The Teen Bride Part 2

wpid-PicsArt_1390466334932.jpg

 

THE TEEN BRIDE PART 2

Author : bluerose8692

Title : The Teen Bride Part 2

Genre : Marriage life, Drama, Romance

Length : Series

Rate : PG17

Cast : Lee Donghae, Kim Yookyung, Others

****

Yoo Kyung melangkah ragu ke arah ranjang, ke sisi ranjang yang masih kosong. Wanita itu berhenti ketika tinggal satu langkah lagi. Yoo Kyung meremas baju yang dipakainya, t-shirt putih kebesaran milik Donghae. Wanita itu mengulurkan tangan kanannya tapi kemudian ia tarik kembali. Ragu. Ia ingin bicara dengan Donghae yang sudah berbaring menyamping sehingga ia tidak bisa melihat wajah pria itu.Read More

“Ada apa, Yoo?” Berbarengan dengan suara Donghae, pria itu meluruskan posisinya, menjadi berbaring telentang dan mata yang terbuka. Kemudian menolehkan kepalanya ke samping, memandang Yoo Kyung yang memakai kaosnya. Wanita itu terlihat lucu, baju itu kebesaran di tubuhnya yang kecil. Jika diukur tinggi badan wanita itu mungkin hanya sebatas bahunya saja, atau sekitar 160 cm, mungkin.

“Eum…” Gumam Yoo Kyung tidak jelas. Detak jantungnya mulai tak beraturan, berdetak dengan cepat dan itu membuatnya semakin gugup.

‘Ayolah, Yoo. Kenapa kau tiba-tiba jadi begini huh?’

Donghae masih menunggu, pria itu bangun dari berbaringnya menjadi duduk. “Kau tidak mau tidur denganku?” Tebak Donghae yang melihat keterdiaman istrinya. Yoo Kyung masih diam dan Donghae salah mengartikan kediaman Yoo Kyung. Pria itu menggersah kemudian membuka selimut yang tadinya menutupi separuh tubuhnya.

“Oke. Aku akan tidur di sofa kalau kau tidak bisa tidur denganku, tak apa.” Donghae memakai sandalnya dan mengambil satu bantal kemudian berjalan ke arah sofa yang dekat dengan pintu keluar.
Yoo Kyung menatap punggung pria itu nanar. Bukan. Bukan itu maksud ia diam. Ia hanya ingin berbicara dengan pria itu, tapi ia ragu untuk memulainya lebih dulu. Donghae telah salah menafsirkan kediamannya.

Kenapa ingin berbicara dengan pria itu bibirnya terasa sulit untuk mengeluarkan sepatah katapun? Ini tidak seperti biasanya. Karena biasanya ia akan berbicara dengan panjang lebar tanpa merasa ragu seperti ini, tapi ada apa dengannya hari ini? Kenapa terasa sulit sekali untuk mengajak pria itu bicara? Sejak ia bertemu dengan Siwon tadi siang, ia terus merenungkan perkataan Siwon tentang Donghae yang menyukainya sejak dulu.

Ia jadi teringat dengan kejadian saat itu. Kejadian saat kelulusan Junior High School. Donghae yang tiba-tiba menciumnya setelah pria itu menolak seorang gadis. Donghae mengatakannya dengan lantang di hadapan teman-teman sekolah yang saat itu berkumpul di aula.

‘Dengar semuanya. Aku, Lee Donghae telah mempunyai seorang kekasih, dan dia adalah gadis yang ada di sampingku ini.’

Setelah mengucapkan itu, Donghae menarik Yoo Kyung dan menciumnya tepat di bibir. Yang tentu saja membuat gadis remaja itu melebarkan mata bulatnya. Bahkan semua teman-temannya pun ikut terkejut. Setelah kejadian itu, ia begitu membenci pria yang bernama Lee Donghae. Tapi anehnya, ia selalu bisa satu sekolah dengan pria itu, bahkan selalu satu kelas dan juga kelompok. Sungguh membuat Yoo Kyung kesal. Terlebih sifat Donghae yang selalu mencari gara-gara dengannya, yang tentu saja menambah kadar kebenciannya terhadap pria itu.

Yoo Kyung kembali menatap Donghae yang sedang mengatur bantal di sofa, pria itu berjalan menuju ke arah lemari, sepertinya mencari sesuatu. Selimut. Tapi tidak ada.

Yoo Kyung masih berdiri di tempatnya semula, dekat ranjang. Ia hanya terus memperhatikan Donghae yang sedang menelpon room servis untuk meminta selimut lagi.
Matanya terus memperhatikan Donghae yang kini duduk di sofa panjang, yang akan merebahkan tubuhnya. Pria dengan postur tubuh itu sibuk sendiri dan mengacuhkan Yoo Kyung.

Yoo Kyung mencelos melihat Donghae tidur dengan posisi seperti itu, meringkuk di sofa tanpa selimut? Pasti tidak nyaman dan dingin. Apa ia setega itu pada Donghae? Suaminya. Sepertinya room servis tidak bisa mengantarkan selimut untuk Donghae ketika pria itu menelponnya tadi.

Yoo Kyung meremas ujung t-shirt yang dipakainya semakin erat. Menarik nafas panjang sebelum ia berjalan menghampiri Donghae. Ia terus melangkah mendekat ke arah Donghae. Tapi, ia merasa begitu lama. Padahal jarak antara ranjang dan sofa tidak begitu jauh, paling hanya 2 meter. Tapi kenapa lama sekali? Apa ia berjalan seperti siput?

“Donghae-ya.” Yoo Kyung memanggil Donghae. Pria itu membuka matanya malas.

“Apa?”

“Ti–tidurlah di ranjang. Kalau kau tidur di sini badanmu besok pagi bisa pegal-pegal.” Yoo Kyung bicara tanpa berani menatap Donghae. Pria itu menaikan sebelah alisnya, ia tidak salah dengar? Yoo Kyung memintanya untuk tidur di ranjang? Bukankah wanitanya ini tidak mau tidur satu ranjang dengannya, ada apa ini?

“Kenapa?”

Yoo Kyung mendongak, “Ye?”

“Kenapa kau memintaku tidur di ranjang? Bukankah kau tidak mau tidur denganku?”

