What Are You Waiting For?

wpid-414625857433.jpg

Author : Bluerose

Title : What Are You Waiting For?

Cast : Hong Jonghyun, Kim Ahyoung

Note : Mohon maaf apabila masih ditemukannya typo’s atau kata yang rancu.
Dan mungkin idenya pasaran, tapi saya harap kalian tidak membashing saya. Kalau mau berkomentar atau kritik tolong gunakan kata yang sopan. Terima kasih.

***®®®***

Penantian, pengorbanan dan kesabaran adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh seseorang. Kebanyakan dari mereka akan menyerah jika merasa lelah dan letih. Akan menerima begitu saja takdir hidupnya.
Namun semua hal itu tidak berarti bagi pria yang saat ini duduk di kursi panjang bawah pohon ginko yang sudah menguning. Menatap orang-orang yang berlalu lalang di taman ini.

Hong Jongyun, nama pria berpostur tubuh tinggi tegap ini. Dia tidak pernah lelah untuk menanti kehadiran seseorang yang selalu dinantinya sejak beberapa tahun silam. Kim Ahyoung. Gadis yang menjadi cinta dan pacar pertamanya.

Meskipun kini mereka terpisah jauh namun Jonghyun tidak pernah melewatkan kegiatan yang sudah menjadi rutinitas tahunannya selama tiga tahun. Alasannya sederhana, karena Jonghyun memcintai Ahyoung dan tidak bisa melupakannya meskipun kini gadis itu sudah menjadi milik orang lain.

“Oppa harus berjanji apapun yang terjadi pada hubungan kita nanti, Oppa harus datang ke taman kota saat musim gugur datang. Aku akan selalu menunggu Oppa di sana agar kita bisa melihat daun ginkgo yang berguguran.”

Inilah alasan Jonghyun selalu ada di taman kota dan duduk di kursi yang sama dari sore hingga menjelang malam tiba. Dia telah berjanji pada gadis yang dicintainya. Dan Jonghyun yakin bahwa Ahyoung suatu hari—yang entah kapan—akan datang kemari sehingga mereka bisa melewati musim gugur bersama-sama lagi. Meskipun harapan itu sangat kecil sekalipun.

Jonghyun merapatkan mantel hitam panjang yang dikenakannya saat merasakan angin musim gugur tahun ini lebih kencang. Pria ini menoleh ke samping kanan saat merasakan kehadiran seseorang.

Gadis bermata bulat dengan rambut coklat terangnya berjalan pelan ke arahnya, tersenyum hingga lesung di pipi kirinya nampak. Sangat manis, namun gadis ini tidak bisa mengambil alih tempat yang sudah di isi oleh Ahyoung.

“Gombawa Jonghyun-nee-san.” Keiko Hibaragi menyapa dengan suara lembut. Jonghyun mengangguk kemudian membalas sapaan serta senyuman gadis ini.

“Kuperhatikan kau selalu duduk di sini sendirian, apa kau sedang menunggu seseorang?” Keiko duduk di samping kanan Jonghyun, menatap pria tampan ini penasaran.

“Hanya menikmati angin musim gugur.”

“Jawabanmu selalu sama, Nee-san.”

Jonghyun tersenyum tipis mendengar cibiran gadis berumur 19 tahun ini. “Kau pun selalu bertanya pertanyaan yang sama.”

“Kau benar. Tapi aku hanya penasaran, kenapa kau begitu betah duduk di sini sendirian.” Keiko tentu ingin tahu alasannya. Jonghyun selalu terlihat menyedihkan jika musim gugur tiba. Meskipun pria ini tersenyum tapi ada satu hal yang tersembunyi dibalik senyum itu.

“Sekarang ada kau yang menemani, tentu tidak sendirian.” Keiko mendengus keras mendengar jawaban Jonghyun. Pria ini jarang sekali bicara. Begitu tertutup. Apa lagi mengenai kisah asmara maupun dirinya. Padahal Keiko mengenal Jonghyun hampir satu tahun lamanya, mereka bertetangga namun Keiko tidak pernah tahu diri Jonghyun yang sebenarnya.

.
.

Deringan ponsel menghentikan pembicaraan mereka, tepatnya membuat Keiko yang sedang bercerita mengenai kesibukannya di universitas terdiam. Gadis ini memperhatikan Jonghyun, terlihat kesal. Apakah Jonghyun sedang bertengkar dengan kekasihnya? Batin Keiko bertanya-tanya.

