Mommy for Daddy Chapter 7B (ENDING)

wpid-picsart_1393596194463.jpg

Author : Blue Rose

Title : Mommy for Daddy Chapter 7B (ENDING)

Genre : Family, Romance

Length : Chapter

Rate : PG17

Cast :

Lee Donghae, Kim Raeann/Lee Yookyung, Lee Haera, Lee Hyukjae, Kenichi

 

Jika waktu dapat berputar kembali, hanya  satu yang ingin aku lakukan, yaitu tidak membuat kesalahan yang membuatmu pergi dan meninggalkanku dalam waktu yang lama.”

Cuaca siang itu sungguh tidak bersahabat. Gumpalan awan hitam memenuhi langit, rintik hujan perlahan turun membasahi bumi, menyeruakkan bau khas tanah basah.

Lorong panjang yang ada di ruang ICU tampak begitu lenggang dan tenang. Kursi panjang yang berderet dengan rapi tampak terisi oleh beberapa orang.

Yookyung mengalihkan tatapannya ke arah Donghae berada, duduk di lantai dengan kepala tertunduk. Pria tampan itu terlihat begitu kacau. Kemeja biru muda yang dipakainya terlihat kusut serta terdapat bercak merah–darah–di beberapa bagian.

Setelah gadis itu mendapat telpon dari Sungmin yang mengatakan jika Haera jatuh dari tangga, ia dan Ken langsung menyusul kemari. Dokter mengatakan jika edera yang dialami Haera tidak terlalu parah, hanya luka di bagian pelipis yang memerlukan beberapa jahitan. Tapi yang membuat anak itu berada di ruang ICU adalah karena penyakitnya. Pneumonia.

Haera mengidap pneumonia sejak lahir karena Mina melahirkan Haera secara prematur, serta otot saluran pernafasannya yang memang lemah bawaan.

Yookyung teringat kalimat yang diucapkan Sungmin, jika Haera berjalan terburu-buru saat menuruni tangga sehingga kakinya tergelincir lalu jatuh. Saat itu Sungmin berada di rumah Donghae karena Haera menelponnya agar mengantarnya menemui Yookyung. Namun Donghae melarangnya sedangkan Haera adalah anak yang cukup keras kepala, ia tidak mendengarkan larangan ayahnya. Dan ketika Sungmin datang anak itu berniat secepatnya menemui Sungmin.

“Kau mau kemana, Ann?” Ken yang duduk tepat di samping Yookyung langsung bersuara begitu gadis itu berdiri dari duduknya.

“Aku ke sana sebentar,” Yookyung menunjuk Donghae yang masih di posisinya. Ken mengangguk mengerti. Donghae sepertinya butuh seseorang untuk menguatkan.

Yookyung segera menghampiri Donghae dan berlutut samping kiri Donghae, menepuk bahunya pelan sehingga pria itu menatapnya.

Gadis itu dapat melihat betapa beratnya rasa bersalah yang ada dalam diri Donghae.

“Butuh sandaran?” Donghae menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti maksud Yookyung.

“Ann–” Donghae terkejut ketika Yookyung tiba-tiba langsung memeluknya.

“Aku tahu kau butuh sandaran, maka itu menangislah,” suara Yookyung bergetar, ia juga ingin menangis tapi ditahannya.

Yookyung tahu jika Donghae menahan kesedihannya sejak pagi tadi–sejak Haera masuk Rumah Sakit.

“Tidak,”

“Aku bilang menangislah,” Yookyung melepaskan pelukannya berganti menatap Donghae tajam.

“Kenapa aku harus menurutimu, huh? Siapa dirimu?” Donghae balas menatap Yookyung datar.

“Kau membohongiku selama ini. Kenapa kau melakukan itu?!” ucap Donghae lagi yang melihat Yookyung diam. Gadis itu hanya diam dengan sorot penuh penyesalan.

“Kau pikir, kau bisa seenaknya membohongiku dan putriku? Aku–kecewa padamu, Ann.” Donghae memalingkan wajahnya ke arah lain. Yookyung menundukkan kepalanya, ia sadar ia salah karena telah membohongi banyak orang.

“Maafkan aku, Oppa.. Maaf,”

“Jelaskan padaku, apa alasanmu melakukan itu? Maka akan aku pikirkan apa aku akan memaafkanmu atau tidak.” Donghae berkata tanpa menatap Yookyung, masih dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.

Yookyung menghela nafas kemudian ikut duduk di lantai samping Donghae, bersandar ke dinding yang dingin. “Aku–hanya takut kau marah.., karena aku pergi tanpa pamit.”

