Waiting

image

 

 

 

 

Author : Blue Rose

Title : Waiting

Genre : Fluff

Length : Oneshot

Rate : Straight

Cast : Kim Kibum, Choi Young Yoo

 

 

 

“Jika dengan menunggu aku dapat memilikimu, maka akan aku lakukan meskipun itu dalam jangka waktu yang panjang. Aku akan terus menunggumu.”

 

 

*-*-*-*-*-*

Malam semakin larut dan udara terasa lebih menusuk kulit. Ini sudah memasuki musim dingin, jadi wajar saja jika udara semakin menurun.
Kualihkan tatapan mataku yang sedari tadi menatap kolam ikan menjadi menengadah, memandang langit yang hitam pekat. Menghela nafas perlahan. Pikiranku kembali teringat dengan kejadian beberapa jam lalu dan kenanganku dulu.

Apa aku harus bahagia karena kini telah terikat dengan seseorang? Terlebih orang itu adalah orang yang aku cintai sejak dulu. Aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Yang jelas, tidak menyangka semua ini akan terjadi.

Dia, sahabat yang aku cintai secara diam-diam ketika sekolah dulu, kini menjadi tunanganku. Kami resmi terikat beberapa jam lalu.

“Apa yang kau lakukan di sini, Yoo? Apa kau tidak merasa kedinginan, eum?”

Aku tersentak ketika ada seseorang yang menyampirkan mantel hangat di bahu dan ia duduk di samping. Kutatap ia kemudian membalas senyumannya.

“Kau bisa masuk angin bodoh,” gerutunya dengan mimik marah, aku tahu itu hanya pura-pura. “Aigo~ kau dingin sekali.” Lanjutnya setelah menyentuh wajahku dengan kedua tangannya yang hangat, seketika itu juga kehangatan itu menyebar ke seluruh tubuh dan menyelinap dalam hatiku.

“Bukankah ada kau di sini? Kurasa tidak akan kedinginan lagi sekarang.”

Chu..

Terkejut, mataku membulat sempurna. Berani sekali pria ini mencium tanpa aba-aba. Apakah ia tidak tahu bahwa saat ini jantungku berdetak tidak karuan di dalam sana? Apa ia ingin aku mempunyai sakit jantung dadakan, huh?!

“Manis,”

“Kau–tidak sopan,” Kenapa aku harus gugup begini huh? Ia pasti akan menertawakanku sebentar lagi. Dan apa yang aku ucapkan tadi?

See… Dia tergelak bukan?
Dan aku yakin bahwa wajahku kini sudah memerah seperti tomat busuk. Menyebalkan.

“Mwoya? Tidak sopan apa? Aku rasa boleh saja menciummu. Kita sebentar lagi menikah, Yoong. Bukankah itu tidak masalah? Apa ini ciuman pertamamu, huh?”

Sial. Lihat, ia malah justru semakin menggodaku. Gezzzz.. Ingin rasanya aku cubit kedua pipi putihnya itu hingga memerah. Mengesalkan!

“Benar ‘kan?”

Tidak ingin meladeni ucapannya aku memalingkan wajah ke arah lain. Sedikit kesal karena apa yang ia ucapkan memang fakta. Aku, gadis berusia 25 tahun belum pernah sekalipun berciuman dengan pria. Apakah itu terdengar aneh?

Aku hanya berfikir, aku akan memberikan semua yang pertama dalam diriku untuk suamiku kelak, hanya tidak ingin menyesal di kemudian hari. Wajar kan jika aku menjaga apa yang ada dalam diriku dengan begitu hati-hati? Aku ingin orang yang menjadi suamiku nanti bangga karena aku bisa menjaga semuanya dengan baik.

“Kau melamun,” tusukan jari telunjuk yang menekan pipi membuatku tersadar dari lamunan. Menoleh, dan aku menyesal melakukannya. Karena saat ini, wajah kami begitu dekat dan hembusan nafasnya terasa begitu hangat.

