Marrying with Millionare Part 4

image

Author : Blue Rose

Title : Marrying with Millionaire Part 4

Genre : Marriage live, Romance, Family

Length : Series

Rate : NC17

Cast : Lee Hyukjae, Kim Jaekyung

Note : Saya mohon maaf sebelumnya karena lama post ini FF. Dan maaf juga kalau di part sebelumnya yang kalian bilang kependekan ataupun yang bilang conflict nya belum muncul. Part ini mungkin lebih pendek dari sebelumnya, jadi, bagi yang mau protes saya sarankan jangan baca. Saya rasa sudah cukup panjang cuap-cuap gaje saya ini, silahkan langsung baca, bagi yang mau. Dan saya ucapkan TERIMA KASIH BANYAK buat readers yang selalu tinggalin komen kalian.
Happy Reading!!!
*****

Malam semakin larut dan suhu semakin menurun. Namun sama sekali tidak berpengaruh terhadap seorang wanita yang sedang duduk di balkon kamar dengan memandang langit yang hitam pekat. Tidak ada satu bintang pun yang bersinar.

Hyukjae yang baru memasuki kamar dan berniat akan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan bersiap tidur, mengurungkan niatnya ketika melihat pintu kaca balkon kamar terbuka.

Jaekyung belum tidur. Ini sudah hampir tengah malam dan wanita itu masih di sana. Hyukjae yakin jika ada yang mengganggu pikiran istrinya. Tapi apa?

Setelah pulang dari supermarket tadi sore, wanita itu tidak banyak bicara. Bahkan saat makan malam pun Jaekyung hanya menjawab seadanya ketika ditanya. Pembicaraan hanya di dominasi oleh dirinya dan Jeeah.

Hyukjae memutuskan untuk menghampiri Jaekyung.

“Ada yang mengganggu pikiranmu, Yeobo?” Jaekyung tersentak dari lamunannya. Hyukjae berdiri di belakangnya dengan jarak setengah meter, bersandar di pintu kaca.

“Obseyo,”

Hyukjae memicing, “Gotjimalyo.”

Jaekyung berdiri dari duduknya, menghampiri Hyukjae kemudian mengalungkan kedua tangan ke leher suaminya lalu tersenyum.

“Aku bicara jujur, suamiku.”

Hyukjae mendengus, “Kita sudah menikah, Kyungie. Aku suamimu, tapi kau masih tidak mau jujur padaku?” Terselip nada kekecewaan dari kalimat Hyukjae. Pria itu menurunkan tangan Jaekyung kemudian berbalik, hendak meninggalkan Jaekyung sebelum wanita itu memeluknya dari belakang.

“Maafkan aku, Hyuk-ah. Aku hanya..”

Kenapa rasanya sulit sekali untuk bicara jujur? Maki Jaekyung pada dirinya.

“Kumohon, jangan marah.” Pinta wanita itu lirih dari balik punggung Hyukjae.

“Kalau begitu ceritakan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu sekarang. Kau berubah pendiam setelah pulang dari supermarket.” Hyukjae membalikkan badannya, menyentuh wajah Jaekyung lembut.

Jaekyung menatap Hyukjae dalam. Haruskah ia bercerita pada pria ini? Tentang Hongki.

“Jaekyung-ah…”

Wanita itu memejamkan mata saat Hyukjae mengecup pelipisnya kemudian kembali menatap Hyukjae.

“Kau janji tidak akan marah kalau aku bercerita?” Hyukjae tersenyum, mengecup bibir Jaekyung sekilas.

“Tidak.”

“Meskipun aku bercerita pria lain?” Tanya Jaekyung takut. Hyukjae memejamkan mata sesaat kemudian menggelengkan kepala, “Apa ini ada hubungannya dengan pria yang mencampakkanmu dulu?” Jaekyung mengangguk dengan berat hati.

Hyukjae yang melihat istrinya sedih segera memeluknya, mengusap punggung Jaekyung lembut.

