Marriage in Three Month?!

image

Author : Blue Rose

Title : Marriage in Three Month?!

Genre : Fluff

Length : Oneshot

Rate : PG17

Cast : Lee Sungmin, Park Hyun Joo

 

***

“APA?!” Suara yang merupakan sebuah teriakan keras itu segera memenuhi ruangan yang begitu luas. Gadis yang mengenakan stelan blazer biru di padu kemeja putih dan celana hitam panjang itu menatap tajam pria di hadapannya. Duduk dengan kedua tangan yang di satukan.

“Kumohon, Hyun.”

“Geuleogo sipji anha! (Aku tidak mau!)” Jawab gadis itu pendek dan tegas. “Kau fikir aku–mmmm” Gadis itu meronta dari ulah pria yang sudah yang membekap mulutnya dengan tangan.

“Sssttt, jangan berteriak bodoh! Nanti semua orang bisa mendengarnya dan menyangka aku berbuat yang tidak-tidak padamu!”

‘Ini kau berbuat sesuatu padaku!’

Ingin sekali gadis itu berteriak seperti itu, memaki pria itu. Tapi yang dapat ia lakukan hanya meronta agar pria itu melepaskan bekapannya. Ia, Park Hyun Joo menatap tajam atasannya yang kini masih membekap mulutnya.

“Mian,” lirih pria itu, Lee Sungmin dengan sesal begitu sadar nafas gadis itu terputus-putus. Hyun Joo kembali melayangkan tatapan tajamnya, “Kau ingin membunuhku, Sanjangnim?” Tukasnya sinis.

“Maaf Hyun, salahmu kenapa kau berteriak seperti itu.”

Gadis itu membelalakan matanya. Kenapa jadi ia yang disalahkan disini?

“Kau gila.” Desisnya geram. Ia hanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran bos tampannya ini. Pria yang dikenalnya sejak 4 tahun lalu tiba-tiba mengajaknya menikah. Harusnya Hyun Joo senang kan? Tapi sayang, gadis itu tidak begitu.
Untuk apa Sungmin mengajaknya menikah jika pria itu masih mempunyai seorang kekasih yang jelas-jelas dicintainya? Bukankah itu patut di pertanyakan?

“Ayolah Hyun, menikahlah denganku.” Pelas Sungmin lagi. Ini sudah kesekian kalinya Sungmin merengek seperti itu tapi gadis itu tetap menggelengkan kepalanya. Menolak.

“Hyunie..,” Terpaksa Sungmin mengeluarkan jurus andalannya, beraegyo. Yah, meskipun Sungmin tahu hanya gadis ini  yang tidak mampu dengan cara itu, tapi setidaknya ia harus mencoba lebih dulu.

“Kau menangis darah sekalipun, jawabanku tetap sama. No!” Sungmin langsung melemaskan bahunya, lunglai. Pria itu mengehela nafas panjang.

“Aku hanya meminta bantuanmu, Hyun. Masa kau tidak mau?” Sungmin menunduk dan bersandar ke meja kerja di belakangnya, sedangkam Hyun Joo duduk di kursi. Gadis itu menggelengkan kepala keras.

“Hanya 3 bulan Hyun, kumohon bantu aku. Hanya sampai Eomma kembali ke Canada, setelah itu kita bisa seperti biasa lagi.” Ia sudah cukup pusing dengan kabar kepulangan ibunya dari Canada yang diperkirakan akan datang minggu depan. Ia harus bagaimana bila ibunya itu menanyakan tentang calon istri yang di karangnya beberapa waktu lalu. Jika saja ia bicara jujur pada ibunya, pasti ini tidak akan begini.

Ah, penyesalan memang selalu datang di akhir.

“Kenapa aku harus membantumu sedangkan kau punya kekasih? Menikah saja dengannya langsung. Jadi tanpa perlu pura-pura lagi. Lagi pula, kalian saling mencintai bukan?”

“Ah itu–”

“Apa?”

“Seorin tidak akan menikah, Hyun.” Sungmin segera menundukan wajahnya, bahkan ia terlihat begitu putus asa.

