Falling in Love with Mr. Arrogant || Part 2

image

Author : Bluerose

Title : Falling in Love with Mr. Arrogant Part 2

Genre : Romance, Family, Marriage live

Length : Ongoing

Rate : PG-17

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Yookyung, Han Chaeri, Lee Sungmin

Note : Saya mohon maaf jika masih ditemukannya typo’s yang nyempil atau bahasa yang rancu. Dan jika ada yang tidak suka dengan tulisan saya, sebaiknya tidak usah dibaca. Terima kasih buat yang sudah mau meninggalkan komentar atau like di postingan ini.

 

 

 

“Jika hidup tanpa sebuah pilihan maka tidak akan berwarna.”

 

 

 

Yookyung terus menatap Kyuhyun selama beberapa saat. Gadis berkuncir ekor kuda ini kemudian tertawa keras membuat Kyuhyun yang duduk di kursi sebelah Yookyung menyerngit heran.

“Apa perkataanku ada yang lucu nona?” ujar Kyuhyun merasa tersinggung.

Yookyung mengangguk, “Yang mana yang menurutmu lucu?” ujar Kyuhyun lagi dengan menatap Yookyung serius. Gadis ini mengusap sudut matanya yang berair, perutnya terasa sakit.

“Menikah. Saya kira anda orang yang serius, tapi—”

“Aku bicara serius Yookyung-ssi. Aku memang mengajakmu menikah.” tegas Kyuhyun yang langsung membuat Yookyung terdiam. Ditatapnya iris hitam kelam milik Kyuhyun, pria ini tidak main-main.

“Tidak. Anda pasti bercanda kan? Menikah bukanlah lelucon ataupun permainan tuan. Bagaimana mungkin anda mengajak saya—orang yang baru anda kenal beberapa jam lalu—langsung menikah.” tutur Yookyung yang merasa tidak habis pikir dengan ucapan Kyuhyun.

“Mungkin kau benar. Tapi aku mempunyai alasan.”

“Alasan apa?” rasa keingintahuan Yookyung tiba-tiba saja muncul. Alasan seperti apa yang mendorong pria tampan ini mengatakan hal gila ini. Menikah dengan orang yang tidak dikenalnya.

“Karena Nenekku. Beliau ingin melihatku menikah sedangkan aku tidak pernah berpikir untuk menikah. Konyol memang mengajak orang yang tidak dikenal untuk menikah. Tapi ini demi Nenek, dia satu-satunya keluargaku.”

“Apa Nenek anda tidak mencarikan pendamping?”

Kyuhyun tersenyum mendengar pertanyaan Yookyung. “Sudah berulang kali namun selalu aku tolak. Tapi kali ini aku tidak bisa menolaknya, Nenek mempunyai penyakit jantung komplikasi dan Dokter memvonis masa hidupnya tidak akan lama. Jadi aku ingin mewujudkan satu keinginannya yaitu menikah.”

Kyuhyun tidak berbohong mengenai keadaan neneknya. Nyonya Cho sudah menderita penyakit jantung komplikasi sejak lima tahun lalu, dan dua tahun terakhir ini keadaannya sedikit menurun. Maka itu Kyuhyun meminta neneknya untuk tinggal di Austria bersama dokter Yoon Jaewoo agar sang nenek bisa beristirahat dengan tenang. Tidak dibebani apapun. Namun siapa sangka Nyonya Cho justru kembali ke Seoul tanpa sepengetahuannya.

Yookyung nampak berpikir keras. Kyuhyun mengajaknya menikah karena keadaan terdesak. Demi menyenangkan sang nenek. Jika mereka menikah Kyuhyun akan memberikan apa saja yang Yookyung butuhkan, itu janjinya.

“Tapi bukankah ini merugikan anda? Kita tidak saling mengenal satu sama lain lalu anda mengajak saya menikah dan akan memberikan apa saja yang saya inginkan. Apa anda tidak berpikir saya hanya mengambil keuntungan saja dari anda?” Yookyung adalah type orang yang memikirkan tanggapan orang lain. Gadis ini tidak ingin dicap hanya menginginkan harta Kyuhyun.

“Tidak. Dan aku pikir kau bukan gadis seperti itu.” di akhir kata Kyuhyun tersenyum begitu lembut membuat Yookyung terpana. Kyuhyun berani mengajak Yookyung menikah karena Kyuhyun yakin jika gadis yang sedang menatapnya ini bukanlah gadis yang hanya bisa tidur, makan lalu menghabiskan uang saja. Yookyung adalah gadis pekerja keras.

“Jadi bagaimana?”

“Saya butuh waktu untuk berpikir.” Yookyung perlu memikirkan semuanya. Dia tidak boleh gegabah untuk memutuskan ini. Pernikahan bukanlah hal main-main.

“Aku mengerti, waktumu sampai besok sore karena lusa Taejun-ssi akan datang kemari. Aku yakin itu. Maka kuharap kau mengambil pilihan yang tepat.”

Taejun adalah General Manager dari DM Group, salah satu dari kelima penanam saham untuk pembuatan hotel kali ini. Pria bertubuh tinggi tegap itu adalah type orang yang tidak sabaran. Dan jika sampai besok Kyuhyun tidak berhasil membujuk Yookyung, Kyuhyun yakin Taejun akan turun tangan untuk menangani ini. Bisa saja Taejun mengusir Yookyung dan keluarganya secara paksa.

Kyuhyun berdiri lalu merogoh saku jasnya, “Ini kartu namaku. Aku tunggu sampai besok sore. Pikirkan baik-baik.” Yookyung menerimanya, membaca sederet tulisan yang ada di kertas kecil tersebut.

“Aku harus pergi sekarang, annyeong.”

Yookyung segera berdiri, mebungkukan badannya seperti Kyuhyun. Gadis ini memperhatikan Kyuhyun yang berjalan keluar dari pekarangan rumahnya.
Meskipun Kyuhyun terlihat arogan namun pria itu bersikap sopan, itulah kesan Yookyung.

“Apa itu?”

Yookyung tersentak kaget ketika Chaeri sudah ada di belakangnya dan mengambil kartu nama dari tangan Yookyung.

