Falling In Love With Mr. Arrogant || Part 1

image

 

 

Author : Blue Rose

 

Title : Falling In Love With Mr. Arrogant || Part 1

Genre : Romance, Comedy, Marriage live, Sad

Length : Ongoing/Series

Rate : PG-17

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Yookyung, Lee Sungmin, Han Chaeri

 

 
Note : Mohon maaf jika masih ditemukannya typo yang nyempil. Salahkan saja oppadeul terutama Donge yang makin hari makin ganteng sehingga mata saya tidak bisa fokus. Lol :3

 

 

“Kau tidak akan bisa berjalan seorang diri dikegelapan malam tanpa adanya cahaya.”

 

* * *

 

Malam semakin larut dan suhu kian menurun, namun kedua hal itu tidak mempengaruhi pria yang saat ini masih sibuk berkutat dengan tumpukan kertas-kertas yang memenuhi sebagian meja kerjanya. Cho Kyuhyun menghela nafas setelah meletakan kertas yang dipegangnya ke meja, kemudian melepas kacamata bacanya.
Pria ini melirik jam dinding lalu mendesah. Selalu seperti ini, batinnya kesal. Sudah lewat tengah malam dan ia belum mengantuk, bahkan tidak mengantuk sama sekali.

Insomnia. Dokter mengakatakan itu padanya empat tahun lalu. Setelah kepergian ibunya, Kyuhyun mengalami sulit tidur di malam hari. Jika tidak meminum obat tidur, ia tidak akan bisa tidur hingga ke-esokan harinya.

“Kau butuh istirahat Kyu,” seseorang menginterupsi lamunan Kyuhyun membuat pria ini menatap pria manis yang baru saja memasuki ruang kerjanya. Lee Sungmin meletakan nampan berisi segelas air serta satu botol kecil di meja. Pria yang memakai kemeja putih gading ini memperhatikan Kyuhyun yang terlihat lelah.

“Aku tahu, hyung.” sahut Kyuhyun sembari meraih gelas kemudian meminumnya.

“Obat tidur lagi?” Sungmin menggeleng pelan melihat Kyuhyun membuka botol kecil yang tadi dibawanya. Kyuhyun menyerngit, “Kau sendiri yang membawanya kan?”

“Kapan kau akan berhenti mengkonsumsinya? Tidak baik jika kau terlalu lama meminumnya.”

“Lalu kau ingin aku tidak tidur hingga besok?” tanya Kyuhyun setelah menelan pil kecil kemudian meletakan gelas di nampan, lalu menatap Sungmin yang menghela nafas. “Tentu saja tidak.”

“Aku hanya mengkhawatirkan kesehatan tubuhmu jika kau terlalu la-”

“Ok. Cukup! Aku tahu kau mengkhawatirkanku dan aku sangat berterimakasih untuk itu.” sahut Kyuhyun tulus. Semenjak ibunya meninggal, yang selalu ada di sampingnya hingga saat ini adalah Sungmin, pria yang lebih tua lima tahun darinya. Meskipun masih ada satu lagi anggota keluarganya-nenek-tetap saja Sungmin yang paling dekat dengannya. Pria itu tahu semua tentang dirinya. Dan hanya pada Sungmin ia menunjukkan sosok dirinya.

“Ah ya, aku mendapat pesan dari Nyonya besar tentang-”

“Istri?” potong Kyuhyun cepat yang diangguki Sungmin. Pria tampan ini mendengus, “Tidak bisakah nenek tua itu tidak ikut campur urusan pribadiku? Selalu saja meributkan hal yang tidak penting. Wanita itu merepotkan.”

Sungmin menggeleng samar mendengar gerutuan yang keluar dari bibir Kyuhyun, “Kupikir Nyonya ada benarnya, Kyu. Kau harus mencari pendamping hidup. Kau tidak akan mungkin hidup seorang diri sampai tua.” Sungmin mencoba memberi pengertian. Pria manis ini pun mengkhawatirkan hal yang satu ini. Kyuhyun tidak pernah tertarik dengan wanita manapun.

“Astaga.. Kau pun ikut-ikutan dengan nenek tua itu, hyung? Kau itu berpihak pada siapa sih?” Kyuhyun mulai kesal. Pria ini menatap Sungmin tidak percaya. Bagaimana bisa Sungmin yang selalu setuju dengan ucapannya kini tidak sependapat?

Sungmin tersenyum kalem, “Langit malam saja membutuhkan bulan atau bintang untuk menemaninya agar terlihat indah, begitu juga manusia.”

Kyuhyun menggeleng tak percaya mendengar kalimat yang diucapkan Sungmin, “Sejak kapan kau belajar kata-kata murahan seperti itu? Aku terkejut mendengarnya.” Kyuhyun tersenyum mengejek setelah melontarkan kalimat terakhir, yang membuat Sungmin menoyor kening Kyuhyun sehingga pria tampan ini mendesis tidak terima.

“Aku justru kasihan padamu, bocah.”

“Jangan sebut aku bocah!”

“Kau memang bukan bocah, tapi kelakuanmu ini yang bocah.” Kyuhyun semakin memajukan bibirnya membuat Sungmin tertawa dengan mengacak rambut Kyuhyun.