“Kenapa? Apa ada masalah?”

Jonghyun memasukan kembali ponsel ke dalam saku mantelnya, menghela nafas sebelum menjawab Keiko.

“Ah, aku tahu. Oba-san pasti memintamu pulang kan?” tebak Keiko tepat. Gadis ini tahu jika Jonghyun sudah lama tidak pernah pulang ke Negara asalnya, Korea. Meskipun Keiko tinggal di Jepang tapi ada beberapa temannya yang berasal dari Korea sehingga sedikit-sedikit dia bisa mengerti apa yang Jonghyun katakan dengan Ibunya tadi.

“Ya…”

“Kalau begitu pulanglah, Oba-san pasti merindukanmu, Nee-san. Kau pernah bilang kan kalau kau merindukan mereka? Jadi pulanglah.”

“Pulang?” gumam Jonghyun yang diangguki Keiko.

“Aku tidak bisa, Keiko-chan.” Keiko menyerngit bingung.
Gadis ini tidak pernah tahu alasan Jonghyun jarang pulang ke Korea dan Jonghyun pun tidak berniat bercerita pada siapapun.

“Kau aneh sekali, merindukan mereka tapi tidak mau pulang.”

Tidak. Bukannya tidak mau, tapi Jonghyun mempunyai alasan. Ahyoung. Jika dia pulang ke Korea dia pasti akan bertemu gadis itu. Meskipun mengatakan tidak ingin tapi tubuhnya berkata lain. Akan dengan sendirinya menghampiri gadis itu.

Itu tidak boleh terjadi. Jonghyun sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikhlaskan Ahyoung untuk pria lain. Pria yang dicintai gadis itu sehingga ia rela berkorban demi kebahagian gadis itu. Meninggalkan Korea lalu menetap di Jepang.

Jonghyun tidak berniat membuang kenangannya bersama Ahyoung selama dua tahun berpacaran, dia hanya ingin menghindari resiko dirinya akan berbuat nekad. Merebut gadis itu karena keegoisannya yang ingin memiliki Ahyoung seutuhnya.

Bagi Jonghyun, dia akan mengorbankan apa saja demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Termasuk dia yang harus mengalami pahitnya patah hati.

Apakah dia terdengar gila? Biar saja. Toh Jonghyun tidak perduli ucapan siapapun.

‘Lakukan apapun yang menurutmu benar, tapi jangan menyesalinya jika pilihanmu salah.’

Jonghyun selalu memegang prinsipnya itu yang menurut Lee Soohyuk—sahabatnya—pemikiran aneh.

***

Musim dingin tahun ini datang lebih awal dari biasanya. Awal bulan Desember salju turun dengan lebat. Jalanan dipenuhi oleh hamparan putih salaju, jalan-jalan pun menjadi licin, mengharuskan pengemudi kendaraan harus berhati-hati.

Jonghyun merapatkan mantel bulu yang dikenakannya saat sapuan angin musim dingin menerpa permukaan wajahnya. Pria ini menolehkan ke kanan-kiri, memperhatikan tempatnya berpijak, Myeongdong street. Ada sedikit perubahan di sini. Toko souvenir yang terletak di pojok kanan Bubble Cafe kini telah berganti menjadi toko pakaian. Berbagai baju musim dingin serta mantel tebal terpajang di mannequin yang berjajar rapi di dalam toko berlapis kaca transparan.
Pria ini tersenyum samar. Dia jadi teringat kenangan saat dulu sewaktu bersama teman-temannya juga Ahyoung.

Langkah kakinya menuju sebuah kedai tteokbokki di seberang jalan, berdekatan dengan lampu merah. Dulu—saat dia dan Ahyoung masih menjalin hubungan—mereka akan datang ke kedai ini di setiap minggu malam setelahnya pergi ke Namsan Park atau ke pasar malam.

Jonghyun menggeleng pelan karena lagi-lagi mengingat Ahyoung. Sejak kembalinya dia ke Korea seminggu lalu, Jonghyun selalu saja teringat gadis satu itu. Sulit sekali menghilangkan bayangan Ahyoung dari kepalanya.

