Romantic Princess || Kyuhyun

image

Author : Blue Rose

Title : Romantic Princess

Genre : Family, Sad romance

Length : Oneshot

Rate : PG16

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Yoo Kyung, Lee Sungmin, Lee Hyukjae, Lee Donghae

*****―..―*****

“Oppa, ayolah.., kumohon kali ini saja kau mau..” Rengek seorang gadis pada seorang pria yang duduk di sampingnya.

Pria itu, Cho Kyuhyun, memalingkan wajah ke samping kiri agar tidak melihat wajah memelas gadis yang sudah menjadi tunangannya selama 1 tahun ini.

Yoo Kyung yang melihat Kyuhyun memalingkan wajah merengut kesal dan berganti mengalihkan tatapannya pada ketiga kakak laki-lakinya yang duduk di seberang sofa. Gadis itu beranjak dari duduknya menuju salah satu kakak yang sedang sibuk dengan gitar miliknya, Lee Donghae.

“Oppa,” panggilan yang sangat familiar di telinga itu membuat gerakan tangan yang sedang memetik senar gitar berhenti, menjadi menatap sang adik yang selisih 1 tahun darinya. Pria itu tersenyum begitu manis dengan mengelus rambut panjang Yoo Kyung yang selalu dibiarkan tergerai, atau hanya dihiasi bondu dan jepit kecil.

“Ada apa?” Ucapnya lembut. Donghae memang sangat menyangi adik kecilnya ini. Meskipun Yoo Kyung sudah genap berumur 17 tahun (umur korea) gadis itu tetap ia anggap adik kecilnya yang manis dan manja.

“Oppa, tolong bantu aku bujuk Kyuhyun Oppa, eoh?”

Donghae menyerngit tidak mengerti, ia mengalihkan tatapannya ke arah Kyuhyun kemudian Yoo Kyung.

“Ah–itu, mianhae Yoo, Oppa tidak bisa.” Donghae sungguh tidak tega bila harus menolak permintaan Yoo Kyung, tapi ketika melihat tatapan Kyuhyun yang seperti ingin menguburnya hidup-hidup sungguh mengerikan. Kyuhyun itu seperti malaikat pencabut nyawa, bagi pemikiran Donghae yang melihat tatapan tajam pria yang lebih muda 6 bulan darinya itu.

Yoo Kyung mendesah kesal, ia alihkan tatapannya ke arah Kyuhyun yang buru-buru mengalihkan ke arah lain. Ia tau kenapa Donghae tidak mau membantunya, karena Kyuhyun mengancam lewat tatapan mata.

Gadis itu beralih ke arah kedua Oppanya yang sedang duduk bersama. Pria berambut merah maron, Lee Hyukjae dan Lee Sungmin, pria yang sedang mengelus kucing milik Yoo Kyung, Foxy.

Yoo Kyung menghampiri Sungmin daripada Hyukjae. Ia tahu jika meminta bantuan Hyukjae –kakak kedua– akan sama saja dengan Donghae. Mereka memang selalu kompak dan menyebut diri mereka dengan sebutan EunHae. Berbeda dengan Sungmin. Kakak tertuanya ini bisa diandalkan, karena Sungmin begitu dekat dengan Kyuhyun sehingga akan mudah baginya meminta bantuan Sungmin.

“Sungmin Oppa,” Yoo Kyung duduk di lengan sofa, tepat samping Sungmin yang duduk memangku Foxy, kucing yang memiliki bulu halus nan panjang berwarna putih. Pemberian dari Cho Ahra, kakak perempuan Kyuhyun sewaktu ulang tahunnya yang ke-15.

“Hm,”

Sungmin menoleh ke arah Yoo Kyung yang ikut mengelus Foxy.

“Bantu Yoo Kyung ya Oppa?” Yoo Kyung mengedipkan sebelah mata.

“Kyuhyun?” Tebak Sungmin yang langsung di angguki dengan semangat oleh Yoo Kyung.

“Kenapa lagi?”