“Woahh… Jadi dia benar-benar seorang CEO? Daebbak.” decak kagum keluar dari bibir Chaeri setelah membaca kartu nama berwarna emas itu. Yookyung segera merebutnya, memasukannya dalam saku kemeja depan.

“Ck, kau tenang saja Yoo, aku tidak tertarik dengannya.” cibir Chaeri pura-pura kesal. Yookyung tidak menyahut, gadis ini justru berlalu meninggalkan Chaeri di serambi rumah.

“Ngomong-ngomong apa yang kalian bicarakan tadi?” Chaeri segera menyusul Yookyung ke dalam. Gadis ini sangat penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Karena mereka bicara di luar dan Yookyung menyuruhnya agar menjaga Daehyun  jadi dia tidak bisa menguping pembicaraan mereka.

Yookyung duduk di sofa single, menghela nafas. Chaeri jadi bingung, kenapa Yookyung terlihat aneh begini.

“Cho Kyuhyun mengajakku menikah.”

“APA?!” seru Chaeri keras sehingga suaranya memenuhi seisi rumah. Dan langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan begitu Yookyung memelototinya.

“Jangan berteriak Chaeri-ya.”

“Mianhae…” lirih Chaeri pelan. Gadis ini duduk di lengan sofa, menatap penasaran ke arah Yookyung. “Pria itu mengajakmu menikah? Apa aku tidak salah dengar atau kau yang mengada-ngada.”

Yookyung menyentil kening Chaeri sehingga gadis itu mengaduh. “Apa aku pernah berbohong padamu?” Chaeri menggeleng, “Jadi itu sungguhan? Dia melamarmu? Bukan kah kalian baru kenal hari ini, bagaimana bisa?” cecar Chaeri bertubi-tubi. Sifat keingintahuan yang sudah mendarah daging dalam diri Chaeri tidak bisa dihentikan, gadis ini selalu seperti ini.

“Melamar?”

“Ya, orang yang mengajak menikah itu namanya melamar, Yoo.”

Yookyung tertawa, merasa lucu. Kyuhyun memang mengajaknya menikah namun pria itu tidak membawa cincin, apa itu bisa dikatakan melamar?
Terlebih lagi karena dalam keadaan terjepit.

“Jangan tertawa terus, ayo ceritakan padaku..,” Chaeri mengguncangkan tubuh Yookyung karena gadis ini masih saja terkekeh.

“Maaf. Oke aku ceritakan.” Yookyung menceritakan secara detail  apa yang mereka bicarakan tadi. Chaeri sesekali mengangguk.

“Jadi apa keputusanmu? Menikah dengannya?”

“Entahlah. Aku sendiri bingung. Tawarannya memang menggiurkan,” aku Yookyung jujur. Chaeri pun sependapat.

“Kalau aku pikir sebaiknya kau tolak saja.” Yookyung seketika menatap Chaeri, “Ini konyol, kau tahu. Kalian menikah tanpa cinta, hanya karena keadaan saja. Apa kau pikir ini baik? Kita memang membutuhkan rumah dan lainnya, tapi jika kau menikah dengannya sama saja kau menjual dirimu.”

Yookyung terdiam. Sibuk mencerna semuanya.

“Lebih baik kau tolak saja, Yoo. Kita terima saja uang itu lalu pindah dari sini. Kalau untuk kebutuhan sehari-hari bisa menggunakan uang tabunganku dulu.”

“Sudah kubilang aku tidak mau. Itu uang yang sudah kau kumpulkan selama ini untuk biaya sekolahmu, aku tidak—”

“Tapi aku tidak setuju kau menjual dirimu!” sela Chaeri kesal. Gadis ini mulai tersulut emosi karena lagi-lagi Yookyung menolak usulnya. Menurutnya, uang masih bisa dicari. Dan untuk sekolah pattisier-nya ia bisa menundanya. Toh tidak ada batasan umur untuk seseorang yang ingin menimba ilmu.

“Menjual diri?” ulang Yookyung dengan raut tercengang.

Chaeri berdiri tegak, “Apa namanya kalau kau menikah demi mendapatkan semua itu? Kau menjual diri dan perasaanmu. Kalian tidak saling mencintai. Dan lagi kau tidak tahu sifatnya, bagaimana kalau dia jahat padamu setelah menikah? Tidak ada yang tahu kan?” Yookyung tidak menjawab. “Aku tidak mungkin diam saja melihatmu disakiti.”

Yookyung mengerti perasaan Chaeri. Tapi…

“Masih ada cara lain, Yoo. Aku yakin. Jadi kumohon jangan lakukan hal gila ini. Kalau kau ingin menikah lebih baik menikah saja dengan Seunghoo-ssi, aku lebih setuju.”

“Kau lupa kalau kami tidak—”

“Daripada dengan Cho Kyuhyun-ssi, orang yang tidak kau kenal.” sela Chaeri cepat yang membuat Yookyung bungkam.

“Aku mohon padamu dengan sangat Yoo, jangan mengambil keputusan yang salah. Menikah hanya satu kali seumur hidup jadi menikahlah dengan orang yang kau cintai dan mencintaimu. Itu kan yang selalu kau katakan padaku?” Chaeri selalu ingat kata-kata Yookyung padanya ketika dia bercerita kalau salah satu dari teman prianya mengajak Chaeri menikah.

Chaeri memang benar, tapi keadaan yang seperti inilah yang membuatnya bimbang.

“Kau mengerti kan?”

“Arrayo,”

“Aku bicara seperti ini karena tidak ingin kau membuat kesalahan yang fatal. Kau tahu kan penyesalan selalu datang di akhir?”

“Kalau di awal mana ada yang mau membuat kesalahan, bodoh sekali kau ini.”

“Maka itu…”

“Ya.., ya…, aku mengerti. Terima kasih.” Yookyung memeluk Chaeri erat dari samping. Merasa beruntung karena Tuhan menghadirkan Chaeri untuk menemaninya. Meskipun gadis ini sering ceroboh dan serampangan, namun Chaeri adalah sosok yang peduli.