Yoo Kyung kembali menundukan kepalanya, menggigit bibir bawahnya. Ia bingung dengan perasaannya saat ini. Donghae mendesah keras. “Kau saja yang tidur di ranjang. Aku di sini. Dan aku juga tidak mau mengambil resiko dengan tidur di ranjang, bila keesokan paginya kau menuduhku berbuat macam-macam padamu. Tidak. Aku tidak mau.” Ujar Donghae datar. Ia ingat kejadian malam kemarin ketika ia tidur di ranjang, wanitanya ini menuduhnya berbuat yang macam-macam, mengambil kesempatan dalam kesempitan karena pagi harinya Yoo Kyung mendapati ia tidur dengan memakai baju Donghae. Padahal wanita itu sendiri yang merengek agar meminjamkannya t-shirt agar nyaman ketika tidur.

Yoo Kyung merasakan sesak di dadanya, ia bisa merasakan kekecewaan Donghae dari nada suaranya. Wanita itu meremas kedua jemarinya yang sedari tadi tertaut. Ia menggeleng. Tidak. Ia kali ini tidak berpikir seperti itu, ia ingin menunjukkan bahwa ia ingin menjadi istri yang baik. Tapi, kenapa susah sekali untuk mendapatkan kepercayaan dari Donghae bahwa ucapannya tadi itu tulus.

“Mianhae…” Lirih Yoo Kyung. Donghae menatap Yoo Kyung, ia seperti mendengar wanita itu menggumamkan kata, tapi ia merasa ragu karena suara itu begitu lirih.

“Kau bicara sesuatu, Yoo?” Ucap Donghae memastikan. Yoo Kyung semakin menunduk dan Donghae melihat bahu wanita itu bergetar pelan. Menangiskah?

“Mi–mian–hae, jeongmal mianhae.” Isakan kecil keluar dari bibir Yoo Kyung. Donghae terkejut. Pria itu lantas berdiri dan menghampiri Yoo Kyung yang semakin bergetar, menahan tangisnya agar tidak pecah.

“Yoo?” Panggil Donghae panik dengan mengguncangkan bahu istrinya. Yoo Kyung tidak menjawab. Cengeng. Ya, Yoo Kyung memang pribadi yang begitu cengeng. Wanita itu begitu sensitif dengan hal-hal yang membuatnya merasa tidak dipercayai oleh orang lain, menonton drama dengan ganre sad saja ia bisa menangis, seperti ia sendiri yang menjadi tokoh itu.

“Mianhae.. Donghae. Mian–” Donghae memeluk Yoo Kyung, mengusap punggung gadis itu lembut. “Jangan katakan apa-apa lagi, jangan katakan maaf kalau kau tidak bersalah.” Bisik Donghae halus di telinga Yoo Kyung. Donghae merasa bahunya basah, Yoo Kyung benar menangis dan ia tidak tahu ada apa dengan wanitanya ini.

Yoo Kyung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Donghae, membalas pelukan hangat suaminya, mencium aroma lembut pria itu. Aneh. Kenapa ia bisa merasa senyaman ini dalam dekapan Donghae?

“Mianhae, aku membuatmu kecewa padaku. Kau pasti marah padaku.” Yoo Kyung berbicara masih dengan memeluk pria itu. Donghae merenggangkan pelukannya tapi Yoo Kyung mengeratkannya, tidak ingin Donghae melihatnya menangis. Donghae menurut, kembali memeluk Yoo Kyung, menghirup aroma sampo yang menguar dari rambut wanitanya, aroma mawar. Lembut dan harum.

Donghae sedikit bergidik geli ketika merasakan deru nafas Yoo Kyung yang menerpa dadanya, seperti ada yang menggelitik indera perabanya. Membuat ia harus menahan mati-matian dirinya yang mulai meradang. Ia tidak tahu ia bisa bertahan berapa lama dalam posisi seperti ini, memeluk Yoo Kyung. Belum lagi istrinya ini mengeratkan pelukannya, membuat hatinya terasa bahagia mendapati respon Yoo Kyung yang seperti ini.

“Aku tadi siang bertemu seseorang,” Yoo Kyung memulai ceritanya. Donghae teringat pria yang duduk bersama Yoo Kyung tadi siang di taman. “Nugu?”

“Choi Siwon,” Donghae diam, mendengarkan. Dalam hati ia merasa lega karena pria itu adalah Siwon, teman istrinya dulu yang juga teman sekolahnya, yah.. meskipun selalu ia bully bersama teman-temannya. Tapi ia tahu, bahwa Siwon tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Yoo Kyung, saat dulu. Kalau sekarang ia tidak tahu.

“Lalu?”

“Siwon bercerita banyak selama kehidupannya di sini dan ia banyak berubah. Siwon yang sekarang begitu tampan,” Donghae mendecak. “Benarkah?” Yoo Kyung dapat menangkap nada cemburu dalam kalimat suaminya itu. Ia tersenyum samar.

Donghae cemburu?
Entah kenapa ia justru senang dengan fakta bahwa Donghae mencemburuinya.

“Nde, kami bercerita banyak. Rasanya aku ingin kembali ke masa lalu, ke masa dimana aku bisa belajar bersama dengannya lagi seperti dulu.” Donghae menghentikan mengusap rambut panjang Yoo Kyung.

“Dan kau membenciku, begitu?” Donghae melepas pelukan itu paksa, menatap Yoo Kyung dengan tatapan terluka. Ia ingat dulu bahwa istrinya amat membencinya karena kejadian kelulusan mereka saat itu, menciumnya di hadapan umum. Bahkan ia mendapat tamparan yang cukup keras atas tindakan gilanya itu, yang masih membekas di hatinya sampai sekarang. Yoo Kyung dapat melihat betapa terlukanya perasaan Donghae dari tatapan matanya. Seterluka itukah Donghae karena sikapnya selama ini?

Donghae membalikan tubuhnya, membelakangi Yoo Kyung. Ia menarik nafas dalam, mencoba menghilangkan rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya.
“Tidurlah, ini sudah malam.” Donghae mengucapkannya lirih kemudian berjalan kembali menuju sofa.

“Bukan begitu, Donghae-ya. Aku–”

“Tidak apa-apa, aku cukup mengerti. Tidurlah. Besok kita jalan-jalan dan aku janji tidak akan meninggalkan atau mengacuhkanmu.” Donghae berbaring membelakangi Yoo Kyung.

Gadis itu kesal. Sangat. Kenapa Donghae begitu keras kepala? Sama seperti dirinya. Ia hanya ingin Donghae mendengarkan kalimatnya hingga selesai, tapi apa… Pria itu malah memotong ucapannya.