Kekasihnya, Han Seorin. Gadis yang menemaninya 2 tahun terakhir ini mengatakan tidak akan menikah sampai kapanpun. Padahal waktu itu Sungmin ingin membicarakan masalah ini, tapi ketika mendengar bahwa Seorin tidak menikah langsung membuat Sungmin mengurungkan niatnya. Dan ia langsung pergi begitu saja tanpa mau mendengar apapun lagi dari bibir gadis itu. Bahkan hingga saat ini, ia berusaha menghindarinya.

Ia kecewa.
Untuk apa kebersamaan mereka selama 2 tahun ini jika pada akhirnya ia tak dapat memiliki gadis itu?
Dan untuk apa ia mempertahankan hubungan ini jika gadis itu ternyata tidak memiliki perasaan khusus padanya? Bukankah itu sia-sia?

“Lalu untuk apa kau mempertahankan hubungan itu jika kalian tidak menikah? Hidup bersama tanpa ikatan? Apa itu baik ?!” Tukas Hyun Joo tajam.

“Aku tahu. Aku pikir dia tidak akan seperti ini, tapi nyatanya–hahh.., sudahlah.” Sungmin kembali ke tempat duduknya. Kepalanya berdenyut nyeri memikirkan masalah ini.

“Memusingkan,” gumam Hyun Joo prihatin melihat keadaan Sungmin yang tampak lusuh. Tidak bersemangat dari biasanya.

“Hyun,” Sungmin kembali memandang Hyun Joo dengan mata hitamnya. Gadis itu menaikan sebelah alisnya, “Apa?”

Sungmin tidak menjawabnya, ia hanya terus menatap Hyun Joo dan lama kelamaan Hyun Joo tahu apa arti dari tatapan itu. Gadis itu menggeleng, “Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin membohongi orang, terlebih itu orang tua kita. Karena aku pun tidak ingin dibohongi. Asal kau tahu, Sajangnim. Kenyataan sebuah kebohongan itu lebih menyakitkan dari apapun.” Hyun Joo bangun dari tempat duduknya. Ia membungkuk sedikit, “Aku harus kembali bekerja, permisi.”

“Hyunie…” Sungmin menatap nanar punggung gadis semampai itu yang berjalan menuju pintu dan kemudian menghilang disana. Ia menghela nafas panjang, untuk kesekian kali.

“Bodoh!” Makinya lirih, yang ia tunjukan untuk dirinya sendiri.

*

Matahari pagi telah membumbung di langit timur sejak 1 jam lalu. Kamar yang di dominasi warna putih gading itu tampak tenang. Sinar mentari pagi yang hangat menerobos masuk melalui tirai jendela yang sedikit terbuka, menyapa seseorang yang terlelap damai dalam tidurnya.

Sungmin perlahan mengerjapkan mata, ia mengucek matanya beberapa kali. Ia menoleh ke samping kiri-kanan. Kamarnya.

Pikirannya teralih ketika mendengar suara pintu diketuk dan seseorang masuk ke dalam kamar. Hyun Joo. Gadis itu berjalan ke arahnya dengan membawa nampan berisi; 1 buah mangkuk dan segelas susu.

“Pagi..,” sapa Hyun Joo dengan senyum ramah.

Sungmin berdehem sebelum menjawab sapaan gadis itu. “Pagi..”

“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” Hyun Joo meletakan nampan di meja kecil panjang samping lampu tidur. Sungmin mengangguk kecil.

“Aku, kenapa ada di rumah? Siapa yang membawaku pulang?”

“Kau tidak ingat?” Sungmin menggeleng kecil.

Hyun Joo meraba kening Sungmin dengan punggung tangannya, memastikan bahwa suhu tubuh pria itu ada perubahan. “Sudah turun,” gumamnya. Ia mengulurkan segelas susu putih ke hadapan Sungmin dan pria itu menerimanya dengan ragu. “Minumlah,” baru setelah mendengar Hyun Joo berkata ia meminumnya dan menyerahkan kembali gelas itu setelah tersisa setengahnya.

“Apa aku pingsan kemarin?” Tebaknya setelah di ingat jika kemarin malam ia lembur di kantor.