“Lihat… Lucu sekali kau.”

Mereka selalu seperti ini jika sedang berdua. Kyuhyun akan bersikap manja padanya. Seperti adik dan kakak pada umumnya.
Namun berbeda jika mereka ada di tempat kerja, keduanya akan benar-benar terlihat serius. Tidak ada canda dan tawa. Tegas dan berwibawa.

“Oh ya, besok kau harus mengunjungi lokasi untuk pembuatan hotel yang baru.” Ucap Sungmin tiba-tiba, Kyuhyun menoleh ke arah Sungmin dengan raut bingung. Tidak biasanya Sungmin memintanya untuk meninjau lokasi langsung, biasanya pria itu sendiri yang menangani. Ia hanya tinggal menandatangi dokumennya saja.

“Apa ada masalah di sana?” raut wajah Kyuhyun berubah serius. Sungmin menggeleng, “Hanya ada sedikit kendala.”

“Apa mereka tidak mau meninggalkan tempat itu? Bukankah kita sudah memberinya uang ganti rugi? Apa itu tidak cukup?” Sungmin kembali menggelengkan kepala. “Lalu?”

“Kau akan tahu jika kau datang ke sana, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.” Kyuhyun mengangguk mengerti. Jika Sungmin yang selama ini ia andalkan tidak bisa membereskan masalah ini, maka ia harus turun tangan sendiri.

“Aku mengerti.”

 
* * *

 

Hidup memang tidak pernah lepas dari cobaan, banyak kendala di jalan yang akan dilalui. Begitu pula dengan seorang gadis yang saat ini sedang duduk termenung di serambi rumah, menatap pekatnya malam yang dingin. Memikirkan masalah dalam kehidupannya.

“Kau belum tidur, Yoo..” Gadis yang mengenakan cardigan biru ini menoleh dan mendapati sahabatnya berdiri di ambang pintu. Chaeri-gadis berambut cokalt sebahu-yang selama ini selalu bersamanya.

“Aku belum mengantuk, Chaeri-ya.

“Tapi ini sudah sangat larut, dan besok kau harus bekerja.” Chaeri mencoba mengingatkan jika Yookyung butuh istirahat.

“Hmm.”

“Kau memikirkan anak-anak?” tebak Chaeri dengan berjalan menghampiri Yookyung kemudian ikut duduk di samping gadis ini. Yookyung mengangguk, “Mereka sangat membutuhkan rumah ini, Ri-ya. Jika harus pergi dari sini, aku-tepatnya mereka-akan tinggal di mana?” Yookyung menatap Chaeri dalam. Terlihat jelas bagaimana sedihnya Yookyung jika mereka-yang sudah ia anggap keluarga-harus kehilangan rumah ini. Ia tidak bisa membayangkannya.

Chaeri mengelus bahu Yookyung pelan, “Bukankah mereka memberi uang ganti rugi?”

“Ya. Tapi itu semua tidak cukup. Kau tahu berapa harga rumah saat ini?” Chaeri menganguk mengerti. “Uang itu hanya akan cukup untuk membeli rumah. Sedangkan kita tidak hanya butuh rumah, keperluan yang lain juga.”

“Masih ada aku, Yoo.” Chaeri menatap Yookyung, “Aku mempunyai tabungan. Kurasa itu cukup untuk membeli kebutuhan anak-anak selama beberapa minggu ke depan.” Yookyung menggeleng keras, tidak setuju dengan rencana Chaeri. Gadis itu sudah susah payah mengumpulkan hasil kerja kerasnya selama ini sebagai bartender, lalu ia akan menggunakannya? Tidak. Yookyung tidak setuju.

“Kau lupa dengan impianmu? Kau butuh uang itu untuk mewujudkan impianmu, Chaeri-ya.”

“Aku bisa menundanya, Yoo-”

“Tidak-tidak. Kau sudah menunda impianmu selama dua tahun ini, kau selalu membantuku. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi,” Chaeri meraih tangan Yookyung, meremasnya pelan. “Kita adalah keluarga. Kau sendiri yang bilang begitu padaku. Apa salahnya jika aku ingin membantumu? Oke, bukan membantumu, tapi mereka.” Lanjut Chaeri menyakinkan Yookyung.

“Aku bisa mengumpulkannya lagi setelah itu,” sambung gadis berambut coklat sebahu ini. “Aku tidak akan bisa bertahan tanpa kalian,”

Chaeri kembali teringat kejadian saat pertama kali mereka bertemu. Yookyung tersenyum ramah sebelum memperkenalkan dirinya. Kejadian itu sudah 10 tahun berlalu, saat usia mereka masih anak-anak.

Tuan Kim-ayah Yookyung-yang membawanya ke rumah ini setelah ia menceritakan bahwa ia ditinggalkan ibunya begitu saja.

“Mulai sekarang, anggaplah rumah ini dan kami adalah keluargamu. Kau tidak sendirian, Chaeri-ya. Akan ada kami yang selalu bersamamu,”

Chaeri sangat senang mendengar kalimat yang diucapkan Tuan Kim saat itu. Ia tidak sendirian lagi.
Bahkan saat di sekolah pun Yookyung selalu membelanya jika ia dibully.

