Mommy for Daddy : Epilog

image

 

Author : Blue Rose

Title : Mommy for Daddy (Epilog)

Genre : Family, Romance

Length : Sequel

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Lee Yookyung, Lee Haera

***

Takdir. Tidak ada yang tahu dengan jalan hidup yang dilalui oleh seseorang. Datar atau terjalnya nasib seseorang semuanya sudah di atur. Dan kau–hanya bisa menjalankannya. Meskipun kau ingin memilih yang menurutmu baik, tapi jika DIA tidak menggariskannya seperti yang kau mau maka tidak ada pilihan.

*****

 Semilir angin sore di musim panas menyapa seorang gadis yang duduk di kursi kayu yang ada di taman kota. Gadis itu–Yookyung–tersenyum begitu tulus ketika Haera datang menghampirinya dengan wajah berbinar serta tersenyum riang.

“Istirahatlah dulu, Ra-ya.” Yookyung berucap pelan yang di balas dengan cengiran polos anak itu.

“Sebentar lagi,”

“Tap–”

“Setelah menangkap satu ekor kupu-kupu lagi, Haera janji, Eonnie.” Sela Haera cepat kemudian berlalu pergi sebelum Yookyung kembali mencegahnya. Setelah Haera pulang dari Rumah Sakit beberapa hari lalu, anak itu sudah terlihat seperti biasanya. Bahkan begitu semangat dan lebih banyak tersenyum.

“Obat yang paling dibutuhkan Haera hanya kau, Ann. Kumohon, demi putriku, kau harus tetap di sini.”

Yookyung hanya mampu menghela nafas ketika ingat kalimat yang diucapkan Hyukjae sebelum anak itu keluar dari Rumah Sakit. Pria itu–memohon padanya. Dan ia tidak ada pilihan lain selain tetap tinggal, di Korea. Sampai anak itu benar-benar stabil, rencananya.

Helaan nafas kembali dilakukan oleh Yookyung. Mata bulatnya terpejam seiring hembusan angin yang bertiup dari arah timur laut, pikirannya kembali ke percakapannya beberapa hari lalu dengan Kenichi.

“Aku sudah memberimu waktu, apa kau sudah memikirkan jawabannya?”

“Maafkan aku jika aku menuntut jawaban pasti darimu, Ann. Aku tahu kau menginginkan tetap tinggal, namun kau juga ingin pulang ke sini, untuk bersamaku. Tapi, jika kau memilih bersamaku namun kau tidak merasa bahagia, aku tidak akan menerimamu di rumahku.”

“Aku mengerti dengan maksudmu, baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Dan sesekali pulanglah.”

Yookyung menyandarkan kepala ke sandaran kursi di belakangnya, masih dengan mata terpejam.

Ia sudah memberikan jawabannya. Dan Kenichi mau memahami semua keputusannya. Ia tahu jika sebenarnya Kenichi begitu kecewa, tapi ia pun tidak bisa membohongi hatinya. Bahwa ia ingin tetap di sini. Menggapai cinta dan kebahagiannya.

Yookyung merasakan sesuatu yang hangat menyentuh kelopak matanya yang terpejam. Hawa panas yang menerpa wajahnya membuat gadis itu menebak-nebak, siapa yang mencuri kecupan di kedua kelopak matanya?

Detak jantung dalam rongga dada Yookyung bertalu dengan keras, membentur tulang rusuknya, seakan ingin keluar.

Gerakan halus yang terkesan begitu hati-hati namun begitu lembut sungguh menghanyutkan, membuatnya tergoda untuk membalas kecupan manis di bibirnya.

“Ann, saranghae.”

Terkejut. Yookyung membuka kedua matanya dengan cepat. Mata bulatnya mengerjap berkali-kali. Detak jantungnya semakin tak terkendali.

Donghae… Mereka–baru saja berciuman?!

Yookyung menoleh ke kanan-kiri dan ia melihat jika pria itu sedang bermain bersama Haera, menangkap kupu-kupu. Sejak kapan pria itu ada di sana? Bukankah mereka hanya datang berdua? Dirinya dan Haera.

Tangannya seketika menyentuh bibir. Ia masih merasakan kehangatan yang tersisa di bibirnya.

‘Mimpi? Tapi, kenapa begitu terasa nyata?’

“Eonnie, ayo ke sini!”

Mendengar seruan Haera membuat lamunan Yookyung teralihkan. Gadis itu melambaikan tangan kanannya, “OK!”

Dengan pikiran yang masih bingung Yookyung melangkah mendekati Donghae dan Haera yang duduk di kursi bawah pohon akasia. Tatapannya tidak lepas dari pria yang mengenakan kemeja baby blue yang terlihat begitu bersinar, di mata Yookyung. Gadis itu pun tidak tahu kenapa hari ini Donghae terlihat begitu berbeda dari biasanya.

“Ada apa?” Donghae menatap Yookyung bingung karena gadis itu terus memperhatikannya.

“Ah-tidak. Eum, sejak kapan kau datang?”

“5 menit lalu, mungkin.” Yookyung mengangguk kecil.

‘Berarti tadi itu memang hanya mimpi..,’

“Ann,”

Yookyung yang sedang menunduk dengan tatapan kosong langsung tersentak, menoleh cepat ke arah Donghae.

