Come Back Home [Oneshot]

image

Title : Come Back Home
Genre : Sad-Romance
Lenght : Oneshot
Cast : Cho Kyuhyun-Shin Ah Young
Rate : PG-16

♣☆♣☆♣☆♣☆♣

Hii, everyone, how are you? 😄 Lama yah, aku ngga nulis di wp, lebih dari setahun kayaknya 😁
Dan sekarang tetiba aja aku update, pasti pada kaget nih pas dapet notif #pd-gila wkwkwk.
Oke lah, aku ngga mau basa-basi terlalu banyak. Mangga atuh lah, Akang Kyuhyunnya di nikmati(?) 😁
Maaf juga kalau masih ada typo atau feel yang kurang dapet. Udah lama ga nulis jadi kaku lagi. #ngeles
Yuuu…. Cuuussss!!!

♣☆♣☆♣☆♣☆♣

“Rumah bagiku adalah tempat untukku pulang. Bukan hanya sekedar rumah untuk berteduh. Kamu tahu kenapa aku selalu menunggumu di depan pintu saat kamu pulang? Karena aku berpikir bahwa kamu pulang kepadaku. Karena rumahmu adalah aku.” [Shin Ah Young]

♧♣♧

Rintik kecil yang mulai membasahi bumi, serta bau tanah yang tersiram air hujan menguarkan aroma yang begitu khas. Ia suka hujan. Dan ia pun suka akan aroma ini. Tidak ada alasannya, ia hanya suka. Oh, ayolah, apakah menyukai sesuatu membutuhkan alasan? Terlalu rumit —bagi Ah Young— untuk menjelaskan kenapa ia menyukai hujan dan aroma tanah yang tersiram hujan.

“Sayang, makanlah dulu, nak,” jari telunjuk yang sedari tadi ia gunakan untuk bermain di kaca yang berembun akibat hujan terhenti, kepalanya menoleh ke suara itu berasal. Mata bulatnya menatap wanita baya yang berdiri di depan pintu dengan membawa nampan makan siang, “Aku tidak lapar, Bu.”

Nyonya Cho menghela nafas pelan namun ia berjalan menghampiri ranjang kemudian meletakan nampan di nakas samping tempat tidur, ia mendudukkan dirinya di bibir ranjang, tangannya terulur mengelus lembut surai hitam milik Ah Young. Mata tuanya menatap sendu wanita yang kini kembali mengalihkan tatapannya ke arah luar jendela, memandang rinai hujan yang mulai membesar di luar sana.

“Tapi kamu harus makan, Sayang. Apa kamu tidak kasihan sama yang di dalam sini, hm?” tangan satunya beralih ke arah perut Ah Young, mengusap lembut perutnya yang kini tak lagi datar.

Ah Young ikut mengusap perutnya sayang, tatapannya berubah sendu dan detik berikutnya air mata mulai turun perlahan, susul-menyusul, bahunya bergetar hebat, sesak itu kembali ia rasakan. Selalu seperti ini.

Nyonya Cho yang melihat menantunya menangis seperti itu tidak tahan lagi, ia segera memeluk tubuh ringkih yang semakin hari semakin kurus. Menantunya yang ceria dan penuh semangat kini sangat rapuh. Bahkan setiap hari yang dilakukan Ah Young hanya berdiam diri di kamar, menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Seperti orang tanpa jiwa. Hampa.

“Sudah, nak, sudah. Ibu tidak bisa melihatmu setiap hari seperti ini terus. Kamu harus sabar dan kuat. Ibu yakin kalau Kyuhyun akan kembali, ia akan pulang ke kamu,” tangannya mengusap punggung Ah Young perlahan, mencoba memberikan ketenangan, meyakinkan wanita dalam pelukannya ini jika semuanya pasti akan kembali lagi.

“Sampai kapan, Bu? Sampai kapan aku harus menunggu? Selama 10 tahun aku menunggu Kyuhyun Oppa dan saat aku baru bisa merasakan perasaanku terbalas kini Tuhan merampasnya lagi? Kami bahkan baru menikah tiga bulan lalu sebelum kejadian itu. Apa kebahagiaanku hanya sebatas itu?” Mata bulat dengan linangan air mata itu menatap Nyonya Cho penuh kekecewaan. Rasanya ia sudah lelah, tidak sanggup lagi kalau harus menunggu Kyuhyun kembali ke pelukannya.

“Kita harus sabar, Ah Young-ah. Dokter kan bilang kalau ingatan Kyuhyun akan kembali, amnesianya tidak permanen,” Nyonya Cho mencoba memberikan penjelasan namun Ah Young menolaknya dengan tegas. Wanita itu menggeleng keras, “Tapi ini sudah lebih dari empat bulan, Bu. Dia bahkan tidak pernah pulang kemari kan? Kenapa? Karena ada aku di sini. Yang Kyuhyun Oppa ingat, ia begitu membenciku karena aku yang selalu menguntitnya!”

