Romantic Princess Vol 7

image

Author : Blue Rose

Title : Romantic Princess Vol 7

Genre : Romance, Family

Length : Series

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung, Kang Insoo

 

 

–***–

Yookyung tidak pernah menyangka jika In Soo dapat berubah sebanyak ini. Sejauh ia mengenal pria itu–saat sekolah dulu– In Soo adalah pria yang ramah namun tidak peka terhadap sekitarnya.

“In Soo-ya, kurasa kau jangan terlalu dekat denganku,” lirih Yookyung ketika In Soo kembali mengunjunginya meja kerjanya. Lagi. Ini kali kedua dalam sehari pria itu menghampirinya.

“Waeyo? Apa tidak boleh?” pria bersuara baritone itu menyerngit heran. Yookyung meringis, “Aku tidak enak dengan pegawai lain. Aku hanya pegawai magang di sini, tapi kau memperlakukan begini.” Yookyung hanya merasa tidak enak hati juga tidak nyaman ketika berpapasan dengan pegawai lain, mereka langsung buru-buru pergi atau berbisik dengan temannya. Tentu saja situasi seperti itu sangat tidak nyaman.

In Soo berdecak, “Apa mereka mengatakan macam-macam padamu huh?”

Yookyung menggeleng, “Mereka tidak mengatakan apapun, aku yang merasa tidak nyaman dengan yang lainnya. Perlakukan aku seperti karyawan yang lain, kumohon.” Yookyung menatap In Soo dengan pandangan memohon. Ia harap pria itu mau mengerti posisinya.

“Arraseo. Aku akan kembali bekerja. Nanti sepulang kerja, tunggu aku di lobby, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Arrachi?” Yookyung mengangguk singkat. Ia tatap punggung pria itu hingga menghilang di tikungan koridor yang menghubungkan dengan koridor lainnya.

“Yookyung-ah..”

Yookyung serta-merta tersentak kaget. Gadis itu menoleh ke belakang, “Aigoo, Shim Jimin, kau ingin membuatku punya penyakit jantung heh?!”

Gadis berkacamata yang lebih tua satu tahun darinya itu berdecak, “Ada apa lagi dia datang kemari?” Jimin tidak menghiraukan protes Yookyung yang telah membuatnya kaget.

“Kurasa kau bisa menebaknya sendiri Jimin-ah,”

Yookyung kembali duduk di meja kerjanya, meletakan tangannya di keyboard computer, meneruskan pekerjaannya yang tertunda akibat kedatangan In Soo beberapa menit lalu.

“Sepertinya bos kita itu menyukaimu, Yookyung-ah. Apa kau tidak merasakannya?”

Yookyung memutar bola matanya malas. Bukan hanya Jimin yang mengatakan itu–bahkan hampir seluruh karyawan pun tahu.
Entah apa yang dipikirkan pria itu dengan mengunjunginya dua kali dalam sehari, tidak pernah absen. Bahkan di hari libur pun pria itu datang ke apartemennya.

“Aku tahu,” Yookyung pun sadar akan hal itu, tapi ia mencoba mengabaikannya.

“Kau tahu tapi kenapa kau cuek begitu?!” seru Jimin tidak percaya. Yookyung melayangkan tatapan tajamnya. Akibat suara gadis itu yang melebihi dari biasanya kini mereka menjadi pusat perhatian beberapa karyawan lain yang kebetulan melintas, bahkan ada yang mencoba menegurnya dengan isyarat tangan yang diletakan di atas bibir.

“Jimin Eonnie, bisakah kau kecilkan suaramu?” geram Yookyung tertahan.

Jimin semakin berdecak sebal, “Sudah kubilang, buang embel-embel ‘Eonnie’. Aku tidak suka.”

Yookyung mengangkat kedua bahunya acuh, “Kau tahu dia menyukaimu tapi kau pura-pura tidak tahu?” Sepertinya Jimin sangat penasaran dengan hal ini sehingga ia tidak menyerah dengan kembali bertanya.

“Kami pernah menjalin hubungan dulu–saat masih sekolah menengah akhir.”

“Jinchayo?!” Jimin melebarkan matanya tidak percaya.

“Ya..” gumam Yookyung enggan.

“Lalu bagaimana perasaanmu saat ini? Apa kau juga masih menyukainya?” Jimin terlihat lebih antusias lagi. Yookyung menghela nafas, “Sebaiknya kau kembali ke meja kerjamu Jimin-ah, sebelum manager datang lalu menegurmu.”