“Geurae… Aku hanya ingin mengatakan, aku minta maaf untuk semua kesalahanku dulu dan kemarin. Aku sadar, aku kekanakan, egois dan cengeng.” Yoo Kyung mengucapkannya dengan keras. “Aku hanya ingin kita bisa berbaikan. Memulai semuanya dari awal. Aku ingin belajar menjadi istri yang baik dan menerimamu. Siwon sudah menyadarkanku bahwa aku telah menyia-nyiakan seseorang yang mau menerimaku apa adanya. Aku akan mencoba belajar membuka hatiku untukmu, mencoba mencintaimu. Tapi, sepertinya kau sudah begitu terluka dengan segala sifat dan kelakuanku selama ini. Mianhamnida.” Yoo Kyung mengusap kasar air mata yang menetes. Sesak. Rasanya begitu sakit menerima penolakan Donghae meskipun pria itu tidak mengucapkannya langsung.

Yoo Kyung berjalan dengan lemas ke arah ranjang. Pikirannya begitu kacau, kepalanya terasa pening. Ia sudah mengatakannya, sedikit melegakan meskipun ia tidak tahu bagaimana reaksi Donghae setelah mendengar penuturannya barusan. Tidak apa, yang penting ia sudah bicara, hiburnya pada diri sendiri.

“Eh?”

Yoo Kyung menyentuh pelipis. Kenapa ranjangnya terlihat menjadi 2 ?

Donghae yang sedari tadi diam dengan terus memperhatikan Yoo Kyung yang berjalan ke arah ranjang tersentak kaget begitu melihat Yoo Kyung terhuyung-huyung. Pria itu langsung berlari ke arah Yoo Kyung yang akan jatuh ke lantai.

“Yoo!!!”

Donghae dengan sigap menahan tubuh istrinya yang limbung. Pingsan. Donghae segera menggendong Yoo Kyung dan merebahkannya di ranjang. Menyelimuti wanita itu dan meraba keningnya. Tidak panas. Pria itu bingung dan panik. Maka ia putuskan menelpon pihak hotel untuk meminta bantuan, setidaknya obat atau panggilkan Dokter untuk memeriksa istrinya.

***

Mata bulat dengan bulu mata yang lentik itu perlahan bergerak perlahan hingga terbuka sepenuhnya. Yoo Kyung meneliti sekelilingnya. Kamar ini remang karena pencahayaan yang minim.
Wanita itu menoleh ke samping karena merasakan helaan nafas yang begitu hangat. Donghae. Pria itu tertidur dengan pulas dan memeluknya. Nyaman.

Berada dalam jarak yang begitu dekat dengan Donghae membuat Yoo Kyung tersipu meskipun pria itu tidak sedang melihatnya. Apa ia sedang bermimpi sekarang? Seingatnya, ia tadi belum sampai ranjang dan tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Tapi kini, ia ada di ranjang dengan Donghae yang memeluknya. Merasakan dekapan hangat suaminya, berbagi selimut dengan pria ini. Apa ini itu halusinasi?

Tadi kan mereka bertengkar kecil. Tapi kenapa sekarang mereka tidur dalam satu ranjang yang sama?

Donghae bergerak pelan, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi saja dari sebelumnya. Wanita itu menahan nafas ketika lengan Donghae yang memeluk tubuhnya semakin menariknya mendekat. Nafas Donghae yang hangat menerpa wajah Yoo Kyung.

“Kau tidak tidur hum?” Donghae bertanya dengan suara serak, khas orang bangun tidur. Yoo Kyung sedikit mendongakan wajahnya. “M–mwo?”

Mata dengan iris hitam kelam itu terbuka, menatap mata bulat jernih sang istri. “Tidurlah, ini masih malam, masih ada beberapa jam lagi.”

Yoo Kyung mengerjap lamban. Donghae mengucapkan kalimat itu begitu lembut. “Mrs. Lee, aku menyuruhmu tidur, bukan menatapku.”

Seketika Yoo Kyung menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tersipu di dada bidang prianya. Donghae terkekeh, Yoo Kyung bisa tahu karena pria itu sedikit bergetar.

“Jangan tertawa.” Yoo Kyung memukul kecil dada Donghae dengan tangannya.

“Wae? Kau itu lucu sekali.”

“Aku tidak lucu, Donghae-ya.” Rajuk Yoo Kyung kesal.

“Donghae? Bukan ‘yeobo’? Seingatku, tadi kau memanggilku dengan sebutan ‘yeobo’.”

“Eonje?”

“Tadi, sebelum kau pingsan.”

Deg!

Jadi tadi itu sungguhan? Bukan mimpi?

“Kenapa, Yoo?”

“Mianhae…” Lirih Yoo Kyung pelan dengan memainkan t-shirt yang dipakai Donghae. Pria itu menarik tangan Yoo Kyung yang sedang memainkan bajunya. Menggenggamnya erat.

“Jangan katakan maaf lagi, tidak ada yang perlu di maafkan,” lirih pria itu bijak. Ia sadar, ia juga tidak seharusnya bersikap seperti tadi. Membuat wanitanya menangis.

“Kau– tidak marah?” Ucap Yoo Kyung takut-takut. Donghae semakin memeluk wanita itu, “Anni.”

“Dan– ayo, kita coba semuanya dari awal. Kau mau?” Donghae menatap Yoo Kyung dalam dan sungguh-sungguh. Yoo Kyung tersenyum dan mengangguk.

“Hm!”

“Kalau begitu, panggil aku ‘Oppa’, kau mau?”

“Oppa.” Ucap Yoo Kyung menuruti permintaan Donghae. Ia tersenyum lembut ketika Donghae pun tersenyum.

Donghae menatap Yoo Kyung lama. Menatap wajah Yoo Kyung yang hanya diterangi oleh lampu duduk disisi ranjang.
Cukup lama hingga Donghae mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan dan penyatuan itu terjadi. Yoo Kyung memejamkan matanya, menerima dengan baik setiap kecupan lembut Donghae. Lumatan-lumatan yang diberikan Donghae membuat wanita itu merasakan sesuatu yang mendesak dalam dirinya, membangkitkan sesuatu yang bergejolak lain dalam diri keduanya dan menginginkan lebih. Donghae menatap Yoo Kyung sayu, ia ingin memiliki wanita ini seutuhnya. Ingin merasakan dirinya memenuhi wanita ini. Ia menginginkannya sekarang. Tapi, apa Yoo Kyung pun merasakannya? Perasaan yang sama seperti yang ia rasakan sekarang?

“Oppa… Aku menginginkanmu.” Bisik Yoo Kyung yang masih bisa di dengar Donghae. Seketika pria itu mengerjap cepat, apa ia tidak salah dengar? Tidak kan? Wanita ini menginginkannya sekarang, itu berarti sama dengannya.