 

 ∞∞∞—©©©—∞∞

 

Selama perjalanan pulang ke rumah, Kyuhyun begitu gelisah. Memikirkan tentang ucapannya siang tadi saat neneknya menelpon.
Dia merasa begitu ceroboh karena bicara asal. Menikah. Dan sekarang dia kalang kabut, harus berbohong pada neneknya.
Kalau Yookyung setuju tidak akan jadi masalah, tapi bagaimana jadinya kalau gadis itu tidak mau dan dia sudah terlanjur berjanji pada neneknya? Apa yang harus dia lakukan?

“Pabo saram.” desisan kesal meluncur begitu saja dari bibir Kyuhyun menyadari kebodohannya.

“Eomma.., mianhae…” gumam Kyuhyun saat ingat sosok ibunya.

.
.

Pria berpostur tinggi dengan kulit putih pucat ini keluar dari mobil yang berhenti di depan pintu masuk utama. Kyuhyun menarik nafas dalam beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Ini adalah kbohongan pertama yang dia lakukan terhadap neneknya.

Wanita tua dengan garis-garis halus yang menghiasi wajah tuanya ini tersenyum sumringah begitu melihat cucu satu-satunya masuk ke dalam rumah. Nyonya Cho segera berdiri untuk menyambut kedatangan Kyuhyun, merentangkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh tegap Kyuhyun.

“Halmeoni dangsin-i geuliwo han beon Kyuhyun-ah.” bisik Nyonya Cho dengan suara tertahan.

Kyuhyun membalas pelukan neneknya, “Aku juga merindukanmu, Nek.”

“Kau ini jahat sekali tidak mengunjungi nenek ketika tahun baru, padahal kau bilang akan ke Austria. Apa kau sengaja huh?” Nyonya Cho melepaskan pelukannya berganti menatap Kyuhyun marah.

“Maafkan aku, Nek. Tapi aku benar-benar sibuk.” Akhir tahun memang super sibuk bagi Kyuhyun. Banyak data yang harus ditinjau selama satu tahun penuh. Kyuhyun bahkan sering tidak tidur selama musim dingin karena mengerjakan pekerjaannya itu.

“Kau ini selalu banyak alasan.”

Kyuhyun membantu neneknya untuk duduk di sofa panjang dan dia duduk di sebelahnya.

“Dokter Yoon tahu kan nenek datang kemari?” Kyuhyun sengaja mengajukan pertanyaan seperti itu karena siang tadi—setelah Kyuhyun pulang dari rumah Yookyung—Dokter Yoon menelponnya dan sangat cemas. Jadi dia yakin kalau neneknya datang ke Seoul tanpa memberitahu Dokter muda itu.

Nyonya Cho tertawa canggung, “Karena nenek sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cucu nenek yang tampan ini nenek jadi lupa mengatakannya pada Dokter Yoon,”

“Alasan. Nenek tidak tahu betapa cemasnya Dokter Yoon ketika menelponku. Dia begitu panik ketika sadar nenek tidak ada dimanapun. Dia bahkan mau menelpon polisi untuk mencari nenek.” cerita Kyuhyun ketika ingat pembicaraan mereka ditelpon.

“Aigoo… Sepanik itukah? Maafkan nenek ya.” Nyonya Cho menepuk pelan tangan Kyuhyun yang menggenggam tangan kirinya. “Tapi kalau nenek tidak pergi diam-diam mana mungkin Dokter Yoon mengijinkan nenek pergi. Dia kan sangat patuh padamu,” rajuk Nyonya Cho saat ingat betapa patuhnya Yoon Jaewoo terhadap Kyuhyun untuk melarangnya bepergian jauh tanpa pengawasan dirinya.

“Itu semua demi nenek. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk nantinya, nenek tahu kan kalau saat ini—”

“Nenek ucapkan terima kasih kau begitu perhatian pada wanita tua ini. Tapi kau tahu kan apa yang membuat nenek nekad kemari? Nenek ini sudah renta, Kyu. Tidak tahu sampai kapan bisa bertahan,” ujar Nyonya Cho sedih mengingat tentang kesehatannya yang akhir-akhir ini menurun.

“Jangan bicara seperti itu, nek.” Dipeluknya tubuh renta Nyonya Cho, “aku yakin nenek bisa bertahan sampai aku menikah dan menimang cicit nenek.”

“Kau sungguh-sungguh akan menikah?” sorot mata yang tadinya redup kini berubah berbinar. “Siapa gadis itu? Pasti cantik kan?”

“Bagiku cantik bukan prioritas, nek. Buat apa mempunyai istri cantik yang hanya bisa menghabiskan uangku saja.”

Nyonya Cho mengangguk setuju, “Nde, kau benar. Kapan gadis itu akan dibawa kemari?”

“Mungkin besok malam,” sahut Kyuhyun ragu.

“Lebih cepat lebih bagus,” Nyonya Cho terlihat semangat. Senyum bahagia menghiasi wajah tuanya, “Coba ceritakan pada nenek seperti apa gadis tangguh itu? Nenek yakin dia seperti ibumu.” Kyuhyun tergelak mendengar sebutan yang diberikan neneknya untuk Yookyung.

“Namanya Kim Yookyung, dia gadis yang sederhana. Tidak seperti gadis pada umumnya. Dan yang pasti dia gadis yang baik dan sopan. Aku yakin nenek akan langsung sependapat denganku jika bertemu dengannya nanti.” tidak apa kan berbohong sedikit untuk menyenangkan neneknya? Pikir Kyuhyun.

“Nenek sudah tidak sabar bertemu dengannya,”

“Tunggulah sampai besok malam.” Itupun kalau gadis itu setuju, sambung Kyuhyun dalam hati.

.
.

Berbohong pada neneknya ternyata lebih mudah ketimbang berbohong pada Sungmin. Dia tidak bisa mengelabuhi pria manis satu ini sehingga yang ia lakukan kini hanya diam dengan kepala menunduk ketika Sungmin memarahinya.

