Trouble in My Love

48412d9e102eb0_full

Author : Blue Rose

Title : Trouble in My Love

Genre : Romance, Family

Length : Oneshot

Rate : PG16

Cast : Lee Donghae, Kim Jee Ahh, Kim Jee Aee

 

 

 *********

“Eonnieeeeee….” teriakan serta derap langkah yang menggema disebuah rumah bercat biru itu membuat seorang gadis yang sedang terlelap merasa tertanggu.
Jee Ahh membalik badannya samping kiri serta menutup telinga dengan bantal, membuat gadis remaja yang berdiri di sisi ranjang mendengus kesal melihat tingkah kakak perempuannya itu.

“Eonnie-ya ireona..” panggil Jee Aee dengan menggoyangkan tubuh kakaknya yang masih tidur. Namun sepertinya usaha untuk membangunkan kakak perempuannya sia-sia karena sang kakak masih saja betah untuk memejamkan mata.

“Eonnie.. bogoshipoyo.” lirih Jee Aee yang kini sudah ikut berbaring di sebelah Jee Ahh dengan memeluknya. Jee Ahh tetap setia memejamkan mata meskipun ia mendengar ucapan seseorang yang sudah dia hapal suaranya, walaupun mereka sudah lama tidak bertemu–Kim Jee Aee–adik perempuannya yang tinggal di Paris.

Mereka berpisah akibat perceraian kedua orang tuanya 6 tahun lalu, sehingga ia berpisah dengan sang adik. Jee Ahh ikut dengan ibu dan tetap tinggal di Korea sedangkan Jee Aee tinggal di Paris ikut dengan sang ayah yang kini sudah menikah lagi.

Karena merasa tertanggu dengan seseorang yang tidur di sampingnya serta memeluk ia erat, Jee Ahh terpaksa membuka mata.
“Ya! Lepaskan pelukanmu! Kau sudah menggangu tidurku. Lepaskan.” sentak Jee Ahh dengan menyingkirkan tangan Jee Aee dari tubuhnya.

Jee Aee segera bangun dari pura-pura tidurnya kemudian memeluk sang kakak yang sudah lama tidak di lihatnya.
“Eonnie bogoshipo.” ucapnya dengan memeluk erat sang kakak, membuat Jee Ahh mendecak sebal.

“Ya! Lepaskan. Aku tidak bisa bernafas..” Jee Ahh berusaha melepaskan pelukan adiknya yang terlalu erat sehingga ia merasa sesak sekarang.

“Anni, aku merindukanmu, Eonnie.” manja Jee Aee dengan tetap memeluk Jee Ahh.

“Tsk, benar-benar…” desis Jee Ahh pasrah karena sang adik tidak bergeser sedikitpun dari posisinya, tetap memeluk dengan erat.

“Sudah lama sekali ya Eonnie kita tidak bertemu, dan kau tetap saja cantik. Kenapa Eonnie tidak ikut menjemputku ke bandara tadi? Hanya Eomma saja.” celoteh Jee Aee dengan sedikit merajuk.

“Bagaimana kalau nanti kita jalan-jalan Eonnie? Aku ingin keliling Seoul, sepertinya sudah banyak yang berubah di sini selama aku pergi, Eonnie mau kan menemaniku jalan-jalan?” lanjutnya lagi dengan memandang Jee Ahh penuh harap, tapi Jee Ahh malah diam saja. Tidak ada kata yang keluar dari bibir tipisnya untuk menanggapi celotehan sang adik.

“Kenapa Eonnie diam saja? Apa kau tidak merindukanku, eoh?” tanya Jee Aee setelah cukup lama terdiam, menatap Jee Ahh yang diam saja bahkan tidak terlihat senang akan kedatangannya.

“Anni. Untuk apa merindukanmu, hum? Kau itu selalu membuatku susah dengan kelakuanmu yang serampangan. Jalan-jalan? Anniya, aku sibuk, harus ke café hari ini, jadi tidak bisa.” sahut Jee Ahh dengan menatap tajam sang adik.