“Kalau kau merasa sakit jika bercerita, sebaiknya jangan diceritakan. Dan aku pun tidak jamin aku bisa mendengar semua yang kau ceritakan nanti,”

Jaekyung membalas pelukan Hyukjae lebih erat. Dalam hati, Jaekyung sangat bersyukur karena mempunyai suami yang begitu pengertian seperti Hyukjae, begitu lembut serta penuh kasih.

“Hyuk..”

Jaekyung melepaskan pelukan mereka, memandang pria yang juga menatapnya.

“Kau mau berjanji satu hal padaku?” Hyukjae menyerngit. “Berjanji?” Ulang pria itu.

“Ya, apa kau mau?”

“Ya, apa?”

“Bantu aku lupakan Hongki,” ujar Jaekyung sungguh-sungguh. Hyukjae mengerjap beberapakali. “Buat aku hanya mencintaimu. Kumohon.” Jaekyung menatap suaminya penuh harap.

Ia benar-benar ingin melupakan kenangan tentang pria bernama Lee Hongki. Karena sudah ada Hyukjae di sampingnya.

Akan sangat tidak adil jika ia masih terus mengingat pria yang sudah menyakitinya. Tidak adil bagi Hyukjae yang menerimanya dengan tulus. Sehingga ia memutuskan untuk membuka hatinya hanya untuk pria yang sudah menjadi suaminya ini. Lee Hyukjae.

Memulai kehidupan baru dengan didampingi pria ini. Menjalani hidup kedepannya dengan Hyukjae.

‘Eonnie, aku yakin Hyukjae Oppa bisa membuatmu bahagia. Lupakan pria kurang ajar itu dan bukalah hatimu untuk Hyukjae Oppa.’

Apa yang dikatakan Jeeah harus Jaekyung coba. Tidak ada salahnya ‘kan?

“Kau yakin dengan itu?”

Jaekyung mengangguk tegas.

“Kalau kau sudah benar-benar menjawab, maka tidak akan aku biarkan kau untuk pergi kemanapun tanpa ijinku.”

Jaekyung tahu. Dan ia pun tidak ada niatan untuk pergi dari sisi Hyukjae.

“Aku serius. Buat aku hanya mencintaimu, Hyuk-ah.”

“Bagus, dan aku tidak ijinkan kau untuk menarik kata-katamu lagi.”

“Aku tidak berniat menarik kembali kata–” Jaekyung cukup terkejut dengan ciuman Hyukjae yang tiba-tiba. Namun hanya sesaat sebelum akhirnya membalas ciuman Hyukjae lebih dalam.

Dalam balutan kelamnya malam kedua orang itu saling menghangatkan. Memberikan apa yang mereka cari. Mendaki puncak kenikmatan bersama-sama, saling mengerang menyebutkan nama masing-masing. Tidak ada hal yang lebih indah jika melakukannya dengan orang yang dicintai.

***

“Kyungie,” panggilan Hyukjae begitu lirih dan terputus. Jaekyung mengusap titik keringat di pelipis serta kening Hyukjae dengan tangannya. Mengecup bibir pria itu dan melumatnya beberapa kali sebelum merebahkan tubuhnya, menindih Hyukjae yang berbaring di bawahnya.

“Apa?” Sahut Jaekyung pendek. Kedua tangannya ia letakan di dada pria itu. Tubuh mereka saling menempel dan lengket. Nafas keduanya saling memburu setelah pelepasan mereka yang kesekian kali.

“Aku baru tahu kalau kau bisa begitu liar,” ucap Hyukjae mengingat cara bercinta mereka malam ini. Kali ini Jaekyung yang memegang kendali, ia hanya mengimbangi saja. Dan ia tidak menyangka jika Jaekyung bisa seperti itu.

Jaekyung terkekeh kecil, memukul pelan dada bidang Hyukjae.

“Kau yang mengajariku,” cicit Jaekyung malu. Hyukjae tergelak. “Oh ya?”

“Hm,” wanita itu mengangguk kecil. Hyukjae mengusap punggung Jaekyung, menggoda wanita itu.

“Yeobo..”

“Ya..”

“Apa kau tidak merasa bosan di rumah sendiri selama aku pergi ke bekerja?”

Jaekyung sedikit mendongak, menatap Hyukjae yang sedang menatapi langit-langit kamar.