“Aish, jangan khawatirkan itu. Ayo ceritakan tentang kalian, aku ingin tahu.” desak Jimin.

Yookyung menggelengkan kepala, “Sebaiknya kau turuti aku sekarang, kembali ke meja kerjamu. Aku janji akan menceritakannya, tapi tidak sekarang.”

“Ck, aku ingin dengar sekarang.., Heechul Oppa tidak akan datang di jam seperti ini,” ujar Jimin santai.

Yookyung meringis kecil, “Tapi pria itu ada di sini sekarang,” ujarnya dengan suara lirih. Gadis itu tidak tahu jika Heechul sudah ada di sana–berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya depan dada sembari memperhatikan tingkah Jimin yang berdiri di meja Yookyung dengan mencondongkan separuh badannya.

“Kau bicara apa Yoo?” Jimin menyerngit tidak mengerti.

Yookyung mencoba memberi isyarat pada Jimin melalui matanya, namun sayang Jimin tidak memahaminya hingga…

“Shim Jimin, apa yang kau lakukan di sini?”

Seketika itu juga Jimin segera memutar arah tubuhnya. Ia cukup terkejut ketika mengetahui Heechul telah berdiri beberapa langkah darinya dengan tatapan tajam. Namun itu hanya beberapa detik.

Gadis itu tersenyum biasa, tidak terlihat takut. Jimin malah berjalan mendekati Heechul dan langsung merangkul tangannya posesif.

“Oppa, sejak kapan kau di sini,”

Yookyung yang melihat sikap serta suara Jimin yang terdengar manja mencibir pelan. Ia jamin, sebentar lagi akan terjadi adegan drama romantis seperti di drama-drama yang ada di tv.

Jimin adalah pribadi yang easy going, blak-blakan juga ceriwis. Berbeda sekali dengan Heechul–tunangannya–yang kaku juga tegas.

Kadang Yookyung merasa aneh dengan kedua orang itu. Bagaimana mungkin dua orang yang saling bertolak belakang bisa menjadi pasangan seperti Jimin dan Heechul.

Jawabannya hanya satu. Cinta.

 

–***–

Sore itu, Yookyung telah selesai mengerjakan pekerjaannya lebih awal. Maka ia pun bergegas untuk pulang dikarenakan orang tuanya datang berkunjung ke apartemennya.

“Yoo..” langkah Yookyung yang terburu-buru membuat Jimin menyerngit heran.

“Kau mau pulang?”

“Ya,” Yookyung melirik jam tangannya. “Mianhae, Jimin-ah, aku harus segera pulang. Ada yang kepentingan mendadak, bye..” tanpa membuang waktu Yookyung langsung meninggalkan Jimin yang masih menatapnya.

“Aish, gadis itu…”

Yookyung semakin mempercepat langkahnya menuju lift, begitu pintu lift terbuka ia langsung masuk kemudian menekan tombol dengan nomor 1.
Dua minggu lebih tidak bertemu dengan orang tua serta kakak laki-lakinya tentu ada perasaan rindu dalam hati kecilnya. Yah, meskipun kadang ia menelpon mereka tapi tetap saja ia ingin melihat mereka secara langsung.

Getaran ponsel yang ada dalam tas membuat Yookyung tersadar dari lamunan sesaatnya.

Mr Fishy

Bibirnya tersenyum tanpa sadar ketika melihat siapa orang yang menelponnya.

“Ya?”

“Apa kau sudah selesai bekerja?” terdengar suara halus dari seberang sana. Dan entah kenapa, Yookyung merasa senang ketika mendengar suara itu.

“Sudah, ada apa?”

“Aku sudah menunggumu di lobby, kau bisa turun sekarang kan?”

Yookyung terkejut mendengar Donghae sudah menunggunya. “Kau menungguku?”

“Ya, cepatlah. Orang tuamu sudah menunggu sejak setengah jam lalu.”

Yookyung mengangguk meskipun Donghae tidak melihatnya, “Arraseo, sebentar lagi aku sampai.” Yookyung memasukkan ponselnya dalam tas. Tidak ia pungkiri bahwa kini ia merasa tidak sabar ingin bertemu pria itu. Tiga hari pria itu tidak menelponnya, hanya mengirim pesan singkat yang mengatakan jika ia sedang sibuk. Tapi kini, pria itu tiba-tiba menjemputnya.

“Yookyung-ah!”

Langkah Yookyung langsung terhenti seketika, ia membalikkan badannya. In Soo menghampirinya dengan sedikit berlari kecil.

