The Prince #1

wpid-prince.png

Author : Blue Rose

Title : The Prince Part 1

Genre : Romance, Comedy, Family

Length : Chapter

Rate : PG -17

Cast : Cho (Choi) Siwon, Kim Yookyung, Cho Kyuhyun

 

Disclaimer : Cerita ini terinspirasi dari beberapa film yang saya tonton juga novel terjemahan yang saya baca. Semua yang ada di sini semata-mata hanya fiksi belaka, khayalan yang saya tuangkan dalam bentuk tulisan ini. Lalu untuk nama marganya bang Won-won aka Siwon saya ganti (di cerita ini yah) menjadi ‘Cho’, sama kaya si devil ganteng yang satu itu. *Tunjuk Kyuhyun.😀

Bagi yang tidak suka saya sarankan tidak usah membacanya, daripada ujung-ujungnya nge-bash.

Jja… Monggo Dipun waos (selamat baca)

 


 

Pagi hari yang biasanya diawali dengan sarapan penuh keakraban serta canda tawa dari kedua anak di rumah kecil keluarga Kim kini tidak terjadi. Kedua orang itu– Siwon dan Yookyung–saling diam, sibuk dengan sarapan pagi mereka. Tepatnya berpura-pura sibuk. Kecanggunggan jelas terlihat disana. Tuan Kim, selaku kepala keluarga serta ayah bagi kedua putra-putrinya meletakan koran yang dibacanya, berganti menatap keduanya bergantian.

“Sebenarnya kalian ini kenapa, hm?” Tuan Kim bertanya pelan. Pria yang sudah memasuki usia setengah abad ini memperhatikan keduanya penuh tanya. Terlebih pada putrinya yang duduk di sebelah kiri. Gadis yang mengenakan seragam sekolah dengan rambut pendek sebahu itu kini jadi pendiam, tidak biasanya.

“Siwon-ah, apa terjadi sesuatu dengan adikmu?” Tuan Kim mengalihkan pandangannya ke arah Siwon yang sedang mengelap mulutnya dengan serbet makan. Pria tampan berusia 21 tahun ini menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan ayahnya–atau tepatnya, pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah. Karena berkat pria inilah ia masih ada di dunia ini.

“Yookyung tidak–”

“Aku berangkat.” Yookyung yang belum menyelesaikan sarapan paginya buru-buru menyela, dengan cepat gadis ini berlalu meninggalkan ayah serta oppanya tanpa pamit. Yang dimaksud pamit adalah mencium pipi ayah dan oppanya, yang biasa dilakukan Yookyung setiap akan berangkat dan pulang sekolah.

Siwon menatap punggung Yookyung nanar. Yookyung masih marah rupanya.

“Kalian bertengkar, Siwon-ah?”

“Tidak.., hanya saja–”

“Kyungie tidak setuju jika kau kembali ke rumah?” Tebak Tuan Kim yang sepertinya sudah memahami dari raut yang ditunjukan Siwon. Pria tampan ini mengangguk kecil. Tuan Kim tersenyum simpul, menepuk pelan bahu Siwon. “Jangan hiraukan dia, mungkin dia merasa akan kehilangan kakak laki-laki yang selama ini melindunginya. Aku akan menjelaskan padanya nanti, jangan khawatir.”

“Dia tidak akan kehilanganku, appa, aku akan sering mengunjungi kalian nanti.” Ujar Siwon mantap. Ia tidak mungkin melupakan kebaikan appanya yang satu ini serta adik manisnya yang manja itu.

Arraseo,” senyum kebapakan yang selalu Siwon sukai kini menghiasi wajah tuanya. “Akan aku jelaskan secara perlahan padanya. Kapan mereka akan datang?”

“Mungkin sore, mereka hanya bilang akan menelponku nanti, jika mereka akan kemari.” Siwon menggapai mangkuk makan Yookyung yang masih tersisa setengah kemudian menumpuknya dengan mangkuk kotor lain. Membawanya ke bak pencuci piring kemudian kembali ke meja makan. “Appa bagaimana kalau kalian ikut saja denganku? Kita tinggal bersama di sana.” Siwon memberi usul dengan tatapan penuh harap. Tuan Kim menyesap kopinya yang sudah dingin, “Tidak nak. Kami tidak bisa.”

“Kenapa? Aku yakin mereka tidak akan keberatan jika kalian ikut, aku yang akan bicara pada mereka.”

“Aku tahu mereka tidak akan keberatan, tapi tetap saja kami tidak bisa. Aku dan Yookyung akan tetap tinggal di sini, kau bisa mengunjungi kami kapanpun yang kau mau, seperti yang kau bilang. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu.” Tuan Kim bangkit dari duduknya, menepuk pelan bahu Siwon sebelum berlalu pergi, meninggalkan Siwon yang terlihat kecewa dengan jawabannya.

“Aku hanya tidak ingin membuat Yookyung sedih, appa. Kalian sudah aku anggap keluargaku sendiri.” Gumam Siwon dengan kepala tertunduk.

.
.
.