“Kau yakin?” Donghae mencoba memastikan. Yoo Kyung tersenyum dan mengecup bibir Donghae sekilas sebagai jawaban. Pria itu tersenyum, ia sudah tidak membutuhkan jawaban lagi. Wanitanya ini sudah memberikan jawaban yang pasti. Tentu saja ia tidak akan menolak, malah dengan senang hati menyambutnya. Keduanya saling berpandangan dalam jarak dekat, saling melempar senyum. Ini akan menjadi sebuah awal perjalanan kisah mereka, yang tentu saja ini akan menjadi malam yang panjang di musim gugur tahun ini. Malam yang tidak akan mereka lupakan.

***

Pagi datang begitu cepat bagi Donghae, seingatnya, ini masih dini hari ketika mereka memutuskan untuk menyudahi semuanya. Tapi kini matahari bahkan sudah membumbung tinggi di cakrawala. Pria itu mengerang kemudian mengerjap perlahan, mencoba menetralisir cahaya yang masuk ke indera penglihatannya, setelahnya menoleh ke arah jam dinding, pukul 10.10 pagi. Lalu ia kembali menoleh ke sampingnya, seorang wanita yang menemani malam panjangnya semalam. Ia tersenyum ketika teringat apa yang mereka lakukan semalam. Wanita ini telah menjadi miliknya dan ia akan pastikan bahwa tidak ada satupun yang boleh merebutnya dari sisinya. Siapapun itu.

Jemari tangannya bergerak lembut menelusuri lekuk wajah Yoo Kyung yang masih terpejam. Rambut hitam panjangnya sedikit menutupi wajah Yoo Kyung. Tiba-tiba ia teringat ketika wanitanya semalam memekik kesakitan saat ia mencoba membuat mereka bersatu.

Ini aneh.

Bukankah kalau untuk kedua kalinya tidak akan sakit? Ya, meskipun sakit tapi tidak akan sesakit seperti pertama kali melakukannya kan? Bahkan Yoo Kyung sampai meneteskan air matanya. Meskipun ia tidak merasakan sakit itu, ia bisa melihat itu dari wajahnya.

Apa ini yang pertama kali bagi mereka? Lalu, bagaimana dengan kejadian di apartemennya waktu itu, setelah malam kelulusan mereka?

Lamunan Donghae buyar ketika merasakan wanita dalam dekapannya bergerak halus. Merasakan kulit mereka kembali bersentuhan membuat Donghae menahan keinginannya untuk membuat wanita itu kembali meneriakkan namanya seperti semalam. Tidak. Ia masih waras. Lagi pula, ini sudah cukup siang untuk melanjutkan kegiatan mereka seperti semalam dan tentu saja ia tidak ingin membuat istrinya ini tidak bisa berjalan hari ini.
Ia tidak mau itu. Cukup semalam mereka bermain, masih ada lain waktu. Toh, mereka sudah sepakat untuk memulai semuanya dari awal.

“Eughh…” Lenguhan kecil keluar dari bibir Yoo Kyung dan mata wanita itu perlahan terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Donghae yang sedang menatapnya dengan senyum manis di pagi hari.

Wajah Donghae terlihat begitu bersinar dalam penglihatan Yoo Kyung. Rambut yang masih acak-acakan dan senyuman lembutnya, sungguh terlihat lebih tampan. Yoo Kyung tidak munafik, ia akui itu. Bahwa Donghae begitu tampan.

Hei, apa ini salah satu efek dari kegiatan mereka semalam huh? Kenapa ia baru sadar bahwa Donghae tampan?

Donghae yang melihat Yoo Kyung hanya diam dengan menatapnya mulai tersenyum miring, ia memajukan wajahnya hingga ia bisa merasakan bibir manis itu lagi. Yoo Kyung hanya diam, tidak membalas ataupun menolak.

Tapi seakan baru tersadar dari kediamannya, wanita itu mendorong dada Donghae, membuat pria itu kontan tertawa saat itu juga.

“Oppa!!!”

“Hahaha.. Waeyo? Kau baru sadar, hm? Atau karena aku terlalu tampan sehingga kau tidak sadar aku menciummu?”

Kalimat Donghae membuat wanita itu dengan cepat menyembunyikan wajah tersipunya, menutupinya dengan selimut yang mereka gunakan. “Jangan menggodaku!!”

Donghae masih saja tertawa, tidak memperdulikan Yoo Kyung yang merajuk. Tawa itu kemudian berganti dengan suara aduhan. Yoo Kyung mencubit pinggangnya di dalam sana.

“Aw.. Aw.. Yoo! Hentikan. Appha.”

“Berhenti menertawakanku, Oppa!”

“Nde~ aku sudah tidak tertawa bukan? Gumahae.” Pinta Donghae dengan memohon dan wajah yang di melas-melaskan. Mencoba ber-aegyo. Yoo Kyung mendesis melihat wajah Donghae seperti itu.

“Hentikan aegyo-mu itu, Oppa. Kau tidak pantas berwajah seperti itu! Yang lebih pantas dan cocok itu Cho Yuen dan Lee Sungmin.” Tukas Yoo Kyung tajam.

Donghae mendelik tidak terima. “Aish.. Kau ingin aku buat seharian ini tidak bisa berjalan huh?” Ancamnya dengan mimik menyeringai. Yoo Kyung bergidik ngeri melihatnya.
Apa Donghae sudah gila? Membuatnya tidak bisa berjalan? Ini saja masih sakit apa lagi di tambah?

Yoo Kyung menyentil kening suaminya gemas, “Cuci pikiranmu itu, Oppa. Kotor sekali pikiranmu itu huh? Kau gila, ingin membuatku tidak bisa berjalan? Maldo andwae!!” Yoo Kyung segera bangun dari berbaringnya, mengais selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Menggelung rambut panjangnya sehingga memperlihatkan leher belakangnya yang hampir penuh dengan tanda kepemilikan yang dilakukan Donghae semalam.

Pria itu tersenyum kikuk begitu melihat Yoo Kyung yang masih memunggunginya, memunguti pakaian mereka yang terserak begitu saja di lantai. Jangan tanya itu ulah siapa, tentu sudah dapat dipastikan bahwa hanya Donghae yang melakukan itu semua. Membuangnya asal. Bahkan, bantal guling pun ikut terserak di lantai.

“YA!! Oppa!” Seruan yang cukup keras membuat Donghae mengerjap dan mengusap kedua telinganya yang berdengung. Menatap polos ke arah Yoo Kyung yang sudah memakai t-shirt miliknya. Wanita itu menyilakangkan tangan depan dada.

