A Sulk (Merajuk) Sequel || Donghae’s Side

copy-wpid-picsart_1387019440297.jpg

Author : Blue Rose

Title : A Sulk (Merajuk) Sequel

Genre : Fluff

 Rate : PG16

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung

 

 

“Terima kasih atas semua cinta yang kau berikan. Aku sangat mencintaimu lebih dari yang kau tahu, istriku.”

Sekali lagi kutatap istriku yang hingga saat ini masih melanjutkan aksi merajuknya. Padahal ini sudah hari ketiga ia marah. Kau tahu apa yang dilakukannya selama ia marah?

Ia tidak mau bicara sama sekali. Aku didiamkan olehnya.
Ia yang biasanya cerewet dan mengomel ini-itu padaku, kini diam, seperti tidak mengenalku sama sekali, padahal aku ini suaminya.

Kesal?

Tidak. Aku tidak kesal ataupun marah padanya, sama sekali tidak. Hanya heran saja. Kenapa ia betah marah padaku?

Kenapa?

Karena aku tidak bisa marah padanya. Biarpun dia itu; cerewet, pencemburu,cengeng, manja dan childish aku sama sekali tidak pernah mengeluhkan sifatnya yang seperti itu. Karena aku mencintainya, maka semua itu tidak berarti bagiku. Rasa cintaku mengalahkan semua kekurangan yang ada pada dirinya.

Kudekati ia yang sedang membuat sandwich buah di pantry. Aku ingin memeluknya, tapi kuurungkan. Tidak mau ia bertambah marah dan mengusirku seperti beberapa waktu lalu ketika aku nekat memeluknya yang sedang marah seperti ini.

“Yoo..” Panggilku pelan.

Wanitaku hanya menoleh sekilas dan kembali sibuk dengan menaruh buah yang sudah di potong ke dalam tumpukan roti tawar, kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian.

“Sampai kapan kau marah padaku?” Tanyaku berusaha bersabar.

Aku sungguh tidak suka ia marah padaku terlalu lama. Karena itu merugikan, untukku pastinya.

Alasannya?

Gampang saja. Coba kau pikir, kau sudah menikah tapi istri atau suamimu marah padamu dan tidak mau bicara apalagi tidur bersama. Bukankah itu merugikanmu? Kita tinggal seatap tapi seperti orang asing, tidak saling menyapa. Pasti menyebalkan kan?

Kuhela nafas, oh… ayolah, sampai kapan istri tercintaku ini marah?
Hanya karena salah paham saja ia harus marah berhari-hari seperti ini? Ck, ini menjengkelkan!

“Sarapanku?” Aku tatap ia yang sedang duduk di kursi makan dengan satu piring sandwich serta segelas susu coklat. Sudah tiga hari pula aku tidak disiapkan sarapan pagi seperti beberapa hari lalu, sebelum ia marah.

“Bukankah kau bisa buat sendiri?”

Demi Dewa Cronos, aku ingin sekali menghentikan waktu sekarang juga untuk membalikan waktu ke hari itu. Hari dimana Ji Hyun menelponku saat acara Battle Code karena disuruh Shindong Hyung. Aku akan menjawab ‘tidak bisa‘ ketika ia bilang ingin meminjam uang padaku. Karena tayangan itulah Yookyung marah hingga kini.

Kuusap wajah dengan sedikit frustasi lalu aku dekati ia yang duduk dengan meminum susunya.
Langsung saja kurebut gelas itu paksa lalu meminumnya hingga habis.

“Ya! Itu punyaku, Oppa.”

Aku tidak menjawabnya, hanya menatapnya lekat.

Mwoga?!”

“Aku ingin punyamu.”

Ia melotot padaku. Aduh, manisnya.

Kakiku melangkah mendekati Yookyung yang menatapku sengit. Kau ingin tahu apa yang akan aku lakukan, eoh?

“Kenapa kau tersenyum setan begitu?”

Dalam hati aku tertawa terbahak melihatnya sedikit ngeri ketika melihat seringaianku.
Aku ini pria sejati. Apa kau pikir aku akan kalah dengan acara merajukmu? Tidak bisa!
Akan aku buat kau tidak marah lagi padaku, sayang.

“Ya! Jangan mendekat.”

Aigo… Lucu sekali wajah paniknya itu. Jadi ingin menciumnya sekarang juga.

Tak aku hiraukan teriakannya yang memintaku untuk jangan mendekat. Aku terus saja berjalan mendekatinya hingga ia membentur lemari pendingin di belakangnya.

Oppa, stop!”

Wae?”

“Jangan mendekat lagi atau aku akan berteriak.”

