Marrying with Millionaire Part 2

wpid-1524855_1473457642882725_875009230_n.jpg

Author : Blue Rose

 

Title : Marrying with Millionaire part 2

Genre : Marriage live, Romance

Length : Series

Rate : NC17

Cast : Lee Hyukjae, Kim Jaekyung

 

 

 

 

Please, Don’t Copy Paste! 

 

========== Happy Reading ==========

 

Rasa takut yang amat sangat kini dirasakan gadis yang duduk di tengah ruangan seorang diri. Jaekyung berulang kali meremas tangannya untuk mengurangi kegugupan yang di rasanya.

Sudah setengah jam berlalu tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir pria paruh baya yang duduk dengan jarak 2 meter darinya, selain menatap tajam ke arahnya. Ditambah dengan beberapa orang yang duduk di barisan kursi yang sama dengan orang itu–Lee Jung Sik, termasuk atasannya tempat ia bekerja di kedutaan Korea.

Pikiran gadis itu dipenuhi oleh tanda tanya besar dan banyak sekali pertanyaan yang ingin ia ucapkan. Tapi, baru ia akan membuka bibirnya untuk bicara ia mengurungkan niatnya.

“Nona…”

Jaekyung serta merta menegakkan duduknya dan tanpa sadar menahan nafasnya sesaat. Panggilan itu memang lirih namun tersirat akan ketegasan dari suaranya. Jemarinya semakin erat saling bertautan.

“Nde, Tuan.”

“Aku akan bertanya beberapa pertanyaan padamu, jadi tolong jawab dengan jelas dan jujur.” nada suaranya tidak berubah. Tetap sama. Tapi Jaekyung merasa detak jantungnya semakin cepat dan membentur rongga dadanya dengan kencang. Belum pernah dalam hidupnya ia merasa setakut dan segugup ini.

“Ye,” sahut Jaekyung kaku.

“Apa kau mengenal putraku?”

Deg

Jaekyung langsung menatap pria yang kini juga tengah menatapnya, menunggu jawaban dari bibirnya.

“Saya tidak mengenalnya, Tuan.” Jujur? Tentu saja iya. Jaekyung memang tidak pernah mengenal Lee Hyukjae sebelumnya.

“Lalu kenapa kau bisa bersamanya Jaekyung-ah? Kau ingin membocorkan rahasia perusahaan huh?!” Sela pria berstelan jas hitam–yang duduk di sebelah kiri Lee Jung Sik–Jang Woo Hyun.

“Saya tidak pernah membocorkan rahasia perusahaan, Sanjangnim!” Tukasnya tegas. Wanita berusia 27 tahun menatap tajam atasannya. Jaekyung adalah tipikal wanita yang tidak suka atau bisa disebut benci dengan kata ‘tuduhan’.

Jadi inikah alasan kenapa ada pihak FBI datang mencarinya? Karena ia di duga telah membocorkan rahasia perusahaan pada pihak ketiga sehingga dikira buronan. Ya Tuhan…

Jaekyung bekerja di sebuah perusahaan export-import barang antik sebagai sekertaris Woo Hyun. Tapi perlu diingat, bahwa ia tidak pernah membocorkan rahasia perusahaannya pada pihak lain–seperti yang di tulis di media sosial. Dan apa hubungan perusahaannya dengan Nagoya Enterprise?

“Aku sangsi Jaekyung-ah,” lirih Woo Hyun meremehkan. Jaekyung menggeram tertahan. Ia benci situasi seperti ini. Ia seperti terdakwa sebuah kasus besar.

“Saya bicara sesungguhnya, Tuan Jang. Bukankah saya sudah bekerja bersama anda lebih dari tiga tahun? Apa itu tidak cukup membuktikan kejujuran saya dalam bekerja sehingga anda tidak mempercayai apa yang saya katakan?” Kali ini Woo Hyun langsung terdiam.

“Tuan Jang, kumohon, tenanglah.” Bujuk pria yang duduk di samping kanan Tuan Lee. “Silahkan, Tuan..” pra itu kemudian mempersilahkan Tuan Lee untuk kembali bertanya. Woo Hyun mendengus kesal.

“Kau– sungguh tidak pernah bertemu dengan putraku sebelumnya?” terdengar lagi suara Tuan Lee. Jaekyung menarik nafas, “Tidak. Kami bertemu secara tidak sengaja ketika saya liburan ke sana, Tuan.”

Tuan Lee tampak mengangguk kecil. Pria baya itu bisa melihat dari sorot mata yang dipancarkan oleh Jaekyung. Wanita itu bicara jujur.

“Kurasa dia bicara jujur.” putus Tuan Lee, sedangkan pria yang duduk di sebelah kanannya hanya mengangguk setuju.

“Tunggu!” Seru Woo Hyun tiba-tiba. “Bisa kau jelaskan kenapa kalian bisa bersama? Kau belum menjawabnya tadi.” Woo Hyun menekankan suaranya di kata ‘bersama’.

Jaekyung tampak terkejut, “Hanya kebetulan bertemu dan kami putuskan untuk berjalan-jalan bersama. Ya– seperti itu.” urai Jaekyung kaku. Jelas ia mengarang cerita, dan ia harap Woo Hyun mau percaya padanya.

“Begitukah?” Woo Hyun tampak kurang puas akan jawaban dari wanita itu.

Jaekyung mengangguk kaku. Ia tidak pandai berbohong.

“Tuan, anda dilarang masuk.”

“Biarkan aku masuk!”

Samar-samar Jaekyung dapat mendengar suara gaduh dari luar. Dan tidak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka dengan kasar. Di sana, pria bermata sipit dan berkulit putih itu berdiri. Dadanya naik turun dan tatapannya tidak lepas dari Jaekyung yang terkejut melihat kehadirannya.

“Eunhyuk-ah, apa yang kau lakukan?” Tuan Lee membuka suara lebih dulu. Pria baya itu bahkan sampai berdiri dari duduknya karena terkejut akan kedatangan putranya.

“Jeongseohabnida, Tuan.” ucap pria berpakaian stelan jas hitam rapi membungkukkan badannya dalam. Tuan Lee mengangkat sebelah tangan kirinya, “Gwaenchana, pergilah.” pria itu mengangguk kemudian pamit pergi.

“Apa yang kau lakukan di sini, Eunhyuk-ah?” Tuan Lee mengulang pertanyaannya.

“Apa yang Ayah lakukan padanya?” Hyukjae bukannya menjawab justru balik bertanya. Tuan Lee mendengus tanpa sadar. “Apa Ayah tidak berpikir jika sudah menakutinya?” Hyukjae bisa melihatnya jika wanita yang duduk ditengah ruangan itu kini tengah ketakutan.

“Ayah hanya ingin bertanya saja,” bela Tuan Lee cepat.

“Tapi tidak perlu menggunakan FBI untuk mencarinya. Dia bukan buronan Ayah.” Suara Hyukjae memenuhi ruangan rapat yang luas itu. Tidak pernah ia semarah ini sebelumnya. Dan tidak pernah pula ayahnya ini ikut campur dalam urusan pribadinya.

Hyukjae menghampiri Jaekyung lalu meraih tangannya, memaksanya berdiri. “Kita pergi dari sini,” ucapnya.

“Eoh?” Jaekyung mengerjap bingung.

“Kau mau ke mana Eunhyuk-ah?” suara Tuan Lee menginterupsi langkah Hyukjae.

Pria itu lantas membalikkan badannya, menatap pria baya yang menatapnya tajam. “Beri aku waktu 10 menit untuk bicara dengannya,” setelah itu Hyukjae segera menarik Jaekyung untuk mengikuti langkahnya keluar dari ruang rapat.