“Eonnie..” lirih Jee Aee dengan menundukan kepala, perasaannya yang tadinya meluap-luap bahagia kini hilang sudah setelah mendengar kalimat Jee Ah.
Jee Aee segera bangkit dari duduknya di ranjang. “Mianhamnida kalau dari dulu aku selalu merepotkanmu, Eonnie.”

“Baiklah, aku ke luar dulu. Eonnie tidur lah lagi, maaf sudah membangunkanmu.” sambungnya lagi dengan membalikan badan. Airmatanya mulai membasahi pipi tirus Jee Aee, ia segera mengusapnya cepat agar tidak terlihat oleh orang lain.

Baru saja Jee Aee akan memegang handle pintu, tiba-tiba saja ada yang memeluknya–Jee Ahh.
Ya, Jee Ahh segera beranjak dari ranjang dan memeluk Jee Aee ketika akan memegang handle pintu kamarnya, membuat langkah sang adik terhenti tepat depan pintu.

“Mianhae saengi-ya, aku hanya bercanda. Tentu saja aku sangat merindukanmu. Kau jahat sekali baru mengunjungiku sekarang.” lirih Jee Ahh dengan menahan tangis.

Jee Aee segera membalikan badan kemudian membalas pelukan sang kakak, tangisnya pecah seketika begitu pula dengan Jee Ahh. Mereka menumpahkan kerinduan mereka melalui pelukan serta tangisan. Bukan waktu yang sebentar bagi mereka untuk kembali bertemu lagi seperti saat ini, 6 tahun berpisah dan hanya berkomunikasi lewat dunia maya.

“Aku.. pikir Eonnie.. sungguh tidak ingin melihatku.” ujar Jee Aee dengan tersendat.

“Paboya! Tentu saja aku ingin melihat juga merindukanmu, uri dongsaeng.”

“Jee Ahh! Cepat turun, Donghae sudah datang menjemputmu.” teriakan yang berasal dari ibunya yang ada di lantai bawah membuat Jee Ahh melepaskan pelukannya pada Jee Aee.

“Nde, Eomma, bilang padanya untuk menunggu sebentar.” balas Jee Ahh dengan berteriak. “Aish, aku belum mandi pula…” gerutu Jee Ahh sembari membalikan badan dan berjalan menuju lemari pakaian.

“Donghae nuguya, Eonnie?” tanya Jee Aee ingin tahu. Jee Ahh yang sibuk memilih baju berjengit kaget.
“Ya! Kau mengagetkanku. Kapan-kapan aku ceritakan, sekarang kau keluar dulu ok? Aku mau mandi.” sahut Jee Ahh dengan senyum mengembang kemudian berjalan masuk kamar mandi.

“Aish, pelit sekali..” gumam Jee Aee beranjak pergi dari kamar Jee Ahh.

***

“Hahhh…” terdengar helaan nafas dari mulut gadis berambut sebahu yang duduk di depan mesin kasir dengan pandangan lurus menatap seorang pria yang sedang berbicara dengan beberapa gadis.

Jee Ahh–gadis itu berulangkali menghela nafas jengah melihat pemandangan di depannya–tepatnya ke arah Donghae yang sedang berbicara dengan beberapa gadis-gadis.

Sudah menjadi kebiasaan Jee Ahh sejak 1 tahun lalu, memandangi Donghae dari balik mesin kasir di mana ia duduk.
Tapi sekarang ia kesal melihat keakraban pria itu dengan para pelanggan, selalu bersikap ramah dan menebar senyum pada setiap gadis. Menyebalkan! Itulah pemikiran yang ada dalam kepala Jee Ahh.

Donghae adalah pria yang baik, ramah juga tampan, tentu tidak menutup kemungkinan bukan untuk menarik perhatian dari kalangan gadis-gadis? Tanpa diminta pun mereka akan mendekat dengan sendirinya.

“Dasar genit.” gerutu Jee Ahh dengan geram ketika melihat tangan Donghae yang sedang memegang tangan Im Hyora, salah satu pengunjung tetap di café. Tidak dipungkiri memang bahwa gadis bernama Im Hyora adalah gadis yang cantik serta memiliki senyum memikat. Bukankah setiap pria memang menyukai wanita cantik?