“Kalau kau begini bisa-bisa aku lebih tua dari usia asliku,”

“Kau kan memang sudah tua, hyung.” Kyuhyun langsung terdiam begitu Sungmin melototinya. Pria yang berdiri dengan berkacak pinggang ini tidak marah Kyuhyun mengatainya tua. Bukan itu. Tapi karena Kyuhyun menyela pembicaraannya yang belum selesai.

Sungmin menghela nafas, “Sudahlah. Memarahimu sekarang tidak akan mengubah apapun karena kau sudah mengatakannya pada Nyonya Cho.”

“Jadi kau tidak marah kan, hyung?”

“Siapa bilang? Tentu saja aku masih marah. Kau sudah berumur 26 tahun tapi masih saja bodoh. Bicara tanpa memikirkan kedepannya.” sungut Sungmin sengit. Kyuhyun mencibirkan bibirnya serta menggerutu dalam hati.

Sungmin senang-senang saja kalau Kyuhyun akan menikah karena itu berarti tugasnya menjaga Kyuhyun akan digantikan oleh istrinya. Tapi dia tidak menyangka jika Kyuhyun begitu bodoh. Mengajak menikah seorang gadis yang baru ditemuinya kemudian mengatakan bahwa dia akan membawa gadis itu besok malam, sedangkan gadis itu belum menjawabnya. Dua kesalahan sekaligus.

“Bagaimana kalau Yookyung-ssi tidak mau Kyu? Apa yang akan kau katakan pada Nyonya Cho?”

Kyuhyun menatap Sungmin, “Aku yakin dia akan mau.” entah kenapa hati kecilnya mengatakan jika Yookyung akan menerima tawarannya.

“Kenapa kau begitu yakin?” Sungmin terlihat heran melihat raut wajah Kyuhyun yang tenang-tenang saja.

“Feelingku mengatakan seperti itu.”

“Cih, yakin sekali kau.”

∞∞∞—©©©—∞∞∞

Pagi-pagi sekali Yookyung sudah dibangunkan oleh ketukan pintu yang begitu keras. Dengan enggan gadis yang masih mengantuk ini keluar kamar.

“Iya, tunggu sebentar.” Yookyung segera berlari ke arah pintu depan untuk melihat siapa tamu di pagi buta begini. Gadis ini langsung membuka matanya lebar-lebar begitu melihat siapa orang yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan koper kecil di sampingnya.

“Oppa?” bukan memanggil melainkan terkejut melihat pria ini ada di sini.
Yookyung mengerjap cepat ketika tubuhnya ditarik dalam pelukan hangat pria yang saat ini terkekeh. Yookyung segera melepaskan pelukannya, “Apa yang Oppa lakukan di sini?”

“Biarkan aku masuk dulu, Yoo.”

Yookyung segera mundur untuk membiarkan pria ini masuk  ke dalam rumah. Diperhatikannya baik-baik pria yang sedang melepas mantelnya kemudian meletakannya di sofa.

“Kenapa Oppa bisa ada di Korea? Dimana Kheely? Apa dia tahu kau ke sini?” Yookyung tidak bisa menghentikan rasa ingin tahunya, dia sangat penasaran bagaimana bisa Lee Donghae ada di Korea.

“Aku haus Yoo, bisa tolong buatkan kopi?”

“Oppa!” Yookyung menghentakan kakinya kesal. Donghae terkekeh kecil. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat wajah adiknya ini.

“Sini duduk,” Donghae menarik lembut tangan Yookyung agar duduk di sofa bersamanya.

“Aku sudah duduk, jadi katakan padaku kenapa kau ada di sini? Siapa yang menemani Kheely? Dia kan sedang hamil muda.”

“Oppa ke sini karena—”

“Aku yang menyuruhnya datang ke sini, Yoo.” baik Yookyung maupun Donghae sama-sama menoleh. Chaeri berjalan pelan menghampiri keduanya lalu memberi salam pada Donghae.

“Kau yang menyuruhnya?”

“Ya,”

“Kenapa kau tidak bilang padaku?” tuntut Yookyung meminta penjelasan. “Dan Oppa kenapa mau menuruti ucapannya?” kali ini Yookyung menatap tajam Donghae.

“Tidak sepenuhnya atas permintaan Chaeri, tapi kakakmu pun memintaku datang kemari jauh-jauh hari karena merasa ada yang tidak beres di sini. Jangan marah padanya, hm?” Donghae bicara jujur. Beberapa hari sebelumnya, Kheely—saudara kembar Yookyung—sudah beberapa kali bermimpi aneh tentang Yookyung dan karena khawatir wanita yang sedang mengandung dua bulan itu langsung meminta Donghae menjenguk Yookyung di Korea. Untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun karena pekerjaan yang begitu menumpuk yang harus segera diselesaikan, maka Donghae baru sempat datang hari ini setelah menempuh perjalanan lebih dari 9 jam dengan pesawat.

“Lihat, Kheely saja merasakan firasat buruk kan? Lebih baik kau tidak usah menerima tawarannya Yoo.”

“Tawaran apa?” Donghae menyerngit tidak mengerti.

“Ah! Majja Oppa. Yookyung akan menjual dirinya demi menyelamatkan kami semua.” Chaeri langsung berdiri menjauhi sofa yang di dudukinya begitu melihat Yookyung akan melemparkan bantal sofa ke arahnya. Gadis itu menatap sengit ke arah Chaeri.

“Mwoya?! Menjual diri?” jerit Donghae tertahan. “Apa itu benar Yoo? Kenapa kau melakukan itu, huh?”

“Anniya. Bukan menjual diri Oppa.”

“Apa kau kekurangan uang huh? Atau kau punya hutang pada rentenir dan sekarang kau tidak bisa melunasinya, maka itu kau mau menjual dirimu?”

Yookyung menghela nafas, “Bukan seperti itu juga.”

“Bukan bagaimana? Sudah jelas-jelas kau mengatakan padaku semalam kalau kau akan menerima tawaran Cho Kyuhyun.”

“Chaeri!” ditatapnya Chaeri dengan marah.

“Katakan pada Oppa, kenapa kau mau menjual dirimu?” Donghae memaksa Yookyung agar menghadapnya.