“Jelas aku marah, Ann.” sela Donghae cepat.

“Kau pantas marah, Oppa.”

“Benar. Aku pantas marah padamu dan seharusnya aku tidak mau bertemu denganmu ataupun bicara denganmu lagi.” Yookyung sentak mengangkat kepalanya, memandang Donghae yang juga tengah menatapnya.

“Kau tahu benar sifatku seperti apa, Ann. Aku tidak suka dibohongi. Tapi, kau malah membohongiku. Kita berteman sejak kecil dan kau tega melakukan ini padaku?! Kau benar-benar keterlaluan. Sahabat macam apa kau ini huh?” Donghae tidak memberikan kesempatan untuk Yookyung bicara sedikitpun.

“Kau bahkan merahasiakan ini dariku juga keluargamu, aku yakin itu.” Yookyung menatap Donghae tidak mengerti. “Kau–mendonorkan separuh ginjalmu untuk Mina.”

Tubuh Yookyung langsung menengang, Donghae dapat merasakannya.

Mata bulat gadis itu membulat sempurna. Bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya.

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan saat itu huh?! Kau masih di bawah umur untuk melakukan tindakan fatal itu. Aku tidak habis pikir dengan isi kepalamu itu.” bukan Donghae untuk memarahi Yookyung, hanya saja ia pikir Yookyung begitu gegabah saat itu.

Dan ia merasa begitu bodoh dengan ketidaktahuannya akan hal penting ini.

Donghae pernah membaca artikel tentang pencangkokan ginjal.

Jika seseorang melakukan pencangkokan ginjalnya, dalam tahap awal akan mengalami masa-masa yang cukup sulit karena keseimbangan tubuhnya belum pulih, dimana ginjal yang biasanya berfungsi dengan baik kini hanya tinggal satu yang beroperasi, itu perlu waktu untuk membuatnya agar terbiasa. Itu tidak mudah, karena kondisinya tidak jauh beda dengan Mina–penerima donor.

Tapi Yookyung sama sekali tidak menunjukkan jika gadis itu pernah melakukan sebuah operasi–saat sekolah dulu. Yookyung terlihat begitu sehat dan ceria seperti biasa meskipun tidak terlihat selama empat hari. Bisa tertawa dan menggoda Mina ini-itu.

“Seharusnya kau jadi seorang aktris, Ann. Aku yakin kau bisa berperan dengan sangat baik. Aku kecewa padamu, sangat.” itu adalah kata terakhir yang dapat di dengar oleh Yookyung sebelum Donghae pergi meninggalkannya seorang diri.

Donghae menghampiri ibunya serta Sungmin dan Hyukjae yang duduk di kursi tunggu.

Ken yang melihat perubahan di wajah Yookyung ketika datang langsung menghampirinya.

“Hei, ada apa?” Disentuhnya wajah pucat gadisnya. Yookyung tersenyum tipis, menurunkan dengan pelan tangan Ken yang memegangi wajahnya.

“Aku baik-baik saja,”

“Bohong.”

Ken tahu jika Yookyung tidak baik. Gadis itu terlihat begitu rapuh dan frustasi. Sejujurnya ia ingin membantu mengurangi beban Yookyung, hanya saja ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia bahkan sama sekali tidak mengerti apa penyebab Yookyung seperti sekarang.

Donghae yang melihat Ken dan Yookyung berpelukan tepat di depan matanya mengepalkan kedua tangannya erat. Pria itu tidak suka jika Yookyung berdekatan dengan orang lain.

“Tidak suka, eoh?” Sungmin mengeluarkan suara. Donghae menoleh dengan menyerngit bingung. “Apa?”

Sungmin mengedikkan kepalanya ke arah Ken dan Yookyung yang berada di seberang kursi tunggu.

“Kalau kau tidak suka mereka ‘bermesraan’ seharusnya kau ungkapan. Percuma kau membatin seperti saat ini, Raeann tidak akan tahu, bodoh.”

Hei.., bagaimana bisa Sungmin tahu jika saat ini dalam hati Donghae sedang merituki tingkah kedua pasangan itu?

“Dari gerak tubuh dan tatapanmu pun aku sudah tahu, Hae-ya.”

Sungmin kali ini dapat membaca jalan pikirannya.

“Aku tidak–” kalimat Donghae terputus karena pintu ICU terbuka, memunculkan seseorang dengan pakaian berwarna hijau serta tudung kepala dan masker yang menutupi wajahnya.

