Marrying with Millionaire Part 3

wpid-1524855_1473457642882725_875009230_n.jpg

Author : Blue Rose

Title : Marrying with Millionaire Part 3

Genre : Romance, Marriage live

Length : Series

Rate : PG+17

Cast : Lee Hyukjae, Kim Jaekyung

 


Hal pertama yang ada dipikiran Jaekyung saat terbangun di pagi itu adalah ‘aku berada dimana?’ Semua yang ada di kamar itu terlihat asing olehnya, terkecuali blouse yang dikenakannya kemarin teronggok begitu saja di lantai.

Wanita itu menggelengkan kepala pelan ketika pikiran melanturnya memenuhi isi kepala.

“Ini pasti kamar, Hyukjae.” ujar Jaekyung lirih setelah ingat bahwa kemarin siang mereka telah menikah.

Jaekyung sudah berniat turun dari ranjang ketika pintu kamar terbuka yang disusul dengan kehadiran seorang wanita. Jaekyung segera mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya terbalut lingerie tipis warna biru.

“Selamat pagi, Nona..”

Jaekyung tersenyum sebelum membalas sapaan wanita yang sedang mendorong troli berisi sarapan untuk wanita itu.

“Pagi, Ahjuma..”

“Panggil saja Shin Ahjuma, Nona.” Jaekyung mengangguk mengerti. “Bagaimana tidur anda? Apakah nyenyak?” Shin Ahjuma menempatkan troli berisi sarapan ke dekat meja rias yang tidak jauh dari ranjang kemudian membawa segelas susu untuk Jaekyung.

“Cukup nyenyak, terima kasih,” gumam Jaekyung setelah menerimanya. Namun kemudian ia meletakannya di meja kecil tempat lampu duduk.

“Sama-sama, Nona. Tadinya, saya pikir Tuan muda berbohong ketika mengatakan jika akan membawa seorang istri pulang ke rumah ini, karena kalian tidak juga datang hingga larut malam.” Jaekyung hanya menanggapi dengan senyum canggung.

“Maafkan aku, Ahjuma. Kalian pasti menunggu terlalu lama..” sesal Jaekyung lirih.

Shin Ahjuma mengibaskan sebelah tangan, “Tidak juga. Hanya saja, kami terlalu antusias. Ya, saya rasa anda tahu bagaimana sifat Tuan muda. Dia tidak pernah serius menjalin hubungan, padahal usianya sudah cukup untuk menikah. Saya hanya khawatir saja…” Lagi, Jaekyung hanya tersenyum. Wanita itu ingin berkata jujur jika ia sama sekali tidak mengenal seperti apa sosok Hyukjae yang sebenarnya. Tapi menurut analisanya, Hyukjae memang seperti apa yang dituliskan oleh media sosial.

“Kami semua penasaran sekali untuk melihat seperti apa wanita yang telah mampu memikat Tuan muda, dan ketika saya menawarkan untuk membantu Nona mengganti baju tidur, Tuan muda melarangnya. Dia mengatakan bisa melakukannya sendiri. Tapi kini saya sudah tidak penasaran lagi, karena Nona memang sama persis dengan yang Tuan muda gambarkan pada saya ketika menelpon kemarin.”

Jaekyung mengerjapkan matanya cepat. Jadi, Hyukjae menceritakan dirinya pada orang lain?

“Saya sudah bekerja di rumah keluarga Lee sejak Tuan muda berumur 3 tahun.., bagi saya, Tuan muda sudah seperti anak sendiri.” Shin Ahjuma bercerita sembari memunguti baju-baju yang berserakan di lantai, “Saya tahu bagaimana sifatnya juga kelakuannya..,” Shin Ahjuma behenti sejenak sebelum melanjutkannya, “Aigoo…, dasar anak itu, lihat.., baju anda jadi kusut begini.” gerutu Shin Ahjuma ketika memungut blouse milik Jaekyung terlihat lusuh.

Jaekyung menggaruk pipinya, ia merasa malu. Belum pernah ia terbangun di pagi hari dalam keadaan seperti ini.

“Apa Nona mau sarapan dahulu atau mandi? Biar saya siapkan air panas untuk anda,” Shin Ahjuma telah menaruh baju kotor ke dalam keranjang cucian. Wanita baya itu memandang Jaekyung.

“Sebaiknya saya mandi dulu baru sarapan.”

“Baik, akan saya siapkan air panas–”

“Aaa… An-niya. Biar aku sendiri, Ahjuma tidak perlu repot-repot seperti itu.”

“Tapi–”

Jaekyung turun dari ranjang kemudian mengangkat kedua tangan depan dada, “Hanya menyiapkan air panas, Ahjuma. Tentu aku bisa melakukannya sendiri, terima kasih tapi tidak perlu.” Jaekyung tersenyum meminta maaf.