Cho Siwon adalah anak yang ditemukan keluarga Kim 10 tahun lalu. Saat itu Tuan dan Nyonya Kim dalam perjalanan Boryeong ke Incheon dan tidak sengaja melihat sebuah kecelakaan. Mobil yang ditumpangi oleh keluarga Cho terbalik. Tuan dan Nyonya Cho masih berada di dalam mobil, sedangkan anak laki-laki mereka–Cho Siwon–yang berumur 11 tahun sudah berada di luar mobil dengan beberapa luka di tubuhnya serta tak sadarkan diri.
Tuan dan Nyonya Kim yang melihat itu segera menolong mereka. Namun saat akan membantu mengeluarkan sepasang suami istri tersebut percikan api yang tadinya kecil mulai berkobar, menjalar dengan cepat dan ledakan keras itupun terjadi. Mobil itu terbakar beserta sepasang suami istri tersebut.

Tidak ada yang melihat kejadian itu selain mereka. Selain tempat itu sepi–daerah pinggiran, serta keadaan disekitarpun gelap. Tidak ada penerangan ataupun rumah warga.

Namun sebelum ledakan itu terjadi, saat Tuan Kim mencoba mengeluarkan Tuan Cho yang masih sadar hanya mengucapkan terima kasih serta berpesan agar mereka menjaga putra mereka Cho Siwon.

Setelah kejadian itu, mereka merawat Siwon selayaknya anak sendiri. Mereka tidak punya pilihan lain, karena Siwon sejak kecelakaan itu mengalami amnesia permanen. Tidak mengingat apapun sehingga tidak bisa ditanyai. Dan mereka tidak akan tega meninggalkan Siwon di panti asuhan sehingga mereka merawatnya. Empat tahun kemudian lahirlah Yookyung, adik Siwon.

 


Beverly Academy adalah sekolah menengah atas yang diperuntukan (khusus) hanya untuk orang-orang dari kalangan atas atau orang terlipihlah yang bisa masuk ke sana. Sekolah yang terdiri dari dua bangunan–barat dan timur–berdiri kokoh sejak seperempat abad lalu. Bangunan yang mempunyai cerita tersendiri bagi pendirinya–Cho Young Hwan.

Yookyung berjalan lunglai memasuki gerbang sekolah setelah turun dari bus jemputan khusus yang disediakan oleh pihak sekolah. Gadis berambut sebahu dengan tinggi tidak mencapai 160cm ini menjawab beberapa sapaan dari teman-temannya. Raut murung sangat kentara sekali di wajah gadis ini.

Hari yang buruk. Lirihnya dengan terus berjalan menuju gedung sebelah barat yang bertingkat empat. Yookyung berhenti ketika perutnya terasa melilit kemudian menggerutu pelan.

“Ini semua gara-gara Siwon oppa,” gadis ini tidak berselera makan setelah mendengar jika Siwon akan pergi, kembali ke keluarga aslinya. Moodnya langsung memburuk, ia bahkan menangis berjam-jam di kamar mandi. Beruntung pagi ini matanya tidak membengkak seperti bola pingpong, jika itu terjadi akan sangat merepotkan.

“Pagi, Yoo..” Sebuah sapaan dengan nada riang terlontar dari bibir seorang gadis yang duduk di kursi barisan kedua–urutan ketiga dari belakang, menyapa seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam ruang kelas 2-2. Gadis itu hanya melambaikan tangan sebagai respon sapaan pada sahabatnya–Jaekyung.

“Kau terlihat kacau, Yoo.” Celetuk Jaekyung setelah gadis itu mendekat ke arahnya. Tidak biasanya Yookyung berwajah murung di pagi hari yang cerah ini.

“Hanya kurang tidur.” Jaekyung menyipitkan mata, ia tidak bisa percaya begitu saja dengan perkataan Yookyung.

Gotjimal, kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Berceritalah padaku, Yoo. Siapa tahu aku bisa membantumu,” Jaekyung mencoba membujuk Yookyung namun sepertinya gadis keras kepala ini tidak mau berbagi dengan sahabatnya.

“Kau tidak akan mengerti masalahku, Jaekyung-ah.” Yookyung menjawabnya dengan suara lirih kemudian merebahkan kepalanya ke meja. “Ini terlalu rumit,” bisik gadis ini lagi. Jaekyung menyerngit bingung, “Bagaimana aku bisa mengerti kalau kau tidak bercerita, pabo.” Gerutu gadis berambut ikal yang dikuncir tinggi.

“Biar aku cerita juga kau tidak akan mengerti posisiku.” Yookyung menegakan duduknya, ” Dan satu lagi, jangan pernah lagi mengataiku pabo. Aku tidak sebodoh pacar monyetmu itu.” Desis Yookyung sengit.

Jaekyung membulatkan mata sipitnya. Gadis yang lebih tinggi dari Yookyung itu mendesis geram, “Jangan sebut Hyukjae monyet, Yoo.”

“Apa? Bukankah memang kenyataannya begitu, huh? Pacarmu itu tidak mau diam, pecicilan dan sangat menyukai pisang. Aku heran bagaimana bisa kau mau jadi pacarnya, sudah jelas-jelas masih ada Minho yang lebih keren, kau justru memilih Hyukjae.”

“Bilang saja kau iri padaku.”

“Memang apa yang perlu di-iri-kan darimu? Pacar? Tidak.”