“Maaf, saya Dokter yang menangani nona Haera, apa di sini ada yang bernama Yookyung?” orang itu membuka maskernya sehingga mereka dapat melihat wajah orang itu. Wanita.

“Ada apa?” Nonya Lee langsung bertanya cemas. Masih dengan isakan kecil.

“Cucu anda sudah sadar, Nyonya. Hanya saja dia terus menyebut nama Yookyung, jadi.., apakah ada gadis yang bernama itu?”

“Ti–”

“Joneun!” Yookyung langsung mendekat ke arah mereka.

“Aku, Kim Yookyung, Dokter.”

“Kalau begitu mari ikut saya,” Yookyung mengangguk kemudian mengikuti Dokter tadi.

“Apa?” Yookyung berbalik karena seseorang menahan pergelangan tangan kirinya. Donghae.

“Hae-ya, biarkan Yookyung masuk, nak.” Nyonya Lee melepaskan tangan Donghae yang menahan tangan Yookyung. “Masuklah nak, tolong beri semangat pada cucuku.” ucap Nyonya Lee dengan beralih menatap Yookyung disertai senyum tuanya.

Yookyung mengangguk dan menggumamkan terima kasih sebelum masuk.

“Eomma,” lirih Donghae menatap tidak terima ke arah ibunya.

Nyonya Lee menghela nafas, “Biarkan dia masuk, yang dibutuhkan Haera saat ini adalah Yookyung.”

“Dia Raeann, Eomma. Dan dia sudah membohongi kita!” sentak Donghae kesal.

“Eomma tahu, tapi tidak seharusnya kau membencinya seperti ini. Eomma tahu kau marah karena dia membohongimu, Eomma juga. Tapi kau harus sadar, ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan itu. Kau hanya akan memperburuk suasana hatimu jika kau melakukannya.” Nyonya Lee mencoba memberi nasehat kecil untuk putra bungsunya.

Wanita berusia 65 tahun itu sudah tahu semuanya dari Sungmin. Awalnya ia kecewa, tapi setelah mendengar sendiri penjelasan dari Yookyung ia dapat memahami posisinya. Mereka sama-sama perempuan, tentu lebih saling memahami. Terlebih lagi Nyonya Lee sudah menganggap Yookyung anak sendiri. Kesalahan sebesar apapun yang telah dilakukan anak, orang tua pasti akan memaafkan anaknya.

Berbeda jika dengan Donghae yang saat ini suasana hatinya begitu buruk. Pria itu tidak akan menerima alasan apapun–setidaknya saat ini.

¤¤¤¤¤

Seminggu berlalu sejak hari dimana Haera siuman, anak itu sekarang sudah lebih baik dari beberapa hari sebelumnya meskipun masih menggunakan alat bantu pernafasan.

Perubahan yang terjadi begitu pesat karena hadirnya Yookyung–menurut analisa Dokter yang menangani Haera.

Yookyung ibaratnya pengganti sosok ibu bagi anak itu. Perhatian serta kasih sayang yang diberikan Yookyung sangat berarti bagi Haera. Meskipun Donghae masih marah dan terlihat kesal bahkan bersikap acuh jika Yookyung datang menjenguk Haera, tidak dipungkiri bahwa pria itu sangat berterimakasih pada sahabatnya.

Tunggu…, sahabat? Sepertinya ia memang harus merubah status itu jika ia ingin Yookyung terus berada di sampingnya–seperti saran ibu serta Sungmin beberapa hari lalu.

Tapi, Yookyung sudah mempunyai tunangan. Kenichi.

Apa ia harus menyerah dan melepas gadis itu untuk kedua kalinya?

“Donghae..” mendengar seseorang memanggil namanya membuat pria itu menoleh, mencari sumber suara.

Kenichi yang mengenakan kemeja kuning pastel menghampirinya kemudian tersenyum bersahabat.

Bagaimana bisa ia bersikap egois jika Ken selalu bersikap baik padanya seperti ini? Pria ini bahkan tidak tahu apa-apa. Dan terlihat jelas jika Ken sangat mencintai Yookyung.

“Bagaimana kabar Haera?” Ken bertanya dengan ramah.

“Seperti yang kau lihat, dia sudah lebih baik.” Donghae mengalihkan tatapannya ke arah Haera yang duduk di ranjang sedangkan Yookyung duduk di kursi dengan membacakan buku cerita.