“Siapa yang kau bilang genit Jee?” tanya Ryeowook yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, memperhatikan raut wajah gadis itu yang terlihat kesal.

“Omo!” seru Jee Ahh terkejut akibat kemunculan Ryeowook yang tiba-tiba. Gadis itu mengelus dada kemudian menatap Ryeowook horor.
“Oppa kau mengagetkanku!” lanjutnya dengan memukul lengan Ryeowook pelan.
Sedangkan Ryeowook hanya terkekeh melihat Jee Ahh yang kini sedang menekuk wajahnya serta bibir maju beberapa centi ke depan.

Donghae yang kebetulan selesai membereskan meja dan akan membawa gelas serta piring kotor, menghentikan langkah begitu matanya menangkap gadis yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya sedang tertawa lepas dengan salah satu temannya. Raut wajahnya berubah seketika, tangannya dengan erat mencengkeram nampan yang dibawanya.

“Kau terlihat senang Jee..” lirihnya ketika melihat Jee Ahh yang tertawa ketika Ryeowook menggodanya.

Donghae menghela nafas kasar dan dengan langkah lebar ia mulai melangkah menuju ke tempat Jee Ahh dan Ryeowook, tepatnya ke dapur yang memang harus melewati meja kasir.

“Oppa, berhenti berbicara lucu seperti itu..” ucap Jee Ahh dengan memegangi perutnya yang terasa sakit.

“Waeyo?” tanya Ryeowook dengan tertawa.

“Karena kau sudah tua, tidak pantas bicara seperti itu.”

Donghae yang berada di dapur amat sangat kesal mendengar percakapan kedua orang itu, dengan kasar ia menaruh piring dan gelas yang dibawanya sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras dan mengagetkan dua orang yang sedang duduk istirahat.

Hyukjae dan Nami yang kebetulan ada di dapur saling pandang dan menatap Donghae heran. “Kenapa dia?” tanya Nami tanpa suara. Hyukjae mengangkat bahunya acuh.

“Waeyo Hae-ya?” Nami memberanikan diri untuk bertanya.

Donghae menatap Nami sekilas kemudian melangkah pergi tanpa menjawab pertanyaan Nami tadi.

“Aneh sekali dia, tidak seperti biasanya.” gumam Nami yang merasa Donghae terlihat emosi, tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu senyum dengan manis.

***

Sudah tiga hari ini Donghae tidak menjemput Jee Ahh untuk berangkat ke café bersama, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang dengan setia Donghae selalu menjemput gadis itu.

Di café keduanya pun terlihat sedikit berubah.

Donghae dan Jee Ahh sama-sama diam, tidak saling menyapa satu sama lain, sehingga membuat teman-teman lain bingung.

“Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Aneh sekali.” Ryeowook bertanya pada Hyukjae yang duduk di sebelahnya.

“Aku juga tidak tahu.” sahut Hyukjae acuh.

“Kau kan teman satu apartemennya Hyung, masa tidak tahu.” lanjut Ryeowook lagi dengan sedikit kesal.

“Aku memang tidak tahu Ryeowook-ah, Donghae tidak bercerita apa-apa padaku.”

“Tsk..” decak Ryeowook sebal dengan jawaban Hyukjae.

“Masa kalian tidak tahu kalau uri Eonnie marah dengan Donghae Oppa, begitu juga sebaliknya.”

Ryeowook dan Hyukjae yang mendengar kalimat itu segera menolehkan kepala mereka bersamaan, mendapati seorang gadis manis sedang berdiri bersandar pada bufet.

“Kau siapa?” tanya Hyukjae dan Ryeowook bersamaan.

Gadis itu segera memperbaiki posisinya menjadi berdiri tegap lalu membungkukkan badan, tersenyum.
“Naeun Kim Jee Aee imnida, yeodongsaeng Kim Jee Ahh. Bangapta Oppadeul.”