“Maaf, jika ucapanku menyinggungmu.” Tatapannya begitu lembut dan dalam. Tangan kananku menyentuh wajahnya, merasakan kulitnya yang halus. “Ani,” lirihku dengan senyum. Ia tersenyum dan aku merasakan dekapan hangatnya juga detak jantungnya yang sama seperti milikku. Berdetak dengan keras.

“Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama, Yoong. Aku bodoh karena tidak menyadari perasaanmu lebih cepat, sehingga membuatmu menunggu lama.”

“Tidak apa-apa, selama itu juga aku baik-baik saja. Jangan di pikirkan,” aku semakin terdorong ke arahnya begitu ia mengeratkan pelukan kami. Wangi ini tidak pernah berubah, tetap sama. Eh tunggu… Tidak berubah? Apa jangan-jangan…

“Bummie, kau masih menggunakan parfum itu?” Tanyaku penasaran. Karena aku hapal dengan wangi ini. Ini adalah wangi parfum yang aku berikan ketika aku akan meneruskan study ke London.

“Oppa!”

“Ck,” aku mendecak mendengar ia meralat panggilanku. “Ke–” baru saja aku akan protes tapi ia langsung menyelanya. “Meskipun kita seumuran, tapi karena sebentar lagi kita menikah, sebaiknya panggilanmu harus kau ganti dengan ‘Oppa’, biasakan dari sekarang. Arrachi?” Aku menatap sebal pria ini.

“Yoongie..,”

Baiklah, aku akan mengalah sekarang.

“Nan arrayo, Oppa-ya.” Rasanya ada yang aneh saat aku menyebut kata ‘Oppa’. Ada satu rasa yang menggelitik dan menyenangkan. Aneh.

“Bagus,” ia tersenyum. Senyuman ini tidak berubah, meskipun senyum itu begitu tipis tapi mampu membuatku tidak bisa berkutik.

“Mwo? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Aku mengerjap. Apa aku terlalu lama memandangnya? Aish, memalukan!

“Ani, aku hanya teringat tentang kau yang di juluki ‘Killer Of Smile’. Dulu mungkin aku tidak begitu perduli tapi sekarang aku baru sadar jika senyummu itu benar-benar mematikan.”

“Mematikan? Lalu kenapa kau tidak mati, huh?”

Aku terkekeh melihatnya merajuk. Lucu sekali dia.

“Bukan dalam arti kau membunuh orang, pabo!” Tangan kiriku meninju pelan bahunya dan ia langsung tersenyum. “Aku tahu, maka itu kau sering cemburu kan karena banyak gadis-gadis yang mengejarku?”

“Mwo?”

“Sudah, mengaku saja. Aku tahu itu semua dari Yoo Kyung,” ia menatap dalam. Aku bahkan tidak bisa mengalihkan mataku dari tatapannya yang begitu lembut. Tidak dapat berkata-kata.
Kalimatnya memang benar. Aku selalu cemburu jika ia begitu populer di kalangan siswi, selain itu ia juga pintar, tidak sepertiku yang serba biasa.

“Oppa, boleh aku bertanya?”

“Apa?”

“Kenapa kau mau di jodohkan?”

“Itu karena kau. Jika yang di jodohkan denganku gadis lain aku pasti akan langsung menolaknya.” Ia menatapku begitu lembut dan senyum itu selalu terpatri di wajah tampannya.

“Alasannya?” Aku ingin tahu apa alasan terbesarnya menerima perjodohan ini. Apa ia benar-benar mencintaiku atau..

“Yoong,” ia menggenggam kedua tanganku, tatapan matanya tidak bisa aku abaikan begitu saja. “Aku akan mengaku padamu,” ucapnya yang mampu membuat kepalaku di penuhi tanda tanya besar.

“Pengakuan?”  memastikan dan ia mengangguk. “Katakan..,” putusku dengan menunggu ia berkata.

“Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak kita duduk di Junior High School.” Aku terkejut. Tentu. Sejak Junior High School? Itu berarti ia yang lebih dulu sadar akan rasa itu. Karena aku baru sadar bahwa aku mencintainya saat masuk di Senior High School tingkat dua.