“Ada. Kau selalu iri dengan tubuhku yang lebih tinggi 5cm darimu.” Sahut Jaekyung tersenyum miring kemudian melanjutkan, “Kenapa kau tidak menerima Donghae saja, hm? Bukankah pria tampan itu sudah menyukaimu sejak kau masih di kelas satu dulu. Kupikir, dia baik.”

“Tidak.” Terlalu cepat untuk menjawab. Namun itulah Yookyung. Dia akan bereaksi dengan cepat jika itu menyangkut dengan pemuda satu itu–Lee Donghae–si stalker alien, sebutan yang Yookyung berikan untuk Donghae.

“Sampai kapanpun aku tidak akan mau menjadi pacar ikan pendek itu, yang benar saja. Dan lagi, dia itu playboy. Suka sekali menebar virus casanovanya. Laki-laki di sini bukan hanya dia saja.” Jawab Yookyung menggebu-gebu. Jaekyung tersenyum simpul. Akhirnya ia bisa melihat Yookyung yang biasanya lagi. “Kenapa kau tersenyum seperti itu?”

“Aku senang melihatmu yang cerewet seperti ini daripada wajah murungmu tadi.”

Yookyung merebahkan kepalanya di meja, tatapannya ke arah Jaekyung yang duduk di samping kanannya. Sahabatnya ini menatap penuh selidik.

“Kau masih tidak mau cerita padaku, Yoo?”

“Tidak ada apa-apa, Jaekyung-ah.”

“Ok. Kalau begitu jangan anggap aku sahabatmu lagi.”

“Hei, kenapa begitu?” Protes Yookyung tidak terima. Jaekyung memalingkan wajah ke arah lain lalu berpura-pura sibuk membaca buku. Yookyung mendesah berat, “Aku belum bisa menceritakannya padamu, Jaekyung-ah. Mianhae. Aku sendiri bingung harus memulai dari mana,” Jaekyung masih mendengar gumaman lirih Yookyung. Gadis ini yakin jika ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
Ketika ia berbalik untuk mengatakan sesuatu, Yookyung sudah tidak ada di kursinya. Hanya tersisa tas biru dengan gambar devil yang tergeletak di meja. Jaekyung menelisik seluruh isi ruangan yang sudah mulai ramai oleh beberapa siswa yang masuk, namun Yookyung tidak ada di antara mereka. Gadis itu pergi. Kemana? Sedangkan 10 menit lagi jam pelajaran akan segera dimulai.

“Astaga… Kim Yookyung, jangan bilang kalau kau akan bolos pelajaran pagi ini,” gumam Jaekyung cemas, maka ia putuskan untuk mencari gadis itu.

 


Rumah besar nan megah dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi serta terlihat kokoh menjadi pemandangan pertama ketika Siwon menginjakan kakinya di halaman depan rumah itu. Rumah keluarganya. Keluarga yang sesungguhnya. Pandangannya beralih ke halaman samping rumah yang ditanami beberapa macam bunga. Bibirnya tersenyum ketika ingat bagaimana senangnya wajah adiknya–Yookyung–yang begitu menyukai bunga. Ia jadi teringat dengan kalimat gadis itu saat masih kecil dulu. Jika aku besar nanti, aku ingin membeli rumah besar dengan halaman yang luas agar aku bisa menanaminya dengan berbagai bunga kesukaan eomma. Kita akan berkebun bersama, oppa. Pasti menyenangkan.

Kini ia telah berada di rumah besar dan megah serta halaman yang luas, seperti yang Yookyung impikan saat masih kecil dulu. Namun senyum itu sirna ketika ingat bagaimana raut sedih Yookyung ketika ia mengatakan akan kembali bersama keluarganya. Gadis itu langsung berlari pergi dengan linangan airmata. Ia telah membuat adik kecilnya menangis untuk kedua kalinya. Pertama kali ia membuat Yookyung menangis saat gadis itu tahu jika dia bukanlah kakak kandungnya, dan yang kedua adalah ini. Ia kembali bersama keluarganya.

“Tuan, anda sudah ditunggu Nyonya besar di dalam.” Seo ahjushi, orang kepercayaan keluarga Cho menginterupsi lamunan Siwon hingga pria tampan ini menoleh ke arahnya.

“Ah, ye.”

“Mari Tuan,” Seo ahjushi mempersilakan Siwon agar berjalan lebih dulu yang kemudian disusul olehnya, tepat di belakang Siwon.

Ahjushi?”

Nde, Tuan.”

“Seperti apa ibuku?” Siwon bertanya dengan terus berjalan pelan, “jujur saja, aku sama sekali tidak ingat bagaimana wajahnya.”

“Ah itu.., nanti Nyonya yang akan menjelaskannya pada Tuan. Saya tidak mempunyai hak untuk menjelaskan secara detailnya.”

“Begitu…”

Seo ahjushi memahami bagaimana perasaan Tuan mudanya yang satu ini. Setelah sekian tahun tidak bertemu keluarga bahkan tidak mengingat siapa kedua orang tuanya dan kini ia kembali bersama mereka, pasti perasaan asing masuk dalam hatinya. Banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Siwon, ia bisa melihat dari raut yang ditunjukan pria ini.

Langkah mereka menuju lantai dua, menaiki tangga kemudian berbelok ke kiri, berjalan lurus hingga mereka berhenti disebuah pintu ganda yang dicat coklat.