Ia melupakan janjinya dengan In Soo.

“Oh, hai..”

“Kebetulan kita bertemu di sini, jadi aku tidak usah menunggumu lagi. Kajja,” In Soo tersenyum cerah lalu meraih tangan Yookyung.

“Mianhae, In Soo-ya, aku tidak bisa pulang bersamamu hari ini.”

“Mwo? Waeyo?” senyum pria itu seketika memudar.

“Aku sudah di jemput,” Yookyung tersenyum meminta maaf. “Bagaimana kalau besok saja? Sekarang aku harus buru-buru.” Yookyung segera keluar lobby dengan langkah cepat yang langsung di susul In Soo.

“Dia..” In Soo memperhatikan Yookyung yang sedang tersenyum manis bersama Donghae. Ia tidak suka melihat mereka begitu akrab seperti itu.

“Lee Donghae.. Tidak akan kubiarkan kau merebut yang seharusnya jadi milikku.” geramnya dengan mengepalkan kedua tangannya.

“Baek, tolong cari informasi tentang pria bernama Lee Donghae dengan nomor plat mobil L 1015 EE. Aku tunggu secepatnya.” In Soo mematikan sambungan dan kembali memperhatikan Yookyung yang kini memasuki mobil pria itu.

“Akan kubuat perhitungan denganmu jika kau masih mendekati Yookyung, Donghae-ssi.” Gumamnya penuh penekan.

 

–***–

“Jadi, orang tuaku sudah ada di apartemen?” Yookyung menatap Donghae yang sibuk menyetir. Gadis itu sudah tidak sanggup lagi menahan keantusiasannya.

“Ya, dan ada kejutan kecil untukmu.”

“Apa itu?” Yookyung semakin penasaran karena Donghae tidak menjawab pertanyaannya. Pria itu hanya mengatakan ‘kau akan tau nanti ketika sampai di rumah’.

Baiklah, sepertinya Yookyung harus belajar bersabar bila berhadapan dengan Donghae, karena pria satu itu sangat suka bermain rahasia.

Donghae tidak langsung membawa Yookyung pulang ke rumah, melainkan mampir ke supermarket.

“Untuk apa kita ke sini? Persedian sayuran di kulkas masih banyak,” Yookyung menatap penuh tanya Donghae yang sibuk memilih sayuran segar.

“Ibumu yang menyuruh agar berbelanja untuk makan malam,” jawab Donghae tanpa menatap Yookyung yang berdiri di sampingnya–membawa troli belanjaan.

“Maksudmu, Eomma akan memasak di apartemen?”

“Hm, tunggu sebentar di sini, aku ingin menanyakan sesuatu,” Donghae berjalan pergi meninggalkan Yookyung menuju stand makanan matang. Donghae memanggil seorang wanita paruh baya–salah satu penjaga toko–untuk menanyakan sesuatu. Yookyung tidak tahu apa yang dikatakan mereka, tapi sepertinya tentang daging karena Donghae beberapa kali menunjukkan bungkusan daging.

Tidak lama pria itu kembali dengan membawa dua bungkus daging kemudian memasukkannya dalam troli.

“Hei, kau melamun.”

Yookyung mengerjapkan matanya begitu Donghae menjentikkan jari. “Apa yang kau pikirkan?” Donghae mengambil alih troli belanjaan dan mulai berjalan, Yookyung segera mengikutinya.

“Tidak ada, hanya saja–jika dipikir, kita– eum..,” Yookyung terlihat ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.

Donghae hanya memandangnya–menunggu lanjutan kalimat gadis itu.

“Kita seperti pasangan pengantin baru,” Yookyung langsung menundukkan wajahnya dengan semburat merah yang sudah menjalar keseluruh wajah. Ia malu. Entah kenapa ia bisa berpikir seperti itu. Tiba-tiba saja pikiran itu hinggap di kepalanya.

Donghae terpaku beberapa saat, kemudian tersenyum tipis. Dalam hati ia membenarkan kalimat Yookyung.

“Kau pikir begitu?”

Yookyung tidak berani menatap Donghae, ia hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.

“Kurasa, kau sudah ingin menikah eoh?”

Seketika Yookyung menoleh dan itu kesalahan fatal untuknya, karena Donghae berada tepat di samping dengan wajah condong ke arahnya.

Keduanya terpaku. Donghae membulatkan mata sipitnya dan Yookyung mengerjapkan mata berulang kali.