“Kau mau di situ sampai kapan? Cepatlah mandi!”

Donghae mengangguk patuh dan beranjak bangun. Pria itu sudah mengenakan celana pendeknya yang semalam, jadi wanita itu tidak perlu berteriak-teriak lagi.

“Yoo..”

Gerakan tangan Yoo Kyung terhenti ketika ia sedang membereskan selimut. “Hm.” Wanita itu berbalik dan menatap Donghae dengan bertanya-tanya. “Mwoya?”

“Aku punya usul,” Donghae tersenyum semanis mungkin. Yoo Kyung menyerngit heran. Tapi kemudian ia paham akan senyum suaminya itu.

“Bagai–”

“STOP!” Yoo Kyung mengacungkan tangannya ke depan. Memotong kalimat suaminya. Wanita itu menghela nafas, “Kalau Oppa bicara untuk kita mandi bersama, aku menolak.” Lanjut wanita itu yang langsung membuat Donghae cemberut.

“Wae?”

“Tentu saja aku tahu apa yang ada di kepalamu saat ini! Itu pasti lama. Dan aku tidak mau membuat tubuhku remuk dalam satu hari, ck!!” Tandas Yoo Kyung tegas.

Donghae merengut sebal. Bagaimana Yoo Kyung tahu apa yang ingin di katakannya? Apa istrinya cenayang?

“Oppa!!” Yoo Kyung menghentakan kakinya sebal karena Donghae hanya berdiri diam di hadapannya. Pria itu mendengus kemudian berbalik, berjalan menuju kamar mandi.

“Aku mau sarapan di luar.” Ucap Donghae tanpa menatap Yoo Kyung yang kembali melanjutkan bebenahnya.

“Arra, arra.”

***

Pagi hari yang seharusnya diawali dengan ketenangan juga damai, tidak berlaku bagi pasangan pengantin baru yang suah kembali dari acara bulan madu mereka minggu lalu. Pagi hari ini mereka kembali ribut, hanya masalah kecil dan sepertinya itu akan terus berlangsung hingga ke depannya.

“Yoo!! Di mana kau letakkan kaos kakiku?!” Seru seorang pria dari arah kamar.

“Di laci paling bawah!” Balas seorang wanita dari dapur, yang sedang sibuk beradu dengan spatula dan wajan. Memasak menu sarapan untuk suaminya.

“Tidak ada! Coba kau kemari, bantu aku carikan.”

Yoo Kyung mendengus, mematikan kompor dan bergegas menemui Donghae. “Awas saja kalau ketemu, akan aku buat kau jadi ikan rica-rica!” Geramnya dengan meremas kedua tangannya gemas. Setiap pagi selalu seperti ini, Donghae akan gaduh bila akan berangkat ke universitas.

Begitu sampai di kamar, gadis itu segera menghampiri Donghae yang sedang mengobrak-abrik isi lemari hingga tumpukan baju-baju berhamburan. Yoo Kyung menutup mata rapat dan menarik nafas dalam melihat kelakuan suaminya ini. Baju yang sudah tertata rapi harus ia susun kembali nanti, karena sekarang sudah tidak ada waktu lagi. Mereka harus bergegas berangkat ke universitas.

“OPPA!! Apa yang kau lakukan huh?! Kau–” Yoo Kyung menggeser bahu suaminya kasar.

“Minggir, aku saja.” Sungutnya kesal. Donghae mendesis mendengar kalimat tajam istrinya. Ia tahu, Yoo Kyung kesal padanya. Tapi, salah siapa menaruh kaos kaki di tempat yang tidak terlihat? Jadi inilah akibatnya, mengaduk-aduk semua isi lemari.

Yoo Kyung berbalik dan menatap Donghae masih dengan tatapan geram. Wanita itu mengacungkan kaos kaki berwarna putih ke hadapan Donghae kasar.

“Kau bilang tidak ada? Lalu, ini apa huh? Aku bilang di laci paling bawah. Kenapa kau acak-acak tumpukan baju-baju kita!” Ujar Yoo Kyung dengan tertahan. Donghae meringis polos.

“Mian…”

Yoo Kyung memalingkan wajah dan berlalu. “Ya~ kau mau ke mana, yeobo-ya?” Seru Donghae yang melihat Yoo Kyung hendak ke luar kamar. Yoo Kyung berhenti tanpa menoleh, “Melanjutkan acara memasakku yang tertunda karenamu.” Sahut wanita itu malas kemudian menghilang di balik pintu. Donghae melemaskan bahunya. Marah, lagi.

“Aish.. Yoo, apa tidak ada menu lain selain ini huh?” Keluh Donghae begitu ia mendudukkan dirinya di kursi meja makan, menatap menu sarapan dengan malas, nasi goreng seafood. Meskipun ia suka dengan nasi goreng seafood, tapi kalau setiap pagi makan itu pasti bosan kan?

Yoo Kyung tidak menjawab, wanita ini sibuk dengan acara mencuci piring.

“Yoo!”

“Kalau Oppa tidak mau memakannya ya sudah, tidak perlu di makan. Buang saja. Karena aku tidak memakannya.” Sahut Yoo Kyung datar tanpa menatap Donghae.

“Bukankah Oppa tahu, aku tidak pernah memasak? Hanya itu yang bisa aku masak saat ini. Itupun karena Eommonim yang mengajariku. Maaf, aku belum bisa menjadi istri yang sesuai untukmu.”

Deg!

Donghae menatap kepergian Yoo Kyung dengan sayu. Ia telah menyinggung perasaan wanitanya. Donghae tahu, bahwa Yoo Kyung memang tidak bisa memasak. Ia juga tahu bahwa Yoo Kyung alergi dengan seafood, maka itu, wanitanya ini menyuruhnya untuk membuangnya saja jika ia tidak mau memakannya.
Seharusnya ia tidak mengeluh begini, seharusnya ia bisa memahaminya.
Seharusnya ia bisa menerima Yoo Kyung apa adanya. Tapi, kenapa malah ia terus-menerus mengeluh? Pikiran Donghae dipenuhi dengan sesal dan kata ‘seharusnya’. Donghae memakan nasi itu dengan malas, tidak berselera. Pikirannya menerawang…

Saat itu Yoo Kyung bahkan langsung setuju ketika ia mengusulkan untuk tinggal berdua di apartemen, tidak mengeluh meskipun di sini tidak ada pembantu yang mengurus rumah. Wanita itu melakukan semuanya sendiri, sesuai keinginannya, mengurusi kebutuhan suami dan rumah tangga. Bahkan, Yoo Kyung hanya mengambil kuliah di siang hari hingga sore, itupun hanya seminggu 3x. Karena Yoo Kyung tidak ingin di protes Donghae bila melalaikan tugasnya sebagai istri.
Bukankah, seharusnya itu cukup? Yoo Kyung memperlihatkan bahwa ia ingin menjadi istri yang baik bagi Donghae, tapi kenapa Donghae justru mengeluh?