“Sedikit. Kenapa? Apa kau akan membiarkanku bekerja?” Ujar Jaekyung antusias.

“Tentu saja tidak.”

“Cih, lalu kenapa bertanya?! Sudah tahu jawabanku bukan.” Sungut Jaekyung kesal. Ia pikir Hyukjae bertanya seperti itu akan memberinya pekerjaan.

“Aku hanya berpikir, rumah ini kan besar, kau pasti bosan di rumah sendirian. Meskipun sekarang ada Jeeah juga para pekerja, tapi aku yakin kau ingin punya kesibukan.” Jaekyung membenarkan kalimat Hyukjae.

“Lalu?”

“Sepertinya dengan hadirnya bayi di rumah ini akan ramai, kau pun jadi ada kesibukan.” Jaekyung membenarkan posisinya, bangun dari rebahnya yang menindih Hyukjae. Menatap pria itu penuh tanya.

“Kau ingin seorang anak, Hyuk?” Tanya Jaekyung pelan. Wanita itu dapat melihat jika Hyukjae mengangguk kemudian tersenyum.

“Ya, sepertinya menyenangkan mempunyai bayi mungil di rumah ini. Aku dengar dari Yesung Hyung, kalau rasa lelahmu setelah seharian bekerja akan menguap begitu saja saat kau pulang ke rumah dan melihat anakmu, menyambut kepulanganmu bersama istri. Aku juga ingin merasakannya.” Hyukjae berucap dengan antusias serta berbinar.

Jaekyung memeluk Hyukjae lagi ketika pria itu menanyakan ketersediaannya mempunyai anak.

“Tentu saja aku mau. Kurasa, mengurus bayi suatu hal yang menyenangkan meskipun sedikit repot.”

“Pasti repot,” timpal Hyukjae setuju.

“Ya, tapi bukankah setiap wanita yang sudah menikah menginginkan seorang anak agar kehidupannya sempurna? Aku juga ingin seperti itu.”

“Jadi, kau mau, hm?”

Jaekyung mengangguk kemudian mengecup bibir Hyukjae dalam.

“Bagaimana kalau besok kita ke dokter untuk menanyakan kondisimu?” Ujar Hyukjae memberi saran.

“Baiklah. Sekalian meminta saran yang bagus padanya,” sahut Jaekyung dengan tertawa. Ia sudah membayangkan bayi mungil berada dalam gendongannya. Betapa bahagianya ia.

“Ya. Dan sebelum itu, sebaiknya kita juga harus berusaha keras agar malaikat kecil kita cepat hadir.” Hyukjae tersenyum seduktif. Jaekyung menatap waspada.

“Maksud–yaaa.” Jaekyung memekik ketika Hyukjae membalik posisinya, menjadi Jaekyung yang di bawah tubuhnya.

“Hyuk–egh.” Jaekyung melenguh saat merasakan pusat tubuh mereka yang masih menempel tertekan akibat Hyukjae yang condong ke arahnya.

Rasa sesak itu kembali Jaekyung rasakan. Hyukjae yang melihat istrinya memejamkan mata dengan menggigit bibir bawah segera mengecupinya. Meninggalkan jejak kepemilikan di leher Jaekyung yang sudah penuh tanda kemerahan.

“Apa kau tidak lelah, Hyuk-ah.” Jaekyung kembali mendesah ketika Hyukjae kembali menggerakan tubuhnya. Menghujamnya dengan keras sehingga lenguhan dan jeritan keluar dari bibirnya.

“Aku suka suaramu, sayang. Terdengar begitu sexy di telingaku.” Hyukjae mengecupi pelipis Jaekyung sebelum beralih ke telinga wanita itu. Menggodanya.

Jaekyung memeluk punggung basah Hyukjae ketika gelombang itu kembali datang. Kepalanya mendongak dan punggungnya terangkat sehingga memudahkan Hyukjae untuk memuaskannya.

Jeritan serta lenguhan mereka saling bersautan saat keduanya merasakan ledakan itu datang dalam waktu bersamaan.

Jaekyung membantu menekan tubuh Hyukjae agar masuk lebih dalam sehingga pria itu bisa menjangkaunya.