“Hm,”

“Dan kau yang membawaku pulang?”

“Menurutmu?” Hyun Joo justru balik bertanya dan malah menyodorkan sesendok bubur ke mulutnya. Sungmin mendengus kesal. Gadis ini tetap sama, menyebalkan. Namun, meskipun ia kesal ia tetap membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Hyun Joo.
Dan harus Sungmin akui, meskipun Hyun Joo itu cerewet dan menyebalkan, tapi gadis itu sangat perhatian. Ia bahkan sangat pintar memasak. Fakta yang menarik bukan?

Kegiatan Hyun Joo yang sedang membereskan mangkuk terhenti begitu mendengar pintu kamar yang di buka secara kasar. Seorin dengan langkah cepat menuju ke arah mereka, tepatnya ke arah Sungmin. Samar-samar ia dapat mendengar isakan gadis itu. Dan tentu saja Sungmin menenangkannya.

Hyun Joo memilih beranjak pergi.

“Hyun..” Langkah Hyun Joo terhenti begitu mendengar Sungmin memanggilnya. “Obatnya di samping lampu tidur. Aku akan pulang. Istirahat lah yang cukup, annyeong.” Hyun Joo langsung melangkah cepat agar segera pergi dari tempat itu. Tempat yang membuatnya merasa sakit mata. Lebih baik ia pulang saja sebelum pria itu kembali mencegahnya.

*

Hyun Joo sedang sibuk dengan tumpukkan berkas yang diperiksanya ketika seseorang datang menghentikan kegiatannya. Ia merasa kesal karena Sungmin tidak mengajaknya ikut rapat di luar tapi justru di bebani tugas yang seharusnya ditangani oleh Sungmin.

“Annyeonghaseyo… Chongi, naega butaghago sipseubnida, gamdogi issneuji? (Maaf, aku mau bertanya, apakah direktur ada?)” Tanya seorang wanita paruh baya, mungkin sekitar 50 tahunan ke atas.

Hyun Joo membungkukkan badannya, “Maaf Nyonya, tapi saat ini Sanjangnim sedang rapat di luar. Apa ada yang bisa saya bantu?”

Wanita itu memperhatikan Hyun Joo dari atas hingga bawah, seperti menilai. Dan tentu saja Hyun Joo merasa risih jika di perhatikan seperti itu.

Apa ada yang aneh dengan pakaianku hari ini? Itulah pertanyaan yang terlintas dalam kepala Hyun Joo ketika wanita baya itu memperhatikannya.

“Oh, apa kau tem–”

“Eomma!!!” Hyun Joo dan wanita itu segera menoleh ke sumber suara itu berasal. Sungmin dengan sedikit berlari menghampiri mereka. Ia langsung memeluk sang ibu hangat.

“Eomma, kapan datang? Kenapa tidak memberitahuku? Aku kan bisa menjemput ke bandara.”

“Baru saja,” Nyonya Lee tersenyum lembut dan mengusap wajah putranya. Ia merindukan putra sulungnya ini.

“Kita bicara di dalam saja.” Ajaknya dengan menggandeng lengan Nyonya Lee masuk ke ruangan kerjanya. “Hyun, tolong buatkan kopi dan teh hijau.” Tambahnya sebelum benar-benar pergi.

“Algeumseubnida.”

*

Hyun Joo membawa nampan berisi 2 cangkir; 1 kopi dan 1 teh hijau, seperti yang di perintahkan Sungmin tadi. Ia meletakkan itu di meja dan ia akan membuka mulutnya untuk pamit ketika Nyonya Lee tiba-tiba mengira dirinya adalah kekasih Sungmin.

“Amni–”

“Nde, Eomma. Ini Hyun Joo yang aku ceritakan pada Eomma minggu lalu. Dia juga sekertarisku,” jawab Sungmin cepat. Hyun Joo seketika melemparkan tatapan tidak terima. Tapi pria itu mengabaikannya.