“Kau adik Jee Ahh?!” seru kedua pria itu kompak dan membuat Jee Aee segera menutup telinganya.

“Tsk, tidak perlu berlebihan seperti itu Oppa..” sungut Jee Aee dengan mengusap telinganya yang sedikit berdengung akibat suara super merdu dari Jae-Wook.

“He..he..he.. mianhae Jee Aee-shi.” lirih Ryeowook dengan senyum canggung.
“Aku Kim Ryeowook dan ini Lee Hyukjae.” sambungnya dengan mengulurkan sebelah tangan
Jee Aee menyambut uluran tangan Ryeowook dan Hyukjae bergantian.

“Benar apa yang kau katakan tadi Jee Aee-shi?” tanya Ryeowook setelah mendengar penuturan Jee Aee bahwa sebenarnya mereka saling menyukai tapi tidak berani mengungkapkan perasaan masing-masing.

Jee Aee mengangguk mengiyakan. “Itu menurut pengamatanku saja Oppa, tapi aku yakin kalau mereka itu saling menyukai. Meskipun aku dan Eonnie sudah lama terpisah, tapi aku tahu benar sifat Eonnie yang malu-malu kucing itu, gengsinya setinggi langit di angkasa sana.” celoteh Jee Aee membuat Hyukjae serta Ryeowook terkekeh.

Jee Aee memang mempunyai sisi yang berbeda dengan sang kakak, meskipun mereka satu aliran darah tetap saja kepribadian mereka berbeda. Jee Ahh cendrung pendiam sedangkan Jee Ahe justru kebalikannya.

“Sepertinya aku tahu kenapa Donghae dan Jee Ahh seperti itu. Itu karenamu Ryeowook-ah..” Hyukjae membuka suara setelah mengingat-ingat semuanya, reaksi yang di tunjukkan Donghae ketika Jee Ahh bersama Ryeowook.

“Mwo? Naega wae?” sela Ryeowook bingung.

“Itu karena kau dekat-dekat dengan Jee Ahh sehingga Donghae mengira kau menyukainya.”

“Aku memang menyukainya Hyung, tapi itu sebagai adik, tidak lebih.”

“Ya itu menurutmu Ryeowook-ah, berbeda dengan pikiran Donghae yang melihatmu selalu ada di dekatnya.”

Ryeowook menghela nafas perlahan, ia membenarkan ucapan Hyungnya ini. Mungkin karena ia yang selalu menghibur gadis itu sehingga Donghae mengartikan lain arti kedekatan mereka, padahal niat Ryeowook hanya ingin menghibur Jee Ahh saja.

Ketiga orang itu saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing ketika terdengar pekikan yang cukup keras dari luar.

“Eonnie!!” seru Jee Ahh berdiri dari duduknya lalu segera melihat ke luar yang di susul dengan kedua pria itu.

Mereka melihat Donghae dan Jee Ahh sedang bertengkar, untung saja café sudah tutup sehingga tidak ada pengunjung. Tapi tetap saja mereka jadi bahan tontonan karyawan café.

“Eonnie, ada apa?” tanya Jee Aee pada Rara yang ada di samping kanannya.

“Entahlah, aku pun kurang paham ada apa sebenarnya. Tapi aku dengar kalau Jee Ahh tidak suka kalau Donghae terlalu dekat dengan para pengunjung, terutama gadis-gadis.” jelas Rara dengan pandangan lurus ke depan, di mana Donghae dan Jee Ahh berada.

“Ya, aku sebal padamu karena kau selalu tebar pesona dengan para pengunjung terutama gadis bernama Im Hyora.” ucap Jee Ahh lantang dengan menatap tajam Donghae.

Donghae mengepalkan kedua tangannya, mencoba untuk tidak terbawa emosi. “Terserah kau saja lah, kau mau menganggapku bagaimana, itu hakmu.” sahutnya datar kemudian melangkah pergi.
“Dan kalau kau menganggapku aku menyukai Hyora, itu memang benar. Aku menyukainya, dia gadis cantik juga ramah.” lanjutnya dengan terus melangkah.
“Jadi, apa arti kedekatan kita selama ini?” suara lirih Jee Ahh menghentikan langkah Donghae.