Air mata yang Nyonya Cho tahan sejak tadi kini luruh, hatinya ikut sesak melihat kekecewaan yang terpapar jelas di depan mata. Shin Ah Young, wanita yang begitu sabar, baik dan begitu mencintai putra satu-satunya kini menderita akibat cinta yang begitu dalam terhadap Kyuhyun.
Wanita yang sedang mengandung buah cinta keduanya, cucu ketiga, anak pertama Ah Young dan Kyuhyun.

Di saat seharusnya Ah Young dapat merasakan perasaan bahagia menantikan buah hati yang akan lahir, wanita itu justru tertekan oleh beban yang berat. Kyuhyun tidak mengakuinya sebagai istri, tidak berada di sisinya, dan yang lebih menyakitkan lagi, Kyuhyun tinggal bersama dengan seorang wanita di apartemen mewah pria itu.

Adakah yang lebih menyakitkan mengetahui bahwa pria yang kamu cintai, suamimu, sedang bersama wanita lain bahkan tinggal bersama?

Meskipun wanita itu tahu semata-mata karena Kyuhyun mengalami amnesia akibat kecelakaan yang di alaminya saat pulang dari kantor empat bulan lalu, tetap saja rasanya menyesakkan.

Ah Young sudah tidak sanggup lagi jika harus menunggu lebih lama. Ia ingin menyerah, namun kata hatinya justru berbalik, menyuruhnya untuk menunggu sedikit lagi.

Sanggupkah ia kalau harus menunggu lagi?

Selama empat bulan ini Ah Young sudah bersabar, ia mencoba menerima kenyataan bahwa Kyuhyun melupakannya, melupakan semua kenangan yang pernah mereka ukir bersama selama setahun terakhir sebelum mereka memutuskan menikah. Namun masih belum ada hasil, inilah yang membuatnya frustasi. Ia merasa jika kesabaran serta penantiannya sia-sia.

Saat mengetahui bahwa Kyuhyun kecelakaan dan dinyatakan amnesia, saat itu juga dunia Ah Young serasa runtuh. Harapan yang ia gantungkan dalam pernikahan bahagia mereka kandas, tersapu angin bagai debu. Tidak tersisa.

Dan ketika ia ingin pergi —setelah Kyuhyun mengusirnya—kenyataan lain menghantamnya, ia positif hamil, keluarga Cho tentu melarangnya pergi dan memintanya untuk tetap tinggal.
Dan sebagai protes Kyuhyun, pria itu memilih pergi dari rumah, ia merasa kecewa dan tinggal di apartemen dengan prasangka keluarganya lebih memilih Ah Young—wanita tidak di kenal—ketimbang dirinya yang baru keluar dari rumah sakit. Ia bahkan jarang pulang ke rumah, terkecuali jika Ibunya menelpon memintanya untuk datang. Itu pun tak seberapa lama, paling satu-dua jam lalu pergi. Alasannya, karena tidak ingin bertatap muka dengan Ah Young.

♣☆♣☆♣

Kamu memang lupa ingatan, tapi kamu keterlaluan Kyuhyun-ah. Ah Young istrimu dan ia sedang hamil anak pertama kalian, tapi kamu memperlakukannya begitu buruk. Kalau aku tahu akhirnya akan begini, lebih baik dulu aku merebutnya darimu. Aku menyesal mengikhlaskan Ah Young untuk jadi istrimu. Kyuhyun yang aku kenal tidak pernah bersikap kasar seperti ini, sekalipun kamu membenci orang itu. Kamu tidak layak di sebut pria. Pecundang!”

Kalimat yang terlontar dari bibir seorang pria yang sudah dianggapnya kakak terus terngiang di telinga selama beberapa hari ini. Kalimat yang diucapkan dengan penuh penekanan oleh Park Jungsoo mengganggu konsentrasinya bekerja, membuatnya selalu mendengus sebal dan berakhir menutup berkas yang sedang diperiksanya secara kasar.

Kemarahan yang terlihat jelas di wajah Jungsoo membuatnya selalu berpikir, benarkah sikapnya selama ini salah?
Dan benarkah jika wanita hamil yang ada di rumah orang tuanya itu istrinya?

Shin Ah Young, wanita dengan tinggi semampai, berambut panjang sepunggung dengan gelombang yang indah serta berparas manis itu istrinya. Wanita yang ia nikahi tiga bulan sebelum hari naas itu terjadi. Itu penjelasan dari Cho Hanna, Ibunya.