“Annyeong haseyo… Ahjuma, aku pesan satu porsi tteokbokki.”

Seorang ibu sekitar umur 50 tahunan segera datang. Wanita berambut pendek kurus ini terkejut melihat Jonghyun. “Aigo, Jonghyunie?”

“Nde, ini aku.” Jonghyun tidak menyangka jika bibi penjual tteolbokki masih mengingatnya.
Biarpun pelanggannya banyak, namun dia tetap hapal dengan Jonghyun dan Ahyoung. Karena seringnya mereka mampir ke kedainya.

“Kau kemana saja? Lama sekali bibi baru melihatmu.” Yoon Ahjuma, sapaan yang biasa diberikan pelanggan pada wanita paruh baya ini tersenyum ramah.

“Ah, aku berada di Jepang, Ahjuma.” Jonghyun menerima pesanannya.

“Ini pesananmu, seperti biasa kan?” Jonghyun terdiam.

“Kenapa? Kau sudah tidak suka pedas?” Yoon Ahjuma menyerngit bingung karena Jonghyun hanya menatap makanannya.

Jonghyun mendongak, “Tidak. Tentu saja aku suka.” sanggahnya cepat. Tangannya memegang sendok kecil kemudian menyuapkan sesuap tteokbokki ke dalam mulutnya. Satu kata yang bisa dikatakan Jonghyun, pedas.

Sejujurnya Jonghyun kurang menyukai makanan pedas seperti ini, tapi karena terbiasa bersama Ahyoung dia pun jadi terbiasa. Jika dulu satu porsi tteokbokki masih kurang berbeda dengan sekarang, dia bahkan tidak bisa menghabiskannya. Semuanya karena Ahyoung. Dia bisa menyukai makanan pedas karena gadis itu. Tapi Jonghyun tidak bisa menyalahkan Ahyoung tentang ini.

“Kau tidak menghabiskannya?” Yoon Ahjuma kembali dengan membawa nampan berisi piring-piring kotor ke belakang. Kedai mulai ramai karena hari semakin sore.

“Jeongseo habnida, Ahjuma. Bukan tteokbokkinya yang tidak enak, hanya saja lambungku sepertinya tidak kuat makan makanan pedas. Mungkin karena sudah lama tidak memakannya,” jelas Jonghyun seraya mendundukan kepalanya sebagai permintaan maaf.

Yoon Ahjuma tertawa, “Jeongmalyo? Di Jepang pasti tidak ada tteokbokki yah.” Jonghyun mengangguk membenarkan. Di Jepang jarang ada makanan seperti ini, kebanyakan mereka menjual makanan khas sana. Dan jarang sekali orang jepang memasak menggunakan cabai merah. Mereka menggunakan sasimi untuk menggantikan cabai atau sambal.

“Ah ya, bagaimana kabar Ahyoung? Bibi juga sudah lama tidak melihatnya. Mungkin terakhir kali dia datang kemari sekitar enam bulan lalu.”

Detak jantung Jonghyun seketika berdetak keras dan cepat, “Ahyoung?” raut wajahnya berubah gelisah. Dia akan bereaksi seperti ini jika ada orang yang menanyakan tentang gadis itu. Saat baru pulang ke rumah minggu lalu pun Jonghyun hanya diam saja saat adik sepupunya menyinggung soal Ahyoung.

“Ya, apakah dia baik-baik saja?” yang Yoon Ahjuma tahu bahwa keduanya masih bersama.

“Kupikir dia baik-baik saja,” Jonghyun menjawab ragu. Dia juga tidak tahu bagaimana keadaan gadis itu. Seperti apa dan bagaimana Ahyoung yang sekarang. Apakah tetap sama?

“Ahjuma! Aku pesan dua porsi tteokbokki. Satu pedas dan—” seruan keras itu mengambang begitu saja setelah berhasil membuat Jonghyun serta Yoon Ahjuma menoleh ke sumber suara.

Jonghyun membulatkan matanya begitu pula dengan seorang gadis yang berdiri di ujung pintu masuk kedai. Gadis dengan tinggi semampai berkulit putih itu menatap Jonghyun tanpa kedip.

“Jonghyun Oppa…”

“Young-ie…”

.
.

