Heart is Changed

image

AUTHOR : BLUE ROSE

TITLE : HEART IS CHANGED

GENRE : FLUFF

LENGTH : ONESHOT

RATE : PG13

CAST : Kim Jong Woon, Choi Hyesun
.
.

.
.

******
.
.

Layangan awan gelap mulai berarakan dari arah timur ke barat, menutup matahari yang bersinar dengan gagahnya. Rintik hujan mulai membasahi bumi membuat semua pejalan kaki mempercepat jalannya untuk segera sampai tujuan, atau sekedar berteduh agar tidak terkena guyuran hujan yang mulai turun dengan deras. Tapi sepertinya berbeda dengan seorang gadis yang masih berjalan dengan pelan, seperti tidak ada niatan untuk cepat-cepat berteduh.

Choi Hye Sun, gadis yang berjalan ditengah derasnya guyuran hujan yang turun tidak menghiraukan orang-orang yang meneriakinya agar berteduh atau pun orang-orang yang memandang aneh ke arahnya.

Dress warna soft pink selutut yang dikenakannya kini telah basah kuyup. Namun gadis itu tetap berjalan dengan tatapan kosong, airmata yang terus menerus keluar semakin deras meskipun kini tersamarkan oleh tetesan air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.

“Oppa.. kenapa kau tega berbuat seperti itu padaku? Apa salahku?” lirih gadis itu dengan terus berjalan.

“Apa ini alasanmu dekat denganku, huh? Agar kau dekat dengan Hyejin Eonnie? Memanfaatkanku agar kau mengetahui segala tentang Hyejin eonnie?” isaknya pelan. Hatinya semakin sakit ketika mengingat kebersamaannya dengan pria yang ia cintai.

“Cah! Kau sungguh bodoh Hyesun! Bagaimana mungkin kau tidak menyadari jika sejak awal Himchan Oppa hanya memanfaatkanmu? Jeongmal paboya!” Kali ini Hyesun memaki dirinya yang menurutnya sangat bodoh.

Gadis itu terus saja berjalan tanpa henti, ia tidak tahu harus ke mana. Ia hanya mengikuti langkah kaki yang membawanya. Ia tidak ingin pulang, sungguh tidak ingin. Bagaimana mungkin ia bisa pulang ke rumah apabila orang yang membuatnya seperti ini ada dalam rumah itu? Orang yang kini telah menikah dengan kakak kandungnya sendiri.

Sungguh hanya membuatnya merasakan sakit mendalam di dalam ulu hati apabila ia melihat bagaimana kedua orang itu; kakaknya–Hyejin dan Himchan bercanda tawa dengan ria.

Bukankah itu akan semakin membuatmu sakit? Dan bukankah pergi adalah jalan terbaik?

Ya, itulah yang ada dipikiran Hyesun saat ini, pergi sejauh yang ia bisa. Membuang semua rasa cinta yang ada dalam hatinya untuk orang yang kini telah menjadi kakak iparnya.

.
.
.
.

Hari semakin gelap, lampu-lampu jalanan pun sudah menyala, memberikan sedikit cahaya terang di tengah derasnya guyuran hujan yang turun. Tubuh Hyesun sudah menggigil kedinginan, wajahnya pun sudah pucat ditambah gigi yang bergemeletuk menandakan bahwa gadis itu telah cukup lama berjalan dengan keadaan basah. Gadis itu pergi dengan berjalan kaki setelah melihat sang kakak dengan pria yang dicintainya mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan, karena ia sudah tidak sanggup lagi untuk melihat yang lainnya sehingga ia memilih pergi dan sayangnya tidak ada seorang pun yang tahu akan kepergiannya, semuanya sibuk dengan acara pernikahan sang kakak–Hyejin.

¤¤¤

Ruang tamu di kediaman keluarga Kim kini ramai oleh ocehan sang nyonya rumah, Nyonya Kim. Wanita paruh baya dengan rambut ikal pendek itu menatap tajam anak sulungnya, yang duduk di depannya. “Kau tidak mau bicara jujur pada Eomma Jong Woon-ah?” tanya sang ibu, lagi.

Pria yang duduk di sofa berwarna coklat itu, Jong Woon menghela nafas kasar, ia nampak frustasi menghadapi sang ibu yang masih belum percaya dengan apa yang ia katakan.

“Eomma, harus berapa kali aku bilang bahwa gadis itu bukan siapa-siapaku. Aku hanya menolongnya yang pingsan di jalan kemarin sewaktu aku pulang dari dorm.”

“Jeongmalyo?” ucap sang ibu dengan picingan mata yang terlihat..err.. cukup tajam.

“Nde! Aku lelah, ingin istirahat.” sahut Jong Woon seraya berdiri dari duduknya. Bagaimana bisa ibunya tidak percaya dengan semua ucapannya.

Choi Hyesun–gadis yang ia temukan dengan keadaan tidak sadarkan diri di tengah jalan, di bawah guyuran hujan yang turun dengan derasnya. Jong Woon tidak mungkin membiarkan gadis itu di sana kan? Ia manusia yang mempunyai rasa iba. Jadi ia putuskan untuk menolongnya dan membawanya pulang ke rumah.

Namun karena kemarin rumah dalam keadaan kosong, tidak ada siapapun di rumahnya sehingga orang tuanya tidak tahu mengenai hal ini. Baru tadi pagi Nyonya Kim pulang dan langsung terkejut melihat ada seorang gadis tidur di kamar putra sulungnya saat ia akan membangunkan Jong Woon.