Selama empat bulan ini ia selalu menyangkal jika Ah Young benar istrinya, bahkan ia tidak mau mendengar penjelasaan apapun dari keluarganya ataupun dari sahabat-sahabat mengenai kenyataan bahwa ia telah beristri, hingga akhirnya Park Jungsoo datang menemui dan memberikannya bogem mentah di pelipis. Mengatakan segala kekesalan, kekecewaan serta kemarahan pria itu terhadap sikapnya.

Kyuhyun memejamkan mata, tangannya terangkat memijit ujung pangkal hidung mancungnya, entah kenapa setiap melihat wanita berparas manis yang menatapnya sendu selalu membuatnya dirundung rasa nyeri. Kyuhyun tidak mengerti akan hal itu. Maka itu ia tidak pernah menginap di rumah, lebih memilih tinggal di apartemen yang kini ia tinggali bersama Natasya—teman di universitas saat masih di London dulu—tepatnya untuk menghindari Ah Young.

Namun jika dipikir ulang, sikapnya memang keterlaluan terhadap Ah Young, terlebih wanita itu sedang hamil, Kyuhyun sadar itu. Jungsoo benar, seharusnya ia mencoba memdengarkan orang-orang terdekatnya, mencari tahu kebenaran tentang kenyataan jika ia memang sudah menikahi Ah Young. Tidak seharusnya ia menelan bulat-bulat penjelasan Natasya tentang hidupnya sebelum kecelakaan itu terjadi.

Foto pernikahan. Ibunya pernah membawa beberapa album ke apartemennya awal-awal ia keluar dari rumah sakit. Wanita yang sudah melahirkannya itu membujuknya agar mau melihat foto-foto pernikahan mereka untuk menyakinkannya kalau mereka memang sudah menikah, berharap bisa sedikit membantu mengingat siapa Ah Young, serta bukan karangan Ah Young semata. Namun sayangnya Kyuhyun menolak dan membuang album itu ke tempat sampah.

Ah, pasti di rumah ada album foto lain.

Kyuhyun beranjak dari kursi yang sejak pagi ia duduki hingga kini terasa panas akibat ia yang tidak beranjak sedikitpun dari sana. Tangannya meraih kunci mobil kemudian memakai jasnya. Ia akan pulang untuk bertanya pada Ibunya, adakah kenangan lain selain album foto pernikahan yang sudah dibuangnya, atau mungkin barang yang bisa dijadikan untuk mengingat kembali memorinya tentang Ah Young.

“Eh, Kyu, kamu mau ke mana?” Natasya menyerngit heran melihat Kyuhyun keluar dari ruang kerjanya dengan membawa tas kerja. Ini masih jam 11 pagi akan ke mana pria itu? Batinnya heran.

“Ibu menelpon, aku harus pulang,” sahut Kyuhyun cepat.

“Aku ikut ya?”

Kyuhyun menaikan sebelah alisnya tinggi, “Kamu yakin? Kamu kan tahu kalau Ibu—”

I know she don’t like me, but I have to try, right?”

“Bagaimana kalau lain kali saja?” usul Kyuhyun, ia tidak akan leluasa bertanya pada Ibunya jika Natasya ikut dengannya ke rumah. Gadis berparas ayu dengan tinggi sebahu serta berkulit putih ini akan selalu menempel padanya.

“Tapi kan Kyu—”

“Lain kali, Nath. Aku pergi ya, bye.” Kyuhyun melambaikan tangannya singkat, meninggalkan Natasya yang termangu berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Kyuhyun tahu kalau Natasya kini pasti kesal dengan penolakannya, tapi ia harus melakukannya, untuk kali ini.

♣☆♣☆♣

Kyuhyun sampai di rumah orang tuanya setengah jam kemudian. Pria dengan tinggi tegap itu menyerngit begitu melihat pintu rumah terbuka lebar. Dengan langkah panjang ia memasuki rumah, “Ibu, aku pulang!” serunya lantang.

“Kyu! Syukurlah kamu datang, nak. Cepat bantu Ibu bawa Ah Young ke rumah sakit.” Dengan tergopoh Nyonya Cho menarik tangan Kyuhyun menaiki tangga menuju lantai dua, kamar Ah Young.

Begitu sampai pria itu terpaku di depan pintu sesaat pintu kamar terbuka lebar, tatapannya lurus ke arah ranjang besar di tengah ruangan. Tepatnya ke arah foto pernikahan yang tertempel di dinding, berukuran besar, yang menampilkan seorang pria yang berwajah sama dengannya serta wanita cantik bergaun putih di sampingnya, menggandengnya dengan mesra dan tersenyum lebar. Sangat serasi dan terlihat saling mencintai satu sama lain.