“Kedekatan apa? Bukankah kita tidak dekat, eum? Biasa saja menurutku. Bukankah kau yang dekat dengan Ryeowook?”

Ryeowook yang mendengar namanya disebut-sebut menundukan kepala, sungguh ia merasa bersalah karena membuat keduanya jadi begini.
Jee Aee yang ada di samping Ryeowook mengelus tangannya membuat pria itu menatapnya. “Jangan menyalahkan dirimu Oppa.” lirih Jee Aee dengan senyum, Ryeowook ikut tersenyum kemudian mengangguk.

“Oh… begitu. Naif dan bodoh sekali aku selama ini karena mengira kalau kau memperhatikanku lebih.” lanjut Jee Ahh membuat Donghae seketika membalikan badannya, menatap punggung Jee Ahh yang membelakanginya.

“Kupikir perhatian yang kau berikan padaku itu karena menyukaiku, tapi… tsk, sungguh bodoh aku karena tidak bisa membedakan mana cinta dan kasihan.” Jee Ahh membalikan badannya sehingga membuat mereka berhadapan.

Donghae melihat Jee Ahh tersenyum dari tempatnya berdiri. Jarak mereka cukup jauh, tapi ia bisa melihat kalau Jee Ahh menangis dalam senyuman itu, pipinya basah.

“Sebenarnya sudah lama aku ingin bicara jujur padamu… aku ingin sekali mengatakannya, tapi aku tidak punya keberanian yang cukup untuk mengatakannya padamu. Aku tidaklah cantik seperti Im Hyora, aku pun tidak sekaya dia, hanya gadis biasa..”

Donghae tidak mampu berkata apa-apa, yang ia lakukan hanya diam dengan menatap lurus JeeAh.

“Aku..menyukaimu Oppa. Tapi aku sadar, aku tidak pantas untukmu. Dan aku harus menghapus rasa itu dari hatiku.” Jee Ahh tidak perduli lagi dengan gengsinya yang setinggi langit dengan mengatakan kenyataan itu–menyukai Donghae– di hadapan semua teman-temannya. Ia sudah tidak perduli kalau nantinya Donghae akan membencinya atau apapun itu. Rasa sakit yang dirasanya sudah cukup dan ia harus mengakhiri secepatnya.

Jee Ahh memejamkan mata karena kepalanya yang terasa berat serta pandangannya mengabur, ia bisa merasakan seseorang menopang tubuhnya dengan memanggil namanya, tapi ia hanya mendengar samar-samar karena setelahnya gelap.

–*–*–*-

“Jee.. buka matamu, kumohon.” lirih seorang pria yang duduk di sisi ranjang dengan menggenggam jemari seorang gadis yang tertidur dengan damai di ranjang.

“Mianhae Jee.. jeongmal mianhae.” lirihnya lagi yang kali ini disertai butiran bening keluar dari sudut mata. Sudah dua hari Jee Ahh belum sadar dari pingsannya akibat kejadian tempo hari.

Waktu itu Donghae yang cemas karena Jee Ahh tiba-tiba pingsan segera membawanya ke Rumah Sakit dan mengharuskan Jee Ahh untuk rawat inap akibat dehidrasi juga beban pikiran yang mengganggu waktu istirahatnya, sehingga mempengaruhi kondisi tubuh menjadi drop.

Penjelasan Dokter yang menangani Jee Ahh pun di iyakan oleh Jee Aee tentang kondisi kakaknya, bahwa Jee Ahh akhir-akhir ini jarang makan juga kurang istirahat.

Donghae segera menghapus airmatanya begitu ia mendengar pintu di buka.
“Annyeong…” Jee Aee datang dengan membawa beberapa kantong plastik kemudian menaruhnya di meja.

“Annyeong Jee Aee-ya..” Donghae memberikan seulas senyum untuk Jee Aee.

“Bagaimana Eonnie, apa sudah sadar?” Jee Aee berjalan ke dekat ranjang.