Bibir mereka bersentuhan secara tanpa sengaja. Keduanya saling diam.

Namun kemudian, Donghae tersadar lebih dulu, menarik mundur tubuhnya sehingga memberi jarak antara mereka. Sedangkan Yookyung masih terkejut. Donghae menggaruk kepalanya–canggung.

“Eum– kajja kita pulang, mereka pasti sudah menunggu lama,” Donghae berjalan lebih dulu meninggalkan Yookyung yang masih diam di tempatnya. Gadis itu baru tersadar setelah beberapa saat kemudian, ia segera mencari Donghae yang ternyata sudah mengantri di kasir.

–***–

Keadaan apartemen kecil yang biasanya sepi kini sangat ramai oleh keluarga Yookyung.

Donghae dan Yookyung yang baru saja tiba di sana langsung disambut oleh kedua orang tua gadis itu.

“Omo, putri Eomma.” Nyonya Kim langsung memeluk putrinya erat.

“Bogoshipo,”

“Nado bogoshipo, Eomma-ya.” lirih Yookyung dengan membalas pelukan ibunya.

“Apa kau tidak mau memeluk Appa, Yoo?”

Yookyung tersenyum mendengar pertanyaan sang ayah, “Kupikir, Appa tidak merindukanku.”

“Kata siapa? Tentu saja Appa merindukanmu,” sahut Tuan Ki cepat.

“Benarkah? Tapi Appa selalu memarahiku jika aku di rumah.” Yookyung mencibir ke arah Tuan Kim yang berdiri di samping istrinya.

“Ahjussi memarahimu karena kau tidak patuh, anak bodoh.” Bisik Donghae di telinga kiri Yookyung sebelum pria itu berlalu ke arah dapur dengan membawa belanjaan.
Yookyung menggeram kesal, “Ya! Ikan jelek, coba ucapkan sekali lagi?! Berani sekali kau mengataiku seperti itu!”

Nyonya Kim yang melihat putrinya akan menyusul Donghae ke dapur segera mencegahnya, “Kau ini.., memang yang dikatakan Donghae itu benar. Kau tidak boleh marah,”

Yookyung menatap ibunya tidak percaya. “Eomma, kenapa kau malah membelanya huh?”

“Sudah, sudah, kita duduk dulu saja…,” relai Tuan Kim dengan menarik tangan Yookyung menuju sofa.

Yookyung semakin kesal melihat tingkah Donghae yang mencibirnya dengan cara meleletkan lidah lalu tertawa tanpa suara.

‘Awas saja nanti, tunggu pembalasan dariku. Aku pasti bisa membalasmu, ikan.’

“Kyungie!!”

Suara ini…

Yookyung langsung menoleh ke belakang untuk memastikan pemilik dari suara yang amat dikenalnya itu.

Gadis itu mengerjapkan mata berulangkali untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat.

“Omo… Shelina!” seru Yookyung dengan menunjuk seorang gadis yang berdiri di samping Ryeowook. Mereka berdua baru saja tiba.

“Aku sangat merindukanmu, Yoo..” Shelina memeluk Yookyung erat.

“Nado,”

Yookyung menatap Shelina untuk beberapa saat, memperhatikan sahabatnya yang sudah lama tidak ia jumpai dikarenakan gadis itu pindah ke luar negeri.

“Kenapa?” Shelina menyerngit bingung karena Yookyung berulangkali memperhatikannya kemudian beralih ke arah Ryeowook yang berdiri di belakangnya.

“Kalian–”

Shelina tersenyum lebar kemudian meraih tangan kanan Ryeowook, menggandengnya mesra. “Kau tidak masalah kan jika aku bersama Ryeowook Oppa?”

Yookyung membuka bibirnya hendak bicara namun kemudian ia mengurungkannya. Ia terlalu terkejut untuk mengetahui kenyataan itu.

“Sejak kapan kalian– bersama?” suara yang keluar dari bibirnya begitu kecil.

“Dua tahun lalu,” kali ini Ryeowook yang menjawab disertai wajah yang memerah.

“Mwoya?! Ke–kenapa Oppa tidak bilang padaku?!” Yookyung menatap tajam ke arah Ryeowook yang langsung meminta maaf karena menyembunyikan hubungan mereka.

“Kau terkejut?”

“Tentu saja, bodoh. Jadi yang kau bilang akan mengenalkan gadis itu padaku adalah Shelina?”

“Ya,”

“Aish, aku membencimu, Oppa.”

“Yoo,” Shelina segera mengejar Yookyung yang berlari masuk ke kamar.