Jadi apa salahnya ia membalas kebaikan mereka walau hanya sedikit?

“Pakai uang itu untuk sekolah patissier-mu. Wujudkan impianmu menjadi patier yang hebat. Jangan khawatirkan yang lain, aku akan berusaha semampuku.”

“Kenapa kau keras kepala sekali, huh?” Sentak Chaeri mulai kesal.

“Kau mau berusaha seperti apa lagi? Semua orang bahkan sudah setuju untuk pindah, hanya kita saja yang tetap di sini.” Chaeri menunjuk rumah samping kanan dengan jari telunjuknya. Rumah paman Hwang bahkan sudah kosong sejak dua hari lalu. Mereka pindah setelah mendapat ganti rugi dari perusahaan yang akan membangun hotel di lahan ini. Bahkan hampir semuanya pindah meskipun harus dengan berat hati. Hanya Yookyung saja yang tetap tinggal, mempertahankan rumah mereka. Mengembalikan semua uang ganti rugi karena ia tidak mau pindah.

“Kau ingin tahu alasanku mempertahankan rumah ini, Ri-ya?” tatapan Yookyung berubah sendu. Gadis ini mengalihkan pandangannya ke atas, memandangi langit malam yang dihiasi beberapa bintang.

“Di sini banyak kenangan manis dan pahit yang aku jalani bersama ayah dan ibu serta saudara-saudaraku, termasuk kau.” Yookyung kembali teringat kenangan masa kecilnya dulu. Bermain di halaman rumah yang ditanami berbagai macam bunga bersama anak-anak asuh orang tuanya. Semua kenangan itu ada di rumah ini. Masa kecilnya. Dan ia tidak ingin kehilangan rumah peninggalan orang tuanya. Maka itu Yookyung begitu keukeuh mempertahankan rumah ini.

Chaeri menangis tanpa suara. Ia pun tahu itu karena sebagian kenagannya ia mulai dari sini. Ia bisa sampai seperti ini pun karena keluarga Yookyung yang merawatnya.

Mianhae..,” bisik Chaeri parau. Yookyung menoleh disertai senyum tipis, “Bodoh, kenapa malah menangis?” Yookyung mengelus rambut Chaeri sayang dan Chaeri langsung memeluknya, menangis lebih keras.

“Sudah, Chaeri-ya. Kau bisa membangunkan anak-anak,” lirih Yookyung menepuk pelan punggung Chaeri yang bergetar akibat menangis.

Yookyung memang terlihat lebih tegar dibandingkan Chaeri, bahkan tak jarang Chaeri memanggil Yookyung dengan sebutan ‘eomma‘ karena sifat kedewasaannya.

Nuna...”

Yookyung segera menoleh ke sumber suara. Daehyun, anak laki-laki berusia 3 tahun itu berdiri dekat pintu sembari membawa boneka dinosaurus warna hijau. Tangan mungilnya melambai, meminta Yookyung agar mendekat.

“Cepat hapus air matamu sebelum Daehyun melihatnya,” bisik Yookyung sebelum pergi menghampiri Daehyun. Chaeri mengangguk dan segera menghapus jejak air mata di wajahnya.

“Ada apa sayang?” Yookyung merendahkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan anak itu. Daehyun segera memeluk leher Yookyung, meminta agar gadis ini menggendongnya. Yookyung yang memang sudah mengerti segera menggendongnya, “Masuklah, Ri-ya lalu tidur. Aku akan menidurkan Daehyun lebih dulu.”

Arraseo.” Chaeri bangun dari duduknya, menoleh sekilas ke arah Yookyung yang sedang bicara dengan Daehyun.

“Kau memang seorang ibu, Yoo.” lirih Chaeri dengan mengusap sudut matanya.
Bagi Chaeri, Yookyung adalah gadis yang penuh kasih sayang dan sabar.

 
* * *

 

Kesibukakan Kyuhyun di mulai sejak pagi hari hingga malam tiba, begitu pula dengan hari-hari berikutnya. Selalu sibuk.
Dari selesai sarapan pria tampan ini sudah disibukkan dengan berbagai telpon penting, lalu urusan lainnya.

“Ini data yang kau minta,” Sungmin meletakan map biru di meja, Kyuhyun yang sedang mempelajari berkas rapat nanti segera beralih, meraih map itu dan menelitinya.

“Jadi hampir semuanya sudah setuju?” ujar Kyuhyun setelah melihat nama-nama yang tertera di sana. Nama orang yang setuju untuk pindah setelah mendapat ganti rugi.

“Ya…”

“Kim Yookyung?” Kyuhyun menatap Sungmin tidak mengerti karena di samping nama gadis itu tertera tanda ‘x‘. Hanya gadis itu.

“Itu yang aku maksud tadi malam,” ujar Sungmin singkat.

“Jadi gadis ini tidak setuju?” tebak Kyuhyun dan Sungmin mengangguk, “Sudah kau tambah uangnya?” Kyuhyun berpikir, mungkin saja gadis itu tidak mau pindah karena uangnya kurang.