“Persis seperti ibu dan anak, bukan?” kalimat Ken membuat Donghae mengalihkan perhatiannya dari mereka berdua. “Raeann terlihat begitu menyukai Haera. Kurasa, jika kami menikah nanti dia bisa menjadi yang baik.”

Donghae mengangguk dengan berat hati. Pria itu sangat setuju dengan pendapat Ken jika Yookyung bisa menjadi ibu yang baik.

Sempat terlintas dalam pikirannya, jika mereka; Donghae, Yookyung dan Haera adalah sebuah keluarga kecil yang bahagia. Namun pikiran itu segera ditepis olehnya.

‘Jangan mengharapkan hal yang tidak mungkin.’

Kalimat itulah yang selalu ia terapkan di kepalanya.

“Ah ya, Donghae.., hari ini aku akan pulang ke Indonesia.” Donghae tersentak kaget. Pria tampan yang duduk di sampingnya tersenyum tipis.

“Aku akan pulang sendiri, Raeann akan menyusul minggu depan, setelah memastikan keadaan putrimu.” jelas Ken yang melihat keterkejutan Donghae.

“Aku dan Raeann sudah membicarakan hal ini sebelumnya.” Donghae hanya mengangguk kaku. Ia sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Bahkan ia hanya mampu menatap punggung Ken yang meninggalkannya menuju ranjang Haera. Memperhatikan pria itu yang menggoda putri kecilnya.

¤¤¤¤¤

“Kau sungguh akan pulang hari ini, Kak?” Yookyung menatap Ken yang berjalan di sampingnya. Pria itu menoleh kemudian tersenyum tipis.

“Bukankah ini yang kau mau?” Yookyung sama sekali tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan oleh Kenichi. Gadis itu menghentikan langkahnya, memandang Ken penuh tanya.

“Aku memberimu waktu hingga minggu depan, Ann. Aku akan menunggumu di Indonesia. Jika kau kembali ke sana dan menemuiku, berarti kau memilihku. Tapi jika hingga minggu depan kau tak kembali, itu artinya kau memilih bersama Donghae dan putrinya.” penjelasan Ken tentu saja membuat Yookyung terperangah.

“Aku sudah tahu semuanya,” ujar pria itu dengan tenang meskipun terlihat jelas kekecewaan dari pancaran matanya. Ken yang melihat Yookyung berkaca-kaca segera memeluknya, mengabaikan puluhan orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.

Kenichi bisa mengetahuinya dari Sungmin ketika ia hendak keluar dari area Rumah Sakit. Mereka bertemu di lobby. Dan ketika Ken mengatakan jika hari ini ia akan pulang, Sungmin meminta waktu untuk bicara dengannya.

Kantin Rumah Sakit adalah pilihannya. Pria manis itu mengatakan semuanya–yang tidak ia ketahui selama ini.

Sebuah kenyataan pahit memang, tapi itu lebih baik daripada kau tidak tahu apa-apa.

Mungkin orang akan berpikir jika ia gegabah dalam mengambil keputusan. Tapi bagi Kenichi, ini adalah yang terbaik.

Bagi siapapun yang melihat tatapan Donghae maupun Yookyung, mereka akan dapat melihat dengan jelas kilatan cinta di antara keduanya.

Mereka–saling mencintai.

“Kak… Maaf,” isak Yookyung dengan mengeratkan pelukannya. Gadis itu merasa jika ia adalah gadis paling jahat dan egois karena menyakiti pria sebaik Kenichi.

“Sstt.. Sudahlah,” Kenichi menghapus sisa airmata di wajah Yookyung dengan sapu tangan. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum tipis.

“Jaga dirimu baik-baik. Dan ingat, aku memberimu waktu hanya hingga minggu depan. Pikirkan baik-baik, jangan sampai kau menyesal.” nasehat Ken lalu kembali memeluk Yookyung untuk terakhir kalinya.

“Kak, aku–”

Kenapa rasanya sulit sekali untuk mengatakan sesuatu. Seperti ada yang mengganjal di pangkal tenggorokannya.

“Jangan katakan apapun untuk saat ini. Katakan saja di minggu depan, aku akan menelponmu tepat di hari minggu. Baru kau boleh mengatakannya.”

Ken hanya takut jika Yookyung mengatakan sesuatu, hal itu justru membuatnya goyah dan dengan keegoisannya membawa gadis itu pulang bersamanya.

“Aku harus pergi sekarang,” Ken mengecup kening Yookyung lama. Mungkin memang ini kesempatan terakhirnya bisa bertemu dengan gadis ini.