“Bagaimana kabarmu?” baik Ahyoung maupun Jonghyun saling menatap, mereka mengucapkan pertanyaan yang sama secara bersamaan. Jonghyun berdehem pelan, kemudian mengulangi pertanyaannya.

“Aku baik-baik saja. Oppa sendiri?”

“Seperti yang kau lihat.”

Keduanya berjalan dalam diam. Kecanggungan jelas terlihat saat ini. Entahlah, rasanya berbeda dengan tiga tahun lalu saat mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.
Kini ‘status’ yang memedakannya.

Ahyoung istri orang. Dan Jonghyun masih mencintainya.

“Kapan Oppa pulang ke sini lagi?”

“Seminggu lalu.” Jonghyun memutuskan untuk kembali setelah mendengar ayahnya mengalami tekanan darah rendah lalu masuk rumah sakit.

Ahyoung bergumam pelan, “Apa Oppa akan kembali lagi ke Jepang?”

Jonghyun menghentikan langkahnya. “Kau tahu aku di Jepang?”

“Hong Ahjuma yang mengatakannya setelah hari pernikahanku.” rasa ngilu seketika menjalari ulu hati Jonghyun saat kata pernikahan terlontar dari bibir gadisnya. Ralat. Dia sudah tidak berhak menyebut Ahyoung ‘gadisnya’ karena gadis ini sudah menjadi milik orang lain.

“Kenapa Oppa pergi tanpa pamit padaku lebih dulu? Kau masih marah?” Ahyoung terlihat begitu sedih saat mengatakannya.

Jonghyun segera menggeleng, “Tentu saja tidak.” biarpun Jonghyun marah dan kecewa tentang keputusan Ahyoung yang mengakhiri hubungan mereka, tapi Jonghyun tidak boleh marah pada gadis ini. Dia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga dan meyakinkan Ahyoung bahwa dia bisa menjaganya dengan baik.

Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Tidak boleh disesali dan berandai-andai karena itu sudah tidak mungkin terjadi. Batin Jonghyun.

“Setidaknya, jika kau ingin pergi setelah hari pernikahanku Oppa.” Jonghyun kembali tersakiti. Rasa sesak semakin menghimpit paru-parunya.

“Mianhamnida.” apa yang harus dia katakan selain kata ‘maaf’? Tidak mungkin Jonghyun mengungkapkan kesakitannya selama jauh dari Ahyoung.

“Sudahlah, tidak apa-apa.” kali ini Ahyoung tersenyum lebar, senyum yang selalu Jonghyun sukai. Sayang sekali senyum ini tidak lagi untuknya.

“Jadi kau akan menetap atau kembali ke Jepang?”

“Aku akan menetap. Aku harus menggantikan Appa di kantor.” Ahyoung mengangguk mengerti.

“Kau mau mampir?” kini mereka sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Ahyoung. Jonghyun terlihat ragu. Apakah dia siap jika bertatap muka langsung dengan suami Ahyoung? Sanggupkah dia melihat Ahyoung tersenyum untuk pria lain di depan matanya?

Ahyoung yang melihat keraguan di mata Jonghyun menghela nafas. “Di rumah tidak ada siapapun kecuali Eomma.”

“Kalau begitu tidak perlu, mungkin lain kali saja.” Tolak Jonghyun halus. “Suamimu tidak ada di rumah, kupikir itu tidak baik. Bagaimana kalau lain kali saja dan suamimu ada di rumah?” lanjut Jonghyun menjelaskan alasannya.

“In Soo tidak akan pernah datang ke sini lagi, Oppa.”

“Maksudmu?” Jonghyun menyerngit bingung.

“Kami bercerai enam bulan lalu.”

Jika tadi detak jantung Jonghyun berdetak cepat saat bertemu lagi dengan Ahyoung, kini detak jantungnya justru seakan berhenti memompa.

“Kau bercanda kan?”

Ahyoung menggeleng, “Sayangnya tidak.” gadis ini bicara dengan biasa saja. Namun Jonghyun tetap bisa melihat kesedihan dalam mata Ahyoung. Pasti sudah banyak suka duka yang dijalani Ahyoung selama berumah tangga.

“Seharusnya aku tidak meninggalkan Oppa waktu itu. Betapa bodohnya aku ini,” kali ini suara Ahyoung terdengar serak. Matanya berkaca-kaca, siap memuntahkan lelehan bening.