Hohoho… Kau mengancam yeobo? Silahkan, aku tidak takut.

“Tidak akan ada yang mendengarnya, sayang. Ini lantai 13 dan paling ujung, jadi tidak akan ada yang mendengarnya. Lagipula, kau ini istriku. Jadi apapun yang akan aku lakukan padamu, orang lain tidak berhak ikut campur urusan kita. Toh, aku tidak melakukan tindakan anarkis padamu,” sahutku kalem.

Ia terdiam. Mungkin berpikir kalau ucapanku ini benar.

Tentu saja benar seluruhnya kan?

Kembali kudekati ia yang masih berpikir dan langsung memulai aksiku.

“Ya! Ya! Stop it, Oppa!”

Aku pura-pura tidak mendengarnya. Dan terus saja menggelitikinya yang menggelinjang kegelian dan meminta berhenti.

“Jika kau ingin aku berhenti, akan aku kabulkan. Tapi dengan syarat, kau tidak boleh marah padaku lagi.” Ucapku masih dengan menggelitiki perutnya.

Oppa, kumohon berhenti.”

Suaranya terdengar lemah. Bahkan ia tidak sadar jika kini sudah bersandar padaku.
Dapat kurasakan nafasnya yang memburu dan hangat ketika menembus kaos tipis yang aku kenakan.

“Berhenti Oppa,” lirihnya lagi masih dengan nafas tersengal.

Kuhentikan tanganku yang menggelitiknya berganti menjadi memeluk.
Menghirup wangi tubuhnya.
Betapa aku merindukan wangi ini. Aku sangat-sangat merindukan semuanya.

“Berjanji kau tidak marah lagi?” Tanyaku halus dengan mengecup belakang tengkuknya. Yookyung sedikit berjengit ketika aku melakukannya.

“Aku tidak marah,” bisiknya lirih.

Segera saja aku melepaskan pelukanku dan menatapnya penuh tanya.

Ia tidak marah.

Benarkah apa yang aku dengar ini?

“Kau tidak marah padaku, Yoo?”

Ani, hanya kesal saja setelah melihat tayangan itu.”

“Lalu apa maksudnya kau mendiamkanku berhari-hari huh?” Ucapku ketus.

Aku pikir ia marah selama ini, tapi nyatanya…

“Aku ingin mengetesmu saja. Karena kau begitu menyebalkan. Kau langsung menginyakan begitu saja permintaan Ji Hyun waktu itu, tanpa tahu alasannya meminjam uang padamu.”

“Karena Oppa pikir itu sungguhan, Yoo. Mana aku tahu kalau itu suruhan Shindong Hyung.” Belaku.

Aku memang tidak tahu sama sekali jika itu rencana Shindong Hyung. Karena pada saat itu aku sedang di lokasi syuting dan tiba-tiba Ji Hyun menelpon kemudian mengatakan jika ia sedang ada dalam masalah, butuh uang. Karena aku sudah menganggap Ji Hyun adikku, maka aku iya kan saja.

Coba itu terjadi padamu, kau akan bagaimana?

Apa beralasan kau sedang tidak ada uang tapi kenyataanya kau ada?
Membohongi. Oh, maaf saja. Hal itu pantang aku lakukan.

“Tapi kau pelit sekali padaku kalau aku yang memintanya.”

Shit! Jangan menggodaku, Yoo.
Apa kau tidak tahu huh, kalau kau mempoutkan bibirmu seperti itu justru semakin menggemaskan? Ditambah kau menggerakan jari-jari kecilmu itu di dadaku.

Oh Tuhan.
Betapa teriksanya aku saat ini.

“Aku tidak pelit, Yoo.”

“Tidak katamu? Kau pelit Oppa. Buktinya aku meminta tas Channel waktu itu tidak kau belikan. Kau banyak alasannya, menyebalkan.”

Ck, wanita ini. Sungguh kekanakan.

Apa dia tidak berpikir, jika uang sebanyak 350.000 juta W itu banyak? Dan akan sangat disayangkan jika hanya untuk membeli tas.
Bukankah itu namanya pemborosan?

Akan lebih baik, uang itu kau gunakan untuk keperluan yang memang penting. Atau kau tabung untuk digunakan disaat ada keperluan mendadak.

Tapi dasar Yookyung, wanita ini tidak mau mendengarkan ucapanku.
Aku tahu ia membeli barang-barang itu dengan hasil kerja kerasnya sebagai kepala editor di sebuah majalah, tapi akan sangat disayangkan jika barang dengan harga ‘sebagus’ itu hanya kau lihat saat acara-acara tertentu saja. Misalnya, saat acara keluarga atau saat datang ke pesta, setelahnya hanya menempati lemari panjangan yang di letakan dekat ruang tv bersama tas lainnya yang sudah menggunung.