“Ya?”

“Besok–apa kau ada waktu?”

“Ya, ada. Kenapa?”

“Eum–kau…, apa bisa menemaniku datang ke acara reuni universitas?” Donghae berucap dengan ragu.

“Malam hari?”

“Ya, bisa?”

Yookyung tampak berpikir, Donghae harap-harap cemas menanti jawaban yang akan keluar dari bibir gadis itu.

“Baiklah,” senyum di bibir Yookyung langsung menular ke Donghae. Pria itu terlihat begitu bahagia.

Haera yang melihat keduanya saling melempar senyum ikut tersenyum penuh arti. Anak itu tiba-tiba berdiri dari duduknya–di antara Donghae dan Yookyung–kemudian menyuruh keduanya agar duduk berdekatan.

“Mau apa?” Tanya Donghae bingung karena Haera meminta ponselnya.

“Appa lebih dekat sedikit,” pinta Haera tanpa menjawab pertanyaan Donghae, tatapannya ke arah ponsel yang sedang dipegangnya.

Yookyung menggeleng lirih, ia tahu maksud Haera.

Berfoto. Ia dan Donghae.

“Appa, Haera bilang lebih dekat sedikit.” Haera menghentakkan kakinya kesal karena Donghae masih menyisakan sedikit jarak antara ia dan Yookyung. Anak itu mendekat kemudian meletakan tangan kanan Donghae di bahu Yookyung setelahnya mundur beberapa langkah, mengangkat ponselnya. Siap memotret.

“OK, hana, dul, cheese!”

Baik Donghae maupun Yookyung sama-sama tersenyum canggung. Dan perasaan berdebar semakin tak terkendali ketika Haera meminta agar mereka berganti posisi, yang menurut anak itu bagus.

 

Kaichou-wa-Maid-sama-kaichou-wa-maid-sama-17397585-500-309

***

“Ann, Donghae sudah datang, kau cepatlah keluar.” Terdengar suara Jaejoong berseru dari luar kamar Yookyung.

“Nde!”

Sekali lagi Yookyung menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di kamar. Memutar tubuhnya sekali sebelum meraih tas tangan kemudian keluar untuk menemui Donghae yang sudah menunggunya.

“Sudah lama menunggu?”

Donghae yang sedang memainkan ponselnya segera mendongak. Pria itu terpaku. Seakan waktu berhenti saat itu ketika melihat Yookyung berdiri di hadapannya, mengenakan gaun panjang berwarna kuning pastel tanpa lengan. Bahkan ia lupa caranya bernafas.

Hanya satu kata yang cocok untuk gadis itu.

Ia–cantik.

Yookyung menyerngit bingung karena Donghae hanya diam saja, bahkan ponselnya sampai terjatuh pun tidak sadar.

“Kau–baik-baik saja, Oppa?”

Donghae mengerjap, “Eoh,”

“Mau berangkat sekarang?” Pria itu mengangguk.

“Tidak apa kan kalau nanti aku menggandengmu? Kuharap, Ken tidak marah kalau kau memberitahunya nanti.” Donghae mencoba mencairkan suasana canggung di antara mereka. Yookyung yang berjalan di sampingnya menoleh, terkekeh.

“Tenang saja, aku tidak akan bilang.”

Donghae membuka pintu mobil untuk Yookyung, gadis itu tersenyum terima kasih. Setelah Yookyung masuk Donghae segera berputar arah untuk duduk di kursi kemudi. Memaju kendaraan dan berbaur bersama ratusan pengemudi lain di jalan raya yang masih ramai.

***

Acara reuni yang diadakan di halaman universitas Hayang sangat ramai. Banyak yang tidak Yookyung kenal sehingga ia hanya menjawab seadanya ketika ia dikenalkan pada teman-teman Donghae.

Dan banyak dari mereka yang mengira jika ia adalah calon ibu Haera.

Ketika ia menyangkanya, Donghae justru hanya tertawa. Sungguh tidak membantu!

Yookyung menoleh kanan-kiri untuk mencari keberadaan Donghae. Sepuluh menit sudah sejak Donghae ijin pergi ke toilet dan belum kembali.

Gadis itu merengut sebal. Acara ini memang ramai dan ada beberapa orang yang dikenalnya atau teman sekolah dulu. Tapi selebihnya Yookyung sama sekali tidak bisa menikmati acara ini.

Bosan.

Yookyung hanya duduk seorang diri di kursi yang tersedia di sana, menunggu Donghae.

‘Jangan pergi kemanapun selama aku belum kembali.’

Sekali lagi Yookyung menghela nafas. Tangannya memainkan gelas yang dipegangnya, menggoyang-goyangkan gelas itu pelan.

“Aku juga ingin ke toilet,” gumam Yookyung dengan beranjak dari tempat duduknya. Setelah bertanya pada salah satu tamu dimana letak toilet, Yookyung segera pergi setelah mengucapkan terima kasih.

“Aku tidak tahu kalau ternyata Donghae-ssi sudah mempunyai calon.”

“Ya, dan gadis itu sangat cantik.”

“Benar, tapi bagaimana dengan Ji Hyun? Aku dengar mereka dekat.”

” Tapi ketika melihat Donghae-ssi datang dengan gadis lain, kurasa Ji Hyun sudah tidak ada kesempatan lagi.”