Nyonya Kim menatap punggung putranya yang mulai menjauh kemudian menghilang di balik pintu kamar. Pandangannya beralih pada seorang gadis yang kini sedang bermain dengan Kkoming, anak anjing peliharaan Jong Woon.

Nyonya Kim terus menghela nafasnya pasrah, ia pikir bahwa gadis cantik berambut panjang yang dibawa pulang ke rumah oleh putranya itu adalah kekasihnya, tapi ternyata hanya orang yang ditolongnya.

Sudah sejak lama Nyonya Kim sangat berharap bahwa putra sulungnya itu segera mendapat pendamping hidup, setidaknya kekasih. Di usianya yang 31 ini, putranya belum juga menunjukkan bahwa ia mempunyai kekasih sejak kepulangannya dari wajib militer, dan sekarang malah kembali fokus dengan Super Junior. Sebagai ibu tentu ia ingin melihat putranya menikah juga bahagia, dan tentu saja ingin merasakan yang namanya dipanggil Halmeoni, namun sepertinya ia harus bersabar akan hal itu.

“Eum.. Ahjuma, mianhata, aku..” suara yang keluar dari bibir tipis Hyesun menyadarkan nyonya Kim dari lamunan. Wanita paruh baya itu menoleh dan mendapati Hyesun yang menggendong Kkoming berdiri di sampingnya dengan menundukan wajah.

“Hm, waeyo Hyesun-ah?”

Gadis itu mendongak, menatap wanita paruh baya itu dengan canggung. Nyonya Kim bangun dari duduknya, ia tersenyum dan mengelus rambut panjang Hyesun yang tergerai. “Katakan saja sayang, ada apa? Jangan ragu-ragu begitu. Apa kau perlu sesuatu, hum?” tebaknya karena Hyesun tidak kunjung melanjutkan kalimatnya. Gadis ini terlihat lebih kurus kalau dari dekat, namun wajahnya tetap manis.

“Ehm… begini Ahjuma, ehm.. bolehkah aku bekerja di sini?” ucapnya tersendat.

Nyonya Kim menyerngitkan alisnya mendengar pemintaan Hyesun. “Bekerja?”

“Nde, kumohon Ahjuma. Aku bisa bekerja apa saja. Jujur aku tidak tahu harus ke mana lagi sekarang dan aku juga tidak mau pulang ke rumah. Kumohon Ahjuma biarkan aku bekerja di sini, tidak perlu membayarku yang penting aku dapat makan dan tempat tidur, itu sudah cukup.”

Nyonya Kim menatap Hyesun kemudian tersenyum. “Baiklah, kau akan bekerja. Kau bekerja di café saja. Nanti kita berangkat bersama ke sana. Dan untuk masalah tempat tinggal, kau boleh tinggal di sini dan juga kami akan tetap membayarmu sama seperti yang lainnya.”

Hyesun tersenyum senang begitu mendengar jawaban dari Nyonya Kim. “Gamshahamnida, jeongmal ghamshae.” ucapnya berkali-kali dengan menundukan kepala.

“Aish, kau ini.. Ah, aku jadi berasa punya anak perempuan sekarang.” kekehnya begitu melihat senyum merekah di bibir Hyesun.

Nyonya Kim sungguh tidak tega jika membayangkan Hyesun harus hidup terlunta-lunta di luar sana apabila ia harus menyuruhnya pergi sekarang.

Mendengar cerita Hyesun beberapa saat lalu setelah gadis itu sadar, membuatnya ikut merasakan bagaimana perasaan gadis itu sekarang. Diperlakukan berbeda dengan sang kakak bukanlah hal yang menyenangkan, terlebih ia pun seorang ibu.
Sungguh ibu yang kejam apabila ia bersikap seperti itu, membeda-bedakan anak sendiri hanya karena anak itu mempunyai sedikit kekurangan; alergi terhadap cuaca panas, sehingga ia harus selalu berada dalam rumah. Berbeda dengan sang kakak yang mempunyai tubuh yang sehat. Tapi seburuk apapun kondisi anak, mereka tetaplah darah daging sendiri.

¤¤¤

Rintik hujan yang turun sejak pagi membuat seorang gadis yang duduk dibalik jendela kaca besar menghela nafas pelan. Sebulan sudah Hyesun tinggal di rumah keluarga Kim, bekerja sebagai kasir di café Mouse & Rabit milik keluarga Kim.

“Waeyo Noona?” ucap seseorang dengan menepuk bahu gadis itu pelan, membuat Hyesun menolehkan kepala guna melihat siapa orangnya. “Jongjin-ah…”

“Rindu rumah eum?” tanya Jongjin yang kini mengambil posisi duduk di sebelah gadis itu.

Hyesun menunduk dan tersenyum miris. Yang diucapkan Jongjin sangat tepat! Tidak bisa ia pungkiri bahwa ia merindukan kedua orang tua serta kakaknya, tapi ego tidak memperbolehkannya untuk mengetahui keadaan orang tuanya saat ini.

“Kalau kau rindu, telponlah. Aku yakin mereka pasti mencemaskanmu juga.”

Hyesun menggelengkan kepala, Jongjin tersenyum mengerti. “Arraso, terserah Noona saja, aku hanya memberi saran saja, kalau kau tidak mau ya sudah.” ucap Jongjin yang lebih muda setahun darinya. Hyesun tersenyum. Jongjin sangat mirip dengan Jong Woon.