“Jujur saja, aku–tidak terbiasa seperti ini. Jadi, biarkan aku melakukannya sendiri, eoh?”

“Baiklah,” Shin Ahjuma mengalah. “Tapi jika Nona membutuhkan sesuatu, panggil saja saya atau yang lainnya,”

“Arrayo,”

Tapi aku tidak akan meminta bantuan yang lain, selama aku bisa melakukannya sendiri. Tambah Jaekyung dalam hati.

“Saya permisi dulu, Nona.” Shin Ahjuma pamit dengan membawa keranjang baju kotor. Jaekyung segera memanggilnya ketika teringat sesuatu.

“Ahjuma,”

“Ya?” wanita baya itu segera berbalik.

“Eum–dimana Hyukjae?”

Benar, kemana pria itu sepagi ini?

“Oh, Tuan muda pergi berolah raga keluar, sebentar lagi pasti pulang.”

“Begitu, terima kasih.”

Shin Ahjuma tersenyum kemudian segera keluar dari kamar Jaekyung untuk melakukan pekerjaanya.

Sepeninggal Shin Ahjuma Jaekyung memperhatikan seluruh isi kamar yang luas itu, mungkin jika disamakan dengan ruang apartemennya dulu, kamar ini lebih luas.

Perabotan yang ada di kamar itu terlihat sederhana. Lemari baju yang menyatu dengan dinding menjadi sasaran utama Jaekyung. Wanita itu penasaran sekali dengan isi lemarinya.

Mata sipitnya langsung melebar dan bibir mungilnya langsung menganga begitu pintu lemari ia geser ke samping.

Di dalam sana semuanya adalah baju-baju dan gaun wanita yang begitu indah. Jaekyung yakin harganya ratusan ribu won. Dan ia tidak mungkin mampu untuk membeli satu gaun yang ada di sana.

Decakan kagum tak henti-henti keluar dari bibir ketika ia menyentuh gaun-gaun yang tertata rapi di gantungan. Bahkan pakai dalam pun ada.

Dalam hati, Jaekyung bertanya-tanya. Baju siapa ini? Benarkah ini untuk dirinya?

“Ah, ini baju pria itu..” Jaekyung memperhatikan tumpukan kemeja serta celana panjang yang terlipat begitu rapi di sebelah kaca besar. Tangannya langsung meraih salah satu dari kemeja yang ada di sana. Kemeja kotak warna merah. Wanita itu tersenyum kemudian mencoba memakainya.

Tawa Jaekyung segera memenuhi ruang persegi empat itu, ia mengusap sudut matanya. “Astaga, ternyata aku begitu kecil..” lirihnya setelah memperhatikan tubuhnya yang memakai kemeja Hyukjae di cermin besar.

Jaekyung pikir tubuh Hyukjae tidak begitu besar sehingga ia mengira baju pria itu pasti muat jika dipakai olehnya. Tapi dugaan itu salah. Lihat saja sekarang, tubuh mungilnya bahkan terlihat semakin kecil setelah mengenakan kemeja pria itu.

Lengan panjangnya bahkan menutupi tangan, sedangkan panjang kemeja itu hingga separuh paha.

Setelah puas melihat isi lemari pakaian, Jaekyung memilih untuk segera mandi sehingga ketika Hyukjae pulang nanti, ia sudah selesai.

 

(¤)–(¤)–(¤)–(¤)

 

Pria yang mengenakan celana pendek berwarna coklat serta baju tanpa lengan abu-abu lengkap dengan handuk kecil yang ia sampirkan di leher memasuki pelataran rumah bergaya eropa.

Hyukjae mengelap keringat di pelipis dengan handuk yang dibawanya, menghampiri Shin Ahjuma yang sedang sibuk memasak di dapur.

“Ahjuma, apa Jaekyung sudah bangun?” pria itu menerima air minum yang di antarkan salah satu pelayan, meneguknya hingga habis.

“Sudah, mungkin saat ini Nona.sedang sarapan di kamar karena saya membawakan sarapannya tadi,”

“Hm,”

Hyukjae meraih salah satu apel yang ada di meja lalu beranjak pergi, menaiki undakan tangga yang membubungkan ke lantai dua.

Pria itu baru saja membuka pintu kamar dan langsung terkejut begitu melihat Jaekyung yang baru selesai mandi. Tatapannya tidak lepas dari wajah ayu Jaekyung yang terlihat begitu segar. Kepala wanita itu dibungkus dengan handuk kecil warna biru dan mengenakan kimono mandi dengan warna yang sama.

Kulit putihnya terlihat begitu bercahaya ketika terterpa sinar mentari pagi dari jendela.