“Astaga.. Anak itu,” lirih Nyonya Kim dengan prihatin yang memperhatikan anak-anaknya bertengkar.

“Donghae-ya, maaf. Tidak seharusnya kau melihatnya,” lirih Ryeowook tidak enak.

Donghae tersenyum tipis, “Tidak apa, kupikir dengan kalian bertengkar seperti tadi kalian jadi dekat, tandanya Yookyung menyayangimu.”

“Yah, kurasa kau benar.” sahut Ryeowook dengan senyum.

“Hei, kalian berdua. Ke sini, temani Appa main catur,” seru Tuan Kim dengan melambaikan tangan agar kedua pria itu mendekat.

“Kajja.”

–***–

“Lelah?” Yookyung yang sedang duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam mengangguk kecil.
Kini rumahnya kembali sepi karena keluarganya sudah pulang, tinggal ia dan Donghae.

“Tapi aku senang,” gumamnya lirih masih dengan mata tertutup. Yookyung kini seperti merasakan kebahagian itu seperti beberapa tahun lalu, tepatnya sebelum orang tuanya menentang hubungannya dengan Kibum. Setelah kejadian itu, hubungan mereka terasa merenggang. Yookyung akui itu. Tapi kini, ia bisa merasakannya lagi.

“Terima kasih,” Yookyung membuka mata kemudian menoleh ke arah Donghae yang duduk disebelahnya. Pria itu menyerngit, “Untuk apa?”

“Tentu saja untuk semuanya. Berkatmu, aku jadi bisa merasakan kembali kumpul bersama mereka. Aku senang.”

Donghae tidak menyahut, hanya terus memperhatikan Yookyung yang tersenyum dengan menatapnya.

“Bisakah kau terus tersenyum seperti itu? Tapi hanya padaku.”

Yookyung menyerngit mendengar kalimat yang keluar dari bibir Donghae. “Maksudmu?”

“Eoh?” Donghae mengerjap kaget. Sepertinya ia telah mengatakan apa yang ada dalam hatinya.

Yookyung mencondongkan tubuh semakin dekat dengan Donghae, “Apa maksud dari kalimatmu tadi, Seongsaenim?”

“Apa kau menyukaiku, hm?” Lanjut Yookyung menggoda Donghae yang masih terdiam. Kebingungan.

“Eoh–itu..”

“Mwo?” Yookyung semakin mendesak ke arah Donghae yang sudah terpojok di lengan sofa.

“Jadi benar, eoh..”

‘Aish, gadis ini…’ batin Donghae gelisah karena wajah Yookyung hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Bahkan hembusan nafas gadis itu dapat ia rasakan. Hangat.

“Aku–”

Deringan ponsel yang terletak di meja membuat keduanya tersentak kaget. Ponsel Yookyung. Maka gadis mengangkatnya, “Yeobseyo..”

Donghae memperhatikan Yookyung yang menjawab panggilan itu.

“Eoh, In Soo-ya, waeyo?”

Donghae mendengus kasar tanpa ia sadari karena Yookyung menerima telpon dari pria muda itu. Entahlah, perasaannya akan mudah berubah kala Donghae mendengar Yookyung menyebut nama In Soo. Apalagi di saat gadis itu tersenyum meskipun mereka bicara tanpa bertatap wajah.

Aneh bukan? Ia seperti merasa cemburu. Padahal antara ia dan Yookyung tidak ada hubungan apapun, hanya siswa dan guru.

“Yoo, aku pulang.”

Yookyung yang masih menerima telpon menoleh ke arah Donghae yang sedang memakai jaketnya, ia melihat ke arah jam dinding, pukul 22.25.

“Eh?”

Bunyi dentuman pintu yang tertutup terdengar kasar, semakin menambah kebingungan dalam diri Yookyung.

“In Soo-ya, nanti aku telpon,” Yookyung mematikan sambung setelahnya ia segera menyusul Donghae.

“Donghae Saem!”

Donghae yang sedang menunggu lift menoleh ke belakang, Yookyung berlari kecil ke arahnya.

“Apa?” ujarnya begitu Yookyung sampai di hadapannya dengan nafas yang sedikit memburu.

“Kau marah?” Yookyung bertanya dengan terputus. Gadis itu merasa jika Donghae memang marah. Apa mungkin karena ia menggodanya tadi?

“Marah untuk apa?”