“Aigoo.. Dasar anak itu..” Lirih Tuan Lee dengan menggelengkan kepala melihat putra satu-satunya itu pergi.

“Tuan.. Apa tidak apa-apa membiarkannya pergi?” tanya seorang pria yang sedari tadi terdiam.

“Tidak akan lama, kurasa mereka memang perlu bicara.” sahut Tuan Lee dengan kembali duduk di kursinya.

Raut yang berbeda ditunjukan oleh Woo Hyun. Pria berusia 32 tahun itu tampak mengepalkan kedua tangannya. Kesal. Karena Jaekyung dibawa pergi begitu saja oleh Hyukjae.

Apakah kali ini ia akan gagal mendapatkan pujaan hatinya? Kalau itu terjadi, kali kedua ia gagal merebut hati wanita cantik yang sudah ia inginkan sejak beberapa tahun terakhir.

Tidak ada yang tahu jika Woo Hyun mencintai Jaekyung selama ini. Sehingga kebodohannya ini yang akan membuat pria itu kehilangan wanitanya.

–o0o–

Jaekyung mencoba melepaskan tangannya yang di genggam erat oleh Hyukjae. “Ya! Hyukjae, lepaskan tanganku.” pria itu tidak memperdulikan protes Jaekyung, ia terus saja membawa Jaekyung menyusuri koridor hingga mereka sampai di ujung dan menuju pintu gawat darurat, baru setelah itu ia melepaskannya. Hyukjae menatap Jaekyung yang meringis akibat punggungnya yang membentur dinding serta tangannya yang memerah.

Wanita itu mendongak, bersiap akan memaki pria yang kurang ajar berlaku kasar padanya. Namun sebelum bibirnya mengeluarkan sepatah kata Hyukjae telah lebih dulu membungkam bibirnya dengan ciuman panas dan menggebu. Tidak seperti ciuman-ciuman yang Hyukjae berikan ketika mereka menghabiskan malam bersama beberapa hari lalu.

Kali ini lebih intens dan menuntut, bahkan ketika ia tidak memberikan akses bagi Hyukjae untuk masuk lebih dalam pria itu sengaja menggigit bibirnya sehingga ia mengerang dan kesempatan itu digunakan Hyukjae agar bisa memasuki mulutnya.

Jaekyung mencengkeram erat jas putih yang dikenakan Hyukjae ketika pria itu mengulum kedua daun bibirnya dengan tidak sabar.

“Hyuk– se-sak,” ujarnya lirih saat pasokan dalam saluran pernafasannya terasa sesak. Dengan enggan Hyukjae melepasnya, berganti dengan mengecupi seluruh wajah wanita itu.

Jaekyung menghentikan tindakan pria itu dengan meraih wajahnya dengan kedua tangan. Ditatapnya dengan sayu, nafasnya memburu begitu pula Hyukjae.

“Nan bogoshipoyo, Kyungie.” bisik Hyukjae lembut kemudian mengecup keningnya lama.

Jika harus jujur, sebenarnya wanita itu pun merindukan pria ini. Tidak hanya sentuhan tapi juga wajah ini dan suaranya.

“Apa kau merindukanku?” Hyukjae kembali mengecup bibir merah Jaekyung yang sedikit terbuka, hanya sebentar. Ia menempelkan keningnya dengan Jaekyung, hidung mereka saling bergesekan. Jaekyung memejamkan mata dan sudut bibirnya terangkat ke atas. Tersenyum tipis. Hyukjae yang melihatnya ikut tersenyum dan kembali menghujani Jaekyung dengan kecupan-kecupan ringan di bibirnya.

“Kau tahu– setelah kau pergi hari itu, aku mencarimu keseluruh hotel bahkan tempat yang pernah kita kunjungi. Hampir saja aku memporakporandakan hotel itu ketika mereka mengatakan kau telah check out. Untung saja Robert menelponku dan mengatakan bahwa aku harus ke Korea karena ada masalah penting. Aku tidak tahu jika masalah penting itu kau,” lirih Hyukjae setelah mengecup pipi kanan Jaekyung.

Wanita itu membuka kedua matanya yang terpejam, membalas tatapan Hyukjae dengan sayu. “Kenapa kau harus melakukan itu?”

“Huh?”

“Kenapa kau harus mencariku?” jelas Jaekyung agar Hyukjae mengerti maksud kalimatnya. “Apa alasanmu mencariku? Kita hanya teman untuk memuaskan, tidak lebih.” nafas Jaekyung terasa sesak ketika mengatakan kalimat terakhir.

Jemari hangat pria itu mengusap lembut pipi kiri Jaekyung yang memerah, “Kau pikir begitu? Tapi sayangnya, aku tidak berpikir bahwa kita hanya teman untuk memuaskan. Aku mencarimu karena memang aku menginginkanmu,”

“Maka itu kau mencariku menggunakan FBI?” Jaekyung kembali memandang Hyukjae, kali ini dengan tajam.

“Tidak, aku tidak tahu tentang itu. Bukankah sudah aku katakan tadi jika aku sedang mencarimu ketika Robert menelponku agar terbang kemari.”

“Siapa sebenarnya kau, Hyukjae-ya? Apa hubunganmu dengan Nagoya Enterprise dan perusahaanku?”

Hyukjae memundurkan tubuhnya sehingga Jaekyung dapat melihat dengan jelas raut wajah pria itu. “Kurasa kau sudah tahu tentang hal ini,” sahut pria itu lirih.

“Jadi benar, kau anak dari Tuan Lee?” Hyukjae mengangguk singkat. “Lalu apa hubungannya dengan perusahaanku?”

“Karena perusahaan Ayah dengan perusahaanmu memiliki kerja sama yang buruk. Mereka saling bersaing dalam pasar internasional.” Mata sipit wanita itu membulat, terkejut.

“Mwo?” Desisnya tidak percaya.

“Ya. Dan karena massa telah mengetahuinya juga foto kita yang beredar di masyarakat luas, kita.., lebih tepatnya kau–dalam masalah besar.”

“Masalah apa yang kau maksud?”

“Masalah ini bukan hanya terjadi di Korea, tapi juga di Paris.”

“Apa merugikan pihakmu?” Jaekyung bertanya ragu. Namun Hyukjae mengangguk, “Tidak hanya dari pihakku, tapi pihakmu juga.” Wanita itu langsung lemas.

“Begitukah..” lirihnya sedih. Ia tidak habis pikir jika masalahnya akan serumit ini. Hanya mengenal seorang Lee Hyukjae ia sampai berurusan dengan FBI juga perusahaan besar seperti Nagoya Enterprise. Ini bahkan lebih buruk dari ia yang gagal menikah sebulan lalu.

“Aku pasti di pecat,”

“Tidak apa-apa, itu bagus.” Jaekyung sontak menatap Hyukjae tajam, “Apa maksudmu bagus huh? Kalau aku di pecat bagaimana dengan aku juga adikku yang masih sekolah? Bagaimana aku bisa hidup?!” serunya emosi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika sampai ia di pecat dari pekerjaannya. Bisa saja ia mencari pekerjaan lainnya, tapi masalahnya ia membutuhkan banyak biaya untuk sekolah adiknya. Apa lagi, bulan depan Jeeah akan ujian masuk universitas, dan itu pasti butuh biaya yang tidak sedikit. Hanya bekerja sebagai sekertaris Woo Hyun lah ia bisa mencukupi kebutuhan Jeeah juga dirinya.

“Tidak usah cemas, sayang. Aku punya jalan keluarnya.” jawab Hyukjae kalem.

“Jalan keluar? Apa?” desak Jaekyung tidak sabar.

Hyukjae kembali mengecup bibir Jaekyung, “Kita menikah.”