Tanpa bicara Hyukjae melangkah mendekati Jaekyung yang sedang membuka handuk di kepala.

“Selamat pagi, Mrs Lee.”

Jaekyung tersentak kaget dan langsung menjatuhkan handuk yang sedang di pegangnya.

Mata sipitnya langsung menatap horor ke arah Hyukjae yang justru terkekeh. “Hyukjae!” hardiknya kesal.

“Mwoya? Kita sudah menikah tapi kau masih memanggilku ‘Hyukjae’? Ck, mana panggil sayangmu untukku huh?”

Jaekyung mendengus. “Kau membuatku hampir jantungan, bodoh. Dan tidak ada panggilan sayang, menggelikan.” cibir Jaekyung sebal kemudian memungut handuk yang ia jatuhkan tadi.

Hyukjae menggeram ketika melihat Jaekyung membungkuk saat mengambil handuk. Tanpa disengaja ia melihat dada istrinya.

Hyukjae mencoba menahan keinginan yang ingin menyentuh Jaekyung. Ternyata keinginan itu masih ada meskipun ia sudah mencoba menghilangkannya dengan cara berlari pagi.

Oh baiklah, tidak apa jika kalian berpikir Hyukjae mesum dan sebagainya. Tapi perlu kau garis bawahi, bahwa Hyukjae adalah pria normal berdarah panas.

Mana mungkin seorang pria bisa bertahan jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Semalam saja, Hyukjae sudah menahan mati-matian agar tidak menyentuh Jaekyung–selain mencium dan memeluk tentunya.

Wangi dan tubuh wanita itu begitu menggairahkan bagi Hyukjae. Membuatnya tidak bisa menahan keinginan terlalu lama. Hyukjae sendiri merasa aneh.

Setelah bertemu dan mengenal Jaekyung waktu itu, diakui Hyukjae bahwa Jaekyung adalah gadis yang begitu istimewa. Gadis yang tidak pernah ia temui dari diri gadis lain.

Kepribadian Jaekyung pun tidak bisa ia tebak, tidak seperti gadis kebanyakan yang akan dengan mudah bertekuk lutut hanya sekali tepuk. Dan ia sangat bersyukur karena wanita itu kini menjadi istrinya.

‘Ayah tahu Jaekyung adalah gadis baik-baik. Dan Ayah tidak ingin kau mengecewakannya, Eunhyuk-ah. Jika kau hanya berniat bermain-main seperti sebelumnya, sebaiknya kau tinggalkan saja gadis itu. Ayah hanya tidak ingin kau mengecewakannya.’

Hyukjae teringat dengan kalimat Ayahnya saat mereka bicara berdua waktu itu. Dan ia sangat berterimakasih karena Ayahnya begitu pengertian dan memberinya kesempatan ini. Sehingga ia berjanji pada diri sendiri  jika ia mampu berubah, agar tidak lagi mengecewakan mereka.

“Kau mau mandi?”

Hyukjae tersadar dari lamunan, “Ya?”

Jaekyung menyentuh hidung mancung Hyukjae dengan jari telunjuknya. “Mandilah, kau bau.”

“Morning kiss–baru setelah itu aku akan mandi.” Hyukjae meletakan apel di nakas, memandang Jaekyung penuh harap.

“Shirreo! Kau belum mandi.” Jaekyung melenggang melewati Hyukjae berniat menuju lemari pakaian.

“Eit, mau kemana, hm?”

Jaekyung memutar bola matanya malas sebelum berbalik. “Tentu saja ganti baju,”

“Tidak boleh sebelum kau menciumku, Mrs Lee.”

“Ck,”

“Ayolah,” mohon Hyukjae.

Jaekyung mendekat, kemudian meletakan tangannya di leher Hyukjae lalu menariknya pelan agar menunduk.

Kehangatan itu seketika mengaliri tubuhnya ketika bibir mereka saling bertemu. Gerakan lembut bibir Hyukjae yang memanggut bibirnya terkesan begitu manis.

Hyukjae membuka mata setelah Jaekyung memberinya akses agar masuk lebih dalam. Kedua tangannya menarik tubuh Jaekyung agar semakin merapat dengan tubuhnya. Wangi lavender serta shampo yang menguar dari tubuh Jaekyung membuatnya tidak tahan.

“Mau membantuku mandi?” Hyukjae bertanya dengan memindahkan ciumannya ke leher putih Jaekyung yang basah terkena tetesan air dari rambut.

“An–i, aku sudah mandi.” Jaekyung menjawabnya dengan terputus-putus. Susah sekali mengumpulkan kesadarannya yang sudah tercecer entah kemana akibat ciuman pria ini.

“Sayangnya, aku ingin kau mandi bersamaku.” Hyukjae langsung membawa Jaekyung dalam gendongan dan memasuki kamar mandi, memulai ritual mandi yang diselingi kegiatan melelahkan namun disukai keduanya.