“Hanya mengajaknya nge-date Oppa, tapi Kyuhyun Oppa menolaknya.” Jelas Yoo Kyung dengan menunduk sembari memainkan jemari tangannya.

Sungmin menoleh ke arah Kyuhyun, pria itu mendengus kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Menghindari bertemu pandang dengan Sungmin.

“Kau ingin nge-date? Dalam rangka apa?” Tanya Sungmin ingin tahu.

“Selama ini kan kami tidak pernah nge-date Oppa. Kyuhyun Oppa tidak pernah mau aku ajak kencan,” tutur Yoo Kyung dengan menunduk. Yang dikatakan Yoo Kyung memang benar, bahwa selama mereka bertunangan mereka tidak pernah sekalipun berkencan. Mereka hanya bertemu di rumah, sekolah ataupun acara keluarga, selebihnya Kyuhyun tidak pernah mau diajak ke luar berdua. Ada saja alasan untuk menolak ajakan kencan Yoo Kyung.

Sungmin menatap iba adiknya. Ia mengerti bagaimana perasaan gadis itu. Kencan bagi anak gadis adalah hal sangat wajar dan begitu didambakan, terlebih Yoo Kyung sudah menyukai Kyuhyun sejak masih di Sekolah Menengah Pertama dulu hingga kini mereka bertunangan, tentu hal itu begitu gadis itu inginkan. Tapi kesehatan Yoo Kyung yang menjadi perhatian.

Bagaimana jika nanti gadis itu tiba-tiba pingsan karena kesehatan tubuhnya yang drop?

Gadis itu begitu berbeda dengan gadis lain pada umumnya. Yoo Kyung memiliki daya tahan tubuh yang rentan. Mudah dehidrasi dan tidak tahan akan panas matahari. Maka itu, Yoo Kyung memiliki kulit lebih pucat dari Kyuhyun.

“Oppa…” lirih Yoo Kyung sendu.

Pria itu mengalihkan tatapannya ke arah Kyuhyun yang menggelengkan kepalasamar.

“Arraso,” sahut Sungmin dengan senyum begitu ia kembali menatap adiknya.

“Ah.. Oppa memang yang terbaik!!” Yoo Kyung langsung memeluk Sungmin erat dengan perasaan senang. Berbeda dengan Kyuhyun yang langsung lunglai. Ia hanya malas bila harus ke luar rumah dengan para pengawal yang ikut. Bukankah itu menyebalkan? Kemudian mereka akan menjadi pusat perhatian.

“Kyu.. Ajak Yoo Kyung jalan-jalan ke taman.”

Seketika Yoo Kyung melepaskan pelukannya dan menatap Sungmin tidak mengerti.

“Taman?” Ulang gadis itu memastikan. Sungmin mengangguk.

“Nde, taman di halaman rumah kan luas. Kalian bisa berjalan-berjalan di sana.” Jelas Sungmin dengan senyum.

“Bukan taman samping rumah Oppa. Tapi jalan-jalan ke luar, ke Seoul Tower atau kebun bunga sakura.”

Yoo Kyung menghentakan kakinya kesal kemudian memalingkan wajah. Kyuhyun mengacungkan ibu jari ke arah Sungmin disertai senyum.

“Oppa hanya tidak ingin–”

“CUKUP!! Tidak bisakah kalian pura-pura lupa akan hal menyebalkan itu?! Tidak bisakah aku sekali saja merasakan hidup di luar? Berbaur dengan orang-orang di luar sana? Apa aku salah, jika aku ingin merasakan yang namanya hidup seperti orang normal? Kalian tidak bisa merasakan bagaimana jenuhnya hidup hanya dalam lingkungan rumah sepertiku, itu karena kalian NORMAL!” Yoo Kyung menatap semua yang ada di ruangan itu dengan linangan airmata yang sudah membasahi kedua pipinya.

“Bahkan kini, aku tidak bisa bertemu teman-temanku lagi seperti di sekolah dulu. Aku–hanya ingin hidup seperti kalian. Bisa jalan-jalan dengan bebas, bertemu berbagai orang. Ibarat burung dalam sangkar, aku ingin terbang bebas. Apa kalian bisa mengerti?!”