“Cho Kyuhyun. Kenapa hanya diam di situ? Cepat bantu Ibu! Kita harus bawa Ah Young ke rumah sakit sekarang!” Seruan dari Nyonya Cho menghentak Kyuhyun, membuatnya tersadar kenapa Ibunya menariknya kemari.

Dengan langkah panjang Kyuhyun menghampiri Ibunya yang sedang memasukkan beberapa baju ke dalam tas, “Cepat bawa Ah Young turun. Dia mau melahirkan.”

Kyuhyun segera menoleh ke arah Ibunya, matanya membulat sempurna, terlihat kengerian di mata pria itu, “Melahirkan?”

“Ya! Cepatlah Kyu!”

Nyonya Cho segera berlari ke luar kamar setelah berseru ia akan menunggu Kyuhyun di mobil.
Kini perhatian Kyuhyun beralih ke wanita yang berbaring di ranjang dengan merintih pelan, nafasnya panjang pendek dan keringat sebesar biji jagung terlihat memenuhi kening indahnya.
Kyuhyun mendekat ragu, setelah menarik nafas panjang ia meraih Ah Young, menggendongnya dan keluar kamar.

“Maaf merepotkanmu,” walaupun samar dan nyaris tidak terdengar Kyuhyun yang sedang menuruni tangga dengan hati-hati menoleh. Ia tidak yakin dengan apa yang diucapkan oleh wanita yang saat ini di gendongnya.

“Aku minta maaf sudah merepotkanmu,” sekali lagi Ah Young mengucapkannya. Kali ini Kyuhyun bisa mendengar dengan jelas, pria itu mengangguk sebagai respon. Ia tidak tahu harus memjawab seperti apa. Dan baru kali ini ia bersentuhan langsung dengan Ah Young.

“Kamu tahu Kyu, kamu selalu datang di saat aku membutuhkan pertolongan. Dulu pun sama, mungkin kalau kamu tak kebetulan di sana aku sudah mati, terima kasih.” Kyuhyun berhenti setelah menapak di tangga terakhir, tatapannya lurus ke arah Ah Young yang sesekali meringis menahan sakit, kepalanya menyandar pasrah di bahunya, mata wanita itu terpejam serta mengigit bibir.

Entah dorongan dari mana Kyuhyun melakukan itu, mengecup hidung mungil Ah Young kemudian berbisik lirih di telinganya, “Kamu akan baik-baik saja, Youngie. Kamu dan bayi kita akan baik-baik saja,” di antara mendengarkan suara lembut Kyuhyun serta dekapan pria itu pada tubuhnya, Ah Young mengulas senyum yang tak dilihat Kyuhyun. Wanita itu berdoa dalam hati, semoga kamu cepat pulang Kyu-ya. Aku merindukanmu, sangat.

Setelahnya Kyuhyun melangkah lebar keluar rumah, menuju mobil dan segera membawa Ah Young ke rumah sakit.

======❄======

Hampir dua jam Kyuhyun hilir mudik di depan ruang operasi, menunggu Ah Young yang belum juga keluar dari dalam sana. Nyonya Cho yang baru menutup telpon dan melihat putranya cemas menghampirinya, menyentuh bahunya pelan, “Duduk Kyu, nanti kamu lelah berjalan ke sana-kemari,” Nyonya Cho membimbing Kyuhyun untuk duduk di kursi tunggu.

“Bu, bukankah Ah Young belum waktunya untuk melahirkan? Kenapa sekarang sudah kontraksi?”

Nyonya Cho mengulurkan tangan tuanya, mengusap rahang putranya, tatapannya begitu lembut, menyiratkan betapa sayangnya ia terhadap putra bungsunya ini.

“Kandungannya baru jalan tujuh bulan. Tapi dia tertekan dan stress Kyu, itulah yang memicu kelahiran awal,” Kyuhyun tersentak mendengar penjelasan Ibunya.

Stress dan tertekan memang bisa memicu kelahiran, dan Kyuhyun menduga jika yang membuat wanita yang berada di dalam sana mengalami situasi seperti ini pastilah dirinya.

Nyonya Cho yang melihat Kyuhyun menunduk menepuk pelan kepalanya, matanya berembun menahan lelehan air mata yang sebentar lagi tumpah.

“Kenapa kamu sedih?”

Kyuhyun menggeleng, masih dengan menunduk dan tangan menggenggam salah satu jemari Ibunya, “Aku tidak tahu Bu, hanya saja melihat dia seperti ini membuatku cemas dan takut,” aku Kyuhyun dengan suara bergetar, bahkan ia tak sadar meremas tangan Ibunya yang ia genggam.

Nyonya Cho segera memeluk tubuh besar Kyuhyun, menepuk pelan punggungnya beberapa kali, “Apa kamu sudah mulai mengingat sesuatu, nak?” wanita setengah baya itu berucap serak yang dijawab gelengan kecil oleh Kyuhyun.