“Aigo, sudah ku bilang aku tidak menjual diri. Aku hanya akan menikah. Itu saja.”

“Ya menikah demi mendapatkan uang dan rumah kan?” sela Chaeri cepat.

“Menikah?” Donghae menyerngitkan alisnya. Dia tidak salah dengar kan?
“Dengan siapa kau akan menikah? Dan apa maksudmu Yookyung menikah demi mendapatkan uang serta rumah? Bukankah kalian sudah punya rumah ini?” Donghae masih belum mengerti. Dia butuh penjelasan.

“Kami harus pindah rumah Oppa.”

“Waeyo? Bukankah Yookyung begitu ingin tinggal di rumah ini lalu kenapa sekarang ingin pindah?”

“Di sini akan dibagun hotel.” Chaeri menjawab lebih dulu. “Dan kami terpaksa harus pindah,”

“Lalu apa hubungannya dengan menikah?” setahu Donghae Yookyung tidak mempunyai kekasih. Meskipun mereka terpisah jauh dia tahu bagaimana karakter Yookyung. Setelah putus dengan Yoon Seungho tiga tahun silam Yookyung terlihat menutup diri terhadap laki-laki. Dan sekarang sungguh mengejutkannya mendengar Yookyung akan menikah.

“Yookyung menikah karena—”

“Cukup Ri-ya. Biar aku yang menjelaskannya pada Oppa. Kau tidak perlu bicara apapun.” tukas Yookyung tegas. Chaeri seketika terdiam. Dia tahu dia lancang, tapi Chaeri hanya tidak ingin Yookyung salah mengambil keputusan. Dia tidak mau Yookyung menyesal di kemudian hari, itu saja.

.
.

Yookyung menunggu dengan cemas setelah menceritakan semuanya pada Donghae mengenai keadaannya saat ini. Pria yang tengah duduk di depannya kini menatap tajam. Donghae terlihat marah.

“Intinya kau tidak mengenal pria itu?” Yookyung mengangguk sebagai jawaban. “Dan kau akan menikah dengannya?”

Kali ini Yookyung tidak menjawab ataupun mengangguk. Gadis ini ragu. “Kenapa kau begitu rela mengorbankan dirimu demi mereka?” Yookyung seketika menatap Donghae.
“Apa mereka lebih penting dari dirimu sendiri?”

“Tentu saja.” Yookyung tidak mungkin membiarkan anak-anak hidup di luar, memang bisa saja Yookyung membawa mereka ke panti asuhan tapi Yookyung tidak bisa melakukannya. Sangat berat baginya jika harus berpisah dengan mereka semua, terutama Daehyun yang sudah dia rawat sejak bayi.

“Aku rasa apa yang dikatakan Chaeri benar. Kau memang bodoh.”

“Aku tahu,”

“Kau yakin dia pria yang baik?” Yookyung mengangguk. “Kenapa kau begitu yakin? Kau bahkan tidak mengenalnya?”

“Oppa.., kau sepertinya melupakan gelar pendidikanku.”

“Tidak, aku tidak lupa bahwa kau seorang psikolog Yoo. Tapi—”

“Aku yakin dia pria yang baik, Oppa. Jangan khawatir.”

“Tidak ada yang bisa menjaminnya Yoo. Kau ini terlalu polos dan baik sehingga mudah dimanfaatkan orang.”
Yookyung mendengus, “Aku tidak sepolos yang kau kira Oppa. Dan tentu saja aku bisa membedakan orang yang baik dan tidak.” tandasnya.

“Tidakkah sebaiknya kau ikut Oppa saja ke Autralia? Kurasa Kheely tidak keberatan kau tinggal bersama kami.”

Yookyung menggeleng keras, “Kau sudah tahu alasannya kan? Aku tidak bisa.”

“Kalau begitu biar aku belikan rumah baru untuk kalian,” Donghae sepertinya masih tidak bisa menerima keputusan Yookyung. Biar bagaimanapun Yookyung sudah menjadi tanggung jawabnya. Dia sudah berjanji pada mendiang orang tua gadis ini untuk menjaga mereka berdua.

“Shirreo. Lebih baik gunakan uangmu untuk kebutuhan Kheely setelah melahirkan nanti. Aku yakin biaya di sana lebih mahal dibanding di sini.”

“Kau tetap keras kepala.”

“Dan Oppa tetap pemaksa.” kali ini Donghae tersenyum. Sejak dia dan istrinya pindah ke Australia dua tahun lalu, mereka jarang sekali pulang ke Korea karena kesibukan masing-masing. Kheely yang bekerja sebagai Dokter kandungan dan Donghae sebagai arsitek jarang mempunyai waktu luang atau libur panjang. Bahkan tahun baru mereka tetap bekerja karena tuntutan pekerjaan.

“Baiklah, aku menyerah. Tapi sebelum aku kembali aku ingin bertemu dengan ‘adik ipar’ lebih dulu.”

“Kami akan bertemu sore nanti, Oppa bisa berkenalan dengannya.”

 
∞∞∞—©©©—∞∞∞

 

Kyuhyun yang sedang menuruni tangga berhenti dipertengahan, menoleh kanan kiri dengan bingung. Banyak pelayan yang sedang bekerja, mondar-mandir ke sana kemari dengan membawa berbagai macam barang.

Ini tidak biasanya, batinnya heran.
Setiap hari memang ada banyak pelayan yang bekerja membersihkan rumah besar berlantai dua ini, tapi hari ini lain. Terlihat begitu sibuk dan semuanya serba baru. Seingat Kyuhyun, dia sama sekali tidak menyuruh pelayan untuk mengganti barang-barang lama dengan yang baru.

Kyuhyun melanjutkan langkahnya menuruni tangga dan dia langsung berseru begitu melihat Sungmin yang sedang melintas dengan membawa beberapa buku di tangannya.

“Sungmin Hyung.”

Sungmin menghentikan jalannya, menoleh ke arah tangga. Kyuhyun berdiri di sana dengan pakaian rapi, hendak ke kantor.

“Mwoya?”

“Memang di rumah akan ada acara apa Hyung? Kenapa pagi ini semuanya terlihat begitu sibuk ?”