“Mworago?! Neo michiseyo huh?!”

“Aku serius, kita menikah maka masalahnya pun beres. Kau juga tidak perlu khawatir lagi dengan masalah pekerjaan. Aku akan menanggung semuanya. Dan skandal ini pun akan hilang dengan sendirinya. Tapi berbeda jika kau tidak menerima usulanku,”

Jaekyung terpekur, bimbang. Ia harus bagaimana jika situasinya seperti ini?

“Tuan muda, waktu anda sudah habis.”

Baik Jaekyung maupun Hyukjae sama-sama tersentak kaget mendengar seseorang mengetuk pintu tangga darurat tempat mereka bicara. Hyukjae menatap Jaekyung, “Sebentar lagi.” serunya. “Bagaimana Kyungie?”

Jaekyung semakin bingung, “Kau harus cepat mengambil keputusan, waktumu tidak banyak.”

“Tuan muda..”

Jaekyung semakin bingung, pikirannya buntu.

“Kyungie…” desis Hyukjae tidak sabar.

“Apa kau tidak ada pilihan lain?” ujar wanita itu dengan tatapan memohon.

“Tidak.” tegas dan jelas. Jaekyung menghela nafas, “Baiklah.. Kita– menikah.” putus Jaekyung pasrah.

Hyukjae langsung tersenyum lebar lalu mengecup kening Jaekyung sebagai luapan rasa bahagianya. “Pilihan yang tepat. Kajja, kita temui Ayah juga yang lainnya.” pria itu berucap dengan semangat.

Hyukjae kembali membawa Jaekyung menuju ruang rapat untuk menemui Ayahnya. Pria itu langsung mengatakan jika mereka memutuskan untuk menikah sebagai jalan keluar, yang tentu saja membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, terlebih Woo Hyun yang langsung menatap penuh selidik ke arah Jaekyung yang langsung menundukkan kepalanya.

Setelah mendapat kesepakatan dan restu dari Ayah Hyukjae, keduanya segera bergegas pergi dari sana.

Jaekyung mengeratkan genggaman tangannya ketika ia dan Hyukjae sampai di lobby dan langsung di hujani dengan berbagai kilat kamera juga pertanyaan. Jaekyung tidak yakin jika ia bisa menghadapi ini semua kalau ia seorang diri, beruntung ada Hyukjae yang berada di sampingnya serta beberapa pengawal yang ditugaskan untuk menghalau para wartawan agar memudahkan jalan mereka.

Jaekyung bisa bernafas lega setelah ia dan Hyukjae masuk dalam mobil.

“Aku tidak menyangka jika mereka begitu banyak,” Hyukjae yang mendengar gerutuan wanita di sampingnya tersenyum kecil.

“Itu belum seberapa jika dibandingkan dengan di New York ataupun Inggris,” Jaekyung mengangguk. Tentu saja ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kedua negara besar itu.

“Kita akan kemana?” tanya Jaekyung setelah Hyukjae melajukan mobilnya, berbaur dengan ratusan pengemudi lain di jalan raya. Hyukjae menoleh sekilas, “Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersama? Sama seperti di Paris,” Hyukjae menggerling ke arah Jaekyung. Menggoda wanita itu.

“Mwo?! Aish, dasar pervert!” Jaekyung memukul lengan kanan Hyukjae dan pria itu mengaduh–pura-pura.

“Aku bercanda, Kyungie.” Jaekyung membuang pandangannya ke luar jendela. Merajuk.

Hyukjae terkekeh serta menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka jika Jaekyung–wanita yang terlihat begitu dewasa ini mempunyai sifat yang seperti ini.

“Kita akan ke gereja,”

“Untuk apa?” Jaekyung menyerngit bingung, di tatapnya pria yang sibuk menyetir itu.

“Tentu saja menikah, kau lupa, hm?”

Jaekyung mengerjapkan matanya cepat secara berulang kali. “Me–menikah?” ulangnya terbata.

“Ya, kenapa? Bukankah kau sudah setuju, apa kau berubah pikiran huh?”

“An–niya, hanya saja…, apa itu tidak terlalu terburu-buru?” suara Jaekyung melirih.

“Lebih cepat lebih baik, sebelum skandal ini semakin meluas dan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, kita harus secepatnya bertindak.”

“Arraseo,” Jaekyung menunduk sedih. Ia tidak habis pikir dengan jalan hidupnya yang seperti ini.

Menikah…

“Eum… Sebelum kita ke gereja, bisakah mampir ke apartemenku dulu? Kurasa, aku perlu mengganti baju.” Jaekyung memperhatikan penampilannya yang hanya mengenakan kemeja putih gading dipadu blazer coklat serta celana panjang denim. Ia akan menikah, setidaknya harus mengenakan pakaian yang cocok untuk pemberkatannya nanti.

Hyukjae mengangguk mengerti.

–o0o–

“Ini tempat tinggalmu?” Hyukjae memandang sekeliling apartemen kecil Jaekyung. Wanita yang sedang berada di dapur itu membalikkan badannya, “Ya,” jawabnya singkat kemudian melangkah menuju Hyukjae yang ada di ruang tamu–yang hanya dibatasi meja bar.

Rumah yang cukup hangat, batin Hyukjae.

“Kau duduklah dulu,” Jaekyung meletakan jus jeruk di meja. “Berapa banyak waktu yang kita punya?”

Hyukjae menyerngit bingung, “Memang kenapa?”

“Kurasa, aku butuh mandi.” Tadi pagi, ketika FBI datang menjemputnya ia belum sempat mandi, hanya mengganti baju. Itupun terburu-buru.

Ia perlu menjernihkan pikirannya.

“30 menit?” Ucap Hyukjae setelah melihat jam tangannya. Jaekyung mengangguk, “Lebih dari cukup. Baiklah, aku akan mandi dan kau tunggu di sini.”

“Apa perlu bantuan?”

Jaekyung yang akan memasuki kamarnya menoleh bingung, “Bantuan?” gumamnya.

“Ya, menggosok punggungmu, mungkin.” mendengar kalimat Hyukjae sontak saja Jaekyung melayangkan tatapan tajam, “Tidak, terima kasih.” jawabnya sengit dan langsung masuk kamar kemudian mengunci pintunya.

Hyukjae yang melihat itu langsung terbahak.

“Bersihkan otak kotormu itu Hyukjae!” ujar Jaekyung dari dalam kamar yang masih bisa di dengar pria itu sehingga membuat tawanya semakin menjadi.

Sepertinya hobi Hyukjae bertambah sekarang, yaitu menggoda Jaekyung.

–o0o–

Hyukjae mengalihkan tatapannya dari majalah yang sedang dibacanya ketika pintu kamar Jaekyung terbuka. Wanita itu mengenakan blouse terusan berwarna coklat pastel sebatas lutut dengan rambut yang di sanggul, berdiri di depan pintu, menatapnya ragu, seakan ingin mengatakan sesuatu.

“Apa sudah selesai?” tanya Hyukjae dengan menatapnya lurus.

Jaekyung mengangguk kemudian berdehem, “Eum.. Bisa minta bantuanmu sedikit?”

Hyukjae berdiri dari duduknya, menghampiri Jaekyung. “Apa?”

Jaekyung menggigit bibir bawahnya, “Tolong retsletingkan bajuku, tanganku tidak sampai.” ujarnya dengan wajah tersipu.

Tanpa menjawab Hyukjae menyentuh kedua bahu Jaekyung kemudian memutarnya. Pria itu langsung terdiam ketika melihat punggung putih mulus Jaekyung yang terpampang di hadapannya.

Tangannya terasa gatal ingin menyentuh, merasakan betapa halusnya punggung itu. Namun ia menggelengkan kepala, menepis pikiran melanturnya.

