Black Mint vs Sky Mint

 

 

PicsArt_1396416353800

Author : Blue Rose

Title : Black Mint VS Sky Mint

Genre : Romance

Length : Ficlet

Rate : PG16

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung

 

 

 

***

 

 

Namanya Lee Donghae dan Aiden Lee, mereka–kembar identik. Susah untuk membedakan mana yang Aiden dan mana yang Donghae.

Kau akan bisa melihat perbedaannya jika mereka tidak sedang bersama. Misalnya seperti sekarang–aku duduk berseberangan dengannya yang sedang asyik melahap ice cream rasa strawberry, itu adalah makanan favoritnya selain nasi goreng seafood serta chicken doritang.
Perbedaannya akan terlihat jelas jika seperti ini. Donghae akan bertindak menyebalkan. Berbeda dengan Aiden yang selalu bersikap manis pada siapapun.

Aku hanya menatapnya dengan bertopang dagu. Dia–seperti anak kecil jika makan ice cream. Belepotan.

“Kau tidak makan ice creammu? Kalau kau tidak mau, biar buatku saja.” Belum juga aku memberikan jawaban dia sudah mengambil alih ice cream choco vanilla milikku dalam mulutnya.

“Lee Donghae!”

Cih, aku benci tatapan bocahnya itu. Apalagi wajah aegyonya.

“Buang tatapan menjijikkanmu itu! I don’t like that!” ujarku penuh penekanan.

“Mwo? Kau tahu Yoo, dengan sekali tatap mata dengan gadis aku jamin dia langsung jatuh cinta padaku.”

“Kau terlalu percaya diri sekali Lee Donghae! Tatapan matamu itu tatapan orang cengeng, kau tahu?!”

Hei, aku benar kan? Jika tatapannya itu sendu. Ciri khas orang yang cengeng. Dan kenyataan dia cengeng juga benar. Buktinya, saat kelas 5 sekolah dasar dia menangis karena tidak bisa turun dari atas pohon. Aneh memang, bisa naik tapi tidak bisa turun. Itulah Lee Donghae. Sangat berbeda dengan Aiden–kakaknya yang lahir lebih dulu–dua menit sebelum dia.

“Haish! Kau mengataiku huh? Bagus, kalau kau terus bicara begitu. Aku bersumpah kau akan menjadi istriku kelak!”

“Mworago?! Maldo andwae!”

Tentu saja aku tidak mau. Apa dia gila? Menjadi istri Lee Donghae yang gemar tebar pesona dengan setiap gadis ketika bertemu. Cih, jangan harap. Lelaki bukan hanya dia seorang!

“Daripada denganmu, lebih baik aku aku menikah dengan Aiden,” sahutku berapi-api.

Dia menyeringai, dari mana dia belajar senyum menyebalkan itu? Apa Kyuhyun? Hobae kami di universitas.

“Aiden sudah punya kekasih, Yoo. Kau lupa? Lagi pula, dia tidak mungkin menyukaimu.”

“Mereka baru pacaran, bisa saja putus lalu menyukaiku. Itu mungkin saja. Dan siapa bilang dia tidak menyukaiku? Buktinya, natal tahun lalu dia menciumku. Bukankah itu cukup menjadi bukti kalau Aiden suka padaku?”

See, kau tidak bisa membantah kalimatku kan? Maka dari itu, jangan mengibarkan bendera perang padaku.

Wajahnya seperti sedang menahan amarah. Hehehe… Aku senang melihatnya.

“Kau akan menyesal telah mengatakan itu, Yoo.”

Oh, kau mengancamku eoh? Maaf saja Tuan Lee, ancamanmu tidak mempan padaku. Kita sudah berteman sejak sekolah dasar, tentu aku tahu tabiatmu.

“Aku tidak takut dengan ancamanmu, Donghae-ya.”

Dia menggebrak meja dan tatapannya lurus padaku. Dadanya naik turun dengan cepat.