“Nyonya, Tuan muda Siwon sudah datang.” Seo ahjushi mengetuk pintu dengan sedikit keras.

“Masuk,”

Siwon langsung merasakan udara dingin melingkupi tubuhnya. Ini baru mendengar suaranya saja, belum bertemu langsung namun ia sudah segugup ini. Bahkan ini lebih menegangkan dari ia akan melakukan tes wawancara kerja. Bukankah wanita yang ada di dalam itu keluarganya? Seharusnya ia tidak perlu setegang ini kan?

“Tuan, silahkan masuk.” Seo ahjushi membuka pintu lebih lebar. Siwon menatapnya ragu, “Jangan khawatir, Nyonya orang yang baik.” Ucap Seo ahjushi agar Siwon lebih rileks. “Percayalah,” pria yang sudah mengabdikan dirinya selama hampir 20 tahun ini mengangguk disertai senyum. Menyakinkan Siwon kalau semuanya akan baik-baik saja.

Siwon menarik nafas dalam beberapa kali sebelum mengangguk dan melangkah masuk. Tuhan, bantu aku, doanya dalam hati.

Siwon dapat mendengar pintu tertutup pelan setelah ia mengakhiri doa dan membuka mata.
Siwon mengamati ruangan besar ini. Dinding ber-wallpaper-kan kuning pastel dengan beberapa bunga tulip menghiasi seluruh ruangan. Dua rak buku setinggi 1meter yang ada di sebelah kiri terisi penuh oleh buku-buku. Ada beberapa lukisan yang menghiasi dinding serta beberapa foto keluarga. Dan satu set sofa yang ada di sisi kanan dekat akuarium kecil.

“Kemarilah, nak.”

Siwon segera tersadar saat telinganya mendengar suara lirih seorang wanita. Pandangannya ia alihkan ke satu titik. Wanita tua yang duduk di balik meja kerja sedang menatapnya. Dengan keberanian yang sudah terkumpul ia berjalan pelan menuju wanita itu.
Siwon berhenti tepat di hadapan wanita tua yang saat ini sedang memperhatikan dirinya. Matanya berkaca-kaca.

Nyonya Cho Seoji berdiri dari duduknya, berjalan pelan menggunakan tongkat menuju Siwon yang memandangnya bingung.

“Kau persis sekali ibumu, nak.” Wanita tua ini menangis, menyentuh wajah Siwon yang benar-benar mirip menantunya.

Siwon dengan ragu memeluk wanita tua ini, mengusap punggungnya halus. Hangat. Ketakutan yang sempat ia rasakan kini menguap entah kemana.

“Kau tumbuh dengan sehat, aku sangat bersyukur pada Tuhan.” Siwon tetap diam, tidak tahu harus memberi respon yang seperti apa.

“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, cucuku.”

Jadi dia halmeoni…

“Aku benar-benar bersyukur kau selamat dari kecelakaan waktu itu. Andai Young Hwan dan Hana masih ada, aku yakin mereka akan sangat bahagia bisa bertemu lagi denganmu, nak.”

Siwon sudah mendengar cerita tentang kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun silam dari Tuan Kim, appanya. Ia sangat terkejut ketika mengetahui kenyataan itu. Tidak pernah menyangka jika ia bukanlah anak dari keluarga Kim. Ia mengetahui kenyataan itu saat usianya 19 tahun, setelah ia menemukan akta keluarga di dalam laci saat membereskan kamar appanya.

Kemudian dua hari lalu ada orang yang datang ke rumah mengatakan jika ia adalah Cho Siwon, saudara kembar Cho Kyuhyun. Anak yang hilang setelah kecelakaan di daerah Boryeong, sebuah kota dipinggir pantai laut kuning.

Halmeoni,bisakah kau ceritakan secara detail tentang keluargaku dan mengapa kecelakaan itu terjadi? Aku ingin tahu yang sebenarnya. Dan juga tentang saudara kembarku,” Siwon memandang neneknya, memohon. Ia berhak tahu tentang semua kejadian ini.

“Tentu saja, nak.” Nyonya Seoji mengajak Siwon menuju sofa yang ada di sana setelah mengambil beberapa map yang ada di meja kerjanya serta satu album foto. Mereka duduk berdampingan di sofa panjang.

“Akan aku mulai dari sini…,” Nyonya Seoji membuka album foto keluarga. Halaman pertama adalah foto yang diambil saat Siwon dan Kyuhyun masih bayi. Kedua bayi laki-laki yang tampan sedang digendong oleh Cho Hana yang duduk di ranjang rumah sakit. Foto setelah melahirkan. Jika diperhatikan baik-baik, ia memang cendrung mirip ibu dibanding ayahnya.

Nyonya Seoji terus menceritakan satu persatu foto yang ada di album tersebut yang kemudian terhenti saat foto terakhir diambil, foto dimana dirinya dan Kyuhyun saat umur 11 tahun, foto setelah kenaikan kelas yang kemudian sehari setelahnya, mereka–minus Kyuhyun–pergi berlibur ke daerah Boryeong.