Tangan besar Jonghyun menangkup sisi wajah Ahyoung. Menggeleng kecil. Menyakinkan gadis ini bahwa tidak ada yang perlu disesali.

“Uljima.”

Jonghyun bukanlah orang yang pandai berkata-kata. Dia adalah orang yang suka bertindak daripada berbicara banyak, sehingga dia memeluk Ahyoung. Menenangkan gadis ini.

Apakah ini jawaban dari semua hal yang akulakukan? Penantian, pengorbanan dan kesabaranku selama ini? Inikah jawabannya? Jerit Jonghyun dalam hati seraya menengadah, menatap lagit yang hitam pekat.

Tidak dipungkiri bahwa dalam lubuk hatinya yang terdalam dia senang mendengar Ahyoung bercerai dengan suaminya. Apakah terdengar jahat? Masa bodoh. Jonghyun tidak perduli anggapan orang.

“Apa Oppa masih mau menjadi— temanku?” Ahyoung melepaskan pelukannya, menatap Jonghyun yang lebih tinggi 10cm darinya.

Oh, jangankan teman. Apapun itu asal aku bisa ada di sampingmu aku mau. Ingin sekali Jonghyun mengatakan kalimat seperti itu, tapi rasanya tidak etis.

“Tentu.” keduanya tersenyum.

“Jadi mau mampir atau tidak?” Ahyoung bertanya lagi seraya mengarahkan kepalanya ke rumah. Jonghyun tersenyum, “Ayo masuk. Kurasa aku butuh dongeng sebelum tidur.” candanya. Jonghyun tentu sangat penasaran bagaimana bisa Ahyoung bercerai dengan suaminya.

“Aku yakin ceritanya akan sangat membosankan. Lebih membosankan dari drama picisan.” Ahyoung terlihat enggan namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum.

“Jangan khawatir, aku jamin bisa jadi pendengar yang baik.” Tentu saja Jonghyun tidak akan melewatkan satu ceritapun tentang kisah gadis yang dicintainya ini. Dia perlu dan harus tahu bagaimana kejadiannya agar dia bisa menjaga Ahyoung, sebagai teman mungkin. Tidak akan ada yang tahu masa depan kan? Jadi kalau Jonghyun berharap pun tidak ada salahnya.

‘Jika KAU mengijinkan aku untuk sekali lagi berada di samping Ahyoung dan menjaganya, tolong ijinkan aku untuk melakukannya.’

END

10 comments

  1. 대박 언니 !! 😄👍👏 hmm.. aku kira bakal ada lanjutannya.. taunya cuma oneshot.. gk baca dri atas nya sih heheh.. tapi cerita nya butuh sequel eon.. kalo ke gini kesian jonghyun nya di gantung(?) 😥

  2. Coba aq seperti Jonghyun… Tp no, no, no itu jahat s’kali😀 berharap dy bercerai dri istri’y #plaaak… Gak sia2 ath penantian Jonghyun nungguin Ahyoung sampe janda #plaak…

  3. si oppa nasibnya baik,ahyong bercerai dan ada celah,nah aku?masih diam disini menatap donghae padahal woohyun ma yg lain menantiku
    *abaikankomenini.

    wkwkkw Bagus Ann.
    Figthiiiing,Kurang greget abisnya Moment JongAhh nya Dikit wkekke
    Figthingg

    1. Susah unn bayangin Jjong Oppa sedih. Ga kaya Donge :3 gampang.😀
      Jjong Oppa kan orangnya gantle ga cengeng. :v

      Eh, unni laris juga yah.. Ya udah sono.. Sama Woohyun aja, biar Donge ama aku😀 *maunya

  4. kyaaa!!!! unnie lagi tergila2 sama JongAh couple
    Btw gw juga suka couple ini unn..
    menurut gw lebih bisa ngebayangin jonhyung sedih,, dia kan muka nya melow gitu
    Falling in love with mr.arrogant kapan dilanjut…????

    1. Ahahaaa…
      Iya, abisnya kalo di WGM mereka cocok banget. Klop gitu. Meskipun pake skenario tapi mereka kaya alami gitu. Kaya KhunToria couple dulu. ^^

      Ffny Kyu aku tunda dulu, tunggu mood balik :3
      Sabar ya..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s