Yookyung yang tadinya akan masuk ke dalam menghentikan langkahnya, bersembunyi di balik dinding pembatas. Ia tidak tahu siapa ketiga gadis yang membicarakan dirinya juga Donghae.

Ia penasaran, maka ia putuskan untuk mendengarnya tanpa sepengetahuan mereka.

“Ah, aku baru ingat. Kata Sungmin-ssi, gadis itu yang selalu di tunggu oleh Donghae-ssi.”

Yookyung tersentak kaget. Ia gadis yang di tunggu Donghae? Apa maksudnya?

“Bagaimana kau bisa tahu itu, Jia-ya? Dan apa maksudmu dengan selalu?”

“Kalian tahu Sungmin-ssi? Manager keuangan di perusahaan L.D Corp? Menurutnya, jika selama ini, tepatnya setelah mendiang istrinya pergi pria itu selalu menunggu kedatangan sahabatnya yang pulang ke negara asalnya. Dan gadis itu baru kembali belum lama ini,”

“Sungmin-ssi bercerita itu padamu?”

“Bukan dia, tapi adiknya, Naomi. Kami kan bersahabat. Dia yang menceritakannya padaku saat aku bilang kalau aku mengagumi Donghae-ssi. Ya, setelah tahu jika Donghae-ssi mempunyai orang yang sedang ditunggunya, aku langsung mundur.”

“Aku juga sempat terpesona padanya saat pria tampan itu melakukan meeting tempo hari. Dia begitu perfect bagiku.”

Yookyung memejamkan mata lalu menarik nafas berulang kali. Menghilangkan keterkejutan serta menormalkan detak jantungnya yang tidak terkendali setelah mendengar semua pembicaraan gadis-gadis di dalam toilet tadi. Ia memilih pergi, tidak jadi masuk ke dalam toilet.

Fakta yang sungguh mengejutkan. Donghae–pria itu menunggu kedatangannya? Apa itu artinya Donghae juga mencintainya?

Ia perlu menanyakan hal ini untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Yookyung mempercepat langkahnya kakinya. Karena begitu tergesa-gesa ia sampai tidak memperhatikan jika ada seseorang yang berjalan dengan membawa segelas jus dari arah samping kiri, sehingga terjadilah insiden kecil.

Jus jeruk yang dibawa oleh orang itu tumpah dan mengenai gaun yang dipakainya.

“Maafkan saya, Nona. Sungguh saya minta maaf.”

“Tidak apa-apa, Tuan.” Yookyung tersenyum kecil pada pria di depannya.

“Tapi gaunmu–”

“Ann!”

Yookyung segera menoleh ke samping. Donghae berlari kecil ke arahnya dengan wajah cemas. Ada apa dengan pria itu? Pikir Yookyung.

“Kau ke mana saja, huh?! Aku mencarimu. Bukankah sudah–”

“Stop!” Yookyung mengisyaratkan Donghae agar berhenti bicara dengan kedua tangan ke depan. “Aku hanya ke toilet sebentar tadi. Dan yang harusnya bertanya ‘kau ke mana’ itu aku. Kau pergi ke mana, lama sekali.” Yookyung mendengus mengingat ia duduk seorang diri tanpa teman yang bisa di ajaknya bicara.

“Maaf, tadi aku bicara dengan Sungmin Hyung juga Kyuhyun,”

“Chogi..”

Donghae dan Yookyung menoleh bersamaan. Mereka melupakan jika ada orang lain yang sejak tadi memperhatikan.

“Ah, mianhamnida, Tuan. Anda siapa?” Donghae tidak kenal dengan pria itu.

“Eum, tadi saya tidak sengaja menumpahkan minuman ke baju kekasih anda. Saya mohon maaf,” dengan cepat Donghae menoleh ke arah Yookyung. Benar, gaun bagian dada Yookyung basah. Meskipun sedikit tapi cukup terlihat jelas.

“Gwaenchana,” Yookyung kembali berkata. “Ini hanya jus, aku bisa mencuci—” Yookyung menghentikan kalimatnya dan menoleh ke arah Donghae–sampingnya–yang sedang menyampirkan jas hitam di tubuhnya. Gadis itu mengerjap lambat.

“Kau bisa sakit,” pria itu tersenyum manis.

Untuk sesaat Yookyung hanya terpaku pada senyum Donghae. Sudah lama sekali ia tidak melihat senyum Donghae seperti itu. Sampai ia tidak menyadari jika pria yang menumpahkan minuman ke gaunnya telah pergi.

“Kenapa? Terpesona padaku, hm?” Yookyung tersentak ketika merasakan punggung tangan Donghae menyentuh pipinya.

“Mwo?”

“Boleh saja terpesona padaku, asal jangan sampai berpaling padaku. Kenichi bisa menghajarku nanti.” Canda Donghae dengan senyum yang sama seperti saat lalu.

“Dia tidak akan melakukan itu,” ucap Yookyung lirih. Donghae mengangguk, “Arraseo. Dia pria yang baik dan pantas untukmu.” Kalimat terakhir Donghae terdengar ragu di telinga Yookyung. Maka gadis itu kembali menatapnya.

Ingin sekali ia mengatakan jika ia sudah menentukan pilihannya. Pilihan jika ia memilih pria yang ada di hadapannya kini. Tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk berkata jujur?