Donghae menggeleng dan tersenyum kecut. “Belum..” lirihnya.

Jee Aee menepuk bahu Donghae pelan. “Oppa pulanglah, istirahat di rumah. Eonnie biar aku yang menjaganya.” saran Jee Aee.

Donghae menggeleng, “Anni, aku akan tetap di sini sampai Jee Ahh sadar.” kékéhnya untuk tetap di samping Jee Ahh.

Jee Ahh menghela nafas pasrah. “Algesseoyo. Aku tadi sudah membelikan makanan untukmu, makanlah. Jangan sampai nanti kau juga ikut sakit, aku akan ke café, annyeong Oppa.”

“Hati-hati Jee Aee-ya.”

“Hm, tenang saja Oppa. Aku pergi bersama Ryeowook Oppa” Jee Aee segera ke luar dari ruangan rawat inap Jee Ahh, meninggalkan Donghae sendiri.

“Hahh.. mau sampai kapan kau tidur, eum? Aku merindukan teriakan dan makianmu, Jee Ahh-ya.. palli iroena.” ucap Donghae lirih kemudian mengecup punggung tangan Jee Ahh.

***

Cahaya yang cukup terang itu membuat seorang gadis perlahan menggerakan kelopak matanya, perlahan terbuka sempurna.

“Eugh…” erangan lirih keluar dari bibir pucatnya, Jee Ahh–gadis itu– memandang tempatnya berada. Kamarnya kosong, tidak ada satu orangpun di sana.

“Jee!!” teriakan seseorang yang cukup keras membuat Jee Ahh yang duduk dengan memegangi kepalanya mencari sumber suara.

Donghae yang baru ke luar dari kamar mandi terkejut sekaligus senang karena melihat Jee Ahh sudah sadar. Ia segera memeluk gadis itu erat.

“Syukurlah kau sudah sadar, aku sangat khawatir bodoh.”

“Oppa… se..sak..” ucap Jee Ahh terbata karena pelukan Donghae yang begitu erat.

Donghae melepaskan pelukannya dan memandang Jee Ahh dengan senyum. Tangan besarnya menangkup wajah Jee Ahh kemudian menariknya mendekat sehingga membuat jarak mereka begitu dekat.

“Mianhae aku sudah membuatmu sakit begini. Maaf karena aku menggantungkan perasaanmu, untuk semua yang kau rasakan karenaku. Jeongmal mianhae Jee Ahh-ya.” ucap Donghae diakhiri dengan senyum kemudian mengecup keningnya.

Jee Ahh yang baru sadar dari pingsannya beberapa menit lalu masih terdiam mendengar rentetan kalimat Donghae. Sepertinya otak di kepalanya masih belum berfungsi dengan benar ketika Donghae mengecup kening dan membiarkannya cukup lama di sana.

“Saranghae Jee Ahh-ya.” lirih Donghae di telinga Jee Ahh kemudian memeluknya, lagi.

Jee Ahh melepaskan pelukan Donghae dan menatapnya ragu. “Oppa bicara apa tadi?” tanyanya bodoh sehingga membuat Donghae tersenyum.

“Kenapa kau jadi bodoh begini, hum?” candanya yang langsung mendapat pelototan dari Jee Ahh.

“Baiklah aku ulangi lagi, karena aku tidak mau sampai kau pergi. Kim Jee Ahh dengarkan kalimatku baik-baik. Aku, Lee Donghae mencintai seorang gadis yang bernama Kim Jee Ahh dan berjanji akan selalu membuat gadis yang ada di hadapanku ini tersenyum serta bahagia. Aku berjanji padamu, Jee Ahh-ya. Saranghae.”

“Oppa… sungguh-sungguh? Oppa tidak bercanda bukan?” tanya Jee Ahh dengan mata berkaca-kaca.

Donghae kembali menangkup wajah Jee Ahh dengan tangannya. “Mianhae aku selalu membuatmu menangis.” Donghae menghapus jejak airmata yang berhasil lolos dari pelupuk mata Jee Ahh sehingga membasahi pipinya.