“Tidak satupun yang kamu ingat? Mungkin samar-samar?” Kyuhyun menghela nafas panjang kemudian menatap Ibunya ragu.

“Entahlah, Bu. Aku hanya merasa dejavu dengan keadaan ini.”

Nyonya Cho mengangguk pelan, mereka memang pernah berada dalam situasi yang hampir sama seperti sekarang. Dan yang mengalami hal itu pun orang sama, Shin Ah Young.

Mungkin kejadian itu sudah lebih dua atau tiga tahun lalu, namun Nyonya Cho masih mengingat jelas apa yang di alami putranya. Kyuhyun mengabarkan kalau ia sedang berada di rumah sakit, membawa temannya yang baru saja mengalami kecelakaan tabrak lari.

Sebagai Ibu ia bisa merasakan bagaimana khawatir dan cemasnya Kyuhyun. Pria itu terus saja memanjatkan doa-doa guna keselamatan orang yang ditolongnya, yang baru diketahuinya jika orang itu seorang gadis cantik bermata indah.

Belum pernah sekalipun Nyonya Cho melihat Kyuhyun begitu cemasnya. Bahkan Kyuhyun tidak memperdulikan bajunya yang berlumuran darah Ah Young. Saat itulah Nyonya Cho tahu bahwa putranya menaruh hati terhadap Ah Young.

“Keluarga Nyonya Shin?”

Baik Kyuhyun maupun Nyonya Cho serentak berdiri begitu melihat Dokter yang menangani Ah Young keluar dari ruang operasi. Keduanya mendekat, “Bagaimana operasinya dok?” Nyonya Cho bertanya lebih dulu. Kyuhyun yang berdiri di samping Ibunya meremas pelan pundak wanita itu.

“Operasinya berjalan lancar, Nyonya Shin juga baik-baik saja—”

“Lalu bayinya? Bagaimana dengan bayinya dok?” sela Kyuhyun cepat. Kentara sekali jika ia sangat khawatir.

Dokter Im tersenyum simpul, “Bayinya juga selamat, Tuan. Tapi untuk sementara harus kami tempatkan di inkubator karena lahir prematur, serta bobotnya yang masih jauh dari normal.”

“Tenang saja, semua anggota badannya normal, tidak ada jari tangan atau kakinya yang tertinggal dalam rahim ibunya,” lanjut dokter Im sedikit bercanda.

Baik Kyuhyun maupun Nyonya Cho bisa menarik nafas lega, “Terima kasih banyak, dokter.”

“Sama-sama, sudah menjadi tugas kami untuk menolong. Sebentar lagi Nyonya Shin akan dipindahkan ke rawat inap, kalian bisa menjenguknya. Saya permisi.”

Nyonya Cho membungkukkan badan membalas salam dokter Im yang diikuti Kyuhyun. Keduanya kini bisa tersenyum mendengar kabar bahagia tersebut.

“Ibu punya cucu lagi, Kyu!” ucap Nyonya Cho dengan tangis bahagia. Kyuhyun segera memeluk Ibunya.

“Ya, Bu.”

“Ah, tadi Ibu lupa menanyakan, cucu Ibu laki-laki atau perempuan yah? Semoga saja laki-laki, perempuan sudah ada dua.”

Nyonya Cho sudah mendapatkan dua cucu perempuan dari Cho Ahra yang terlahir kembar empat tahun lalu.

“Tapi mau perempuan atau laki-laki sama saja, ia tetap cucuku,” lanjut Nyonya Cho disertai senyum lebar. Kyuhyun mengangguk dan semakin mengeratkan dekapannya, ia merasakan pusing yang teramat sangat di bagian belakang kepalanya.

“—hyun. Kyuhyun-ah!” yang terakhir diingat Kyuhyun sebelum matanya tertutup adalah jeritan Ibunya serta tatapan khawatir wanita itu.

♣☆♣☆♣

Hal yang paling membahagiakan dalam hidup Ah Young selain mencintai suaminya adalah bisa merasakan genggaman buah hatinya. Bayi laki-laki mungil yang masih merah dan kini tengah menggenggam tangannya adalah putra pertamanya dengan suami yang ia cintai, Cho Kyuhyun.

Mengingat suaminya membuat Ah Young kembali merasakan nyeri hebat di dadanya, dan tanpa diminta air mata mengaliri pipinya.

“Sayang, jangan menangis lagi,” Nyonya Cho yang sejak lima belas menit lalu berdiri —menemani—di belakang kursi roda Ah Young meremas pelan bahu menantunya.

“Semuanya akan baik-baik saja, percayalah.”