“Jongjin… bantu Eomma sebentar.” teriakan yang berasal dari Nyonya Kim menyela pembicaraan mereka. Jongjin segera bangkit dari duduknya. “Aku bantu Eomma dulu, Noona. Dan ingat, jangan terlalu banyak melamun nanti ada setan lewat kan bahaya.” canda Jongjin di akhir kalimat membuat Hyesun terkekeh dan mengangguk.

“Ye, algeseumnida.”

Seperginya Jongjin gadis itu kembali terpekur dalam lamunan, ia teringat segala hal tentang Eonnie satu-satunya itu–Choi Hyejin. Meskipun orang tuanya memperlakukan mereka berbeda tapi Hyejin tidak! Ia tetap menyayangi sang adik dengan tulus, selalu menjadi tempat sandarannya saat suka maupun sedih. Ia merindukannya, sangat. Tapi kemudian ia teringat tentang pria yang kini telah menjadi kakak iparnya, Kim Himchan. Hyesun menghela nafas dalam, berusaha menekan rasa sesak yang mulai menjalar ke dada hingga pangkal kerongkongannya.

“Hei, kau menangis lagi, hum?”

Hyesun segera mendongak begitu mendengar suara baritone yang sudah dihapalnya, memandang seseorang yang kini tengah membersihkan air mata yang berhasil lolos dari pelupuk mata dengan jari-jari mungilnya.

“Oppa..” lirihnya dengan menatap sendu Jong Woon yang kini duduk berhadapan dengannya.

“Kenapa? Merasa menyesal karena pergi dari rumah?” sindirnya tanpa rasa bersalah sehingga Hyesun mengacungkan tangannya untuk memukul pelan dada pria itu.

“Tsk! Anni, aku tak menyesal.. hanya…”

“Hanya apa? Merindukan orang tua serta kakakmu?” selanya cepat.

Hyesun mengalihkan pandangan ke luar jendela. Hujan masih setia mengguyur bumi dan belum ada tanda akan berhenti. Jong Woon mengulurkan tangannya ragu kemudian menariknya kembali, ia ingin mencoba menenangkan pikiran gadis di sampingnya tapi ia pun bingung harus bicara apa.

“Oppa..”

“Hm?”

“Apa nanti mereka akan memaafkanku?”

“Maksudmu?” Jong Woon menyerngit bingung mendengar kalimat Hyesun yang tiba-tiba bertanya seperti itu.

Gadis itu menoleh, menatap dalam iris hitam pekat milik Jong Woon. “Apa mereka–orang tua dan kakakku akan memaafkanku kalau aku pulang nanti? Apa mereka bisa menerimaku kembali?”

Jong Woon membalas tatapan sayu Hyesun kemudian berdiri dari duduknya, menarik kursi yang didudukinya agar mereka berdampingan. Jong Woon mengulurkan sebelah tangannya ke bahu Hyesun dan menariknya mendekat. Hyesun menurut, menyandarkan kepalanya di dada bidang Jong Woon. Nyaman. Itulah yang dirasakan Hyesun ketika Jong Woon memeluknya, mendengarkan suara detak jantung pria yang sedang memeluknya mampu membuatnya merasa nyaman dan tenang. Aneh. Padahal mereka baru mengenal sebulan lalu. Pria yang sedang memeluknya kini pun nampak berbeda dengan citranya di Super Junior, Kim Jong Woon atau Yesung.

Apabila sedang bersama dirinya Jong Woon mampu membuatnya merasa terlindungi dan selalu bersikap sopan dan mengerti dirinya. Ia pun merasa aneh ketika menyadari bahwa jantungnya kini sering berdebar cepat apabila Jong Woon berada di dekatnya, seperti saat ini dan ini sudah berjalan sejak seminggu lalu.

Jong Woon mengelus rambut panjang Hyesun lembut, ia menempelkan dagunya di kepala Hyesun yang bersandar padanya.

“Dengar Sun-ah…” ucapnya memulai. “Jika kau rindu dan ingin bertemu kau bisa menemuinya, aku bisa mengantarmu ke sana.” lanjutnya yang langsung disambut gelengan keras dari Hyesun.

“Kenapa tidak mau?”

Hyesun mendongak membuat Jong Woon merenggangkan jarak di antara mereka. “Aku memang merindukan mereka Oppa, tapi.. aku, aku belum siap kalau untuk bertemu dengannya (Himchan) nanti.”

Tatapan Hyesun kembali sayu membuat Jong Woon kembali merengkuh tubuh Hyesun. “Meskipun mereka memperlakukanmu tidak adil, seburuk apapun mereka, mereka tetaplah orang tuamu, Sun-ah. Kau tidak boleh membencinya, tanpa mereka kau tidak mungkin ada di sini bukan? Bukankah kau sendiri yang bilang seperti itu?”

Hyesun hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. “Kalau begitu temuilah mereka, aku yakin mereka tidak akan marah atau memukulmu. Mereka tidak mungkin melakukan hal yang ada dalam pikiranmu itu padamu, aku yakin itu. Dan untuk masalah pria itu, hanya masalah waktu. Aku yakin kau bisa melupakannya nanti.”

“Kenapa kau begitu yakin?” suara Hyesun terdengar santai namun dapat membuat Jong Woon seketika kehilangan suaranya. Hyesun menghela nafas dalam-dalam, ia sudah menduga bahwa Jong Woon tidak mungkin bisa menjawabnya karena ia tahu Jong Woon bukanlah dirinya yang bisa memahami bagaimana keadaan yang sebenarnya.