“Tentu saja menyambut kedatangan ‘calon istrimu’.” Sungmin menjawab malas. Pagi ini dia sudah disibukkan dengan berbagai hal oleh Nyonya Cho. Dan semua itu harus sesuai dengan keinginan wanita yang hampir memasuki usia 90 tahun.

“He?”

“Tidak perlu kaget begitu, kau sendiri yang bilang padaku semalam kalau akan mengajak Yookyung-ssi kemari kan? Jadi jangan heran kalau Nenekmu sibuk mempersiapkan semuanya.”

“Jadi semua ini permintaan Nenek?”

“Ya, dan kau tahu, semuanya harus sempurna.” ujar Sungmin sedikit mengeluh. Kyuhyun terkekeh kecil melihat raut wajah kesal Sungmin.

“Ini kan hanya pertemuan biasa, kenapa harus heboh begini?”

“Bodoh.” Sungmin menoyor kepala Kyuhyun, “Tentu saja karena Nenekmu begitu antusiasnya. Dia terlihat begitu semangat hari ini. Sudah lama aku tidak melihatnya tersenyum bahagia seperti itu.”

“Benarkah?” Kyuhyun tidak menyangka jika Neneknya akan sebegitu bahagianya mendengar dia akan memperkenalkan seorang gadis. Tapi ada rasa bersalah menyelimuti hatinya, karena dia telah membohongi Neneknya.

“Kyu…” Kyuhyun segera tersadar mendengar panggilan Sungmin. “Kau jangan membuatnya kecewa Kyu. Dia sudah sangat berharap akan ada hari ini sejak lama.”

“Aku tahu, Hyung.” Maka itu apapun caranya aku harus membawa Yookyung kemari. Sambung Kyuhyun dalam hati.

“Kau mau berangkat?” Kyuhyun mengangguk. “Kalau begitu hati-hati,”

“Eh, tidak berangkat bersama?”

“Kau duluan. Aku harus mengantarkan ini,” Sungmin mngedikkan kepala ke tumpukan buku di tangan kirinya.

“Apa itu?”

“Daftar resep makanan.”

“Nenek mau memasak?” Kyuhyun sudah lama sekali tidak memakan masakan neneknya. Sejak beliau sakit, Kyuhyun melarangnya memasak atau melakukan hal-hal yang menurutnya melelahkan.

Sungmin mengangkat bahu tidak tahu. Dia hanya diminta Nyonya Cho untuk mengambil buku resep yang tersimpan di lemari perpustakaan.

“Sebaiknya kau cepat berangkat saja Kyu. Hari ini kau ada rapat dengan DM Group jam 9 kan?” Sungmin mengingatkan jadwal Kyuhyun.

“Aku ingat. Tapi aku harus bertemu nenek lebih dulu, di mana dia?”

“Di taman belakang. Kita ke sana bersama saja.” Kyuhyun mengangguk setuju.

Taman belakang yang ditanami berbagai bunga serta terawat rapi itu menjadi tempat favorit bagi Nyonya Cho. Di taman inilah dia melihat pertumbuhan anak-anak serta cucunya. Kyuhyun senang sekali bermain di sini, mengejar kupu-kupu atau berkejar-kejaran dengan anak anjing peliharaan mereka, Pochi. Namun anjing itu mati setelah Kyuhyun lulus sekolah menengah.

Nyonya Cho mengusap sudut matanya yang basah. Jika mengingat masa lalu selalu membuatnya menangis.

Kyuhyun melihat neneknya sedang duduk di kursi pavilion kecil yang ditumbuhi bunga merambat. Wanita tua itu sedang memangku Popo, kucing angora putih dengan bulu yang lebat.

“Achim-e Halmeoni,” Kyuhyun mengecup kedua pipi neneknya kemudian duduk di kursi bersebelahan dengan sang nenek.

“Pagi, Kyunie.”

“Nyonya ini buku yang anda minta,” Sungmin meletakan buku yang dibawanya ke atas meja. Nyonya Cho segera mengambil salah satunya, “Terima kasih,”

“Sama-sama. Apa ada hal lain yang anda butuhkan?”

“Tidak ada. Maaf sudah merepotkanmu Sungmin-ah.” Nyonya Cho menepuk pelan lengan Sungmin dengan tersenyum meminta maaf.

“Saya permisi jika anda tidak membutuhkan apapun lagi,” Sungmin membungkuk sebelum pergi.

“Nenek meminta buku resep untuk apa?” Kyuhyun memperhatikan neneknya yang sedang membuka buku resep, membacanya dengan seksama.

“Nenek ingin memasak sesuatu untuk menyambut kedatangan calon cucu menantu,” Nyonya Cho tersenyum cerah. Kyuhyun mencelos, dia telah membohongi wanita tua ini.

“Nenek tidak perlu melakukannya. Kita bisa memesan makanan atau menyuruh Hwang Ahjuma untuk memasakannya.” usul Kyuhyun namun ditolak sang nenek.

“Hanya memasak dua-tiga jenis makanan tidak apa-apa. Lagi pula kalau orang lain yang memasak akan rasanya akan berbeda.” Kyuhyun tidak bisa membantah lagi. Jika neneknya sudah berkeinginan begitu dia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Aku hanya tidak ingin nenek kelelahan,”

“Memasak tidak melelahkan, akan ada pelayan dan Hwang Ahjuma yang akan membantu nenek. Tidak perlu khawatir.” Nyonya Cho menyakinkan Kyuhyun agar tidak khawatir berlebihan padanya.

Kyuhyun hendak bicara namun deringan ponsel menginterupsinya. Pria ini menyerngit melihat panggilan dari nomor baru.

“Yeoboseyo?”

“Ini saya, Yookyung.”

“Yookyung-ssi?” ulang Kyuhyun memastikan. Kyuhyun menoleh ke arah neneknya karena bajunya ditarik neneknya.

“Siapa? Apa itu calon cucu menantu yang menelponmu?” tebak Nyonya Cho langsung. Kyuhyun mengangguk. “Berikan pada nenek, aku ingin bicara dengannya.., sebentar saja Kyu.”