“Selama bertahun-tahun aku mencoba mencarimu, dan baru sekarang bertemu.” Nyonya Seoji kembali mengusap sudut matanya yang basah, menatap Siwon dengan senyum lega. Wanita tua ini bisa merasakan perubahan suasana dalam diri cucunya.

“Orang tuamu pasti bahagia karena pada akhirnya kau bisa berkumpul lagi bersama kami,” kali ini Siwon memaksakan sebuah senyum setulus mungkin untuk neneknya.

“Ya, aku yakin itu.” Sahut Siwon dengan memeluk neneknya dari samping. Wanita tua ini membuka salah satu map yang tadi dibawanya. Map biru yang berisikan data-data yang ia kumpulkan saat mencari Siwon dulu.

Appa, eomma, aku telah kembali. Maafkan aku karena tidak bisa mengingat wajah kalian setelah kejadian itu. Siwon memejamkan mata dan berkata dalam hati. Ia harap orang tuanya di atas sana bisa melihatnya dengan senyum karena saat ini ia telah kembali bersama keluarganya.

 


Hari yang sangat buruk. Buruk! Lebih buruk dari saat aku jatuh dari tangga dan mengalami patah tulang tangan kiri, maki Yookyung dalam hati.

Tidak pernah dalam hidup Yookyung ia bisa sesial ini. Dimulai di pagi hari yang gagal membolos jam pelajaran pertama karena ia ketahuan oleh Jaekyung saat di UKS–berpura-pura sakit perut. Kedua, nilai ulangan sejarahnya yang dibawah rata-rata. Bahkan ia sampai dipanggil oleh Kim Heechul seonsangnim, karena kali pertamanya ia mendapat nilai rendah.
Kemudian tadi, saat ia akan menyeberang jalan, hampir saja tertabrak mobil karena melamun. Orang yang hampir menabraknya memarahi, agar jangan mencoba bunuh diri saat mobil miliknya melintas–malah menyuruhnya agar bunuh diri dengan berdiri di rel kereta api.

Siapa juga yang mau bunuh diri, huh? Aku masih ingin hidup.

Perasaannya semakin buruk setelah bertemu orang yang hampir menabraknya tadi. Dengan berani orang itu memarahinya di hadapan umum–orang yang berlalu lalang di jalan, bahkan mereka sampai menjadi pusat perhatian selama beberapa saat.
Sehingga ia mengurungkan niatnya yang akan pulang cepat dengan berhenti di taman kompleks, beberapa blok dari rumahnya. Dan baru pulang setelah matahari tenggelam.

“Aku pulang..” Yookyung membuka pintu rumah, mengganti sepatu dengan sandal rumah. Harum masakan langsung tercium saat gadis ini melangkah memasuki ruang tamu–yang bersebelahan dengan dapur.

Appa, aku pulang.” Yookyung meletakan tas sekolahnya di sofa ruang tamu kemudian menghampiri ayahnya yang sedang sibuk memasak.

“Selamat datang, sayang. Hari ini kau telat, apa kau banyak tugas sekolah hari ini?” Tuan Kim menjawab setelah menoleh sebentar ke arah putrinya. Yookyung meraih apron yang tergantung di samping lemari pendingin, memakainya dan bersiap membantu pekerjaan sang ayah untuk menyiapkan makan malam.

“Begitulah…” ujar Yookyung pelan. Tidak mungkin ia berkata jujur. Ia tidak mau membuat ayahnya marah.

“Hari ini oppamu tidak pulang, dia sudah mengirimimu pesan ‘kan?” Tuan Kim berkata sambil sibuk mengaduk sayur. Yookyung yang sedang mencuci tangan menoleh sekilas ke arah ayahnya.

“Ya,” Siwon memang mengiriminya beberapa pesan namun tidak ada satupun yang ia balas, begitu juga dengan beberapa panggilan yang ia abaikan.

Oppamu bilang, mereka begitu baik. Dan dia mempunyai saudara kembar. Rumahnya begitu besar, jika kau sedang libur, dia akan kemari untuk mengajakmu menginap di sana. Kau pasti suka, karena di sana banyak bunga-bunga. Lalu Siwon juga bilang–”

Appa, aku tidak akan pergi ke sana. Dan berhenti membicarakan oppa.” Yookyung menghentikan acara memotong wortel, menatap ayahnya yang terkejut karena ia berbicara dengan suara keras.

“Yoo…”

Jeongseohabnida, aku–mandi dulu.” Dengan buru-buru Yookyung melepaskan apron yang dipakainya, meletakannya di meja makan lalu berlari menuju kamarnya yang terletak di lorong sebelah kanan, dekat kamar Siwon.

Tuan Kim menghela nafas mendengar pintu yang ditutup dengan keras. Gadis itu menangis, ia yakin itu.
Ia tahu bagaimana perasaan putri satu-satunya itu. Sedih, kecewa dan marah. Karena baginya, Siwon adalah kakak yang sempurna. Kakak yang selalu ada bersamanya sejak ia lahir, menemani dan selalu mendukungnya. Sosok yang bisa ia jadikan sandaran saat gadis itu menangis. Namun kini Siwon telah pergi, kembali bersama keluarga yang selama ini mencarinya.