Ada waktunya Hyuk-ah, sekarang kau harus bergegas. Batinnya mengingatkan.

Tanpa membuang waktu Hyukjae segera menarik retsletingnya.

“Gomawo,” Jaekyung berbalik kemudian tersenyum. Hyukjae terpaku beberapa saat, terus menatap Jaekyung yang tampak lebih segar. Wanita ini terlihat begitu sempurna di matanya. Ia senang dengan kenyataan bahwa wanita ini sebentar lagi akan menjadi miliknya.

“Hyuk..”

Panggilan lirih Jaekyung membuat pria itu segera tersadar, “Sudah siap kan? Kajja,”

“Err… Tunggu, apa aku perlu membawa baju-bajuku?” Jaekyung berpikir jika hari ini menikah kemungkinannya ia akan tinggal bersama Hyukjae, di rumahnya.

Hyukjae tampak berpikir, “Nanti aku akan menyuruh orang untuk mengambilnya. Sekarang kita pergi,” Jaekyung hanya mengangguk sebagai jawaban.

Sepanjang perjalanan Hyukjae berkali-kali menoleh ke samping–dimana Jaekyung duduk. Wanita itu mendesah, “Kumohon, perhatikan jalannya Hyukjae-ya. Aku tidak ingin mati muda,” gerutu Jaekyung kesal.

Ia merasa risih dengan Hyukjae yang berulang kali meliriknya. Apakah ada sesuatu yang janggal dengan wajah atau mungkin penampilannya?

“Apa ada yang aneh dengan wajahku?” Jaekyung meraba wajahnya lalu mencoba mengaca pada kaca spion mobil yang tergantung di atas. “Tidak ada yang aneh,”

“Memang tidak,”

“Lalu kenapa kau terus melihatku seperti itu?” kesal Jaekyung dengan menatap Hyukjae yang tersenyum aneh.

“Itu karena kau berdandan seperti ini,” Jaekyung memperhatikan dirinya kemudian memandang Hyukjae lagi.

“Memang ada yang salah?”

Hyukjae menepikan mobilnya ke bahu jalan kemudian menatap Jaekyung penuh minat.

“Apa kau membawa lipstick?”

“Huh? Memang kenapa?”

“Bawa tidak?” desak Hyukjae tak sabar.

“Ya, aku membawanya. Memang kena–mmmmpppphh,” Jaekyung terkejut dengan tindakan Hyukjae yang tiba-tiba menciumnya dengan terburu-buru.

“Eugh–” Jaekyung memaki mulutnya yang justru mengeluarkan suara menyebalkan, yang sangat Hyukjae sukai.

Wanita itu meraup oksigen sebanyak yang ia bisa setelah Hyukjae melepaskan ciumannya, mengisi rongga paru-parunya yang kosong.

“Kau– benar-benar…” Jaekyung tidak mampu melanjutkan kalimatnya ketika Hyukjae kembali menciumnya dengan lebih menuntut dan menggebu. Ia bahkan sampai memukul punggung Hyukjae dengan kedua tangannya agar pria itu menghentikan ciuman sepihaknya.

Hyukjae memundurkan wajahnya kemudian mengecup hidung Jaekyung. “Sejak kita keluar dari rumahmu, aku sudah ingin menciummu. Tapi aku menahannya, dan puncaknya adalah tadi. Salahmu kau dandan terlalu cantik.” bisik Hyukjae lembut.

Jaekyung perlahan membuka matanya yang terpejam. Dadanya naik turun dengan cepat, “Mwoya?!” desisnya tidak terima.

Kenapa ia yang harus di salahkan?

“Kau saja yang tidak bisa mengontrol dirimu,”

Hyukjae tertawa ringan mendengar jawaban Jaekyung, “Kau benar. Itulah kelemahanku jika aku sudah berada di dekatmu.” pria itu mengedipkan sebelah matanya dengan genit, Jaekyung mendengus.

Drtt… Drtt..

Ponsel hitam yang ada di dashboard mobil membuat Hyukjae mengalihkan perhatiannya. “Hallo…”

“Kau sudah bersama calon menantuku?”

Hyukjae melirik Jaekyung yang sedang menatapnya penuh tanya. “Ya, kami sedang di jalan. Ada apa, Bu?”

“Eum… Bisakah sebelum kalian menikah mampir ke hotel dulu? Ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu. Ibu juga ingin melihat calon menantu, bisa?”

“Oh– baiklah. Kami akan ke sana sekarang.” Hyukjae meletakan ponselnya kembali.

“Ada apa?”

“Kita putar haluan, Ibuku ingin bertemu denganmu lebih dulu.” jelasnya yang langsung membuat Jaekyung terdiam. Wanita itu langsung merasakan aliran darah dalam tubuhnya berhenti. Jantungnya semakin berdetak tak terkendali.

“Hei, jangan tegang begitu. Ibuku tidak akan memakanmu, dia orang baik. Tenang saja.” hibur Hyukjae yang melihat ketegangan dari wajah wanitanya.

“Tapi–”

Hyukjae meraih jemari Jaekyung yang ada di pangkuannya, meremasnya lembut. Mencoba membagi kekuatan dan kepercayaan pada wanita itu.

“Ada aku, jangan khawatir. Semuanya akan berjalan lancar.” Mendengar Hyukjae berkata dengan sungguh-sungguh Jaekyung secara berangsur merasa lebih tenang.

Benar, ada Hyukjae di sampingnya. Ia tidak perlu takut lagi.

—o0o—

Untuk kedua kalinya Jaekyung bertatap muka dengan Tuan Lee.

Mungkin ketika di ruang rapat tadi pagi ia tidak begitu memperhatikan bagaimana raut wajah dari calon mertuanya ini, karena terlalu gugup dan takut. Tapi kini, ia bisa melihatnya dengan jelas. Tegas dan berwibawa. Mengingatkannya akan sosok Ayahnya yang telah lama pergi meninggalkan ia dan adiknya.

Tidak ada yang Jaekyung lakukan selain diam dengan tatapan menunduk. Ia tidak berani membalas tatapan mengintimidasi dari calon mertuanya.

“Ayah, berhenti menatapnya seperti itu, kau tidak lihat jika calon istriku ini kembali ketakutan huh?!”

Jaekyung dan Tuan Lee menoleh secara bersamaan. Tanpa sadar Jaekyung menghela nafas lega karena pada akhirnya pria itu datang lagi–setelah sebelumnya pamit untuk pergi karena ada kepentingan.

Hyukjae sudah mengganti bajunya dengan kemeja hitam dengan lengan yang di gulung hingga siku. Pria itu duduk di sofa yang sama dengan Jaekyung setelah meletakan jas hitam yang di bawanya ke lengan sofa, kemudian menyelipkan tangan kanannya ke belakang, menarik wanita itu semakin dekat dengannya.

“Hyuk–” lirih Jaekyung dengan menoleh ke arah Hyukjae.

Pria itu tersenyum santai dan tanpa canggung mendekatkan wajahnya.

Chup

Satu kecupan ringan namun berdampak buruk bagi detak jantung Jaekyung. Wanita itu menatapnya tajam yang justru membuat Hyukjae tertawa keras.

Sungguh demi apa, Jaekyung ingin melempar pria ini ke kutub utara sekarang juga.

Di sini–di ruang sama dengan mereka ada orang lain yang sejak tadi memperhatikannya, tapi dengan seenaknya pria ini justru menciumnya.

Oh my… Benar-benar…

Jaekyung yang gemas akhirnya mencubit perut Hyukjae sehingga pria ini berhenti tertawa dan menatapnya tajam. “Berani menyerangku, aku akan kembali menciummu.”

Jaekyung membulatkan matanya tidak percaya. Pria ini… Geramnya.