“Aigo, neomu yeoupeunda.” Ucap Nyonya Lee dengan menarik lengan Hyun Joo agar duduk di sofa sampingnya. Wanita itu menatap gadis itu antusias. “Sungmin bilang, kau pintar sekali memasak dan membuat kimbab. Apa itu benar Hyunie?”

Hyunie?

Rasanya ada yang menggelitik saat wanita baya itu menatapnya dan memanggilnya seperti itu. Ia jadi teringat akan sosok ibunya yang telah lama pergi. Ia tersenyum kikuk. “Tidak juga Nyonya, hanya sedikit.”

“Aih, tidak perlu malu-malu seperti itu. Dan panggil saja aku ‘Eommonim’, kurasa itu lebih nyaman. Bukankah begitu Sungmin-ah?” Nyonya Lee berganti memandang Sungmin yang sedang menyeruput kopinya. Pria itu tersenyum dan mengangguk semangat. “Mullo, Eomma.”

‘Cih, menyebalkan. Ingin sekali aku mencakar wajah manismu itu!’ sungut Hyun Joo dalam hati. Ia sangat kesal dan marah dengan pria satu itu. Pria itu telah membuatnya masuk ke dalam masalah yang rumit.

Bagaimana bisa pria itu mengenalkan dirinya sebagai calon istri pada ibunya?
Bukankah waktu itu ia sudah mengatakan dengan tegas bahwa ia tidak mau?

Bukan tidak mau dalam arti yang sebenarnya. Kalau untuk main-main tentu saja ia tidak mau. Mana bisa pernikahan di jadikan mainan, terlebih untuk membohongi orang tua sendiri.

Baginya, pernikahan adalah hal yang suci. Dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai dan mengucapkan janji suci itu dihadapan Tuhan. Bukan pernikahan di atas hitam putih.
Pernikahan hanya dalam kurun waktu 3 bulan. Yang benar saja?!

*

Sungmin segera menarik Hyun Joo untuk mengikuti langkahnya, setelah mengantar Nyonya Lee menuju lobby untuk pulang. Ia menarik Hyun Joo menuju tangga darurat.
Gadis itu hanya mengikuti dalam diam, tidak protes. Karena ia pun ingin bertanya banyak pada pria itu.

Sungmin segera memojokkan Hyun Joo di balik pintu tangga darurat. Ia meletakkan kedua sisi tangannya di samping tubuh gadis itu. Jadilah kini, Hyun Joo terperangkap dalam himpitan pintu dan tubuh kekar Sungmin.

“Mwoga?” Tanyanya datar. Ia tidak mengerti kenapa Sungmin justru membawanya kemari untuk bicara, setelah kepergian ibunya tadi yang akan pulang ke rumahnya.

Pria itu menatap dalam gadis itu kemudian tersenyum. Hyun Joo menyerngit heran.

Apakah pria ini tiba-tiba saja gila?

“Kenapa tersenyum?”

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu,” ucapnya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari mata Hyun Joo.

“Apa?” Tanya gadis itu penasaran.

“Ini–”

Detik itu juga Hyun Joo merasa dunianya terhenti seketika. Yang dapat di lakukannya hanyalah membelalakan mata. Ia tidak dapat memaki Sungmin ataupun menjauhkan tubuhnya dari pria itu, yang kini tengah mencium bibirnya, bahkan memaksa agar bibirnya membuka.

“Egh–” Hyun Joo bahkan tidak dapat berpikir lagi ketika Sungmin semakin menekan bibirnya lebih dalam. Pria itu bahkan menariknya mendekat, mendekapnya dengan gerakan posesif. Ia tidak tahu ada apa dengan pria ini. Dan entah kenapa ia justru membalasnya, bahkan ia yang terlihat begitu semangat membalas kecupan yang di berikan Sungmin padanya.

Sungmin menatap gadis itu dengan nafas terengah. Ia dapat merasakannya. Dan ia tersenyum begitu tulus begitu ia melihat Hyun Joo merona dan bibir gadis itu begitu merah dan basah.

“Aku tahu sekarang..” Gumamnya dengan terputus. Hyun Joo memaksakan menatap Sungmin. Pria itu sekali lagi mendaratkan kecupan di bibirnya. Hanya sesaat, sebelum memeluk gadis itu. Menempelkan bibirnya di leher Hyun Joo.