Jong Woon diam begitu pula dengan Hyesun yang terus menatapi rintik hujan yang turun semakin banyak. Berbeda dengan Jong Woon yang kini sibuk dengan pikirannya. Sebenarnya tadi pagi ia telah datang ke rumah Hyesun di kawasan Anyang.

Jong Woon sengaja datang ke rumah Hyesun karena memenuhi permintaan kedua orang tua gadis itu tempo hari. Waktu itu, ia tak sengaja menemukan kartu identitas Hyesun dan ada beberapa nomor telpon dibalik kartu itu, sehingga ia mencoba menelponnya yang ternyata nomor telpon orang tua Hyesun. Maka ia memilih untuk mengatakan bahwa Hyesun tinggal di rumahnya saat ini.

Ia pun cukup banyak bertanya tentang Hyesun tentang kebenaran cerita Hyesun, dan orang tua Hyesun mengakui bahwa mereka memperlakukan kedua anak gadisnya berbeda.
Namun mereka kini sangat menyesal karena kehilangan Hyesun disaat pernikahan sang kakak–Choi Hyejin, saudara kembar Hyesun. Orang tua Hyesun pun meminta Jong Woon agar membujuk Hyesun untuk kembali ke rumahnya, Jong Woon hanya mengangguk tapi ia tetap tidak berhak memaksa Hyesun agar pulang.

Tidak! Tidak bisa. Bagaimanapun ia hanyalah orang luar, orang yang paling berhak meminta Hyesun pulang adalah orang tuanya, mereka sendiri yang harus datang ke Hyesun dan memintanya pulang.

¤¤¤

Matahari telah menyingsing di ufuk barat, cahaya yang di pantulkannya warna kuning kejingga-an terlihat indah. Burung gereja nampak beterbangan, pulang ke tempat persinggahannya.

“Sun-ah…” panggilan dari seseorang yang berjalan mendekat serta melambaikan tangannya membuat seorang gadis yang dipanggil Sun-ah itu tersenyum. “Annyeong Oppa.” sapanya begitu orang tersebut di hadapannya.

“Annyeong.. mianhe kau lama menunggu.”

“Anniya, aku juga baru sampai setengah jam lalu.” sahut Hyesun santai.

“Mwo? Setengah jam kau sebut baru sampai? Ckck.”

Hyesun hanya terkekeh mendengar gerutuan dari pria yang sudah lama tidak dilihatnya–Kim Himchan.

“Bagaimana kabar Oppa dan Eonnie? Baik-baik saja bukan?” tanya Hyesun memulai pembicaraan. Himchan menoleh kemudian tersenyum. “Nde, kami baik-baik saja. Kau sendiri?”

“Naega? Baik, sangat baik malah.” sahutnya dengan senyum.

“Syukurlah. Eum, sebenarnya ada apa kau ingin bertemu denganku Sun-ah? Kenapa tidak bicara di rumah saja? Dan di mana sekarang kau tinggal? Kami mengkhawatirkanmu kau tahu?!” ujar Himchan dengan cepat, sedangkan Hyesun hanya menjawab dengan senyum tipis membuat Himchan semakin tidak mengerti.

Saat ini mereka berada di sebuah bukit dipinggir kota. Sebenarnya Hyesun dipaksa oleh Jong Woon untuk bicara jujur dengan Himchan tentang perasaannya.
Awalnya gadis itu menolak dengan keras usul Jong Woon tapi pria itu terus saja memaksanya, dan jadilah mereka berada di sini sekarang. Di puncak bukit dengan pemandangan kota seoul yang terlihat indah dengan adanya matahari yang mulai menguning.
.
.
.

Diam, setelah pembicaraan itu mereka terdiam satu sama lain. Hanya terdengar sapuan angin yang berhasil menggoyangkan pohon beserta dedaunan yang ada disekitar mereka. “Mianhae Oppa..” lirih Hyesun membuat Himchan menatapnya tidak mengerti. “Mianhae untuk apa eum?”

Hyesun menarik nafas dalam kemudian menatap pria yang kini telah menjadi kakak iparnya. “Mianhae karena sudah mencintaimu diam-diam, mianhae karena aku sudah membuat kekacauan di pesta pernikahanmu dengan Eonnie karena kepergianku. Jeongmal mianhata Oppa.” ucap Hyesun sungguh-sungguh dengan menundukan kepalanya berkali-kali.

Himchan memandangnya tak percaya. “Kau mencintaiku?” ulangnya dengan menunjuk dirinya sendiri. Hyesun mengangguk, membenarkan. “Ne, mianhae..”

Himchan menggeleng pelan. “Bagaimana bisa Sun-ah? Tapi aku.. aku..”

“Aku tahu Oppa, kau sekarang adalah kakak iparku dan aku pun tidak mungkin merebutmu dari Hyejin Eonnie, aku tidak seperti itu.” Hyesun terkekeh pelan melihat raut wajah Himchan yang terlihat sangat terkejut dengan pengakuannya. “Lagi pula itu dulu, sekarang tidak lagi.” lanjutnya yang membuat Himchan menghela nafas lega.

“Ah.. Syukurlah. Eh, tunggu. Apa ini juga alasan yang membuatmu pergi dari rumah? Ya! Kau…”

“Bukankah tadi aku sudah mengatakan maaf karena sudah membuat kekacauan dipesta pernikahanmu?” sela Hyesun cepat.