“Dambi… Aku harus bagaimana?” Lirih Tuan Kim sedih dengan menyebut nama mendiang istrinya. Sejak kepergian sang istri, yang selalu ada di sisi Yookyung hanya Siwon, karena ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tak jarang ia sering pergi keluar kota karena pekerjaan. Meninggalkan Siwon dan Yookyung berdua.

Tuan Kim sadar akan kesalahannya yang satu ini, terlalu memanjakan Yookyung. Begitu juga Siwon. Dan kini, saat Siwon tidak ada, Yookyung merasa telah ditinggalkan oleh pemuda tampan itu.

 

 


Yookyung menutup pintu dengan keras, meluapkan kekesalannya pada benda tak berdosa itu. Tubuhnya luruh ke lantai, airmatanya kembali mengalir.

Aku tidak secengeng ini kan? Tapi kenapa dalam sehari ini aku menangis lagi dan lagi?!

Yookyung menyandarkan kepalanya ke daun pintu, memejamkan mata dan membiarkan airmata itu terus mengalir membasahi wajahnya.

Perasaan sedih seperti ini pernah ia alami, yaitu saat ia harus kehilangan ibunya yang meninggal karena cancer serviks, saat ia duduk di sekolah dasar tingkat lima.

“Yoo-ya…” ketukan pelan yang dilanjut dengan panggilan Tuan Kim membuat Yookyung segera membekap mulutnya dengan kedua tangan, berharap sang ayah yang berdiri di depan pintu kamarnya tidak mendengar suara tangisannya.

“Ayo makan dulu, appa sudah selesai memasak,” Tuan Kim kembali bersuara.

“Aku… Tidak lapar, appa.” Yookyung menjawab dengan suara bergetar. Susah payah menahan isakan.

“Mana bisa begitu, appa sudah memasak banyak hari ini, kita makan sama-sama ya? Appa tunggu di ruang makan. Sekarang kau mandi dulu, eoh..”

Tidak ada jawaban dari gadis yang masih duduk di lantai dengan menyandar di pintu. Bahkan tangisan itu semakin menjadi setelah mendengar derap langkah yang menjauh, menandakan jika ayahnya telah pergi.

“Oppa, kenapa kau harus pergi?” ucap Yookyung lirih, sarat akan kesedihan.
Ponsel yang ada dalam saku seragam sekolahnya bergetar. Yookyung segera mengusap wajahnya asal, melihat nama penelpon itu.

Oppa calling

Ditekannya tombol merah yang ada di layar touch screen kemudian mematikannya, tak lupa melepaskan baterainya.

Ia tidak bisa bicara dengan Siwon saat ini. Yookyung masih marah serta kecewa dengan pria satu itu.

Oppa janji tidak akan meninggalkanmu, Yoo. Mana bisa oppa pergi meninggalkan adik oppa yang manja ini.

“Pembohong,” gumam Yookyung dengan beranjak dari duduknya, menuju ranjang setelah meletakan ponsel di meja belajar.

“Kau mengingkari janjimu, jangan harap kau bisa aku maafkan dengan mudah, oppa.” Yookyung berjalan menuju lemari pakaian, mengambil pakaian ganti dan handuk bersih. Ia harus mandi untuk merilekskan pikirannya. Berendam sepertinya usul yang bagus.

.
.
.

Perasaannya lebih baik setelah ia berendam dalam bathtub selama 20 menit. Yookyung menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Mata merah dan bengkak. Yookyung merutuk dalam hati. Ia terlihat sangat kacau meskipun sudah terlihat lebih fresh.

“Sayang, apa kau tertidur di dalam?” Ketukan dari luar kamar mandi membuat Yookyung tersentak, dengan buru-buru ia menjawab. “Tidak. Aku akan keluar sebentar lagi, appa.”

Appa tunggu di meja makan, cepatlah, makannya sudah dingin.” Mendengar kalimat ayahnya Yookyung segera mengganti kimono mandinya dengan baju biasa dan bergegas keluar.

Begitu sampai di meja makan langkahnya langsung terhenti. Tuan Kim sedang berbicara dengan seseorang di telpon yang ada di ruang tamu.

“Saya mengerti, Tuan. Mohon beri saya waktu sedikit lagi. Dua minggu? Baik…, saya paham.”

Appa?” Yookyung memberanikan diri memanggil ayahnya yang langsung mengakhiri sambungan begitu melihat gadis itu muncul di meja makan dengan menatapnya bingung.

“Ah–Yoo…, kau sudah mandi..” Tuan Kim segera menghampiri Yookyung.

“Siapa yang menelpon malam-malam begini?” Yookyung mengikuti langkah Tuan Kim yang kini duduk di kursi, gadis ini memilih duduk di samping kanan ayahnya. Senyum canggung terlihat jelas di wajahnya yang sudah menunjukkan beberapa garis–tanda penuaan–di beberapa tempat.

“Oh–itu.., teman kantor appa,”

“Apa ada masalah serius di tempat kerja appa?” Ayahnya bukanlah pegawai tinggi, hanya karyawan biasa tingkat rendahan.

Eobseyo. Sudah, kita makan saja, appa sudah sangat lapar.” Tuan Kim mengalihkan pembicaraan dengan alasan lapar. Dan Yookyung sepertinya tahu jika ada sesuatu yang tidak beres dengan ayahnya. Namun ia memilih diam. Nanti juga ia tahu, pikirnya.