“Eghem! Apa yang kalian bicarakan?”

“Tidak ada, Ayah. Jaekyung hanya bertanya, setelah kami menikah nanti, berapa anak yang aku inginkan. Itu saja.”

Jaekyung kembali menggeram tertahan. Ingin rasanya Jaekyung berteriak dengan keras, memaki pria kurang ajar ini! Hyukjae tidak memperdulikan tatapan tajam dari wanita di sebelahnya. Ia senang melihat wajah kesal Jaekyung.

“Begitukah?”

“Yep,”

Jaekyung hanya menghela nafas. Mengalah. Ia akan membalas pria ini nanti, setelah semuanya selesai.

“Kim Jaekyung-ssi?”

“Nde?” Jaekyung langsung memfokuskan tatapannya ke depan, tepat dimana Tuan Lee duduk.

“Apa orang tuamu tahu jika hari ini kau akan menikah?”

“Animida, Tuan. Orang tuaku– sudah bersama Tuhan,” Jaekyung memaksakan sebuah senyum.

“Maafkan aku…”

“Tidak apa-apa,”

“Jadi, kau hanya tinggal sendiri di sini atau ada anggota keluargamu yang lain?”

“Aku punya seorang adik yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas tingkat akhir,”

“Begitu rupanya…”

“Omo.. Putraku!”

Jaekyung langsung menoleh ke sumber suara itu berasal. Wanita itu… Jaekyung tahu siapa wanita yang saat ini sedang memeluk Hyukjae dengan erat kemudian mengecup kening putranya.

Janete William. Wanita blasteran Eropa-Canada berusia 49 tahun. Seorang desainer sepatu yang sangat terkenal di Paris.

Jadi, Hyukjae adalah putra dari wanita itu?

Sulit dipercaya!

Jika dilihat dari segi wajah, Hyukjae sama sekali tidak mirip dengan ibu melainkan lebih cendrung ke ayahnya.

“Apa ini calon menantu ibu, hm?” Jaekyung mengerjap kaget. Kini wanita itu berdiri di sampingnya.

“A.. Annyeong haseyo, joneun Kim Jaekyung imnida.” Jaekyung buru-buru berdiri lalu membungkukkan badannya dalam.

“Aigoo, tidak perlu seperti itu Jaekyung-ah. Sudah, duduk saja.” Ibu Hyukjae duduk tepat di samping Jaekyung. Wanita itu menatapnya ramah.

“Kau cantik, nak.” ujarnya tulus. Jaekyung tersipu malu.

“Ya! Anak nakal, ambilkan ibu minum, sekalian untuk Jaekyung. Kau ini bagaimana, ada tamu kenapa tidak disuguhi minuman,” gerutunya dengan menatap ke arah putranya yang merengut.

“Iya, iya…”

Jaekyung terkekeh kecil melihat Hyukjae begitu penurut. Ia tersentak kaget karena merasakan kedua tangannya di genggam seseorang. Ia langsung memusatkan perhatiannya pada wanita yang duduk menyamping, menatapnya.

“Tadinya, aku pikir Hyukjae berbohong soal ia akan menikah. Tapi, setelah melihatmu berada di sini. Aku yakin, ini sungguhan.” Jaekyung hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Ia bingung harus berkata apa.

Hyukjae kembali dengan membawa nampan berisi minuman. “Aku tidak minum Scott, Hyuk-ah.” ujar Jaekyung ketika Hyukjae meletakan gelas panjang berisi cairan berwarna kekuningan. Pria itu menaikkan sebelah alisnya, seakan tidak percaya. Namun ia segera menggantinya dengan cola.

Wanita itu tersenyum sebagai tanda terima kasih.

“Eunhyuk-ah, kemari. Ayah ingin bicara denganmu.” Tual Lee sudah menunggu Hyukjae di depan sebuah pintu. Setelah anaknya mendekat ia segera mengajak Hyukjae memasuki ruangan itu.

Janete–ibu Hyukjae–yang melihat Jaekyung memandangi seluruh ruangan dengan tatapan kagum tersenyum tipis.

“Kau menyukai dekorasinya?”

Kepala Jaekyung sentak tertoleh ke sumber suara. “Ye? Maaf, anda bicara sesuatu?”

Wanita beranak satu itu tergelak, Jaekyung menyerngit semakin bingung.

“Tidak perlu seformal itu Jaekyung-ah, panggil saja seperti Eunhyuk memanggilku.” Ujar wanita itu ramah.

“Nde, eommonim.”

Jaekyung tersentak kaget karena ibu mertuanya ini memeluknya, “Aigoo, aku tidak menyangka jika putraku itu akan menikah secepat ini.” bisik wanita itu tepat di telinga Jaekyung. Terselip nada kecewa dalam suaranya namun kebahagian begitu terlihat di wajah yang masih cantik itu.

“Anak nakal itu benar-benar membuatku jantungan ketika mendapat kabar ini tadi malam. Saat itu, aku sedang ada di Thailand. Aku harap, dia benar-benar berubah sekarang. Dia beruntung mendapatkanmu, nak.” Diusapnya pipi Jaekyung yang bersemu merah.

“Tolong titip anak nakal itu, hm.” Jaekyung mengangguk dan membalas remasan tangan Janete.

Jaekyung tidak tahu jika Hyukjae adalah anak dari hasil di luar nikah, dan ia sangat terkejut ketika Janete menceritakan semuanya.

Saat itu, Janete masih muda ketika melahirkan Hyukjae. 20 tahun.

Lee Jung Sik dan Janete dipertemukan ketika mereka masih di universitas London saat menempuh gelar sarjana.

Yah, seperti yang terjadi pada pasangan pada umumnya, mereka jatuh cinta dan memutuskan untuk menjalin kasih. Namun sayangnya, hubungan mereka tidak mendapat restu dari kedua belah pihak sehingga terjadilah kejadian fatal itu.

Janete mengandung.

Demi masa depan anak yang di kandungnya, Janete juga Jung Sik memberanikan diri untuk bicara pada orang tua mereka. Awalnya berat untuk diterima, tapi akhirnya para orang tua mengalah dan menikahkan mereka di saat usia mereka yang masih muda.

Hyukjae tumbuh besar di Paris, di urus oleh Janete sendiri. Karena Jung Sik terpaksa harus kembali ke Korea untuk meneruskan usaha keluarganya. Mengelola Nagoya Enterprise. Setelah perusahaan berkembang pesat, Jung Sik memutuskan untuk pindah ke Paris. Sedangkan perusahaan yang ada di sini, diserahkan pada adiknya.

Kejadian itu memang telah berlalu 29 tahun lalu, tapi masih diingat dengan jelas oleh Janete. Ia tidak mungkin melupakan masa-masa terberat dalam hidupnya. Mengurus anak serta pendidikannya. Berat memang, namun ia bisa menyelesaikannya dengan baik dan bisa memetik hasil dari jerih payahnya dulu. Terbayar sudah semua usahanya.

–o0o–

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup Jaekyung, ia akan menikah dengan cara seperti ini. Tanpa mengenakan gaun pengantin ataupun hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan.

Tapi, ini lebih baik jika dibandingkan dengan pernikahannya yang gagal.

Kini mereka–Jaekyung dan Hyukjae–tengah berdiri di depan altar dengan seorang pastor yang akan menikahkan mereka.

Wanita itu menarik nafas dalam, mencoba meredam kegugupannya.

Hyukjae menoleh, menggenggam tangan kanannya. Jaekyung seketika menoleh, “Tenanglah,” ucap pria itu tanpa suara. Jaekyung mengangguk mengerti.

“Apa kalian sudah siap?”

Jaekyung dan Hyukjae mengangguk.