“Yoo..” Donghae menghampiri gadis itu yang kini bergetar hebat.

Yoo Kyung menghapus jejak airmatanya kasar.

“Maaf. Aku lepas kendali. Jeongmal mianhamnida, Oppa.” Yoo Kyung menundukan sedikit badannya sebelum pergi dengan berlari, menuju lantai 2 kamarnya.

Sungmin menundukan kepala. Ia sangat ingin melihat senyum adik kecilnya itu, ia sangat menyukai senyum manis bukannya tangisan Yoo Kyung yang seperti sebuah jarum menusuk dalam jantungnya.

Hyukjae dan Donghae merangkul bahu Sungmin, menenangkannya.

“Aku membuatnya menangis, Hae-ya.” Sungmin menatap Donghae sedih. Donghae segera memeluk pria itu.

“Gwaenchana Hyung. Nanti aku akan membujuknya, jangan sedih, eoh.”

Sungmin mengangguk kecil dalam rangkulan Donghae dan Hyukjae.

Kyuhyun mengepalkan tangannya gamam. Ia pun sama dengan ketiga Hyungnya itu. Sama-sama ingin melihat gadis itu tersenyum. Dan ingin membuat gadis itu bahagia. Tapi apa daya kalau keadaan yang tidak memungkinkan itu semua. Kesehatan Yoo Kyung lebih penting dari apapun.

………………………………

“Yoo,” Sungmin mencoba memanggil Yoo Kyung yang sedang menyuapkan sepotong sandwich ikan tuna ke dalam mulut. Gadis itu tidak menyahut, tetap asyik dengan acara sarapan paginya, tanpa menghiraukan kedua orang tua juga Oppadeulnya yang menatap ingin tahu.

“Kau masih marah dengan Oppa?” Sungmin kembali bertanya, masih sama, lirih.

Sudah 3 hari ini Yoo Kyung sama sekali tidak mau berbicara dengan siapapun, kecuali Taerin–pelayan khusus gadis itu. Bahkan Kyuhyun pun tidak ia anggap kehadirannya.

“Kalian ini kenapa hum? Apa sedang ada masalah?” Terdengar suara berat Tuan Lee.

Nyonya Lee yang duduk di samping Sungmin menoleh ke arah putra sulungnya. “Ada apa ini Sungmin-ah? Apa terjadi sesuatu dengan kalian selama kami pergi kemarin, hum?”

Tuan dan Nyonya Lee selama seminggu ini tidak di rumah, mereka pergi ke Paris untuk mengurusi cabang perusahaan yang ada di sana dan baru pulang kemarin. Tentu saja mereka tidak tahu permasalahan apa yang menimpa anak mereka.

“Amnida, Eomma. Tidak ada apa-apa.” Sahut Sungmin dengan senyum.

“Jeongmalyo?”

“Nde. Tidak ada apa-apa. Aman terkendali Eomma-ya.” Sela Hyukjae cepat.

Tuan Lee mengangguk. Sedangkan Nyonya Lee memperhatikan putri satu-satunya yang tetap diam. Ia merasa ada yang tidak beres dengan anak-anaknya. Tapi ia orang tua, jadi ia pikir, tidak seharusnya ia ikut campur urusan anak muda. Biarkan mereka menyelesaikan sendiri. Bila nantinya tidak terselesaikan barulah ia turun tangan.

“Aku sudah kenyang.” Yoo Kyung mendorong kursi makan kebelakang agar memberinya akses untuk berjalan lebih mudah. Gadis itu menundukan sedikit kepalanya ke arah mereka semua kemudian berlalu pergi.

Sungmin melemaskan bahunya.

‘Sampai kapan kau marah pada Oppa, Yoo? Oppa tidak ada maksud lain dan bukan Oppa tidak mengijinkanmu pergi tapi itu terlalu beresiko. Oppa tidak mau terjadi apa-apa denganmu Yoo, tidak ingin kau masuk Rumah Sakit lagi seperti 3 bulan lalu ketika Oppa mengijinkanmu ikut lomba maraton. Tidak!’