“Yookyung-ssi, nenekku ingin bicara denganmu. Sebentar saja,” Kyuhyun mengulurkan ponselnya yang langsung diterima Nyonya Cho dengan senang.
Kyuhyun diam memperhatikan neneknya.

Kyuhyun tidak pernah berpikir jika menikah bisa membuat neneknya tersenyum bahagia. Dia bahkan selalu menolak dengan tegas usul neneknya yang memperkenalkannya dengan cucu temannya dulu. Namun kini, melihat wajah Nyonya Cho yang bahagia membuat Kyuhyun ikut senang. Mungkinkah pilihannya ini tepat?

“Kyu, Yookyung ingin bicara denganmu.” Nyonya Cho menyadarkan Kyuhyun.

“Nenek, aku harus ke kantor. Sampai ketemu nanti,” Kyuhyun menerima ponselnya kemudian pergi setelah berpamitan.

“Hallo, ya ini aku.” Kyuhyun menempelkan ponselnya ke telinga, “Kau menelponku untuk memberitahu tentang jawabanmu?”

“Ya.”

“Jadi bagaimana?”

“Aku setuju. Tapi—”

“Nde?”

“Tidak apa-apa jika aku mengajak seorang lagi?”

“Siapa yang akan kau ajak? Apa gadis yang waktu itu?” Seingat Kyuhyun Yookyung hanya tinggal bersama Chaeri.

“Bukan Chaeri, tapi Oppaku yang baru pulang dari luar negeri.” Kyuhyun mengangguk meskipun Yookyung tidak melihatnya. “Tidak apa-apa kan?”

“Tidak masalah.” Kyuhyun mengakhiri sambungan kemudian termenung sesaat. Yookyung mempunyai seorang kakak laki-laki. Tapi kenapa Sungmin tidak mengatakannya? Dan lagi data yang diterimanya mengenai Yookyung tertulis jika Yookyung hanya tinggal bersama Chaeri serta anak-anak.

“Aku bisa menanyakannya nanti.” putus Kyuhyun tidak mau ambil pusing. “Sungmin Hyung… Kajja kita berangkat bersama.” Kyuhyun berseru di ruang makan. Hwang Ahjuma yang sedang membereskan meja makan menghentikan kegiatannya sejenak, “Tuan Sungmin sudah berangkat 10 menit lalu.”

“Aish.. Kenapa tidak menungguku,” desis Kyuhyun sembari berlalu meninggalkan ruang makan.

“Tuan Cho, sarapan anda.”

“Aku sarapan di kantor saja Ahjuma.”

.
.

Seperti janji Kyuhyun siang tadu saat pria itu menelpon Yookyung bahwa Kyuhyun yang akan menjemput mereka. Kini Yookyung dan Donghae menunggu kedatangan pria itu.

“Berhentilah menatapku Oppa” Yookyung menoleh sebal ke arah Donghae yang masih betah menatapnya, bahkan pria tampan yang mengenakan stelan jas hitam ini tetap mengambil potret dirinya menggunakan ponsel, meskipun Yookyung berulang kali melarang atau memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Oppa jarang melihatmu berdandan Yoo, dan kau memang cantik kalau berdandan.”

“Cantik mana, aku atau Kheely?” Donghae seketika terdiam. Yookyung dan Kheely memang kembar identik, sama-sama cantik. Namun ada yang membedakannya. Senyum mereka. Kheely tidak mempunyai senyum lembut seperti Yookyung.

“Eum…”

“Tidak usah di jawab. Aku tahu jawabannya, Kheely selalu yang pertama untukmu.” Putus Yookyung yang melihat Donghae kesusahan memutuskan pilihan. Donghae tertawa kecil. Dia jadi teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu, saat mereka masih duduk di bangku sekolah. Yookyung dengan terang-terangan mengatakan jika dia iri dengan Kheely.

Gadis itu mempunyai postur yang porposional sedangkan Yookyung hanya 158cm. Nilai ulangan yang selalu di atasnya. Semuanya terlihat sempurba bagi Yookyung.  Namun satu hal yang tidak bisa dilakukan wanita itu, memasak. Kheely buruk sekali dalam urusan dapur, kebalikan dari Yookyung yang pintar memasak seperti ibu mereka.

“Oppa, apa Kheely sudah bisa memasak? Kulihat kau bertambah gemuk sekarang.” ujar Yookyung tiba-tiba. Donghae memang terlihat lebih gemuk dari terakhir yang dia lihat melalui video call bulan lalu.

Donghae tertawa keras membuat Yookyung menyerngit, “Dia bahkan meledakan panci saat membuat sup miso.”

“Aigo,” decak Yookyung berlebihan. Dia tidak menyangka jika saudara kembarnya itu masih tidak bisa memasak. “Jadi siapa yang memasak selama ini?”

“Naega,” Donghae menunjuk dirinya sendiri. Yookyung menggeleng prihatin, “Beruntung sekali Kheely menikah denganmu. Selain tampan kau juga bisa memasak.”

“Jadi kau mengakui aku tampan, eoh?” goda Donghae. Yookyung mencibir. Sudah jelas Donghae tampan sejak mereka sekolah dulu karena banyak teman-teman sekelasnya yang menyukai pria cassanova ini.

“Tapi kau playboy.”

“Tidak lagi,”

“Iya, karena kau sudah menikah. Oppa takut dengan Kheely,”

“Eiii… Bukannya takut Yoo. Tapi memang sudah bertobat.”

“Maaf menganggu…”

Baik Yookyung maupun Donghae menghentikan perdebatan konyol mereka. Keduanya menoleh ke arah pintu, Kyuhyun berdiri di sana dengan pakaian rapi.

Donghae berdiri lebih dulu, menghampiri Kyuhyun. Menatap pria jangkung itu dengan tatapan menilai. Kyuhyun terlihat biasa saja, tidak terpengaruhi dengan tatapan Donghae yang terlihat kurang bersahabat.

