dibatalkan, masih saja muncul. Dia sebenarnya orang Indonesia atau orang Jepang yang menetap di Indonesia? Dari namax seperti orang Jepang. – Dong Hae babo, sok menolak tidak mau Yookyung menjadi istrinya. Nyebelin banget. *KoqAkuYgMarah*

  2. Ken lagi Ken lagi #nyebalkan bukan’y udh d’batalkan ea pertunangan’y ma Yookyung? #aaaaish
    Donghae kau sungguh pintar atw mnk bener2 bodoh sech? Msh za gak kenal ma Yookyung yg sebener’y?? Penasaran alasan Donghae menolak meski Haera ma ibu’y meminta menikah ma Yookyung???

  3. sebenernya yookyung tuh mau pilih siapa sih? aku aja yg ga bisa milih jdi gereget liatny.
    btw, perknalkan sy newbie dsini, maaf ya baru comment soalnya baru selesai baca2 ffnya, maaf juga karna gak minta izin dulu, maaf lagi karena commentnya kepanjangan🙂

  4. Tiba2 terdampar di page ini.
    Ternyata ff nya bagus2.
    Entah knapa si ken itu bikin nyebelin –”
    terus donghaenya juga ga kalah nyebelin karna marah2 gaje sama ibu + anaknya.

    Mian baru komen disini setelah semua ff nya udah di baca–

    semoga kelanjutan nya cpat di publish

  5. Ya ampun…haera ama neneknya kompak amat! Yookyung bingung tuh?! Sungmin udah mulai kasi clue tuh ma donghae,,

  6. Donghae babo !!!
    Kenapa nolak, Donghae benar2 tidak peka sama sekali. Babo !!

    Ken minta restu langsung ke appa-nya Yookyung ?? OMG,,ini tidak boleh dibiarkan. Si Donghae harus disiram air biar cepat2 sadar dan peka..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s