Donghae yang melihat Sungmin tampak begitu sedih jadi ikut merasakannya. Sebagai Oppa tentu ia tidak ingin ada sesuatu yang membahayakan adiknya, ia sama seperti Sungmin yang ingin menjaga Yoo Kyung. Mereka ingin melindungi gadis kecil mereka.

…………………………………

“Yoo, ada Kyuhyun datang mencarimu.” Ucap Taerin dengan berjalan ke arah gadis itu yang sedang membaca buku.

“Bilang saja aku sedang tidur.” Sahut Yoo Kyung tanpa mengalihkan tatapannya dari buku yang sedang dibacanya.

Taerin mendesah, gadis yang lebih tua 2 tahun dari Yoo Kyung itu duduk di samping ranjang. Mengambil paksa buku yang ada dalam genggaman Yoo Kyung.

“Eonni!!” Protes Yoo Kyung menatap tajam Taerin.

“Apa? Tidak usah menatapku seperti itu Nona Lee. Sebaiknya sekarang kau temui Kyuhyun, kasihan dia menunggumu lama.” Nasehat Taerin yang mengerti akan perasaan Yoo Kyung. Hidup dengan gadis itu sejak belasan tahun tentu saja ia sangat hapal akan sifat Nona Muda-nya ini.

Taerin adalah anak dari Jung Ahjusi, supir pribadi Appa Yoo Kyung. Mereka sudah layaknya adik dan kakak. Taerin begitu menyayangi Yoo Kyung yang sudah ia anggap seperti adik sendiri, terlebih ia pun tidak mempunyai adik. Ia anak tunggal. Dan meskipun ia anak dari supir, baik Yoo Kyung atau Oppa Yoo Kyung tidak pernah membedakannya, malah mereka berteman dengan baik dan di sekolahkan di tempat yang sama.

“Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun, Eonni-ya.”

“Kenapa? Kau masih marah dengan mereka hum?”

“Tidak. Aku marah dengan diriku sendiri. Mungkin memang sampai kapanpun aku akan tetap seperti ini, tidak bisa hidup seperti kalian.”

Taerin meremas kedua jemari Yoo Kyung. Gadis ini terlihat begitu rapuh.

“Mungkin sampai tua pun aku akan hidup seperti ini.”

“YA! Apa maksudmu huh? Ada Kyuhyun, kalian sudah bertunangan.”

Yoo Kyung tersenyum miris, “Kyuhyun Oppa? Aku ragu akan hal itu,”

“Aku tidak mengerti Yoo…”

“Benarkah, Kyuhyun Oppa mencintaiku? Apa iya dia bisa menerimaku yang begini? Dia benar-benar menerima pertunangan ini dengan tulus? Kau tahu bukan, bahwa aku yang meminta Appa untuk membuat kami bertunangan. Ini semua atas kehendakku Eonni, bukan atas dasar keinginan kami berdua. Kyuhyun Oppa bahkan tidak pernah protes bila aku begini atau begitu. Ia hanya mengangguk saja tanpa memberikan penilaian apapun terhadap semua keputusan yang aku tentukan. Aku merasa bosan hidup seperti itu. Hidupku serba kecukupan, tapi apa mereka tahu bahwa sebenarnya itu semua aku tidak butuh? Meskipun Eomma, Appa dan Oppadeul begitu menyayangiku, aku tahu itu semua karena keadaanku. Tubuhku.”

Taerin merengkuh tubuh kecil itu, mengelus punggung Yoo Kyung sayang. Ia bahkan ikut meneteskan airmata melihat Yoo Kyung menangis. Ia paham. Ia mengerti bagaimana perasaan Yoo Kyung.

“Tidak Yoo, aku yakin Kyuhyun pun memiliki perasaan yang sama denganmu. Dia mencintaimu. Aku yakin itu. Kumohon kau jangan berpikiran buruk.”

Yoo Kyung tidak menyahut, ia hanya semakin memeluk erat Taerin. Menangis di bahu gadis itu.