Donghae segera berdiri dan menyusul Yoo Kyung ke kamar mereka. Ia yakin, wanitanya itu saat ini menangis. Ya ampun! Donghae melupakan sifat istrinya yang ini. Cengeng.

“Yoo?” Donghae membuka pintu kamar dan meneliti isi kamarnya. Kosong. Lalu, di mana istrinya?

“Yoo, kau di dalam?” Donghae mengetuk pintu kamar mandi karena mendengar suara gemericik air shower yang menyala.

“Nde, wae?”

“Kau sedang mandi?”

Pertanyaan bodoh! Tentu saja istrinya itu sedang mandi, kenapa masih dipertanyakan lagi?

“Ya.”

“Kau marah?” Donghae bersandar ke dinding kamar, berdiri dekat pintu kamar mandi. Ia takut istrinya ini marah. Kalau marah kan gawat, Yoo Kyung tidak mau tidur satu ranjang dengannya. Donghae tidak mau itu. Tidur tanpa Yoo Kyung yang dipeluknya, melainkan bantal guling? Andwae!!

“Anniya. Kenapa harus marah?”

“Sungguh?”

“Iya! Oppa, sebaiknya kau cepat selesaikan sarapanmu sekarang, aku tidak ingin terlambat masuk di masa orientasiku!” Seru Yoo Kyung sedikit kesal. Di saat ia harus cepat-cepat kenapa Donghae masih mengajaknya mengobrol?
Hari ini adalah hari pertamanya masuk universitas di Anyang. Tentu saja sama dengan Donghae, hanya saja ia ada di bidang Desain dan Donghae di Kedokteran. Masa orientasi mereka berbeda, Donghae sudah melakukannya minggu lalu.

“Nde. Arra!” Donghae mengalah, pergi menuju meja makan untuk melanjutkan sarapannya yang tertunda.

***

Yoo Kyung menghempaskan tubuhnya ke sofa, ia lelah. Donghae yang melihat istrinya sedang menutup mata berjalan menghampirinya. “Lelah hum?” Bisik Donghae dengan membelai lembut pipi Yoo Kyung.

Wanita itu membuka matanya kemudian mengangguk. “Subaenim keterlaluan! Rasanya ingin aku cincang mereka, apalagi si jutek itu. Ingin rasanya aku buat ia jadi daging panggang. Menyebalkan!” Keluh Yoo Kyung dengan sengit ketika mengingat kekejaman subaenya yang bernama Park Seojong, anak dewan universitas. Gadis itu menyuruhnya melakukan hal-hal di luar nalar, seperti; Yoo Kyung harus memanjat pohon yang ada di tengah taman universitas hanya untuk mengambil bendera.

Bayangkan, seorang gadis memanjat pohon? Apa itu pantas? Padahal, masih ada siswa pria disana, tapi kenapa harus Yoo Kyung yang seorang wanita?
Belum lagi ia harus berlutut di kaki gadis itu, seperti menyembah seorang putri raja. Menjengkelkan! Untung saja itu sudah berakhir, sedikit melegakan meskipun ia yakin gadis itu masih akan mengerjainya lagi.
Gadis itu hanya belum tahu siapa Yoo Kyung yang sebenarnya, pasti gadis bernama Park Seojong akan menyesal karena telah berbuat seperti itu bila tahu ia berhadapan dengan siapa.

Donghae menarik Yoo Kyung ke dekatnya, menyandarkan kepala wanita itu di bahunya. Yoo Kyung menurut, kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Donghae. Tidak bertemu sehari dengan pria ini, kenapa ia merasa begitu rindu?

Donghae pulang lebih awal dari Yoo Kyung sehingga mereka tidak pulang bersama. Selain itu, letak gedung mereka juga berbeda, berseberangan. Kedokteran di Timur dan Desain di Barat, terpisahkan dengan taman dan halaman universitas yang luas.

“Arraso. Kau pasti kesal dan marah, aku paham. Karena akupun juga begitu, kau masih mending hanya begitu. Kau tahu apa yang dilakukan di departemen Kedokteran? Membedah katak, Yoo.” Cerita Donghae, mengingat hari kedua ia di orientasi. “Dan tidak boleh salah,” lanjutnya.

Yoo Kyung menatap Donghae ngeri, wanita ini tidak tegaan. Katanya, hal seperti itu tidak manusiawi. Tapi, hal seperti itulah yang bisa menyelamatkan nyawa manusia. Operasi.

Donghae memajukan wajahnya, mengecup ujung hidung Yoo Kyung kemudian kembali memandang wanita itu. Tersenyum lembut.

“Itu resiko yang harus kau lalui, dan ini baru awal permulaan.” Yoo Kyung hanya mengangguk kecil.

“Oppa sudah makan?” Yoo Kyung baru ingat bahwa ini sudah malam, hampir jam 7.

“Sudah, kau?”

Yoo Kyung tersenyum, “Belum…”

Donghae menyentil keningnya, Yoo Kyung mengelus keningnya yang sedikit memerah.
Sakit? Tentu saja sakit. Suami yang kasar, sungut Yoo Kyung dalam hati.

“Kau cepat mandi, aku buatkan sesuatu untukmu. Tidak ada protes!” Tambah Donghae ketika melihat Yoo Kyung akan membuka mulutnya. Wanita itu mengerucutkan bibirnya, mencibir Donghae.

“Arraso.” Sahutnya malas dengan beranjak bangun dari sofa karena tarikan tangan Donghae di lengannya.

Setelah memastikan Yoo Kyung masuk kamar, Donghae berjalan menuju dapur dan mulai mengeluarkan bahan masakan dari lemari pendingin. Memasak sesuatu untuk istrinya.

Kelihatannya ia suami yang begitu perhatian kan?

***

Awal musim dingin menjadi awal kemarahan Yoo Kyung terhadap sunbaenya, Park Seojong. Benar dugaannya, bahwa Seojong akan terus menindasnya. Kalian tahu apa alasan gadis itu seperti itu? Membuat Yoo Kyung kesal? Itu karena Seojong menyukai Kim Jaejong, sunbaenya di universitas. Jaejong begitu dekat dengan Yoo Kyung sehingga mengira mereka berpacaran. Tapi, apa kalian tahu, bahwa mereka sebenarnya adalah sepupu. Ibu Jaejong adalah kakak dari Appa Yoo Kyung.