“Baiklah, kita mulai.”

Jaekyung semakin mengeratkan genggaman tangannya ketika pastor menanyakan ketersediaan Hyukjae. Ia menatap pria itu dengan perasaan berdebar. Meskipun ia tahu jawaban apa yang akan keluar dari bibir pria itu, tetap saja ia merasakan was-was.

“Nde, saya bersedia.”

Jaekyung mendesah lega setelah mendengar jawaban itu. Dan ketika pastor menanyakan kesediaannya ia langsung menjawab tanpa ragu.

Keduanya saling berpandangan, Hyukjae menyematkan cincin di jari manis Jaekyung, begitu pun sebaliknya.

Wanita itu berkaca-kaca, ia terharu.

“Indah sekali..” lirihnya dengan memperhatikan cincin yang kini melingkar manis di tangan kirinya.

“Itu cincin pemberian Ayah ketika melamar Ibu. Syukurlah ukurannya pas, tadinya aku sempat takut kau tidak suka.”

“Aku sangat menyukainya. Ini indah,” Jaekyung tersenyum senang. Ia jujur. Bahwa cincin dengan ukiran yang melingkari cincin itu begitu indah meskipun tanpa permata.

Simple dan elegan.

“Gomawo,”

“Cheonma,” Hyukjae mendekatkan wajahnya. Jaekyung yang mengerti maksudnya segera memejamkan mata, menanti hal apa yang akan Hyukjae lakukan.

Hanya kecupan ringan namun sarat akan makna yang dilakukan oleh Hyukjae. Pria itu menatap Jaekyung penuh arti yang dibalas dengan senyuman tulus.

Setelah pernikahan mereka selesai, Hyukjae segera mengajak Jaekyung ke kantor catatan sipil untuk mendaftar pernikahan mereka.

“Kyungie…”

“Hm?” Hanya gumaman lirih yang keluar dari bibir Jaekyung.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Hyukjae hati-hati. Wanita itu menoleh, “Tentu saja tidak. I’m fine, Mr Lee.”

“Tapi wajahmu tidak terlihat seperti itu, ada apa?”

Sejak mereka keluar dari dari kantor tempat Jaekyung bekerja, wanita ini berubah jadi pendiam. Hyukjae tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya ketika di dalam tadi. Ia hanya menunggu di lobby.

“Apa mereka mengatakan sesuatu yang menyinggungmu?”

Jaekyung menggeleng kecil, “Tidak. Mereka tidak mengatakan apapun. Hanya saja– aku akan merindukan mereka semua nanti.”

Hyukjae meraih tangan kiri Jaekyung kemudian mengecupnya. “Maafkan aku,”

“Jangan meminta maaf, Hyuk-ah.”

“Tapi karena aku kau harus keluar dari pekerjaanmu juga berpisah dengan mereka.”

Jaekyung membalas genggaman tangan Hyukjae, “Jangan khawatir, aku masih bisa bertemu mereka nanti. Kau tidak berniat membawaku tinggal di Paris kan? Aku akan menolak dengan tegas jika kau memaksa.”

Hyukjae terkekeh, “Tentu saja tidak. Aku tahu kau lebih suka tinggal di sini. Aku juga suka Negara ini.”

“Ngomong-ngomong, kita akan kemana?” mereka sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh tapi Hyukjae belum menghentikan mobilnya.

Hyukjae tidak menjawab pertanyaan Jaekyung, pria itu hanya tersenyum tipis yang membuat Jaekyung bertanya-tanya, kemana tujuan mereka kali ini.

–o0o–

“Kau tahu–” Jaekyung tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya menatap Hyukjae penuh tanya. Bagaimana bisa pria itu tahu bahwa adiknya sekolah di President High School–sekolah khusus putri.

“Kajja, kita temui adikmu. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya ketika tahu bahwa kakaknya telah menikah hari ini.” Hyukjae mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Jaekyung yang masih duduk dalam mobil.

Wanita itu segera menyambutnya, “Kau hutang penjelasan padaku.” bisiknya ketika mereka memasuki pelataran gedung asrama.

Setelah Ayahnya meninggal karena terkena serangan jantung akut, Jaekyung terpaksa memasukan adiknya–Jeeah–ke asrama yang tersedia di sekolah ini. Tidak ada pilihan lain. Dan untung saja Jeeah anak yang penurut.

“Maaf, Miss, bisa tolong panggilkan Kim Jeeah. Saya kakaknya,” ujar Jaekyung pada petugas resepsionis yang berjaga di balik meja komputer. Wanita berusia 40 tahunan itu menurunkan kacamata yang dipakainya untuk memastikan.

“Tunggu sebentar Nona,” sahutnya lalu mengangkat gagang telpon.

“Dia akan turun sebentar lagi, silahkan duduk dulu.”

“Ghamsa hamnida,” Jaekyung sedikit membungkuk sebelum meninggalkan meja resepsionis dan menghampiri Hyukjae yang sedang menelpon.

“Mana dia?” Hyukjae menutup sambungan telponnya begitu Jaekyung duduk di sampingnya.

“Sebentar lagi dia dat–”

“Omo! Eonnie!” Suara Jeeah menyergap pendengarannya. Wanita itu segera menoleh yang diikuti oleh Hyukjae.

“Eonnie, bogoshipoyo!” Jeeah memeluk Jaekyung erat. Wajahnya terlihat berseri-seri. Sudah lama ia tidak melihat adiknya yang seperti ini. Mungkin karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga ia jarang mengunjungi adiknya ini.

“Nado, Jee-ie..”

“Omo! Dia kan–” Jeeah menunjuk Hyukjae yang berdiri di belakang Jaekyung dengan telunjuknya. Seketika itu juga gadis berusia 18 tahun itu memekik keras.

“Kim Jeeah, jaga sikapmu.”

“Ah, mianhamnida Miss.” Jeeah membungkuk sopan pada wanita yang tadi menegurnya.

“Eonnie, bagaimana kau bisa bersamanya?” Tanya dengan suara tertahan.

“Kau mengenalnya?”

Jeeah mengangguk antusias, “Tentu saja aku tahu. Siapa yang tidak kenal Lee Hyukjae, anak satu-satunya dari pemilik perusahaan besar seperti Nagoya Enterprise. Pria berusia 29 tahun yang masuk jajaran pengusaha kaya di urutan ke 4 di seluruh dunia menurut majalah Forbes.”

Jaekyung tidak mampu berkata-kata, ia sama sekali tidak tahu menahu tentang fakta itu. Seperti benar, ia terlalu sibuk dengan dunianya! Sehingga tidak tahu fakta sebesar itu.

“Hai, aku Lee Hyukjae. Suami kakakmu.” Pria itu mengulurkan tangannya yang langsung di jabat dengan antusias oleh Jeeah.

“Hii, nice to meet you, sir.” Hyukjae tertawa renyah mendengar Jeeah menjawabnya dengan bahasa inggris yang cukup fasih.

“Jadi kau adik Jaekyung?”

“Yup, Kim Jeeah. Eh, tunggu.. Kau bilang suami dari kakakku? Maksudmu kalian sudah menikah?”

Hyukjae mengangguk. Jeeah terkejut dan langsung memberondong pertanyaan-pertanyaan pada keduanya. Maka Hyukjae pun menceritakannya, bahwa ia langsung jatuh cinta pada kakaknya saat pertemuan pertama mereka di Paris. Hyukjae pun meminta maaf karena tidak mengundang Jeeah hadir di pernikahan mereka hari ini.

“Apa kau mau jalan-jalan sebentar? Kita makan malam di luar, otthe?”

“Tentu saja mau, tapi–harus dapat ijin dulu dari kepala asrama.” jawab Jeeah berubah murung.