“Sudah. Dan dia tetap tidak mau.”

Kyuhyun meletakkan map yang tadi dipegangnya, “Lalu apa yang di inginkan gadis itu? Kita tidak bisa menunggu terlalu lama apalagi sampai membatalkan pembangunan ini. Itu bisa merugikan kita.” Kyuhyun berucap serius.

“Aku tidak tahu, maka itu aku memintamu untuk datang ke sana langsung. Bicara padanya.” Kyuhyun mendengus mendengar usul Sungmin. Ia malas berurusan dengan wanita.

“Aku tidak bisa, hyung. Kau saja yang membujuknya.”

“Kalau aku bisa, aku tidak akan meminta kau datang.” Sahut Sungmin kesal. Bukankah semalam mereka sudah bicara dan Kyuhyun setuju untuk datang? Lalu kenapa sekarang malah begini?

“Kau tahu masalahnya. Dia wanita, hyung. Wanita!” Tegas Kyuhyun enggan.

“Tapi ini penting kan?” Sungmin mencoba melunakkan Kyuhyun. Mengingatkan betapa pentingnya pembangunan ini.
Kyuhyun menghela nafas panjang, “Hanya untuk kali ini. Lain kali kau saja yang mengurusinya.”

Sungmin tersenyum cerah. “Tidak masalah.” sahutnya semangat.

“Kita ke sana setelah rapat selesai.” Kyuhyun berkata setelah melihat jadwal agendanya hari ini. Sungmin yang tadinya akan beranjak pergi menoleh, “Aku tidak bisa.”

Seketika itu juga Kyuhyun melayangkan tatapan tajam, “Mwoya?! Jadi aku harus pergi sendiri?”

Sungmin tersenyum minta maaf, “Aku ada urusan lain, Kyu.”

“Urusan apa?” Sahut Kyuhyun cepat. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana dengan negosiasinya nanti bersama gadis itu jika Sungmin tidak ikut. Kyuhyun tidak bisa jamin jika akan berhasil. Secara ia tidak pernah berurusan dengan masalah seperti ini.
Kyuhyun memang sudah bertemu berbagai macam karakter orang, hanya saja kali ini ia merasa ragu. Entah apa yang mendasarinya.

“Melihat cabang di Busan,” Kyuhyun langsung melemaskan bahunya. Ia lupa tentang itu. Padahal ia yang menugaskan Sungmin tiap bulannya untuk meninjau langsung cabang hotel yang baru dibuka beberapa bulan lalu.

“Kau perginya besok saja, ya? Hari ini temani aku pergi ke sana.” Kyuhyun mencoba menawar. Sungmin mendengus tidak suka.

“Sejak kapan Cho Kyuhyun yang aku kenal jadi begini? Hanya bicara dengan satu wanita saja kau pesimis.”

Kyuhyun mencebikkan bibirnya tidak terima meskipun benar adanya. Sungmin akan tahu begitu melihat raut wajah Kyuhyun. Sejak 15 tahun hidup bersama-sama tentu hal mudah bagi Sungmin untuk memahami sifat Kyuhyun.

“Anggap saja gadis itu partner kerjamu, seperti yang sudah-sudah.” Sungmin mengedipkan sebelah mata, “Ah-dia.., gadis yang cantik.” Lanjutnya yang semakin membuat Kyuhyun melotot sebal. Jika saja Sungmin orang lain, sudah dapat dipastikan Kyuhyun akan meneriaki atau memaki pria ini.

“Cantik atau tidak, aku tidak perduli.” Sungmin tertawa mendengar jawaban kesal Kyuhyun.

Kyuhyun memang sering dihadapkan dengan rekan kerja wanita, namun Sungmin selalu ada di sampingnya. Jika Kyuhyun sudah melihat kejanggalan dalam diri wanita itu, seperti sengaja mengulur waktu, maka Kyuhyun akan langsung meminta Sungmin yang mengambil alih.
Sangat mengherankan memang, Kyuhyun yang bersikap acuh pada setiap wanita namun wanita itu selalu saja mendatanginya dengan berbagai alasan.

Kyuhyun sendiri heran, apa yang menarik dari dirinya selain tampan dan kaya.

 
* * *

 

Hari sudah semakin siang ketika Yookyung memutuskan untuk pulang setelah menutup toko kue miliknya. Baru saja gadis ini mengunci pintu deringan ponsel dalam tas selempangnya terdengar, “Yeob-”

“Yoo, cepatlah pulang!”

Detak jantung Yookyung seketika saja berdetak lebih cepat. Cukup terkejut mendengar suara nyaring Chaeri yang terdengar panik.

Geugeos-eun mueos-inga? (*apa terjadi sesuatu?)” Yookyung berusaha menjaga agar suaranya tetap tenang meskipun kini ia mulai panik.

“Mereka datang dan mencarimu, Yoo.”

Yookyung menyerngit, ia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Chaeri karena di seberang sana berisik sekali, suara Chaeri teredam pekikan kencang Daehyun dan Jisung. Kedua bocah itu sepertinya sedang merebutkan sesuatu.