“Ann, kau baik-baik saja?” Donghae menyentuh kedua bahu Yookyung karena gadis itu diam saja dengan menunduk. “Ya, ya! Kenapa malah menangis?” Donghae langsung panik begitu Yookyung langsung memeluknya dengan sesenggukan. Pria itu mulai bingung juga malu karena menjadi pusat perhatian beberapa orang. Bahkan ada yang mulai berbisik-bisik. Donghae yakin jika mereka salah mengartikan situasinya.

“Ann, kita pulang saja.” Bisik Donghae pelan yang dijawab anggukan kecil dari Yookyung. Gadis itu masih menangis.

Sebenarnya ada apa dengannya?

***

Dua hari berlalu setelah kejadian malam itu Donghae masih memikirkan alasan kenapa Yookyung menangis. Selama itu pula pria itu terlihat uring-uringan, seperti hari ini. Dia berjalan kesana-kemari dengan terus bergumam, menyebabkan Sungmin yang baru masuk dengan membawa laporan untuk Donghae tanda tangani menaikkan sebelah alis–heran.

“Sedang memikirkan Raeann?”

Donghae menghentikan kegiatannya dan berbalik. “Bagaimana kau tahu?”

Sungmin yang bingung semakin bingung. “He?” Ia hanya menebak, tapi ternyata tepat.

“Apa terjadi sesuatu dengannya?” Sungmin berjalan semakin dekat ke tempat Donghae yang sudah duduk di kursi kerjanya. Pria yang lebih muda beberapa bulan darinya itu mengangguk.

“Aku juga tidak tahu, hanya saja ketika aku mengajaknya pergi ke acara reuni malam itu, ia menangis. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya.”

“Tidak mencoba bertanya?” Sungmin meletakan map hijau yang dibawanya ke atas meja lalu duduk di kursi, hadapan Donghae.

“Sudah, tapi dia tidak mau bicara.”

“Begitu..”

“Eh, Hyung. Kenapa kau bercerita pada Raeann kalau selama ini aku menunggunya?” Donghae menatap Sungmin tajam.

“Mwoya?! Aku tidak bercerita padanya.”

“Tapi bagaimana mungkin dia bisa tahu kalau kau tidak bercerita padanya?! Hanya kau yang tahu kan?” Donghae menatap Sungmin dengan tatapan menyelidik.

“Memang, dan aku tidak bercerita padanya. Sama sekali tidak.”

“Gotjimal.”

Sungmin menggeram tertahan. “Memang apa salahnya kalau dia tahu kenyataan itu, huh? Kau malu?”

“Tidak–”

“Lalu apa masalahnya?! Dia tahu itu dari siapa seharusnya tidak masalah, karena kemang kenyataannya begitu. Dan seharusnya kau langsung bicara jujur padanya, bodoh.” Sungmin mulai tersulut emosi menghadapi Donghae yang menurutnya lamban.

“Aku–tidak bisa. Dia sudah ada Kenichi,” cicit Donghae dengan tatapan menunduk.

Sungmin menggelengkan kepala, “Kalian ini sama saja. Gengsi terlalu besar. Mengakui perasaan masing-masing pun tidak mau meskipun sudah tahu kenyataannya. Dan siapa bilang kalau Raeann masih bersama Kenichi? Aku kasih tahu Donghae-ya, Raeann dan Kenichi sudah mengakhiri hubungan mereka beberapa hari lalu. Jika Raeann masih bersama pria itu, gadis itu sudah kembali ke Indonesia kemarin. Tidak ada di sini.” Sungmin menarik nafas lega setelah mengutarakan semuanya. Kalau dipikir, ia seperti perantara cinta Donghae dan Yookyung.

Donghae diam. Ia terlalu terkejut dengan rentetan kalimat yang diucapkan oleh Sungmin.

“Jadi Raeann pun mencintaiku?”

“Sudah jelas bukan? Kenapa masih bertanya?!” Sungut Sungmin antara kesal dan gemas.

“Kenapa masih di sini?”

“Huh? Apa maksudmu? Tentu saja aku bekerja,” sahut Donghae innocent. Sungmin menepuk kening Donghae keras sehingga pria itu mengaduh.

“Neo jeongmal pabonikayo! Kau sudah tahu Raeann mencintaimu dan kau pun sama. Seharusnya kau langsung pergi menemuinya, Donghae. Bukannya menunjukkan tampang bodohmu yang membuatku ingin mencekikmu.”

Donghae membelalakkan mata mendengar kalimat terakhir Sungmin. Mencekik? Astaga, ia masih ingin hidup!

“Hyung, kau mengerikan.” Desah Donghae dengan beringsut menjauhi Sungmin yang berdiri di balik meja kerjanya. Pria itu menatap waspada.

“Itu karena kau terlalu bodoh!” Sungmin berbalik, berjalan menuju pintu keluar. Namun ketika tangannya meraih handle pintu Sungmin kembali berbalik, “Jangan lupa tanda tangani map itu. Aku menunggu secepatnya.”

“Aigoo, aku tidak menyangka Sungmin Hyung begitu mengerikan. Dan apa tadi? Aku ini bosnya kan? Kenapa malah dia yang menyuruhku seenaknya,” Donghae menggerutui sikap Sungmin yang menurutnya sedikit berlebihan.