Himchan menghela nafasnya beberapa kali lalu ia menatap gadis di sampingnya dengan pandangan menyesal. “Mianhae Sun-ah, aku tidak tahu kalau kau menyukaiku.” sesalnya.

Hyesun menggelengkan kepalanya. “Anni, kau tidak perlu meminta maaf padaku, kau tidak bersalah. Akulah yang meminta maaf padamu.”

“Tetap saja aku salah, karenaku kau pergi dari rumah bukan? Karena kau merasa tidak suka akan kehadiranku dirumahmu yang kini menikah dengan Hyejin.”

“Bukan begitu.. Sungguh. Hanya saja.. aku merasa tidak sanggup kalau harus melihatmu bersanding dengan Eonnie dan  tinggal di tempat yang sama. Dan untuk alasan aku pergi, aku pikir aku perlu waktu untuk menerima semua ini.” ungkap Hyesun dengan memandang senja yang mulai meredup diujung sana.

“Dulu kupikir Oppa menyukaiku karena kau selalu ada di sampingku, terlebih kau begitu perduli denganku. Bodoh bukan? Aku hanya mengangsumsi tanpa berani bertanya ataupun menyatakan perasaanku padamu. Begitu aku tahu kau ternyata lebih dulu mengenal Eonnie dan menjalin hubungan dengannya, jujur.. aku kecewa, sangat kecewa.
Aku menyalahkan diriku karena tidak jujur padamu, menyalahkan diriku yang terlalu pengecut karena tidak mengaku bahwa aku mencintaimu. Aku gadis yang bodoh juga menyedihkan. Oppa yang perhatian padaku waktu itu, membuatku merasakan bahwa aku diperhatikan. Tidak seperti Appa dan Eomma yang lebih perhatian dengan Hyejin eonnie. Itulah yang membuatku menyukaimu..” jelas Hyesun panjang lebar membuat Himchan semakin merasa bersalah.

Jujur, ia memang menyukai Hyesun–adik kembar Hyejin. Ia pun menyayanginya, bahkan sangat menyayangi gadis di sampingnya ini. Tapi, sungguh ia tidak menyangka bahwa perhatiannya justru menimbulkan rasa yang lain di hati gadis itu.

“Mianhae Hyesun-ah.” lirihnya dengan sebelah tangan menggenggam tangan Hyesun.

“Gwaenchana Oppa, dan jangan meminta maaf padaku lagi. Oppa tidak bersalah, aku saja yang bodoh karena tidak menyadari kedekatanmu dengan Eonnie. Tapi semua itu hanya masa lalu.
Meskipun dalam lubuk hatiku cinta itu masih ada, tapi tenang saja aku tidak akan merebutmu dari sisi Eonnie, aku tidak mungkin bisa menyakitinya yang sudah begitu baik padaku.” jawab Hyesun dengan membalas tatapan mata Himchan. Mereka tersenyum penuh arti. Hyesun merasa begitu lega ketika sudah mengatakan semuanya, perasaannya begitu lepas.

Dari jauh terlihat seseorang menatap kedua orang itu dengan sendu. “Semoga kau bahagia karena bisa kembali dengan keluargamu Sun-ah.” lirih pria itu yang ternyata Jong Woon. Ia membalik badannya, berjalan menjauh dari kedua orang yang saat lalu berpelukan. Dalam hatinya ia merasa berat bila harus melepas gadis itu, gadis yang menurutnya berbeda dengan gadis lain. Choi Hyesun–gadis dengan rambut hitam panjang sepinggang, memiliki kulit putih pucat serta tinggi badan yang semampai mampu membuatnya merasakan getaran-getaran aneh dalam dada.

Tapi sepertinya ia terlambat menyadari sekarang, karena gadis itu kini pasti akan kembali ke rumahnya dan entah kapan lagi mereka dapat bertemu kembali.
.
.
.

¤¤¤
.
.
.

Angin musim gugur yang bertiup lembut menemani langkah seorang gadis berambut panjang bergelombang sampai disebuah bangunan yang berdiri tegak dengan tulisan Mouse & Rabit. Sebuah café yang cukup terkenal karena salah satu dari anggota keluarga tersebut adalah member boyband yang sedang naik daun.

Gadis itu tersenyum tipis begitu mengingat kenangannya dulu sewaktu tinggal dan bekerja di café itu. Sungguh ia merindukannya, semuanya, terutama dengan seorang pria yang kini ada dalam hatinya. Hyesun melangkahkan kakinya menuju pintu masuk kemudian menariknya, ia mengedarkan pandangan, ramai. Ya, café ini memang selalu ramai oleh pengunjung terutama pengunjung gadis-gadis yang ingin bertemu Kim Jong Woon.

Gadis itu masih saja menelisik seluruh isi café dengan mata sipit miliknya hingga menemukan seseorang yang sudah ia anggap adik karena mereka hanya terpaut satu tahun.

“Jongjin!!” seruan dari seseorang membuat seorang pria yang sedang membawa nampan berisi minuman juga makanan menghentikan langkahnya, pria itu mencari ke sumber suara yang memanggil namanya.

“Noona!!” seru Jongjin begitu mengenali siapa orang yang memanggilnya tadi. Pria itu dengan cepat meletakan nampan yang dibawanya dan segera berlari ke arah gadis yang kini masih berdiri di dekat pintu masuk café.