“Maaf, aku baru menyadarinya.”

“Menyadari apa?” Hyun Joo sama sekali tidak mengerti dengan maksud Sungmin dengan kata ‘menyadari’.

Pria itu melepaskan pelukannya, menatap gadis itu dalam. “Aku baru menyadari bahwa aku memang mencintaimu, bukan Seorin.”

“Ha?”

Hyun Joo mengerjap lucu. Apa ia tidak salah dengar?

“Kau salah makan ya?” Sungmin ingin sekali mencium gadis itu sekali lagi. Kenapa gadis ini jadi bodoh begini? Batinnya gemas.

“Aku mencintaimu, Hyun. Aku baru sadar sekarang.”

Hyun Joo membelalakan mata dan langsung menutup mulut. Hyun Joo terkejut kemudian menggeleng.

“Bohong.”

“Aku tidak bohong! Aku serius. Betapa bodohnya aku selama ini tidak menyadari keberadaanmu di sisiku.” Sungmin menatap lembut gadis itu, senyumnya mengembang. “Jung Soo Hyung yang menyadarkanku akan perasaanku yang sebenarnya,” lanjutnya dengan mengusap kening Hyun Joo.

“Dia yang mengatakan padaku, bahwa aku sebenarnya mencintaimu bukan Seorin. Rasa sukaku pada Seorin hanya sebatas mengagumi.”

“Maksudmu?”

“Astaga, aku sudah bicara sejelas itu kau tidak mengerti juga? Kenapa kau malah makin bodoh saja, huh?” Dengus Sungmin gemas.

“Ya!!”

“Aku bercerita pada Hyung bahwa setiap kami berkencan aku selalu membicarakanmu, karena itu Seorin sering marah padaku. Dan itu membuat Hyung yakin bahwa sebenarnya aku mencintaimu.”

Hyun Joo tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya menatap Sungmin yang tersenyum tulus padanya. Tidak ia pungkiri bahwa ia merasa bahagia atas pengakuan pria itu.

“Dan aku baru saja memastikan jawabannya,” Hyun Joo kembali di buat tidak mengerti dengan kalimat ambigu Sungmin.

“Ng?”

“Bahwa kau pun mencintaiku, benar kan?”

Hyun Joo mengerjap beberapa kali, Sungmin terkekeh. “Tidak usah mengelak karena kau pun tidak menolak saat aku cium. Bahkan kau justru lebih antusias dibanding aku. Itu cukup untuk menjadi bukti bahwa kau pun mencintaiku.”

Hyun Joo menunduk, pipinya memerah seketika. Yang di ucapkan Sungmin memang benar. Ia mencintai pria ini.

“Hyunie,” Sungmin ingin sekali tertawa sekeras mungkin. Itu karena ia dapat membuat gadis yang biasanya cerewet dan mengatai dirinya itu kini tidak dapat berkutik.

“Hyun,” Sungmin menggodanya dengan menusuk-nusukan jari telunjuknya ke pipi Hyun Joo. Agar gadis itu mau menatapnya.

“Mwoya,” lirih Hyun Joo dengan menyingkirkan jari Sungmin dari pipinya. Sungmin segera menangkup wajah gadis itu dan memaksanya agar menatapnya. Ia dapat melihat rona merah jambu yang menghiasi kedua pipi putih Hyun Joo. Itu murni karena malu, bukan blash on.

“Maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama. Aku begitu lamban.”

Hyun Joo menyentuh tangan Sungmin yang berada di wajahnya. “Gwaenchana,”

“Jadi kau mau menikah denganku, hm?”

“3 bulan? Kau pikir ak–” Sungmin mengecup kembali bibir merah gadis itu. “Siapa bilang 3 bulan? Tentu saja hingga kita kakek-nenek.”

Hyun Joo menatap Sungmin dengan mata berkaca-kaca. Benarkah yang ia dengar ini? Sungmin benar memintanya agar ia menikah dengannya? Pernikahan sungguhan.