“Aku tidak dengar, Ri-ya. Coba kau ulangi lagi?” pintanya sembari berjalan meninggalkan toko kue miliknya.

“Orang dari perusahaan itu datang lagi dan dia menanyakanmu.” Kali ini Yookyung dapat mendengar dengan jelas.

“Maksudmu Lee Sungmin-ssi?”

“Bukan dia. Aku tidak tahu dia siapa, tapi dia lebih tampan dari pria manis itu meskipun pria ini terlihat dingin.” Yookyung memutar bola matanya malas mendengar Chaeri memuji ketampanan orang yang akan mengambil rumahnya.

“Bisakah kau tidak memuji musuh?” Yookyung menahan geram. Chaeri terkekeh, “Tapi aku jujur.”

Yookyung mengangguk malas, “Ya-ya.. Terserahmu saja.”

“Jadi bisakah kau cepat pulang?”

Yookyung berhenti di pinggir jalan, menunggu lampu merah untuk menyeberang. “Aku sedang di jalan, bilang saja pada pria itu aku akan segera sampai.”

Setelah mendengar jawaban dari Chaeri Yookyung mematikan sambungan, ia harus cepat sampai rumah sebelum orang itu menghipnotis Chaeri dengan ketampanannya.
Perlu diketahui jika Chaeri sangat memuja ketampanan seorang pria, maka Chaeri akan menyanggupi apa saja yang dikatakan orang itu. Sangat membahayakan kan?

.
.
.

“Maaf tuan, membuat anda menunggu,” Chaeri kembali memasuki ruang tamu, di mana Kyuhyun menunggu.

“Apa saudaramu akan cepat pulang?” Chaeri mengangguk singkat, “Ya, sebentar lagi pasti sampai.” Jarak toko kue dan rumah mereka tidak terlalu jauh, hanya selisih beberapa blok saja, 15 menit berjalan kaki pun akan sampai.

Kyuhyun mengangguk singkat lalu memperhatikan sekelilingnya. Rumah ini tidak begitu besar namun tetap terawat. Terlihat dari cat dinding yang cukup bagus meskipun sudah lama dihuni serta halaman depan yang terawat, ditanami berbagai jenis bunga. Kyuhyun sempat memperhatikan ketika akan memasuki pelataran rumah berlantai dua ini.

“Anu-” Chaeri hendak mengatakan sesuatu namun gadis ini ragu. Mereka tidak saling mengenal satu sama lain, apa yang harus mereka bicarakan? Batin Chaeri gusar.

Kyuhyun meneliti isi ruang tamu ini, ada beberapa foto keluarga yang tertempel di dinding dan juga beberapa piala terpajang di lemari kayu.

“Maaf tuan, anda ingin meminum sesuatu?” akhirnya Chaeri bertanya meskipun dengan canggung. Gadis ini sangat jarang berhadapan dengan seorang pria dari kalangan seperti Kyuhyun.

“Tidak,” Kyuhyun menjawab tanpa memandang Chaeri. Pria ini terlihat tertarik dengan miniatur piano berwarna silver yang ada di lemari, berjejer bersama piala sehingga ia mengulurkan tangannya hendak menyentuh miniatur itu.

“Piano ini-”

“Jangan pernah menyentuh barang milik orang lain tanpa bertanya lebih dulu, tuan!”

Baik Chaeri maupun Kyuhyun menoleh bersamaan ke arah pintu masuk rumah. Seorang gadis memakai kemeja kotak merah dipadu celana jeans denim berdiri di sana dengan nafas terengah. Rambutnya yang digulung ke atas sedikit berantakan.

Kyuhyun menyerngit heran, apakah gadis itu baru saja berlari?

“Kau berlari, Yoo?” Chaeri bertanya lebih dulu setelah sampai di hadapan Yookyung.

“Ah-kau pasti Kim Yookyung?” Kyuhyun merubah raut wajahnya menjadi datar. Pria ini masih berdiri di dekat lemari pajangan. Bahkan sejak ia datang, pria ini tidak duduk meskipun Chaeri sudah mempersilahkannya.

“Ya, saya Kim Yookyung. Lalu anda?” Yookyung menghampiri Kyuhyun. Dan ia cukup terkejut mengetahui kenyataan bahwa pria ini lebih tinggi darinya, bahkan ia harus sedikit mendongak untuk menatap wajah pria ini.

“Cho Kyuhyun, CEO Cho Group.” Kyuhyun menyebutkan nama sekaligus jabatannya.

Yookyung menoleh ke arah Chaeri yang berdiri tak jauh darinya, gadis satu itu tetap diam. “Ri-ya, bisakah kau tinggalkan kami?” Chaeri buru-buru mengangguk. Ia langsung paham jika Yookyung dan Kyuhyun akan bicara serius.

Arraseo.

“Ajaklah anak-anak bermain di atas, dan jangan biarkan Daehyun turun mencariku.” Imbuh Yookyung ketika Chaeri akan masuk ke ruang tengah. Akan sangat merepotkan jika Daehyun mencarinya, anak itu begitu lengket dengan Yookyung.