Keduanya terengah, saling melempar senyum.

“Kyungie..”

“Hm,” Jaekyung yang menutup mata segera membukanya, membalas tatapan Hyukjae.

“Bagaimana kalau sekali lagi?”

Jaekyung mencubit gemas perut pria itu. Hyukjae tertawa. “Aku hanya bercanda. Aku tahu kau lelah.”

“Tentu saja, bodoh. Kau yakin besok badanku remuk.” Ujar Jaekyung setengah ngeri membayang ketika ia bangun esok pagi. Mereka melakukannya lebih dari 4 kali.

Ah, ia tidak mau membayangkan bagaimana hari esok.

“Kalau begitu fidurlah.” Jaekyung kembali mengangguk. Hyukjae berguling ke samping, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.

Jaekyung memeluk Hyukjae, bersandar di dada pria itu kemudian memejamkan mata.

“Selamat tidur,” gumam Jaekyung lirih.

***

“Kau baik-baik saja, Eonnie?” Jeeah yang baru saja duduk di kursi makan memandang kakaknya dengan alis mengerut. Jaekyung terlihat aneh pagi ini. Cara berjalan wanita itu begitu pelan dan terkesan sangat hati-hati.

Jaekyung hanya menunjukkan senyum kaku. Sedangkan Hyukjae yang duduk di kursi kepala keluarga menahan senyum dari balik koran yang sedang di bacanya.

Jeeah beralih ke arah Hyukjae, menatap pria itu dengan menyelidik kemudian menepukan kedua tangannya.

“Ah, aku tahu. Apa Kakak ipar semalam bermain kasar padamu, Eonnie?”

Jaekyung yang sedang mengiris tomat langsung menoleh dan melemparkan tatapan tajam. Sedangkan Hyukjae yang meminum kopinya langsung tersedak, terbatuk-batuk.

Jeeah tertawa tanpa dosa. Ia tahu tidak seharusnya mencampuri urusan pasang pengantin baru ini, tapi sifat usilnya itu susah untuk dihilangkan.

“Kim Jeeah.” Geram Jaekyung sengit.

“Mwo? Aku benar kan?” Jeeah justru menantang Jaekyung. Menunjukkan senyum tanpa dosa.

“Oppa, seharusnya kau bermain dengan lembut. Jangan kasar. Aku beri tahu padamu, Eonnie itu menyukai pria yang romantis.”

Hyukjae yang mengelap mulutnya menatap Jeeah dengan berbinar. “Oh y?”

“Ya,” sahut Jeeah semangat.

Jaekyung yang melihat keduanya asyik bicara tentang cara-cara yang tidak seharusnya Jeeah bicarakan segera menyela.

Astaga, dapat informasi dari mana gadis itu mengenai making love?! Tidak mungkin di sekolah ada pelajaran seperti itu.

“Kim Jeeah, cepat habiskan sarapanmu. Dan kau–” Jaekyung menunjuk Hyukjae dengan jari telunjuknya. “Cepat habiskan sarapanmu lalu bekerja.”

“Arraseo,” sahut Jeeah dan Hyukjae bersamaan.

***

Tidak ada hal yang paling membahagiakan bagi seorang ibu bisa bertemu kembali dengan anaknya setelah sekian lama tidak bertemu.

Rasa bahagia yang meluap tergambar jelas di wajah tua yang duduk di kursi berhadapan dengan kedua anaknya. Jaekyung dan Jeeah.

Wanita itu–Ahn Sungjae–tersenyum haru.

“Kudengar, kau sudah menikah Kyungie. Kenapa tidak kau ajak suamimu?”

“Dia sibuk,” Jaekyung menjawab tanpa menatap wanita yang telah melahirkannya.

Sungjae tersenyum miris, ia tahu Jaekyung masih belum bisa memaafkannya.

“Begitu..” lirihnya sedih.

Jeeah yang sedari tadi diam mengambil alih, mencoba mencairkan ketegangan antara mereka. “Bagaimana keadaan Eomma? Sudah lebih baik?”