“Aku–tidak sedang bermimpi kan?” Ucap Hyun Joo dengan pipi yang telah basah oleh airmata. Sungmin menggeleng, “Tidak, Hyun.., aku serius dan ini sungguhan.” Yakinkan Sungmin dengan mengusap kedua pipi Hyun Joo dengan sapu tangan.

“Kau mau kan?”

Hyun Joo tidak dapat menahan laju airmatanya. Ia menangis bahagia. Ia mengangguk sebagai jawaban. Sungmin segera memeluknya lagi, ia mengecup berulang kali pelipis Hyun Joo sebagai luapan rasa sayangnya.

‘Kau itu sungguh bodoh, Sungmin-ah! Sudah jelas-jelas ada gadis yang setia berada disampingmu tapi kau justru mengecewakannya tanpa kau sadari. Buka hatimu, lihat baik-baik siapa orang yang kau cintai sesungguhnya. Suka pada seseorang dan mengagumi itu berbeda. Dan kau telah salah mengartikan rasa sukamu pada Seorin. Kau hanya mengaguminya, bukan mencintainya!’

Hyun Joo dan Sungmin segera kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. Keduanya kentara sekali begitu senang.
Eun Bi, teman sekantor Hyun Joo merasa ada yang aneh dengan temannya itu. Dan ia memutuskan untuk menanyakannya pada gadis itu.

“Hyun-ah?”

Hyun Joo mendongak, menatap Eun Bi yang berdiri dibalik meja kerja.

“Ne?”

“Kau terlihat janggal,” Hyun Joo menyerngit tidak mengerti.

“Maksudmu?”

“Itu, di lehermu. Kenapa bisa ada tanda merah seperti itu? Seingatku, tadi pagi belum ada.” Eun Bi menunjuk leher Hyun Joo yang memang benar ada tanda merah disana.
Hyun Joo segera mengambil cermin kecil yang selalu di bawa dalam tasnya.
Mata sipitnya melebar dan ia menggeram tertahan.

“Apa yang kau lakukan dengan Sajangnim tadi, Hyun?” Tanya Eun Bi dengan mata menyipit, curiga. Hyun Joo tergagap. “Ah itu–tunggu aku ada urusan sebentar.” Hyun Joo langsung mengambil langkah seribu, lari.

“Ya! Park Hyun Joo!!”

Hyun Joo tidak memperdulikan teriakan Eun Bi, yang ia pikikan adalah kenapa Sungmin meninggalkan jejaknya. Ia harus meminta penjelasan pria itu sekarang!

“Buka pintu pelan-pelan, Hyun. Kau bisa merusaknya,” tegur Sungmin tanpa melihat siapa orang itu. Ia sudah cukup hapal dengan kebiasaan Hyun Joo yang satu itu.

Hyun Joo menderap cepat ke arah Sungmin. “Apa maksudnya ini huh?!”

Sungmin menatap Hyun Joo tidak mengerti, “Apa?”

“Ini!” Hyun Joo menunjuk lehernya dan Sungmin mengangguk. “Oh itu..,”

“Apa maksudnya?” Ucap Hyun Joo tidak sabar.

“Tentu saja sebagai tanda bahwa kau itu milikku,” sahut Sungmin santai. Tanpa ada rasa bersalah.

“Tanda? Kau pikir aku ini barang?!” Sungut Hyun Joo kesal. Ini sungguh memalukan, batinnya geram.

“Ne, tanda. Itu agar kau tidak didekati Kibum atau Hyukjae lagi.”

“Lee Sungmin!!” Geram Hyun Joo sangat kesal. Hanya karena itu alasannya?

Sungmin menutup kedua telinganya, “Aku bisa tuli Hyunie sayang. Dan panggil aku Oppa mulai sekarang!”

“Andwae!!!” Jerit Hyun Joo keras.

END

9 comments

  1. Huaaaa sungmin oppa lama nich … akhirnya nyadar juga
    Sweet chingu crita nya
    G dibuatin sekuel nya ????

  2. hahahahaha, pasangan yang sangat manis, sungmin ngash tanda dan hyun joo mengamuk wkwkwk, aku suka ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s