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya. Ia bisa mendengar semua apa yang dikatakan oleh gadisnya dengan jelas. Ia mengiyakan semua ucapan Yoo Kyung tanpa protes karena ia ingin menyenangkan gadis itu, ingin melihat tawa bahagia gadis itu. Tapi kenapa Yoo Kyung justru salah mengartikannya?

Ia merasa begitu sakit ketika Yoo Kyung meragukan perasaannya.

Apakah ia perlu memberitahukan semua orang bahwa ia amat mencintai gadis cengeng itu?

Kyuhyun hanya merasa bahwa rasa sayang dan cinta tidak perlu diungkapkan, tapi ditunjukkan dengan tindakan.

“Yoo…”

Yoo Kyung dan Taerin melepaskan pelukan mereka berganti mengalihkan tatapannya ke arah seorang pria yang berdiri di hadapan mereka. Kyuhyun.

“Kyuhyun Oppa..,” lirih Yoo Kyung dengan kaku.

“Noona, bisa tinggalkan kami sebentar?” Kyuhyun menatap Taerin.

Gadis itu mengangguk, “Nde. Kalian memang perlu bicara.” Ia alihkan pandangan ke arah Yoo Kyung yang sedang menundukan kepala. “Bicarakan baik-baik, aku tinggal dulu.” Bisiknya di telinga Yoo Kyung.

Setelah Taerin pergi Kyuhyun merendahkan posisinya, berlutut di hadapan Yoo Kyung. Ia ulurkan tangan kanan, menyentuh tangan Yoo Kyung yang terasa dingin.

“Kyungie… Tatap aku?” pinta Kyuhyun dengan begitu halus.

Yoo Kyung mendongak, menatap Kyuhyun dengan wajah sembab.

“Kumohon jangan pernah lagi meneteskan airmatamu tanpa aku di sisimu, hum? Kau mau berjanji?” Kyuhyun mengusap kedua pipi Yoo Kyung dengan saputangan secara bergantian.

Gadis itu menunduk, “Aku–tidak bisa.”

Gerakan tangan Kyuhyun terhenti. Ia tangkupkan kedua tangannya ke wajah Yoo Kyung, memaksa agar gadis ini mau menatapnya.

“Kenapa tidak bisa?” Kyuhyun masih belum mengubah nada suaranya, masih tetap halus.

“Karena aku menangis pun karena Oppa.”

Deg!

Kyuhyun merasa sakit mendengarnya. Ia tahu maksud kalimat gadisnya.

Kyuhyun terdiam, hanya suara gmericik air hujan di luar sana terdengar kala kesunyian menghinggapi beberapa saat.

“Mianhae, tapi aku janji tidak akan membuatmu menangis lagi. Kau mau memberiku kesempatan sekali lagi?”

“Aku tidak… tahu…”

“Apa kau tidak percaya padaku lagi Yoo?”

Yoo Kyung menggeleng, “Bukan itu Oppa.”

“Lalu apa?”

Yoo Kyung kembali menatap Kyuhyun. “Aku hanya tidak yakin bahwa aku bisa menepati janji itu nantinya.”

Gadis itu melepaskan cincin putih yang melingkari jari manisnya selama 1 tahun ini. Ia berikan pada Kyuhyun.

“Apa maksudnya ini? Kau tidak mau menikah denganku huh?!”

“Aku tidak yakin bahwa aku bisa membahagiakan Oppa nanti, dan tentu saja karena aku tidak ingin memiliki anak yang akan sama denganku. Tidak bisa merasakan hidup diluar, itu menyedihkan Oppa. Aku tidak ingin melihat anak itu tumbuh sama sepertiku, tidak ingin. Aku tidak ingin ia sama sepertiku Oppa.”

Kyuhyun segera memeluk Yoo Kyung, meredam tangis itu di dadanya. Ia bahkan tidak berfikir kesitu, belum sampai memikirkannya. Tapi, gadisnya itu memikirkannya hingga sejauh itu.

Untuk pertama kalinya Kyuhyun merasa seperti ini. Sakit di dada dan sesak disaluran pernafasannya.