Sepertinya semua orang salah mengartikan kedekatan mereka berdua, mereka yang tidak tahu silsilah keluarga Kim pasti akan mengira bahwa Yoo Kyung dan Jaejong adalah sepasang kekasih.

Dan beginilah reaksi Donghae ketika mendengarkan cerita dari istrinya ini. Tertawa dengan kerasnya tanpa henti, bahkan pria itu hingga berguling-guling di ranjang dengan memegangi perutnya.

“Oppa!! Ya! Ya! Terus saja tertawa.” Yoo Kyung memandang sebal Donghae yang masih tertawa. Wanita itu duduk bersila dengan tangan menyilang depan dada, pipi di kembungkan, membuat tawa Donghae semakin menjadi.

Yoo Kyung yang kesal menarik rambut Donghae yang di kuncir menggunakan pita warna pink dengan keras. Itu adalah ulah Yoo Kyung tadi ketika ia memulai ceritanya. Donghae yang berbaring dipangkuannya, dan iseng-iseng ia membuat kuncir rambut suaminya yang sedikit panjang.

Donghae meringis ketika merasakan rambutnya tertarik. Tangannya otomatis memegangi kunciran rambut yang sedang di tarik Yoo Kyung.

“Yoo, ini sakit.”

“Berhenti tertawa, Oppa!”

“Aku sudah berhenti, lepaskan tanganmu.”

Yoo Kyung melepaskan tangannya, Donghae mengelus kepalanya yang terasa sakit. “Kau ingin suami tampanmu ini tidak punya rambut huh? Aigo, sakit sekali.” Donghae masih mengelus kepalanya yang terasa berdenyut nyeri, Yoo Kyung yang tadinya kesal kini terlihat bersalah. Ia lepas kendali.

“Mianhamnida, Oppa.” Lirih wanita ini dengan memajukan wajahnya, berniat menyentuh kepala Donghae tapi pria pria ini justru menerjang Yoo Kyung hingga wanita itu berada di bawah tubuh kekarnya.

Yoo Kyung mengerjap kaget, “Oppa!!”

Donghae tertawa, “Wae?” Jemarinya menyentuh pelipis Yoo Kyung dan merambat turun ke dagu, menyusuri lekuk wajah istrinya. Yoo Kyung menelan air liurnya susah.

“Op–” Aliran darah dalam tubuh Yoo Kyung mendadak berubah cepat, terasa panas ketika bibir lembut Donghae menyapa keningnya, menempel beberapa detik sebelum pria itu memundurkan wajahnya.

Mata dengan iris hitam milik Donghae memperhatikan wajah Yoo Kyung lagi. Menatap dengan tatapan memuja.

Yoo Kyung memalingkan wajahnya ke samping, ia merasa malu bila harus bertatapan lama dengan jarak sedekat ini dengan Donghae.

“Hei, kenapa memalingkan wajahmu, hm? Aku mau lihat wajah istriku yang cantik ini.”

Seketika Yoo Kyung menolehkan wajahnya kembali, memandang Donghae yang tersenyum manis.

“Oppa bilang apa? Aku, cantik?” Ulang Yoo Kyung memastikan pendengarannya tidak salah.

“Wae? Apa aku salah memuji istriku? Kau memang cantik, bahkan selalu cantik.” Donghae mengecup pipi kanan Yoo Kyung yang merona.

“Op–” Protes Yoo Kyung tidak tersampaikan karena detik itu juga Donghae langsung membungkamnya. Mencium Yoo Kyung cepat dan menuntut sehingga Yoo Kyung harus berkali-kali mengerjapkan mata. Ia bahkan sedikit kewalahan meladeni ciuman Donghae yang terkesan menggebu-gebu.

Donghae menjauhkan wajahnya beberapa senti, tersenyum begitu menggoda. “Aku menginginkannya, Yoo.” Bisiknya seduktif di telinga Yoo Kyung.
Yoo Kyung baru akan menjawabnya tapi Donghae dengan tidak sabar kembali membungkam bibirnya, membuyarkan alam sadar wanita itu.
Udara dingin di luar sana tidak mempengaruhi kegiatan yang berada di dalam apartemen pasangan HaeYoo couple yang dipenuhi dengan suara-suara abstrak.

***

Yoo Kyung begitu serius memperhatikan layar computer di hadapannya hingga tidak menyadari ada seseorang yang duduk di samping kirinya, memperhatikan wanita itu yang terlihat begitu serius menatapi layar datar benda persegi. Entah apa yang di lihat oleh wanita itu sehingga begitu seriusnya.

“Yoo Kyung-sshi,” Suara tenor yang lembut itu memanggil wanita itu. Namun, orang yang dipanggil tidak juga menyahuti ataupun menoleh. Tetap fokus dengan laptopnya.

Pria dengan lesung pipi yang menghiasi wajah tampan itu kembali memanggilnya. “Yoo Kyung-sshi,” kali ini di sentuhnya bahu wanita itu dengan hati-hati.

Yoo Kyung berjengit kaget, menoleh cepat ke sampingnya. “Hwaaa!!” Wanita itu berteriak kaget begitu sadar seorang pria duduk di sampingnya dengan jarak sedekat itu. Yoo Kyung refleks memundurkan tubuhnya, memberi jarak antara keduanya. Wanita itu mengelus dadanya yang berdebar cepat, bukan berdebar karena gugup, melainkan terkejut.

“Mianhamnida, telah mengagetkanmu.” Pria itu menundukan wajahnya, meminta maaf pada Yoo Kyung.

“Aigo, sunbaenim. Kau hampir membuatku terkena serangan jantung akut!”

Park Jong Soo, pria itu menggaruk tengkuknya. “Mianhae, aku sudah mencoba memanggilmu tapi kau tidak menyahut juga, masih sibuk dengan laptopmu itu.” Jong Soo menunjuk laptop Yoo Kyung yang ada di meja cafétaria.

“Apa yang sedang kau lihat sehingga tidak menyadari kehadiranku, hm?” Tanya Jong Soo ingin tahu.

“Hanya melihat daftar resep masakan, aku ingin coba memasaknya.” Yoo Kyung terkekeh kecil. Ia ingin belajar berbagai masakan agar tidak terkena protes lagi oleh suaminya, meskipun sekarang Donghae tidak lagi mengeluh tapi ia memang harus belajar memasak yang lain kan?