 

(¤)–(¤)–(¤)–(¤)

 

“Hyukjae-ya, bangunlah..” Jaekyung memanggil dengan suara pelan, mencoba membangunkan pria yang saat ini masih bergelung dalam selimut. Pria itu menggeliat kecil sebagai respon namun tidak membuka mata. “Sebentar lagi, Kyungie.” hanya gumaman lirih yang keluar dari bibir Hyukjae membuat Jaekyung mendengus.

“Sejak satu jam lalu kau selalu mengatakan kata yang sama, ‘sebentar lagi, Kyungie’. Ck, kapan kau bangunnya huh?! Ini sudah siang, Hyuk..”

Setelah mereka mandi bersama beberapa jam lalu, pria itu langsung tertidur. Padahal yang seharusnya merasa lelah itu Jaekyung kan? Tapi kenapa justru Hyukjae yang tidur lebih lama darinya.

Suara ketukan pintu membuat Jaekyung menolehkan kepala dari Hyukjae, wanita itu berjalan menuju pintu kemudian membukanya.

“Ahjuma–”

“Ah, maaf Nona.. Saya hanya mau bertanya, Tuan muda dan Nona ingin menu makan siang yang seperti apa?” Shin Ahjuma bertanya dengan sopan. Jaekyung berpikir kemudian menoleh ke belakang, dimana Hyukjae yang masih tertidur pulas.

“Apa makanan kesukaan pria malas itu?” Jaekyung memandang Shin Ahjuma dengan jari telunjuk yang di arahkan ke arah ranjang.

“Tuan muda menyukai semua jenis masakan, tapi ia paling suka makan pasta dan sayuran hijau.”

“Pasta?” ulang Jaekyung. Shin Ahjuma segera menganggukkan kepala. “Ahjuma..”

“Ye..”

“Apa boleh kalau aku ikut memasak?” Jaekyung menatap Shin Ahjuma penuh harap. Wanita baya itu tersenyum, “Tentu, Nona ingin memasak untuk Tuan muda?” tebak Shin Ahjuma yang diangguki oleh Jaekyung.

“Kalau begitu, mari ikut saya ke bawah,” ajak Shin Ahjuma yang langsung disambut dengan semangat oleh Jaekyung.

Ini adalah hari pertamanya ia menyandang status sebagai seorang istri, tentu ia ingin berperan sebagai mana mestinya. Melayani kebutuhan suami, menyiapkan makanan dan yang lainnya.

Shin Ahjuma tersenyum senang melihat Jaekyung begitu lincah mengolah masakan-masakannya. Ia pikir jika Jaekyung akan sama dengan gadis-gadis yang pernah dibawa oleh Hyukjae ke rumah–ketika di Paris dulu. Namun ternyata ia salah. Jaekyung selain cantik tapi wanita itu pun bisa berperan menjadi istri yang pintar. Ia yakin jika Hyukjae tidak salah memilih seorang istri.

“Nona, anda pintar sekali dalam hal memasak,” puji Shin Ahjuma tulus. Jaekyung yang sedang mencampurkan sayuran ke dalam mangkuk berisi mie terkekeh, “Biasa saja, Ahjuma. Karena aku tinggal sendiri, aku jadi terbiasa melakukan semuanya sendiri.”

“Orang tua Nona?”

“Ayah sudah bersama Tuhan, Ahjuma. Aku hanya bersama yeodongsaeng, tapi saat ini ia tinggal di asrama.”

“Lalu, ibu anda?”

Senyum di wajah Jaekyung meredup, Shin Ahjuma yang melihat itu segera mengetahui bahwa ia seharusnya tidak menanyakan hal itu. “Mianhamnida, Nona–”

“Gwaenchana, ibuku–” Jaekyung belum menyelesaikan kalimatnya ketika ada seorang pelayanan mengatakan jika di luar ada tamu untuknya. Adiknya, Kim Jeeah.

“Nona temui dia, masakan ini biar saya yang melanjutkannya.” Shin Ahjuma segera memberikan alih tugasnya yang sedang menumis sayur pada asistennya, dan ia mengambil alih tugas Jaekyung yang membuat japchae.

“Terima kasih,” Jaekyung tersenyum terima kasih kemudian melepaskan sarung tangan plastik lalu mengikuti pelayanan tadi untuk menemui adiknya.

“Eonnie!!”

Pekikan keras yang menggema memenuhi ruang tamu. Gadis remaja yang masih mengenakan seragam sekolah itu segera menghambur ke arah Jaekyung untuk memeluknya erat.

“Ah, bogoshipo.”