“Anniya. Kau tidak boleh berkata seperti itu.” Kyuhyun melepaskan pelukannya, menangkup wajah Yoo Kyung.

Chu

Kecupan singkat Kyuhyun berikan untuk Yoo Kyung.

“Jangan takut Kyungie, ada aku disini. Aku janji tidak akan meninggalkanmu.”

Yoo Kyung menggeleng, “Itu tidak menjamin Oppa akan terus bersamaku. Mungkin sekarang Oppa bicara begitu, tapi nanti…, nanti tidak ada yang tau.”

“Jadi kau meragukanku huh? Kalau aku tidak mencintaimu, untuk apa aku menciummu? Kau pikir aku hanya asal mencium orang?!”

Yoo Kyung menundukan tatapannya, tidak berani membalas tatapan tajam Kyuhyun.

“Mungkin saja karena Oppa kasihan padaku karena aku yang terus merengek pada Oppa, agar Oppa mau menciumku.”

“Intinya kau meragukan perasaanku padamu.”

“Aku– hanya tidak yakin dengan perasaan Oppa padaku, selama ini Oppa bahkan tidak pernah menolak keinginanku kecuali bila aku mengajak Oppa kencan.”

“Apa kau tau alasan Oppa selalu menuruti keinginanmu hum? Oppa hanya ingin melihat kau tersenyum Yoo, bukan menangis seperti sekarang. Meskipun Oppa tidak menyukai apa yang kau pilih tapi ketika melihat kau begitu senang Oppa pun akan ikut senang.”

Kyuhyun mengusap pipi Yoo Kyung.

“Hyungdeul pun sama denganku Yoo, mereka ingin melihat kau bahagia. Membuatmu merasa senyaman mungkin, tidak merasa bosan karena terus didalam lingkungan rumah. Jujur saja, Oppa pun ingin mengajakmu berkencan berdua seperti pasangan pada umumnya, berjalan bergandengan tangan. Oppa ingin seperti itu. Tapi kalau setelah itu Oppa harus melihatmu terbaring di ranjang rumah sakit dengan terpasang alat-alat medis, Oppa tidak mau Yoo. Melihat kau kesakitan sama saja membunuhku secara perlahan.”

Derasnya airmata yang turun seperti air hujan diluar sana. Terus mengalir tanpa henti. Tangis keduanya pecah.

“Oppa…,” Yoo Kyung ulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Kyuhyun yang basah. Prianya menangis untuk pertama kali dihadapannya.

“Jebal Yoo, jangan bicara seperti itu. Dan jangan tinggalkan aku.”

Kyuhyun menggenggam kedua tangan Yoo Kyung, mengecupnya bergantian.

“Oppa…, mianhae. Aku–”

Chu

“Jangan katakan apapun lagi, arraso?” sela Kyuhyun setelah mencium Yoo Kyung singkat.

Yoo Kyung mengangguk.

“Bibir ini tidak boleh mengucapkan kata-kata seperti itu lagi. Sama sekali tidak boleh! Kau mengerti Nyonya Cho?”

Yoo Kyung kembali menganggukan kepalanya.

“Jangan pernah menangis lagi tanpa aku disisimu, karena tidak akan ada orang yang mau menghapus airmatamu seperti ini,” Kyuhyun mengecup kedua kelopak mata Yoo Kyung yang terpejam.

“Ada Oppadeul,” lirih Yoo Kyung.

Kyuhyun menjauhkan wajahnya, “Tetap tidak boleh. Mereka boleh menyentuhmu dan memelukmu tapi hanya aku yang boleh menghapus sisa airmatamu. Hanya aku yang boleh memilikimu. Tidak yang lain. Dan mereka berbeda Yoo.” Kyuhyun menempelkan kening mereka, sedikit memiringkan wajahnya. Namun sebelum ia mencapai apa yang ia inginkan ada hal yang membuatnya jantungan. Yoo Kyung lebih dulu menempelkan bibirnya, menarik tengkuknya lebih dekat.