“Ya, terima kasih kau sudah mengkhawatirkanku, Jee-ie. Dan terima kasih juga karena kalian bersedia datang menemuiku.”

“Eomma ini bicara apa, tidak perlu seperti itu. Sudah seharusnya kan kami mengunjungimu.” Ujar Jeeah dengan senyum, berbeda dengan Jaekyung yang hanya menunjukkan raut datar. Bahkan wanita muda itu diam saja.

Sulit sekali bagi Jaekyung untuk memaafkan Ibunya. Rasa sakit hati itu masih ada. Luka yang di goreskan Ibunya begitu dalam, sulit untuk menutup luka itu.

Sebenarnya Jaekyung sudah menolak ajakan Jeeah untuk menemui Ibunya, tapi Jeeah terus saja membujuknya beberapa terakhir ini agar ikut dan menemui Ahn Sungjae, ibunya. Wanita yang telah tega meninggalkan keluarga demi pria kaya.

Kebencian dalam diri Jaekyung terhadap Ibunya semakin menumpuk ketika mengingat wanita itu datang ke rumah dengan membawa pria lain. Mengatakan jika ia harus menjaga baik-baik adiknya yang masih berumur 7 tahun.

Apa itu yang disebut seorang Ibu?!

Saat itu Jaekyung tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan Ayahnya pun langsung jatuh sakit ketika tahu istrinya pergi dengan pria lain setelah ia kembali pulang ke rumah.

Jaekyung tidak tahu rasa bencinya terhadap Sungjae bisa hilang atau tidak. Dia adalah type orang yang sulit memaafkan kesalahan seseorang.

“Jaekyung-ah,” panggilan halus itu menyadarkan Jaekyung dari lamunan. Wanita itu menoleh, menatap Ibunya yang juga menatapnya. Mereka hanya berdua. Kemana Jeeah? Pikir Jaekyung saat sadar adiknya yang duduk di samping kanan sudah tidak ada.

“Jeeah pergi ke toilet sebentar,” ujar Ibunya yang mengerti jika Jaekyung mencari Jeeah.

“Kyungie..”

“Jangan sebut aku seperti itu,” tukas Jaekyung tajam.

“Kau masih marah pada Ibu?”

Jaekyung mencibir, “Ibu? Siapa yang kau maksud Ibu?”

Sungjae menghela nafas lirih, matanya berkaca-kaca. “Aku minta maaf untuk semua kesalahan yang aku lakukan dulu, Jaekyung-ah. Aku tahu kau marah dan mungkin membenciku. Tapi biar bagaimana pun aku tetap Ibumu.” Suara wanita itu begitu lirih.

“Kau datang terlambat, nyonya.”

Biarlah orang mengatai Jaekyung anak yang kurang ajar atau yang lainnya, karena tidak mau mengakui wanita yang duduk di depannya saat ini adalah ibunya. Rasa sakit hati dan benci membuat Jaekyung tidak membuka pintu maaf bagi Ibunya.

“Permohonan maafmu sudah terlambat, nyonya Ahn.” Ulang Jaekyung sekali lagi.

“Jaekyung-ah…” setetes air bening telah lolos dari sudut mata Sungjae.

“Kemana anda selama 10 tahun ini? Kenapa baru meminta maaf sekarang?” Suara Jaekyung begitu dingin dan tajam. Wanita yang memasuki usia lanjut itu menunduk, merasa bersalah.

“Aku tahu kau sangat kecewa padaku, dan aku pun tidak pantas meminta maaf padamu. Tapi, kau tetap putriku, Jaekyung-ah.”

Jaekyung tidak merespon. Ia hanya diam dengan memperhatikan Ibunya yang menangis.

Jika dulu saat mereka masih bersama, Jaekyung tidak akan pernah membiarkan Ibunya meneteskan airmata sama sekali. Tapi tidak dengan sekarang. Semuanya telah berubah. Dan Ibunya ini yang merubahnya.

“Benar aku memang putrimu, tapi itu dulu. Sebelum kau pergi meninggalkan kami. Aku tidak tahu apa yang membuatmu memilih pria kaya itu dibanding keluargamu. Kau dengan teganya meninggalkan Jeeah, dia masih membutuhkan kasih sayang darimu. Tapi dimana hatimu, huh?” Jaekyung berucap dengan tegas. Kemarahan jelas terlihat di wajah wanita muda itu.