Kalau sudah menjadi hobi memang susah untuk dihilangkan.
Ya, seperti inilah contohnya.

Aku benar lagi kan?

Kutangkup sisi wajahnya dengan kedua tangan. Kukecup bibirnya sekilas. Ia langsung menunduk begitu aku melepaskannya. Lucu sekali dia.

“Baiklah, Oppa mengalah. Akan Oppa belikan tas itu untukmu asal kau tidak marah lagi. Otthhe?” Aku putuskan untuk mengalah saja. Tidak mau ia kesal lagi padaku lalu marah sungguhan.

Oh, aku tidak bisa bayangkan itu.

Cukup tiga hari ini aku jadi orang bodoh karena dibohongi olehnya.

“Aku sudah tidak ingin tas itu lagi,”

Aku menyerngit mendengar jawabannya. Tidak menginginkannya lagi?

“Tas itu sudah di beli Jee Ah Eonnie. Dua hari ini aku juga memikirkan ucapan Oppa tempo hari untuk merubah hobiku, dan aku sudah memutuskannya.”

Aku semakin tidak mengerti maksudnya, yang kulakukan hanya menatapnya dengan diam, menunggu lanjutan kalimatnya.

“Aku akan menjual semua tas-tas itu, eum.. tidak semuanya, hanya beberapa yang menurutku harganya masih bagus. Sisanya aku simpan. Aku tidak ingin nanti jika anak ini lahir sebagai perempuan dan menuruni sifatku ini, pasti akan merepotkan dan menyusahkan suaminya kelak. Jadi aku ambil keputusan ini.”

Aku hanya mengerjapkan mata beberapa kali.

Anak?

Apa maksudnya?

Oppa?”

Ye?”

“Kenapa?” Tangan kecilnya menangkup sisi wajahku.

“Tadi aku tidak salah dengar kan Yoo?”

Aniya. aku memang ingin menjual sebagian koleksi tas-tas itu.”

Ani, bukan itu.”

Nde? Lalu yang mana?”

“Anak. Apa maksudnya itu?”

Aih, apa ada yang lucu dengan pertanyaanku sehingga wanita ini tertwa huh?

“”Katakan padaku Yoo, jangan hanya tertawa seperti ini. Kau justru membuatku semakin bingung saja.”

Mianhae Oppa, aku lupa mengatakan padamu jika aku sedang hamil 3 minggu.”

“MWO?!”

Nde, aku hamil Oppa. Sebenarnya hari itu aku ingin memberitahumu, tapi setelah melihat tayangan itu aku jadi lupa untuk mengatakannya. Mian.

Ini… Bukan mimpi kan?

“Ya!” Aku menjerit sakit.
“Kenapa mencubitku?”

“Untuk menyakinkan Oppa jika ini bukan mimpi. Bahwa ini kenyataan, Oppa.”

Seketika rasa bahagia memenuhi relung hati.
Aku akan menjadi seorang Ayah dalam beberapa bulan lagi.
Bahagianya aku.

Aku peluk Yookyung erat sebagai luapan rasa bahagia. Kenahagiaan ini… sama seperti untuk pertama kalinya Super Junior mendapatkan perhargaan. Begitu meluap-luap hingga tanpa sadar aku meneteskan airmata.

Aigo, berhenti jadi suami yang cengeng Oppa. Kau sebentar lagi akan jadi seorang Ayah. Jadilah panutan yang baik, tegas dan bijaksana. Tidak boleh melankolis begini, ck.”

Aku tersenyum tipis mendengar gerutuannya.
Wanita ini…
Betapa beruntungnya aku mendapatkan dia.
Meskipun dibalik semua sifatnya yang menyebalkan, tapi tersimpan kelembutan yang tidak akan kutahu jika aku tidak mengenal dan menikahinya.

Saranghae. Jeongmal gomawo.”

Nado.”

Keluarga kecilku akan bertambah sebentar lagi.
Dan kuharap semuanya akan berjalan lancar. Agar keluargaku tetap utuh dan kebahagiaan itu selalu hadir dalam hidupku.

Terima kasih Tuhan.
Terima kasih atas segalanya yang kau berikan padaku.
Aku berjanji, aku akan mempertahankan yang aku punyai saat ini higga aku tak mampu lagi.

END

4 comments

  1. Siwon ah.. gue jg mau kyak si hae ama kyung hikshikshiksss lu mah suami yg jahat slalu aja ninggalin gue buat kluar negeri 😢😢😢 gue jg mau di manja macem kung?eh? Ahahhahaha
    #very nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s