Entah sudah berapa lama kedua orang itu saling memanggut satu sama lain. Hujan bahkan sudah mereda diluar sana tapi mereka masih melanjutkannya, membiarkan ketiga pria dan satu gadis menatap kedua orang itu kesal.

Decapan dari kecupan mereka pun terdengar di kamar itu.

Chu Chu Chuuuuuuuuuuuuuu~

“YA! KYUHYUN-AH!! Bisakah kau berhenti mencium adikku yang manis itu?!”

Teriakan yang cukup keras itu membuat Kyuhyun membuka kedua matanya, begitu juga dengan Yoo Kyung. Mereka bersamaan menoleh kearah sumber suara yang berasal dari pintu kamar.

“Mau sampai kapan kalian berciuman huh?” Sungut Donghae dengan menyilangkan tangannya.

“Kurasa aku akan cepat dapat keponakan, bukan begitu Taerin-ah?” Sungmin mengedipkan sebelah matanya kearah Taerin yang terkekeh.

Berbeda lagi dengan Hyukjae yang masih betah dengan tatapan kosongnya. Pria itu bahkan tidak bergeming sedikitpun ketika Foxy yang sedang di gendongnya meloncat turun, dan menghampiri Yoo Kyung yang duduk di ranjang dengan dipangku Kyuhyun.

Kapan gadis itu pindah posisi?

“Hyuk,” Donghae mencolek lengan Hyukjae agar pria satu tersadar, tapi masih sama tidak ada reaksi.

“Memprihatinkan,” gumam Kyuhyun yang kemudian mendapat cubitan kecil di pinggangnya sehingga pria itu meringis.

“Tuan Muda Hyukjae,” Taerin yang ada disebelah Hyukjae mencoba memanggilnya.

Nihil.

Pria itu masih menatap kosong kearah Yoo Kyung dan Kyuhyun yang kini sedang bermain dengan Foxy, mereka tidak menghiraukan orang-orang yang ada didepan pintu kamar itu.

Sungmin tiba-tiba menyeringai. “Aku tau!” serunya senang. Perlahan Sungmin mendekatkan wajahnya kearah Hyukjae, dan…

Chup!

Berhasil. Hyukjae mengerjapkan matanya, menoleh kearah Sungmin dan pria itu menunjuk kearah Taerin yang sedang menundukan kepalanya.

“Dia yang menciummu, Hyukkie-ya. Taerin menyukaimu.” Setelah berbisik di telinga Hyukjae, Sungmin langsung melangkah pergi dengan menarik paksa lengan Donghae. Meninggalkan kedua orang itu.

“Taerin-ah?”

“Ye?” Taerin mendongakan wajahnya dan tepat saat itu Hyukjae menciumnya.

“Nado saranghae,”

Taerin mengerjap kaget.

“M–mwoya?”

Hyukjae mendecak, “Bukankah kau juga menyukaiku?”

“Bukan itu. Ke–napa Tuan m–menciumku?”

“Bukankah tadi kau yang pertama mengecup pipiku?”

“Bukan aku. Aku tidak melakukannya.”

“Jeongmal? Kalau begitu siapa huh?”

Taerin diam.

“Apa kau menyukaiku?”

Kali ini Taerin mengangkat wajahnya, menatap Hyukjae dengan mata membulat sempurna dan semburat merah menghiasi pipi gadis itu. Hyukjae tidak butuh jawaban lagi, ia sudah mengerti.

“Amnida. Aku tidak berani.”

“Tapi aku menyukaimu, bagaimana?”

“A–aaa.. Itu.. Ah! Aku ada kerjaan, permisi.” Taerin langsung membalikan badannya dan berlari pergi. Ia tidak ingin Hyukjae menggodanya lagi.

Hyukjae terkekeh melihat gadis itu yang kini sedang mengelus keningnya karena menabrak pintu kaca.

End!!

6 comments

  1. bhahahaha hyuk knpa jd matung gitu. shock kali lihat adik kecilnya udh mahir soal ciuman wkwk….

    gk nyangka kyuhyun bisa nangis juga. lagian kyu jga dingin bngt si sama cwek. jd dikira gk perhatian .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s