“Kenapa kau–tidak mengatakannya?” kalimatku tersendat. Ia tersenyum, “Saat itu kupikir belum saatnya. Terlebih kau begitu cuek dan tomboy. Bahkan kau sering mengacuhkanku, sehingga aku berpikir kau tidak mungkin menyukaiku. Karena kau pun selalu bersikap biasa saja. Dan apa kau tahu bahwa aku sengaja memanfaatkan kedekatan gadis-gadis agar membuatmu cemburu?”

Aku hanya menatapnya dengan diam. Aku sungguh ingin tahu yang sebenarnya, maka itu aku tidak menyelanya sama sekali.

“Aku sengaja melakukan itu agar kau marah padaku, agar kau mau menatapku. Dengan kau marah berarti kau memperhatikanku, aku senang dengan kenyataan itu.” Ia tersenyum lagi dan tangan kanannya mengelus pipiku lembut.

“Tapi, aku tidak tahu jika tindakanku itu justru menyakitimu. Maaf.” Kali ini tatapannya berubah sayu, sarat akan penyesalan.

“Tidak apa-apa,” mencoba menyatakan bahwa aku selama ini baik-baik saja.

“Maaf membuatmu terluka dan menunggu begitu lama.” Aku menggeleng kecil.
“Jika dengan menunggu aku dapat memilikimu, maka akan aku lakukan meskipun itu dalam jangka waktu yang panjang. Aku akan terus menunggumu.” Kataku yakin. “Di sini,” kugenggam tangan kirinya kemudian menuntunnya menyentuh dada sebelah kiri, bersamaan dengan kedua tanganku. “Hanya ada namamu.”

Ya, benar.

Jika dengan menunggu aku akan mendapatkan apa yang aku harapkan, maka akan aku lakukan meskipun itu membosankan dan tidak pasti. Menunggu memang membosankan dan itu butuh kesabaran.

“Terima kasih, Yoong. Kau sudah mempercayakan hatimu padaku, atas kesabaranmu untuk menungguku.” Ia menatapku dalam. Aku mengangguk.

“Hei, uljimala, Yoong.”

“Oppa, jeongmal gomawo sudah memilihku. Kuharap kau tidak menyesali keputusanmu setelah ini.” Aku terisak. Menangis bukan karena sedih, melainkan aku ingin meluapkan rasa bahagia tapi aku tidak tahu harus bagaimana meluapkannya, maka itu aku menangis.

“Sssttt… Uljima, aku pastikan tidak akan menyesal dengan keputusanku ini. Memilihmu. Yang ada, aku justru merasa begitu beruntung karena di cintai dengan begitu tulus olehmu.”

Aku langsung memeluknya, hangat, menenangkan. Airmataku semakin banyak yang keluar. Aku merasa begitu bahagia. Hari ini tidak akan pernah kulupakan. Dan ini adalah awal dari kehidupanku dengan orang yang aku cintai. Berharap aku bisa menjalaninya dengan baik dan rasa cintak ini tidak akan pernah berkurang sampai kapanpun.

“Oppa, saranghanika.”

“Nado, nan saranghanda Yoongie.”

Aku menutup kedua mataku ketika ia sedikit menundukkan wajah. Aku tahu maksudnya, menanti dengan hati berdebar apa yang akan terjadi selanjutnya. Kali ini aku tidak akan memaki ataupun protes. Sentuhannya begitu lembut dan hati-hati sehingga dapat kurasakan betapa tulusnya ia mencintaiku. Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa ia tidak ingin menyakitiku dan perasaannya itu tulus. Bukan nafsu.

Kembali kubuka mata ketika kecupannya beralih ke kening dan ia mendiamkannya di sana. Nafasnya memburu dan hangat.

“Gomawo, jeongmal gomawo, Yoong.”

Aku memeluknya semakin erat, “Dasi hanbeon gamsae, Oppa. (Terima kasih kembali, Oppa).”

 

 

 

Finish!!

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s