“Tapi.., benar juga ya, kalau aku harus menemui Ann agar semuanya jelas.” Gumam Donghae setelah memikirkan semua kalimat Sungmin tadi.

“Baiklah, setelah semua pekerjaanku selesai aku akan menemuinya. Ya, secepatnya.”

***

Panas dan gerah. Kedua hal itu yang dirasakan oleh Yookyung saat ini. Lima belas menit berlalu gadis itu menunggu kedatangan Donghae yang mengajaknya bertemu di taman kota.

Menunggu.

Tidak masalah bagi Yookyung dengan kata ‘menunggu’. Ia sudah terbiasa dengan kata itu. Tapi lain hal nya jika menunggu di tengah panas matahari yang begitu terik.

Andai saja cuacanya mendukung, tidak terik seperti siang ini, Yookyung pasti tidak akan menggerutu ataupun memaki pria itu.

Bayangkan saja, di siang yang begitu terik ini kau duduk di kursi bawah pohon akasia seorang diri. Apa itu tidak terlihat menyedihkan?

Hei, ini musin panas. Bulan July adalah yang paling panas di antara bulan lain. Bahkan panasnya melebihi panas di Indonesia.

Dan apa yang ada dipikiran pria itu saat mengatakan agar menunggunya di taman kota setelah jam makan siang? Terlebih ia yang menunggu, bukannya pria itu?

Menyebalkan.

Yookyung mengghela nafas berulangkali untuk menyejukkan hatinya yang mulai emosi karena pria itu datang terlambat.

“Kalau sampai lima menit lagi dia belum datang aku akan–”

“Maaf, Ann. Aku terlambat,”

Yookyung menatap Donghae datar. Pria itu terengah, seperti sehabis berlari.

“Kau terlambat 15 menit 57 detik, Donghae-ssi.” Ujar Yookyung dengan sengit. Entah kenapa begitu melihat Donghae ia justru semakin kesal.

Mereka seperti akan berkencan namun sang pria datang terlambat lalu gadisnya memarahi kekasihnya.

“Yang membuat janji itu kau, tapi aku yang di suruh menunggumu, di tengah siang hari yang begitu panas.”

“Aku tahu, dan aku menyesal untuk itu.” Donghae berucap sungguh-sungguh.

“Untukmu,” Yookyung menatap Donghae dengan alis terangkat sebelah. “Kau merayuku dengan ice cream strawberry?” Ujar gadis itu setengah tidak percaya.

Donghae menggeleng, “Tidak. Aku sengaja membeli ini tadi, tapi karena antriannya panjang jadi lama. Ambil lah.”

Yookyung menatap ragu. Ia sudah lama sekali tidak memakan ice cream dengan rasa itu, mungkin sejak ia pulang ke Indonesia. 8 tahun? Sepertinya.

Alasannya? Karena ketika ia bersama Donghae mereka selalu memakan ice cream dengan rasa yang sama. Dan Yookyung yang sudah bertekad melupakan pria itu maka menghilang kebiasaan yang membuatnya teringat akan Donghae. Seperti memakan ice cream dengan rasa strawberry.

“Apa kau sudah tidak suka ice cream?” Tanya Donghae bingung karena Yookyung diam saja.

“Atau mau rasa yang la–”

“Ini saja,” Yookyung secepat kilat langsung mengambil ice cream itu. Donghae tertawa kecil. Jika seperti ini, mengingatkannya ketika mereka bersahabat dulu. Makan ice cream bersama, berjalan-jalan, atau ke perpustakaan bersama.

Jika di ingat, ia jadi ingin melakukannya lagi. Ia merindukan kenangan itu.

“Rasanya masih sama,”

Donghae yang duduk di samping Yookyung dengan memakan ice cream miliknya seketika menoleh, “Tentu saja sama. Tidak akan berubah selama penjual ice cream ini tetap sama.”

“He? Jadi kau beli di kedai ice cream milik Ahn Ahjussi?” Yookyung menatap Donghae dengan mata bulatnya. Pria itu mengangguk, “Hm.”

“Ah ya, apa kau mau kembali ke masa lalu?”

Yookyung menyerngit namun kemudian tertawa. Kembali ke masa lalu? Yang benar saja! Mana ada mesin pengembali waktu di jaman ini?!

“Hei, aku serius.” Tegur Donghae karena Yookyung masih saja tertawa.

“Kau lucu sekali, eoh.”

“Ck, maksudku kembali ke masa lalu itu kita mengulang kegiatan yang kita lakukan dulu, saat kita masih remaja. Apa kau tidak merindukan masa-masa itu?” Tawa Yookyung mereda berganti dengan menatap Donghae serius.

Kalau boleh jujur, ia pun merindukan itu semua. Saat dimana mereka selalu bersama. Dan ia juga sangat-sangat ingin mengulang semua itu.

“Bagaimana?” Donghae mengerjapkan matanya cepat, mencoba membujuk Yookyung dengan aegyo yang dipelajari dari putri kecilnya ketika anak itu merajuk agar Donghae mengabulkan permintaannya.

Yookyung memalingkan wajah ke samping. Dan Donghae salah mengartikan reaksi gadis itu.

“Kau tidak ma–”

Tawa Yookyung seketika terdengar. Gadis itu bahkan sampai menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Bahunya bergetar.