“Aku tahu.” Sahut Chaeri singkat lalu meninggalkan mereka berdua setelah menunduk singkat ke arah Kyuhyun.

Anak-anak? Batin Kyuhyun bingung.

Benarkah wanita muda ini sudah menjadi seorang ibu? Sulit dipercaya. Jika dilihat Yookyung mungkin seumuran dengannya, 24-25 tahun atau bisa saja lebih muda darinya.

“Tuan Cho…” Lamunan Kyuhyun buyar ketika suara Yookyung menginterupsinya, pria ini menatap Yookyung.

“Jadi apa keperluan anda datang kemari?” Yookyung begitu tenang dan sopan. Tidak terlihat kegugupan sama sekali.

“Aku datang untuk bernegosiasi denganmu nona Kim,” tanpa disuruh sang tuan rumah Kyuhyun duduk di sofa single warna coklat. Yookyung memperhatikan Kyuhyun dalam diam. Mencoba menilai Kyuhyun. Mungkin untuk wajah Yookyung bisa memberikan nilai sempurna, tapi tidak untuk etika.

“Apa lagi yang perlu dinegosiasikan? Bukankah saya sudah menolak dengan tegas waktu itu? Apakah Sungmin-ssi tidak mengatakan penolakan saya pada anda?” Yookyung memilih duduk di seberang sofa yang diduduki Kyuhyun sehingga mereka bisa berhadapan.

“Dia mengatakannya, maka itu aku perlu bicara denganmu.”

“Saya tidak akan berubah pikiran.” Singkat dan padat. Kyuhyun memaki dalam hati. Gadis ini sangat teguh dengan pendiriannya.

“Kenapa kau tidak mau pindah? Paahal yang lainnya saja sudah pindah. Apa aku perlu menambah uangnya?” Kali ini Yookyung mulai kesal. Apa pria ini pikir uang bisa menyelesaikan segalanya?

“Berapa pun uang yang akan anda berikan, saya akan tetap menolaknya.”

Kyuhyun menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, tersenyum samar. Gadis keras kepala, pikirnya.

“Kenapa kau begitu ingin mempertahankan rumah ini, Nona?” Kyuhyun butuh alasan gadis ini kenapa begitu teguh mempertahankan rumah ini.

Kyuhyun dapat melihat perubahan dari pancaran tatapan gadis ini. Kenapa? Batinnya ingin tahu.

“Anda tidak akan mengerti,” lirih Yookyung setelah cukup lama terdiam.

“Aku perlu tahu alasanmu,” suara Kyuhyun terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditolak.

“Apa jika saya menceritakan alasannya Anda akan berubah pikiran?”

Kyuhyun menggeleng. “Tentu saja tidak.”

Yookyung memejamkan mata sejenak, meredam emosi yang sudah di ujung batas. “Kalau begitu Anda tidak perlu tahu. Saya rasa pembicaraan ini tidak akan menemukan kesepakatan karena saya tetap pada jawaban saya, jadi-”

Nuna!

Baik Yookyung maupun Kyuhyun terkejut mendengar pekikan keras memenuhi ruang tamu yang tidak cukup besar ini. Yookyung menoleh terkejut. “Daehyun.” ucapnya lirih.

Chaeri pasti tidak bisa mengendalikan Daehyun, pikir Yookyung. Anak itu kini berlari ke arahnya.

“Endong na,” Daehyun berdiri dekat Yookyung duduk dengan mengulurkan kedua tangannya. Yookyung mendesah berat sebelum meraih Daehyun dan mendudukkannya dipangkuan. Anak ini kini mulai berceloteh ketika Yookyung menanyakan kenapa ia bisa turun kemari.

Kyuhyun terus memperhatikan gadis ini dan juga anak kecil dalam pangkuan Yookyung. Berbagai macam spekulasi memenuhi kepala Kyuhyun.

“Ini lah salah satu alasan saya tuan,” Yookyung berucap tiba-tiba. Kyuhyun mengalihkan tatapannya menatap Yookyung yang juga menatapnya.

“Maksudmu kau tidak mau pindah karena anak itu?” Yookyung mengangguk kecil. “Tidak hanya Daehyun yang menjadi alasan, tapi mereka.” Kyuhyun mengikuti arah telunjuk Yookyung yang menunjuk ke belakang dan seketika itu juga pria ini membulatkan matanya. Sejak kapan mereka ada di sana? Ia tidak mendengar derap langkahnya.

Ada beberapa anak kecil yang berdiri bersama Chaeri di depan pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang tamu. Dan mereka semua masih anak-anak, sekitar 5-10 tahun. Jumlah mereka ada 10 orang, 3 perempuan dan 7 laki-laki termasuk Daehyun. Apakah mereka semua anak Yookyung atau adiknya?

“Yoo, maafkan aku.” Ucap Chaeri penuh sesal karena tugasnya menjaga Daehyun gagal.

Gwaenchanh-a,” Yookyung tersenyum mengerti. Daehyun memang lincah. Anak ini begitu pintar meskipun masih kecil. Ia pasti menggunakan alasan ingin ke kamar mandi pada Chaeri agar bisa mencari Yookyung.