“Kau ini, baru juga bertemu kemarin sudah merindukanku lagi,”

Jeeah mencibir, “Ck, jadi Eonnie tidak merindukanku, eoh? Tahu begini aku tidak mau di jemput tadi.”

Jaekyung mencubit gemas pipi chubby Jeeah dengan kedua tangannya. “Ahaha.. Kau ngambek, eoh.. Mian, tapi Eonnie juga rindu padamu.” Jaekyung memeluk Jeeah sekali lagi.

“Tadi kau bilang, kau di jemput? Oleh siapa? Dan bagaimana kau bisa tahu rumah ini?” Jaekyung menatap Jeeah heran. Seingatnya ia belum memberi tahukan alamat rumah Hyukjae pada Jeeah karena ia sendiri tidak tahu. Ia belum bertanya pada Hyukjae.

“Entahlah, tapi sepertinya pria itu teman atau mungkin suruhan Oppa.” Jaekyung mengangguk mengerti. Ia akan menanyakan hal itu nanti jika Hyukjae sudah bangun.

“Eonnie, apa kau sedang memasak?” Jaekyung mengerjap. Ia baru sadar jika masih mengenakan apron warna merah bergambar bunga matahari.

“Ya,”

“Asyik, kebetulan aku sudah lapar.” Jeeah segera menarik lengan Jaekyung agar membawanya menuju dapur.

“Oppa eodiga, Eonnie?”

“Masih tidur–”

“Siapa yang kau bilang masih tidur, Yeobo?”

Baik Jaekyung maupun Jeeah menoleh ke sumber suara secara bersamaan. Hyukjae segera melanjutkan langkahnya menuruni tangga, dan begitu sampai di hadapan kedua kakak adik itu, Hyukjae tersenyum.

“Hello, adik ipar.” sapanya ramah pada Jeeah.

“Hai, Oppaku yang tampan.”

Jaekyung langsung melotot mendengar adiknya memanggil Hyukjae seperti itu. Wanita itu menggeleng kecil, ia sama sekali tidak tahu jika Jeeah bisa langsung akrab begitu dengan orang baru.

“Aigoo.. Kau juga cantik, Jee-ie.” seketika Jeeah langsung menunduk malu.

“Oppa bisa saja,”

“Jangan merayu adikku, Hyuk-ah. Dia masih kecil,” Hyukjae langsung menatap Jaekyung dengan raut bingung, namun kemudian pria itu tersenyum lebar.

“Jangan bilang kau cemburu karena aku memuji Jeeah, Yeobo..”

Jaekyung tersentak, “Mwo? Anniya!”

Hyukjae tertawa mendengar jawaban Jaekyung yang begitu spontan, begitu juga dengan Jeeah yang terkekeh kecil.

“Ya! Aku tidak cemburu. Untuk apa aku cemburu pada adikku sendiri?” kesal Jaekyung dengan menghentakkan kaki sebelum berlalu meninggalkan keduanya.

“Tenang saja Eonnie, aku tidak akan merebut Hyukjae Oppa,” seru Jeeah namun diabaikan oleh Jaekyung yang sudah berlalu menuju dapur.

“Astaga.. Mereka itu 11-12–” gerutu Jaekyung begitu sampai di dapur. Shin Ahjuma yang sempat mendengar samar-samar pembicaraan majikannya hanya mengulum senyum.

 

(¤)–(¤)–(¤)–(¤)

 

Halaman luas dengan rumput hijau yang terpotong dengan rapi serta bunga-bunga yang bermekaran menjadi salah satu obyek pengamatan Jaekyung. Wanita yang duduk di kursi kecil di serambi rumah, dengan tangan serta pensil yang ada di genggamannya tersenyum tipis sebelum menggoreskan pensilnya ke dalam kertas putih polos di pangkuannya.

Jaekyung terlihat begitu serius menekuni kegiatannya sehingga tidak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Hyukjae.

“Aku baru tahu kalau kau pintar menggambar,”

Refleks Jaekyung menoleh ke samping karena Hyukjae berucap tepat di telinga kirinya.

“Kau mengagetkanku,” dengus Jaekyung kesal. Hyukjae mengecup bibir istrinya cepat sebelum menggumamkan kata maaf.

“Kenapa kau tidak jadi seorang pelukis saja? Kurasa, lukisanmu lumayan.” Hyukjae memperhatikan goresan hitam putih yang dibuat Jaekyung dalam kertas A4. Meskipun itu hanya goresan pencil tapi Hyukjae bisa menebak jika Jaekyung memang mempunyai keahlian dalam hal satu itu. Terbukti dengan semua yang di gambar oleh Jaekyung, semua detail yang ada di gambar sama persis dengan aslinya. Sebuah ayunan yang ada di dekat ruang kaca, tempat bunga anggrek di taman menjadi pusat perhatian Hyukjae. Di bagian itu ada sedikit yang berbeda dengan aslinya. Sebelum memasuki ruang kaca di depan pintu masuk ada sebuah kerangka besi yang membentuk huruf ‘n’ dengan ditumbuhi oleh bunga merambat.