“Berhenti menatap galak begitu Oppa. Biarkan dia masuk.” Kyuhyun segera mengalihkan tatapannya ke sumber suara. Yookyung berdiri di dekat sofa. Gadis itu terlihat berbeda dengan kemarin saat mereka bertemu. Dress warna soft pink di atas lutut yang dikenakannya sangat manis dengan rambut panjang Yookyung yang di sanggul ke atas, menyisakan beberapa helai di kedua sisinya. Polesan wajah Yookyung juga terlihat biasa, namun pas dan cantik.

“Ehem!” Donghae sengaja berdehem keras. Dia tahu Kyuhyun terpesona dengan adik iparnya.

“Jeongseo habnida.” Kyuhyun menunduk kecil sembari menggerutu dalam hati. Sedangkan Yookyung melototi Donghae yang memberikan kode bahwa dia tidak menyukai Kyuhyun.

Yookyung mendekati keduanya, mengajak Kyuhyun nasuk lalu memperkenalkan mereka.

“Berapa umurmu sekarang Kyuhyun-ssi?” Donghae bertanya lagi setelah Kyuhyun menjawab tentang pekerjaan apa yang digelutinya. Donghae benar-benar berlaku seperti seorang ayah yang sedang menginterogasi kekasih anak gadisnya.

“26 tahun,”

“Kau yakin akan menikah dengan adiikku yang lebih tua darimu? Apa tidak masalah?”

“Ye?”

“Jadi kau tidak tahu umur gadis yang akan menjadi istrimu? Adikku tahun ini berumur 28 tahun Kyuhyun-ssi.” jelas Donghae yang melihat kebingungan di wajah Kyuhyun. Dia sudah menyangka jika Kyuhyun memang lebih muda dari Yookyung saat melihatnya tadi.

Yookyung dan Kyuhyun saling berpandangan. Terkejut. Kyuhyun tidak menyangka jika Yookyung lebih tua darinya. Postur tubuhnya imut dan wajahnya juga tergolong baby face tentu tidak akan ada orang yang menyangka jika Yookyung sudah berumur 28 tahun.

“Apa perbedaan usia tidak jadi masalah bagimu?” Donghae kembali bertanya.

“Kurasa tidak apa-apa.” Donghae dapat menangkap keraguan di kalimatnya. Mungkin Kyuhyun masih terkejut mengetahi fakta bahwa Yookyung lebih tua darinya.

“Kau bilang tidak akan menjalin hubungan dengan pria yang lebih muda darimu. Tapi kini sepertinya sudah berubah ya.”

“Aku—”

“Oppa hanya ingin memastikan saja,” Donghae menunggu dengan sabar.

Yookyung memejamkan matanya sesaat, memantapkan hati. Dia sudah memutuskan akan menerima tawaran Kyuhyun. Dan dia adalah type orang yang konsisten dengan perkataannya.

“Perbedaan usia kurasa bukan masalah. Benar kan Kyuhyun-ssi?”

“Eoh. Aku pikir juga begitu.”

“Baguslah kalau kalian sudah bulat begitu.” Putus Donghae mengakhiri sesi tanya jawabnya. Pria itu berdiri dari duduknya, “Jja, kita pergi.”

Yookyung menatap Kyuhyun yang juga menatapnya.

“Aku tidak menyangka kau lebih tua dariku.” ucap Kyuhyun dengan senyum kecil. Dugaan Yookyung lebih muda darinya salah besar.

“Aku juga tidak pernah berpikir jika akan menikah dengan orang yang lebih muda dariku.” sahut Yookyung kemudian keduanya tertawa bersama.

 

Continue…

 

21 comments

  1. setelah lama menunggu akhirnya keluar juga. Lebih tua yoo ternyata dri kyu, gak masalah lgi tuaan yg cwe. Cpt nikah dong kyu ma yookyung,

  2. Yahh unnie.. Knp yookyung nya lebih tua..??? Jd enpy ihh
    Tp gak pp lah liat gmn kedepan nya.. Btw kyuhyun nya gak keliatan arogan nya unn.. Bikin kyu nya lebih arrogan lg deh biar seru..

      1. Ok.. Unnie
        Ttp semangat *dimaklumin deh bcz bkn sparkyu.. Bkt nya buat donghae mah dapet feel nya

  3. Wuhhhhhhhhhh keren,,,,,
    Salut ama donghae menepati janjinya kpd mendiang kedua orang tua dr istrinya,,,,,
    Bener ipar yg amanah,,,,,,,,
    Jangan lama2 ya nex partnya,,,,,*digeplak autor,,,
    Faighting cingu,,,,,,

  4. sedih karna blum baca part 1 nya😦
    donghae aku kira oppa aslinya eh ternyata hanya ipar ya.
    Sifat kyu nya tumben g angkuh atau belum kah ?😀

  5. akhirnya….
    setelah menunggu lma di post jg…
    yoo kyung nikah sama brondong dounk..hihihi
    chaeri sama sungmin adjha…
    di tggu next partnya thor..
    keep writing n good luck…

  6. Ada donghae selalu 😄 .. yookyung kembar ternyata.. aku gk berani koment apa apa lagi cuma aku ngakak aja pas baca bgian kyu yg nyela omongan sungmin “memang kau sudah tua hyung.” Wkwkwkwkk kelakuan si chokyu 😄 next part nya di tunggu eonni!! Fighting!! 👏💪😊

  7. aku juga nggak nyangka kalo yongkyo lebih tua dari kyuhyun O.O part 1 sama 2 ini menurut aku belum ngegambarin gimana sifat arrogant nya kyuhyun, ditunggu lanjutannya kak🙂 fighting!!!

  8. ahh Kyuhyun nikah sama yg lebih tua? untung kaga keliatan.. haha..
    ini ada lanjutannya ga? sepertinya ini menghipang begitu saja?
    padahal diriku penasaran .-.
    thor lanjut dong….

  9. Dimana ada Kyuhyun selalu ada Donghae… setiap ff yang kubaca mereka selalu berdua, entah itu jadi musuh, sahabat atau apapun itu 😁
    Aku suka banget sama ff nya nii ceritanya sangat menarik gak bikin bosen, pokoknya bagus bangget dehhh 😊 ditunggu part selanjutnya thor 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s