“Kau bisa memasak?” Tanya Jong Soo lagi dengan berbinar.

“Anni, aku belum bisa. Maka itu aku sedang belajar.”

“Wah.. Pasti pria yang menjadi suamimu nanti beruntung karena mempunyai seorang istri yang cantik juga pintar memasak sepertimu.”

Yoo Kyung menunduk, tersipu mendengar kalimat yang Jong Soo ucapkan.

“Mudah-mudahan saja begitu,” sahutnya lirih. Satu hal yang belum mereka ketahui dari diri Yoo Kyung, bahwa ia sudah menikah. Yoo Kyung yang meminta pada Donghae agar status mereka dirahasiakan dari publik. Paling, hanya kerabat dan sahabat saja yang mengetahuinya, selebihnya tidak.

Lalu, apa pihak universitas tidak tahu?

Mereka? Tidak.

Itu karena Ayah Yoo Kyung dan Ayah Donghae adalah Dosen pembimbing tingkat akhir kedokteran di universitas. Selain itu, kedua istri mereka, Ibu Yoo Kyung dan Ibu Donghae adalah Donatur terbesar di universitas Anyang yang selalu mengadakan beasiswa bagi mahasiswa/siswi yang berprestasi. Mudah saja bagi mereka untuk menyembunyikan identitas anak mereka yang sebenarnya.

“Hae-ya..” Hyukjae menepuk bahu sahabatnya yang sedang sibuk dengan mikroskop, meneliti bakteri yang akan mereka pelajari nanti, setelah jam istirahat.

“Ye?” Jawab pria itu tanpa menoleh ke arah Hyukjae yang kini memandang ke luar jendela laboratorium yang terletak di lantai 4.

“Bagaimana kehidupan nikah mudamu? Apa menyenangkan? Apa Yoo Kyung bisa kau jinak kan?”

Donghae terkekeh, memang Yoo Kyung itu binatang buas, sehingga perlu dijinakkan?

“Memang kenapa? Kau ingin juga huh? Kalau begitu menyusul lah.”

Terdengar helaan nafas Hyukjae, “Anniya, aku belum siap. Lagi pula Jaekyung begitu dingin, susah sekali mendekati gadis itu. Sama-sama cuek seperti Yoo Kyung.” Curhat Hyukjae pada sahabatnya.

“Jinchayo?”

“Hum,”

“Kenapa tidak mencari yang lain saja? Setahuku, penggemarmu cukup banyak, pilih saja salah satu dari mereka.” Kata Donghae enteng. Hyukjae memang selalu di kejar-kejar oleh gadis-gadis sejak SHS, dulu bahkan hingga sekarang, tidak jauh berbeda dengan dirinya. Hal inilah yang membuat Yoo Kyung sebal padanya ketika SHS. Populer dikalangan siswi sekolahnya.

“Hei! Kau pikir memilih gadis itu seperti memilih baju huh? Asal suka langsung pakai. Tentu saja tidak. Aku menggunakan hati dan perasaanku, Hae-ya. Sisi wanita itu begitu rapuh, jadi harus hati-hati. Meskipun aku terkenal playboy, tapi tetap saja yang ada di hatiku hanya Jaekyung.”

“Nde, arraso.” Timpal Donghae. Ia membenarkan kalimat Hyukjae yang mendefinisikan wanita bahwa mereka itu rapuh. Seperti porselen dengan harga tinggi, tapi bila tergores sedikit saja akan langsung hancur detik berikutnya, sehingga harus berhati-hati menjaganya. Itulah wanita, menurut Donghae.

Hyukjae memang terlihat seperti suka main-main dengan wanita, tapi pada dasarnya ia adalah pria yang baik juga setia. Ia sudah menyukai Jaekyung sejak gadis itu pindah ke Korea 5 tahun lalu, saat mereka masih duduk di JHS. Jaekyung dan Yoo Kyung memiliki pribadi yang tidak jauh berbeda. Sama-sama cuek, acuh dan terkesan dingin.

“Hae-ya! Cepat ke sini,” pinta Hyukjae tiba-tiba dengan tidak sabar.

“Apa?”

“Cepat kemari!” Seru Hyukjae dengan kesal.

Donghae terpaksa meninggalkan mikroskopnya, menghampiri Hyukjae yang sedang bersandar di dinding dekat jendela besar.

“Waeyo?”

“Lihat ke sana, cafétaria. Bangku ke 3 dekat pohon akasia kecil.” Hyukjae menunjuk ke arah yang disebutnya tadi dengan jari telunjuknya. Donghae mengikuti arah telunjuk Hyukjae.

“Bukankah itu Yoo Kyung? Dengan siapa dia?” Ucap Hyukjae penasaran.

Donghae memicingkan indera penglihatannya, mencoba mengenali kedua sosok yang duduk di depan cafétaria dekat pohon akasia kecil, menghadap arah barat laut. Ia bisa melihat bahwa gadis itu memang Yoo Kyung, tapi dengan siapa istrinya itu berbicara, kenapa terlihat begitu intim dan akrab?

Donghae tidak bisa mengenali siapa pria yang berbicara dengan istrinya karena pria itu membelakangi arah pandangnya, duduk berhadapan dengan Yoo Kyung.

Kedua tangannya mengepal begitu melihat tangan pria itu menggenggam tangan Yoo Kyung. Apa yang mereka bicarakan?
Kenapa Yoo Kyung diam saja ketika pria itu menggenggam tangannya?
Dan kenapa istrinya itu justru tersenyum begitu manis kemudian mengangguk.

“Hae-ya, sepertinya kau punya saingan.” Lirih Hyukjae yang masih memperhatikan mereka berdua, tidak menyadari perubahan raut wajah sahabatnya yang berubah keruh. Mendung seperti awan di atas sana.

Donghae tidak menjawab, ia geram dan rasanya ingin memukul sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya. Cemburu. Itulah yang sedang di alami Donghae saat ini.

Continue…

 

 

17 comments

  1. Annyeong member baru😉 haaaaah uri nampyeon jngan blg kau suka ma Yookyung #aaaaish ckup dngan kang sora za udh bwt aq cemburu lalu skg tdk bisa #plaaaaak
    No no no mau da perang dunia k-3 nie #lirik donghae

  2. nyatu juga mereka malam pertama pun dilakukan
    cuma kenapa yoon kyung yang minta duluan wkwkwkwkwk donghae ya agresif lah
    saingan donghae mulai bermunculan nich

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s