“Biar aku yang bicara dengannya,” Hyukjae segera melangkah menuju meja resepsionis dan berbicara sesuatu dan tidak lama kemudian pria itu kembali.

“Semua beres, kajja.” Hyukjae berjalan lebih dulu yang langsung diikuti oleh kakak beradik itu.

Jeeah tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya begitu melihat ke arah parkir mobil.

Sebuah mobil sport warna putih dengan kap mobil yang terbuka sudah menunggu mereka.

“Eonnie! Dia kaya! Ya Tuhan, kau beruntung mendapat suami sepertinya!” pekik Jeeah dengan wajah berbinar.

Jaekyung hanya memutar matanya malas mendengar decakan kagum yang keluar dari bibir Jeeah.

Sepanjang perjalanan menuju restoran, tak henti-hentinya Jeeah bercerita ini itu pada Hyukjae. Terkadang ia menyahut sesekali. Ia sungguh malas. Tapi di relung hatinya, ia membenarkan ucapan Jeeah jika ia memang beruntung menikah dengan Hyukjae.

“Jadi, bulan depan kau masuk universitas?” Hyukjae bertanya setelah mendengar keseluruhan cerita Jeeah. Gadis itu mengangguk antusias, “Ya, dan Oppa pasti tidak menyangka jika aku bisa masuk di Konkuk University.” ujarnya bangga. Gadis itu bahkan sudah tidak canggung lagi sekarang.

“Wah, jincha?!”

“Hm, aku sudah mengikuti tes masuknya minggu lalu. Seojin Saem mengatakan jika aku lulus. Aku hebat kan?”

Hyukjae mengangguk, “Ya. Kau hebat.”

Diam-diam Jaekyung merasa bangga mempunyai adik seperti Jeeah. Usaha keras gadis itu selama ini tidak sia-sia. Karena pada akhirnya gadis itu bisa masuk universitas yang diinginkannya.

“Tunggu sebentar–” Hyukjae menghentikan makannya karena mendapat telpon. “Aku keluar sebentar,” ijinnya pada Jaekyung.

“Eonnie,” Jeeah langsung menyenggol lengan kakaknya.

“Hm..”

“Ayo ceritakan padaku, bagaimana bisa kau mengenalnya?” ucap Jeeah tidak sabar.

“Bukankah tadi kau sudah dengar dari Oppamu, kenapa masih bertanya lagi?” sahut Jaekyung malas.

“Tapi aku tidak percaya begitu saja. Oppa pasti berbohong kan? Jadi, seperti apa cerita sebenarnya? Apa benar dengan yang nettizen tulis di majalah itu?”

Jaekyung mendesah pasrah, “Tentu saja tidak. Kau ingat bukan dengan liburanku ke Paris waktu itu?” Jeeah mengangguk. “Kami bertemu di sana.”

“Omo! Benar kan apa kataku, Eonnie. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari pria tidak tahu diri itu.”

“Ya, kau benar.”

“Aku iri padamu, Eonnie. Sungguh.” Jaekyung menyerngit tidak mengerti.

“Kenapa kau merasa begitu?”

“Tentu saja semua gadis pasti merasa iri denganmu saat ini, aku yakin itu. Lihat saja kau sekarang, kau telah menjadi Nyonya Muda Lee.”

“Aish, jangan berlebihan Jee-ie.”

“Aku tidak berlebihan, ini fakta. Kau lihat dia Eonnie. Hyukjae Oppa memiliki wajah tampan, baik, kaya dan tubuhnya itu… Aigoo.. Atletis.”

“Astaga, Jeeah..” desah Jaekyung secara berlebihan.

“Bagaimana ia di ranjang, Eonnie?”

Jaekyung yang sedang meminum lemon tea langsung tersedak, “Omo! Pelan-pelan Eonnie-ya.” tegur gadis itu dengan mengulurkan tissue.

“Kau– aish! Apa yang kau ucapkan huh?!”

Jaekyung tidak percaya adiknya yang ia pikir polos ini bisa mengeluarkan pertanyaan yang seperti ini.

“Apa? Aku tidak salah kan? Aku yakin kalian sudah pernah melakukannya.” Jaekyung tidak menjawabnya, ia mengalihkan tatapannya ke arah lain dan itu mempertegas asumsi Jeeah.

“Jadi benar kan? Kalian sudah– hm..?” Jeeah menaik turunkan kedua alisnya. Menggoda Jaekyung yang sudah merona malu.

“Maaf, apa kalian sudah selesai makan?” Hyukjae kembali ke meja mereka.

“Nde, sudah.”

“Baiklah, kajja kita pulang. Ini sudah malam, kau harus istirahat Jeeah.” Hyukjae menunjuk adik iparnya.

“Arraseo, Oppa-ya.”

Mereka segera keluar dari restoran setelah Hyukjae membayar makanan mereka lalu mengantar Jeeah kembali ke asrama.

“Belajarlah yang pintar, jangan kecewakan kami.” nasehat Hyukjae ketika Jeeah sudah turun dari mobil. Gadis itu mengangguk patuh. “Ini– untuk membeli keperluan yang kau butuhkan.” Hyukjae memberikan beberapa kembar uang puluhan ribu won pada Jeeah. Jaekyung hendak melayangkan protes namun mengurungkannya karena Hyukjae menatapnya tajam.

“Aigoo, kau memang Oppa yang baik. Gomawo.” seru Jeeah senang.

“Katakan padaku jika kau butuh sesuatu, aku pasti akan mengirimnya untukmu.”

“Arraseo, gomawo, Oppa.”

“Kalau begitu, kami pulang. Kalau kau ada libur beritahu kami, agar kami bisa menjemputmu pulang.” Jeeah kembali mengangguk.

“OK.”

“Masuklah,”

“Eonnie, Oppa, kalkhae.” Jeeah melambaikan tangannya, mengantar kepergian kedua kakaknya dari pintu lobby.

Hyukjae membalas dengan lambaian tangan begitu pula dengan Jaekyung.

“Kau– jangan terlalu memanjakan Jeeah.”

Hyukjae menghela nafas, “Itu hanya 50 ribu won, sayang. Kurasa, Jeeah bisa menggunakannya untuk membeli sesuatu.”

Jaekyung tidak menjawab. Ia tahu maksud Hyukjae memang baik, hanya saja.., ia takut jika Jeeah akan terbiasa seperti itu nantinya. Ia tahu jika Jeeah harus berhemat dengan uang bulanannya sejak kematian Ayahnya. Gadis itu pasti ingin seperti teman-temannya yang lain, meskipun Jeeah tidak mengatakannya tapi, Jaekyung tahu itu.

“Ayolah, jangan marah. Hanya masalah uang 50 ribu kau merajuk, ck.” cibir Hyukjae pura-pura kesal.

“Aku tidak marah,”

“Sungguh,”

“Aku hanya merasa lelah, kau tahu bukan jika hari ini begitu berat bagiku.” lirihnya dengan memandang sekilas ke arah Hyukjae yang menyetir.

Hyukjae tahu jika hari ini memang sangat melelahkan. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada wanita ini jika ia tidak secepatnya datang kemari. Beruntung Robert langsung menelponnya dan menyiapkan semuanya agar ia bisa mencegah tindakan Ayahnya.

“Tidurlah, kau pasti mengantuk.”

Jaekyung mengangguk, ia memang sangat lelah dan mengantuk.

Hyukjae menepikan mobilnya untuk menutup kap mobil. “Akan aku bangunkan jika sudah sampai.” dikecupnya kening Jaekyung lembut kemudian merendahkan kursi yang Jaekyung duduki. Sehingga menjadi setengah tidur.

Jaekyung merasa lebih nyaman sekarang, maka ia memejamkan matanya.