Kyuhyun mengurungkan niatnya yang akan membuka mulut begitu ponselnya berdering nyaring. “Yeoboseyo?” Kyuhyun langsung mengangkat telpon begitu tertera nama Sungmin di sana.

“Kyuhyun-ie…” Seketika itu juga Kyuhyun menjauhkan ponselnya. Pria ini menyerngit heran, yang menelponnya nomor Sungmin tapi kenapa justru suara neneknya yang menyapanya. Ke mana pria manis itu?

Yookyung diam memperhatikan Kyuhyun yang sibuk bicara ditelpon. Pria ini terlihat kesal.

Nuna.., geuneun nuguya?(*Kakak, siapa dia?) Daehyun menunjuk Kyuhyun dengan jari telunjuknya.

“Teman Nuna,” Daehyun mengangguk lalu memperhatikan Kyuhyun yang masih bicara ditelpon.

Hyeong jal saeng-gin,” (*Hyung itu tampan ya..)

Kyuhyun yang tadinya masih bicara seketika menoleh begitu mendengar seseorang mengatakannya tampan. Memang sudah banyak yang mengatakan seperti itu, tapi ini berbeda. Anak sekecil Daehyun mengatakan dirinya tampan. Kyuhyun baru mendengarnya.

Yookyung yang melihat Kyuhyun terus menatapnya mengangkat bahunya disertai senyum canggung. Ia tidak bicara apa-apa pada Daehyun selain mengatakan jika Kyuhyun adalah temannya.

“Yaa! Kyu, kau dengar nenek tidak?”

“Aku dengar,” sahut Kyuhyun malas masih dengan memandang Daehyun yang menatapnya polos. Anak itu duduk dipangkuan Yookyung dengan kaki yang digerak-gerakan dengan tatapan lurus menatapnya. Lucu sekali.

“Aku datang ke Seoul ini karena ingin melihat cucuku ini menikah. Kau sendiri yang bilang pada nenek kalau sudah ada calonnya, maka itu nenek datang kemari untuk menikahkan kalian.”

Kyuhyun menghela nafas, jengah mendengar kalimat yang dikatan sang nenek. Menikah. Istri. Selalu saja dua suku kata itu yang dibicarakan.

Dan untuk soal ia mengatakan sudah mempunyai calon istri hanya alasan, berharap neneknya tidak bertanya-tanya lagi mengenai pernikahan. Namun ia justru dihadapkan dalam masalah sekarang. Neneknya datang ke Seoul tanpa sepengetahuannya dan Sungmin. Orang tua satu itu datang sendiri dari Austria-tempat istirahatnya selama beberapa tahun terakhir.

“Ya Tuhan, nenek. Bisakah kau tidak membicarakannya? Setiap kau menelponku, kau pasti bertanya itu.” Suara Kyuhyun meninggi beberapa oktaf membuat Daehyun berjengit kaget dan secara refleks memeluk Yookyung erat.

“Tuan, sebaiknya kau bicara di luar,” bukannya ingin bersikap kurang sopan terhadap tamu. Tapi Yookyung merasa Daehyun ketakutan sekarang. Di dalam rumah mereka tidak ada yang berbicara kasar atau membentak. Yookyung melarangnya dan anak-anak mematuhinya.

Kyuhyun berdiri, “Maaf,” setelah menggumamkan kata maaf pria ini berjalan ke luar.

Hwaga nai hyeong issneunji, nuna na?(*apakah aku melakukan kesalahan?) mata Daehyun berkaca-kaca. Yookyung menepuk pelang punggung Daehyun, “Tidak-”

“Nona Kim?” Yookyung menghentikan kalimatnya, menoleh ke arah Kyuhyun yang menatapnya serius.

“Ya?”

“Mari kita buat kesepakatan. Aku jamin ini tidak akan merugikan siapapun,” Yookyung terus menatap Kyuhyun yang bicara serius.

“Kesepakatan seperti apa yang Anda maksud?”

 
* * *

 

“Dasar anak itu… Tidak bisakah ia lebih sopan sedikit pada orang yang lebih tua? Aku ini neneknya.” Nyonya Cho menggerutu dengan menatap ponsel yang berada digenggamannya. Kyuhyun memutuskan sambungan sepihak, padahal ia belum selesai bicara.

Sungmin yang duduk di jok depan-bersama supir-menghela nafas. “Jalankan mobilnya,” perintahnya pada Paman Oh.

Hari ini melelahkan, gumamnya tanpa suara. Tangan kanannya memijit pelipis, kepalanya terasa pening. Sungmin yang tadinya dalam perjalanan akan menuju Busan sangat terkejut ketika menerima telpon dari Nyonya Cho agar menjemputnya di Bandara, langsung saja Sungmin menyuruh Paman Oh agar bertolak balik menuju Incheon untuk menjemput Nyonya Cho.

“Apakah Kyuhyun selalu seperti ini, Sungmin-ah?” Sungmin menoleh ke belakang lalu tersenyum tipis.

“Anda tahu sendiri bagaimana sifatnya, Nyonya.” sahutnya sopan.