“Aku pulang,”

Donghae pergi setelah mengatakan itu, tanpa berbalik atau mengajakku pulang bersama.

Tunggu, dia–benar-benar marah?
Hanya karena itu? Kenapa?

—¤¤¤–

Sejak kejadian seminggu lalu–di kedai ice cream–Donghae tidak pernah lagi menghubungiku.
Di kampus pun, aku tidak bertemu dengannya. Dia benar-benar marah.

Dan saat kutanya pada Aiden tentang kemana perginya Donghae, dia hanya mengatakan jika Donghae sedang sibuk membantu ayahnya di perusahaan.

Benarkah? Bukan karena dia marah padaku?

Jika boleh jujur, selama seminggu ini aku merasa kesepian. Biasanya, dia akan datang ke rumah di saat aku sedang belajar kemudian menggangguku dengan tindakan usilnya ataupun hal-hal konyol yang ia lakukan agar konsentrasi belajarku hilang.

‘Kau akan merasakan kehadiranku jika aku sudah tak ada di sampingmu. Lalu kau akan menyesalinya karena aku tak ada dan tak mungkin kembali.’

Jadi sekarang aku merindukannya, begitu?

“Lee Donghae baka! Baka! Baka! Aku membencimu.” Kututup wajahku dengan kedua tangan, menyembunyikan tangisku walaupun sia-sia.

Aku tidak perduli jika sekarang menjadi tontonan orang yang ada di taman ini. Lagi pula, siapa yang perduli?

“Kau tidak malu menjadi tontonan orang?” dapat kurasakan ada yang duduk di kursi yang sama denganku. Siapa dia?
Tapi aku enggan untuk menoleh.

“Apa urusannya denganmu? Sana pergi.”

Dia mendengus mendengar jawaban ketus dariku.

“Nona Kim, jangan galak begitu…”

Suara ini… Mungkinkah…

Dengan gerakan cepat aku tolehkan kepalaku.

Dia…

Aku tidak sedang berhalusinasi kan? Katakan kalau ini nyata.

Lee Donghae ada di hadapanku sekarang!

“Kenapa menatapku begitu? Kau tahu, tatapanmu menyeramkan ditambah wajah jelekmu itu. Aigoo…”

Tidak perdulikan ucapannya, aku langsung memukulinya. Pria ini– ingin ku bunuh saja jika hal itu tidak dilarang.

“Kenapa kau ada di sini huh? Kemana kau selama ini? Tiba-tiba pergi dan tiba-tiba datang. Kau menyebalkan. Donghae baka, baka, baka!”

Dia menahan kedua tanganku yang memukulinya, mencengkeramnya erat.

Pandanganku semakin mengabur, airmata ini tidak mau berhenti mengalir.

“Aku membencimu,”

“Aku tahu,”

“Kau tahu seberapa menyebalkannya dirimu?” tanpa menunggu jawaban darinya, aku melanjutkan ucapanku. “Kenapa kau tidak mati saja huh?!”

“Kalau aku mati, lalu siapa yang akan mengolok dirimu, menjaili juga merusuh padamu?”

“Kau brengsek,”

“Aku tahu, Yoo. Tidak perlu kau katakan seberapa bejatnya aku di matamu.”

Tatapan ini…
Aku tidak pernah melihatnya.
Dalam dan–kecewa.

Kemana perginya tatapan menyebalkan itu? Kenapa sekarang dia menatapku seperti ini?

“Maafkan aku karena tidak menghubungimu selama seminggu ini, dan juga–untuk semua kesalahan yang aku lakukan padamu dulu.”

Kenapa dengan mudahnya kau meminta maaf setelah membuatku menangis? Tidak tahu kah kau betapa sakitnya aku?!

Ingin aku ucapkan kalimat itu tapi bibirku terasa kelu, sulit sekali untuk digerakkan. Dan lagi–sakit di dadaku.

“Kau pasti senang kan? Iya kan? Katakan kau senang melihatku begini?!”