“Jaekyung-ah…”

“Jangan pernah menyebut namaku lagi, nyonya Ahn.”

“Eonnie!” Jeeah yang baru saja kembali dari toilet menyentak kakaknya.

Ia tidak suka nada bicara Jeeah pada Ibunya. Terkesan dingin, tidak bersahabat.

“Jeeah, ayo pulang.” Jaekyung segera berdiri dari duduknya dan menarik Jeeah yang menenangkan sang Ibu. Gadis itu menolak.

“Aku pulang nanti saja,”

“Begitu… Tidak masalah.” Jaekyung segera berlalu dari tempat itu. Jeeah hanya mampu menghela nafas jengah. Sampai kapan Jaekyung akan seperti ini? Menghukum Ibu kandungnya?

“Maafkan Eonnie, Eomma.” Dengan lembut Jeeah mengusap pipi tirus Ibunya.

“Tidak apa, Jee-ie.”

“Tidak bisa seperti itu, Eomma. Eonnie sudah keterlaluan. Aku tahu dia kecewa padamu, tapi tidak seharusnya juga ia bersikap seperti tadi. Biar bagaimanapun, kau tetaplah Ibunya.”

Nyonya Ahn memeluk putri bungsunya sayang. Ia sangat berterima kasih karena ada Jeeah yang begitu pengertian. Meskipun ia sudah menceritakan semua kejadian dulu pada putri kecilnya ini, Jeeah tetap memberinya maaf.

“Aku akan membujuk Eonnie agar memaafkan Eomma. Tenang saja.” Hibur Jeeah dengan memeluk erat sang Ibu.

***

Entah apa yang ada dipikiran Jaekyung saat ini sehingga terus duduk di halte bus selama berjam-jam. Sejak ia keluar dari café tempat ia bertemu dengan Ibunya, Jaekyung tidak langsung kembali ke rumah, melainkan tetap duduk di sana seorang diri, tanpa ada niatan untuk naik bus ketika orang-orang mulai memasuki bus yang mereka tunggu, menyisakan dirinya.

Hari tidak bisa lagi dikatakan sore begitu lampu-lampu jalanan mulai menyala, memberikan cahaya temaram.

Jaekyung mengusap sudut mata yang basah. Ia–menangis.

Jaekyung sadar jika perkataannya siang tadi ketika bicara dengan wanita yang telah melahirkannya kelewatan. Atau bahkan bisa dibilang keterlaluan. Tapi, ia masih belum bisa menerima alasan apapun yang dikatakan Ibunya.
Salahkah jika ia marah pada Ibu yang telah meninggalkan keluarga hanya demi pria lain?

Deringan ponsel dari tas membuat Jaekyung tersadar, ia segera mengambilnya.

“Hallo…”

“Kau dimana? Kenapa belum pulang?” Terdengar suara Hyukjae dari seberang sana, pria itu pasti sangat khawatir sekarang.

“Aku keluar sebentar, Hyuk.”

“Pulanglah, Kyungie. Kau tidak tahu betapa cemasnya aku, huh?!”

“Aku tahu, tapi aku masih ingin sendiri. Nanti aku akan pulang, jangan khawatir.” Sahut Jaekyung menenangkan Hyukjae.

“Bagaimana aku tidak khawatir kalau kau sendirian di luar sana?”

Jaekyung tersenyum samar. Hyukjae begitu mengkhawatirkannya, ia senang dengan fakta itu.

“Aku janji akan baik-baik saja sampai aku pulang nanti,”

Terdengar helaan nafas pria itu, “Kau mau menyendiri samapi kapan, hm? Mau menghukum dirimu sampai mana?”

Jaekyung menyerngit tidak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Dengarkan aku istriku yang bodoh,

“Yaaa…” Rajuk Jaekyung jengkel. “Apa maksudnya dengan aku menghukum diriku sendiri?”