Hyukjae tersenyum tipis melihat Jaekyung tertidur. Diambilnya selimut tipis yang ada di jok belakang lalu menyelimuti Jaekyung. Setelahnya ia kembali melajukan mobilnya, membelah jalanan di tengah heningnya malam.

–o0o–

Samar-samar Jaekyung mendengar suara-suara gaduh, namun ia enggan untuk membuka matanya yang terasa berat.

Ia bisa mencium wangi maskulin serta dada bidang yang kini menjadi sandaran kepalanya.

Hyukjae menggendongnya.

“Tuan, apa perlu saya bantu?” ujar wanita baya menawarkan diri.

“Terima kasih, tapi tidak perlu Ahjuma. Aku bisa melakukannya sendiri. Sekarang istirahatlah, maaf sudah menunggu kami terlalu lama.” Hyukjae membaringkan Jaekyung di ranjang.

“Baiklah, saya permisi.”

Setelah kepergian Shin Ahjuma, Hyukjae menutup pintu lalu menguncinya. Ia mendekat ke arah ranjang, memperhatikan Jaekyung yang tertidur pulas.

“Semoga saat kau bagus besok pagi, kau tidak memarahiku.” lirihnya dengan melepaskan sanggul di bagian belakang kepala Jaekyung secara hati-hati.

Jangan berpikir jika ia akan melakukan hal macam-macam tanpa sepengetahuan istrinya. Ia hanya ingin membantu mengganti bajunya agar Jaekyung tertidur dengan nyaman.

Hyukjae mencoba melepaskan baju yang dikenakan Jaekyung dengan hati-hati. Ia terkejut ketika mengetahui jika Jaekyung menggunakan stoking bukannya pantyhose seperti wanita pada umumnya. Ternyata istrinya ini orang yang tak terduga. Ia semakin penasaran tentang diri Jaekyung yang sebenarnya.

Hyukjae menghela nafas lega karena Jaekyung tidak terbangun akibat kegiatannya.

“Damn! Kau sungguh membuatku terangsang hanya memakai gaun tidur itu. Ayolah, tahan Hyukjae. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan. Jaekyung bisa marah kalau kau melakukannya tanpa ijin.” gerutunya kesal ketika dirasa tubuhnya semakin memanas hanya melihat istrinya tertidur dengan mengenakan lingerie warna biru.

“Sebaiknya aku mandi lalu tidur, yah.. Kurasa itu ide bagus.” putusnya dan langsung berlalu ke kamar mandi setelah menyelimuti Jaekyung hingga separuh badannya.

Hyukjae keluar dari kamar mandi setengah jam kemudian. Pria itu hanya mengenakan celana tidur panjang dengan kaos abu tanpa lengan.

Ia segera merebahkan tubuhnya di samping Jaekyung, menarik wanita itu semakin dekat dengannya.

Dalam tidur Jaekyung, wanita itu tersenyum.

“Sepertinya kau mimpi indah.” di kecupnya kening Jaekyung lama kemudian bibirnya yang sedikit terbuka. “Jalja,” bisiknya sebelum ia memejamkan mata, menyusul Jaekyung menyelami alam mimpi.

Continue…

53 comments

  1. Whoaaaah, beruntung banget Jaekyung. Belum lama kenal tapi udah diajak nikah. Lee Hyuk Jae, sesuatu banget kamu bang. Pervert tapi itu yang aku suka. Hhahahaha… Semoga kehidupan pernikahannya baik-baik saja, nggak ada gangguan. Was-was soalnya ma Woo Hyun.

  2. Eh dh dbuka ya >< aigooooo hyukie di sni so sweet beud kkk~gk ngebayangin nikah tnpa gaun pngntin =___= awal" msih mnis nih gtw konflik yg muncul nnt😀 smngt oen bkin part 3

  3. keluar jga, suka ma sifat.a jaekyung biarpun udah jadi istri milioner ttp aja kgak sombong, jeeah beruntung.a punya kakak iparr kyak si unyuk😀

  4. jaekyung beruntung bgttt
    pengen jadi jaekyung eon hehe
    masih ada typo dikit eon hehe
    part selanjutnya di tunggu eon

  5. Sungguh pernikahan yg sangat mendadak *plak*😀
    ah aku juga mau tuh nikah ama si Monyet Millionaire >_< beruntungnya Jaekyung *manyun* :3

  6. uaakh akhirnya nikah jg wlpn gk ada pesta jd mkin pnasaran sma klnjutan ff ini
    eon moga next part nya cpet ya aq tnggu

  7. pertama,Jee Ahh itu nama saya.
    Kim Jee Ahh dan saya suka karakternya.
    ceria polos pinter tapi plinplan.

    kedua,Ampuun itu nikaham cepet amat yeh?
    temen nya Jaekyung ga hadir??

    ketiga,Jee Ahh nya sering di tongolin yah.#lol

    keempatKeremn Ann banyak kemajuan.
    So Figthing.

    keLima,Aku menunggu Lanjutannya.

    keenam#HappyHyukDay

    ketujuh,mian baru komen n baca,baru inget soalnya.

    kedelapan,Bye Bye#tarikkolorsiwon

  8. aigoo, hyukjae datang-datang langsung ngajak nikah dan parahnya lagi nikahnya juga hari itu. omona ! hyuk kau sungguh tidak terduga..

  9. mau komen apa sih..??? udah lah cuma mau ngomong AKU SUKA CERITA NYA,,, heheh eunhyuk oppa keren di sini (y)

  10. aaahhhh mereka love at first sight,,,,,

    sabar ya jaekyung wlo prnikahanmu mendadak n bukan pernikahan yg seperti impianmu,,,km msh bruntung krna menikah dg org yg km cintai,,,,

  11. Huaaaa ternyata ayah dan ibu hyukjae cukup rumit di kehidupan keluarga mereka..
    Ckckc…

    Kerreeennn….
    Semoga ga ada masalah serius untuk kehidupan selanjutnya..

  12. Q agak bngung knpa klo 2perushaan tu hrus brtemu dlm satu ruangan da FBI pula??tp bagus og mngkin hyuk ma jae lgi trkna sindrom love at first sign bnr g ya tlisannya hahaha

  13. annyeong aku reader baru ^^
    suka banget sama ceritanya apalagi sama karakter eunhyuk disini~😀
    eunhyuknya sweet bangetttt >.<

  14. akhr nikh jga mrka.
    so sweet bgt dh hyuki…
    baik lg ke adex jaekyung.
    bnr” bruntung jaekyung dpt nampyeon hyukjae.

  15. ah,,,aku gk phm,,dg perusahan mrk,,,yg aku phm hanya so sweetnya,,,hhhh,,oh ya,jaekyung pke stoking di apanya??trus wanita2 lain itu pakae apa??aku gk ngerti itu,,,,hhh

    1. Pantyhose itu stoking yg langsung pake, kaya kaos kaki gitu. Nah kalo yg Jaekyung pake itu misah. Stokingnya cuma sebatas paha dalam yg dikaitkan ke celana dalam. Gitu maksudnya..

  16. OMG adegan dewasa hehe:O ciee langsung diajak nikah aja sama si eunhyuk :O? Ciee jaekhyung keke😀
    Oeni aku mau minta pw yang part 4 ya oeni hehe ketwitter aku: @anggeldevi makasih oeni😀

  17. Oh my gosh, beruntung banget jadi Jaekyung… Dia menikah dgn millionaire ..
    yang bikin shock itu, baru bertemu di Korea n ngobrol ditangga darurat langsung ngajak nikah .. nggk kebayang gmn klo aku sndri yg diajak nikah😄
    Tp akhirnya nikah juga,,

    b^^d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s