“Yaaa.. Apa ada yang lucu huh?!”

“Ya. Kau!”

“Naega?!” Donghae menunjuk dirinya sendiri.

“Sejak kapan kau bisa ber-aegyo seperti itu? Aku baru tahu.”

Donghae yang sempat kesal karena Yookyung menertawakan dirinya kini menatap sayu gadis itu. Tawa Yookyung begitu khas. Bodohnya ia tidak menyadari sejak awal jika Yookyung dan Raeann adalah gadis yang sama.

“Sudah lama aku ingin melihat kau tertawa seperti ini, Ann.”

Mendengar ucapan Donghae tawa Yookyung terhenti. Gadis itu berdehem pelan untuk meredakan degup jantungnya yang berdetak tak terkendali.

“Ice cream-mu meleleh, Ann.” Yookyung tersentak mendengar seruan Donghae. Pandangannya ia alihkan ke tangan kanan yang memegang cup ice cream.

Ketika Yookyung mencondongkan tubuhnya untuk memjilat ice creamnya, Donghae pun melakukan hal yang sama. Alhasil keduanya saling berbenturan. Hidung mereka saling menempel dan bibir mereka hanya berjarak beberapa milli saja.

Jika ada orang yang melihat dari jauh dengan posisi mereka yang seperti itu pasti mengira kalau mereka sedang berciuman.

Yookyung tersadar lebih dulu, menarik tubuhnya ke belakang lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain.

Sedangkan Donghae merutuki tindakannya barusan.

“Sebaiknya kita cepat habiskan ice creamnya,” Yookyung mengucapkannya dengan sedikit terbata. Ia begitu gugup.

“Eoh,”

***

Yookyung tidak pernah bermimpi ia bisa kembali melakukan hal-hal yang sering mereka lakukan dulu. Berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, membeli novel favorit ataupun makan kue beras bersama Donghae. Semua itu seperti dulu.

Jika ada yang melihat mereka sekarang, pasti mengira mereka pasangan yang sedang berkencan.

“Rasanya seperti kembali ke masa lalu,” gumaman lirih itu dapat di dengar oleh Donghae yang sedang duduk di kursi di ruang kelas yang mereka gunakan dulu. Beberapa saat lalu Yookyung mengatakan jika ia ingin mengunjungi sekolah mereka, dari playgroup dan terakhir Sekolah Menengah Atas.

Donghae berdiri dari duduknya, berjalan ke tempat Yookyung yang duduk di meja barisan kedua dari depan. Tatapannya menuju papan tulis. Kalau dulu–saat mereka masih sekolah di sini, papan tulis itu masih hitam, menulis menggunakan kapur. Dan sekarang pun masih sama. Bahkan semua gambar dan susunan ataupun letak bangku masih tetap. Tidak ada yang berubah.

“Ya, kau benar.” Yookyung menoleh, gadis itu ikut tersenyum melihat Donghae tersenyum padanya. Jarak mereka begitu dekat.

“Tapi akhir dari yang kita lakukan dulu tidak akan sama. Aku akan mengubahnya,”

Yookyung menyerngit bingung, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Donghae maksud. Atau otaknya yang berjalan begitu lamban?

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

Donghae meraih tangan kanan Yookyung kemudian menempelkannya di dada, tepat sebelah kiri. Yookyung dapat merasakan detak jantung Donghae yang berdetak dengan keras dan cepat.

“Aku mencintaimu, Ann.”

Terpaku. Yookyung hanya menatap pria itu dengan diam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mungilnya. Ia terlalu terkejut.

“Maafkan aku karena membuatmu kecewa dan menunggu terlalu lama. Aku terlalu lamban untuk menyadari perasaanku padamu. Dan ketika aku ingin mengatakannya, mengakui semuanya, kau telah pergi. Tidak ada kesempatan untukku.” Donghae mengucapkan dengan sungguh-sungguh. Semua itu tulus.

“Aku bahkan selalu menunggumu kembali di taman kota, berharap kau akan datang. Tapi semua itu tidak pernah terjadi selama 8 tahun ini.” Donghae mengeratkan genggamannya ketika Yookyung akan menarik tangannya.

“Kumohon, jadilah istriku. Jadilah ibu bagi Haera dan bagian dari hidupku, Ann.”

“Tapi–”

“Aku tahu kau pun mencintaiku, kan? Dan Sungmin Hyung bilang kalau kau sudah menentukan pilihanmu. Kau memilihku.”

Yookyung tidak dapat berkata apa-apa lagi. Semuanya terasa seperti mimpi indah. Donghae mengatakan jika ia mencintainya. Hal yang selalu ditunggunya selama ini.

“Aku butuh waktu untuk–”

“Aku tidak memberimu waktu.” Sela Donghae cepat. Yookyung mencibir, “Egois sekali.”

“Kau sudah membuatku menunggu selama itu dan masih menginginkan waktu untuk berpikir? Aku tidak akan ijinkan. Waktumu hanya sekarang. Bukankah kau ingin aku memaafkanmu huh? Kalau begitu syaratnya hanya satu, ya atau tidak.” Sahut Donghae penuh kemenangan.