Ah Young mengangguk, mengusap pipinya dengan tangan kirinya yang terpasang infus. Tatapannya kembali fokus ke arah putranya yang tertidur dengan tenang, genggaman jemari mungilnya pada jari telunjuk Ah Young begitu erat, seakan tidak ingin melepasnya.

“Dia mirip sekali dengan Kyuhyun,” ujar Nyonya Cho dengan senyum yang tak pernah luput di wajah senjanya. Senyum bahagia yang selalu tersemat indah sejak mengetahui bahwa cucunya berjenis kelamin laki-laki.

“Ya, semuanya mirip Kyuhyun. Hanya matanya dan bibirnya yang menurun dariku,” ujar Ah Young sendu. Ditatapnya lekat-lekat putra kecilnya yang kini menggeliatkan badan kecilnya. Ah Young kembali menitikan air mata, menyesali perbuatannya yang mengakibatkan ia harus melahirkan sedini ini. Namun tak dipungkiri jika ia begitu bersyukur anaknya lahir dengan normal terkecuali bobotnya yang hanya 2000 ons dengan panjang 43cm.

“Andai Kyuhyun Oppa ada di sini, pasti ia bangga sekali Bu karena anaknya begitu mirip dengannya,” Ah Young ingat sekali setelah mereka pulang bulan madu Kyuhyun mengatakan jika ingin mempunyai anak laki-laki yang mirip dengannya, pria itu ingin membahagiakan Ibunya yang begitu menginginkan cucu laki-laki dalam keluarga Cho. Dan kini keinginan pria itu tercapai, namun sangat disayangkan kenyataan pahit itu terjadi, pria itu tidak di sampingnya bahkan melupakannya.

“Ah Young-ah,” Nyonya Cho berusaha menegur menantunya yang kembali menangis.
Mereka masih berada di ruang bayi, jadi tidak boleh berisik.

“Maaf, Bu. Aku hanya—Ibu tahu kan, rasanya sangat menyakitkan saat anak yang kita tunggu terlahir tapi tidak ada suami di sampingku.”

Nyonya Cho tentu paham apa yang dirasakan menantunya ini, “Ibu mengerti, nak. Sangat mengerti. Tapi kan di sini ada Ibu dan Ayah, kamu bisa berbagi dengan kami.”

Ah Young meraih tangan Nyonya Cho kemudian mengecupnya, menempelkannya di pipinya yang basah, “Terima kasih banyak Ibu masih mau bersamaku hingga saat ini.”

“Kamu ini bicara apa, tentu saja Ibu akan selalu bersama kalian. Ibu bahkan tidak sabar ingin menggendong cucuku yang tampan ini, begitu pula Ayah yang ingin mengajaknya pergi memancing dan bermain bola.”

Ah Young mengangguk meskipun masih menangis, “Kita kembali ke kamar ya? Kamu juga butuh istirahat. Kalau waktu minum ASI tiba, dia pasti akan dibawa suster ke ruanganmu.”

Dengan enggan Ah Young melepaskan tangan mungil yang menggenggam jari telunjuknya, “Ibu pergi dulu ya, sayang. Nanti kita ketemu lagi,” bisiknya parau.

Nyonya Cho mendorong pelan kursi roda Ah Young keluar ruang petawatan bayi, tatapan wanita itu masih mengarah ke arah putra mungilnya.

“Jangan khawatir Ah Young-ah, ia akan baik-baik saja. Dokter juga perawat akan membantu kita menjaganya,” ucap Nyonya Cho menenangkan menantunya yang enggan mengalihkan pandangannya.

“Ya, Ibu benar. Ia akan baik-baik saja.”

Tuan Cho yang memang menunggu di luar ruangan berjalan mendekat ke arah keduanya, berjalan bersisihan menuju kamar inap Ah Young di sayap kiri.

“Bagaimana cucu Ayah, apakah tampan dan gagah seperti Kakeknya?” Ah Young yang mendengar Tuan Cho bertanya penuh antusias tertawa pelan namun mengangguk penuh semangat.

“Tentu, Ayah. Ia sangat tampan, sama sepertimu juga Ayahnya,” Ah Young memelankan suaranya di akhir kalimat. Tuan Cho dan Nyonya Cho yang berjalan beriringan dengan mendorong kursi roda menantunya saling pandang lalu tersenyum tipis.

Kamu akan bahagia, nak. Percayalah. Ujar Tuan Cho dengan senyum mengembang di wajah senjanya.