“Kau menambahkan ini?” Jari telunjuk Hyukjae menunjuk gambar yang menjadi pusat perhatiannya. Wanita itu menoleh dan mengangkat bahunya, “Entahlah, aku hanya merasa jika ada pagar ini dan ini akan terlihat bagus.”

“Apa kau akan menyukainya jika aku membuat taman itu seperti gambar ini?”

Jaekyung menggelengkan kepala, “Jangan berlebihan, Hyuk. Aku tidak ingin membuang-buang uangmu untuk membuat taman seperti yang ada di gambar ini,”

“Tidak apa jika kau menyukainya, bagiku tidak masalah.”

“Ck, kau selalu begitu.”

“Jadi…”

“Tidak, sudah cukup kau memenuhi isi lemari baju dengan gaun-gaun itu. Aku tidak mau yang lain. Jika kau melakukannya, aku akan marah padamu.” ancam Jaekyung yang membuat Hyukjae mendengus kecil.

“Bagiku, seorang suami wajar saja memberikan apapun bagi istri selama aku mampu mengusahakannya.”

“Aku tidak mau,”

“Baiklah, baiklah, jangan marah, eoh?” Hyukjae menoel pipi Jaekyung namun diacuhkan oleh wanita itu.

“Diam,” datar dan acuh. Hyukjae menggerutu dalam hati. Ia baru tahu jika Jaekyung mempunyai sifat seperti ini.

‘Kau akan bisa melihat Jaekyung Eonnie yang sebenarnya ketika ia sedang melukis.’

Hyukjae teringat kalimat yang diucapkan Jeeah tadi, ketika ia mencari Jaekyung namun tidak menemukan istrinya bersama Jeeah. Sehingga ia bertanya mengenai diri Jaekyung.

Sebenarnya, Jaekyung tidak jauh berbeda dengan gadis pada umumnya. Hanya saja, Jaekyung menutup diri setelah kematian ayahnya beberapa tahun lalu, hingga ia bertemu pria kurang ajar itu.

Dan Hyukjae berjanji jika ia tidak akan pernah meninggalkan Jaekyung ataupun mengecewakannya. Ia sangat mencintai Jaekyung.

Aneh memang. Mereka bertemu saat wanita itu berlibur di Paris beberapa hari lalu, belum cukup untuk saling mengenal namun Jaekyung memberikan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya. Entah kenapa setiap memandang Jaekyung, Hyukjae seakan tidak bisa mengalihkan tatapannya ke obyek lain. Hanya terpaku pada wanita itu.

‘Love is magic.’

Hyukjae pernah mengolok Leeteuk tentang kata itu, saat sahabatnya mengatakan bahwa cinta dapat mengubah segalanya berubah.

Kau akan bisa merasakan sakit dan bahagia dalam waktu yang bersamaan.

Dan kini Hyukjae dapat mengakuinya.

Saat Jaekyung tidak ia dapati tidur di sampingnya, ia merasakan sebuah ketakutan. Ditinggalkan. Padahal sebelumnya, Hyukjae tidak pernah merasa seperti itu jika pagi harinya ia tidak menemukan teman wanita yang telah menemani malamnya. Sangat berbeda ketika ia tidak menemukan Jaekyung. Ia langsung panik dan mencari wanita itu.

Hyukjae merasa jika Jaekyung adalah wanita yang selama ini ia cari. Dan setelah Jaekyung menjadi miliknya, tentu ia tidak akan melepas begitu saja.

 

(¤)–(¤)–(¤)–(¤)

 

“Eonnie..” Jaekyung yang sedang membuat sarapan pagi untuk mereka menoleh ke arah Jeeah yang duduk di kursi makan.

“Wae?”

Jeeah tampak ragu untuk mengutarakan niatnya. “Ada apa? Katakan saja,” ujar Jaekyung lembut dengan meneruskan kegiatannya yang sedang membuat sandwich.

“Eum– apa boleh kalau besok Eomma datang kemari?”

Jaekyung seketika menghentikan kegiatannya kemudian berbalik, memandang Jeeah dengan mata menyipit. “Ucapkan sekali lagi,”

“Nde?” Jeeah menatap Jaekyung dengan takut.

“Ucapkan sekali lagi kalimatmu tadi, Kim Jeeah.” Jaekyung mengulang kalimatnya. Jeeah langsung tertunduk dengan meremas kedua tangannya yang ia tumpukan di atas paha. Gugup.

“Bolehkah Eomma datang kemari.., ah, atau aku yang mengunjungi Eomma ke sana juga tidak apa-apa.”