“Noona.. bogoshipoyo.” ucapnya dengan memeluk Hyesun erat.

“Noona juga merindukanmu.” balas Hyesun dengan mengelus lembut punggung Jongjin yang kini tengah memeluknya serta berjingkrak-jingkrak layaknya anak kecil.

“Sudah lepaskan Jongjin-ah, kau tidak lihat kita jadi pusat perhatian eoh?” lirih Hyesun dengan melepaskan pelukan Jongjin.

“Hehee.. mianhae, aku hanya terlalu senang bisa melihat Noona lagi. Aku pikir Noona tidak akan datang kemari lagi.”

“Huh? Mana mungkin aku melupakan kalian yang sudah begitu baik padaku selama aku di sini. Aku bukan orang seperti itu, Jongjin-ah.”

Memang sejak pertemuan Hyesun dengan Himchan waktu itu, Himchan membujuknya untuk pulang ke rumah. Orang tuanya pun sudah mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf pada Hyesun, dan meminta gadis itu agar kembali ke rumah. Meskipun cukup berat untuk mengambil keputusan itu tapi akhirnya ia memilih kembali ke sisi orang tuanya, bagaimanapun mereka adalah orang tua yang selalu menjaga dan merawatnya hingga saat ini dan tanpa mereka ia bukanlah siapa-siapa.

‘Seburuk apapun orang tua kita, mereka tetaplah orang tua terbaik yang pernah ada.’

Hyesun selalu ingat kalimat yang diucapkan oleh Nyonya Kim dulu.

“Tuan, pesanan kami mana? Kenapa lama sekali.” teriak seseorang dari meja nomor 9. Jongjin menoleh gelisah. Ia melupakan tamunya!

“Aish.. aku lupa! Noona kau duduk dulu, aku antar pesanan dulu.” Jongjin segera melesat pergi sebelum mendengar komplenan dari pelanggan lain. Hyesun hanya mengangguk dan tersenyum. Pandangannya beralih pada seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk meracik kopi, pesanan pelanggan mungkin, langkahnya semakin dekat dengan counter minuman kemudian ia meletakan tasnya di meja counter.

Hyesun tersenyum melihat wanita paruh baya yang masih sibuk itu sehingga belum menyadari kedatangannya.

“Annyeong hasimika Ahjuma..”

Wanita paruh baya itu seketika menghentikan kegiatannya dan membalikan badan, begitu ia melihat orang itu adalah Hyesun ia langsung berseru keras.

“Hyesun anakku…” ucapnya yang langsung membuat gadis itu tertawa renyah.

“Omona!! Ini benar kau Hyesun-ah?!” tanyanya berbinar begitu mengamati Hyesun dari ujung kaki hingga kepala. Gadis ini banyak berubah. Beberapa bulan lalu, saat Hyesun tinggal di rumahnya, gadis ini memiliki rambut panjang hitam yang selalu tergerai indah. Namun kini–semuanya berubah. Hyesun terlihat lebih fresh dan semakin cantik. Tatanan rambutnya pun berubah.

“Nde, Ahjuma, ini Hyesun.”

Nyonya Kim segera menyuruh Hyesun duduk yang kemudian dituruti gadis itu. “Aigo, kau semakin cantik sayang.” puji Nyonya Kim dengan senyum serta mengelus pipinya, sehingga membuat gadis itu sedikit merona malu mendengar pujian dari wanita paruh baya tersebut.

“Gamawo, tapi Ahjuma juga semakin cantik.” balas gadis itu yang membuat Nyonya Kim mencubit gemas pipinya.

“Kau ini bisa saja.. Sudah lama kau tidak kemari, aku pikir kau lupa dengan kami.”

“Mianhata, aku kemarin-kemarin sangat sibuk sehingga tidak ada banyak waktu untuk kemari. Dan mana mungkin aku lupa dengan Ahjuma. Tidak, aku tidak mungkin lupa.” ucapnya sungguh-sungguh. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan orang yang sudah menolongnya, bahkan orang itu selalu bersikap baik padanya juga selalu mempertahatikan dirinya seperti anak sendiri, tidak mungkin bukan kau melupakan orang-orang sebaik itu?

“Bagaimana keadaan orang tuamu Sun-ah?”

“Baik dan mereka titip salam untukmu.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Ahjuma pesanan kami belum diantar!” seru seorang gadis berambut coklat yang duduk di dekat jendela kaca besar. Nyonya Kim menoleh, “Ne, tunggu sebentar agashi.”

“Haish, aku lupa. Sun-ah kau duduk saja, sebentar Ahjuma antar pesanan dulu.” ucap Nyonya Kim seraya bangun dari duduknya untuk mengantar pesanan.

Hyesun memandang sekelilingnya, banyak pelanggan, Jongjin serta yang lain nampak sibuk mengantarkan berbagai pesanan pelanggan. Ia tersenyum kemudian berjalan memasuki dapur. Hyesun menyambar apron hitam yang tersampir di bufet.

“Annyeong…”

Hyesun menghentikan kegiatannya yang sedang melilitkan apron ke tubuhnya. “Annyeong..” balasnya ketika melihat seorang gadis berdiri dari seberang meja.

“Agashi, aku pesan coffee latte 2, tolong diantar ke meja no 14. Dan ini uangnya,” ucap seorang gadis belia dengan senyum.

“Allgeseumida, gidariseyo.” sahut Hyesun dengan mengangguk.