======❄======

Tuan Cho mendorong pintu kamar rawat inap Ah Young begitu mereka sampai di depan kamar bernomor A-17-0 dan membuka pintunya lebih lebar.
Mata sipit Ah Young membulat begitu mengetahui kamar rawatnya berubah dari setengah jam lalu ia tinggalkan. Begitu banyak bunga anggrek dari berbagai warna serta spesies yang memenuhi ruangan persegi itu. Ia bahkan sampai menutup mulutnya melihat pria tampan nan tegap yang berdiri di dekat ranjang pesakitan.

Pria itu—Cho Kyuhyun—berdiri dengan kemeja biru langit yang dilipat hingga siku serta celana jeans hitam yang dikenakan pria itu begitu memukau Ah Young. Terlebih pria itu memegang buket bunga mawar merah yang bagian tengahnya ber-mawar putih.

“Kyu—” suaranya tercekat dan pandangannya mengabur. Dalam pikirannya berkecamuk berbagai pertanyaan, apakah Kyuhyun sudah mengingat sesuatu sehingga suaminya itu ada di sini?

“Kalian bicaralah, kami ke luar dulu,” Nyonya dan Tuan Cho meninggalkan anak dan menantunya berdua, memberi waktu untuk menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Ia percaya Kyuhyun bisa menghandlenya.

Air mata Ah Young luruh saat Kyuhyun berjalan menghampiri kemudian berlutut di hadapan wanita itu, mengulurkan buket bunga ke pangkuannya. Tangan kanan Kyuhyun menarik pelan jemari Ah Young yang membekap mulutnya sendiri, membawanya ke mulutnya kemudian mengecup buku-buku jemarinya, membuat Ah Young semakin tergugu.

“Aku minta maaf sudah membuatmu menangis akhir-akhir ini, kamu pasti menyesal menikah denganku,” Ah Young kontan menggeleng tegas mendengar kalimat yang diucapkan Kyuhyun.

“Tidak Kyu, aku justru sangat beruntung kamu mau menikahi wanita yatim piatu ini,” Ah Young menjawab dengan susah disela-sela tangisnya.

Jemari besar Kyuhyun mengusap air mata yang terus membasahi wajah istrinya, tatapannya begitu sendu, menyiratkan penyesalan yang begitu dalam.

“Maafkan aku, Youngie.”

Ah Young langsung menubruk Kyuhyun yang masih berlutut hingga membuat pria itu terjungkal ke belakang, keduanya terjatuh dengan Ah Young menindih tubuh besar Kyuhyun.

“Kamu ingat aku, Kyu? Sungguh?”

Kyuhyun memeluk erat tubuh Ah Young yang bergetar hebat, kepalanya mengangguk, “Ya. Meskipun belum semua ingatanku kembali, tapi aku ingat siapa istriku. Maaf aku sempat melupakanmu.”

Ah Young mengangguk, “Aku maafkanmu, terima kasih kamu kembali, Kyu. Terima kasih.”

Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Ah Young, mengusap punggungnya perlahan. Ia sangat bersyukur bisa kembali mengingat walaupun masih samar-samar. Setelah kejadian di depan ruang operasi akibat sakit kepala yang membuatnya pingsan, ia terbangun di ranjang UGD dan kilasan-kilasan memorinya bermunculan. Mulai dari pertemuan pertamanya dengan Ah Young yang dilanjut dengan pesta pernikahan mereka. Meski hanya sedikit dan buram, tapi Kyuhyun yakin jika wanita yang dinikahinya adalah Shin Ah Young, Ibu dari anaknya.

“Aku bersyukur kamu kembali, Kyu. Terima kasih.”

“Ya. Aku pulang, Ah Young-ah. Aku pulang karena hanya kamulah rumahku, terima kasih kamu mau bersabar menungguku kembali. Aku mencintaimu Shin Ah Young.”

Ah Young yang mendengar pengakuan Kyuhyun semakin mengeratkan pegangannya di leher Kyuhyun, hatinya begitu bahagia.

“Aku juga Kyu, sangat mencintaimu. Kumohon jangan meninggalkanku lagi, aku tidak akan sanggup kalau kamu pergi lagi. Aku tidak akan bisa membesarkan putra kita sendiri.

“Tidak akan pernah. Aku janji akan selalu bersamamu juga anak kita.”

“Kamu harus menepati janjimu.”

“Pasti. Jadi anak kita laki-laki?” tanya Kyuhyun sembari bangkit dari duduk di lantai dengan membawa Ah Young digendongannya, membaringkan wanita itu di ranjang namun Ah Young kembali beringsut kepelukannya. Kyuhyun terkekeh melihat kelakuan istrinya.