Jaekyung mengepalkan kedua tangannya gamam, “Tidak boleh. Baik kau ataupun dia tidak ada yang boleh bertemu. Arrachi?!”

“Wa–waeyo?”

“Kenapa katamu?!” Jaekyung semakin geram, “Kau lupa apa yang telah ia lakukan, huh? Kau lupa jika wanita itu telah pergi meninggalkan kita di saat kita membutuhkannya?!” Mata Jaekyung memerah, dadanya naik turun dengan cepat serta nafasnya mulai memburu.

“Tapi–”

“Tidak ada tapi-tapian.” Tegas Jaekyung, “Bukankah aku sudah mengatakan padamu agar jangan pernah menyebut wanita itu lagi di depanku! Apa kau juga melupakannya, Jeeah?”

Jeeah memandang Jaekyung sayu, “Aku tidak lupa, Eonnie.” sahutnya lirih.

“Lalu kenapa kau menanyakannya?!”

“Hajiman, dia Eomma kita, Eonnie. Wanita itu telah melahirkan kita, apa salahnya kalau aku ingin menjenguknya. Eomma sedang sakit sekarang,” suara Jeeah bergetar. Gadis itu mulai berkaca-kaca.

Shin Ahjuma yang sedari tadi ada di sana untuk membantu Jaekyung membuat sarapan memilih pergi, rasanya akan tidak sopan ia tetap berada di sana, mendengarkan pembicaraan kakak-beradik itu.

“Dia telah meninggalkan kita! Wanita itu lebih memilih pergi dengan pria kaya itu, apa itu yang disebut Ibu?!” Jaekyung meneteskan airmata. Wanita itu kembali merasakan sesak ketika ingatan yang telah ia buang jauh-jauh kini kembali berputar di kepalanya.

Ingatan saat ia remaja dulu dan Jeeah masih sangat kecil untuk mengetahui semuanya. Wanita yang dipanggilnya Ibu memilih meninggalkan mereka dengan pria lain, di saat Ayahnya sedang bekerja di luar kota untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Ada apa ini?” Hyukjae berjalan memasuki dapur dan ia bingung melihat Jaekyung serta Jeeah yang menangis.

“Kyungie..” dihampirinya Jaekyung kemudian mengusap pipinya yang basah. Wanita itu belum menatapnya, tatapannya masih ke arah Jeeah yang duduk di kursi dengan kepala tertunduk. Bahu gadis itu bergetar.

“Jika kau berani menemuinya, jangan pernah temui aku lagi dan menganggapku Eonniemu, Kim Jeeah.” Jaekyung segera berlalu, meninggalkan dapur.

“Eonnie…” lirih Jeeah dengan berlinang airmata.

Hyukjae menatap punggung Jaekyung dengan bingung kemudian ia beralih menatap Jeeah. Dihampirinya gadis itu, “Ada apa? Kalian bertengkar?”

“Oppa…” tangis Jeeah semakin menjadi sehingga Hyukjae memeluknya, mengusap kepala Jeeah sayang.

“Coba ceritakan padaku, pelan-pelan, hm..” bujuk Hyukjae sabar.

(¤)–(¤)–(¤)–(¤)

Hari sudah semakin sore ketika Jaekyung memutuskan untuk menyudahi acara belanja bahan makanan juga yang lainnya.

“Ahjuma, tolong mengantri dulu, aku ingin membeli sesuatu untuk Jeeah,” Shin Ahjuma mengangguk kemudian mendorong troli belanjaan menuju kasir untuk mengantri.

Jaekyung segera berjalan menuju stand makanan ringan. Ia ingat jika Jeeah sangat menyukai coklat, maka ia ingin membelikannya sebagai permintaan maaf karena pagi tadi ia membentak gadis itu.

“Sepertinya ini cukup,” gumam Jaekyung dengan membawa beberapa bungkus makanan ringan. Namun karena terlalu banyak sehingga tidak bisa ia tampung menggunakan kedua tangannya mengakibatkan beberapa bungkus terjatuh.

“Aish…,” desahnya sedikit kesal.

Jaekyung berniat mengulurkan tangan kirinya untuk meraih bungkusan itu namun telah ada tangan lain yang terulur mengambilnya.

“Ini,”

Jaekyung menegakkan tubuhnya, berniat menggumamkan terima kasih pada orang yang telah membantunya, namun kata yang sudah berada di ujung bibir harus kembali ia telan.

“Jaekyung–”

“Terima kasih,” Jaekyung buru-buru meraih bungkusan yang terulur ke arahnya. Ia harus pergi, pikirnya. Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, pergelangan tangannya telah di pegang oleh pria itu.