“Tidak,”

“Gotjimal,”

“Aku tidak berbohong, Yookyung-ah. Aku akan bicara jujur sekarang. Kau menangis begini, justru membuatku sedih.” Tangannya menghapus sisa airmata yang masih mengaliri kedua pipiku. Kemudian menangkup kedua sisi wajahku dengan tangan besarnya. Hangat.

“Ini bukan Yookyung yang aku kenal, aku tidak mengenal Kim Yookyung yang cengeng.”

Memang karena siapa aku menangis huh?

“Sekali lagi maafkan aku karena membuatmu menangis, lagi.”

Kau baru sadar kalau sering membuatku menangis eoh? Cih, kemana saja kau selama ini?

“Selama seminggu ini aku mencoba menenangkan pikiran juga memantapkan hatiku. Sekaligus memberimu waktu untuk menyadari keberadaan diriku di sampingmu. Dan hari ini, aku putuskan untuk menemuimu, menanyakan apakah kau sudah bisa merasakannya?”

Aku sudah menangis begini tapi kau masih bertanya? Bodoh sekali pria satu ini!

“Jawab, Yoo..”

“Kau memang bodoh, Donghae-ya! Apa aku harus mengucapkannya huh?!”

Dia mulai lagi, berlaku acuh, pura-pura tidak mengerti dengan terus menatapku.

“Kau ingin tahu, baik, akan aku jawab. Aku sangat membencimu.”

Dia terkekeh, apa ada yang lucu huh?

“Itu bukan jawaban yang aku harapkan,”

“Memang kau ingin jawaban yang seperti apa?”

Aku tahu maksudnya, dia ingin aku mengucapkan ‘saranghae’.
Ck, bukankah dia pria heh? Seharusnya dia dulu yang mengatakannya, bukan sebaliknya!

“Karena kau tidak mau mengatakannya, tidak apa-apa. Biar aku dapatkan jawabannya langsung dari dirimu, kita lihat saja, apa kau memang mencintaiku atau tidak.” Dia menyeringai kemudian menempelkan bibirnya tepat.di atas bibirku.

Terkejut.

Tidak ada yang aku lakukan selain diam ataupun berontak dari ciuman sepihaknya.
Dapat aku rasakan bibir hangatnya yang bergerak lembut menyapu permukaan bibirku.

Yookyung bodoh! Seharusnya kau mendorongnya bukan malah ikut terhanyut dengan membalas ciumannya.

Pikiran dan hatiku tidak sinkron, aku akui itu.

Bahkan ketika ia melepaskan ciumannya dan beralih mengecup kening kemudian memelukku erat, aku tidak menolaknya. Justru yang kulakukan adalah menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang. Merasakan dekapan hangatnya juga wangi tubuhnya.

“Seberapa keras kau menolakku pada akhirnya kau pun akan menyerah.”

Dapat kudengar ia bergumam lirih. Hanya anggukan kecil yang dapat aku berikan sebagai jawaban. Terlalu malu untuk menjawabnya secara langsung dan menatap wajahnya. Kurasa, dia mengerti.

“Kim Yookyung, watasi wa anata o aishite.”

End

10 comments

  1. Kkkkkkk~smbil nunggu ff MWM dibuka jd bca ini dlu xD ofo iki oen aigooo bang ikan punya kmbran lg
    Jngn” pcar aiden itu ak #ups :3 oke fix
    Gk ad pnjelasan bang dongek bertapa dimanao_O tp rapopo yg pnting yookyung dh ngrasain kngen😀 ficlet yg unyuuuuu(?) ^^

  2. Bisa stress aq kalo ada dua donghae,, kkk
    Satu aja udah ga tahan ama pesonanya, apalagi 2???
    Sweet bgt Hae dsni,, always casanova,,,
    Good job thor,,

  3. Keren nih,aku suka,apalgi kalo dongek oppa nya ada 2 aigo pusing aku mesti berpihak ama yg mana,ok maap ga bisa panjang panjang komnnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s