“Anniya…” ucap Jee Ahh menggelengkan kepalanya. Ia sadar semuanya bukanlah salah Donghae.

“Saranghae Kim Jee Ahh.” ulang Donghae dan detik berikutnya pria itu melakukan tindakan yang membuat Jee Ahh menegang dengan mata melebar serta jantung yang berdetak cepat melebihi batas normal.

“Annye…ong..” langkah serta suara Jee Aee yang akan masuk kedalam ruangan Jee Ahh terhenti seketika, membuat Ryeowook bingung.
“Waeyo?” tanyanya namun tidak direspon oleh Jee Aee yang hanya diam dengan pandangan kosong. Ryeowook yang belum tahu apa yang membuat Jee Aee mematung mengikuti arah pandang gadis itu, begitu ia melihat kedua orang yang sedang menyatukan perasaan mereka lewat panggutan langsung menutup mata Jee Aee dan menyeretnya ke luar.

“Ya! Oppa lepaskan tanganmu.” pinta Jee Aee dengan menghentakan tangan Ryeowook yang menutupi matanya. Ia menatap kesal Ryeowook yang menyeretnya pergi.

“Kenapa menutup mataku, huh?”

“Tentu saja kau tidak boleh melihat adegan seperti itu. Kau itu masih kecil.”

“Mwo? Ya! Aku sudah 18 tahun Oppa, aku sudah dewasa.” sungut Jee Aee tidak terima.
“Lagi pula itu tontonan gratis dan live, sungguh rugi aku tidak melihatnya secara langsung.”

Ryeowook yang mendengarnya melebarkan mata tidak percaya mendengar ucapan Jee Aee, ia menggelengkan kepalanya pelan.
“Aish… kau sudah keracunan virusnya Hyukjae Hyung, dan lebih parahnya lagi aku malah menyukai gadis sepertimu. Ckckck.” gumam Ryeowook pasrah.

“Ya! Kau mau ke mana?” sentak Ryeowook yang mendapati JeeAe akan melangkah pergi.

Jee Aee membalikan badannya kemudian tersenyum. “Tentu saja melihat drama secara langsung.” sahutnya enteng.

“Mwo? ! Andwae!!”

Dengan cepat Ryeowook menggenggam tangan Jee Aee, menahannya karena gadis itu memberontak.

“Ya! Oppa lepaskan, aku mau lihat mereka Oppa.” rengek Jee Aee namun tidak dihiraukan Ryeowook yang terus menyeretnya pergi dari depan pintu kamar rawat Jee Ahh.

“O..oppa.. ses..ak..” gumam Jee Ahh dengan mendorong bahu Donghae.

Donghae mengusap sudut bibir Jee Ahh dengan ibu jari, bibir gadis itu kini merah akibat ulahnya, ia terkekeh melihat rona merah jambu yang menghiasi kedua sisi pipi JeeAh.

“Kenapa kau begitu menggemaskan, eoh?” ucap Donghae dengan mengelus lembut kedua pipi Jee Ahh yang bersemu merah.

“Eum?” Jee Ahh mendongakkan wajahnya agar bisa melihat tatapan teduh milik Donghae.

“Saranghae..” lirih Donghae kemudian mendekatkan wajah, menempelkan bibirnya di kening Jee Ahh membuat gadis itu memejamkan mata. Meresapi tulusnya cinta yang diberikan Donghae lewat kecupan di kening. Perasaan bahagia merasuki relung hati begitu mengetahui bahwa Donghae pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Sungguh indah. Ia sangat bersyukur pada Tuhan karena telah mempertemukan dirinya dengan Donghae, pria yang baik hati juga tampan.

FINISH!!!

8 comments

  1. heiiii nona ann,kau kemanakan yookyung eoh -_- knp ad cast baru

    ad typo dkit tuh “Jee Ahh menghela
    nafas pasrah.” kn wktu itu jee ahh blum sdar n yg jd lwan bcara dongek itu
    jee aee ^^

    uyeeee jee aee-ssi kita sebaya xD #toss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s