“Jaga dirimu, Ann. See you…” Ken melepaskan pelukan kemudian berbalik membelakangi Yookyung yang menangis. Berjalan perlahan memasuki bandara, meninggalkan Yookyung yang berada di luar pintu masuk.

“Aku ingin kau bahagia, Ann. Tidak ingin memaksamu mencintaiku, dan ini adalah keputusanku.” gumam Ken lirih.

‘Cinta memang perlu egois. Tapi keegoisan itu tidak akan bisa mengubah seseorang berubah mencintaimu. Kau justru membunuhnya secara perlahan.’

Ken ingat dengan kalimat yang di ucapkan oleh temannya dulu. Dan ia yakin jika dibalik ini semua Tuhan telah merencanakan sesuatu yang amat indah untuknya. Meskipun ia tidak tahu kapan hal itu akan datang, tapi ia yakin. Karena Tuhan mencintai dirinya.

“Donghae…, aku titipkan Raeann padamu.” bisik pria itu dengan pandangan ke arah kaca yang memperlihatkan langit biru.

¤¤¤¤¤

Hari demi hari berlalu dan kondisi Haera semakin membaik, bahkan sudah tidak lagi menggunakan alat bantu pernafasan.

“Appa, Eonnie eodiseyo?”

Donghae yang sedang menyuapi putrinya terdiam. Sudah dua hari ini–setelah kepulangan Kenichi–gadis itu tidak lagi berkunjung ke Rumah Sakit, menjenguk Haera. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu. Telponnya saja tidak di angkat.

Dan selama itu pula Haera selalu menanyakan keberadaan Yookyung.

“Sepertinya Eonnie sedang sib–”

“Annyeong haseyo!”

Baik Haera maupun Donghae menoleh secara bersamaan. Gadis yang baru saja menjadi topik pembicaraan kini tengah berdiri di balik pintu dengan senyum seperti biasa.

“Eonnie!” Haera memekik senang melihat kedatangan Yookyung. Anak itu langsung mendorong mangkuk makan yang sedang di pegang Donghae.

“Appa, Haera sudah kenyang.” ucapnya dengan wajah berseri-seri.

“Sedikit lagi saja, eoh..” bujuk Donghae dengan menyodorkan sesendok nasi serta sayur ke mulut Haera, namun segera di tolak dengan gelengan kecil.

“Biar aku saja,” Yookyung dengan cepat meraih mangkuk serta sendok yang ada.di tangan Donghae. Gadis itu mencoba membujuk Haera agar menghabiskan makanannya.

Donghae terus memperhatikan Yookyung yang menyuapi Haera, sesekali Yookyung mencoba menggoda putrinya atau menceritakan lelucon agar Haera tidak protes.

Tidak ada yang dilakukan pria tampan itu selain memperhatikan semua gerak-gerik Yookyung yang terlihat begitu cekatan.

Dan ketika melihat tawa putrinya yang begitu lepas, ia merasakan kebahagian yang lengkap.

“Kenapa kau memperhatikanku terus-menerus?”

Donghae tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia langsung salah tingkah.

“Ak-ku tidak memperhatikanmu,” elak Donghae canggung.

“Sudah jelas Appa melihat ke arah Eonnie sejak tadi,” mendengar kalimat yang diucapkan putrinya membuat Donghae mengumpat dalam hati.

‘Aigoo, Ra-ya. Kau malah membuat Appa malu, aish!’

“Bukankah hari ini Haera boleh pulang, Oppa?” Yookyung mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tahu jika Donghae kebingungan begitu juga dengannya. Maka, ia mencoba mengalihkannya.

“Eum– ya..”

“Berarti besok Haera boleh ke sekolah lagi kan?” Haera berkata dengan bersemangat. Sepertinya anak itu merindukan teman-temannya serta yang lainnya.

“Tidak!”

Baik Donghae maupun Yookyung berkata secara bersamaan. Keduanya menoleh satu sama lain–saling pandang.

“Ish, kalian orang dewasa tidak asyik.” gerutu Haera dengan menyilangkan kedua tangan depan dada.

Donghae dan Yookyung terkekeh kecil melihat Haera merajuk.

“Tunggu kau sembuh,”

Lagi, untuk kedua kalinya Donghae serta Yookyung berucap secara bersamaan.

“Appa, Eonnie. Kalian menyebalkan. Haera tidak suka di Rumah Sakit.” kali ini Haera berteriak dengan cukup keras. Baik Donghae maupun Yookyung tidak ada yang menyahut, mereka hanya tertawa, tentu saja membuat Haera semakin kesal.