Wanita tua ini menarik nafas lelah, “Tidak kah ia bosan bersikap seperti itu?” gumamnya sedih. Kyuhyun yang riang dan ramah sudah hilang, digantikan dengan Kyuhyun yang acuh dan dingin.

Sejujurnya dia lelah, batin Sungmin menyahut.

“Ngomong-ngomong bagaimana wajah calon cucu menantuku, apakah dia cantik Sungmin-ah?”

Nde?” Sungmin terkejut. Calon cucu menantu?!

“Kau jangan berpura-pura keget begitu, kau kan selalu bersama Kyuhyun. Jadi bagaimana rupanya? Seperti apa gadis itu?” cecar Nyonya Cho antusias. Sungmin semakin merasa kepalanya bertambah pusing sekarang.
Sejak kapan Cho Kyuhyun punya kekasih? Berdekatan dengan wanita saja tidak pernah.

Apa yang sudah dikatakan Kyuhyun pada neneknya ini? Kyuhyun pasti sudah gila kalau mengatakan akan mengenalkan kekasihnya, maki Sungmin dalam hati.

“Memang apa yang dikatakan Kyuhyun pada Anda?” Sungmin penasaran dengan pembicaraan mereka berdua.

“Kyu mengatakan akan memperkenalkan gadis itu besok malam,” Sungmin langsung menepuk keningnya frustasi. Pria ini mengalihkan panangannya ke samping kiri lalu menggerutu tanpa suara. Dugaannya tepat.

Paman Oh yang melihat Sungmin terlihat kesal menyerngit heran, namun pria berusia 43 tahun ini tidak berani bertanya, hanya diam dan fokus pada kemudi.

Jika Sungmin terlihat frustasi namun berbeda halnya dengan Nyonya Cho yang terlihat berseri-seri, senyum bahagia terlukis di wajah tuanya.

“Aku sudah menunggu saat seperti ini sejak lama, Sungmin-ah.” Ungkapnya jujur. Sungmin menyahut seadanya. Pria manis ini tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Masalah baru sepertinya akan segera muncul.

Sungmin teringat sesuatu, “Nyonya, bisakah saya meminta ponsel saya kembali?”

“Oh- maafkan aku Sungmin-ah.” Nyonya Cho segera memberikan ponsel milik Sungmin.

“Terima kasih,” ucap Sungmin setelah menerima ponselnya. Pria ini langsung membuka kotak pesan, mengetik sesuatu untuk Kyuhyun.

‘Apa yang sedang kau rencanakan Kyu? Jangan membuat masalah.’

Sungmin sangat khawatir sekarang. Sebenarnya apa yang ada dalam kepala Kyuhyun saat ini sehingga mengatakan hal yang menurutnya tidak masuk akal. Memperkenalkan calon istri. Ini gila.

 

 

Continue…

 

19 comments

  1. pasti yookyung di suruh jadi calon istrinya kyu pura pura.. hahaha dasar cho kyu.. modus yg berujung asmara.. sungmin oppa yg sabar ok.. keren eonni genre nya campur aduk banget.. di tunggu part selanjutnya.. apa ff ini gak ada donghae nya?! hehehe .. ^_^

  2. jangan” si yookyung yg akan dikenalin ke neneknya. semoga aja ntar klau beneran ketemu ma neneknya kyu, neneknya nerima yookyung.
    klau udah nyangkut soal kenangan mesti ribut akhirnya๐Ÿ˜€ di tunggu next partnya eon..๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

  3. kyuhyun pantes bnget sifat yang ky gini di setiap ff..
    yookyung blum luluh ya pas liat kyuhyun,, malahan ky nya kyuhyun yg luluh karna liat yookyung peduli bnget sama anak-anak. moga aja kesepakatan nya jangan menggila kasihan nenek nya hihihi..
    pngen cepet liat next nya ky gimana..
    BlueRosee fighting!!!!!@@@@@

  4. kyuhyun oppa parah bgt nyebut nenek.a nenek tua wkwk
    yoo yg bakal jadi calon istrinya ya eon??
    setuju bgt sama yoo kenangan yang manis emang susah bgt untuk dilupain
    ditunggu eon part selanjutnya
    semangat eon untuk part selanjutnya

  5. duh ni ff kocak deh… hmmm pling suka ff yg ada ank2y!! ngbyangin daehyun jd gemes sndri hihihi

    eonni next pnjangin lg dong y wkwkwk

  6. Jngan2 kesepakatannya kyu minta yookyung buat jadi calom isteri?
    belum tau aku watak nyonya cho disini,,, baik apa nggak ya?

  7. hallo kak^^ izin baca ffnya, aku readers baru๐Ÿ™‚
    Aku tertarik sama ff ini, kayaknya setelah ini bakal awesome tp aku jg belum tau gimana :3 aku agak kesusahan buat nyari next partnya, tp ternyata baru ada 2 part ya?๐Ÿ˜ฆ but it’s okay. I will waiting๐Ÿ˜€ fighting kak๐Ÿ™‚

  8. Kyu biasalah karakter’a dingin” tampan๐Ÿ˜€ kyu kya’a bakal nikah sma si yookyung, sungmin oppa lelah jdi tmn kyuhyun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s