“Maksudku, mau sampai kapan kau akan terus membenci Ibumu? Kau tahu, rasa benci itu tidak hanya menyakiti Ibumu, sayang. Tapi juga dirimu dan Jeeah. Aku yakin kalau Ayahmu di atas sana pun akan mengucapkan hal sama denganku kalau dia masih ada.” Jaekyung terdiam, menyimak kalimat Hyukjae.
Yang dikatakan suaminya saat ini memang benar. Rasa benci yang ada dalam dirinya saat ini tidak hanya menyakiti Ibu namun juga berdampak pada orang lain, adiknya.
Dan tentang Ayahnya, pria yang selalu memberinya kasih sayang dan selalu memberinya dorongan serta nasehat pasti tidak akan setuju dengan kelakuannya saat ini. Ayahnya adalah orang yang begitu baik serta murah hati. Meskipun Istrinya telah memilih pria lain, ia tidak pernah menuntut untuk kembali bersamanya.

“Biarpun Ibumu telah bersama pria lain, Appa tetap mencintainya. Wanita yang selalu ada dalam hati Appa selain kalian berdua.”

Jaekyung menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Kalimat Ayahnya yang sering diucapkan saat masih hidup terus terngiang di telinga, “Sebesar apapun kesalahan orang itu, kau harus memberinya maaf. Kau tidak berhak mengadilinya, anakku. Dia.. telah mengakui kesalahannya, jadi apa salahnya kalau kita memberinya maaf?”

Tangis Jaekyung semakin menjadi sehingga membuat Hyukjae yang mendengar di seberang sana langsung panik bukan main. Pria itu mencoba memanggil Jaekyung namun tidak ada respon, hanya terdengar isak tangis wanita itu.

“Appa, maafkan aku. Kau pasti kecewa padaku sekarang, aku bukan anak yang baik.” Isak Jaekyung tanpa bisa menghentikan tangisnya.
“Aku harus bagaimana sekarang.., aku tetap belum bisa memaafkannya, Appa. Kenangan buruk itu kembali menghantuiku kala melihatnya. Aku…” Jaekyung tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Yang dilakukan ia saat ini hanya menangis dan menangis.

***

Gerakan kecil dari jemari seorang yang tertidur di ranjang berhasil menyita perhatian Hyukjae yang sedang memperhatikan Jaekyung. Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya, “Jaekyung-ah.” Desah pria itu dengan kelegaan. Akhirnya Jaekyung kembali membuka mata setelah tiga jam tidak sadarkan diri ketika ia menemukan istrinya ini duduk di halte bus. Pingsan tepatnya. Dan kini mereka ada di Rumah Sakit.

“Hyuk,” suara Jaekyung begitu lirih dan serak.

Hyukjae menggenggam tangannya erat, “Apa kau butuh sesuatu? Kau ingin minum?” Jaekyung mengangguk kecil, maka Hyukjae segera meraih gelas berisi air putih yang ada di meja. Kemudian membantu Jaekyung untuk meminumnya.

“Aku panggilkan dokter sebentar, kau tunggu di sini, jangan kemana-mana.”

Jaekyung memandang kepergian Hyukjae lirih, ia ingin mencegah pria itu agar tetap di sini. Jaekyung hanya membutuhkan Hyukjae saat ini.

Tidak lama pintu kembali terbuka, seorang dokter dan suster masuk bersama Hyukjae, memeriksanya.

“Saat ini sebaiknya anda di rawat selama beberapa hari di sini, nyonya.” Ujar Dokter setelah memeriksa keadaan Jaekyung.

“Kenapa aku harus di rawat, Dok? Aku baik-baik saja.” Jaekyung merasa berlebihan jika ia harus di rawat, ia hanya pingsan bukan? Kenapa harus rawat inap?

“Setidaknya samapi kondisi anda stabil, nyonya. Dan juga untuk keselamatan janin yang sedang anda kandung.”

“Janjin?” Ulang Jaekyung dengan raut terkejut.

“Jadi istriku hamil, Hyung?” Hyukjae memandang pria berstelan jas putih itu dengan berbinar.

“Ya, sekitar 7 hari. Jadi aku sarankan agar istrimu tetap tinggal, Eunhyuk-ah. Aku tidak mau mengambil resiko dengan mengijinkannya pulang saat kondisinya belum cukup pulih.”