“Entahlah, aku hanya merasa kau marah padaku. Kalau iya, aku minta maaf padamu,”

Donghae mengusap poni Yookyung kemudian tersenyum tipis, “Tidak. Masuklah, ini sudah larut, kau harus istirahat.”

“Hm,”

Dentingan lift terdengar yang kemudian di susul dengan pintu lift yang terbuka, Donghae menoleh sekali lagi ke arah Yookyung setelah menekan tombol agar pintu tetap terbuka untuk beberapa saat.

“Aku pulang, annyeong.”

Yookyung menarik ujung jaket Donghae ketika pria itu memasuki lift. “Ada apa lagi?”

“Apa– besok kau akan datang lagi?”

“Besok? Tidak,”

Yookyung melemaskan bahunya, hatinya merasa tidak nyaman sekarang. Ia sendiri merasa aneh akhir-akhir ini. Jika Donghae tidak menelpon maka ia akan bertanya-tanya, kenapa pria itu belum menelponnya. Begitu juga jika Donghae belum datang di hari yang biasa Donghae berkunjung ke apartemennya.

Donghae yang melihat Yookyung menunduk melangkah keluar dari lift sehingga pintu lift kembali tertutup.

“Besok aku harus ke luar kota selama beberapa hari, Yoo.” jelasnya masih dengan memperhatikan Yookyung yang memegangi ujung jaketnya.

“Berapa lama tepatnya?” Yookyung memberanikan diri membalas tatapan Donghae.

“3-4 hari mungkin,”

“Kenapa mungkin?”

“Eum, karena aku juga tidak tahu pasti.”

“Bisnis atau–”

“Bisnis,” sela Donghae cepat. “Aku hanya melakukan beberapa survei untuk menggantikan Hyung yang tidak bisa datang,”

“Apa hari minggu kau sudah pulang?” Ini hari rabu, kalau Donghae pergi besok kemungkinan hari minggu bisa pulang kan?

“Aku tidak tahu, memang ada apa?”

“Apa kau bisa menemaniku datang ke ulang tahun temanku?”

“Kenapa aku? Bukankah ada In Soo?” Donghae hanya ingin tahu alasan gadis itu mengajaknya.

Yookyung kembali menunduk. Ia mengajak Donghae karena ia yakin In Soo akan mengajaknya, maka sebelum pria itu menanyakan hal itu ia lebih dulu bertindak. Kesimpulannya, ia tidak mau pergi dengan pria satu itu.

“Hei,”

“Sudahlah kalau kau memang tidak bisa. Pulanglah, annyeong.” Yookyung segera berbalik kemudian berlari meninggalkan Donghae yang menatap kepergiannya dengan heran.

“Ada apa dengannya?”

 

 

 

Continue…

 

 

Nb : yang minta buat dibayakin scane Hae-Yoo udah saya kabulkan yah.. jangan protes lagi, :p

 

 

9 comments

  1. inso ganggu oen -_-
    ak kira itu tuan ki trnyta typo >< dongek cmburuuu ahayy
    tuh adegan kisseu bntr lgi knp kgak jd
    =.= #pout
    part ini koq pndek oeno_O tak apalah
    ttep smngat ^^

  2. Aish, Dong Hae dan YooKyung sama-sama lemot alias telmi alias lalod. Kan udah ada tanda-tanda cinta (mungkin), tapi masih aja nggak ngerti. Ckckck… Nggak nyangka kalau In Soo jahat. Parah.

  3. Waaaaah bakalan ada yg suka2 nie meski blum sadar😉
    In soo mengganggu nie, kalo in soo tau Donghae deketin Yoo kyung krna perjodohan bisa gawat bin gaswat nie. Bakalan kuciwa pisan Yookyung…

  4. Tuh In Soo mau berbuat jahat ya.?
    Ih ganggu aja sih.
    Hahaha DongHae cemburu nih.
    Mereka egak peka ya.
    Ntu kan tanda tanda cinta.
    Hae jangan sampe kalah cepet dari In Soo ya.
    🙂

  5. saling suka tp dua”nya kyanya msh ragu”
    part ini agk pndek taw prasaan ja?
    in soo msh suka sma yoo kyung tp sdkit terobsesi
    dtnggu next part nya ya eon

  6. ya ampun kenapa inso jd ngedeketin yookyung, donghae jga ga peka ah, ih makin greget sama pasangan ini, next tag lg ya eon

  7. yookyung kayaknyacudah mulai suka…kukira td bakal kissing…ehh gak taunya insoo ganggu…senengnya donghae udah mulai cemburuan kekekeke…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s