“Bukan hanya kau yang menunggu, tapi aku juga!” Kali ini Yookyung berucap dengan tegas. Mata gadis itu berkaca-kaca. Rasa sesak memenuhi rongga dada, begitu sakit.

“Aku bahkan harus menahan sakit hatiku ketika melihatmu dan Mina bersama. Aku ingin mengatakan agar jangan terlalu dekat dengannya, tapi aku tidak bisa. Mina begitu baik dan menyayangiku, aku tidak bisa menyakitinya.”

“Maafkan aku, Ann. Aku yang begitu bodoh sehingga menyakiti kalian berdua.” Donghae dengan cepat menarik Yookyung dalam pelukan. Mengusap lembut kepala gadis itu yang bersandar di dadanya. Ia baru sadar jika Yookyung begitu kecil dan rapuh.

“Uljima,” Yookyung mengeratkan pelukan mereka. Rasa bahagia begitu meluap-luap dalam dirinya. Tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya. Donghae pun merasakan hal yang sama. Kelegaan begitu terlihat dari mata hitamnya serta senyuman pria itu.

***

Hari yang dinantikan setelah penantian panjang mereka kini tercapai. Baik Donghae maupun Yookyung tidak pernah mengira sebelumnya bahwa mereka yang tadinya bersahabat kini telah resmi menjadi pasangan suami istri, beberapa menit lalu.

Keduanya saling melempar senyum. Donghae menyentuh wajah Yookyung yang bersemu merah. Gadis itu berkaca-kaca.

Hei, kenapa ia juga baru sadar bahwa Yookyung adalah gadis yang cengeng.

Donghae jadi berpikir, sudah berapa banyak airmata yang keluar dari mata indah Yookyung untuknya? Pasti tidak terhitung. Donghae yakin itu.

Yookyung memejamkan mata saat merasakan kelembutan bibir Donghae menyentuh permukaan bibirnya yang bergetar.

Manis.

“Selamat datang di kehidupan dan status yang baru, Mrs Lee.”

Yookyung terkekeh mendengar gumaman Donghae setelah pria itu memundurkan wajahnya. Helaan nafas pria itu begitu hangat, serta aroma tubuh Donghae terasa begitu memabukkan.

Jika Yookyung tidak lupa mereka masih di gereja, gadis itu sudah memeluk erat suaminya.

Sorak riuh serta tepukkan tangan menggema memenuhi ruangan. Kedua pasangan itu menolehkan pandangan mereka. Semuanya terlihat begitu bahagia, terlebih Haera yang langsung berlari ke arah mereka dan memeluk Donghae dengan tangis.

“Aigoo, putri Appa kenapa menangis, uljima.”

“Appa, ini airmata kebahagian. Jangan suruh Haera berhenti menangis,” mendengar jawaban polos putri kecilnya sontak saja Donghae dan Yookyung tertawa yang di ikuti oleh yang lain.

“Haera bahagia sekali karena akhirnya Haera punya Eomma. Jadi, Minki tidak akan mengatai Haera lagi.” Ujar anak itu dengan menatap Yookyung.

Gadis yang mempunyai julukan baru–ibu–itu tersenyum lembut. Ia ingat bagaimana sedihnya Haera ketika menangis karena olokan anak laki-laki teman sekelasnya yang mengatakan jika Haera tidak mempunyai ibu. Bahkan Haera sampai mendorong Minki hingga terjatuh dari kursinya karena marah.

Namun semuanya telah berlalu. Yookyung tidak akan melarang Haera untuk mengatakan apa yang anak itu mau. Ia menyayangi Haera seperti anak sendiri, melebihi dirinya.

“Akhirnya pasangan bodoh ini menikah juga,”

Yookyung terkekeh dan Donghae merengut mendengar ucapan Sungmin.

“Apa? Mau protes huh?”

“Tidak, karena itu benar, Oppa. Kami memang bodoh.” Jawab Yookyung dengan tertawa. Donghae yang tadinya kesal kini pun ikut tertawa. Menertawai kebodohan mereka selama ini.

“Terima kasih untuk semuanya, Hyung.” Donghae memeluk Sungmin.

“Sama-sama.”

Sungmin adalah orang yang paling banyak berperan dalam hal ini, menyatukan mereka.

“Oh, kau juga seharusnya berterimakasih pada malaikat kecil kita ini.” Lanjut Yookyung dengan mencubit gemas pipi chubby Haera. Anak itu tertawa.

“Anniya, Eomma. Ini sudah menjadi tugas Haera untuk menyatukan kalian. Karena Eomma di atas sana juga menginginkan hal ini.”

Ketiga orang itu mengangguk setuju. Namun mereka tidak menyangka jika Haera bisa berubah menjadi dewasa seperti ini.

Hei, asal kalian tahu. Haera baru berumur 6 tahun 8 bulan. Belum genap 7 tahun, tapi pemikiran anak itu sudah seperti anak remaja pada umumnya.

Haera mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berhenti di sudut ruangan paling belakang.

Seorang wanita dengan pakaian serba putih yang dikelilingi cahaya putih melambaikan tangan dan tersenyum. Maka Haera ikut tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.

‘Eomma, Haera bisa memenuhi permintaanmu. Tetaplah awasi Haera dari sisi Tuhan. Haera menyayangimu.’

 

 

 

FINISH!!