“Benar-benar keluarga yang selalu aku inginkan,” gumam wanita baya yang melihat kebahagian itu dari celah pintu yang sedikit terbuka.

Tadinya Nyonya Lee berniat masuk untuk mengantarkan sarapan pagi untuk Donghae. Namun ia urungkan niatnya ketika mendengar suara tawa dari dalam sehingga ia memutuskan untuk melihat dari celah pintu.

“Semoga anak itu mau mengatakan perasaannya,” sambungnya penuh harap.

“Aku pun berharap demikian, Imo.” sambung Sungmin yang ternyata ikut mengintip moment kebersamaan mereka.

Nyonya Lee segera berbalik, “Aigoo, kau membuatku jantungan, Ming.”

Sungmin terkekeh kecil, “Mianhamnida,”

“Sejak kapan kau di sini?”

“Sejak–” Sungmin menghentikan kalimatnya ketika mendengar suara teriakan dari dalam kamar inap Haera.

“Ya! Siapa juga yang mau menikah dengan ikan amis sepertinya huh?!”

“Apalagi aku. Kau itu seperti ikan sarden, mana ada yang mau menikahimu.”

“Appa, Eonnie. Berhenti!!!!!”

END!!

Ah… Akhirnya selesai juga nih cerita. *lap keringet
Gimana ama endingnya? Puas? Pasti jawabannya kurang. –___–
Eit… jangan protes dulu.. Masih ada Epilog yang akan menyusul, tapi harap sabar yah.. =D

Pai-pai.. :*

25 comments

  1. Pas baca awal senenggggg….ini yg dtunggu….pas baca di penghujung cerita….bingung…..dan ternyata msh ada lanjutannya…..

    Ssiiiipppp…slalu dtunggunyaaa…

    Terimakasihm..sdh diizinnkn baca cerita mu….

  2. Masih gantung eonnie >_<
    blm ketahuan raeann nya pilih siapa (walaupun udah pasti donghae)
    butuh sequel eonnie…
    Sampai raeann sma donghae nya nikah + pnya anak lagi kalau perlu😀
    Tadi aku nemu typo dkit
    di tunggu sequel nya😀

  3. Yeahhh akhirnya ending eon.. ff yg sempat tertunda dn mengalami revisi dimna2. Tdinya mau protes ending nya kurng puas, ehh tpi eon udh janji buat epilog. Hhehe

  4. lah eonni ni bgmna cerite nye lsg end!!! hadoooooohhh ga boleh gni pkoknya harus sequel… perasaan blm da dialog yg di teaser hae blg maafin yookyung dg cr yookyung jd istrinya!!!

  5. Aku hampir protes dengan endingnya, tapi karena bakal ada epilognya, nggak jadi dech. Wkwkwkwk… Yoo nggak mungkin milih Ken, kan.

  6. Lagi asyik asyiknya baca eh udah End aja.
    Gantung pula.
    Tapi untungnya udah ada janji ada epilognya.
    Egak sabar sama epilognya.
    Penasaran sapa yang di pilih sama Yoo.?
    Seru.

  7. endingnya gantuuuung..
    butuh sequel nih..

    hyukjae akhirnya gmna..?? donghae bklan ngasi tau haera ga ya kl hyukjae ayah kandungnya..??
    yookyung dikasi plhan sm ken.
    yookyung dilema niih pasti.
    tapi, aku sh nebaknya yookyung bklan tinggal di seoul. bklan sm donghae.
    hahahaha, kl kyk gini aku kasian ken..
    hhhhh~, ken sabar ya, kl akhirnya yoo bklan milih donghae.

  8. aigooo, aq pnasaraannn ne.
    hyukjae gmna?
    nsib raeann n dongdong oppa gmn??
    gk sbr nunggu epilog x,,,,,,,,

  9. Sorry,, comment aj di rapel,,, hehehe
    Jaringan lagi susah nih,,🙂
    Astaga,, dr atas td udah H2C apa mreka nikah ato ga,, but,, ngeganntunggg,,,,
    Epilogny d tunggu,,
    Da sabar nih,,,

  10. aku kira donghae bakal ngelamar raeann..ternyata blm..tp gpp..yg penting raeann g jd pergi..mdh2n ken dpt penggantiny..huhuhu..

  11. Seneng banget klo udah End tp ini lom tau endingnya bahagia kah ? Krn Donghae lom ungkapin perasaannya ke Yookyung..

    Harus ada sequel biar tuntas dan sekelar-kelarnya biar nggk penasaran akut..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s