My First Love Story

image

Author : Blue Rose

Title : My First Love Story

Genre : Sad romance

Length : Oneshot

Rate : General

Cast : Vega, Daniel

Jika aku diberi kesempatan sekali lagi untuk bertemu denganmu, aku ingin sekali mengatakan jika aku mencintaimu dan rasa itu masih ada hingga kini.

**

Jika ada yang bertanya padaku, kapan kau jatuh cinta? Maka akan aku jawab dengan jujur.

Cinta pertamaku saat sekolah dasar dulu–tingkat akhir. Apa itu terdengar lucu?

Seorang bocah yang belum mengerti akan cinta tapi sudah mengklaim bahwa itu adalah cinta pertamanya.

Tapi itu benar, saat sekolah dasar tingkat akhir, aku dapat merasakan perasaan berdebar-debar dengan lawan jenis. Aku akan merasa malu hanya dengan bertatap muka dengannya, melihatnya dari jarak dekat ataupun secara tak sengaja bersentuhan dengannya.

Dia…

Daniel Krugman.

Anak yang pintar di sekolahku. Selalu menjadi juara satu di sekolah bahkan ia dapat meraih juara 2 tingkat kota.
Posturnya tinggi, putih, hidung mancung dan–baik. Aku menyukai semua yang ada padanya.

Meskipun tahu aku menyukainya, namun aku sama sekali tidak berani mengungkapkan perasaan ini. Hingga suatu hari ia mengetahuinya melalui teman dekatku, Salma.

Dia marah.

Sejak saat itu, kami tidak pernah bertegur sapa satu sama lain.
Kenyataan itu membuatku sedih dan sakit.

Aku masih bisa terima jika ia marah karena aku menyukainya. Tapi satu hal yang tidak kuinginkan darinya. Dia menjauhiku.

Sejak saat itu pula aku tidak pernah berani menyapanya lebih dulu begitupun sebaliknya. Meskipun, saat kami sekolah menengah pertama tingkat dua, kami satu kelas bahkan satu kelompok. Seharusnya, kesempatan itu kugunakan untuk menanyakan alasan kenapa ia begitu marah. Tapi sayangnya, aku terlalu pengecut untuk sekedar bertanya.
Kesempatan itu lewatkan begitu saja.

Bertahun-tahun setelah lulus sekolah menengah pertama, aku dan dia sama-sama melanjutkan ke sekolah atas. Kali ini berbeda tempat sehingga aku tidak bisa melihatnya lagi.
Dan aku pun tidak tahu bagaimana kabarnya. Hingga suatu hari, aku mendapatkan nomor ponselnya dari salah satu teman sekolahnya yang kebetulan salah satu temanku dulu–saat sekolah dasar.

Kucoba hubungi ia, tersambung. Dengan degup jantung yang berdebar tak terkendali, aku menunggu.

“Hallo…”

Rasanya seperti meleleh hanya mendengar suaranya saja. Berlebihan memang, tapi itulah yang aku rasakan.

“Hai, bagaimana kabarmu?”

Dia tidak langsung menjawabnya. Mungkin bingung karena detik berikutnya ia bertanya, “Siapa ini?”

Kini aku yang kebingungan. Aku harus menjawab apa?
Dan kenapa bibir ini terasa kaku untuk mengucapkan sebaris kalimat.

“Ak–ku, Jeani..”

Bodoh. Aku justru menggunakan nama lain. Bukan namaku. Tapi.., sudah terlanjur.

“Jeani? Kurasa, aku tidak kenal dengan nama itu.”

Lagi, aku merutuki kebodohanku. Tentu saja ia tidak kenal dengan nama itu. Maka terpaksa aku berbohong, mengatakan jika aku–Jeani–adalah teman Vega. Sepertinya ia mengerti karena ia bertanya bagaimana Vega–namaku yang sebenarnya.

Kami bicara cukup lama hingga akhirnya ia harus mengakhiri panggilan karena ada les private, aku mengerti. Dengan berat hati mengakhiri panggilan kami.

Satu yang dapat aku simpulkan darinya. Daniel tidak berubah.

Jika kau bertanya apa aku bahagia?

Akan aku jawab, ya.

Sepertinya aku sudah mulai gila karena hal ini. Hanya mendengar suaranya aku sudah tersenyum-senyum sendiri. Bahkan, Kakakku–Justin–mengatakan hal demikian.

Tapi kebahagian itu tidak berlangsung lama karena beberapa minggu kemudian, dia tahu yang sebenarnya.

Bahwa aku, adalah Vega. Bukan Jeani.

Daniel kembali marah. Mengingatkanku akan kejadian beberapa tahun silam. Aku bahkan sampai menangis setelahnya.

Namun ada yang berbeda, meskipun kebohonganku terbongkar dan aku harus merasakan kembali rasanya sakit hati. Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya perihal kejadian dulu.

“Kenapa kau harus marah padaku setelah mengetahui aku menyukaimu?”

Daniel tidak langsung menjawab. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan saat itu. Hanya bisa menebak-nebak bagaimana reaksinya saat ini, saat menelponku.

“Aku tahu kau tidak menyukaiku. Aku bodoh, ceroboh dan–tidak cantik. Kau tidak mungkin menyukai gadis sepertiku, kau pasti sangat membenciku saat itu. Iya, kan?” suaraku bergetar. Aku yakin Daniel bisa merasakannya.

“Aku sama sekali tidak pernah membencimu, Ve.” suaranya terdengar begitu tulus.

Dalam hati, aku bertanya-tanya. Benarkah ia tidak membenciku?