“Aku mengerti, terima kasih, Heechul Hyung.”

“Sama-sama, jaga istrimu baik-baik.” Heechul menepuk pelan bahu Hyukjae sebelum pamit pergi.

Hyukjae mengalihkan tatapannya ke arah Jaekyung yang sedang mengelus perutnya, wanita itu tersenyum haru.
“Aku hamil,” bisik Jaekyung lirih.

“Hyuk-”

“Ya, aku tahu.” Sahut Hyukjae yang sudah duduk di sisi ranjang dengan membalas tatapan istrinya. “Aku tidak menyangka jika harapanku bisa terkabul secepat ini,”

“Hm, aku juga.” Jaekyung meneteskan airmata bahagia. Hyukjae memeluknya, menyalurkan rasa bahagia lewat dekapan hangat.

“Terima kasih banyak karena kau memberiku begitu banyak kebahagiaan dalam hidupku,” bisik Hyukjae di telinga Jaekyung. Wanita itu membalas pelukan Hyukjae, “Aku yang seharusnya berterima kasih padamu,”

Hyukjae melepaskan pelukannya, memperhatikan Jaekyung yang tersenyum bahagia. “Selamat untukmu, sayang.” Dikecupnya bibir Jaekyung lembut, memanggutnya selama beberapa saat.

“Dan selamat juga untukmu karena sebentar lagi menjadi seorang Appa,” Hyukjae tertawa senang.
“Kurasa, kita harus memberitahukan kabar gembira ini?”

“Ya, kau benar.” Mendengar balasan Jaekyung maka Hyukjae segera mengambil ponselnya dan menelpon keluarga besarnya, mengatakan jika Jaekyung sedang mengandung.

Wanita yang duduk di ranjang saat ini hanya memperhatikan Hyukjae yang sibuk menelpon sembari berjalan kesana- kemari dengan senyum. Pria itu begitu bahagia. Jaekyung harap kebahagiaan seperti ini akan terus ada dalam rumah tangganya.

“Jaekyung-ah…”

Baik Jaekyung maupun Hyukjae-yang sedang menelpon-segera mengalihkan pandangan ke pintu masuk.
wanita yang di dampingi Jeeah melangkah masuk dengan ragu, setelah Hyukjae mempersilahkannya.

“Aku yang menyuruhnya datang saat kau masih pingsan tadi. Kau butuh bicara dengannya. Dan ingat, aku tidak mau kau mempunyai dendam dalam hatimu. Kau sedang mengandung, Kyungie.” Pesan Hyukjae sebelum pergi meninggalkan istri serta ibu mertuanya.
Jaekyung menatap Hyukjae tidak percaya. Dan Jeeah pun melakukan hal sama, meninggalkannya.

Kini di ruangan ini hanya ada mereka berdua. Ia dan Ibunya.
Jaekyung sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakan, bingung. Begitu juga dengan wanita baya ini, tidak berani memulai pembicaraan lebih dulu.
Tapi.. semua ini harus segera terselesaikan kan?
Bagaimana memulainya? Baik Jaekyung maupun Ahn Sungjae memikirkannya.

Continue…

64 comments

  1. Wehh dia hamil boooooooo.. oh my god
    gak nyangka yeh dia bs cpt hamil aihhhh siapa lg klo bkan gara” si hyuk yg super aktif itu ahhahahha
    #very nice

  2. Akhirnya doa hyuk dan jaekyung terkabul, mereka akan punya malaikat kecil..😀

    Aahh…smoga masalah jaekyung dan eomma-nya cepat terselesaikan, setelah itu hidup terasa damai😀

  3. kyaa… akhirnyaa.. bakalan ad hyuk junior .. wkwkwk..
    gol juga akhirnya si hyuki.. 😂😂😂
    eh btw smpat tegang sih td pas bagian konflik ibu dan anak diatas..
    hemmm.. semoga aj msalah ny cepat kelar..
    nda bagus juga buat jaekyung klo bnyak pikiran.. hihihi..
    kan bumil… ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s