 

 

Note : Akhirnya ini epep selesai juga yah.. =D Dan sesuai harapan readers kalau happy ending. Ga menggantung kaya jemuran baju. So, jangan protes lagi. :3

Kalau di inget-inget nih, ini epep udah lumutan juga yah.. Dari awal pertama buat itu tahun 2013, mungkin hampir satu tahun.

Kalau yang baca dari versi pertama pasti tahu perbedaannya dimana. Banyak tambahan sana-sini. Meskipun alur cerita tidak saya ganti. ^_^

Oke lah, karena ini epep usah selesai maka saya ucapkan TERIMA KASIH BANYAK buat readers yang sudah setia mengikuti cerita yang aku buat. Apa lagi yang buat selalu tinggalin KOMEN dan LIKE kalian, baik itu di note Facebook atau di sini. Saya ucapkan TERIMA KASIH. #ngulang lagi :p

Pai-pai…

Sampai ketemu di cerita yang lainnya. :* *peluk dan cium suami tercinta (Donge) :3😄

46 comments

  1. akhir yg bahagia.. Bener kata sungmin oppa hae dan ann itu dua orang yg bodoh saling mencitai tp tdk ada yg mau ngaku hehe..
    Stlah skian lma akhrnya mrka bersatu jg.. Kasian jg sma ken gak dipilih yookyung

  2. pasangan bodoh yg akhirnya bersatu, gregetan juga ni ma couple, egois a minta ampun :p😀, untung aja ada sungmin oppa ma haera yg jadi malaikat.a🙂
    ditunggu next ff.a terutama yg married with millioner ff favorit gra” cast utama.a my bias eunhyuk oppa🙂

  3. Huh,Aku terharu yg bagian akhir,
    Ngek,moga kisah kita pun sama ya sayang
    #dipentungAnn.

    Ehh SeQuel lah Gimana kehidupan mereka setelah menikah,
    Lucu Deh ya.
    Ya Sequel ya,kalo Ga Ntr Si Dongek Buat Jee Ahh Ajah
    #GelarBannerHaeJee
    #Dipentung

  4. ah ga rela ne ff udahan, seneng happy ending ah haera emang hebat, stupid couple akhrnya menikah juga yey hehe, eon sequel dong, haera punya adik, ok? Aku tungguin loh

  5. haera dewasa bgt :’3 huft mina nglambaiin tgn ke haera bkin trharu :’D ngakak bgt byngin donghae aegyo >< y ampun haera nngis bhagia xD sni imo elapin :* sequel lgi oen
    adekx haera blum hdir 😀 haera jg blum tw hyukjae ayh kndungx

      1. mianhae oen :3 hihihi hbis gk rela bgt ending gra” haera imut bgt kyak ak
        xD #djitakOenRaeann

  6. happy ending..
    sweet pula..
    haeranya manis, bisa dewasa gitu..
    setela sekian lama, mereka menikah juga akhirnya.. *tariknapas..
    thor, ini ad after story ga..?? *nyengir..

  7. Akhirnya pasangan bodoh ini menikah juga. #nyontek kata kata Sungmin Oppa.
    wah chukha ne.
    Haera imut ih. suka deh..
    suka kata kata Haera yang terakhirnya.

    yey happy ending.🙂

  8. Setuju ma Sung Min oppa, Dong Hae dan YooKyung memang pasangan bodoh. Apalagi Dong Hae. Huh, dasar ikan bodoh. Wkwkwk.. *DigamparElfishy* aigo, Mina tiba-tiba muncul, jadi ingat Kuch-Kuch Hota Hai. Hhahahha… Ya udah, aku pamit. Permisi.

  9. Waaah akhir nya mereka bersat ejga🙂 dan mereka bsa saling jujur😀 oiya eon kya nya ada typo pas awal, harus nya nma donghae eeh jadi eunhyuk🙂
    di tunggu next fff nya yaa eon& ttp semangat

  10. Happy endingnya sweet bangettt…
    Dari sekian banyak cobaan yang mereka hadapi akhirnya mereka menikah jg…..🙂
    haera masih umur segitu tp pikirannya udah dewasa, salut banget deh sama haera…

  11. finally, happy ending.
    tp heyy, jujur, q pling suka bgian trakhir x,
    agak merinding sch tp x, tc kn arwah x mina ya, hoho, tp entah knpa mlah pling suka bgian itu..

  12. feelnya dapet bngt akhirnya happy end jg eon uakh keren dtnggu ff yg lainnya eon gomawo tagnya

  13. Akhirnya ending juga ni story,,
    And last mereka jd nikah,, astaga,, senang banget pas baca bagian end nya,, walo msh kurang puas sma ending ny,, tp ya,, berfantasi snd aja nnti,, kekeke,,
    Suka aja liat keimutan Haera dsni,,
    Good job thor,,,🙂

  14. akhirnya selesai,,,aku salut dg sungmin,,dan aku jg kasian dg hyukjae,,,apa lagi ken,,,gimana nasib kedua pria itu dg masalah2 mrk???

  15. Yeaayy..seneng banget
    Akhirnya happy ending😀
    Ceritanya sungguh seru,,sebenarnya dpt ide dr mana sih kok ceritanya bagus sanget. Hehehehehehehe..

    Akhirnya pasangan bodoh ini menikah juga, kata Sungmin oppa.
    Hahahahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s