Setelah gadis itu pergi, Hyesun segera meracik pesanannya. Dengan cekatan gadis itu menuangkan kopi ke cangkir kopi dan menambahkan sedikit creamer, setelahnya ia segera membawa pesanan itu ke pelanggan tadi.

“Hyesun-ah.. kenapa kau ikut melayani pengunjung? Seharusnya kau duduk saja, kau itu tamu sayang. Aigo..” tegur Nyonya Kim yang melihat Hyesun sibuk membantunya.

“Gwaenchana Ahjuma, dari pada aku duduk lalu melihat Ahjuma dan yang lain sibuk, bukankah aku lebih naik membantu, eum?” sahut gadis itu dengan senyum tulus.

Nyonya Kim tersenyum lembut kemudian menggenggam kedua jemari Hyesun. “Kau memang gadis yang baik, Ahjuma senang bisa mengenalmu. Andai kau–”

“Hyesun?”

Panggilan yang berasal dari arah belakang Hyesun membuat Nyonya Kim menghentikan kalimatnya. “Ah, kau sudah pulang Jong Woon-ah..” ucap Nyonya Kim dengan senang. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Jong Woon yang berdiri tidak jauh darinya, kemudian menuntun Jong Woon agar duduk bersama di samping Hyesun yang kini tengah menunduk.

Entah kenapa tiba-tiba saja gadis itu merasa canggung untuk menatap pria yang semakin hari terlihat semakin tampan. “Kalian bicaralah, ahjuma akan keluar sebentar.” ucap Nyonya Kim kemudian mengedipkan sebelah mata ke arah putranya yang nampak pasrah. Kini keduanya diam setelah kepergian Nyonya Kim. Jong Woon pun merutuki kebodohannya yang menuruti keinginan sang ibu agar cepat datang ke café tanpa rasa curiga sedikit pun.

‘Cepatlah datang ke café, ini darurat.’

Dengan patuhnya ia langsung pulang di saat ia dan anggota lain sedang latihan karena mendengar nada cemas ibunya saat menelpon.

“Oppa..”

“Hyesun-ah..”

Mereka mengucapkannya secara bersamaan membuat Hyesun memandang pria yang duduk di seberangnya dengan senyum kikuk.

“Oppa saja dulu..”

“Kau saja dulu..” Lagi, mereka mengucapkannya bersama dan Jong Woon menatap Hyesun begitu juga sebaliknya, kemudian mereka tertawa bersama. Mereka menertawakan sikap mereka berdua yang konyol karena ragu-ragu satu sama lain.

“Bagaimana kabarmu Oppa?” tanya Hyesun membuka pembicaraan lebih dulu setelah berhasil meredam tawanya. Jong Woon tersenyum tipis.

“Baik, kau sendiri?”

“Aku juga baik.. bagaimana dengan Super Junior? Apakah Leeteuk Oppa juga saengdeul baik-baik saja.”

“Hum! Mereka semua baik, kami sedang sibuk untuk persiapan album ke10 kami.” (*amin! Semoga..^^)

“Lalu bagaimana kau dengan pria itu?”

“Nugu?”

“Pria yang kini menjadi kakak iparmu? Kau sudah bisa melupakannya?”

Hyesun nampak berpikir membuat Jong Woon sedikit berharap cemas, ingat hanya ‘sedikit’.

“Hem, sudah.. lagi pula mana mungkin aku mencintai dan mengharapkan orang yang tidak mempunyai perasaan yang sama denganku? Bukankah itu hanya membuang waktu juga hatiku nanti akan tersakiti? Jadi, aku sudah melupakannya.. meskipun belum sepenuhnya.” jelas Hyesun yang diakhiri dengan kekehan.

Jong Woon mendesah lega, entah kenapa tadi ia merasa takut ketika akan mendengar jawaban yang akan keluar dari bibir tipis Hyesun. “Oh ya, kata Ahjuma kau sudah mempunyai yeojachingu? Nuguya? Oppa tidak mau memperkenalkannya padaku heh?”

Jong Woon mengerjap beberapa kali, “Yeojachingu?” ulangnya lirih.

“Hum! Seperti apa orangnya Oppa? Apakah dia cantik?” tanya Hyesun penasaran.

“Nde, dia cantik. Sangat cantik.”

DEG

Tiba-tiba dadanya terasa sesak mendengar jawaban Jong Woon. “Jadi benar kau sudah punya kekasih Oppa?” lirih batin gadis itu miris.

Jong Woon yang melihat perubahan raut wajah Hyesun seketika mencelos, ia sadar secara tidak sengaja ia membenarkan bahwa ia mempunyai kekasih. Tapi memang benar bahwa gadis itu sangatlah cantik, gadis yang duduk di hadapannya kini–gadis yang mengenakan dress bunga-bunga dengan rambut sedikit bergelombang terlihat sangat cantik dan gadis itu adalah Hyesun–gadis yang dicintainya kini.

“Kaulah gadis itu Sun-ah..”

“Mwo? Kau bicara apa Oppa?”

Jong Woon seketika menutup mulutnya yang telah mengeluarkan apa yang ada dipikirannya tadi. “Anni, bukan apa-apa.” elak Jong Woon gugup. “Kalau kau bagaimana? Apa sudah ada?”

“Naeun?” tunjuk Hyesun pada dirinya, Jong Woon mengangguk. “Aku… aku menyukai seseorang Oppa, tapi aku tidak tahu apa orang itu mempunyai perasaan yang sama denganku atau tidak. Tapi, aku rasa orang itu sudah mencintai orang lain.” lirihnya dengan sendu.