“Aku takut kamu hanya halusinasiku saja,” gumam Ah Young yang masih bisa di dengar Kyuhyun. Diusapnya punggung Ah Young yang menyandar di dada bidangnya, “Kamu tidak berhalusinasi, Sayang. Aku nyata. Aku memang belum bisa mengingat banyak tentang kita, tapi aku ingat bahwa Shin Ah Young, istriku. Aku tidak akan ke mana-mana. Aku pulang, Ah Young-ah,” jelas Kyuhyun tenang. Mencoba menyakinkan wanita yang mendekapnya erat bahwa ia tidak akan pergi lagi.
Ia menyesal sudah meninggalkan wanita manis ini, serta sikap kasarnya selama ia kehilangan memori tentang pernikahan mereka.

“Aku mengerti, tapi tolong biarkan aku memelukmu. Aku sangat merindukanmu, Kyu.”

Kyuhyun tentu luruh begitu saja mendengar suara yang penuh permohonan, ia tidak akan sanggup menolak tatapan sendu milik istrinya.

“Baiklah, aku akan terus memelukmu,” ucap Kyuhyun yang diakhiri dengan kecupan di kepala Ah Young yang menyandar padanya. Ia bisa merasakan bahwa wanita ini mulai tenang dan nafasnya mulai teratur.

“Terima kasih Kyuhyun Oppa.”

Kyuhyun tersenyum mendengar gumaman Ah Young. Rasanya lama sekali ia tidak mendengar panggilan itu dari bibir tipis istrinya ini. Dan rasanya begitu bahagia bisa mendekap Ah Young yang terlihat nyaman dalam dekapan hangatnya, bahkan kini wanita itu memejamkan mata, tertidur.

“Aku berjanji akan selalu bersamamu, Ah Young-ah. Kita akan membesarkan anak-anak kita, menua bersama. Aku akan selalu memohon pada Tuhan untuk memperpanjang umurku agar kita bisa selalu bersama-sama sampai akhir hanyat. Dan kalau aku yang pergi lebih dulu, aku akan setia menantimu di atas sana agar kita kembali melangkah bersama. Aku juga tidak akan bosan untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu. Bahkan kadar cintaku akan selalu bertambah setiap harinya. Terima kasih untuk cinta serta kesabaranmu menungguku pulang.
Nan hangsang dangsin-eul salanghabnida. hangsang, hangsang, nae yeoja.

♣☆♣☆♣ ENDING♣☆♣☆♣

ps: cerita ini juga aku posting di wattpad @bananamilkkk85
Jadi kalau teman-teman ada yang baca cerita ini di sana jangan mengatai aku memplagiat ataupun copy paste, karena aku sudah memberitahukannya.
Akhir kata aku ucapkan, TERIMA KASIH!!

See ya di ceritaku yang lainnya #semoga yang lain nyusul. Hehhehe
Bye-bye!

image

Bonus pict, foto weddingnya Kyumbul sama Ah Young. Cucok kan? 😁
Ngomong-ngomong, baru sadar ternyata banyak typo bertebaran. Ini udah aku edit, kalau masih ada typo, mohon maaf. Thank You! 😘

17 comments

  1. Liat postingan di twit lngsung keburu liat ni ff..
    Astaga.. Bner nyesek itu.. Dr awal yg ah yooung mndangin hujan… Sedihh…
    Trus pas di rs room nya ah young .. Pas kyu ngomong.. Klo dia sudah pulang..
    Hikss.. Bener2 mnetes jdnya air mtaku…
    Akhirnya kyu kembali lgi ke istrinya.. Apalagi skrg udah ada anaknya..
    Ohh iy.. Mmng td bacanya agak kaku bahasanya.. Mngkin krn udah lma ga nulis kali ya.. Hehehe..
    Ngapapa ko… Yg pnting aq bisa nangis dibuat nih ff..
    Fighting …. ☺

    1. Aduh makasih banget loh udah sempetin baca sampe komen juga. Mana sampe nangis gitu lagi, ga sampe gugulingan kan yah nangisnya? 😁
      Hehhe.. Iya, kaku bgt. Lama ga nulis ff sih
      Thanks ya 😉

  2. salam kenal aau reader baru disini
    suka ama ceritanya
    sedihnya hidup ah young syukurlah kyuhyun udah mulai mengingat sedikit akan keluarganya

  3. Aku kira kyuhyun selingkuh dan ninggalin Ah Young. Natasya bukan cewek baik2,manfaatin keadaan biar bisa sama kyuhyun ksl rasain ditinggalin sm kyuhyun sekarang. Untung Ah young sabar dan happy ending~^

  4. Critnya keren aku suka sdikit ngasih tau aja msih ad penggunaan kata yg tdk baku dan slebihnya udah bagus kokk hehehe maaf yah klo trsinggung 😄
    #very nice

  5. keren banget..feelnya juga oke…hahaha..jd ketagihan baca lagi lagi dan lagi..tp kalo ditunjukkan adegan yg pas kyu nyia nyiakan ahyoung pasti lebih okeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s