 


“Hyung!”

Siwon terlonjak kaget mendengar teriakan keras dari arah pintu kamar. Pria tampan yang sedang berbaring telungkup di ranjang segera memperbaiki posisinya menjadi duduk bersila.
Ditatapnya pria yang ikut duduk di ranjang sisi kiri, “Ada apa?” ujarnya dengan tatapan penuh tanya.

Kyuhyun–sang adik–tidak menjawab melainkan langsung memeluk Siwon hingga pria itu terjungkal ke belakang. Beruntung ia tidak jatuh ke lantai.

“YA!”

Kyuhyun tertawa lepas. Pria satu ini terlihat begitu bahagia sejak Siwon datang sore tadi.

“Rasanya ini seperti mimpi. Kita bisa bersama lagi,” Siwon ikut tersenyum, membalas senyuman Kyuhyun dengan tulus.

“Ya,” sahutnya membenarkan.

“Ngomong-ngomong kau tadi sedang apa?” Kyuhyun sudah melepaskan pelukannya berganti menatap Siwon penuh selidik.

“Memang apa yang aku lakukan?” Kyuhyun mendengus melihat Siwon justru mengajukan pertanyaan serta wajah yang terlihat bingung.
“Aku tadi melihatmu seperti sedang memandangi sesuatu, apa itu?” Kyuhyun mencoba mencari dibalik tubuh kekar Siwon.

“Maksudmu ini?” Siwon mengacungkan figura kecil yang terdapat dua insan di dalamnya. Tersenyum ke arah kamera. Yookyung dan dirinya. Foto yang diambil saat adiknya itu lulus dari Sekolah Menengah Pertama.

Kyuhyun meraih figura tersebut, diperhatikannya baik-baik. “Gadis ini siapa?”

“Yookyung, adikku.”

“Adikmu hanya satu, hyung. Aku.” Sahut Kyuhyun cepat. Siwon terkekeh kecil melihat respon Kyuhyun yang terlihat tidak setuju saat ia mengatakan jika Yookyung juga adiknya. Tapi bukankah kenyataannya begitu? Yookyung memang adiknya, sampai kapanpun akan tetap seperti itu.

Aigoo… Oke, terserahmu saja.” Siwon memilih mengalah, kemudian melanjutkan ceritanya, “Namanya Yookyung, foto ini diambil dua tahun lalu.”

“Jadi dia anak dari Kim ahjushi?” Siwon mengangguk kecil. Ia sudah menceritakan garis besarnya tentang kehidupannya selama 10 tahun terakhir ini, setelah kecelakaan itu terjadi.

Yeupeunda eoh?” Siwon sangat penasaran dengan reaksi Kyuhyun karena adiknya ini terus memperhatikan foto itu, tepatnya salah satu objek yang ada di foto itu.

“Hm..”

Wajah ini….

“Dia sekolah di Beverly Academy, kelas 2-2.”

“Ha? Dia sekolah di sana?” Kyuhyun menatap Siwon dengan raut tak percaya. Siwon mengangguk, “Kenapa?”

Gwaenchana,” Sepertinya Siwon tahu apa yang dipikirkan Kyuhyun saat ini.

“Yookyung bisa masuk karena beasiswa,” ungkapnya.

“Apa dia sepintar itu?” Tentu Kyuhyun meragukannya, biar bagaimanapun standar di Beverly Academy cukup sulit. Test yang diberikan saat ujian masuk pun bertaraf internasional. Tentu ia tahu bagaimana sulitnya masuk ke sekolah yang berada di bawah pimpinanan Cho Group, karena ia pemimpinnya.

“Kau tidak akan percaya jika hanya melihat wajahnya,” Siwon mengambil figura yang sejak tadi berada di tangan Kyuhyun.
Jemarinya mengusap pelan foto Yookyung yang berada dirangkulannya. Di foto itu Yookyung terlihat konyol dengan bondu telinga kelinci. Belum lagi seragam sekolahnya yang penuh dengan coretan teman-temannya.

Ini kan hanya sekali seumur hidup, oppa. Jadi tidak apa-apa, akan aku simpan untuk kenang-kenangan.

Siwon ingat ketika ia melarang gadis itu agar jangan mengotori seragam sekolahnya. Gadis itu berasalan seperti itu. Tentu ia luluh begitu saja hanya dengan kecupan singkat di pipi serta senyum bocah yang ditunjukan Yookyung saat itu.

“Kau terlihat sangat menyayanginya, hyung.” Siwon segera tersadar dari lamunan saat mendengar Kyuhyun berucap pelan di telinganya. Saudara kembarnya ini terlihat sedih, “Kyu…”

“Kau bahkan tidak ingat apa-apa tentang kami,” lirih pria itu lagi dengan menunduk. Siwon langsung merasa bersalah melihat Kyuhyun menunjukkan wajah murung.

Miane..” Dirangkulnya Kyuhyun dari samping, menyandarkan kepala Kyuhyun di bahunya. “Maafkan aku karena aku tidak mengingat apapun tentang masa lalu kita dulu, seperti apa dan bagaimana kita saat itu. Aku benar-benar minta maaf.”