“Lalu kenapa kau menghindariku, Dan?”

Tentu aku ingin tahu alasannya bersikap acuh seperti itu. Aku perlu tahu!

“Kau masih ingat Salma? Dia yang melarangku.”

Aku terkejut. Sangat.
Sama sekali tidak menyangka jika Salma dapat berbuat seperti itu. Yang aku tahu, dia gadis yang baik. Salma adalah sepupu sekaligus tetangga Daniel. Kami berteman cukup baik, bahkan dia yang memberiku dorongan agar aku tidak menyerahkan untuk mengejar Daniel. Kupikir Salma setuju jika aku dan Daniel bersama. Tapi nyatanya…

“Salma tidak suka jika aku dekat denganmu ataupun berhubungan denganmu, Ve.”

“Kenapa?” suaraku semakin serak. Aku bahkan sampai menutup mulut agar Daniel tidak mendengar isak tangisku.

“Bukankah kau tahu saat itu aku menjalin hubungan dengan Rennie? Ya, karena alasan itu. Salma tidak ingin aku putus dengan Rennie, Ve.”

Aku mengerti. Salma dan Rennie adalah teman akrab. Aku pun mendengar kabar bahwa Daniel dan Rennie menjalin hubungan. Tapi aku tidak percaya, karena Rennie pun tidak mengakuinya saat aku tanyakan perihal itu.

Sungguh, saat itu aku terlalu bodoh dan juga naif.

“Lalu kenapa saat sekolah menengah pertama pun kau tetap acuh padaku? Bahkan saat kita camping kau–bersikap dingin padaku. Seolah-olah kau tidak mengenaliku.”

“Aku minta maaf untuk itu, Ve. Tapi sungguh, tidak ada niatku untuk menjauhi ataupun membencimu. Tidak pernah ada.”

Aku tidak tahu ia bicara jujur atau tidak.

“Ve, kau dengar kan?”

“Ya, aku dengar Dan..”

“Maaf.”

“Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena sudah membohongimu juga menyukaimu…”

“Tunggu, kau tidak mungkin masih menyukaiku kan? Ini sudah lebih dari 5 tahun, Ve..”

“Sayangnya kau benar Dan.. Aku–masih menyukaimu hingga detik ini.”

Aku yakin jika Daniel pasti terkejut setelah mendengar jawabanku. Biarlah, biar dia tahu.

Meskipun aku tahu perasaanku tidak akan pernah terbalaskan.

“Vega…”

“Apa? Aku tahu kau tidak menyukaiku, kau hanya menganggap aku teman. Benar kan?”

“Maafkan aku..” suaranya terdengar begitu lirih.

Apa ia menyesal karena tidak bisa membalas perasaanku?

Entahlah..

“Tidak apa, sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan.”

“Kau dimana sekarang?”

“Aku– di hatimu.” Hanya mencoba mencairkan suasana. Sungguh, aku tidak ingin jika ia mengakhiri sambungan ini. Aku masih ingin mendengar suaranya!

“Aku bertanya sungguh-sungguh, Ve..”

Baiklah, mungkin ia memang ingin tahu keberadaanku.

“Aku di California, Dan..”

“Kapan kau pulang?”

“Tidak tahu,” itu benar. Aku memang tidak tahu kapan aku pulang.

“Dan?”

“Ya?”

“Bisakah, kalau aku pulang nanti dan kau belum menikah, kita bisa bertemu?”

Dia tertawa. Aku bingung apa yang ia tertawakan.

“Tentu saja, Ve. Dan kenapa dengan aku belum menikah? Kalau seandainya kita sudah menikah pun kita tetap bisa bertemu. Kau bawa suamimu dan aku bawa istriku. Kita adakan reuni.”

Airmata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata tanpa di perintah kembali mengalir.

Kenapa kau bisa bicara selepas itu? Tidakkah kau tahu bahwa aku menyukaimu? Atau kau lupa?!
Aku tidak tahu apakah aku bisa membuka hatiku untuk orang lain atau tidak. Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk menyukai pria lain.

“Baiklah, akan aku tagih janjimu jika aku sudah pulang nanti.”

“Tentu saja, aku akan menanti saat itu. Kalau begitu, kita sudahi ya? Aku harus pergi.”

Ingin kukatakan, jangan.
Tapi aku sadar. Tidak berhak.

“Ya, sampai jumpa Dan. Aku harap kau tidak pernah membenciku.”

“Aku tidak pernah membencimu, Ve. Bukankah sudah aku katakan alasannya? Okey, sudah ya. Aku benar-benar harus pergi sekarang. Maaf, bukannya aku tidak ingin–”

“Aku tahu. Kau akan pergi dengan kekasihmu bukan? Ini hari minggu, tentu kau ingin jalan-jalan.”

“Vega…”

“Sudah sana pergi, bye-bye.” tanpa menunggu jawabannya aku memutuskan sambungan kami. Terlalu sakit untuk mengakuinya.

Daniel sudah mempunyai kekasih.

Lalu aku?
Selama 5 tahun ini hanya ada satu nama dalam hatiku. Daniel Krugman.

Aku berharap, dia mendapatkan pasangan yang baik yang selalu mencintainya. Biar bagaimana pun, aku tetap ingin yang terbaik baginya.

Tuhan, hingga saat kami dipertemukan lagi. Tolong jaga hati dan kuatkan aku jika seandainya ia sudah bersama yang lain.

END

3 comments

  1. minta sequel …….T.T nyesek aku bacanya…pengen tau gmn kelanjutannya apa cinta vega tetap bertepuk sebelah tangan atau terbalaskan…hmmmm….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s