“Jaekyung-ah,”

“Lepas.” Jaekyung berucap dengan sangat datar. Dengan terpaksa pria itu melepasnya.

Jaekyung tidak menatap pria di hadapannya, ia mengalihkan ke arah lain.

“Bagaimana kabarmu?” Lee Hongki, pria yang tadi membantu Jaekyung memberanikan diri bertanya lebih dulu.

“Baik,” pendek dan acuh. Hongki menghela nafas pelan, “Maafkan aku, Jaekyung-ah. Aku tahu kau–”

“Oppa!” panggilan itu membuat Hongki tidak melanjutkan kalimatnya.

Jaekyung semakin menegang di tempatnya. Ia tahu benar siapa yang memanggil Hongki. Lee Sena, sahabatnya.

Ah, apakah seharusnya ia menggantinya dengan panggilan ‘mantan sahabat’?

“Maaf, aku harus pergi,” Jaekyung memilih segera pergi dari sana. Ia tidak ingin bertemuSena. Sama sekali tidak.

Biarpun ia telah berkata bahwa ia memaafkan Sena, tapi tidak dipungkiri bahwa sakit di hatinya masih ada hingga kini. Dan melihat kenyataan bahwa Hongki berbelanja bersama membuat airmata di sudut matanya meleleh.

“Lupakan, Jaekyung. Kau sudah menikah sekarang, lupakan pria brengsek itu.” gumam Jaekyung dengan berjalan semakin cepat.

“Oppa,”

Hongki yang terus memperhatikan punggung Jaekyung tersentak kaget karena Sena menarik tangannya.

“Eoh?”

“Kau lihat apa sih?” Sena mengikuti arah pandang Hongki. Namun ia tidak tahu mana yang menjadi pusat perhatian pria itu.

“Tidak ada, kau sudah selesai?”

Sena mengangguk dengan menunjukkan sekantong plastik berisikan buah apel. Wanita itu tersenyum lembut, “Kajja, kita bayar.” Hongki mengangguk.

Untuk terakhir kalinya Hongki kembali menoleh ke belakang, dimana Jaekyung pergi. Meskipun Jaekyung sudah tidak terlihat lagi di sana namun Hongki tetap menatapnya.

‘Aku berharap kau akan selalu bahagia, Jaekyung-ah. Aku menyayangimu,’

 

 

 

 

Continue…

87 comments

  1. hueeeee sedih amat yakk
    sejahat apapun seorang ibu,, tetap ibu kita ,, kita harus menerimanya..
    mbak jaekyung maaf kan lah ibu kamu mbak .. hiks😥

  2. Kya pernh liat dfilm yg ksahnya sprti itu deh tp dmn ya lupa??q pnasaran ma ibunya jaekyung kya apa n siapa ya?

  3. aigoo jg eomma jaekyung msh hidp ya.
    akk kra jaekyung dh yatim piatu…
    emnk skiy bgt pasti klw knytaanx shbt sndri yg di cntai kekasih kta…
    jaekyung kmu udh ad hyukjae jd jgn khwatir lg

  4. ah,,,mungkin hongki masih cinta dg jaekyung,,,tp berbuat serong dg sahabat jaekyung,,jd dia tdk mau menyakiti jaekyung,,,lebih dalam..tp knp hrs dihari pernikahannya???#sotoy,,hhh,,kasian,,,

  5. Eunhyuk dulu playboy? Gpp deh,yg penting sekarangg udah berubah! Eommanya jaekyung tega amat!
    Pacarnya jaekyung selingkuh ma ‘sahabat’ sendiri? Aigoo..

  6. Hallo oeni aku reader baru salam kenal:D aku baru comment part 1 sama ini part 2nya kelewat soalnya belum ada passwordnya😀
    Konfliknya dimulai😀 please deh lupain lee hongki, lagian ngapain lee hongki balik lagi-_-

  7. kasihan bgt jaekyung d hianati sma 2 orang sekaligus… T_T
    untung ada eunhyuk oppa, O:-)
    -jngn d blikn lg tuh hongki.. :-\

  8. Di awal chapter ini bacanya seneng banget, ada bumbu2 cerita ttg kehidupan menikah dgn Hyukjae… #aku mau banget😄
    Kemudian ada bagian yg bikin aku sedih tentang ibu jaekyung dan bertemunya jaekyung dgn lee hongki .. Aduh nyesek banget bacanya..😦

    b^^d

  9. ohh … kirain ibu jaekyung udah meninggal..
    jd gitu.. pntes dia bnci gitu sma ibunyaa…
    what?? jd yg dinikahi hongki mntan nya jaekyung tuh sahabatnya sendiri???
    pnteslah jaekyung jd kyk gitu.. penghianatan double namanya itu..
    heuhh..
    tp gpp .. kan jaekyung udah dpt si hyukie.. hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s