Kyuhyun tidak menyalahkan Siwon. Tidak. Hanya saja, melihat Siwon tersenyum setulus saat memandangi foto Yookyung membuatnya merasa iri. Terlihat jelas kalau Siwon begitu menyayangi gadis itu. Hati kecilnya tidak bisa menerima begitu saja, karena biar bagaimanapun ia adik kandungnya.

Hyung pasti menyayanginya,” Siwon yang mendengar bisikan Kyuhyun tersenyum simpul. Ia bisa merasakan bahwa Kyuhyun cemburu dengan adik perempuannya itu.

“Aku juga menyayangimu, Kyu.”

“Tapi kau melupakanku,”

“Itu bukan kemauanku, bodoh. Semua itu karena kecelakaan.” Ujar Siwon cepat.

Ia benar kan? Semua kejadian ini berawal dari kecelakaan itu. Andai saja waktu itu ia tidak pergi berlibur bersama kedua orang tuanya musibah ini tidak akan terjadi. Semua akan baik-baik saja. Dan mereka masih bisa berkumpul bersama dengan kedua orang tua mereka.

Namun Siwon bukanlah orang yang akan berpikir pendek. Ia tetap bersyukur meskipun harus kehilangan kenangan masa lalu dan digantikan dengan memori baru dan marga baru–setelah di adopsi oleh keluarga Kim–ia tetap bisa merasakan kasih sayang sebuah keluarga. Semua itu patut ia syukuri.

Come on, Kyu. Jangan jadi lelaki yang lemah. Bukankah selama aku tak ada kau bisa bertahan? Kini kau juga harus tetap seperti itu.” Siwon mencoba memberi semangat agar Kyuhyun tidak murung lagi.

“Tetap saja berbeda, aku iri dengan gadis itu,hyung.” Akunya jujur.

“Kau tidak tahu bagaimana lelahnya aku selama ini. Menggantikan posisi appa di saat aku masih kecil. Bahkan aku tidak mengerti apa-apa tentang bisnis saat itu. Yang aku pikirkan hanya ‘bermain’.” Siwon mengerti. Ia memahami bagaimana beratnya perjuangan Kyuhyun dulu. Ia sudah mendengar semuanya dari halmeoni tentang ini.

“Jangan mengeluh lagi. Sekarang sudah ada aku di sini, aku pasti membantumu.” Seketika Kyuhyun menoleh, menatap Siwon dengan berbinar. “Jincha?”

“Ya.” Sahut Siwon mantap. Ia sudah memikirkan ini tadi, membantu Kyuhyun adalah kewajiban serta tanggungjawabnya.

“Mari kita bekerja sama, Cho Kyuhyun?” Siwon mengulurkan tangan kanan yang langsung disambut dengan gembira oleh Kyuhyun. Bersalaman dengan cara yang khas seperti saat mereka lakukan dulu ketika masih kecil.

Continue…

Jeng.. Jeng…..
Yo, akhirnya setelah sekian minggu ga update ff saya eksis lagi yah..😀

Pertama, saya mau sapa readersnya dulu. Gimana kabarnya? (Sehat, alhamdulilah. Wkwkk :v)

Kedua, mau tanya gimana sama cerita saya yang ini, kesannya gimana?
Monoton kah?
Pokoknya wajib komen! Awas kalo ga. *ngancem

Ah ya, satu lagi.., hampir lupa.
Cerita ini akan ada beberapa part yang akan saya PROTEKSI.
Alasannya karena selain banyaknya SIDERS juga banyak PLAGIATOR.
Buat yang ga mau ketinggalan ceritanya, silahkan jadi readers yang baik dengan cara tinggalkan KOMEN kalian.🙂

Udah, segitu aja cuap-cuapnya. Ntar kepanjangan.
See-ya! :*

10 comments

  1. ak sempetin rcl yak eon :3 tkut kelupaan
    jln ceritax kerennnn
    ciwon emg oppa n daddy idaman 😀
    aigoooo kyu iri sm yookyung rasax gk bgt kkk~ gk cocok sm wjah cetanx >_<
    inikah epep special birthday eon raeanno_O kirain bkal mesra"an sm si ikan amis :3
    skali lg Saenggil chukaeyo eonni sayang :*

  2. Hmmm d’awal ckup terkejut ma sikap seorang Cho Kyuhyun😀 alhamdulilah sehat2… Oya, happy bday ea😉 moga ff2 yg laen bisa d’post uga😉

  3. Cie si kyu bisa cemburu to ternyata, mana cemburunya ma yoo lgi diakan jga adeknya biarpun cman sdra angkat….
    Hae cman numpang lewat aja ya disini hehehe :p

  4. Yahhhhhhh itu si evil kyun bisa cemburu juga tohhhhh…………… hahah ngebayangin kyun cemburu jadi ketawa sendiri

  5. new ff….
    jadi inget prince hours

    tapi ceritanya bda…
    klo liat siwon kya lee shin hehehe…

    klo cerita tntg krjaan emank keren kok…

    di tggu klnjutannya ea thor..

    keep writing n good luck…

  6. Hii.. aku reader baru🙂
    mutusin baca ff ini dulu..hehe
    Ceritanya keren cuma rada aneh sama marga wonppa aja..hihihi
    gk biasa.. tp tetep keren kok..
    untuk next part ditunggu ya..😉
    fightiing ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s