“Kenapa kau tidak bertanya saja?” pancing Jong Woon dengan senyum. Ia tahu bahwa Hyesun pun memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi ia ingin menggoda Hyesun sedikit. Tidak bertemu dengan Hyesun beberapa bulan membuatnya ingin mengerjai gadis itu. Dilihat dari tatapan mata gadis itu pun sudah terlihat jika Hyesun menyukainya.

Hyesun menghela nafas dalam. “Tidak Oppa, aku takut kecewa lagi.”

“Tapi kan kau belum mencobanya?” pancing Jong Woon.

Hyesun menggeleng pelan, gadis itu kini meremas kedua tangannya gugup karena Jong Woon menatapnya.

Jong Woon diam dengan terus memperhatikannya membuat gadis itu merasa tidak nyaman. “Kenapa.. Oppa memandangku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?”

Jong Woon menggeleng. “Anni, hanya saja kau bertambah cantik.”

Sontak Hyesun yang tadinya mengalihkan tatapannya kini menatap Jong Woon. Jantungnya semakin berdebar tak terkontrol tatkala pria ini tersenyum lembut padanya. Ia yakin bahwa pipinya kini telah bersemu merah, malu.

“Aish.. sejak kapan kau jadi suka menggombal Oppa? Apa kau diajari oleh Donghae, huh?” sahut Hyesun asal untuk mengalihkan kegugupannya. Jong Woon mencibir, “Aku bicara jujur kau malah bilang menggombal. Benar-benar…”

Hyesun terkekeh melihat Jong Woon merajuk, “Ne.. ne… aku percaya. Dan terima kasih sudah memujiku.”

“Dan aku mencintaimu Sun-ah..” lirihnya namun masih dapat didengar Hyesun.

“Mwo?” Hyesun menatap Jong Woon, ingin memastikan sekali lagi.

Jong Woon menatap Hyesun dalam, mencoba menyelami iris coklat gadis di hadapannya, begitu pula dengan Hyesun yang kini terdiam begitu Jong Woon menatapnya intens. Kerja jantungnya semakin tidak terkontrol tatkala pria itu semakin mendekat ke arahnya, sedikit mencondongkan tubuh dan wangi maskulin yang tercium oleh indera penciumannya sungguh menenangkan. Wangi seorang Kim Jong Woon.

Jong Woon semakin mendekatkan wajah, nafasnya beradu dengan nafas Hyesun yang diam terpaku menatapnya tanpa kedip. Hingga jarak mereka sudah sangat dekat dan Hyesun memejamkan mata, ia sudah siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, kemudian..

“Ada bulu mata yang jatuh.” ujar Jong Woon seraya menyentuhkan jari mungilnya ke wajah Hyesun untuk mengambil bulu mata yang memang jatuh.

Hyesun dengan cepat membuka kedua matanya dan menatap tajam Jong Woon yang sudah duduk seperti semula, memasang wajah tanpa dosa sehingga membuat Hyesun ingin mencakar wajah tampannya itu. Hyesun merutuki dirinya yang begitu bodoh karena secara tidak langsung ia mengharapkan bahwa Jong Woon tadi berniat menciumnya, memalukan!

“Kenapa? Apa ada yang salah?” ujar Jong Woon begitu mendapati Hyesun menatapnya tajam. Hyesun mendengus kemudian memalingkan wajah, wajahnya sudah memerah karena malu serta menahan kekesalannya.

“Jangan-jangan… tadi kau berpikir aku akan menciummu hum? Maka dari itu kau memejamkan matamu.”

Skakmat!

Tepat, Hyesun langsung menegang ketika Jong Woon mengucapkannya. Sungguh lebih baik ia menceburkan dirinya ke sungai nil dari pada mendengar Jong Woon menggodanya nanti.

“Hahaha.. jadi benar eoh? Kau berharap aku menciummu? Aigo tak kusangka kalau kau Mengharapkan ciuman dariku.. ekeke.” Jong Woon terus saja tertawa sehingga membuat gadis itu geram dan semakin memerah, bukan karena malu tapi karena marah.

“Berhenti tertawa Kim Jong Woon!” teriak Hyesun keras. Bukannya berhenti tawa itu malah semakin menjadi dan tentu saja semakin membuat Hyesun marah.

“Aku membencimu Tuan Kim!” ucap Hyesun tegas dan dengan sengaja ia menekan kakinya yang mengenakan higheels di atas kaki Jong Woon, tepatnya menginjak kaki Jong Woon dengan sengaja.

“Ya! Ya! Choi Hyesun, kenapa kau menginjak kakiku hah?!” suara Jong Woon menggema di ruangan itu namun tak diperdulikan oleh Hyesun yang kini berjalan menuju pintu keluar. Bibirnya terus saja berkomat-kamit tidak jelas menirukan Jong Woon yang kini memaki dirinya karena menginjak kaki pria itu dengan sengaja.

“Haish!! Gadis itu.. benar-benar membuatku gila.”

.
.
.
.
.
.
.
.

마무리 (FINISH!!)

6 comments

  1. eomma kkoming datanggggg
    xD nih shock bgt ane eon my bojo jd cast aigoooo tuh umur 31 napa dsebutin jg ane aj slalu sensor umurnya😀
    oh my knp pkek namkor hyesun T.T bkin cmburu
    aku rapopo koq eon
    #kawininDongek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s